Kisah Sepanjang Zaman Bag. 5: Nabi Nuh as

(Sumber: Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas, “Kisah Penciptaan dan Tokoh-tokoh Sepanjang Zaman” (diterjemahkan oleh Abdul Halim), Bandung: Pustaka Hidayah, Cet. I, Oktober 2002, hal. 108-133)

Dia adalah Nuh bin Lamik bin Matusyilakh bin Idris as. Al-Kisa’i mengatakan, namanya adalah ‘Abdul Ghaffar atau Yasykur. Dia diberi nama Nuh sebab menurut sebuah riwayat dia melihat seekor anjing yang memiliki empat mata. Nuh berkata, “Anjing ini jelek.” Mendengar perkataan tersebut, anjing itu berkata kepadanya, “Hai ‘Abdul Ghaffar, apakah engkau menghina ciptaan ataukah engkau menghina Pencipta? Seandainya hinaan itu ditujukan kepada ciptaan, seandainya urusannya ada padaku, tentu aku tidak akan memilih menjadi anjing; dan seandainya hinaan itu ditujukan kepada Pencipta, maka sebetulnya Dia tidak berhak mendapat hinaan. Sebab Dia mengerjakan sekehendak-Nya.”

Setelah mendengar jawaban anjing tersebut, dia meratap dan menangis atas kesalahan dan dosanya. Karena seringnya meratap (nahaa), maka dia diberi nama Nuh. Demikian diriwayatkan oleh as-Sadi.

Wahab bin Munabbih mengatakan, ketika Nuh telah mencapai umur 480 tahun, Malaikat Jibril datang kepadanya. Nuh bertanya kepadanya, “Siapakah engkau, hai laki-laki yang menarik?” Jibril menjawab, “Aku adalah utusan Tuhan semesta alam datang kepadamu membawa risalah-Nya. Allah telah mengutusmu untuk kaummu.” Itulah firman Allah: Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan), “Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih.” (QS Nuh [71]: 1).

Kemudian Jibril mengenakan kepada Nuh pakaian mujahidin, menyerbankan serban pertolongan, dan menyandangkan pedang keteguhan. Jibril berkata kepada Nuh, “Pergilah kepada musuh Allah, Duramsyil bin Fumail bin Jaij bin Qabil bin Adam.” Duramsyil adalah seorang raja yang sewenang-wenang dan kejam. Dia adalah orang pertama yang memeras anggur dan meminumnya, orang pertama yang bermain undian, dan orang pertama yang membuat pakaian yang ditenun dengan emas. Dia bersama kaumnya menyembah 5 berhala itu, Wud, Siwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr yang disinggung oleh Allah di dalam al-Qur’an.

Di sekitar 5 berhala tersebut terdapat 1.700 berhala yang mempunyai ruangan khusus yang terbuat dari batu marmer. Setiap ruangan itu tinggi dan lebarnya sekitar 1.000 siku. Berhala-berhala ini diletakkan di atas kursi yang terbuat dari emas yang berisikan bermacam-macam permata yang indah. Berhala ini juga mempunyai para pelayan yang mengurusinya siang malam dan tiap tahunnya ada hari raya khusus untuk berhala tersebut; mereka (Duramsyil dan kaumnya) berkumpul di tempat itu untuk merayakannya.

Pada hari itu, Nuh datang kepada mereka yang sedang menyalakan api dan mempersembahkan kurban di sekitar berhala-berhala itu. Kemudian mereka sujud di hadapannya mengagungkannya. Dalam upacara itu, mereka mengeluarkan berbagai macam alat permainan, menabuh simbal, menari, meminum arak, dan menzinahi wanita secara terbuka di antara khalayak ramai seperti binatang. Ketika Nuh pergi mendatangi mereka, dia berdiri di atas bukit yang tinggi, menengadahkan kepalanya ke langit seraya berkata, “Wahai Tuhanku, aku memohon kepada-Mu untuk menolongku mengalahkan mereka dengan cahaya Muhammad saw.”

Pada saat itu, jumlah mereka tidak terhitung banyaknya. Dia berdiri di atas bukit itu dan menyeru dengan sekeras-kerasnya, “Wahai orang-orang, aku datang kepadamu sebagai utusan Tuhan semesta alam, mengajak kalian untuk beribadah kepada-Nya dan melarang kalian dari menyembah berhala.” Setelah Nuh meneriakkan seruan itu, suaranya terdengar dari timur hingga barat, berhala-berhala terjatuh dari kursi-kursinya; para pelayan yang ada di sekitarnya kaget, dan Raja Duramsyil jatuh pingsan.”

Setelah sadar dari pingsannya, raja bertanya kepada orang-orang yang berada di sekitarnya, “Suara apakah itu?” Mereka yang telah mendengar suara itu menjawab, “Itu adalah suara seorang laki-laki yang bernama Nuh. Dia orang gila dan akalnya terganggu.” Raja Duramsyil berkata, “Bawa dia ke hadapanku!” Atas perintah itu, para pembantu raja pergi kepada Nuh, kemudian mereka membawanya dan menghadapkannya kepada sang raja. Raja berkata kepada Nuh, “Siapa engkau?” Nuh menjawab, “Aku adalah Nuh, utusan Tuhan semesta alam. Aku datang kepada kalian membawa risalah agar kalian beriman kepada Allah saja dan tidak menyembah berhala-berhala ini.”

Raja Duramsyil berkata, “Bila engkau gila, aku akan menyembuhkanmu; bila engkau fakir, aku akan menolongmu; dan bila engkau punya utang, aku akan membayarkan utangmu.” Nuh as berkata, “Aku tidak gila, tidak fakir, dan tidak pula berutang, tetapi aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam.” Nuh adalah orang pertama yang diangkat menjadi rasul. Dia termasuk salah satu rasul Ulul ‘Azmi yang telah diutus kepada keturunan Qabil karena mereka terus-menerus menyembah berhala dan mempertontonkan kemusyrikan. Dia mengajak mereka untuk mengesakan Allah dan mengatakan, “Tidak ada tuhan kecuali Allah dan Nuh adlaah utusan Allah.” Mendengar jawaban Nuh ini, raja marah dan berkata, “Seandainya hari ini bukan hari raya, tentu aku membunuhnya dengan cara yang sangat keji.”

Menurut sebuah riwayat, pada hari itu seorang wanita yang bernama ‘Umrah beriman kepada Nuh, yang kemudian dinikahinya dan melahirkan 3 anak laki-laki, yaitu Sam, Ham, dan Yafits, dan 3 anak perempuan, yaitu Hashwah, Sarah, dan Buhaiwarah. Kemudian seorang wanita lagi beriman; namanya adalah Wal’ab binti ‘Ajwil. Wainta itu kemudian dinikahi Nuh dan melahirkan 2 anak laki-laki, yaitu Balus dan Kan’an. Akan tetapi, pada masa berikutnya dia kembali kepada agama sebelumnya.

Selanjutnya, ada sekitar 70 orang, laki-laki dan perempuan, yang beriman kepada Nuh. Tiap hari Nuh pergi kepada kaumnya dan menyeru, “Wahai kaumku, beribadahlah kepada Allah. Kalian tidak mempunyai tuhan kecuali Allah; tidak ada sekutu bagi-Nya.” Mendengar seruan ini, orang-orang datang kepadanya dan memukulinya dengan tongkat dan sandal sampai dia pingsan. Mereka menarik kakinya dan melemparkannya ke dalam tempat pembuangan kotoran. Setelah sadar, dia membasuh darah dari wajahnya kemudian shalat dua rakaat dan berdoa, “Ya Allah, ampunilah kaumku karena mereka tidak mengetahui.”

Usaha tersebut terus dijalaninya selama sekitar 300 tahun sampai Raja Duramsyil binasa, yang kemudian digantikan oleh anaknya, Tubayin, yang lebih jahat daripada bapaknya. Nuh tetap mendakwahinya, seperti yang dilakukan kepada bapaknya sebelumnya. Dia terus berdakwah kepada kaumnya selama 400 tahun hingga dia telah masuk kurun kelima, tetapi kaumnya tetap dalam keadaan mereka seperti dahulu. Setiap kali mereka mendengar suara Nuh as, mereka meletakkan jari-jemari di telinga mereka sebagaimana dikabarkan oleh Allah Yang Maha Agung dalam al-Qur’an.

Suatu ketika, kaum Nuh mengumpulkan batu di atas-atas atap dan ketika Nuh lewat, mereka melemparinya dengan batu-batu itu sampai pingsan. Mereka menyangka Nuh as telah meninggal. Tiba-tiba datanglah beberapa burung mengibas-ngibaskan sayapnya untuk membuatnya segar dan terjaga. Nuh pun sadar dari pingsannya. Hal itu terus-menerus terjadi sampai kurun keenam pun telah berlalu dan masuk pada kurun ketujuh, dan Raja Tubayin telah mati yang kemudian digantikan oleh anaknya, Thaghradus, yang lebih jahat daripada bapaknya.

Setiap kali Nuh berdakwah kepada kaumnya, mereka selalu melemparinya dnegan bebatuan, seperti yang terjadi sebelumnya sampai Allah mewahyukan kepada Nuh, “Tidak ada lagi benih dalam tulang belakang laki-laki dan perut wanita yang akan beriman, yang menyambut dakwahmu.” Mereka telah dimandulkan oleh Allah. Maka, pada saat itu, Nuh berdoa kepada Allah agar tidak membiarkan satu pun dari mereka hidup, sebagaimana dikabarkan oleh Allah dengan firman-Nya; “Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.” (QS Nuh [71]: 27).

Karena doa Nuh ini, pintu-pintu langit terbuka dan para malaikat ramai berlalu-lalang di sana. Pada saat itu, Allah memberi wahyu kepadanya, “Buatlah bahtera di bawah penilikan dan petunjuk Kami, apabila perintah Kami telah datang dan tanur telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap (jenis), dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa azab) di antara mereka. Dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim, karena sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.” (QS Al-Mu’minuun [23]: 27).

Nuh as berkata, “Wahai Tuhanku, apa bahtera itu?” Allah berfirman, “Bahtera adlaah sebuah rumah yang terbuat dari kayu yang berjalan di atas permukaan air.” Allah telah memerintahkan kepadanya untuk menanam kayu Saj (kayu jati). Menurut riwayat lain, kayu Abnus (kayu ebony). Dia disuruh menanamnya di tanah Kufah. Dia tanam pohon itu dan membiarkannya hidup selama 40 tahun. Allah memerintahkan kepada langit untuk tidak menurunkan setetes air pun dan memerintahkan kepada bumi untuk tidak menumbuhkan apa pun.

Pada masa itu, tidak ada setetes pun air yang turun dari langit; tidak ada satu tanaman pun yang keluar dari bumi; tidak ada wanita, binatang ternak, dan binatang liar yang melahirkan, dan tidak ada burung yang bertelur. Semua itu terjadi untuk memperlihatkan hujjah kepada manusia sebelum turunnya azab yang sebenarnya. Kemudian Allah memerintahkan Nuh as pergi ke Kufah untuk mengangkut pohon Saj. Akan tetapi, Nuh bingung bagaimana cara mengangkutnya. Maka, Allah memberi wahyu kepadanya bahwa ‘Auj bin ‘Unuq bisa memikulnya.

Al-Kisa’i mengatakan bahwa ‘Unuq adalah ibu ‘Auj. Dia adlaah salah satu dari anak Adam yang buruk penampilannya dan jelek perawakannya. Dia seorang ahli sihir yang mahir. Setelah setahun melahirkan ‘Auj, dia meninggal dan ‘Auj tumbuh menjadi orang yang sangat besar tubuhnya; tingginya mencapai 600 siku orang dahulu, yaitu sama dengan satu setengah siku orang sekarang, dan lebarnya seukuran itu, sampai-sampai ada sebuah riwayat ketika angin topan datang, angin tersebut tingginya tidak melebihi lutut ‘Auj. Apabila dia duduk di atas gunung, tangannya dia ulurkan ke laut mengambil ikan, dan kemudian memanggangnya di matahari. Dan apabila dia marah kepada sebuah penduduk kampung, dia mengencingi mereka sehingga mereka tenggelam dalam air kencingnya.

Menurut sebuah riwayat, ‘Auj menguasai sebuah penduduk kampung. Penduduk itu berkata kepadanya, “Kami akan membuatkanmu gamis (baju), tetapi kami tidak akan mengambil upahnya darimu kecuali setelah satu tahun.” Mulailah penduduk kampung itu membuatkannya gamis dari bahan katun. Setelah selesai, mereka memakaikan gamis itu kepadanya. Kemudian ‘Auj pergi meninggalkan mereka. Setiap kali dia punya maksud lewat ke kampung mereka, dia ingat akan utangnya. Maka, dia pun tidak jadi datang kepada mereka dan tidak pernah lagi masuk ke perkampungan mereka karena takut akan utangnya.

Diriwayatkan bahwa ‘Auj bin ‘Unuq hidup berumur 4.500 tahun. Dia masih hidup hingga zaman Musa. Ketika Musa memasuki sebuah padang sahara bersama Bani Israil, ‘Auj bermaksud membinasakan mereka. Dia menghampiri tentara Musa untuk mengetahui jumlah mereka. Dia mendapatkan mereka hanya kumpulan orang dalam satu farsakh. Lalu dia pergi ke sebuah gunung dan kemudian mencabut gunung itu dari bumi. Gunung itu dibawanya di atas kepalanya dan datang untuk menimpakannya ke tentara Musa.

Pada saat itu, Allah mengutus burung Hud-hud yang paruhnya diciptakan dari besi. Burung Hud-hud itu turun di atas batu tersebut dan mulailah mematukinya hingga membuatnya berlubang, lalu ia turun ke pundaknya ‘Auj, dan kemudian masuk ke dalam mantelnya hingga ‘Auj tidak bisa bergerak. Ketika Musa melihat itu, dia menghampirinya dan memukulnya dengan tongkatnya, yang panjangnya 10 siku, sambil melompat ke udara setinggi 10 siku. Tingginya Musa adalah 10 siku; jadi, pukulannya ke betis ‘Auj pun tidak sampai. Akan tetapi, setelah Musa memukulnya, ‘Auj tersungkur dan kemudian meninggal serta terlempar di lapangan kosong seperti gunung yang besar.

Diriwayatkan bahwa di negeri Tatar (Tartares) ada sungai yang bernama ath-Tha’i. Di sana terdapat jembatan lengkung yang besar. Konon, jembatan tersebut berasal dari tulang ‘Auj bin ‘Unuq dan merupakan salah satu dari keajaiban dunia.

Al-Kisa’i mengatakan, setelah Allah memberi wahyu kepada Nuh bahwa yang mampu memikul kayu itu adalah ‘Auj dari Kufah ke tanah Hirah, suatu perkampungan dekat dengan Baghdad, maka Nuh mendatangi ‘Auj dan memintanya memikulkan kayu tersebut untuknya. ‘Auj berkata, “Aku tidak akan memikulnya kecuali engkau mengenyangkanku dengan roti.” Kebetulan, pada waktu itu Nuh as membawa 3 roti dari kacang. Dia memberikan sleembar roti itu kepada ‘Auj dan berkata, “Makanlah roti itu!” Melihat itu, ‘Auj pun tertawa dan berkata, “Seandainya roti ini sebesar gunung itu, ia tidak akan membuatku kenyang, apalagi roti ini hanya selembar.”

Mendengar ucapan ‘Auj, Nuh memotong selembar roti itu dan memberikan kepadanya dan berkata, “Bacalah bismillahirrahmaanirrahiim kemudian makan potongan roti ini.” ‘Auj pun memakannya dan kemudian dia diberi lembaran roti yang kedua. Lembaran roti yang kedua baru setengah, ‘Auj telah kenyang dan tidak sanggup memakan apa pun. Setelah memakan roti itu, ‘Auj membawa semua kayu tersebut dari Kufah menuju Hirah dalam sekali pemberangkatan.

Setelah kayu-kayu tersebut berada di hadapan Nuh, Nuh berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana cara membuat bahtera itu?” Maka, Allah memerintahkan Jibril untuk mengajarkannya bagaimana membuat bahtera. Setelah diajari cara membuat bahtera, Nuh mengubah kayu-kayu tersebut menjadi lembaran-lembaran; kemudian dia melekatkan lembaran yang satu pada lembaran yang lainnya dan memakunya dengan paku-paku besi. Dia buat depannya seperti kepala burung merak, belakangnya seperti ekor ayam, paruhnya seperti paruh rajawali, sayapnya seperti sayap burung garuda, dan wajahnya seperti wajah burung merpati. Dan bahtera itu dia jadikan 3 tingkat. Menurut riwayat lain, 7 tingkat.

Ibnu ‘Abbas ra mengatakan bahwa panjang bahtera itu 1.000 siku, lebarnya 600 siku, dan tingginya 300 siku. Menurut sbeuah riwayat, Nuh as mengerjakan pembuatan bahtera itu memakan waktu selama 40 tahun. Sewaktu mengerjakannya, kaum Nuh suka mengejeknya dan mereka berkata kepadanya, “Hai Nuh, engkau telah meninggalkan kenabian dan beralih profesi menjadi tukang kayu.” Al-Kisa’i mengatakan bahwa, ketika malam tiba, kaum Nuh suka membawa api untuk membakar kayu bahtera tersebut, tetapi anehnya api itu tidak pernah mampu membakar kayu. Mereka berkata, “Ini karena sihirnya Nuh.”

Ketika pembuatan bahtera mencapai tahap penyelesaian, Nuh as memolesinya dnegan ter dan aspal; kemudian Allah memerintahkannya untuk memaku keempat sisinya, dan di setiap tempat ditancapkannya paku digambarkan sebuah mata. Nuh bertanya, “Wahai Tuhanku, apa kegunaannya?” Allah memberi wahyu kepadanya, “Itulah nama-nama sahabat Muhammad. Mereka adalah ‘Abdullah Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali. Bahtera tidak akan sempurna kecuali dengan melakukan hal itu.”

Perintah Allah tersebut dilaksanakan oleh Nuh dan pembuatan bahtera pun selesai. Kemudian Allah menjadikan bahtera itu bisa berbicara. Ia berkata dengan keras dan orang-orang mendengarkannya, “Tidak ada tuhan kecuali Allah, Tuhan bagi orang-orang terdahulu dan orang-orang yang terakhir. Aku adalah bahtera. Barangsiapa naik ke atasku, maka dia akan selamat; dan barangsiapa menghindar dariku, dia akan binasa.”

Setelah bahtera berhenti dari ucapannya, Nuh as berkata, “Apakah sekarang kalian beriman?” Mereka menjawab, “Hai Nuh, ini adlaah karena sihirmu.” Selanjutnya, Allah memberi wahyu kepada Nuh, “Kemarahan-Ku kepada orang yang menentang-Ku telah memuncak.” Allah memerintahkan Nuh as mempersiapkan makanan untuk satu bulan dan membuat tempat persediaan air tawar di bahtera. Lalu Allah menurunkan untuk Nuh manik-manik dari surga yang bercahaya, seperti cahaya matahari. Dengan manik-manik itu, Nuh akan mengetahui waktu siang dan malam.

Waktu berlalu. Nuh as meminta izin kepada Tuhannya untuk melaksanakan haji dan dia pun diizinkan. Sewaktu dia pergi ke Makkah, kaumnya bermaksud membakar bahtera. Maka Allah memerintahkan kepada beberapa malaikat untuk mengangkat bahtera itu antara langit dan bumi. Para malaikat mengangkat bahtera itu dan kaum Nuh menyaksikannya.

Sewaktu berada di Makkah, Nuh as melakukan thawaf 7 kali dan di sana dia berdoa agar kaumnya dibinasakan. Doanya dikabul oleh Allah. Ketika Nuh kembali dari Makkah, bahteranya diturunkan kembali ke atas tanah. Kemudian Allah memerintahkannya agar naik ke sebuah gunung dan menyeru dengan sekeras-kerasnya, “Wahai kawanan binatang liar, kawanan burung, kawanan serangga, dan semua yang bernyawa, datanglah kemari! Masuklah ke dalam bahtera! Sungguh, azab sebentar lagi akan terjadi.”

Seruan Nuh as terdengar dari timur hingga barat. Setelah itu, kawanan binatang liar, burung, binatang melata, dan serangga datang berbondong-bondong. Lalu Nuh as berkata, “Aku diperintahkan untuk membawa dari masing-masing binatang sepasang, jantan dan betina.” Dia telah diperintahkan untuk membawa semua jenis pepohonan tanpa kecuali. Dia diperintahkan untuk membawa jasad Adam dan Hawa. Lalu dia meletakkan jasad keduanya dalam sebuah peti. Selain itu, dia diperintahkan untuk membawa Hajar Aswad, tongkat Nabi Adam, yang telah diturunkan kepadanya dari surga, dan diperintahkan membawa tabut, suhuf, dan tali.

Dan manusia yang masuk ke dalam bahtera bersamanya berjumlah 40 orang laki-laki dan 40 orang perempuan. Mereka ditempatkan di tingkat pertama. Tingkat kedua dijadikan tempat binatang liar, binatang melata, dan binatang ternak. Menurut sebuah riwayat, hewan yang terakhir masuk ke dalam bahtera adalah keledai. Ketika ia mau masuk, Iblis memegang buntutnya sehingga ia susah masuk. Sebelumnya Nuh as menyangka keledai enggan masuk karena kehendaknya. Nuh as berkata, “Hai mal’uun (yang terlaknat), masuklah!” Keledai pun masuk diikuti oleh si Iblis. Ketika Nuh as melihat Iblis, dia berkata, “Siapa yang mengizinkanmu masuk ke bahtera ini?” Iblis menjawab, “Engkau yang telah mengizinkan aku masuk. Bukankah engkau tadi bilang, ‘Hai mal’uun (yang terlaknat) masuklah!,’ dan yang memiliki predikat mal’uun secara mutlak tiada lain kecuali aku.”

Menurut sebuah riwayat, setelah Nuh as naik bahtera, dia melarang semua penumpang yang ada bersamanya melakukan nikah (persetubuhan) karena khawatir akan berkembang biak sehingga bahtera akan penuh sesak. Perintah Nuh as dituruti oleh semua penumpang yang ada di bahtera, kecuali anjing. Ia menikahi betinanya dan perbuatan anjing tersebut dilaporkan oleh kucing kepada Nuh. Anjing mengingkarinya dan ia melakukan nikah itu dua sampai tiga kali. Hal itu dilaporkan oleh kucing kepada Nuh. Atas laporan itu, Nuh mengutuk keduanya dengan aib. Sejak saat itu, terjadilah permusuhan antara anjing dan kucing, dan jika keduanya melakukan jimak, pasti diiringi keributan. Untuk kedua hewan ini ada sebuah syair:

Kucing mengatakan sebuah ucapan
yang menghimpun setiap makna.
Aku menginginkan bila saja aku tidak melihat anjing
dan anjing tidak melihatku.

Diriwayatkan, ketika kotoran binatang telah menyesaki bahtera, para penumpang bahtera mengadukannya kepada Nuh. Atas pengaduan itu, Allah memberi wahyu kepada Nuh as agar memeras ekor gajah. Setelah dia memeras-merasnya, dari sana muncul babi jantan dan babi betina yang kemudian memakan kotoran-kotoran yang menumpuk di bahtera. Kemudia ketika babi itu bersin, dari bersinnya Allah menciptakan tikus jantan dan tikus betina. Keduanya berkembang biak dan kawanan tikus itu mulai menggerogoti pinggir-pinggir bahtera. Hal itu diadukan oleh penghuni bahtera. Atas pengaduan itu, Nuh menerjunkan kawanan kucing berbuntut untuk menguasai kawanan tikus. Kawanan kucing memangsa tikus dengan cepat hingga memusnahkan tikus yang terakhir. Dan sejak saat itu, terjadilah permusuhan antara kucing dan tikus.

Ibnu Washif Syah ,emgatakan bahwa di kerajaan Mesir tidak ada yang lebih kaya daripada Suraid. Ada kejadian yang menimpanya, yaitu 300 tahun sebelum terjadinya Banjir Besar, dia bermimpi dalam tidurnya seolah-olah langit runtuh menimpa bumi. Langit menjadi seperti jubah; bintang-bintang seolah-olah berjatuhan, dan matahari dan bulan begitu dekat dari bumi. Dalam mimpi itu, dia melihat burung-burung putih menyambar manusia dan melemparkan mereka di antara dua gunung. Dunia seolah-olah menjadi hitam pekat dan manusia seolah-olah dikumpulkan dalam satu ladang mencari perlindungan.

Setelah melihat itu semua, dia terbangun dari tidurnya dengan penuh ketakutan. Pada pagi harinya, dia mengundanh 100 orang dukun yang suka memberikan keputusan hanya dengan bintang dan thawali’ (sesuatu yang digunakan untuk ramalan baik oleh peramal). Dia menyepi bersama mereka dan menceritakan kepada mereka tentang mimpi yang dia alami. Mereka berkata, “Sesungguhnya mimpi baginda berasal dari langit. Mimpi itu memberitahu akan kehancuran seluruh alam dan seisi bumi.” Suraid berkata kepada mereka, “Coba lihat dari bintang.” Setelah melihat bintang-bintang, mereka berkata, “Kami melihat bulan ada dalam rasi bintang Scorpio menyerupai bentuk ikan. Jadi, kerusakan akan ditimbulkan karena topan dan bencana ini berkaitan dengan air yang turun dari langit.”

Suraid berkata, “Coba lihat apakah bencana ini akan menimpa negeri kita?” Mereka menjawab, “Ya, bencana itu akan menimpa negeri ini, dan negeri ini akan porak-poranda dalam waktu yang lama.” Suraid bertanya, “Apakah negeri kita akan kembali lebih makmur dari sebelumnya?” Mereka menjawab, “Ya, negeri ini akan kembali makmur, bahkan lebih makmur daripada sebelumnya.” Maka, pada saat itu, Suraid memerintahkan untuk membangun piramida yang fondasinya sama dengan ukuran ketinggiannya.

Dia berkata, “Piramida ini akan kami jadikan persembunyian dan kuburan untuk jasad-jasad kami.” Dia memindahkan banyak hal ke sana—dari mulai harta, permata, alat perang, patung-patung yang indah, wadah-wadah yang aneh yang terbuat dari logam tertentu yang di atasnya tertulis jimat dan ilmu falak yang mengabarkan tentang peristiwa-peristiwa yang bakal terjadi hingga akhir zaman dan siapa saja yang akan menguasai negeri, baik kerajaan Muslim maupun kerajaan kafir. Para dukun mengabarkan bahwa topan yang melanda bumi tidak akan lama, hanya sekitar 40 hari. Maka, begitu mendengar berita tersebut, Suraid membangun piramida. Di sana dia menyediakan persediaan udara dengan perhitungan dan perencanaan yang matang dan dia simpan perbekalan harta dan lain sebagainya seperti yang telah kami ceritakan.

Suraid berkata, “Seandainya kita selamat dari topan ini, kita akan kembali ke kerajaan kita dan mendapatkan lagi harta-harta kita yang tersisa; dan apabila kita mati, maka piramida ini adlaah kuburan bagi jasad-jasad kita, tempat berlindung yang menjaga jasad kita dari bencana.” Semua pembantunya, ahli hikmahnya, dan para pembesar dalam kekuasaannya pun masing-masing membuat piramida untuk tempat berlindung bagi jasad mereka dari topan.

Al-Mas’udi dalam kitab Muruj adz-Dzahabi mengatakan bahwa di setiap piramida itu terdapat 7 rumah. Di setiap rumah tersebut terdapat sejumlah berhala dari emas yang bertatahkan mutiara yang indah dan di telinganya ada permata sebesar telur ayam. Dan di dalam setiap piramida itu terdapat sebuah peti yang terbuat dari batu marmer hijau. Di sanalah pemiliknya bersemayam dengan membawa lembaran yang berisikan tentang nama, biografi, dan lamanya kerajaannya. Mereka mengatakan bahwa di dalam piramida ini ada sebuah tempat yang bisa tembus ke padang pasir Fayum yang berjarak dari piramida sekitar 20 hari perjalanan.

Ada sebuah kisah dari Syihab al-Hijazi. Dia mengatakan, “Kami berangkat dari Universitas al-Azhar sebanyak 11 orang dalam rangka meneliti piramida. Kami membawa beberapa kabel yang panjang disimpan di atas keledai. Ketika sampai ke tempat piramida, kami memesuki sebuah yang besar yang terbuka. Kami berkumpul di dekat sumur yang ada di sana. Salah seorang di antara kami yang mengaku berani mau mencoba menuruni sumur itu. Kami ikat pinggang orang itu dengan kabel yang kami bawa, kemudian kami menurunkannya ke dalam sumur. Semua kabel yang ada telah kami ulurkan, tetapi orang itu belum mencapai dasar sumur.

Akhirnya, kabel itu kami sambung dengan kain serban kami yang tipis. Tiba-tiba kain itu terputus dan orang itu pun melayang ke dasar sumur. Kami tidak mengetahui bagaimana keberadaannya, sampai akhirnya kami pulang dengan perasaan sedih atas nasib orang itu. Kami pun merasa takut. Lalu kami masuk ke Kairo dengan sembunyi-sembunyi, akmi tidak mmeberitahu siapa pun tentang keadaan kami.

Seminggu setelah kejadian itu, kami berada di universitas, tiba-tiba kami melihat sahabat kami yang terjatuh ke dalam sumur itu. Dia mendatangi kami dalam keadaan yang sangat lemah. Setelah memasuki pintu universitas dan mendekati kami, dia terjatuh dan pingsan di hadapan kami. Dan sesaat beberapa lami setelah dia sadar dari pingsannya, kami memintanya menceritakan apa yang terjadi setelah dia terjatuh ke dalam sumur. Dia berkata, ‘Ketika jatuh, saya mendarat di atas sebuah ruangan yang memberikan saya rasa nyaman. Kemudian saya merobekkan sesuatu dengan senjata yang saya bawa; lalu saya menyalakan lilin dan saya berjalan di sumur itu.

Saya melihat banyak sekali kelelawar dan beberapa sosok orang yang sangat tinggi sedang bersandar dengan tongkat. Saya mendekati salah seorang dari mereka kemudian saya dorong, tiba-tiba sosok tersebut ambruk ke tanah menjadi debu yang berhamburan. Saya ambil tongkat dari tangannya, kemudian saya terus berjalan. Tiba-tiba saya berada di depan pintu sebuah lorong. Saya berjalan menelusuri lorong itu dan ketika itu saya bertambah takut dan waswas. Di sana, saya menemukan tulang-belulang yang membusuk dan tengkorak kepada yang ukurannya sebesar semangka besar.

Ketika saya sedang berjalan di lorong tersebut, tiba-tiba kaki saya menginjak sesuatu. Saya tilik-tilik sesuatu itu, ternyata seekor musang. Saya iukti musang itu hingga ia keluar melalui sbeuah lubang. Dari lubang itu saya melihat cahaya dunia. Saya ingin sekali keluar dari lorong itu, tetapi saya tidak mampu. Maka, dengan tongkat yang saya bawa, saya gali lubang itu hingga lubangnya sedikit membesar. Lalu saya keluar dari sana. Setelah saya melihat diri saya berada di permukaan bumi, saya terjatuh pingsan. Saya tidak tahu berada di negeri mana. Tiba-tiba di depan saya ada seseorang yang berkata, ‘Hai bocah, bangunlah! Kafilah ini akan berangkat dan meninggalkanmu.’

Saya bertanya kepadanya, ‘Berada di manakah saya ini?’ Orang itu menjawab, ‘Engkau berada di padang sahara Fayum.’ Kemudian saya berdiri dan ikut bersama rombongan itu. Ketika saya keluar dari lubang itu, saya mendapati tongkat yang saya bawa adalah emas yang sangat indah. Dan ketika saya pingsan tongkat itu hilang dan tempat yang berlubang tersebut menghilang dari pandangan saya. Saya heran akan hal itu, dan tiba-tiba ada beberapa kafilah (rombongan) yang berkata, ‘Engkau jangan berharap tongkat itu bisa kembali kepadamu.’ Akhirnya, saya ikut bersama rombongan tersebut dan tibalah saya di Kairo.’”

Abu ar-Raihan al-Bairuti dalam kitabnya, al-Atsar al Baqiyah min al-Qurun al-Khaliyah, mengatakan bahwa piramida besar yang ada di sebelah timur dijaga oleh berhala dari marjan hitam dan putih dengan dua mata terbuka yang mengkilap. Berhala tersebut berada di atas kursi yang terbuat dari emas dan di tangannya ada bayonet. Ketika seseorang mendekatinya, maka berhala itu meneriakinya dnegan keras sehingga orang tersebut terjungkal, bahkan bisa sampai meinggal di tempatnya.

Sementara piramida yang berada di sebelah barat dijaga oleh berhala yang terbuat dari batu granit. Berhala itu duduk di atas kursi yang terbuat dari emas dan di kepalanya ada sejenis ular yang melingkar. Barangsiapa mendekati berhala itu, maka ular itu menyambarnya dan melingkar di ats pundaknya hingga membunuhnya, lalu ular itu akan kembali ke tempat asalnya.

Sedangkan piramida kecil yang dilapisi dengan batu granit dijaga oleh berhala yang terbuat dari batu yang kelam. Siapa pun yang melihatnya akanditariknya hingga merapat dengannya dan orang itu tidak akan bisa beranjak dari tempatnya hingga menemui ajalnya.

Al-Mas’udi mengatakan bahwa setelah Suraid merampungkan pembuatan piramida-piramida tersebut, maka dia mempercayakan piramida-piramida itu kepada sekelompok orang ahli spiritual dan melakukan penyembelihan agar bisa menghalangi orang-orang yang bermaksud jahat terhadap piramida-piramida tersebut. Suraid menyerahkan piramida yang berada di sebelah timur kepada seorang budak yang botak berkulit pucat, bertelanjang, dan gigi-giginya besar-besar. Piramida sebelah barat dipercayakan kepada seorang wanita telanjang, yang kelihatan alat kemaluannya, yang bisa membuat orang-orang tertawa sampai bisa membuat mereka mendekatinya dan tergoda hingga akal mereka pun hilang. Sementara itu piramida kecil yang berwarna dipercayakan kepada seorang yang memegang pedupaan dan memakai baju kerahiban. Dia membakar pedupaan di sekitar piramida tersebut. Sekelompok orang dari penduduk Hirah (sbeuah wilayah yang berada di Irak) menceritakan bahwa mereka sering melihat orang tersebut sedang berkeliling di sekitar piramida ketika waktu qailulah (waktu istirahat siang) dan ketika menjelang matahri terbenam. Apabila mereka mendekatinya, orang tersebut menghilang dari mereka; dan ketika mereka menjauh, maka dari kejauhan orang itu kelihatan oleh mereka.

Menurut cerita yang dinukil oleh Muhammad bin ‘Abdul Karim, di salah satu dari dua piramida tersebut ada kuburan Achudimon dan di piramida yang satunya lagi ada kuburan Hermez. Achudimon lebih dahulu daripada Hermez dan keduanya merupakan filosof Yunani. Orang-orang Shabi’ah (penyembah bintang) dari pelosok bumi suka mengunjungi piramida-piramida itu dengan membawa harta benda yang sangat banyak untuk menunaikan nazar. Dan di tepi barat di belakang piramida-piramida tersebut terdapat 400 kota yang makmur.

Menurut cerita yang dinukil oleh Abu al-Hasan al-Mas’udi dalam kitabnya, Muruj adz-Dzahab, dikatakan bahwa setelah Suraid merampungkan pembuatan piramida-piramida itu, dia membungkusnya dari atas hingga bawah dnegan kain sutera berwarna. Dia mengadakan upacara yang dihadiri oleh para tokoh di wilayah kekuasaannya, dan di pinggir-pinggir piramida itu dia menulis, “Ini adalah bangunan milik Suraid bin Syahluq yang telah dia bangun selama 60 puluh tahun. Barangsiapa mengaku memiliki kekuatan dalam kerajaannya, maka hancurkan piramida-piramida ini dalam 600 ratus tahun, padahal menghancurkan itu lebih mudah daripada membangun.”

Menurut sebuah riwayat, dikatakan bahwa ketika Khalifah al-Ma’mun membuka sebuah pintu yang ada di dalam piramida besar, dia menemukan sebuah potongan marjan yang bentuknya seperti selembar kayu. Di dalam potongan itu tertulis dengan pena tempo dahulu, “Ini adalah bangunan milik Suraid…(hingga akhir tulisannya).”

Abu al-Hasan al-Mas’udi mengatakan, ketika Ustadz Abu Thayyib datang ke Mesir, dia melihat beberapa piramida; lalu dia melantunkan syair berikut:
Di manakah yang membangun piramida-piramida ini,
siapakah kaumnya, kapan dibuatnya,
dan apa yang menghancurkannya.
Peninggalan tertinggal dari para pemiliknya,
dan ia pun akan terkena kebinasaan lalu hancur.

Cukup banyak para penyair yang memberikan komentar tentang piramida-piramida ini, di antaranya adalah:

Perhatikanlah dua piramida itu;
dengarkanlah apa yang ia riwayatkan tentang zaman dahulu.
Perhatikanlah perjalanan waktu yang terjadi pada keduanya,
dengan penglihatan mata hati, bukan dengan mata lahir.
Seandainya keduanya bisa berbicara,
tentu akan memberitahukan kepada kita
apa yang dahulu dan nanti dilakukan oleh zaman.

Penyair yang lain mengatakan:

Keanehan dan keajaiban yang mana
bagi orang-orang yang berakal dalam pembuatan piramida ini.
Ia menyembunyikan kisah-kisah pemiliknya dari telinga para pendengar
dan menyingkap penciptaannya kepada para peneliti.
Seolah-olah ia adalah sebuah tenda yang kukuh,
tanpa ada penyangga dan tanpa tali.
Seperti para pengantin yang melepaskan pakaian-pakaiannya,
yang terdiam karena terpesona.

Penyair yang lain mengatakan:

Terbuktilah bahwa jantung bumi adalah Mesir;
dua piramida telah menonjolkan buktinya.
Betapa anehnya, banyak sekali kurun
yang menempati piramida telah binasa,
tetapi piramida tersebut tetap bertengger.

Demikianlah cerita tentang piramida ini. Selanjutnya kita kembali kepada kisah yang sedang kita bahas, yaitu tentang Nuh.

Selanjutnya Allah mewahyukan kepada Nuh, “Hai Nuh, apabila dapur rumah anakmu, Sam, telah memancarkan air, maka naiklah ke atas bahtera.” Sam adalah anak Nuh yang paling besar dan pada saat itu dia berusia 300 tahun. Dia telah kawin dengan seorang wanita yang bernama Rahmah. Nuh pergi ke rumah anaknya, Sam, dan berkata, “Hai Rahmah, topan ini akan bermula dari dapur yang biasa engkau pakai untuk mengadon roti ini. Apabila engkau melihat dapur ini telah memancarkan air, maka saat itu juga cepat-cepat kabarkan kepadaku.”

Dapur itu terbuat dari batu hitam. Dan pada hari Jumat tanggal 10 bulan Rajab, Rahmah mengadon roti di dapur itu. Ketika dia sedang menyelesaikan roti yang terakhir, tiba-tiba ada air mengalir. Itulah firman Allah: Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: “Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman.” Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. (QS Huud [11]: 40).

Ketika Rahmah melihatnya, dia menjerit, “Allahu akbar (Allah Maha Besar). Azab yang telah dijanjikan oleh Allah telah datang dan Baiyallah Nuh berkata benar.” Dengan segera dia pergi kepada Nuh as dan mengabarkan bahwa dapur telah memancarkan air. Mendengar berita itu, Nuh as berkata, “Laa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘Aliyil ‘Azhiim” (tiada dan upaya kecuali atas pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung). Pada saat itu, Nuh telah mempersiapkan semua yang dibutuhkan di dalam bahtera, termasuk makanan binatang dan burung sekalipun.

Ketika Rahmah memberitahunya hal tersebut, dia pergi ke rumah anaknya, Sam. Sesampainya di sana, dia melihat air yang memancar dari dapur telah memenuhi ruangan tengah rumah. Air tersebut mengalir dari pintu layaknya sungai yang besar. Ketika melihat itu, cepat-cepat dia pergi ke bahtera dan berteriak, “Wahai kaumku, selamatkan diri kalian, selamatkan diri kalian!” Atas panggilan itu, umat Nuh, yang berjumlah 40 laki-laki dan 40 perempuan datang ke bahtera. Nuh as berkata kepada anaknya, Kan’an,

“Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.” Anaknya menjawab, “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang.” Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. (QS Huud [11]: 42-43). Allah memberitahu bahwa dia adalah orang yang tidak salih.

Wahab bin Munabbih mengatakan bahwa Kan’an telah tenggelam sebelum dia mencapai gunung. Ibnu ‘Abbas ra meriwayatkan bahwa tatkala dapur memancarkan air, pintu-pintu langit dibukakan untuk menurunkan air tanpa ada awan dan dunia menjadi gelap gulita. Malaikat al-Ghadhab (pemarah) memukul-mukulkan sayapnya ke arah matahari dan langit berkata, “Seandainya tidak ada ketentuan yang telah digariskan oleh Allah, tentu air akan mengalir hingga ke bumi lapis ke tujuh.”

Pada saat itu, para lelaki sedang berjalan di jalan-jalan; dari bawah kakinya keluar air. Para wanita berdiam diri di rumahnya; dari bawah mereka keluar air. Air memancar dan bergolak, seperti bergolaknya air yang ada di dalam kuali. Air keluar dari seantero bumi. Ketika air telah memancar di kota Amsus, yang merupakan wilayah kekuasaan kerajaan Raja Suraid, dan dia telah mendengar suara orang-orang yang meminta tolong, dia pergi bersama para pembesar kaumnya dan berdiri di atas gunung yang tertinggi untuk melihat keadaan manusia. Di sana dia berpikir dan tidak sadar air telah meluap dari bawah kudanya. Kemudian dia kembali menuju gedungnya. Ternyata gedung itu telah terendam oleh air yang bergelombang seperti gunung dan tidak ada satu pun barang yang terlihat di atas permukaan bumi.

Wahab bin Munabbih mengatakan bahwa Banjir Besar ini bermula dari Kufah dan di sanalah tempat meluapnya air dari dapur. Ketika itu, Nuh beserta pengikutnya telah naik ke dalam bahtera, seperti yang telah diceritakan terdahulu.

Diriwayatkan, ketika ‘Auj melihat kegentingan ini, dia pergi menuju bahtera dan meletakkan tangannya di atasnya. Nuh as berkata kepadanya, “Apa yang engkau inginkan wahai musuh Allah?” ‘Auj menjawab, “Jangan risau wahai Nabiyullah! Biarkan aku berjalan menuruti lajunya bahtera ke mana pun lajunya. Aku letakkan tanganku di atas bahtera ini untuk menenangkan diri dari rasa kaget dan aku mendengar tasbihnya para malaikat.” Allah mewahyukan kepada Nuh, “Tidak perlu takut kepada ‘Auj. Biarkan dia berjalan bersama lajunya bahtera ke mana pun lajunya.”

Selanjutnya, Nuh as mengunci pintu-pintu bahtera dan berkata: “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Huud [11]: 41). Bahtera itu membawa mereka mengarungi ombak-ombak besar yang bergunung-gunung. Allah berfirman: Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung) Kami bawa (nenek moyang) kamu, ke dalam bahtera (QS Al-Haaqqah [69]: 11).

Menurut sebuah riwayat, ketika Allah menumpahkan Banjir Besar, Dia mengangkat Bait al-Ma’mur, yang terbuat dari yakut mereah, yang telah Dia turunkan pada zaman Adam. Tatkala air telah naik sampai ke gunung, Dia angkat Bait al-Ma’mur itu ke langit. Ia disebut dengan Al-bait al-Ma’mur al-‘Atiq karena ia diselamatkan dari Banjir Besar. Ketika bahtera melaju ke tempat berdiamnya Ka’bah, ia mengelilinginya 7 kali; kemudian ia berjalan ke tempat Baitul Muqadas untuk menziarahinya. Setiap kali melewati suatu tempat, bahtera itu berkata, “Hai Nuh, ini adalah tempat anu dan anu.”

Bahtera itu telah berkeliling membawa Nuh dari timur sampai barat. Di sekitar bahtera itu ada 70.000 malaikat yang menjaganya dari azab yang diturunkan itu. Ia berlayar di atas air layaknya bulan beredar di ufuk. Ketika bahtera telah berlayar, tidak berselang lama air telah naik seukuran 40 siku melebihi puncak gunung. Air telah menyelimuti bumi dan gunung dan tidak ada lagi makhluk yang bernyawa yang tersisa di permukaan bumi kecuali penghuni bahtera dan ‘Auj yang bisa selamat. Mereka semua binasa. Tiada satu kota dan negeri pun yang tersisa; semuanya hancur dan tidak ada bekas-bekas peninggalan yang tersisa kecuali piramida dan sphinx karena bangunanya sangat kuat.

Ada sebuah cerita langka dan aneh yang diriwayatkan oleh ats-Tsa’labi tentang kisah Banjir Besar ini, yaitu bahwa seorang wanita menggendong anaknya yang masih kecil dan sedang menyusu. Pada masa itu, di kaumnya tidak ada anak kecil kecuali anak itu. Ketika air telah meluap, wanita itu memangku anaknya di atas pundaknya. Dia lari dan naik ke atas gunung yang tinggi untuk menjaganya dari air. Ketika air mulai menggenangi wanita itu, dia mengangkat anaknya ke atas pundaknya.

Setelah air mencapai mulutnya, maka dia mengangkat anak itu dengan tangannya ke atas kepalanya dan setelah dia terbenamkan oleh air, dia letakkan anak itu di bawah kakinya, untuk sementara dia berdiri di atasnya dan mencari pertolongan barang sebentar sekuat nafasnya dan akhirnya keduanya tenggelam dalam air itu. Allah mewahyukan kepada Nuh, “Seandainya Aku menyayangi salah seorang di antara kaummu, tentu Aku akan menyayangi wanita itu beserta anaknya.” Pada masa berikutnya, kejadian ini menjadi sebuah perumpamaan. Ada yang mengatakan bahwa ketika topan tengah terjadi, orang-orang meletakkan anaknya di bawah kakinya.

Al-Kisa’i mengatakan, para ulama berselisih pendapat tentang lamanya waktu diamnya air di atas bumi. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa diamnya air di atas permukaan bumi selama 6 bulan. Ada juga yang mengatakan 150 hari. Setelah itu, Allah berfirman kepada bumi: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itu pun berlabuh di atas bukit Judi (QS Huud [11]: 44). Menurut sebuah riwayat, Judi adalah sebuah gunung yang dekat dengan Maushil (sebuah kota di Irak yang suka disebut Hadaba). Bahtera Nuh mendarat di sana.

Ats-Tsa’labi mengatakan bahwa bahtera Nuh mendarat di atas bukit Judi pada hari Asyura, hari ke-10 bulan Muharam. Pada hari itu, Nuh as berpuasa dalam rangka bersyukur kepada Allah. Dia memerintahkan orang-orang yang ikut bersamanya untuk berpuasa pada hari itu sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat tersebut. Diriwayatkan bahwa semua burung, binatang liar, dan hewan-hewan melata pada hari itu berpuasa.

Kemudian Nuh mengeluarkan perbekalan yang tersisa. Dia mengumpulkan 7 jenis biji-bijian, yaitu kacang polong hijau, kacang adas, kacang brul, himmas (chick pea), gandum, jewawut, dan padi. Dia campur satu sama lain dan memasaknya pada hari itu. Jadi, memasak kacang-kacangan pada hari tersebut merupakan sunnah (tradisi) yang dimunculkan oleh Nuh as dan hal itu dianjurkan untuk dilakukan.

Selanjutnya, Nuh as membuka pintu-pintu bahtera. Dia melihat matahari dan awan yang memudar. Di bumi terlihat ada pelangi. Menurut sebuah riwayat, hal itu sebelumnya belum pernah terjadi, kecuali pada hari itu dan itu menunjukkan bahwa air telah surut. Tatkala melihat itu, Nuh beserta pengikutnya yang ada di dalam kapal bertakbir. Para penghuni kapal tidak kuat untuk melihat matahari dengan mata mereka. Hal itu mereka adukan kepada Nuh, mereka berkata, “Kami tidak kuat untuk melihat cahaya matahari dengan mata kami.”

Atas pengaduan itu, pada hari itu, Nuh menyuruh mereka untuk memakai cela dengan batu itsmid (antimonium) agar mata mereka kuat untuk melihat. Diriwayatkan dari Rasulullah saw bahwa beliau bersabda, “Barangsiapa memakai cela pada hari Asyura, maka pada tahun itu dia tidak akan terkena sakit mata.” Nuh as membuka semua pintu kapal sehingga cahaya matahari masuk ke dalam kapal; burung-burung pun mengepakkan sayapnya; binatang-binatang bergerak, dan pohon-pohon bergoyang. Dan ketika melihat kapal telah berlabuh, ‘Auj meninggalkannya. Dia pergi berenang di dalam air sekehendaknya.

Al-Kisa’i mengatakan, gunung yang pertama kali tampak adalah gunung Abu Qubais yang ada di Makkah. Kemudian tampaklah tempat Ka’bah; ia telah menjadi sebuah bukit yang merah. Tidak ada satu pun kampung yang selamat kecuali kampung Nahawand. Ia muncul dari permukaan air seperti tidak mengalami perubahan apa pun. Yang selamat lainnya adalah piramida-piramida dan sphinx yang terletak di dataran tinggi, yang telah dibangun oleh Hermez awal. Di sana dia meninggalkan ilmu nujum dan ilmu astronomi. Keduanya tampak seperti keadaannya semula.

Setelah itu, Nuh as ingin memastikan apakah air masih menggenangi bumi atau tidak. Maka, dia utus burung gagak untuk mencari tahu tentang keadaan bumi. Setelah burung gagak itu pergi, ia melihat banyak bangkai dan ia pun terlena dengan memakan bangkai-bangkai tersebut hingga terlambat sampai 7 hari untuk membawa kabar yang diinginkan oleh Nuh. Akhirnya, burung itu dipanggil; ia pun datang dengan kepalanya yang pening dan tidak bisa diam di satu tempat akibat terlalu banyak memakan bangkai.

Kemudian Nuh berkata kepada burung-burung yang lain, “Adakah di antara kalian yang bisa membawakan kepadaku berita tentang air, dan tdiak melakukan hal-hal yang dilakukan oleh burung gagak?” Burung merpati menyahut, “Wahai Nabiyullah, saya akan membawakan kepadamu berita tentang air.” Setelah berbicara itu, burung merpati itu terbang dan menghilang untuk beberapa saat; lalu ia kembali dan di paruhnya ada sebuah daun berwarna hijau. Ketika Nuh as melihat daun yang ada di paruh burung merpati tersebut, dia berkata, “Ini adalah daun pohon zaitun.” Dia tahu bahwa air masih menggenangi bumi. Dia terdiam untuk beberapa saat dan kemudian mengutus lagi burung merpati itu.

Burung tersebut menghilang untuk beberapa saat; lalu ia kembali dengan kedua kakinya berwarna merah. Sebabnya adalah tempat pertama yang sudah tidak tergenangi oleh air adalah tempat Ka’bah yang telah berubah menjadi sebuah bukit berwarna merah. Burung merpati itu hinggap di sana sehingga kakinya terwarnai oleh tanah merah bukit tersebut. Nuh as mendoakan burung merpati dengan doanya, “Allah, jadikanlah burung merpati sebagai burung yang paling banyak diam, paling banyak keturunan, dan paling disukai oleh manusia.

Setelah 40 hari, bahtera berlabuh di gunung itu. Tanah mengering, dan di sana tumbuh berbagai jenis rerumputan. Allah mewahyukan kepada Nuh: “Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu.” (QS Huud [11]: 48). Kemudian Allah menyuruh Nuh as agar melepaskan burung, binatang liar, binatang melata, dan serangga yang ada bersamanya. Atas perintah tersebut, Nuh as melepaskan mereka semua. Semuanya berpencar untuk menempati tempat-tempat seperti sediakala.

Lalu Allah menampakkan siang, malam, matahari, bulan, dan bintang seperti sediakala. Setelah itu, Dia menurunkan hujan rahmat dan menampungkan air Banjir Besar dari bumi dan menjadikannya asin lagi pahit. Dengan semua ini, Nuh as merasa gembira dan mendapatkan kabar menggembirakan mendapatkan keridhaan dari Allah.

Diriwayatkan, ketika Nuh as keluar dari bahtera, dia melihat di mana-mana bumi memutih sehingga dia merasa kaget. Jibril datang kepadanya dan berkata, “Wahai Nuh, tahukah apa warna putih yang engkau lihat itu?” Nuh balik bertanya, “Apa itu?” Jibril menjawab, “Itu adalah tulang-belulang umat-umatmu.” Kemudian Nuh as mendengar kebisingan yang sangat mencekam. Jibril berkata kepada Nuh, “Tahukah engkau, kebisingan apa yang kau dengar itu?” Nuh balik bertanya, “Apa itu?” Jibril menjawab, “Itu adalah suara-suara rantai yang dipakai menggiring kaummu ke dalam neraka.” Itulah firman Allah: Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka (QS Nuh [71]: 25).

Ketika Nuh as keluar dari bahtera bersama 80 puluh orang yang beriman, dia membangun sebuah kampung untuk mereka yang kemudian diberi nama “Tsamanin” (Delapan Puluh). Itulah kampung yang pertama kali dibangun di muka bumi setelah terjadinya Banjir Besar. Setelah mereka menetap di kampung tersebut, Allah mematikan mereka semua; tidak ada seornag pun yang tersisa kecuali Nuh as beserta ketiga anaknya, Sam, Ham, Yafits, berikut istri-istri mereka. Ketika itu, mereka berjumlah 7 orang. Itulah firman Allah: Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan. (QS Ash-Shaaffaat [37]: 77). Jadi, semua manusia berasal dari Nuh as. Dia adalah bapak manusia kedua.

Wahab bin Munabbih mengatakan bahwa awal terjadinya Banjir Besar adalah pada bulan Rajab dan akhirnya pada akhir bulan Dzul Hijjah. Abu Ma’syar mengatakan bahwa antara terjadinya Banjir Besar di masa Nuh dengan tobatnya Adam adalah 2240 tahun. Dan antara Banjir Besar dengan hijrahnya kenabian adalah 3774 tahun.

Ada sebuah peristiwa unik yang dinukilkan oleh ats-Tsa’labi bahwa setelah Nuh as kembali menginjakkan kaki di bumi, Allah mewahyukan kepadanya untuk menanam pepohonan yang ada bersamanya. Atas perintah tersebut, Nuh as menanamnya dan yang pertama kali dia tanam adalah pohon As (sejenis semak berbunga putih). Dia bermaksud menanam pohon anggur, tetapi dia tidak menemukannya. Dia bertanya kepada anaknya, Sam, “Wahai anakku, dikemanakan pohon anggur?” Sam menjawab, “Saya tidak tahu.” Jibril turun ke bumi dan berkata kepada Nuh, “Wahai Nuh, pohon anngur itu telah dicuri oleh Iblis.” Maka, Nuh berkata kepada Iblis, “Kembalikan pohon anggur yang telah engkau curi itu.” Iblis berkata, “Aku tidak akan mengembalikannya kecuali engkau mau berbagi denganku.”

Nuh as berkata, “Aku beri kamu sepertiganya.” Iblis menolak penawaran tersebut. Nuh berkata, “Aku beri kamu dua pertiganya.” Iblis pun menerima. Syaikh Kamaluddin ad-Damiri, dalam kitabnya Hayal al-Hayawan, mengatakan bahwa setelah Iblis menanamkan pohon anggur di bumi, dia menyembelih seekor burung merak dan kemudian darahnya disiramkan ke pohon itu. Setelah daun-daunnya tumbuh, dia menyembelih seekor kera, dan kemudian darahnya disiramkan ke pohon itu. Setelah berbuah, dia menyembelih seekor singa; kemudian darahnya disiramkan. Dan setelah datang waktunya memanen anggur, dia menyembelih seekor babi dan darahnya disiramkan ke pohon itu. Semakna dengan ini, ada sebuah syair:

Anggur telah dijadikan lebih mulia
oleh orang yang memperkenalkan perasannya kepada Nuh.
Dalam perasan itu, ada sebuah rahasia yang membuat jiwa senang.
Ucapanku ini bukan omongan yang dibuat-buat belaka.
Orang yang telah meminumnya senantiasa akan ketagihan.

Oleh karena itu, orang yang meminum arak akan terkena sifat-sifat keempat hewan tersebut. Siapa pun orangnya yang pertama kali meminumnya akan berlaku sombong, seperti sombongnya burung merak. Ketika berjalan, dia akan menari-nari seperti monyet. Ketika mabuknya telah menjadi-jadi, dia akan berperilaku jelek dan meraung-raung, seperti yang dilakukan singa; dan ketika sudah teler dengan kemabukkannya, dia akan mengantuk dan berusaha tidur seperti yang dilakukan oleh babi. Itulah empat unsur yang sampai kapan pun tidak akan hilang dari orang yang meminum arak.

Al-Kisa’i mengatakan bahwa yang pertama kali memerah anggur menjadi arak, yang membuat rebana, seruling, dan alat-alat pengiring nyanyian adalah Iblis.

Al-Kisa’i mengatakan, setelah Nuh menetap kembali di bumi, dia membagi 3 wilayah untuk anak-anaknya, yaitu, Sam, Ham, dan Yafits. Sam menetap di wilayah bagian barat. Keturunannya menempati daerah Romawi, Persia, dan Arab. Nuh melihat di wajah Sam ada cahaya kenabian. Untuk Sam ini, diberikan juga daerah yang meliputi Hijaz, Yaman, Irak, Syam, dan daerah yang lainnya. Sam adalah anak Nuh yang terbesar. Ham ditempatkan di wilayah utara. Keturunannya menempati daerah Zanji dan Habasyah. Sedangkan Yafits ditempatkan di wilayah timur. Keturunannya banyak menempati daerah Turki, Ya’juj dan Ma’juj.

Selanjutnya, Allah mewahyukan kepada Nuh as untuk mengubur jasad Adam dan Hawa di tempatnya semula/ Perintah itu dilaksanakan oleh Nuh; kemudian dia diperintahkan untuk mengembalikan Hajar Aswad ke tempatnya semula. Perintah ini pun dilaksanakannya. Nuh terus-menerus berusaha memakmurkan bumi, setelah terjadinya Banjir Besar, seperti keadaannya semula.

Ka’ab al-Ahbar mengatakan, setelah Nuh as berusia lanjut dan mendekati ajalnya, dia bermaksud mengundang anak cucunya. Dia memohon kepada Allah agar mengabulkan doanya. Dia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Dia memanggil anaknya, Sam. Sam pun datang dan duduk di hadapan Nuh. Kemudian Nuh meletakkan kedua tangannya kepada Sam dan berkata, “Ya Allah, berkatilah Sam beserta keturunannya, dan jadikanlah di antara keturunannya kenabian dan kerajaan.” Dan ternyata dari keturunan Sam ini banyak sekali yang menjadi Nabi dan orang-orang salih.

Kemudian Nuh as memanggil anaknya, Ham. Ternyata Ham tidak menyambut panggilan Nuh. Akhirnya, Nuh mengutuknya di dalam doanya, “Ya Allah, buatlah anak cucunya menjadi terhina dan hitamkanlah paras mereka. Jadikanlah mereka sebagai budak dan pelayan bagi keturunan Sam.” Menurut sebuah riwayat, Ham mempunyai seorang anak yang bernama Mishrayim. Dia mendengar doa kakeknya, Nuh; lalu dia datang kepadanya, “Wahai kakek, aku penuhi panggilanmu, sebab ayahku tidak memenuhinya.” Nuh meletakkan kedua tangannya di badan Mishrayim dan berdoa, “Ya Allah, sebagaimana Engkau telah mengabulkan doaku, maka berkatilah anak ini beserta keturunannya. Tempatkanlah mereka di bumi yang diberkati yang merupakan induk negeri dan tempat hiruk pikuknya para hamba, yang sungainya merupakan sungai terunggul.”

Dan pada masa berikutnya, Mishrayim menetap di Mesir. Tempat yang ditinggalinya diberi nama dengan namanya dan di antara keturunannya adalah suku Qibthi. Setelah itu, Nuh mengundang anaknya, Yafits, dan ternyata Yafits tidak menyambut panggilannya. Akhirnya, Nuh mengutuknya di dalam doanya, “Ya Allah, jadikanlah keturunan Yafits sebagai makhluk yang terjelek.” Keturunannya adalah Ya’juj dan Ma’juj serta orang-orang Turki, seperti telah diceritakan terdahulu.

Tatkala Nuh memanggil anaknya yang bernama Ham, pada malam itu dia bersenggama dengan istrinya. Kemudian istrinya melahirkan dua anak, laki-laki dan perempuan. Ham melihat kedua anaknya berkulit hitam. Dia mengingkari keduanya sebagai anaknya seraya berkata, “Kedua anak ini bukan keturunanku.” Istrinya berkata, “Keduanya benar-benar darah dagingmu. Akan tetapi, kita terkena kutukan bapakmu (Nuh).” Akhirnya, Ham meninggalkan istrinya beserta kedua anaknya; lantas dia kabur karena merasa malu kepada orang-orang.

Ketika kedua anak itu menginjak dewasa, mereka pergi untuk mencari jejak bapak mereka, Ham. Keduanya sampai ke sebuah kampung yang dekat dengan Sungai Nil. Kemudian pemuda hitam tersebut menggauli saudara perempuannya; lalu si perempuan itu mengandung dan melahirkan anaknya, laki-laki dan perempuan yang berkulit hitam. Pada akhirnya, dua bersaudara itu menikah dan melahirkan keturunan. Keturunan mereka berdua semuanya berkulit hitam hingga sekarang. Al-Kisa’i mengatakan bahwa kampung yang didiami oleh mereka bernama Naubah.

Adapun Yafits, dia pergi ke sebuah negeri yang ada di bagian timur. Di sana, dia kawin dan memiliki 5 anak laki-laki, yaitu Jauhar, Batras, Mayasyikh, Sannaf, dan Saqwil. Keturunan Jauhar adalah orang-orang Shaqalibah dan Romawi. Keturunan Batras adlaah orang-orang Turki. Keturunan Mayasyikh adalah orang-orang ‘ajam. Keturunan Sannaf adalah Ya’juj dan Ma’juj. Dan keturunan Saqwil adalah orang-orang Arman (suku yang mendiami negeri Armenia).

Sedangkan Sam mempunyai 5 anak. Pertama, Arfakhsyad, yang melahirkan banyak nabi dan orang-orang saleh, dan di antara keturunannya adlaah orang-orang Arab, Rabi’ah, dan Mudhar, dan kabilah-kabilah Yaman. Kedua, Hasyim, yang keturunannya banyak menempati di tanah Yaman yang dikenal dengan Nasanis. Di wajah mereka hanya ada satu mata, satu telinga, dan satu kaki. Ketiga, Huwail, keturunannya adalah orang-orang ‘Amaliqah dan Imadiyah. Keempat, Arum, keturunannya adalah kabilah-kabilah ‘Ad dan Tsamud. Dan yang kelima adalah Syamalikha, yang tidak memiliki keturunan karena mandul.

Ats-Tsa’labi mengatakan bahwa Sam berumur 600 tahun. Dia adalah orang yang tidak sabar terhadap kematian. Nuh pernah memohon kepada Allah agar tidak mematikan Sam hingga dia sendiri meminta kematian kepada Tuhannya. Ketika dia telah berusia lanjut dan merasa lemah untuk beraktivitas, dia meminta mati kepada Tuhannya. Setelah meninggal, dia dikuburkan di sebuah kota di Hauran.

Wahab bin Munabbih mengatakan bahwa, setelah terjadinya Banjir Besar, Nuh bertahan hidup selama 200 tahun. Dan setelah keluar dari bahtera, dia melaksanakan ibadah haji. Dia diutus kepada kaumnya ketika berumur 250 tahun dan tinggal bersama mereka selama 950 tahun sebagaimana dikabarkan oleh Allah di dalam al-Qur’an yang agung. Ketika umur Nuh telah mencapai batas yang telah dituliskan oleh Allah untuknya, Malaikat Maut datang kepadanya dan berkata, “Assalaamu ‘alaika yaa Nabiyallaah!”

Nuh menjawab, “Wa ‘alaikas salaam, engkau ini siapa? Engkau telah menggetarkan hatiku dengan ucapan salammu.” Malaikat Maut menjawab, “Aku adalah Malaikat Maut, datang kepadamu untuk mencabut ruhmu.” Ketika Nuh mendengar jawaban itu, parasnya berubah dan bibirnya bergetar. Malaikat Maut berkata, “Hai Nuh, mengapa engkau gelisah? Apakah engkau belum kenyang dengan dunia, padahal engkau adalah orang yang paling panjang umurnya?” Nuh menjawab, “Sesungguhnya aku telah menemukan dunia ini hanyalah seperti sebuah rumah yang mempunyai dua pintu; aku masuk dari pintu yang satu dan aku keluar dari pintu yang lainnya.”

Kemudian Malaikat Maut membawakan sebuah gelas untuk Nuh yang berisikan minuman dari surga. Dia berkata kepada nuh, “Minumlah minuman ini agar ketakutanmu mereda.” Minuman itu diambilnya, kemudian dia minum. Setelah meminum minuman itu, Nuh terkulai meninggal. Semoga shalawat dan salam dari Allah senantiasa dicurahkan kepadanya. Setelah Nuh meninggal, anak-anaknya mengurusinya. Mereka memandikannya, mengafaninya, menshalatkannya, dan menguburkannya di sebuah kampung dekat Karak (sebuah kota di Yordania). Menurut sebuah riwayat, di kuburan Nuh terdapat sebuah mata air yang senantiasa mengalir. Seorang penyair mengatakan:

Ratapilah dirimu, wahai miskin, bila engkau ingin meratap.
Engkau pasti mati walaupun diberi umur seperti umur Nuh.

About these ads

Posted on July 1, 2010, in Afrika Kuno, Antropologi, Arkeologi, Babilonia Kuno, Geografi, Geologi, Irak Kuno, Keberhalaan, Keesaan, Kemerosotan Moral, Makhluk Prasejarah, Makhluk Raksasa, Manusia Kuno, Manusia Prasejarah, Materialisme, Mesopotamia, Monoteisme, Monoteisme Awal, Monoteisme Kuno, Monoteisme Purba, Nabi Nuh as, Penciptaan, Peradaban Kuno, Peradaban Prasejarah, Politeisme, Prasejarah, Sainstory, Sejarah, Sejarah Islam, Sejarah Monoteisme, Sumeria. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Makasih bro infonya, kayaknya web ini sejalur dengan blog yang aku buat link nya http://www.database-sufi.com. Bro kami mencoba membentuk database islam dengan menterjemahkan karya ulama-ulama terdahulu yang hanif. Jadi mohon bantuan dan sarannya ya. Thanks

  2. :D alangkah baiknya dan akan lebih ilmiyah jika menampilkan juga referensi kisah tersebut di atas dalam bentuk catatan kaki. jazakallahukhair.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: