Asal-usul Peradaban Mesir

Oleh: Jimmy Dunn
(Sumber: www.touregypt.net)

Stone circle di Nabta Playa di Gurun Barat Mesir dianggap berfungsi sebagai kalender dan dibangun sekitar tahun 7000 SM.

Apa yang mungkin Hitler, seorang kanselir Jerman yang menyiksa kaum Yahudi dan membawa kita ke dalam perang dunia pada pertengahan abad 20, lakukan terhadap interpretasi awal kita mengenai asal-usul bangsa Mesir? Cukup banyak, sebenarnya, walaupun kita tidak boleh menyalahkan dia sepenuhnya. Banyak dari sikapnya mengenai ras ternyata lebih lazim, di awal abad 20 di tengah-tengah kekuatan kolonial barat, dari yang disadari kebanyakan orang.

Setelah tahun 1980-an, ketika Egyptology mulai diakui sebagai sains daripada sekadar perburuan harta karun, saat itulah para penyelidik awal menemukan bukti yang mendahului piramida. Penggalian oleh Flinders Petrie mengungkap kebudayaan yang jauh lebih tua yang mendahului Dinasti ke-1 yang diketahui dalam catatan sejarah, dan mulanya material ini tidak begitu familiar sehingga Petrie mengiranya telah ditinggalkan oleh sebuah “Ras Baru” penduduk Lembah Nil. Namun, meski secara budaya berbeda dari bangsa Mesir di zaman Dinasti, setelah studi lebih jauh, dia menetapkan bahwa dirinya telah menemukan puing-puing dari periode prasejarah. Dia, dan yang lain, terutama terpesona oleh perbedaan jelas antara kebudayaan Pradinasti baru ini dengan material yang jauh lebih dikenal dari Kerajaan Lama dan periode kemudian.

Para egyptologist awal abad 20 menyimpulkan bahwa peradaban Mesir kuno klasik telah dibawa menuju Lembah Nil oleh sebuah “ras dinastik” penyerbu. Mereka yakin bahwa para penyerbu itu superior secara budaya dan politik dari “Penduduk Mesir Prasejarah” asli, dan bahwa mereka dengan cepat menetapkan diri sebagai penguasa negeri itu. Pada awal abad 20, ilmu metrologi tengkorak, yaitu menggunakan pengukuran tengkorak untuk menentukan karakteristik rasial, sudah lumrah. Ini juga digunakan untuk memperkuat teori “ras superior” di Mesir tersebut.

Bangsa penyerbu superior ini dipercaya berasal dari sebuah daratan di sebelah timur Mesir, mencerminkan pandangan yang tersebar luas bahwa Timur adalah sumber pokok kebudayaan awal. Seni kerajaan Mesir pada masa Dinasti ke-1 dianggap mirip dengan yang ditemukan di Mesopotamia, dan banyak orang percaya bahwa raja-raja awal Mesir berasal dari wilayah Irak modern. Pada 1930-an, teori ini diberi kepercayaan lebih jauh oleh Hans Winkler, seorang Jerman yang menjadi sangat dikenal dalam egyptology berkat eksplorasinya di Eastern Desert. Di sana dia menemukan banyak seni batu kuno di antara Lembah Nil dan Laut Merah. Yang signifikan adalah sejumlah citra perahu yang mencolok, dan juga sangat mirip dengan kapal air yang ditemukan dalam seni Mesopotamia.

Namun, di awal abad 20, kronologi dunia kuno masih sangat kurang diketahui, dan pada saat itu Winkler juga tidak mengetahui bahwa perahu-perahu Mesir ini mendahului rekan Mesopotamia mereka selama berabad-abad. Oleh sebab itu, dia menyatakan bahwa Mesopotamia diserbu oleh Mesir melalui Laut Merah, meninggalkan bekas perjalanan mereka di bebatuan sewaktu mereka melintas menuju Sungai Nil.

Teori invasi ini merupakan produk zaman itu. Tokoh-tokoh seperti Hitler mendukung pendekatan ini, tapi kenyataannya teori-teori difusi (penyebaran) bahwa kelompok-kelompok ras superior membawa peradaban kepada penduduk asli sangat populer di kalangan kekuatan kolonial Eropa barat. Pada waktu itu Afrika dikenal sebagai “jantung kegelapan”, dan dianggap tak mampu menghasilkan kebudayaan maju tanpa pengaruh luar. Ternyata kekalahan Nazisme-lah, dan pemberian kemerdekaan kepada banyak bekas koloni Eropa di Afrika, yang pada akhirnya mendorong popularitas teori-teori semacam itu.

Meski teori invasi bertahan di kalangan segelintir egyptologist untuk beberapa waktu, dan meski melihat kebangkitan karya-karya populer di akhir 1990-an, sebagian besar akademisi menghentikan penyelidikan asal-usul asing peradaban Mesir. Hari ini kita justru mencari perkembangan pribumi dan akar kebudayaan dinasti Mesir di Lembah Nil dan wilayah dekat sekitar tempat lahir peradaban ini.

Riset arkeologis intensif telah, setelah bertahun-tahun, membuka banyak rahasia tentang Mesir prasejarah. Pemahaman kita atas peradaban Mesir kini bisa ditelusuri melewati sekuens perkembangan yang panjang hingga tahun 5000 SM dan lebih awal, hampir 2000 tahun sebelum Dinasti ke-1 Mesir. Kita telah menemukan, bahkan sebelum 5000 SM, bukti tentang komunitas awal kaum pemburu-pengumpul di sepanjang Lembah Nil dan di pesisir Danau Qarun di Fayoum, serta tentang penduduk palaeolithic yang hidup sekitar 300.000 tahun lalu.

Kini pengetahuan kita mengenai kebudayaan dinasti Mesir awal juga telah mengubah pandangan kita tentang bagaimana peradaban Mesir klasik muncul. Sedikitnya sejak enam puluh tahun lalu, dan bahkan hingga hari ini di kalangan beberapa teoris populer, dianggap bahwa dinasti Mesir yang kita kenal itu tampaknya muncul secara tiba-tiba dari kevakuman budaya. Namun, seperti piramida sendiri yang berkembang melalui eksperimen selama bertahun-tahun, yang terkadang mengakibatkan kerusakan, hari ini kita dapat menikmati kebudayaan Mesir yang telah melewati masa kehamilan panjang, dan [menikmati] fakta bahwa akarnya sungguh-sungguh terdapat di Mesir sendiri.

Namun, kita harus akui, sebagaimana terhadap kebanyakan kebudayaan lainnya, bahwa Mesir tidak kebal dari pengaruh asing. Kenyataannya, kebudayaan yang paling sukses harus meminjam kemajuan teknologi dari kebudayaan lain, meskipun mereka menghasilkan beberapanya sendiri. Karena itu jelaslah bahwa kebudayaan Mesir Pradinasti mau menerima ide-ide dari daratan tetangga. Motif arsitektur dan artistik asing, dan bahkan mungkin ide penulisan, diadopsi oleh bangsa Mesir di permulaan sejarah. Bagaimanapun, seperti kereta perang Kerajaan Baru yang diadaptasi dari sumber asing lalu dimodifikasi menjadi lebih ringan agar lebih mudah dikendalikan di daratan Mesir dan dalam taktik pertempuran Mesir, semua peminjaman dari zaman paling awal tersebut segera cocok ke dalam konteks Mesir. Karena itu, sudah pasti tidak ada bukti apapun mengenai invasi dinasti penakluk, meski di zaman kuno, sebagaimana sekarang, Mesir merupakan tempat percampuran budaya di mana Afrika, Asia, dan Mediterania bertemu. Peradaban yang muncul di Lembah Nil dapat menyerap pengaruh dari semua area tersebut.

Namun, meski peradaban Nil tidak muncul dari pengaruh asing, bukti terbaru menyiratkan bahwa pendorong di balik perkembangan ini mungkin bukan pengadopsian cara hidup agrikultur yang menetap sebagaimana anggapan arkeolog suatu kali. Justru, sepertinya ketegangan eksistensi tak menentu di lingkungan safana kering pihak musuh hingga timur dan barat, di mana sekarang hanya tersisa sedikit di antara gurun pasir, mengakibatkan migrasi sekawanan penduduk semi-nomaden secara bertahap menuju Lembah Nil. Hampir seperti daerah kosong, Lembah Nil mulai menyerap nomad-nomad ini setelah padang rumput mereka mengering, dan ini juga bisa jadi merupakan stimulus penting bagi perkembangan pesat peradaban Mesir, memaksa populasi besar memasuki area yang jauh lebih kecil.

Sebagai catatan pinggir, kita mesti menyebutkan bahwa bukti yang sama yang mengesampingkan penyerbu asing normal juga jelas menunjukkan fakta bahwa peradaban Mesir kuno tidak berhutang eksistensi kepada bangsa Atlantis atau extraterrestrial. Teori-teori populer semacam itu telah ada selama bertahun-tahun, terutama sejak 1960-an. Para penulis mendapatkan audiens yang berhasrat pada ide-ide menggelikan demikian, sekalipun teori mereka cacat. Biasanya mereka menghadirkan bukti yang sangat selektif, bukan konteks luas materi mengenai evolusi peradaban Mesir.

Ringkasnya, selama beberapa ribu tahun, perubahan lingkungan dan pengaruh asing membentuk perkembangan gradual sebuah peradaban, yaitu, menurut analisis final, Mesir yang khas dan unik. Di Mesir kuno, telur dianggap sebagai simbol kelahiran dan kebangkitan, dan memang Mesir, sebagaimana telur sendiri, memberi makan penduduknya dari dalam, sambil menyediakan cangkang keras untuk melindungi mereka dari bahaya luar. Ketika safana-safana mengering menjadi gurun tandus, memaksa penghuninya menjadi populasi sesak, safana itu juga mengasuh dan melindungi orang-orang ini, memungkinkan mereka berkembang di sepanjang Nil yang subur nan kaya, menjadi kerajaan besar yang kita temukan di masa berikutnya.

Referensi
• Ian Shaw dan Paul Nicholson, The Dictionary of Ancient Egypt, 1995, Harry N. Abrams, Inc. Publishers, ISBN 0-8109-3225-3.
• Michael A. Hoffman, Egypt Before the Pharaohs, 1979, Barnes & Noble Books, ISBN 0-88029-457-4.
• Nicolas Grimal, A History of Ancient Egypt, 1988, Blackwell, None Stated.
• Ian Shaw, The Oxford History of Ancient Egypt, 2000, Oxford University Press, ISBN 0-19-815034-2.
• Bill Manley (Editor), The Seventy Great Mysteries of Ancient Egypt, 2003, Thames & Hudson Ltd, ISBN 0-500-05123-2.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 29 other followers

%d bloggers like this: