Penemuan Makam Tutankhamun

(Sumber: History Magazine, Februari/Maret 2008, hal. 25-30)

Howard Carter bekerja hati-hati pada topeng penguburan Raja Tut.

Pada 4 November 1992, seorang anak laki-laki muda pengambil air membuat sejarah di sebuah penggalian di Lembah Raja-raja, Mesir. Meniru sesepuhnya, dia menggali pasir panas. Tak lama, dia menghantam permukaan keras—sebuah anak tangga dari batu. Sang anak laki-laki berlari melintasi situs dan menceritakan kepada Howard Carter mengenai temuannya. Di ujung hari, para pekerja menemukan tangga batu yang mengarah ke sebuah makam kuno.

Carter mengirim telegram ke Inggris.

“Akhirnya kita membuat penemuan menakjubkan di Lembah,” katanya kepada penyandang dananya, Lord Carnarvon, “sebuah makam indah dengan segel utuh; ditutup lagi demi kedatangan Anda; selamat.”

Tidak lama lagi, Carter akan tahu bahwa makam itu menyimpan salah satu temuan arkeologis terbesar di masa itu: tempat peristirahatan terakhir Raja Tutankhamun.

Raja Cilik Amenhotep III, yang mungkin merupakan ayah atau kakek Tutankhamun, menjadi firaun di usia 12 dan berkuasa selama 38 tahun. Selama zaman emas Dinasti ke-18 ini, kerajaan Mesir mengumpulkan kekayaan yang sangat banyak, dan unggul dalam pencapaian seni dan sastra.

Sebagai seorang penguasa, putera firaun, Amenhotep IV, tidak memiliki sifat-sifat ayahnya. Amenhotep IV meninggalkan dewa Amun dan kuil dewa-dewa Mesir. Beralih dari dewa-dewa tradisional, Amenhotep IV menganjurkan penyembahan kepada Aten, solar disk (cakram surya). Sang firaun baru mengubah nama menjadi Akhenaten, “pelayan Aten”, dan dia membangun ibukota baru yang diberi nama Akhetaten, “horison cakram matahari”, yang hari ini menjadi kota Tel el-Amarna. Dalam melakukan itu, raja eksentrik ini memindahkan kekuasaan dari pusat administratif di kota Memphis dan pusat keagamaan di kota Thebes.

Smenkhkare menggantikan Akhenaten. Dia berkuasa dalam waktu yang singkat dan pergi dengan diam-diam.

Sekitar 1343 SM, seorang anak berusia kira-kira 10 tahun, Tutankhaten, naik tahta dan memikul kekuasaan atas superpower Mesir. Walaupun namanya memiliki arti “gambaran Aten yang hidup”, raja cilik itu mengembalikan kebiasaan lama dengan menempatkan kembali kuil tradisional dewa-dewa dan membuka kembali kuilnya. Tutankhaten juga menetapkan kembali Memphis dan Thebes sebagai pusat kekuasaan. Untuk menghormati dewa Amun, Tutankhaten dan Ankhesenpaaten (ratu kepalanya) mengubah nama mereka menjadi Tutankhamun dan Ankhsenamun.

Pemerintahan 9 tahun Tutankhamun yang relatif damai berakhir dengan kematiannya yang terlalu dini. Banyak teori konspirasi berkembang untuk menjelaskan bagaimana raja cilik itu mati. Meski kurang bukti pembunuhan, dua penasehat firaun telah memperhitungkan teori pembunuhan: [kedua penasehat tersebut adalah] Aye, yang kemungkinan merupakan cucu Ankhsenamun, dan Jenderal Horemheb, Panglima Tertinggi tentara.

Ritual penguburan Tutankhamun mencerminkan keyakinan bangsa Mesir bahwa ba dan ka-nya, dua bagian kepribadian sang raja, berpisah dari tubuhnya. Ka, tenaga kehidupan seseorang, memerlukan makan, minum, dan pakaian dan kebutuhan duniawi lainnya untuk berfungsi di alam baka. Ba, jiwa atau kepribadian, bisa meninggalkan makam dan bepergian mengitari bumi selama siang hari. Jasad yang dimumikan secara benar dan ritus pemakaman yang dilaksanakan secara benar akan memungkinkan ba dan ka untuk bersatu kembali, memungkinkan almarhum untuk menjadi akh, ruh abadi.

Proses pembalseman rumit mengawetkan jasad sehingga ba bisa kembali ke sang mumi di malam hari dan memastikan keberlanjutan kehidupannya. Para pembalsem mengangkat paru-paru, liver, perut, dan usus, mengeringkan organ-organ tersebut dalam garam, menyalepinya dengan minyak, membungkus organ-organ dan menempatkannya dalam peti mati mini dari emas padat. Menggunakan pengait panjang dari logam, para pembalsem mengangkat otak melalui lubang hidung.

Mereka mengeringkan daging mayat dengan natron, campuran garam dan baking soda. Setelah memakai resin untuk memperhalus kulit, pembalsem membungkus tungkai dan lengan Tutankhamun dalam pembalut dari linen, sementara para pendeta menyanyikan mantera dan menaruh jimat dan perhiasan di antara lapisan pakaian. Mereka menutupi jari tangan dan kaki dengan silinder emas dan memasang topeng penguburan dari emas pada wajahnya.

Aye, suksesor Tutankhamun, menyiapkan satu set kecil ruangan-ruangan di makam bawah tanah dekat dasar Lembah Raja-raja, yang berlokasi di tepi barat Nil dan di seberang Thebes. Tak lama setelah penguburan, para pencuri masuk ke dalam makam, tapi tertangkap basah. Petugas menyegel kembali makam itu. Pada waktu itu, para pekerja mengkonstruksi sebuah makam untuk firaun lain yang tak jauh letaknya. Pondok mereka menyamarkan tempat penguburan Tutankhamun. Setelah bertahun-tahun, banjir menghapus semua bukti luar dari makam raja muda itu.

Howard Carter Mendekati Takdirnya
Carter lahir pada 9 Mei 1874. Saat kecil, kesehatannya buruk, dan dia tinggal bersama bibinya di Swaffham, Norfolk. Orangtua Carter, yang percaya bahwa putera mereka terlalu lemah untuk ikut sekolah privat, menyusun pendidikan rumah. Ayah Carter adalah seniman yang bekerja untuk Illustrated London News dan juga ahli dalam melukis binatang. Dia mengajari Howard menggambar, dan mendapati bahwa puteranya mempunyai bakat.

Mumi kepala Raja Tut

Peti isi perut Tutankhamun

Minat Howard Carter terhadap peninggalan Mesir serta talenta seninya membawanya ke Mesir pada tahun 1891. Egypt Exploration Fund di London menyewa Carter untuk membantu P.E. Newberry mencatat gambar dan prasasti makam-makam di Beni Hassan dan el-Bersha. Selama dekade selanjutnya, Carter mendapat pengalaman arkeologi di penggalian al-Amarna bersama Flinders Petrie dan sebagai anggota ekspedisi di kuil Hatshepsut di Deir el-Bahri.

Pada 1899, Carter menerima posisi Inspector General of Monuments for Upper Egypt, dan mengawasi pekerjaan arkeologi di Lembah Nil. Sebuah perkelahian antara turis-turis Prancis yang mabuk dan penjaga Mesir mengakhiri karir Antiquities Service Carter. Carter menolak meminta maaf atas perbuatan penjaga-penjaganya. Dia bersikeras bahwa orang-orangnya hanya mempertahankan diri; justru turis-turis itulah yang seharusnya meminta maaf. Menyusul penurunan pangkat ke jabatan kecil, Carter berhenti dari Antiquities Service pada 1905.

Pada saat yang sama, George Edward Stanhope Molyneux Herbert, atau Lord Carnarvon, tur ke Mesir untuk memulihkan diri dari kecelakaan mobil yang mengerikan. Pada 1908, Carnarvon memutuskan untuk mendanai sebuah eksplorasi arkeologi. Pemerintah mengharuskan bahwa pekerjaan semacam itu harus diawasi oleh arkeolog berpengalaman. Carter, yang menambah penghidupan sebagai seniman komersial dan pemandu tur, kebetulan tersedia.

Mulanya, Carter dan Carnarvon fokus pada Thebes. Pada 1912, mereka memindahkan operasi mereka ke Delta dengan hasil sedang.

Pemerintah Mesir—di bawah pendudukan Inggris—mempersilahkan arkeolog yang memenuhi syarat untuk melakukan penggalian di situs-situs kuno. Antiquities Department mengizinkan mereka untuk membawa keluar setengah peninggalan yang mereka temukan dari negeri tersebut. Pemerintah mengecualikan aturan ini untuk Lembah Raja-raja, tapi memberikan izin untuk mengeksplor kawasan tersebut.

Sejak 1902, Theodore M. Davis, seorang Amerika kaya raya, telah mendapatkan lisensi untuk menggali di Lembah Raja-raja. Pada 1906, para arkeolog Davis menemukan cangkir biru berlapis kaca yang memuat cartouche (cincin oval yang melampirkan nama dan gelar firaun-penj) Tutankhamun. Selama tahun berikutnya, mereka menemukan sebuah kamar dari potongan batu yang menyimpan sejumlah objek dengan nama Tutankhamun. Davis menganggap dirinya telah menemukan makam Tutankhamun.

Pada 1914, Carnarvon mendapatkan salah satu koleksi pribadi peninggalan Mesir yang paling berharga. Namun demikian, ketika Davis, yang percaya bahwa dirinya telah menemukan semua temuan penting di Lembah, melepas lisensinya, Carter meyakinkan Carnarvon untuk mengambil konsesi itu.

Penggalian makam Tutankhamun

Lord Carnarvon, Lady Evelyn Herbert, dan Howard Carter di pintu masuk menuju makam; pekerjaan di makam Raja Tut berlanjut hingga tahun 1933.

Selama bertahun-tahun Carter telah mengumpulkan potongan informasi mengenai Tutankhamun dan yakin bahwa makam firaun tersebut masih tersembunyi di Lembah Raja-raja. Pecahnya Perang Dunia II memaksa keduanya menunda pekerjaan mereka.

Pada 1917, Carter dan Carnarvon memulai eksplorasi mereka di Lembah Raja-raja. Carter memutuskan bahwa satu-satunya cara untuk mencari makam Tutankhamun adalah mengabaikan penggalian sebelumnya. Dia fokus pada sebidang tanah segitiga dengan luas dua setengah acre yang dibatasi oleh makam Ramses II, Merenptah, dan Ramses VI. Untuk pertama kalinya dalam sejarah arkeologi Mesir, dia akan membersihkan permukaan hingga ke bawah, ke batuan dasar. Untuk memastikan bahwa pekerjaan itu sistematis, Carter memikirkan grid system berbasis tembakan artileri step-by-step dalam perang. Rencana Carter membutuhkan pengangkutan ratusan ribu meter kubik pasir, kepingan batu, dan batu besar, tugas yang dikerjakan oleh orang-orang dewasa dan anak-anak muda dengan beliung, cangkul, dan keranjang kecil.

Selama lima tahun, pekerjaan itu hanya menghasilkan sedikit. Di musim panas tahun 1922, Carnarvon berkata kepada Carter bahwa dirinya tak akan lagi mendanai ekspedisi tersebut. Carter membujuk penyandang dananya itu untuk melanjutkan selama satu musim lagi.

Penemuan Makam
Pada 1 November, Carter melanjutkan pencariannya di Lembah Raja-raja. Setelah seorang anak pengambil air menemukan sebuah anak tangga batu pada 4 November, Carter dan pekerjanya menghabiskan sore itu dengan membongkar 12 anak tangga dari tangga batu yang menurun dengan sudut 45 derajat ke dalam bukit kecil di bawah pintu masuk menuju makam Ramses VI. Di anak tangga ke-12, Carter menemukan bagian atas sebuah pintu yang dikonstruksi dari batu-batu besar yang diplester. Permukaan pintu keluar masuk tersebut memuat segel Royal Necropolis: Anubis di atas sembilan musuh. Carter tidak bisa menemukan nama raja, tapi dia memperhatikan bahwa sebuah sudut telah disegel ulang, mengindikasikan bahwa para pencuri pernah masuk ke makam dan bahwa sesuatu yang bernilai masih tersisa.

Carter membuat lubang intip kecil, menyisipkan lampu listrik dan melihat ke dalam. Sebuah gang yang dari lantai hingga atapnya dipenuhi batu dan reruntuhan terletak di sisi lain pintu, sebuah tanda bahwa pernah dilakukan pemeliharaan untuk melindungi makam. Dia memerintahkan pekerjanya untuk mengisi kembali tangga itu demi perlindungan dan kemudian mengirim telegram kepada Carnarvon di Inggris.

Tiga minggu kemudian, Lord Carnarvon tiba bersama puterinya, Lady Evelyn Herbert. Setelah membersihkan keenam belas anak tangga, Carter menemukan kesan segel Tutankhamun pada bagian bawah pintu. Ketika para pekerja membersihkan reruntuhan dari koridor, mereka menemukan pintu kedua yang diplester, yang juga tampak pernah dirusak dan disegel ulang di masa lampau.

Pada 26 November, Carter menggunakan tangannya untuk menggali patahan kecil di pintu kedua tersebut. Dia menyisipkan sebuah batang besi ke dalam lubang dan mendapati ruang kosong di sisi lain. Dia kemudian menyalakan lilin untuk mengecek adanya gas beracun. Dalam bukunya, The Tomb of Tut.Ankh.Amen (1923), Carter mencatat kesannya atas momen tersebut:

“Pada awalnya saya tidak bisa melihat apa-apa, udara panas yang keluar dari kamar menyebabkan api lilin berkelip-kelip, tapi segera, begitu mata saya mulai terbiasa dengan cahaya itu, detail ruangan di dalam timbul perlahan-lahan dari kabut, binatang-binatang aneh, patung, dan emas—di setiap tempat terdapat kilatan emas. Untuk sesaat – pasti terasa abadi bagi orang-orang di samping – saya terbisu takjub, dan ketika Lord Carnarvon, yang tak mampu menahan ketegangan lebih lama lagi, menanyakan secara serius, ‘Bisakah kau melihat sesuatu?’, yang dapat saya katakan hanya, ‘Ya, benda-benda menakjubkan.’”

Carter dan Carnarvon memasuki ruangan yang kemudian mereka sebut sebagai antechamber (kamar kecil yang menuju ke kamar utama-penj). Di sini, mereka menemukan tiga dipan besar berlapis emas dengan sisi-sisi dipahat dalam bentuk binatang-binatang, dan dua sosok raja sebesar badan dalam warna hitam yang saling berhadapan seperti penjaga serta mengenakan rok pendek emas dan sandal emas, dan bersenjatakan tongkat kebesaran. Ruangan tersebut juga menyimpan kotak perhiasan berwarna dan bertatah, vas dari alabaster (batu pualam putih-penj), tempat pemujaan berwarna hitam, kursi yang dipahat, tempat tidur, dan tahta bertatah dari emas, dan setumpuk kereta perang yang terjungkir balik yang berkilauan dengan emas dan tatahan. Di lantai, Carter menemukan sebuah karangan besar bunga dengan daun yang diawetkan.

Meski menyimpan ratusan kekayaan, antechamber tersebut hanya seukuran 12 kali 12 kaki dengan atap setinggi tujuh setengah kaki. Tempat itu tidak berisi mumi. Melalui lubang buatan perampok di satu dinding, mereka menemukan sebuah ruangan yang telah dirampok yang mereka beri nama annex. Kamar berantakan tersebut menyimpan minyak, wine, makanan, tahta berukir, peti berukir berlapis gading, sosok-sosok detil binatang yang terbuat dari alabaster, sebuah perahu, meja-meja permainan, vas, dan barang sehari-hari lainnya yang mungkin dibawa firaun ke alam baka.

Di antara dua patung penjaga antechamber, mereka menemukan sebuah pintu tersegel lainnya. Apakah itu menuju ke kamar pemakaman? Carter dan koleganya mengunci situs, menaiki keledai mereka, lalu pulang ke rumah, diam dan lemah.

Diagram yang memperlihatkan denah makam Tutankhamun

Setelah memberitahu Antiquities Service, Carter menyusun sebuah tim internasional yang terdiri dari para pakar untuk memeriksa makam dan mempreservasi isinya dalam bentuk gambar dan foto. Mereka menawarkan pemameran pers resmi pertama atas makam Tutankhamun pada 22 Desember. Berita mengenai koleksi terkaya harta Mesir kuno itu memercikkan hiruk-pikuk di media. Walaupun sudah dirampok, makam itu masih utuh. Untuk pertama kalinya para arkeolog dapat mempelajari semua peralatan pemakaman firaun yang memberikan pengetahuan tentang kebudayaan kuno.

Pintu tersegel antechamber yang utuh

Pintu dalam proses pembongkaran

Keberhasilan mulai terungkap
Puluhan ribu pengunjung ramai-ramai menuju Lembah Raja-raja dan mengganggu studi atas situs. Carter menjadi frustasi dan mulai menyuruh pergi setiap orang dari makam, termasuk mereka yang punya izin resmi pemerintah.

Di akhir Februari, isi kamar telah secara hati-hati diangkat untuk dilakukan pemeriksaan. Carter membuat lubang di pintu antara dua penjaga itu dan menyisipkan suluh listrik. “Cahaya itu mengungkap sebuah pemandangan menakjubkan,” tulis Carter, “karena di sana, dalam radius satu yard dari pintu, membentang sejauh mata memandang dan menghalangi pintu masuk menuju kamar, berdiri dinding emas yang kokoh.”

Mereka mengangkat batu dari pintu, mengungkap sisi tempat pemujaan setinggi 9 kaki. Dalam tempat pemujaan ini, mereka menemukan tempat pemujaan kedua, yang dibangun untuk menutupi sarkofagus. Mereka telah memasuki kamar pemakaman.

Ruangan itu berisi objek-objek yang akan dibutuhkan raja selama perjalanannya melewati underworld: tujuh kayuh untuk menambangkan dirinya menyeberangi perairan di underworld, lampu calcite (crystalline calcium carbonate alami-penj) bening, sebuah terompet perak, dan botol-botol parfum dan salep. Dinding-dinding kamar didekorasi dengan pemandangan bercat cerah dan ukiran tulisan.

Pemeriksaan lebih jauh mengungkap pintu masuk menuju satu kamar lainnya: perbendaharaan. Satu sosok dewa serigala Anubis menjaga pintu masuk ke kamar ini, yang berisi sebuah monumen yang bagian tengahnya terdiri dari peti berlapis emas dan berbentuk tempat pemujaan besar. Patung dewi menjaga tempat pemujaan di keempat sisinya. Peti itu menyimpan botol-botol organ yang diawetkan. Kamar perbendaharaan ini juga menyimpan sejumlah tempat pemujaan berwarna hitam, peti, dan kotak perhiasan dari gading dan kayu.

Pada bulan April, Lord Carnarvon meninggal dunia tanpa disangka-sangka. Luka gigitan nyamuk menjadi terinfeksi, dan Carnarvon, yang kesehatannya buruk, mati akibat penumonia. Kematiannya menandai awal kejatuhan harapan Carter atas penggalian.

Antiquities Service Mesir, kini tak dibebani oleh Protektorat Inggirs, mulai mengerahkan kontrol lebih besar atas situs penggalian. Carter marah terhadap kekuasaan yang berkurang atas temuannya.

Pada Februari 1924, Carter memimpin tamu-tamu istimewa ke dalam makam untuk peristiwa yang sudah lama dinanti: pemeriksaan mumi Tutankhamun. Itu bukan persoalan sederhana. Pertama-tama, lemping granit masif penutup sarkofagus harus dibongkar, supaya batu-batu dapat dibenturkan ke pintu. Setelah mengunci tali pengikat di sekitar penutup, lemping granit, yang berberat hampir dua ton, terangkat dari peti mati batu. Ketika Carter menyorotkan cahaya ke dalam sarkofagus, dia melihat sebuah objek yang tersamarkan oleh kafan linen. Dia mengangkat linen yang membungkus untuk menyingkap patung emas raja cilik yang terbuat dari kayu sepuh dan didekorasi dengan lempeng emas tipis, faience (barang pecah belah berlapis timah), dan batu-batu semi mulia.

Setelah mereka meninggalkan makam, Carter bertanya kepada Pierre Lacau, direktur jenderal Antiquities Service, apakah istri para penggali boleh mengunjungi makam sebelum pemameran pers keesokan paginya. Hari berikutnya, Carter tahu bahwa Minister of Public telah menolah permintaan tersebut. Carter merespon penghinaan itu atas dorongan hati. Dengan batu-batu masif yang bergelantung di atas jenazah firaun muda, Carter dan para penggali melakukan mogok kerja.

Otoritas Mesir menuduh Carter lalai. Carter menuntut permohonan maaf dari pemerintah atas sikap tak hormat yang ditunjukkan kepada dirinya dan stafnya. Bukannya menyesal, pemerintah mengharuskan Carter dan Lady Carnarvon menandatangani surat pernyataan yang menyatakan bahwa mereka tidak akan membuat klaim atas objek yang ditemukan di makam.

Setelah setahun negosiasi, pemerintah Mesir setuju untuk membayar £36,000 kepada Lady Carnarvon, jumlah perkiraan pengeluaran Carnarvon selama bertahun-tahun. Carter mendapat sekitar £8,500 dari jumlah ini dan diperbolehkan melanjutkan pekerjaan penggalian.

Pada Januari 1925, Howard Carter kembali ke Lembah. Dia mengangkat penutup peti mati bersepuh yang dia lihat setahun sebelumnya dan kemudian menemukan peti mati kedua, yang ini dilapisi kafan linen halus dan diperindah dengan karangan bunga. Carter menurunkan kafan untuk menyingkap peti mati lainnya lagi, yang terbuat dari timah emas tebal bertatah kaca ukir yang menyerupai jasper (quartz suram–penj) merah, lapis, dan batu pirus.

Setelah mereka membuka penutup peti mati ketiga, Carter melihat mumi Tutankhamun. Resin hitam, keras, dan lengket menutupi jasad dan mengikat kepala raja ke topeng emas seukuran badan dan bertatah kaca biru yang menyerupai lapis lazuli (mineral biru yang digunakan sebagai batu permata–penj).

Selama empat hari tim tersebut mengurai pembalut dan mencatat tiap-tiap artefak yang tersembunyi dalam bahan pembungkus. Dengan bantuan Dr. Douglas Derry, profesor anatomi di Universitas Mesir, Carter mengiris 13 lapisan linen kaku itu. Saat selesai, mereka mengumpulkan 143 keping perhiasan, ornamen, jimat, dan peralatan.

Untuk memeriksa mumi berlapis resin, mereka memotong kepala pada lehernya dan memakai pisau panas untuk membongkar tengkorak dari topeng. Lalu mereka memisahkan tulang panggul dari batang tubuh dan menanggalkan lengan dan kaki. Dua spesialis medis menguji mumi dan menyimpulkan bahwa sang raja meninggal antara usia 18 sampai 22. Setelah pemeriksaan, mereka memasang kembali jenazah itu di atas lapisan pasir dalam sebuah kotak kayu berbantalan untuk menyembunyikan kerusakan dan menempatkan kembali mumi dalam makam.

Howard Carter dan seorang pekerja sedang memeriksa sarkofagus Raja Tut.

Dalam keterangannya mengenai penggalian pertama antechamber, Carter menulis bahwa, “Hari berikutnya (26 November) adalah hari-hari terindah yang pernah saya jalani, dan sudah pasti takkan pernah saya jumpai lagi.”

Ini mungkin terdengar seperti pernyataan berlebihan. Menurut keterangan resminya, Carter mendapat kesempatan untuk mengeksplor kamar pemakaman dan perbendaharaan berbulan-bulan kemudian. Yang luput Carter sebutkan dalam versi peristiwanya adalah bahwa dia, Carnarvon, dan Evelyn telah secara rahasia mengunjungi kembali makam itu. Setelah masuk ke antechamber, mereka mempertaruhkan kehilangan lisensi mereka dengan mengeksplor kamar pemakaman dan perbendaharaan. Sesudah itu, mereka menyamarkan jejak petualangan mereka.

Sebuah laporan tentang eksplorasi tak sah mereka muncul bertahun-tahun setelah kematian Carter. Tapi Carter mungkin telah mengisyaratkan tentang tamasya itu dalam bukunya. “Saya pikir kami tidur tapi sebentar, kami semua, malam itu,” tulisnya.

CSI: Mesir
Setelah Howard Carter dan timnya menyelesaikan pemeriksaan, mereka menaruh kembali jenazah Tutankhamun dalam peti matinya. Mumi itu beristirahat tanpa terganggu selama 40 tahun.

Pada tahun 1968, sebuah kelompok dari Universitas Liverpool menggunakan sinar X untuk mempelajari lebih banyak mengenai sang firaun muda. Mereka menemukan fragmen-fragmen tulang di dalam tengkorak Tutankhamun. Apakah lawan-lawan politiknya menggada sang firaun muda hingga tewas? Sinar X mengungkap bahwa mumi itu kekurangan tulang dada dan beberapa tulang rusuk depan. Apakah dada firaun remuk dalam suatu kecelakaan kereta perang? Tulang belakang memperlihatkan tanda-tanda scoliosis.

Hampir 40 tahun berikutnya berlalu sebelum para periset menggunakan sebuah teknologi baru atas teka-teki kesehatan dan kematian raja cilik ini. Pada Januari 2005, ilmuwan mengangkat mumi Tutankhamun dari sarkofagus dan membawanya ke sebuah trailer (rumah gandeng) yang tak jauh yang diperlengkapi dengan pemindai tomografi mobile terkomputerisasi. Mesin itu memindai jasad dalam bagian-bagian 0,62 milimeter, menghasilkan 1.700 citra tiga dimensi. Sebuah tim radiolog, patolog, dan ahli anatomi Mesir, serta tiga pakar internasional, memeriksa pindaian.

Citra-citra itu mengungkap pemuda 19 tahun yang terawat baik dengan tinggi 5 kaki 6 inchi dan bertubuh yang ramping. Dia terlihat menjalani hidup yang sehat, atau sekurangnya, terhindar dari penyakit yang bisa meninggalkan bekas pada jenazahnya. Para ahli itu memutuskan bahwa ketidaksejajaran selama pembalseman telah mengakibatkan kebengkokan tulang belakang, bukan scoliosis. Tutankhamun mempunyai langit-langit mulut yang sedikit terbelah, gigitan yang lebar, dan tengkorak yang panjang.

Pindaian itu mengungkap fragmen-fragmen tulang yang ditemukan sebelumnya oleh sinar X. Namun, para ahli berkesimpulan bahwa pembalsem atau tim Carter telah mengakibatkan kerusakan itu. Sang firaun tidak dibunuh oleh pukulan ke kepala.

Patah pada tulang paha kiri Tutankhamun mengindikasikan penyebab potensial atas kematiannya. Pindaian mengungkap lapisan tipis resin pembalseman di sekitar retakan tulang yang tidak menunjukkan tanda pengobatan. Ini mengindikasikan bahwa kaki firaun patah sebelum dia meninggal. Boleh jadi timbul infeksi fatal.

Dada yang rusak masih menghadrikan misteri. Apakah para pembalsem mengangkat tulang dada dan bagian rangka tulang rusuk depan? Pertanyaan ini masih belum terjawab.

Kutukan mumi
Pada Januari 1923, Carnarvon harus memperkecil gangguan pers terhadap pekerja penggalian, dan dia harus memperoleh tambahan dana untuk proyek mahal itu. Carnarvon memecahkan kedua masalah dengan menandatangani kontrak eksklusif dengan London Times. Reporter dari media lain marah atas monopoli Times terhadap breaking news.

Tanpa disertai fakta, jurnalis-jurnalis yang dikesampingkan antusias memberitakan bahwa, pada saat kematian Carnarvon yang terlalu cepat itu, lampu-lampu di Kairo padam, sementara di Inggris, anjing milik Carnarvon, Susie, melolong dan rebah tewas. Kutukan mumi membunuh Carnarvon, demikian informasi yang diberitakan surat kabar-surat kabar kepada pembacanya.

Para jurnalis menopang cerita kutukan itu dengan laporan tentang hieroglif ancaman. Seorang reporter menemukan sebuah kutukan tertulis pada hieroglif di pintu tempat pemujaan kedua: “Mereka yang memasuki makam suci ini akan lekas dikunjungi oleh sayap-sayap kematian.”

Di depan tempat pemujaan Anubis makam Tutankhamun, Carter menemukan sebuah lampu sumbu dengan alas lumpur kecil yang memuat hieroglif berbunyi: “Akulah yang menghalangi pasir agar tidak menyumbat kamar rahasia ini. Aku pelindung orang yang meninggal ini.” Seorang koresponden membumbui temuan Carter ini dengan menambahkan kata-kata: “dan aku akan membunuh semua yang melintasi ambang pintu menuju area suci Royal King yang hidup selamanya ini.”

6 dari 24 orang yang hadir di pembukaan makam resmi meninggal pada 1934. Tak peduli seberapa alami kenyataan tersebut, masing-masing kematian menyalakan lagi cerita-cerita tentang kutukan mumi yang mengerikan. Namun, analisis statistik mutakhir menunjukkan bahwa mereka yang hadir di pembukaan makam tidak mengalami pengurangan masa hidup.

Bacaan lebih lanjut
• Howard Carter dan A.C. Mace, The Discovery of the Tomb of Tutankhamen (New York: Dover Publications, 1977).
• Thomas Hoving, Tutankhamun: The Untold Story (New York: Simon and Schuster, 1978).
• G. Elliot Smith, Tutankhamen and the Discovery of His Tomb (London: George Routledge & Sons, Ltd., 1923).

About these ads

2 comments

  1. Jerald Brazel · · Reply

    Pneumonia is an infection of the lungs that is caused by bacteria, viruses, fungi, or parasites. It is characterized primarily by inflammation of the alveoli in the lungs or by alveoli that are filled with fluid (alveoli are microscopic sacs in the lungs that absorb oxygen). At times a very serious condition, pneumonia can make a person very sick or even cause death. Although the disease can occur in young and healthy people, it is most dangerous for older adults, babies, and people with other diseases or impaired immune systems. `

    Please do visit our internet site
    <.http://www.foodsupplementcenter.com/hyaluronic-acid-side-effects/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 30 other followers

%d bloggers like this: