Category Archives: Akselerator Partikel

Mengeksplorasi Alam Semesta Kita dan Alam Semesta Lain

Oleh: Martin Rees
(Sumber: Scientific American, Special Edition – The Once and Future Cosmos, 31 Desember 2002, hal. 82-87)

Di abad ini kosmolog akan membongkar misteri kelahiran alam semesta kita—dan barangkali juga membuktikan eksistensi alam-alam semesta lain.

Struktur skala besar alam semesta bisa disimulasikan dengan menjalankan model-model kosmologis pada superkomputer. Dalam simulasi di atas, yang dihasilkan oleh Virgo Consortium, setiap partikel merepresentasikan galaksi.

Eksplorasi kosmik merupakan pencapaian abad 20 yang menonjol. Baru pada 1920-an kita sadar bahwa Bima Sakti kita, dengan 100 miliar bintangnya, hanyalah salah satu di antara jutaan galaksi. Pengetahuan empiris kita tentang alam semesta sejak saat itu bertambah sedikit demi sedikit. Kita sekarang bisa meletakkan keseluruhan tata surya kita dalam konteks evolusi yang besar, menelusuri atom penyusunnya hingga jenak-jenak awal big bang. Seandainya kita menemukan makhluk berakal asing, satu hal yang mungkin sama-sama dimiliki oleh kita dan mereka—barangkali satu-satunya hal—adalah kepentingan bersama terhadap kosmos, yang darinya kita semua muncul. Read more…

Dimensi-dimensi Alam Semesta yang Tak Terlihat

Oleh: Nima Arkani-Hamed, Savas Dimopoulos, dan Georgi Dvali
Ilustrasi oleh: Bryan Christie Design
(Sumber: Scientific American, Special Edition – The Once and Future Cosmos, 31 Desember 2002, hal. 66-73)

Alam semesta tampak (visible universe) boleh jadi terletak pada sebuah membran yang mengapung di ruang dimensi tinggi.

Alam semesta membran di alam dimensi tinggi boleh jadi merupakan tempat kita hidup. Eksperimen-eksperimen mungkin dapat mendeteksi tanda-tanda dimensi tambahan berukuran hampir satu millimeter dalam masa dekat ini.

Cerita klasik tahun 1884 karya Edwin A. Abbott, Flatland: A Romance of Many Dimensions, melukiskan petualangan “A. Square”, karakter yang hidup di dunia dua-dimensi yang dihuni oleh sosok-sosok animasi geometris—segitiga, persegi, segilima, dan sebagainya. Menjelang akhir cerita, pada hari pertama tahun 2000, makhluk spheris dari “Spaceland” tiga-dimensi melintasi Flatland dan mengangkut A. Square keluar dari domain bidang [Flatland] untuk menunjukkan kepadanya alam dunia tiga-dimensi sejati yang lebih besar. Begitu memahami apa yang diperlihatkan oleh lingkungan tersebut, A. Square berspekulasi bahwa Spaceland sendiri mungkin eksis sebagai subruang kecil alam semesta empat-dimensi yang lebih besar lagi. Read more…

Nasib Kehidupan di Alam Semesta

Oleh: Lawrence M. Krauss dan Glenn D. Starkman
(Sumber: Scientific American, Special Edition – The Once and Future Cosmos, 31 Desember 2002, hal. 50-57)

Miliaran tahun lampau, alam semesta terlalu panas untuk eksisnya makhluk. Tak terhitung bermasa-masa dari sekarang, ia akan menjadi begitu dingin dan hampa sehingga makhluk, tak peduli betapapun cerdiknya, akan musnah.

Tonggak-tonggak di jalan menuju keabadian berawal dari big bang melewati kelahiran dan kematian bintang (deret waktu di bawah). Sementara bintang-bintang terakhir berkurang, makhluk berakal akan harus menemukan sumber energi baru, misalnya string kosmik (ilustrasi di atas). Sayangnya, proses-proses alami—contohnya terbentuknya black hole—akan mengikis konsentrasi linier energi ini, akhirnya memaksa makhluk hidup mencari makanan di tempat lain, jika mereka bisa menemukannya. Karena proses-proses pengaturan alam semesta beraksi pada skalawaktu beragam, deret waktu diberi skala logaritma. Jika alam semesta sedang mengembang pada laju mencepat, efek-efek tambahan (garis biru pada deret waktu) akan menjadikan kehidupan lebih menyengsarakan lagi.

Kehidupan abadi merupakan keyakinan inti banyak agama di dunia. Biasanya itu dipuji sebagai Valhalla spiritual, eksistensi tanpa kepedihan, kematian, kecemasan, atau kemalangan, sebuah dunia yang terlepas dari realitas fisik kita. Tapi ada jenis kehidupan abadi lain yang kita harapkan, di alam fana. Dalam kesimpulan untuk On the Origin of Species, Charles Darwin menulis: “Selama semua bentuk makhluk hidup merupakan keturunan langsung dari [makhluk] yang hidup sebelum masa Cambrian, kita boleh merasa yakin bahwa suksesi biasa melalui keturunan belum pernah terputus… Karenanya kita boleh menatap, dengan yakin, masa depan yang amat panjang dan aman.” Matahari akhirnya akan kehabisan bahan bakar hidrogennya, tapi ras manusia itu ulet. Anak cucu kita akan mencari rumah baru, menyebar ke setiap sudut alam semesta persis seperti organisme telah mengkolonisasi setiap relung potensial di bumi. Kematian dan kemalangan akan memakan korban, kepedihan dan kecemasan takkan pergi, tapi kita berharap sebagian keturunan kita akan bertahan. Read more…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.