Category Archives: Manusia Prasejarah

Konsep Monoteisme Sejak Zaman Kuno

(Sumber: www.submission.info)

Monoteisme adalah fitrah yang ditempatkan di dalam [hati] manusia oleh Allah (QS Ar-Ruum [30]: 30). Pesan agar “menyembah Allah saja” adalah universal dan didakwahkan oleh seluruh nabi Allah. Seiring waktu, praktek agama tersebut seringkali merosot hingga memasukkan unsur-unsur politeisme. Tapi jejak monoteisme awal bisa ditemukan di banyak, jika tidak semua, agama.

Agama Hindu sekarang barangkali merupakan yang paling lazim di antara agama-agama yang dianggap politeistis. Tapi sejumlah ahli sepakat bahwa prinsip-prinsip awal Hindu menganjurkan monoteisme. Dalam Hindu, Tuhan Pencipta dan Mutlak dipanggil “Brahma”. Brahma disebut “tak berwujud” atau “nirakara”, dan melebihi segala sesuatu yang bisa kita bayangkan serta tak berjenis kelamin, tak berbentuk, atau tak berfitur. Beragam dewa dan dewi karenanya merupakan sekadar penjelmaan Tuhan Yang Maha Esa. Nyatanya banyak bagian dalam kitab suci Hindu tampak mengindikasikan penyembahan Tuhan Yang Maha Esa. Dikutip dari Mantra Gayatri dalam Yajur Weda:

Mari kita bermeditasi tentang Tuhan, atribut-atribut mulia-Nya,
Yang merupakan dasar segala sesuatu di alam semesta ini sebagai Penciptanya.
Yang layak disembah sebagai entitas sadar Yang Maha Ada, Maha Kuasa, Maha Tahu
dan eksis dengan sendirinya,
Yang menghilangkan semua kebodohan dan kotoran dari pikiran
dan menyucikan dan mempertajam akal.

Read more…

Dari Monoteisme Menjadi Politeisme

Oleh: Dr. Arthur C. Custance
(Sumber: www.custance.org)

Di Masyarakat Maju
Beberapa tahun silam, Prebendary Rowe mengamati bahwa lebih masuk akal memulai dengan hal yang diketahui beserta pertimbangannya menuju hal yang tak diketahui ketimbang memulai dengan hal yang tak diketahui dengan harapan akan sanggup menjelaskan hal yang diketahui. Kita sekarang memiliki sekumpulan “hal diketahui” yang substansial, dan dalam beberapa hal, data paling terjamin akan ditemukan dalam banyak sekali literatur yang telah dilestarikan dari Tempat Lahir Peradaban, Meopotamia.

Ketika literatur tulisan paku mulai pertama kali menyingkap pesannya, ahli tulisan paku dan hieroglif Mesir segera mendapati diri mereka berhadapan dengan dahsyatnya jumlah dewa dan dewi, dan setan dan kekuatan spiritual lain yang lebih rendah, yang tampaknya selalu saling berperang dan kebanyakan amat destruktif. Namun, begitu lembaran-lembaran yang lebih purba digali dan diterangkan, dan ketrampilan dalam menguraikannya meningkat, gambaran pertama politeisme kasar mulai diganti oleh sesuatu yang lebih hampir mendekati hirarki makhluk-makhluk halus yang tersusun ke dalam semacam pengadilan dengan satu Entitas Tertinggi di atas mereka semua. Salah seorang ahli tulisan paku yang pertama kali mengakui signifikansi kecenderungan ini adalah Stephen Langdon dari Oxford, dan saat dia melaporkan kesimpulan ini dia melakukannya dengan kesadaran akan fakta bahwa dirinya tidak mungkin dipercaya. Jadi dia menulis pada 1931 [1]:

“Saya mungkin gagal meyakinkan dalam menyimpulkan bahwa dalam agama-agama Sumeria maupun Semit, monoteisme mendahului politeisme… Bukti dan alasan atas kesimpulan ini, yang begitu bertentangan dengan pandangan lazim terkini, dituliskan dengan cemas dan dengan persepsi kritik bermusuhan. Ini, saya percaya, merupakan kesimpulan pengetahuan dan bukan kesimpulan prakonsepsi nekad.”

Karena Langdon berpandangan bahwa bangsa Sumeria merepresentasikan peradaban sejarah tertua, dia menambahkan: Read more…

Monoteisme – Agama Awal Manusia

Oleh: Zenith Harris Merrill
© 1997-2002
(Sumber: www.bloomington.in.us)

Bukti ilmiah berikut, bahwa pengetahuan dan keyakinan terawal manusia kepada satu Tuhan Pencipta merupakan agama awal bumi ini, berasal dari The A.B.C. of Biblical Archeology, berkenaan dengan bukti monoteisme di zaman kuno, karangan Dr. Clifford Wilson MA, BD, MREd, PhD, mantan Direktur Australian Institute of Archeology.

Monoteisme dikenal di masa yang sangat awal. The Egyptian Book of the Dead menunjukkan bahwa bangsa Mesir mulanya meyakini satu Tuhan agung dan bukan banyak tuhan. Seiring berjalannya waktu, masing-masing atribut Tuhan sejati itu dipersonifikasikan sebagai dewa baru dan tersendiri – dan begitulah politeisme berkembang.

Pandangan tersebut didokumentasikan dengan baik oleh Egyptolog ternama, Sir Wallis Budge, dalam buku paling terkenalnya, The Book of the Dead. Berikut adalah pernyataan-pernyataan dari The Book of the Dead mengenai atribut-atribut Tuhan sejati, dipilih dari The Papyrus of Ani: “Himne untuk Amen-Ra…kepala semua dewa…Raja langit…Raja Kebenaran…pencipta manusia; pencipta makhluk…Ra, yang perkataan-Nya adalah kebenaran, Pengatur dunia, Tuhan keberanian yang kuasa, ketua yang menjadikan dunia sebagaimana Dia menjadikan diri-Nya sendiri. Wujud-Nya lebih banyak daripada wujud dewa manapun… Segala puji bagi-Mu, wahai Pencipta Dewa-dewa, yang telah membentangkan langit dan mendirikan bumi!… Raja kekekalan, pencipta keabadian…pencipta cahaya…

Dia mendengar doa orang yang tertindas, Dia baik kepadanya yang telah memohon pada-Nya, Dia membebaskan orang yang ketakutan itu dari penindas… Dia adalah Raja pengetahuan, dan Kebijaksanaan adalah ucapan mulut-Nya. Dia menjadikan tanaman hijau [sehingga] ternak hidup, dan [menjadikan] bahan pokok kehidupan [sehingga] manusia hidup. Dia menjadikan ikan hidup di sungai-sungai, dan [menjadikan] burung di langit. Dia memberi kehidupan kepada mereka yang berada dalam telur… Segala penghormatan bagi-Mu, wahai Engkau pencipta semua ini, Engkau SATU-SATUNYA. Dalam kekuasaan-Nya, Dia mengambil banyak wujud.” Read more…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.