Oleh: Dr. Bert Thurlings
6 Maret 2009
(Sumber: www.ancientmysteries.eu)

Artikel ini menggambarkan isi buku (berbahasa Belanda) “Verborgen Geheimen van de Mensheid” (“Hidden Secrets of Mankind” Bagian 1 dan 2, karya Dr. Bert Thurlings, 2006, ISBN 90-5911-7735). Bahasa Inggris: Marc Cossette, 2009.

Dalam tur ini, kita mengikuti jejak misteri kuno, yang telah saya ikuti pula, dan telah saya uraikan dalam satu set buku (terdiri dari dua bagian) (berbahasa Belanda), “Verborgen Geheimen van de Mensheid” / “Hidden Secrets of Mankind”. Pertanyaan saya bermula saat saya menonton sebuah film dokumenter TV mengenai usia Great Pyramid di Gizeh, Mesir. Film itu memperlihatkan dua penulis border science, Graham Hancock dan Robert Bauval, yang mengklaim mereka telah menemukan bukti bahwa keajaiban dunia tersebut telah dibangun pada 10.500 SM. Sang pengupas, John Anthony, menambahkan bahwa Sphinx sekurangnya berusia 8.000 tahun. Karena ingin tahu lebih banyak tentang ini, saya mulai membaca semua hal terkait topik ini hingga saya bisa tahu. Dari satu hal ke hal lainnya, membawa saya menjadi tahu tentang “misteri vas batu Mesir”, yang sampai sekarang masih belum terusut. Ribuan vas, terbuat dari material batu paling keras dan berumur ribuan tahun. Dan beberapa dari mereka masih belum bisa disalin/ditiru hingga hari ini. Tapi di mana mereka sekarang?

Ada argumen-argumen kuat yang kurang lebih mengatakan bahwa Great Pyramid – tersusun oleh lebih dari 2 juta balok berukuran rata-rata satu meter kubik – dan Sphinx dibangun ribuan tahun SM.
Ada argumen-argumen kuat yang kurang lebih mengatakan bahwa Great Pyramid – tersusun oleh lebih dari 2 juta balok berukuran rata-rata satu meter kubik – dan Sphinx dibangun ribuan tahun SM.

Dalam penyelidikan, saya mengetahui bahwa di Yunani juga ada piramida, jadi saya melintasi laut Mediterania dan pergi ke sana. Setelah berkeliling, saya menemukan Hellenikon, piramida paling utuh – berbentuk tajam, aneh, dan kecil dan diduga lebih tua dari piramida-piramida Mesir. Pesan apa yang kita dapatkan di sini? Siapa yang merasa perlu membangun piramida di sini? Saya menginvestigasi lebih jauh, dan sewaktu saya mengunjungi sanctuary tua seperti Mycene, Assini, Tyrins, dan Epidaurus, menjadi teranglah semuanya: di masa lampau, “insinyur-insinyur purba” bekerja di sini, dan mereka punya peralatan yang sangat canggih: Bukti dari hal ini bisa dilihat di mana-mana di Peloponessus.

Kita kurang tahu bahwa di Yunani juga ada piramida. Walaupun jauh lebih kecil dari yang terdapat di Mesir, tapi mungkin lebih tua.
Kita kurang tahu bahwa di Yunani juga ada piramida. Walaupun jauh lebih kecil dari yang terdapat di Mesir, tapi mungkin lebih tua.

Tak henti-hentinya kebingungan, saya berpapasan dengan misteri lain: tempat-tempat suci ini terletak pada jarak geometris tertentu satu sama lain, persis seperti ley-lines (garis lurus yang terhubung dengan situs-situs kuno, oleh beberapa orang diasosiasikan dengan garis energi—penj) di Inggris Raya: lingkaran, segitiga sama sisi, garis lurus, Golden Section. Ini membawa saya pada studi mempesona, dengan hasil mengejutkan. Tapi setelah perjalanan tak disengaja ini, saya melanjutkan penyelidikan saya terhadap vas-vas batu misterius tadi dan secara tak terduga berpapasan dengan riset Prancis yang telah memeriksa kemungkinan bahwa granit dan batu keras lainnya di masa kuno tidak dibelah, melainkan dituangkan seperti yang kita lakukan sekarang pada beton. Piramida-piramida pada saat itu pasti dibangun dengan cara yang sama sekali berbeda dari yang diceritakan para sejarawan tradisional.

Masih ada studi lain yang menjadi terang, yang memberi informasi menarik berkenaan dengan misteri vas-vas batu itu. Contoh, bahwasanya di Mesir sama sekali tidak ada penggalian yang bisa dikaitkan dengan vas-vas yang ditemukan di sana. Bayangkan: ribuan tahun Sebelum Masehi, mustahil teknik fabrikasi/pembuatan dan teknik penggalian tidak diketahui! Ini mengindikasikan apa? Saatnya untuk memeriksa hal-hal tersebut dari dekat, jadi saya bepergian ke museum-museum besar London dan Paris. Anda akan melihat sesuatu yang mengejutkan: objek-objek batu keras yang masih belum bisa disalin/ditiru hingga hari ini, berasal dari 3.600 SM! Di samping mereka, semua emas Tutankhamun sangat mudah disalin. Sains kebingungan! Sudah sepantasnya demikian, karena bukti menunjuk pada kehadiran insinyur-insinyur cerdas yang memiliki peralatan yang sangat canggih – tapi ini bisa saja keliru, bukan? National Museum of Antiquities di Leiden, juga memiliki “objek-objek mustahil”, tapi tidak berani mengangkatnya menjadi pusat perhatian publik.

Nah saya mulai “menyukai rasanya” dan ingin melihat sendiri piramida-piramida aneh itu. Setelah pertama mengunjungi ‘bunker atom purba’ Menga di Spanyol, saya mengadakan perjalanan ke Kairo, yang menghasilkan satu baris lengkap pandangan baru. Contohnya bahwa di masa lampau, bassalt (basal/batu vulkanis) dijahit. Saya melukiskan tur ini sebagai “Magical Mystery Tour” karena banyaknya hal aneh yang bisa dilihat dari dekat jika Anda tertarik, dan memanfaatkan waktu. Berdiri di depan Great Pyramid, seseorang mencoba membayangkan bagaimana rasanya bagi firaun Cheops menjadi orang yang meletakkan batu pertama untuk bangunan raksasa ini. Setelah balok pertama tersebut, disusul oleh 2 juta lainnya, masing-masing kira-kira satu meter kubik. Tapi apakah benar Cheops yang meletakkan batu pertama, seperti kita pelajari dalam buku-buku sejarah?

Objek batu keras dari zaman kuno ini menantang sains: pemakaian peralatan sangat maju atau seseorang yang mampu membuat batu keras. Kedua opsi ini dianggap absurd oleh sains...
Objek batu keras dari zaman kuno ini menantang sains: pemakaian peralatan sangat maju atau seseorang yang mampu membuat batu keras. Kedua opsi ini dianggap absurd oleh sains…

Menjawab pertanyaan tersebut membawa saya menuju safe-deposit box (peti penyimpanan barang berharga) milik sebuah universitas, untuk menyelidiki sebuah buku harian yang berusia hampir 200 tahun. Kesimpulan yang dengan terpaksa saya ambil cukup membingungkan! Cheops tidak punya urusan apapun dengan Great Pyramid! Tapi di samping kebingungan, saya merenung mengapa sama sekali tidak ada ilmuwan yang melakukan seperti apa yang saya lakukan di sini? Apakah takut akan implikasinya? Pasti begitu. Meskipun demikian, jika kita memeriksa, kita sebenarnya mengetahui usia Great Pyramid. Menjawab pertanyaan ini membawa kita pada metode-C14, dan apa yang kita peroleh dari situ, Anda takkan percaya: piramida-piramida tersebut memiliki usia yang tidak kongruen dengan kronologi (urutan waktu/peristiwa) Mesir. Apakah seluruh Egyptology (ilmu tentang Mesir) runtuh?

Ini adalah bekas pemotongan oleh gergaji, terdapat di salah satu batu di dataran tinggi basal di sisi timur Great Pyramid. Namun basal adalah material yang sangat keras, jadi bagaimana ini dilakukan?
Ini adalah bekas pemotongan oleh gergaji, terdapat di salah satu batu di dataran tinggi basal di sisi timur Great Pyramid. Namun basal adalah material yang sangat keras, jadi bagaimana ini dilakukan?

Apakah sains khawatir dengan kesimpulan tak terbantahkan bahwa para firaun tidak berurusan dengan piramida-piramida itu? Dan seolah tak cukup, serangan merusak lainnya terhadap sejarah tradisional datang dari sudut yang sama sekali berbeda: uji toksikologi yang dilakukan oleh museum per-Mesir-an di Munich terhadap mumi-mumi Mesir dengan menggunakan metode yang sangat canggih, tak henti-hentinya menunjukkan bahwa di Mesir kuno, tembakau dan kokain dikonsumsi. Kedua zat tersebut hanya ditemukan di hadapan Columbus di Amerika Selatan. Kontak Transatlantik? Sains tidak mau mengakui, tapi bukti kerasnya ada!

Anda mulai merasa bahwa pengetahuan kita tentang masa lampau membingungkan. Bahwa kita dipaksa mempercayai sesuatu yang tidak akurat. Dan karena itu saya mencari tahu apa yang dikatakan oleh para sejarawan masa lampau. Saya beralih ke sosok-sosok historis, seperti Herodotus (+/-450 SM), Berossos (+/-270 SM), Manetho (+/-200 SM), dan Josephus (+/-70 SM), mencari sumber paling otentik. Yaitu ketika segalanya benar-benar ganjil. Begitu ganjilnya sehingga beberapa sejarawan masa lampau tersebut menghadapi kesulitan besar untuk menjelaskan apa yang sedang mereka pelajari, tanpa disensor: ‘insinyur-insinyur purba’ terbukti merupakan makhluk terbang yang telah menciptakan manusia untuk kesenangan mereka sendiri, dan bisa mencapai umur panjang, dalam banyak kasus hingga ribuan tahun.

“Mengapa Anda tidak pernah membaca hal ini?”, apa yang Anda herankan, karena telah jelas: sebelum zaman modern, yang dimulai sekitar empat ribu tahun lalu, aplikasi teknis yang tiada taranya telah diterapkan, yang hingga kini masih dapat kita kagumi, tapi untuk itu diperlukan kecerdasan teknis yang lebih maju dari apa yang telah kita capai, bahkan pencapaian kita sekarang. Lantas siapa ‘insinyur-insiyur purba’ itu? Apakah mereka juga bekerja di tempat lain di bumi? Inilah pertanyaan berikutnya yang harus dijawab.

Dalam buku kedua saya, “Who helped man?”, saya mencoba menjawab pertanyaan ini dan pergi mencari di wilayah-wilayah lain di bumi, terutama Amerika Selatan, di mana karya bangunan rumit seperti itu berdiri, yang asal-usulnya belum diketahui. Tapi lebih dekat ke kampung halaman, kita juga bisa menemukan bangunan-bangunan misterius: Malta punya banyak. Dua pulau kecil, terletak strategis di antara Sisilia dan Afrika, di mana jauh di masa lampau, sebelum bangsa Mesir aktif, kedua pulau ini sepertinya sudah sangat padat penduduk: kuil-kuil mistik dibangun dengan blok batu gamping raksasa. Dan yang lebih misterius adalah kuil bawah tanah Hypogeum Hall Saflieni yang dibangun ke bawah: tiga tingkat dibelah ke dalam dengan bentuk yang sama seperti kuil-kuil di atas tanah. Orang idiot mana yang bekerja di sini, pada 4.000 SM?

Malta memiliki banyak bangunan misterius dari masa lampau. Tak ada yang tahu siapa yang membangunnya, atau apa kegunaan ‘kuil-kuil’ itu – demikian mereka dinamakan. Yang paling ganjil adalah kuil bawah tanah Hypogeum Hal Saflieni. Ini dibangun ‘in negative’ dan menyerupai kuil di atas tanah.
Malta memiliki banyak bangunan misterius dari masa lampau. Tak ada yang tahu siapa yang membangunnya, atau apa kegunaan ‘kuil-kuil’ itu – demikian mereka dinamakan. Yang paling ganjil adalah kuil bawah tanah Hypogeum Hal Saflieni. Ini dibangun ‘in negative’ dan menyerupai kuil di atas tanah.

Antara Eropa dan Amerika Selatan, di lautan Atlantik, terbentang sebuah area di mana, menurut cerita rinci Plato, dahulu merupakan Atlantis. Konon area itu adalah pulau besar dengan jutaan penduduk, karena diyakini mampu menopang satu juta bala tentara. Pulau tersebut menghilang tiba-tiba. Menurut Plato, hanya dalam sehari semalam, pulau itu telah sepenuhnya tenggelam ke dalam lautan. “Mustahil!” kata sains, karena tak ada sesuatu di dasar laut yang terlihat seperti [pulau] itu. Dan Plato memperinci kapan ini terjadi, yaitu – setelah dikonversi – pada 7.910 SM. Bencana sebesar itu pasti tidak akan luput dari perhatian penduduk dunia, dan karena itu kita pasti menemukan penyebutan peristiwa ini dalam mitologi bangsa-bangsa lain. Dan itu terbukti demikian, dimulai dengan kitab suci.

Kala kita membaca dokumen ini, kita jatuh dari satu keterkejutan ke keterkejutan berikutnya. Dewa yang dilihat sebagai Pencipta, nampaknya tidak sendirian, melainkan memiliki banyak anak di sekelilingnya. Manusia sepertinya sepenuhnya berada di bawah kehendak keluarga dewa ini, dan jika Anda membaca secara teliti, bahkan ada indikasi kuat mengenai rekayasa genetik: usia maksimum, dan usia kesuburan disesuaikan dengan momen-momen tertentu untuk menjaga pertambahan populasi di bawah kendali. Seseorang pasti terpesona jika menyadari apa artinya ini. Dewa-dewa yang terbang berkeliling yang saling membagi kekuasan di bumi…dan memutuskan untuk memusnahkan manusia dengan mengirim banjir besar.

Tapi kitab suci tidaklah unik dalam hal ini. Gurun-gurun pasir Irak telah membuka rahasia, sekitar seabad lalu, misteri-misteri kuno sejati: ribuan lembaran dari tanah liat terkuak dan menceritakan satu kisah yang serupa, tentang sebuah keluarga dewa yang menguasai bumi, yang menciptakan manusia untuk kesenangan mereka sendiri, tapi kemudian terjadi permasalahan ledakan populasi sehingga diputuskan untuk menuangkan, di sini juga, banjir besar. Dewa-dewa ini tidak akur, dan saling bertarung dengan senjata-senjata yang sangat canggih (gambarannya menyerupai senjata nuklir), tapi mereka sangat menyesal setelah banjir besar yang mereka kirimkan, kala melihat banyak sekali mayat bergelimpangan di tepi-tepi sungai. Setelah itu, mereka kembali bermurah hati kepada manusia.

Realisme kisah-kisah kuno dari Sumeria ini membuat seseorang tercengang. Bahkan ilmuwan yang pertama kali menerjemahkan teks-teks tua ini dari bentuk tulisan paku, tak percaya atas apa yang dilihatnya: makhluk-makhluk berdaging dan berdarah yang melakukan semua jenis kelakuan manusia, tapi superior dan memiliki senjata dan kendaraan canggih yang dengannya mereka bisa memindahkan diri dengan sangat cepat menuju jarak yang sangat jauh. “Ada apa ini?”, “Apakah kita memiliki gambaran yang benar mengenai masa lampau?”, “Apakah masih ada sesuatu yang akan ditemukan yang bisa menjadi saksi atas kekuatan merusak dari senjata-senjata canggih itu?”

Saya tidak perlu mencari terlalu jauh. Tak jauh, di Skotlandia, kita menemukan bukti yang diperlukan itu. Di sini, terdapat lusinan bangunan rusak yang, karena tak ada istilah lain yang lebih baik, kita sebut benteng. Sebagian besar dari reruntuhan itu sekarang telah ditumbuhi rumput liar dan hampir tidak bisa dikenali, tapi beberapa masih bisa diakses dengan baik. Bagaimanapun, dinding-dinding roboh itu menceritakan satu kisah luar biasa: batu-batu itu meleleh karena pengaruh api internal, terkacakan (vitrified) dan lengket (sintered). Tapi temperatur yang diperlukan untuk ini, hanya bisa dicapai dalam oven khusus, bukan di udara terbuka.

Di Skotlandia, Irlandia, dan Britania, terdapat bangunan-bangunan yang telah roboh sebagai akibat dari padang rumput yang ekstrim. Batunya telah mengkaca dan lengket.
Di Skotlandia, Irlandia, dan Britania, terdapat bangunan-bangunan yang telah roboh sebagai akibat dari padang rumput yang ekstrim. Batunya telah mengkaca dan lengket.

Seseorang hanya perlu memperhatikan apa yang dikatakan mitologi kuno mengenai peristiwa semacam itu, dan sudah jelas: di sini juga, dewa-dewa yang terbang berkeliling saling bertarung dengan api dan pedang, dan memancarkan panas pada benteng milik satu sama lain pada jarak yang sangat jauh. Percaya atau tidak, tapi mitologi cukup jelas menceritakan hal ini, dan benteng yang terkacakan itu bisa dikunjungi oleh semua orang, sungguhpun arkeologi tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Ngomong-ngomong, ada banyak bangunan terkacakan di dunia, contohnya Borsippa di Irak. Lebih jauh tentang ini dibahas dalam buku kedua saya.

Pada masa lampau terjadi hal-hal ganjil, yang mungkin pada saat ini sudah jernih. Tapi jika Anda masuk lebih jauh ke dalam misteri-misteri ini, Anda juga akan menemukan bangunan-bangunan yang terdapat di bawah air, seperti contohnya Gravinish di Prancis. Ini memicu penyelidikan iklim di masa lampau, karena bukankah dahulu permukaan laut lebih rendah dari sekarang, sebab air laut terkunci dalam kantong-kantong es selama zaman es? Tapi, kalau begitu, apakah bangunan bawah air tersebut dibangun pada zaman es? Seberapa cepat permukaan laut naik setelah zaman es? Jika Anda hendak mempelajari ini, Anda harus berhadapan dengan pengeboran es di kantong-kantong es kutub, mempelajari CO2, pergeseran kerak bumi, tubrukan super komet, tsunami dan kebakaran di seluruh dunia.

Masa lampau sepertinya dirundung bencana-bencana, dan baru lima ribu tahun terakhir dunia mengalami ketenangan – tepatnya masa ketika manusia mulai memanifestasikan diri. Jika Anda memperhatikan hasil-hasil riset modern, maka kelihatannya bencana seperti yang terjadi pada Atlantis adalah mungkin, dan bahkan, waktu peristiwanya bisa ditentukan secara tepat. Selain itu, Banjir Besar, yang terdapat tidak hanya dalam Bibel, tapi juga dalam banyak cerita rakyat di seluruh dunia, bisa ditentukan waktu peristiwanya. Saya tidak menyangka akan mendapat hasil semacam ini sewaktu memulai pencarian.

Jika ada area tertentu di bumi di mana bencana-bencana bergantian menghantam, maka itu adalah Amerika Selatan. Pantai baratnya adalah area vulkanis yang panjang, karena, seperti kita tahu sekarang, lempeng Nasca di Samudera Pasifik bergerak di bawah lempeng kontinental Amerika Selatan. Dan terutama di area yang terus bergerak ini, kita menemukan karya-karya bangunan paling mengagumkan, dibangun dengan batu-batu raksasa yang pas satu sama lain. Seolah-olah merupakan lempung cetakan. Sacsayhuaman, Ollantaytambo, Tambomachay, dan banyak lainnya: bangunan-bangunan paling mustahil tersebut telah diletakkan di sini, dengan ketrampilan dan presisi yang tak mampu kita tandingi bahkan sampai sekarang, kendati kita punya peralatan canggih. Pemeriksaan lebih dekat menunjukkan bahwa ada keserupaan dengan teknik konstruksi megalitikum di Mesir dan Yunani, yang 12.000 km jauhnya, dan terpaut 4.000 tahun. Bagaimana mungkin?

Di Tiahuanaco dan Puma Penke, Bolivia, bentuk-bentuk terpotong tajam ditemukan pada batu yang sangat keras. Kita hanya bisa menerka-nerka siapa ‘insinyur-insinyur purba’ yang membuat ini.
Di Tiahuanaco dan Puma Penke, Bolivia, bentuk-bentuk terpotong tajam ditemukan pada batu yang sangat keras. Kita hanya bisa menerka-nerka siapa ‘insinyur-insinyur purba’ yang membuat ini.

Keadaan semakin ganjil jika kita mengunjungi Tiahuanaco dan Puma Punke di Bolivia, dekat danau Titicaca, satu jam perjalanan dari Paz. Batu-batu keras yang dipotong tajam yang kami temukan di sana tak mungkin dibuat tanpa menggunakan peralatan yang sangat canggih. Arkeologi ingin kita percaya bahwa puing-puing ini berusia tak lebih dari dua ribu tahun, tapi kalkulasi orientasi astronomis situs tersebut menceritakan kisah lain: Tiahuanaco kemudian terbukti berusia 17.000 tahun. Tentu saja hasil kalkulasi ini terlalu menggoncangkan untuk bisa sampai pada buku-buku sejarah. Tapi faktanya ada.

Jadi di sinilah Tur ini berakhir, tentunya dengan lebih banyak pertanyaan dibanding jawaban.

Tentang penulis: Bert Thurlings adalah seorang insinyur listrik Belanda yang sangat tertarik dalam studi misteri kuno dari sudut pandang teknologi.

Cover illustration: Great Pyramid of Giza — Digital Vision/Getty Images

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s