12 Februari 2002
(Sumber: www.pravdareport.com)

Setelah Perang Dunia II, para ilmuwan mulai memberikan perhatian pada wacana mengenai dugaan pernah adanya peradaban di Antartika. Hipotesis ini diperkuat oleh peta abad pertengahan dan penelitian para ahli paleogeologi (ilmu yang mempelajari geologi masa lampau—penj) dan glasiologi (ilmu yang mempelajari sungai es—penj).

Pada Januari 1820, Mikhail Lazarev (letnan Armada Kekaisaran Rusia) menemukan benua baru. Di awal abad 20, seorang ensiklopedi Rusia, sambil mengemukakan benua seperti persegi di kutub selatan, melaporkan bahwa benua itu belum cukup diselidiki serta tak ada flora maupun fauna di sana. Pengarang artikel tersebut juga mengulas perairan Antartika yang kaya akan algae (ganggang) dan binatang laut.

Selama hampir 20 tahun, direktur Istanbul National Museum, Khalil Edkhem, menyortir dokumen-dokumen perpustakaan kaisar Byzantium di istana sultan masa lampau. Ia menemukan sebuah peta kuno yang terbuat dari kulit rusa. Dalam peta tersebut, tergambar daratan Afrika Selatan dan Barat serta daratan utara Antartika. Khalil tidak percaya dengan yang ia lihat: daratan Queen Mod Land, hingga ke selatan dari paralel (garis lintang sejajar) 70, tidak tertutup es. Seorang kartografer (pembuat peta) masa lampau menandai adanya rangkaian pegunungan di sana. Nama kartografer tersebut adalah: laksamana armada Kekaisaran Utsmani, Piri Reis, yang hidup pada paruh pertama abad 16.

Keaslian peta tersebut tidak diragukan. Beberapa pengujian grafologi (tulisan tangan—penj) terhadap catatan pinggir di peta tersebut memperkuat bahwa itu memang milik sang laksamana.

Di tahun 1949, ekspedisi gabungan Inggris dan Swedia mengadakan penyelidikan seismik secara intensif terhadap benua Kutub Selatan melalui kantong es (icecap). Menurut komandan skuadron investigasi teknis 8 US Armed Force Strategic Command, kolonel Harold Olmayer, 6 Juli 1960, “Detail geografis daratan bagian bawah dalam peta tersebut (daratan Antartika) cocok dengan hasil penyelidikan seismik. Kita tidak bisa mengkorelasikan data-data ini dengan level ilmu geografi di tahun 1513.”

Dalam catatan pinggirnya di peta itu, dibuat pada awal abad 16, Piri Reis menjelaskan bahwa dirinya tak bertanggung jawab atas pemetaan tersebut dan bahwa peta itu dibuat berdasarkan pada beberapa sumber sebelumnya. Beberapa “sumber sebelumnya” ini berasal dari tokoh-tokoh sezaman Reis (contoh Christopher Columbus), sedangkan sumber lainnya mungkin bertanggalkan 4 abad sebelum masehi. Tidak terlalu jauh, karena salah satu sumber ini berasal dari Alexander of Macedonia, yang hidup di abad tersebut.

Tentu saja, para sejarawan profesional dengan spesialisasi sejarah kuno dapat mengatakan, “Ini adalah satu-satunya cara agar hipotesis tersebut dapat diakui. Dan bagaimana dengan dokumentasi, serta, yang sangat kita harapkan, sumber-sumber terpercaya? Pendapat laksamana Turki, pada catatan pinggirnya …anda tahu, itu masih dapat menimbulkan perselisihan!”

Oleh karena itu, saya ingin mengemukakan posisi seorang sejarawan di masa kita, profesor Keene College, New Hampshire, AS, Charles H. Hapgood. Pada akhir tahun 1959, di Washington Congress Library ia menemukan sebuah peta yang digambar oleh Orontheus Phynius tahun 1531. Orontheus Phynius menggambarkan Antartika dengan gunung dan sungai, yang, menurut Hapgood, bisa berarti bahwa pernah terdapat kantong es di area tersebut.

Pada awal 1960-an, peta Phynius tersebut dipelajari oleh seorang doktor dari Massachusetts Technology Institute, Richard Stratchen, bersama dengan Hapgood. Kedua ilmuwan ini menyimpulkan bahwa Phynius benar-benar menggambarkan daratan Antartika tidak tertutup es. Kontur daratan dan karakteristik relief sangat mirip dengan informasi tentang permukaan benua yang tertutup es, yang dipetakan tahun 1958 oleh para ahli dari berbagai negara. Mengenai hal ini, Gerard Cremer, dikenal sebagai Mercator, juga mempercayai keterangan Phynius. Ia memasukkan peta Phynius dalam atlasnya, dimana terdapat beberapa peta Antartika gambaran Mercator sendiri. Ada satu hal menarik: dalam peta Mercator buatan tahun 1569, daratan barat Amerika Selatan digambarkan secara tidak akurat, dibanding dalam peta Mercator sebelumnya, tahun 1538. Alasan dari kontradiksi ini adalah: saat mengerjakan peta 1538, para kartografer abad 16 merujuk pada sumber-sumber kuno yang tidak kita temukan sekarang, sedangkan saat mengerjakan peta 1569 Mercator merujuk pada observasi peneliti Spanyol pertama terhadap Amerika Selatan. Kekeliruan Gerald Mercator dapat dimaklumi. Pada abad 16, tak ada metode akurat untuk mengukur garis bujur: biasanya, tingkat galatnya bisa mencapai ratusan kilometer!

Hingga pada akhirnya, muncul Philippe Boiche, anggota tetap French Academy of Science. Pada tahun 1737, ia mempublikasikan peta Antartika gambarannya. Boiche menghadirkan gambar Antartika yang tidak tertutup es. Dalam petanya, topografi benua yang tertutup es diperkenalkan sejak peradaban kita dimulai (diduga lahir kurang dari 4 milenium sebelum masehi lalu) hingga tahun 1958. Selain itu, berdasarkan sumber-sumber yang saat ini sudah tidak ada, ilmuwan Prancis tersebut menggambar perairan di tengah-tengah benua Kutub Selatan dan membelahnya menjadi dua benua, perairan tersebut mencapai barat dan timur, yang sekarang ditandai sebagai Pegunungan Trans-Antarctic. Berdasarkan penelitian dalam kerangka kerja International Geophysical Year (1958), Antartika yang digambarkan sebagai satu benua dalam peta up-to-date kenyataannya adalah rangkaian (archipelago) pulau-pulau besar yang tertutup es sepanjang 1,5 kilometer.

Kesimpulan

  1. Peta abad pertengahan menunjukkan Antartika tanpa kantong es atau sebagian tertutup es. Keakuratan perkiraan para kartografer abad 16 sangat tinggi dan bahkan mengejutkan untuk beberapa posisi. Data mereka bahkan melampaui kemampuan teknis akhir Abad Pertengahan (contohnya, penetapan garis bujur relief modern hingga sampai satu menit). Tingkat keahlian teknis ini hanya dicapai oleh manusia akhir abad 18, dan bahkan manusia abad 20.
  2. Para ilmuwan tak bisa berpendapat mengenai level saintifik yang sangat tinggi dalam pembuatan peta di abad pertengahan. Informasi tentang adanya sumber pertama yang hampir berusia 2000 tahun diduga bukan rumor belaka. Sedangkan posisi kartografer masa kini berdasarkan perkiraan saintifik dalam bidang sejarah alam dianggap tidak kompeten.
  3. Geologi ortodoks setuju dengan beberapa pertanyaan, sambil menyatakan bahwa kantong es di Antartika diperkirakan berusia 25 juta tahun. Namun belakangan perkiraan ini diturunkan menjadi 6 juta tahun. Meskipun perubahan seperti itu sudah menjadi kebiasaan akademis.

Karena itu, kita harus memperhatikan ciri peta Reis berikut: daratan benua tidak tertutup es. Dalam peta Phynius, dibuat 18 tahun setelah peta Reis, terdapat kantong es di sekitar Kutub Selatan dalam batas paralel (garis lintang sejajar—penj) 80 dan 75. 200 tahun kemudian, Boiche menggambarkan Antartika tanpa gletser (sungai es).

Kesimpulannya jelas: kita melihat adanya proses glaciation (pembentukan gletser—penj) di benua selatan.

Pada tahun 1949, ekspedisi laksamana Baird mengadakan pengeboran Ross Sea di tiga titik, yang ditandai sebagai dasar sungai (river-bed) oleh Orontheus Phynius. Dalam galian ditemukan lapisan butir padi halus, jelas dibawa ke laut melalui sungai, yang sumbernya terletak di garis lintang beriklim sedang (yakni bebas dari gletser).

Sambil menggunakan metode penanggalan nuklir doktor U. Oury dari Karnegy Institute, Washington, para ilmuwan menemukan secara pasti bahwa sungai-sungai di Antartika—yang merupakan sumber endapan yang tersebar halus—mengalir, sekitar 6.000 tahun lalu, seperti ditunjukkan dalam peta Phynius. Pada sekitar 4.000 tahun sebelum masehi, endapan gletser mulai menumpuk di dasar Ross Sea. Bijian-bijian menunjukkan bahwa sebelumnya terdapat periode iklim hangat yang panjang.

Jadi, peta Reis, Phynius, Mercator, memperkenalkan Antartika pada masa tersebut, ketika peradaban Mesir dan Sumeria kuno baru lahir. Perspektif ini diabaikan oleh hampir semua sejarawan profesional dan mungkin dianggap sebagai hipotesis yang tak bisa dibuktikan. Setiap sejarawan akan mengatakan bahwa tak ada peradaban sejenis itu di akhir milenium 5 sebelum masehi. Sementara menurut doktor Jacob Hock dari Illinois University, endapan yang masih dipertanyakan tersebut mungkin berusia 6 hingga 12 ribu tahun. Karena itu, pertanyaan ini seharusnya dipertimbangkan oleh para ahli paleontologi yang saat ini aktivitasnya keluar dari kerangka ilmu sejarah.

Pada September 1991, para arkeolog AS dan Mesir menemukan 12 perahu besar milik Firaun Dinasti Pertama di titik 13 km dari Sungai Nil, di Abidos. Usia perahu-perahu tersebut sekitar 5.000 tahun. Pimpinan ekspedisi penelitian ini, D. O’Connor dari Pennsylvania University, mengatakan bahwa perahu itu diduga merupakan kapal paling kuno di dunia. Sejauh ini, perahu tersebut diperkirakan digunakan untuk ritual agama.

Menurut Herodotus, orang Mesir kuno telah mengamati bintang selama lebih dari 10.000 tahun. Pernyataan “bapak sejarah” ini diduga bersifat esoterik dan, karena itu, tidak benar. Meskipun, bangsa daratan jarang melahirkan astronom. Fakta bahwa orang Mesir kuno tertarik pada astronomi mungkin mencerminkan bahwa mereka mewarisi pengetahuan dari peradaban navigator tak dikenal.

Mengenai hal ini, para pegawai intelijen teknis AS menetapkan projection centre dalam peta Piri Reis yang datanya berasal dari 4.000 tahun sebelum masehi. Projection centre tersebut diduga terletak dekat Kairo masa kini. Pada masa Reis, menurut sebagian besar sejarah, semua bangsa berada pada level perkembangan yang rendah.

Kesimpulan Lebih Lanjut

  1. Antara milenium 5 dan 10 sebelum masehi, terdapat peradaban di Bumi yang memiliki pengetahuan hebat dalam bidang navigasi, kartografi (pembuatan peta), dan astronomi, yang tidak lebih rendah dari pengetahuan di abad 18.
  2. Peradaban ini melampaui peradaban kita dan itu bukan extraterrestrial (ET sering diasosiasikan sebagai alien atau makhluk luar bumi—penj). Usia peradaban ini mungkin beberapa ribu tahun, sementara letaknya mungkin ada di daratan utara benua paling selatan, atau archipelago – Antartika, di mana di sana dulunya beriklim sedang. Kemudian, peradaban ini mungkin pindah ke pantai utara Afrika.

Penyebab kepunahan peradaban tersebut adalah pembentukan gletser Antartika – proses yang dimulai pada milenium 10 sebelum masehi. Tak bisa diabaikan bahwa terdapat pula banjir skala besar, yang terus-menerus dan menyebabkan air bah lokal dalam waktu lama (ini ditegaskan oleh para arkeolog). Bencana ini mungkin menghancurkan sebagian besar materi kebudayaan peradaban tersebut. Sedangkan beberapa kepingannya mungkin dapat ditemukan di bawah ketebalan es di masa mendatang. Meskipun bisa diasumsikan para penyintas Antartika menjaga dan menyerahkan beberapa pengetahuan kepada orang-orang Mesir kuno, dan mungkin kepada orang Sumeria kuno.

Dengan demikian, setelah beberapa perluasan penyelidikan arkelog yang pada akhirnya mencapai Antartika, manusia mungkin akan terkejut atas hasilnya.

Cover illustration: Edge of the Ross Ice Shelf — NASA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s