Atlantis – Dunia Purba (Bab I – Subbab I)

Oleh: Ignatius Donnelly
(Sumber: “ATLANTIS – The Antediluvian World”, New York: Harper & Brothers, 1882)

Dunia telah mencapai banyak kemajuan seperti komet
Akhir-akhir ini, kepada sains kita barangkali hampir berharap,
sebelum kita mati membusuk, untuk mengetahui
sesuatu tentang masa awal kita; ketika pernah hidup
ras bermata lebar, terdahulu, dan hebat, yang telah punah
yang pengetahuannya, seperti bebatuan penopang lautan,
telah membentuk dasar kisah jatuh-bangunnya dunia ini

(FESTUS)

Gambar muka: profil Atlantis

Bab I. Sejarah Atlantis – Subbab I. Tujuan Penulisan Buku
Buku ini adalah sebuah upaya untuk memperlihatkan beberapa proposisi (dalil) yang nyata dan roman. Yaitu:

1. Bahwa dahulu pernah eksis di Samudera Atlantik, yang berhadapan dengan mulut Laut Mediterania, sebuah pulau besar yang merupakan sisa benua Atlantik dan di zaman kuno dikenal sebagai Atlantis.

2. Bahwa deskripsi Plato mengenai pulau ini bukanlah, sebagaimana telah lama diprasangkakan, dongeng, tetapi benar-benar merupakan sejarah.

3. Bahwa Atlantis merupakan daerah di mana manusia untuk pertama kalinya naik dari barbarisme menuju keberadaban.

4. Bahwa Atlantis, dalam perjalanan zaman, menjadi sebuah bangsa yang sangat kuat dan berpenduduk padat, yang dari luapan (penghuni)nya pantai-pantai Teluk Meksiko, Sungai Mississippi, Amazon, pantai pasifik Amerika Selatan, Mediterania, pantai barat Eropa dan Afrika, Baltik, Laut Hitam, dan Kaspia, ditinggali oleh bangsa-bangsa beradab.

5. Bahwa Atlantis adalah Antediluvian World sungguhan; Garden of Eden, Gardens of Hesperides, Elysian Fields, Gardens of Alcinous, Mesomphalos, Olympos, dan Asgard dari tradisi bangsa-bangsa kuno melambangkan satu ingatan universal mengenai sebuah tanah mulia, yang ditinggali manusia selama berabad-abad dalam damai dan bahagia.

6. Bahwa dewa-dewa dan dewi-dewi Yunani kuno, Phoenician, Hindu, dan Skandinavia sebenarnya merupakan raja, ratu, dan pahlawan Atlantis; dan gambaran yang diatributkan kepada mereka dalam mitologi merupakan peringatan peristiwa sejarah sungguhan secara keliru.

7. Bahwa mitologi Mesir dan Peru merepresentasikan agama asli Atlantis, yaitu penyembahan terhadap matahari.

8. Bahwa koloni tertua yang didirikan oleh Atlantean (bangsa Atlantis-penj) mungkin saja berada di Mesir, yang peradabannya merupakan reproduksi peradaban yang ada di pulau Atlantik.

9. Bahwa alat-alat “Zaman Perunggu” di Eropa berasal dari Atlantis. Atlantean juga merupakan pembuat besi pertama.

10. Bahwa alfabet Phoenician, induk semua alfabet Eropa, berasal dari alfabet Atlantis yang juga dibawa ke Maya di Amerika Tengah.

11. Bahwa Atlantis merupakan tempat awal keluarga bangsa Arya atau Indo-Eropa, serta kaum Semit, dan mungkin juga ras Turanian.

12. Bahwa Atlantis musnah dalam goncangan alam mengerikan, sehingga seluruh pulau itu tenggelam ke dalam laut beserta hampir semua penghuninya.

13. Bahwa beberapa penghuni melarikan diri, dengan kapal dan rakit menuju bangsa-bangsa timur dan barat, dari bencana air pasang yang mengerikan, yang hingga hari ini masih terus hidup dalam legenda-legenda Banjir dan Bah di berbagai bangsa di zaman lama dan baru.

Jika proposisi-proposisi ini bisa dibuktikan, ia akan memecahkan banyak persoalan yang saat ini masih membingungkan manusia; ia dalam banyak hal akan bisa menegaskan pernyataan-pernyataan dalam pembukaan bab Genesis; ia akan memperlebar area sejarah manusia; ia akan menjelaskan keserupaan menakjubkan yang terdapat di antara peradaban-peradaban yang ditemukan di pantai-pantai seberang Samudera Atlantik, di zaman lama dan baru; dan ia akan membantu kita merehabilitasi nenek-moyang peradaban kita, darah kita, dan gagasan fundamental kita—leluhur kita yang hidup, mencintai, dan bekerja pada abad-abad sebelum bangsa Arya singgah di India, atau sebelum bangsa Phoenician menetap di Syiria, atau sebelum bangsa Goth mencapai pantai Baltik.

Fakta bahwa selama seribuan tahun kisah Atlantik dianggap sebagai fabel tidaklah menjadi masalah. Ada ketidakpercayaan yang tumbuh karena ketidakpedulian, sebagaimana ada skeptisme (sifat ingin tahu) yang lahir karena kecerdasan. Orang-orang yang paling dekat dengan masa lalu tidak selalu paling tahu tentang masa lalu.

Selama seribuan tahun orang-orang percaya bahwa legenda kota Pompeii dan Herculaneum yang terkubur hanyalah mitos: keduanya disebut sebagai “kota dongeng”. Selama seribuan tahun dunia terpelajar tidak mempercayai keterangan-keterangan yang diberikan oleh Herodotus mengenai keajaiban-keajaiban peradaban-peradaban kuno di Nil dan Chaldea. Herodotus dijuluki sebagai “bapak para pendusta”. Bahkan Plutarch mencemoohnya. Namun sekarang, dalam bahasa Frederick Schlegel, “Semakin dalam dan komprehensif riset modern, semakin tinggi penghormatan dan penghargaan riset itu terhadap Herodotus.” Buckle mengatakan, “Informasi kecilnya tentang Mesir dan Asia Kecil diterima oleh semua ahli geografi.”

Dulu cerita tentang pengiriman ekspedisi oleh Firaun Necho untuk mengelilingi Afrika sangat diragukan, karena para penjelajahnya menyatakan bahwa setelah mereka mencapai jarak tertentu, matahari berada di utara dari mereka; posisi tersebut, yang pada saat itu diragukan, kini membuktikan pada kita bahwa para navigator Mesir benar-benar telah melewati khatulistiwa, dan—setelah 2.100 tahun—telah diantisipasi oleh Vasco da Gama dalam penemuan Tanjung Harapan.

Seandainya saya berhasil menunjukkan kebenaran proposisi menakjubkan yang saya kemukakan di awal bab ini, maka itu hanya akan terjadi jika saya dapat mempertemukan petunjuk-petunjuk mengenai Atlantis dari berbagai penelitian para ilmuwan di berbagai bidang pemikiran modern. Saya yakin, investigasi dan penemuan lebih jauh akan bisa memperkuat kebenaran kesimpulan yang telah saya ambil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s