Atlantis – Dunia Purba (Bab I – Subbab II)

Oleh: Ignatius Donnelly
(Sumber: “ATLANTIS – The Antediluvian World”, New York: Harper & Brothers, 1882)

Bab I. Sejarah Atlantis – Subbab II. Sejarah Atlantis dari Plato
Plato telah mengabadikan untuk kita sejarah Atlantis. Bila pandangan kita benar, itu merupakan salah satu catatan paling bernilai yang turun-temurun kepada kita dari zaman purbakala.

Plato hidup 400 tahun sebelum kelahiran Yesus. Leluhurnya, Solon, merupakan penasehat hukum besar Athena 600 tahun sebelum era Kristen. Solon mengunjungi Mesir. Plutarch mengatakan, “Solon berupaya memberikan deskripsi dalam bentuk syair, atau keterangan yang agak fabel, mengenai Pulau Atlantis yang dia pelajari dari orang-orang bijak Sais, dan terutama yang menyangkut penduduk Athena; tapi karena alasan usia, tidak ingin waktu terluang (sebagaimana Plato kemudian), dia khawatir tugas itu terlalu berat untuknya, karena itu dia tidak menyelesaikannya. Syair berikut adalah bukti bahwa urusan itu bukan halangan:

“Aku tumbuh dalam belajar sebagaimana aku tumbuh dalam usia.”

Dan:

“Anggur, akal, dan keindahan, pesonanya masih melimpah,
menerangi semua warna kehidupan, dan menyemangati kita menjalani kehidupan.”

“Plato, yang ambisius untuk memelihara dan memperindah subjek Pulau Atlantis, sebagai tempat menyenangkan di suatu tanah indah tak berpenghuni, yang dia nyatakan pula hak atasnya lantaran pertaliannya dengan Solon, menyusun istana dan pagar besar, dan mendirikan gerbang besar menujunya, tidak seperti kisah, fabel, atau syair lain yang pernah ada. Tapi karena terlambat memulainya, hidupnya berakhir sebelum tugasnya selesai, sehingga semakin pembaca merasa senang dengan apa yang tertulis, semakin menyesal mendapatinya belum rampung.”

Tak diragukan lagi bahwa Solon mengunjungi Mesir. Alasan kepergiannya dari Athena, selama 10 tahun, dijelaskan lengkap oleh Plutarch. Dia menetap, kata Plutarch.

“Di pantai Canopian, dekat muara Nil yang dalam.”

Di sana dia bertentangan pada poin filsafat dan sejarah dengan sebagian besar pendeta terpelajar Mesir. Dia adalah pria dengan kekuatan dan penetrasi pikiran luar biasa, begitu pula hukum dan perkataannya, yang telah dipertahankan untuk kita, menjadi saksi. Tidak ada improbabilitas dalam pernyataan yang dia mulai dalam sejarah dan deskripsi puitik Atlantis, yang belum rampung di saat kematiannya; dan tak perlu imajinasi luas untuk percaya bahwa manuskrip ini sampai ke tangan suksesor dan keturunannya, Plato; seorang terpelajar, pemikir, dan sejarawan sebagaimana dirinya, dan, sebagaimana dirinya, merupakan salah satu pemikir terbesar di dunia kuno. Pendeta Mesir berkata kepada Solon, “Kau tak punya kekunoan sejarah, begitu pun sejarah kuno”; dan Solon pasti menyadari penuh pentingnya catatan yang memuat kembali sejarah manusia, tak hanya ribuan tahun sebelum era peradaban Yunani, tapi bahkan beribu-ribu tahun sebelum pendirian kerajaan Mesir; dan dia ingin sekali mempertahankan rekaman masa lalu tak ternilai ini untuk kawan sebangsanya yang masih setengah beradab. Tak ada cara lebih baik untuk memulai sebuah buku tentang Atlantis dibanding memberikan catatan lengkap yang diabadikan oleh Plato. Sebagaimana berikut:

Critias: Maka dengarkanlah, Socrates, tentang sebuah kisah aneh, yang bagaimanapun sudah pasti nyata, sebagaimana dinyatakan Solon, sosok terbijak dari tujuh orang bijak. Dia adalah sanak dan teman besar buyutku, Dropidas, sebagaimana dia katakan dalam beberapa syairnya; dan Dropidas berkata pada Critias, kakekku, yang mengingat, dan menceritakan kepada kita, bahwa ada kekuatan lama Athena yang luhur dan mengagumkan, yang telah dilupakan seiring waktu dan kehancuran ras manusia dan, terutama, yang terpenting dari semuanya, cerita yang akan menjadi bukti layak dari rasa terima kasih kami kepadamu…

Socrates: Baik; lantas apa kekuatan terkenal kuno yang dibicarakan Critias ini, bukan berupa legenda belaka, tapi betul-betul kekuatan Negara Athena, yang diceritakan Solon!

Critias: Aku akan menceritakan sebuah kisah dunia kuno yang aku dengar dari seorang pria berumur; karena Critias pada saat itu, sebagaimana dia katakan, hampir berusia 90 tahun, dan usiaku sekitar 9 tahun. Nah, saat itu adalah hari Apaturia yang disebut sebagai pendaftaran pemuda; yang menurut tradisi kita, pada hari itu orangtua kita memberikan hadiah untuk dibacakan, dan syair dari beberapa penyair dibacakan oleh kita anak laki-laki, dan banyak dari kita menyanyikan syair Solon, yang pada waktu itu terbilang baru. Salah seorang dari suku kita, entah karena murni opininya, atau karena dia mengira dirinya akan menyenangkan hati Critias, berkata bahwa, menurut penilaiannya, Solon bukan hanya merupakan orang terbijak tapi juga penyair termulia. Sang pria tua (Critias), aku ingat dengan baik, gembira akan [ucapan] ini, dan mengatakan, sambil tersenyum: “Ya, Amynander, seandainya Solon, seperti penyair lain, menjadikan syair sebagai satu-satunya urusan hidupnya, dan menyelesaikan kisah yang dia bawa dari Mesir, dan tidak terpaksa, berhubung dengan adanya kelompok-kelompok dan masalah-masalah yang dia ketemukan tengah menggemparkan negeri ini tatkala dia pulang, untuk menyelesaikan persoalan lain, menurut pendapat saya dia akan seterkenal Homer, atau Hesiod, atau penyair manapun.”

“Dan syair itu berisi tentang apa, Critias?” kata orang yang menyapanya tadi.

“Tentang kekuatan terbesar yang pernah dimiliki Athena, dan semestinya dikenal luas, tapi, seiring berselangnya waktu dan kehancuran para pelaku, tidak terberitakan kepada kita.”

“Ceritakan pada kami,” kata yang lain, “keseluruhan kisahnya, dan bagaimana serta dari siapa Solon mendengar tradisi betulan ini.”

Dia menjawab: “Di hulu Delta Mesir, di mana sungai Nil mencabang, ada satu distrik yang disebut distrik Sais, dan kota besar di distrik itu juga disebut Sais, dan dari kota tersebut Amasis sang raja berasal. Dan penduduknya menyembah seorang dewi yang merupakan pendiri mereka; dia, dalam lidah orang Mesir, disebut Neith, yang mereka nyatakan sama dengan Athena-nya orang Yunani. Sekarang, penduduk kota itu merupakan penyayang orang Athena, dan mengatakan bahwa diri mereka berfamili dengan orang Athena. Berangkatlah Solon ke sana, dia diterima oleh mereka dengan penghormatan luhur; dan dia bertanya kepada para pendeta, siapa yang paling cakap dalam persoalan itu, mengenai zaman purbakala, dan lantas dia menyadari bahwa baik dia ataupun orang Yunani lainnya tak ada yang mengetahui sesuatu yang berharga mengenai masa kuno.

Pada sebuah kesempatan, ketika dia sedang menarik mereka untuk membahas zaman purbakala, dia mulai menceritakan tentang hal-hal paling purba dalam [tradisi] dunia kita—tentang Phoroneus, yang dijuluki ‘yang awal’, dan tentang Niobe; dan setelah Banjir Besar, menceritakan kehidupan Deucalion dan Pyrrha; dan dia menelusuri silsilah keturunan mereka (Deucalion dan Pyrrha), dan berusaha menghitung seberapa tua peristiwa yang tengah dia bicarakan, dan menetapkan waktunya. Lalu, salah seorang pendeta, yang berusia sangat tua, berkata: ‘Solon, Solon, kau orang Yunani tak lain hanyalah anak-anak, dan seorang Yunani tak pernah menjadi orang tua.’ Solon, setelah mendengar ini, berkata, ‘Apa maksudmu?’ ‘Maksudku,’ jawab si pendeta, ‘kalian semua masih muda; tak ada pendapat lama yang diturunkan di antara kalian oleh tradisi kuno, tak satupun pengetahuan [kalian] yang beruban karena usia. Dan akan kukatakan padamu alasannya: telah terjadi, dan akan ada lagi, banyak kehancuran manusia yang timbul karena banyak sebab. Ada satu cerita yang kau pun telah memeliharanya, bahwa pada suatu waktu, Phaëthon, putra Helios, sesudah memasang kuk pada kuda kereta perang ayahnya lantaran tak mampu mengendarainya sejalur dengan ayahnya, membakar semua yang ada di muka bumi, dan dia sendiri musnah oleh halilintar. Nah, ini punya sebentuk mitos, tapi sebetulnya menandakan deklinasi benda-benda yang mengelilingi bumi dan yang berada di angkasa, dan kebakaran besar di muka bumi itu timbul berulang-ulang pada interval waktu yang lama: ketika ini terjadi, mereka yang tinggal di atas gunung dan di tempat-tempat kering dan tinggi lebih rentan terhadap kehancuran dibanding mereka yang tinggal dekat sungai atau di pesisir pantai; dan dari malapetaka ini Nil, juru selamat kami yang tak pernah lalai, menyelamatkan dan membebaskan kami. Ketika, di sisi lain, para dewa membersihkan bumi dengan banjir besar, pemilik ternak dan penggembala di antara kalian di gunung-gunung selamat, sedangkan mereka yang tinggal di kota-kota terbawa oleh sungai ke lautan; tapi di negeri [kami] ini pada waktu itu ataupun waktu lainnya tak ada air yang muncul dari atas, kecenderungannya berasal dari bawah, oleh karenanya benda-benda yang terpelihara di sini dikatakan sebagai yang tertua. Faktanya adalah bahwa, di manapun, keekstriman musim dingin atau musim panas tidak menjadi halangan, ras manusia sekali-sekali selalu bertambah, dan kali lain berkurang jumlahnya. Dan apapun yang terjadi baik di negerimu ataupun di negeri kami, atau di wilayah lain yang kita ketahui—bila kekuatan yang mulia atau besar, atau dengan cara lain yang luar biasa, telah terjadi, semuanya telah tertulis sejak lama, dan terpelihara di kuil-kuil kami; sedangkan kau dan bangsa lain hanya diberi sastra dan hal-hal lain yang dikehendaki Negara; dan kala itu, di masa biasa, arus dari langit turun layak wabah, dan hanya menyisakan orang-orang kalian yang miskin sastra dan pendidikan; dan dengan demikian kalian harus memulai semuanya lagi seperti anak-anak, dan tak mengetahui apa yang terjadi di masa kuno, baik terhadap kami maupun kalian. Mengenai silsilahmu, yang telah kau ceritakan pada kami, Solon, itu tak lebih baik dari cerita anak-anak: sebab, pertama-tama, kau mengingat satu banjir besar saja, padahal ada banyak; dan, kedua, kau tidak tahu bahwa di tanahmu pernah tinggal ras manusia paling adil dan mulia, di mana kau dan seluruh kotamu tak lain hanyalah benih atau sisanya. Dan ini tidak kau ketahui, sebab banyak generasi korban hidup dari kehancuran itu telah mati dan tidak membuat isyarat. Sebab ada satu masa, Solon, sebelum semua banjir besar itu, tatkala kota yang kini disebut Athena itu pertama kali mengalami peperangan, dan sangat unggul dengan undang-undangnya, dan konon melakukan perbuatan paling mulia, dan mempunyai konstitusi teradil dari semua yang diceritakan tradisi, di bawah permukaan langit.’

Solon takjub akan ini, dan bersungguh-sungguh meminta sang pendeta untuk memberitahu dirinya secara persis dan tuntas mengenai penduduk zaman dahulu ini. ‘Kau boleh mendengar tentang mereka, Solon,’ kata pendeta, ‘baik demi dirimu maupun demi kota tersebut, dan, di atas semuanya, demi dewi yang merupakan penyokong dan pelindung dan pendidik kota-kota kita. Ia mendirikan kotamu seribu tahun sebelum kota kami, menerima benih rasmu dari Bumi dan Hephaestus, dan lalu dia mendirikan kota kami, yang konstitusinya menurut catatan sakral kami tertulis berumur 8.000 tahun. Karena menyentuh penduduk dari masa 9.000 tahun silam, aku akan memberitahumu secara singkat mengenai undang-undang mereka dan perbuatan termulia mereka; dan keterangan rinci tentang seluruhnya, yang di waktu senggang akan kita periksa dalam catatan sakral. Jika kau membandingkan undang-undang ini dengan undang-undangmu, kau akan menemukan bahwa banyak dari undang-undang kami yang sepadan dengan punyamu, sebagaimana keadaannya di masa lalu. Pertama-tama, ada kasta pendeta, yang terpisah dari kasta lainnya; berikutnya ada kasta cerdik-pandai, yang menggunakan ketrampilan mereka sendirian, tanpa campuran orang lain; dan juga ada kelas penggembala dan pemburu, serta petani; dan kau akan memperhatikan pula bahwa prajurit di Mesir terpisah dari semua kelas lain, dan diperintahkan oleh undang-undang untuk berperang saja; selain itu, senjata yang diperlengkapi kepada mereka adalah perisai dan tombak, dan inilah yang pertama kali diajarkan dewi kepada kalian, dan kemudian di negeri-negeri Asia, dan kami yang pertama kali mengadopsi di Asia.

Maka, mengenai kebijaksanaan, apakah kau mengamati perhatian apa yang diberikan undang-undang itu sejak awal, mencari dan memahami tata tertib segala sesuatu sampai pada ramalan dan pengobatan (yang terakhir ini pandangan tentang kesehatan); dan dari elemen-elemen sakral ini ditariklah ihwal apa yang dibutuhkan untuk kehidupan manusia, dan menambahkan setiap macam pengetahuan yang terhubung dengannya. Semua tata tertib dan peraturan ini pertama kali diutarakan oleh dewi kepada kalian ketika membangun kota kalian; dan dia memilih tempat di bumi di mana kalian dilahirkan tersebut, sebab dia melihat bahwa temperatur musim yang menyenangkan di tanah itu akan menghasilkan manusia-manusia terbijak. Di sana dewi, yang merupakan seorang pencinta perang dan kebijaksanaan, memilih, dan pertama-tama mendiami tempat tersebut yang merupakan [tempat] paling mungkin untuk menghasilkan orang seperti dirinya. Dan di sanalah kau tinggal, memiliki undang-undang seperti ini dan masih lebih baik, dan mengungguli semua manusia dalam semua kebaikan, karena menjadi anak dan murid dewa. Banyak perbuatan luhur dan menakjubkan dari Negaramu tercatat dalam sejarah kami; tapi salah satu dari semua perbuatan itu mengungguli yang lain dalam hal keluhuran dan keberanian; karena sejarah ini menceritakan kekuatan besar yang mengagresi seluruh Eropa dan Asia tanpa alasan, dan mengakhiri kota kalian. Kekuatan ini maju dari Samudera Atlantik, sebab di masa itu Atlantik dapat dilayari; dan ada sebuah pulau yang terletak di depan selat yang kalian sebut Columns of Heracles: pulau itu lebih besar dari gabungan Libya dan Asia, dan merupakan jalan menuju pulau-pulau lain, dan dari pulau-pulau itulah kau bisa menembus keseluruhan benua seberang yang mengelilingi samudera sejati; karena laut ini, yang berada di Straits of Heracles, hanyalah sebuah pelabuhan, jalan masuknya sempit, tapi yang lainnya laut sungguhan, dan tanah di sekitarnya betul-betul bisa disebut benua. Nah, di pulau Atlantis itu terdapat sebuah kerajaan besar dan mengagumkan, yang memerintah pulau tersebut dan beberapa pulau lainnya, serta sebagian benua tersebut; dan di samping ini, mereka menundukkan sebagian Libya di Columns of Heracles hingga Mesir, dan sebagian Eropa hingga Tyrrhenia. Dengan demikian, kekuatan luas itu berhimpun menjadi satu, berusaha keras menaklukkan negeri kami dan kalian sekaligus, serta keseluruhan pulau yang berada di selat itu; dan kemudian, Solon, negerimu bersinar gemilang, dalam keunggulan kebajikan dan kekuatannya, di antara semua manusia; sebab ia adalah yang terawal dalam keberanian dan ketrampilan militer, dan merupakan pemimpin orang Yunani. Dan tatkala yang lain jatuh dari sang dewi, terpaksa berdiri sendirian setelah mengalami bahaya yang sangat, ia [sang dewi] mengalahkan dan menang atas para penyerbu, dan melindungi mereka yang belum tunduk dari perbudakan, dan membebaskan semua yang lain yang tinggal dalam perbatasan Heracles. Tapi sesudah itu terjadi gempa bumi hebat dan banjir, dan dalam hujan sehari semalam semua orang penyuka perang dari kalian terbenam ke dalam bumi, dan pulau Atlantis lenyap dengan cara serupa, dan tenggelam di bawah laut. Dan itulah alasannya mengapa laut di bagian itu tidak bisa dilalui dan ditembus, sebab terdapat lumpur dangkal sedemikian banyak di jalur itu; dan ini disebabkan oleh tenggelamnya pulau tersebut.’ (“Plato’s Dialogue”, ii, 617, Timoeus.)…

Tapi selain dewa yang telah kau sebutkan, aku akan secara khusus menyebut Mnemosyne; karena semua bagian penting yang harus aku ceritakan bergantung pada kemurahannya, dan seandainya aku dapat mengingat kembali dan membacakan apa yang dikatakan para pendeta, membawakannya kemari di dekat Solon, aku yakin aku akan memenuhi keperluan panggung sandiwara ini. Maka, pada tugas tersebut aku akan memusatkan perhatian sekaligus.

Biarkan aku memulai dengan meninjau, pertama-tama, bahwa sembilan ribu adalah jumlah tahun yang berlalu sejak peperangan yang konon berlangsung antara mereka yang tinggal di luar Pillars of Heracles dan mereka yang tinggal di dalamnya: perang inilah yang akan kulukiskan sekarang. Kota Athena dikabarkan merupakan penguasa atas para pejuang di salah satu pihak, dan mengatur pertempuran; pejuang di pihak lain dipimpin oleh raja-raja dari pulau-pulau Atlantis, yang, seperti kukatakan, pernah membentang luas melebihi Libya dan Asia; dan, ketika kemudian tenggelam oleh gempa bumi, menjadi rintangan lumpur yang tak bisa dilalui oleh pelayar yang berlayar dari situ menuju samudera. Perkembangan sejarah akan mengungkap berbagai suku barbar dan Yunani yang saat itu eksis, sebab mereka berturut-turut tampil di layar; tapi aku harus mulai dengan melukiskan, pertama-tama, orang Athena, karena mereka ada pada hari itu, serta musuh-musuh mereka yang bertempur dengan mereka; dan aku harus menceritakan kekuatan dan bentuk pemerintahan kedua pihak. Mari kita mulai dari Athena….

Banyak banjir besar telah terjadi selama sembilan ribu tahun tersebut, itu adalah bilangan tahun yang telah berlalu sejak masa yang tengah kubicarakan ini; dan di semua zaman dan perubahan tak pernah ada perkampungan daratan yang mengalir turun dari pegunungan, sebagaimana di tempat lain, yang layak dibahas; perkampungan selalu terbawa secara melingkar, dan lenyap di kedalaman. Konsekuensinya adalah bahwa, dibandingkan dengan saat itu, di pulau-pulau kecil hanya tersisa tulang-belulang jasad sisa, mungkin bisa disebut demikian, semua bagian tanah yang kaya dan lembut telah berkurang, dan kerangka belaka yang tersisa di negeri itu…

Dan berikutnya, jika aku belum lupa apa yang kudengar ketika masih kecil, aku akan menyampaikan kepadamu karakter dan asal-usul musuh-musuh mereka; sebab teman tidak boleh menyimpan ceritanya sendiri, melainkan harus membaginya bersama. Tapi, sebelum maju lebih jauh dalam cerita ini, aku harus memperingatkanmu bahwa kau tak boleh terkejut apabila mendengar nama-nama Yunani diberikan pada orang asing. Aku akan mengatakan padamu alasannya: Solon, yang bermaksud menggunakan cerita itu untuk syairnya, melakukan investigasi mengenai pengertian nama-nama, dan menemukan bahwa orang Mesir awal, dalam menuliskannya, telah menerjemahkan ke dalam bahasa mereka sendiri, dan Solon menemukan pengertian beberapa nama dan menerjemahkannya ulang, dan menyalinnya lagi dalam bahasa kita. Buyutku, Dropidas, punya tulisan aslinya, yang masih kumiliki, dan kupelajari secara seksama ketika aku kecil. Karena itu, jika kau mendengar nama-nama seperti yang dipakai di negeri kita ini, kau tak boleh terkejut, sebab aku telah mengatakan alasannya kepadamu.

Cerita itu, yang sangat panjang lebar, berawal sebagai berikut: aku sebelumnya telah menyatakan, saat berbicara tentang pemberian para dewa, bahwa mereka mendistribusikan seluruh bumi menjadi bagian-bagian yang berbeda-beda dalam luasnya, dan mereka membuat sendiri kuil-kuil dan pengorbanan. Dan Poseidon, setelah menerima bagian pulau Atlantis, memiliki anak-anak melalui seorang wanita yang garang, dan menempatkan mereka di sebuah bagian pulau itu, yang akan segera kuuraikan. Di sisi yang mengarah ke laut, dan di tengah pulau, terdapat tanah datar yang konon merupakan paling indah, dan sangat subur. Dekat tanah datar itu, dan juga di tengah pulau, pada jarak kira-kira 50 stadium, ada sebuah gunung, tidak terlalu tinggi di setiap sisinya. Di gunung ini tinggal salah seorang manusia purba kelahiran bumi di negeri itu, namanya Evenor, dan dia punya seorang istri bernama Leucippe, dan mereka hanya punya satu orang putri, namanya Cleito. Gadis tersebut tumbuh menjadi dewasa sementara ayah dan ibunya mati; Poseidon jatuh cinta kepadanya, dan menjalin hubungan dengannya; lalu, meretakkan tanah, melingkungi bukit di mana Cleito tinggal, membuat zona laut dan daratan yang berselingan, lebih besar dan lebih kecil, melingkari satu sama lain; ada dua daratan dan tiga perairan, yang dia ubah sebagai pusat pulau dengan mesin bubut, sama jauhnya dari setiap arah, sehingga tak ada seorangpun yang bisa mencapai pulau, sebab kapal dan pelayaran belum terdengar.

Poseidon sendiri, karena dia dewa, tak menemukan kesulitan dalam membuat penyusunan khusus untuk pulau pusat itu, membawa dua arus air di bawah tanah, yang dia buat menaik seperti mata air, yang satu hangat dan yang lainnya dingin, dan membuat berbagai jenis makanan agar tumbuh melimpah di tanah itu. Dia juga memiliki dan membesarkan 5 pasang anak laki-laki, membagi pulau Atlantis menjadi 10 kavling: dia memberi anak kelahiran pertama dari pasangan tertua kediaman sang bunda dan jatah sekelilingnya, yang merupakan tanah terluas dan terbaik, dan mengangkatnya sebagai raja di atas semuanya; yang lainnya dia jadikan sebagai pangeran, dan memberi mereka kekuasaan atas banyak orang dan teritori luas. Dan dia menamai mereka semua: yang tertua, sang raja, dia namai Atlas, dan darinya seluruh pulau dan samudera mendapat nama Atlantis. Kepada saudara kembar Atlas, yang lahir setelahnya, dan mendapat kavling pelosok-pelosok pulau yang mengarah ke Pillars of Heracles, sampai ke ujung negeri yang masih disebut kawasan Gades di bagian dunia tersebut, Poseidon menamainya, yang dalam bahasa Yunani adalah Eumelus, dalam bahasa negeri itu dinamai menurut nama kawasan, Gadeirus. Dari pasangan kembar kedua, dia menamai yang satu Ampheres dan yang lain Evaemon. Kepada pasangan kembar ketiga, dia memberi nama Mneseus kepada yang tua, dan Autochthon kepada yang lahir kemudian. Dari pasangan kembar keempat, dia menamai yang tua Elasippus dan yang muda Mestor. Dan pasangan kembar kelima, dia memberi yang tua nama Azaes, dan yang muda Diaprepes. Semua ini dan keturunan mereka adalah penghuni dan penguasa bermacam-macam pulau di laut terbuka itu; dan juga, sebagaimana telah dikatakan, mereka memegang kekuasaan dalam batas Pillars di arah lain sampai Mesir dan Tyrrhenia.

Nah, Atlas punya keluarga yang banyak dan terhormat, dan cabang tertuanya selalu menguasai kerajaan, yang diserahkan kepada putra tertuanya selama bergenerasi-generasi; dan mereka punya kekayaan sedemikian besar yang tak pernah sebelumnya dimiliki oleh raja dan kaisar, dan sepertinya takkan ada lagi yang seperti itu, dan mereka diperlengkapi dengan segala sesuatu yang bisa mereka miliki, baik di kota maupun desa. Sebab, berkat kebesaran kerajaan mereka, banyak hal dibawakan kepada mereka dari negeri-negeri asing, dan pulau itu sendiri menyediakan banyak hal yang mereka perlukan untuk kehidupan. Pertama-tama, mereka menggali apapun yang bisa ditemukan dari tanah, mineral dan logam, dan—yang kini hanya tinggal nama namun kala itu lebih dari sekedar nama—orichalcum digali dari tanah di banyak bagian pulau, dan, kecuali emas, dihargai sebagai logam paling mulia di kalangan orang di zaman itu. Terdapat kayu yang melimpah untuk pekerjaan tukang kayu, dan tunjangan yang cukup untuk memelihara binatang jinak dan liar.

Selain itu, ada banyak gajah di pulau itu, dan terdapat persediaan untuk setiap jenis binatang, baik yang hidup di danau, rawa, dan sungai, maupun juga yang hidup di pegunungan dan tanah datar, dan untuk binatang yang terbesar dan paling rakus. Juga, segala sesuatu yang harum yang ada di bumi, entah itu akar-akaran, atau rerumputan, atau kayu-kayuan, atau guguran bunga atau buah yang menyuling, semuanya tumbuh dan berkembang di tanah itu; dan lagi, buah-buahan bumi yang ditanam, baik buah kering yang bisa dimakan maupun jenis makanan lainnya, yang kita sebut melalui nama umum legume (tumbuhan polong), dan buah-buahan yang memiliki kulit keras, semua menghasilkan minuman, daging, dan urap, dan cadangan chestnut (kastanye) dan semacamnya yang melimpah, yang bisa digunakan untuk bermain-main, dan begitu pula buah-buahan yang membusuk melalui proses penyimpanan—dan jenis-jenis makanan pencuci mulut yang sedap yang menghibur kita setelah makan malam, ketika kenyang dan lelah makan—semua ini, di mana pulau sakral itu terbentang di bawah matahari, melahirkan keindahan dan ketakjuban tak terhingga. Semua hal ini mereka terima dari bumi, dan mereka gunakan sendiri dalam membangun kuil-kuil mereka, dan istana-istana, dan pelabuhan-pelabuhan, dan galangan kapal; dan mereka mengatur keseluruhan negeri itu dengan cara berikut: pertama-tama mereka memasang jembatan di antara zona-zona laut yang mengelilingi metropolis kuno, dan membuat jalan masuk dan keluar, mereka mulai membangun istana di istana kerajaan; dan kemudian tempat tinggal dewa dan leluhur mereka.

Ini terus mereka perindah pada generasi-generasi selanjutnya secara berturut-turut, setiap raja mengungguli raja yang datang sebelumnya hingga kekuatan penuh, sampai mereka membuat bangunan yang sungguh mengagumkan untuk dilihat dalam hal ukuran dan keindahannya. Dan, mulai dari laut, mereka menggali kanal/terusan selebar 300 kaki dan sedalam 100 kaki, dan panjangnya 50 stadium, yang mereka bangun sampai zona terluar, membuat jalan dari laut hingga kanal, dan menjadi pelabuhan, dan membiarkan sebuah lowong yang cukup untuk membolehkan kapal-kapal terbesar masuk. Tambahan lagi, mereka membagi zona-zona daratan yang membelah zona-zona lautan, mengkonstruksi jembatan sedemikian lebar sehingga menyisakan jalan bagi masing-masing trireme (kapal perang Yunani kuno-penj) untuk saling berpapasan, dan mengatapinya; dan ada sebuah jalan di sebelah bawah untuk kapal, karena tepian zona-zona itu dinaikkan sangat tinggi di atas air. Nah, zona-zona terbesar, yang jalur ke dalamnya dipotong dari laut, memiliki lebar 3 stadium, dan zona daratan yang terdapat di sebelahnya lebarnya sama, tapi dua berikutnya, zona air dan daratan, lebarnya 2 stadium, dan yang mengelilingi pulau pusat lebarnya hanya 1 stadium. Pulau di mana istana berada mempunyai diameter 5 stadium. Ini, dan zona-zona dan jembatan (bagian keenam, dengan lebar 1 stadium), dikelilingi oleh sebuah dinding batu, yang di setiap sisinya dipasangi menara, dan gerbang-gerbang di atas jembatan-jembatan di mana laut mengalir masuk. Batu yang dipakai dalam pekerjaan tersebut mereka gali dari bawah pulau pusat dan dari bawah zona-zona itu, di sebelah luar maupun dalamnya. Salah satu jenis batu berwarna putih, yang lainnya hitam, dan yang ketiga merah; dan, sewaktu menggali, pada saat yang sama mereka membuat dua lubang galangan kapal di dalamnya, mendirikan atap dari batu alam. Beberapa dari bangunan mereka sangat sederhana, tapi pada bangunan lain mereka menyatukan batu yang berbeda-beda, yang mereka campur-baurkan untuk kepentingan hiasan, untuk menjadi sumber kesenangan alami. Seluruh sirkuit dinding yang memutari bagian terluar, mereka lapisi dengan lapisan kuningan, dan sirkuit dinding berikutnya mereka lapisi dengan timah, dan yang ketiga, yang mengelilingi benteng kota, dilapisi dengan cahaya merah orichalcum.

Istana-istana di dalam benteng kota dikonstruksi dengan cara ini: di pusat terdapat sebuah kuil suci yang dipersembahkan kepada Cleito dan Poseidon, yang masih tak terakses, dan dikelilingi oleh pagar emas; ini merupakan tempat di mana mereka mula-mula memperanakkan ras kesepuluh pangeran, dan ke situ mereka setiap tahun membawa buah-buahan bumi di musim mereka dari kesepuluh kavling, dan melakukan pengorbanan bagi kesepuluh pangeran. Di sini juga kuil milik Poseidon berada, yang panjangnya 1 stadium dan lebarnya ½ stadium, dan tingginya proporsional, menjalani semacam semarak barbar. Semua bagian luar kuil, kecuali puncaknya, mereka lapisi dengan perak, sementara puncaknya dengan emas. Di bagian dalam kuil, atapnya terbuat dari gading, setiap tempat dipercantik dengan emas dan perak dan orichalcum; semua bagian lain dinding dan pilar dan lantai, mereka lapisi dengan orichalcum. Di kuil tersebut mereka menempatkan patung-patung emas: ada dewa sendiri yang berdiri di sebuah kereta perang—sang pengendara kereta perang kuda bersayap enam—dan ukurannya sedemikian besar sehingga menyentuh atap bangunan dengan kepalanya; di sekelilingnya terdapat ratusan Nereid yang menunggangi ikan lumba-lumba, karenanya [bilangan] itu dianggap sebagai jumlah mereka pada hari itu. Di bagian dalam kuil terdapat pula gambar lain yang didedikasikan oleh individu-individu pribadi. Dan di sekeliling kuil, di bagian luar, ditempatkan patung-patung emas kesepuluh raja beserta istri mereka; dan ada banyak persembahan hebat, dari raja dan individu pribadi, yang datang baik dari kota tersebut maupun dari kota luar yang telah mereka tundukkan. Ada sebuah altar pula, yang ukuran dan pembuatannya bersesuaian dengan seluruh karya, dan ada istana-istana sedemikian rupa yang cocok dengan keagungan kerajaan dan kemuliaan kuil.

Di tempat sebelahnya, mereka menggunakan air mancur dingin dan panas; ini sangat melimpah, dan kedua jenisnya amat sesuai penggunaan berhubung dengan rasa manis dan mutu airnya. Mereka mengkonstruksi bangunan di sekitarnya, dan menanam pohon yang cocok; juga tangki air, beberapa terbuka ke langit, yang lainnya mereka atapi untuk digunakan di musim dingin sebagai kamar mandi air hangat, terdapat kamar mandi raja, dan kamar mandi orang pribadi, yang dibuat terpisah; juga memisahkan kamar mandi untuk wanita, dan yang lain lagi untuk kuda dan ternak, dan pada kamar mandi binatang tersebut mereka memberi banyak perhiasan pantas sebagaimana milik mereka. Air yang mengalir terbuang, sebagiannya mereka salurkan ke hutan kecil Poseidon, di mana semua macam pepohonan yang luar biasa tinggi dan indah tumbuh, berkat kualitas tanah; sisanya disalurkan melalui aquaduct (terowongan air-penj) yang melewati jembatan menuju lingkaran luar; dan ada banyak kuil dibangun dan didedikasikan kepada banyak dewa; juga taman dan tempat olahraga, beberapa untuk pria, dan beberapa diatur terpisah untuk kuda, di kedua pulau yang terbentuk oleh zona-zona; dan di tengah keduanya, yang lebih besar, terdapat lintasan balap sebuah stadion dengan lebar dan panjang hingga mengelilingi pulau, yang memperkenankan kuda untuk balapan. Juga, sebentar-sebentar, terdapat rumah pengawal untuk para pengawal, orang-orang terpercaya yang ditugaskan di zona kecil, yang lebih dekat dengan Acropolis; sedangkan pengawal paling terpercaya diberi rumah di dalam benteng kota, dan di sekitar orang-orang raja.

Galangan kapal penuh dengan trireme dan perbekalan Angkatan Laut, dan segalanya siap digunakan. Perencanaan yang cukup untuk istana raja. Menyeberangi pelabuhan luar, yang jumlahnya ada 3, kau akan sampai ke sebuah dinding yang berawal di laut dan berdiri mengitari: ini, di semua sisi, berjarak 50 stadium dari zona dan pelabuhan terbesar, dan melingkungi keseluruhan, [ujung dinding itu] bertemu di mulut kanal ke arah laut. Seluruh area dipadati dengan tempat tinggal; dan kanal dan pelabuhan-pelabuhan terbesar dipenuhi kapal dan pedagang dari semua daerah, yang, karena jumlah mereka, menimbulkan banyak suara manusia dan segala macam keriuhan siang dan malam. Aku telah mengulangi deskripsinya tentang kota dan daerah-daerah sekitar istana kuno hampir persis sebagaimana dia gambarkan kepada mereka, dan sekarang aku harus berusaha menggambarkan alam dan susunan seluruh negeri. Seluruh negeri digambarkan sangat tinggi dan terjal di sisi laut, tapi negeri itu sendiri, di sekitar dan sekeliling kota adalah tanah datar, dikelilingi oleh pegunungan yang menurun ke arah laut; ia halus dan rata, tapi bentuknya persegi panjang, di satu arah memanjang sampai 3.000 stadium, dan [satu arah lagi] 2.000 stadium menaiki negeri dari laut melewati pusat pulau; seluruh kawasan pulau terbentang ke arah selatan, dan terlindungi dari utara. Dia memuji gunung sekeliling atas jumlah dan ukuran dan keindahannya, yang melampaui semua gunung yang bisa dilihat hari ini di semua tempat; terdapat pula desa-desa makmur berpenghuni, dan sungai, dan danau, dan padang rumput yang menyuplai makanan yang cukup untuk semua binatang, liar ataupun jinak, dan beragam jenis kayu, melimpah untuk semua macam pekerjaan.

Aku sekarang akan menggambarkan daratannya, yang telah diolah selama bertahun-tahun oleh bergenerasi-generasi raja. Bentuknya bujur sangkar, dan sebagian besar lurus dan persegi panjang; dan garis lurus mengikuti garis parit sirkuler. Kedalaman dan lebar dan panjang parit ini luar biasa dan memberi kesan bahwa karya semacam itu, di samping banyak karya lainnya, hampir tidak mungkin dibuat oleh tangan manusia. Tapi aku harus mengatakan apa yang kudengar. Ia digali sampai kedalaman 100 kaki, dan lebarnya 1 stadium; ia disalurkan mengelilingi seluruh daratan, dan panjangnya 10.000 stadium. Ia mendapat arus yang datang dari pegunungan, dan berkelok-kelok mengelilingi daratan, dan menjamah kota di berbagai titik, terdapat turunan/lepasan menuju laut. Dari atas, demikian pula, kanal-kanal lurus selebar 100 kaki terselang oleh daratan, dan juga dilepaskan ke parit, menuju laut; kanal-kanal ini berada pada interval 100 stadium, dan melalui kanal tersebut mereka membawa kayu dari pegunungan ke kota, dan membawa buah-buahan bumi dalam kapal, memotong lintasan melintang dari satu kanal ke kanal lainnya, lalu ke kota. Dua kali dalam setahun mereka mengumpulkan buah-buahan bumi—di musim dingin mengambil manfaat dari hujan, dan di musim panas memasukkan air kanal. Mengenai populasi, tiap-tiap bidang tanah di daratan itu mempunyai komandan yang layak untuk tugas militer, dan ukuran bidang tanah adalah 10×10 stadium, dan jumlah total bidang tanah adalah 60.000.

Dan penghuni gunung dan seluruh sisa negeri juga memiliki pemimpin, yang ditetapkan menurut tempat tinggal dan desa mereka. Pimpinan tersebut diperlukan untuk menyediakan seperenam porsi kereta perang, agar mencapai total 10.000 kereta perang; juga dua kuda dan pengendara di atasnya, dan kereta ringan tanpa tempat duduk, disertai oleh seorang prajurit pejalan kaki yang menenteng perisai kecil, dan seorang pengendara ditempatkan di kereta perang untuk menuntun kuda; selain itu, si pemimpin juga harus menyediakan 2 orang bersenjata berat, 2 orang pemanah, 2 orang pengkatapel, 3 orang penembak batu, dan 3 orang penombak untuk pertempuran kecil, dan 4 orang pelaut untuk melengkapi 1.200 kapal. Demikian itu merupakan susunan perang di kota kerajaan—sedangkan di 9 kota pemerintahan lainnya masing-masingnya berlainan, dan akan sangat melelahkan untuk diceritakan. Mengenai jabatan dan pangkat, berikut adalah susunan dari yang teratas: masing-masing dari kesepuluh raja, di divisi dan kotanya sendiri, mempunyai kontrol absolut atas warga, dan dalam banyak kasus hukum, menghukum dan membunuh siapa saja yang dikehendakinya.

Nah, hubungan antara pemerintahan mereka diatur oleh keputusan Poseidon karena hukum tersebut telah disampaikan kepada mereka. Ini ditulis oleh orang-orang pertama pada sebuah tiang orichalcum, yang terletak di tengah-tengah pulau, di kuil Poseidon, di mana masyarakat dikumpulkan setiap tahun kelima dan keenam secara bergantian, sehingga memberi penghormatan yang sama kepada angka ganjil dan genap. Dan ketika mereka dikumpulkan, mereka berunding mengenai urusan politik, dan menanyakan apakah seseorang melanggar sesuatu, dan menjatuhkan keputusan yang sesuai kepadanya—dan sebelum mereka menjatuhkan keputusan, mereka saling berikrar dengan cara berikut: sapi-sapi jantan ditaruh di dekat kuil Poseidon; lalu kesepuluh raja yang dibiarkan tak terganggu di dalam kuil, setelah memanjatkan doa kepada para dewa agar menerima persembahan mereka, memburu sapi-sapi itu tanpa senjata, melainkan dengan stave (helaian papan yang diikat dengan besi-penj) dan jerat simpul; dan sapi yang ditangkap dibawa menuju tiang, korban kemudian dihantam di kepalanya, dan dibunuh di atas ukiran tulisan suci. Nah pada tiang, di samping undang-undang, ditulis sumpah yang meminta kutukan hebat terhadap orang-orang yang tidak patuh. Oleh sebab itu, setelah memanjatkan pengorbanan menurut kebiasaan mereka, mereka membakar anggota badan sapi, mereka mengadon sebuah piala dan memasukkan gumpalan darah beku masing-masing sapi; sisa badan korban ditaruh di api, setelah menjalankan pemurnian tiang. Lalu mereka menarik bejana emas dari piala itu, dan, sambil menuangkan persembahan ke atas api, mereka bersumpah akan mengadili berdasarkan undang-undang yang tertera pada tiang, dan akan menghukum setiap orang yang melanggar, dan untuk masa mendatang mereka tidak akan, sebisa mungkin, melanggar prasasti itu, dan tidak akan memerintah atau mematuhi penguasa yang menyuruh mereka bertindak bertentangan dengan hukum ayah mereka, Poseidon.

Inilah doa yang dipanjatkan oleh mereka masing-masing untuk diri dan keluarga pada waktu minum dan mempersembahkan bejana di kuil dewa; dan, setelah menghabiskan waktu seperlunya saat makan malam; ketika kegelapan timbul dan api di sekitar pengorbanan mendingin, mereka semua mengenakan jubah biru yang terindah, dan, sambil duduk di tanah pada malam hari dekat bara api pengorbanan yang di atasnya mereka telah bersumpah, dan memadamkan semua api di sekitar kuil, mereka menerima dan memberi keputusan, bilamana mereka mempunyai dakwaan terhadap seseorang; dan, setelah memberi keputusan, pada saat fajar mereka menuliskan vonis hukuman di atas lembaran emas, dan menyimpannya beserta jubah mereka sebagai tanda peringatan. Terdapat banyak undang-undang khusus yang ditulis di sekitar kuil oleh beberapa raja, tapi undang-undang yang terpenting adalah: bahwa mereka tidak boleh mengangkat senjata terhadap satu sama lain, dan mereka semua akan datang menolong jika seseorang di kota berupaya menggulingkan keturunan raja. Seperti leluhur mereka, mereka berunding bersama mengenai perang dan persoalan lain, memberikan supremasi kepada keluarga Atlas; dan raja tidak mempunyai kekuasaan atas hidup dan mati sanaknya, kecuali kalau mendapat persetujuan mayoritas dari kesepuluh raja.

Demikian adalah kekuasaan luas yang ditempatkan oleh dewa di pulau Atlantis yang hilang; dan sesudah itu dia aturkan ini di tanah kami atas dalih berikut, sebagaimana disebutkan oleh tradisi kami: Selama bergenerasi-generasi, selama sifat suci bertahan dalam diri mereka, mereka patuh kepada undang-undang, dan berkasih-sayang terhadap para dewa, yang merupakan sanak mereka; sebab mereka memiliki jiwa yang besar dan sejati, mempraktekkan kelemah-lembutan dan kebijaksanaan dalam beragam kesempatan hidup, dan dalam pergaulan dengan satu sama lain. Mereka memandang rendah segala hal kecuali kebajikan, tidak mempedulikan keadaan hidup mereka, menganggap enteng tentang pemilikan emas dan kekayaan lain, yang kelihatannya hanya menjadi beban bagi mereka; mereka tak pernah dimabukkan oleh kemewahan, tidak pula kekayaan membuat mereka hilang kendali; justru mereka sederhana, dan mengerti dengan jelas bahwa semua kebaikan ini bertambah berkat persahabatan luhur dengan satu sama lain, dan karena semangat berlebihan untuk diri mereka dan kehormatan mereka, kebaikan mereka hilang, dan persahabatan itu musnah bersama mereka.

Melalui renungan demikian, dan melalui keberlangsungan sifat suci dalam diri mereka, semua yang telah kita gambarkan itu bertambah besar dan besar dalam diri mereka; tapi ketika bagian suci ini mulai memudar dalam diri mereka, dan menjadi tipis, dan dengan terlalu banyak campuran membahayakan, dan sifat manusia menguasai, sejak itu mereka tidak mampu memikul nasib baik mereka, menjadi tak layak, dan bagi orang yang mempunyai mata untuk melihat, mereka mulai tampak hina, dan telah kehilangan anugerah terindah mereka; tapi menurut orang yang tak punya mata untuk melihat kebahagiaan sejati, mereka masih tampak mulia dan menyenangkan pada saat-saat awal mereka dipenuhi dengan ketamakan dan kekuasaan jahat. Zeus, dewa para dewa, yang memerintah dengan hukum, dan mampu memahami hal-hal demikian, yang merasakan bahwa sebuah ras terhormat sedang berada dalam keadaan terendah, dan dia ingin menjatuhkan hukuman kepada mereka, agar mereka dapat tersucikan dan terperbaiki, mengumpulkan semua dewa ke tempat tinggal tersucinya, yang, berada di pusat dunia, melihat segala hal yang ambil bagian dalam setiap generasi. Dan setelah dia mengumpulkan mereka semua, dia berkata sebagai berikut:”

[Di sini kisah Plato tiba-tiba berakhir.]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s