Kisah Sepanjang Zaman Bag. 2: Nabi Adam as

Oleh: Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas
(Sumber: “Kisah Penciptaan dan Tokoh-tokoh Sepanjang Zaman”; diterjemahkan oleh Abdul Halim, Bandung: Pustaka Hidayah, Cet. I, Oktober 2002, hal. 73-98)

Ats-Tsa’labi di dalam kitabnya mengatakan, “Tatkala Allah menciptakan Adam as, Dia mewahyukan kepada bumi, ‘Sesungguhnya Aku akan menciptakan makhluk dari permukaanmu. Di antara mereka akan ada yang menaati-Ku dan ada pula yang mendurhakai-Ku. Barangsiapa menaati-Ku, maka Aku masukkan dia ke dalam surga; dan barangsiapa mendurhakai-Ku, maka akan Aku masukkan dia ke dalam neraka.’ Kemudian Allah mengutus Jibril as ke bumi untuk mengambilkan segenggam tanah darinya. Setelah Jibril mendatangi bumi, maka bumi bersumpah kepada Jibril dan berkata, ‘Aku berlindung kepada keagungan Allah Yang telah mengutusmu agar engkau tidak mengambil sesuatu dariku yang akan menjadi bagian neraka.’

Karena ucapan tersebut, Jibril as tidak jadi mengambil apa pun dari bumi dan dia kembali kepada Tuhannya seraya berkata, ‘Wahai Tuhanku, bumi telah berlindung kepada-Mu dariku. Aku merasa segan mengambil sesuatu darinya.’ Atas kejadian ini, Allah menyuruh kepada malaikat Mika’il untuk datang ke bumi dan mengambil segenggam tanah darinya. Bumi bersumpah kepadanya dan mengatakan seperti yang ia katakan kepada Jibril. Maka, Mika’il meluluskan sumpah bumi dan dia tidak mengambil apa pun darinya.

Selanjutnya, Allah mengutus ‘Izra’il. Setelah dia turun ke bumi dan menggertaknya dengan serangan, maka bersama ‘Izra’il ini si bumi berguncang keras. ‘Izra’il terus mengulurkan tangannya kepadanya. Akhirnya, bumi bersumpah kepadanya dan mengatakan seperti yang telah dikatakan kepada dua saudaranya (Jibril dan Mika’il). Izra’il berkata kepada bumi, ‘Perintah Allah lebih baik daripada sumpahmu.’ Lalu dia mengambil segenggam tanah dari keempat penjurunya, dari semua permukaannya, yang kuningnya, yang putihnya, yang merahnya, dari tanah datarnya, dari pegunungannya, dari daerah tingginya, dan dari daerah rendahnya. Kemudian segenggam tanah itu dibawa ke hadapan Allah.

Allah berfirman kepada ‘Izra’il, ‘Mengapa kamu tidak mengabulkannya, padahal ia (bumi) telah bersumpah kepadamu atas nama-Ku?’ Maka, ‘Izra’il menjawab, ‘Wahai Tuhanku, perintahmu lebih wajib ditaati dan ketakutan kepada-Mu lebih besar.’ Atas jawaban tersebut, Allah berfirman kepadanya, ‘Kalau demikian, engkau Aku jadikan sebagai Malakul Maut dan pencabut ruh makhluk.’ Sebelum ini tidak ada malaikat yang bertugas sebagai malaikat pencabut nyawa.”

Ats-Tsa’labi mengatakan bahwa setelah ‘Izra’il mengambil sesuatu darinya dan pergi, bumi menangis atas apa yang telah diambil darinya. Maka, Allah berfirman kepadanya, “Sesungguhnya Aku akan mengembalikan kepadamu atas apa yang telah diambil darimu.” Itulah firman Allah: Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain. (QS Thaahaa [20]: 55).

Kemudian Allah menyuruh ‘Izra’il untuk meletakkan segenggam tanah itu di pintu surga. Setelah genggaman itu diletakkan, Allah menyuruh kepada malaikat Ridhwan, juru kunci surga, untuk mengadonnya dengan air keselamatan. Lalu Allah menyuruh malaikat Jibril untuk membawa genggaman yang putih, yang merupakan jantung bumi. Dari genggaman putih tersebut diciptakan para nabi. Kemudian Dia mencampur tanah tersebut dengan air sehingga tanah itu menjadi adonan tanah yang besar.

Berkaitan dengan makna pernyataan ini, ada sebuah syair:

Wahai orang yang mengadukan kebingungan,
tinggalkanlah kebingungan itu dan tunggulah jalan keluar.
Waktumu berputar dari satu masa ke masa yang lainnya.
Janganlah engkau menentang bila di waktu subuh
engkau berada dalam kesedihan,
sebab, asal-usulmu hanyalah air dan tanah.

Setelah tanah itu diadon, ia dibiarkan selama 40 tahun sampai menjadi tanah yang lengket, kemudian dibiarkan selama 40 tahun berikutnya sampai tanah itu menjadi tanah kering seperti tembikar; lalu dari adonan tersebut dijadikan sebuah jasad yang berbentuk. Jasad itu dilemparkan ke jalan malaikat yang suka dipakai mereka naik dan turun. Ia dibiarkan selama 40 tahun terbuang dalam keadaan seperti itu. Allah berfirman: Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedangkan dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? (QS Al-Insaan [76]: 1). Ibnu Abbas ra mengatakan bahwa masa (al-hin) yang ada dalam ayat tersebut adalah 40 tahun.

Ats-Tsa’labi mengatakan bahwa setelah Allah membuat adonan tanah bahan baku Adam as, Dia menghujaninya dengan awan-awan kebingungan dan kesedihan selama 40 tahun, kemudian Dia menghujaninya dengan kebahagiaan dan kesenangan selama 1 tahun saja. Oleh karena itu, kebingungan lebih banyak daripada kesenangan, dan kesedihan lebih banyak daripada kebahagiaan.

Dalam makna ini ada seseorang yang menggubah syair berikut:

Apa perkaranya yang akan lebih menakjubkan daripada ini,
seandainya engkau memikirkan perputaran zaman.
Kejadian-kejadian yang membahagiakan hanya ditimbang
dengan satu timbangan,
sementara bencana ditakar dengan dua takaran.

Kemudian Allah menampilkan Adam as ke dalam sebuah wujud. Panjangnya 60 siku. Di dalamnya terdapat 360 urat, 240 urat syaraf, dan 12 persendian. Dalam kepalanya terdapat 7 lubang. Ia diberi 2 tangan, 2 kaki, dan lain sebagainya, kemudian Dia sempurnakan penciptaannya. Maka, Mahasuci-lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

Rasulullah saw bersabda, “Allah menciptakan Adam menurut bentuknya. Tingginya 60 hasta.” (HR Bukhari)

Abu Musa al-Asy’ari mengatakan, “Tatkala Allah menciptakan kemaluan Adam, Dia berfirman, ‘Ini adalah amanat-Ku untukmu. Janganlah sekali-kali engkau letakkan amanat-Ku ini kecuali ke dalam haknya.’”

Ibnu ‘Abbas ra mengatakan, “Allah mencipta dengan tangan-Nya tiga kali. Pertama, menciptakan Adam. Kedua, menciptakan Pohon Thuba. Dan ketiga, menciptakan Alwah (lembaran) yang di dalamnya tertulis Taurat.” Kata “tangan” merupakan ungkapan dari kekuasaan. Sesungguhnya perintah-Nya, apabila Dia menghendaki sesuatu, hanyalah Dia berkata kepadanya, “Jadilah!”, maka jadilah ia.

Ibnu ‘Abbas ra mengatakan bahwa setelah Adam as berbentuk tanah kering seperti tembikar, maka Iblis yang terkutuk datang kepadanya dan dengan tangannya dia memukul perut Adam. Dari pukulan tersebut, tempat kena pukulannya menjadi pusar. Pusar merupakan tanda dari pukulan Iblis. Penyebab si Iblis memukul perut Adam as adalah agar dia mengetahui apakah perut itu berlubang atau tidak. Setelah dia mengetahui perut itu berlubang, maka si Iblis masuk ke dalam perut Adam; kemudian dia melihat ke semua anggota badannya, lahir dan batinnya, dan semua uratnya, kecuali hatinya. Sebab, tidak ada satu pun yang bisa mengetahui kecuali Allah. Si Iblis terhalang untuk masuk ke hati karena hati itu merupakan Rumah Tuhan. Karena Iblis yang terkutuk masuk ke dalam sekujur tubuh Adam, maka dikatakan bahwa sesungguhnya setan mengalir dalam aliran darah.

Ibnu ‘Abbas ra mengatakan, “Tatkala Allah berkehendak untuk meniupkan ruh kepada Adam, maka Dia menyuruh ruh untuk masuk kepadanya dari kepalanya. Oleh karena itu, kepala suka disebut dengan Yafukh (ubun-ubun).”

Diriwayatkan bahwa ruh enggan untuk masuk kepada Adam. Ruh berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana aku akan masuk ke dalam tempat yang gelap?” Tuhan Yang Mahaagung lagi Mahamulia menyuruhnya sampai 3 kali; ia tetap menolak, tetapi kemudian ia masuk dengan terpaksa. Allah berfirman kepadanya, “Seandainya engkau masuk dengan penuh suka hati, tentu engkau akan keluar dengan suka hati pula. Akan tetapi, telah ada dalam ilmu-Ku sejak dahulu azali, engkau akan masuk dengan terpaksa dan akan keluar dengan terpaksa pula.”

Setelah ruh masuk ke dalam otak Adam, di sana ia berputar-putar selama 100 tahun, kemudian ia turun pada kedua mata Adam, dan akibatnya keduanya bisa melihat. Adam bisa melihat jasadnya yang berbentuk tanah kering seperti tembikar. Lalu ruh turun ke dua lubang hidung Adam; akibatnya dia bisa menghirup udara; lalu dia bernafas dan bersin. Berikutnya ruh turun ke bibir dan lisan Adam, dan Allah memberikan ilham kepadanya untuk memuji-Nya. Adam berkata, “Alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin” (Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam). Allah menjawab kepadanya, “Yarhamuka Rabbuka yaa Adam” (Semoga Tuhanmu mencurahkan rahmat kepadamu wahai Adam). Doa ini untukmu dan juga untuk keturunanmu.” Oleh karena itu, menjawab orang yang bersin itu disunnahkan. Diriwayatkan, setelah Adam memuji kepada Allah, Dia berfirman, “Wahai Adam, untuk inilah (memuji) Aku menciptakanmu.”

Berikutnya ruh turun ke dada Adam, lalu ke tulang rusuknya dan ke perutnya. Sehingga Adam bisa melihat ruh ketika ruh itu beralih. Ketika ruh pindah ke satu anggota badan, maka anggota badan itu berubah menjadi daging, tulang, ruh, dan darah. Setelah ruh sampai ke tumit Adam, dia tergesa-gesa untuk berdiri, tetapi dia tidak kuat melakukannya. Allah berfirman: Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa… (QS Al-Anbiyaa’ [21]: 37). Ketika ruh telah menyusupi jasadnya yang tersisa, Adam berdiri, bergerak, dan bergoyang-goyang. Sempurnalah penciptaan Adam dengan seizin Zat Yang bisa menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh.

Al-Hafizh Isma’il as-Sadi mengatakan, “Aku pernah membaca banyak hal di dalam kitab Injil. Di antara yang pernah kubaca adalah bahwa bilangan jam sehari semalam adalah 24 jam. Dalam rentang waktu tersebut anak cucu Adam bernafas sebanyak 30.000 kali. Dalam setiap jam, terjadi 1250 kali pernafasan.” Pelajaran ini termasuk hal-hal yang langka.

Al-‘Azizi mengatakan bahwa ruh masuk ke dalam jasad Adam pada hari Jumat ketika hari telah berlalu 7 jam, yaitu menjelang bagian akhir. Kemudian Allah mengenakan kepadanya pakaian sutera hijau dari surga, mengenakan mahkota yang terbuat dari emas yang bertatahkan permata dan memiliki 4 unsur. Dalam setiap unsurnya terdapat mutiara besar yang kilauan cahayanya bisa mengalahkan cahaya matahari. Cincinnya adalah cincin kemuliaan, sabuknya adalah sabuk keridhaan; kainnya adalah kain yang terbuat dari sutera hijau. Di keningnya tampak cahaya yang berkilau seperti sinar matahari, yaitu cahaya Muhammad saw.

Kemudian Allah menyuruh kepada para malaikat untuk mengangkat Adam di atas pundak-pundak mereka dan membawanya berkeliling di tujuh lapis langit. Para malaikat memikulnya dan membawanya berkeliling selama 100 tahun sampai dia melihat keajaiban-keajaiban yang terdapat di sana. Kemudian Allah menyuruh untuk meletakkan mimbar dari emas untuknya dan Dia mengajarkan kepadanya semua nama. Itulah firman Allah: Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya… (QS Al-Baqarah [2]: 31).

Kemudian Adam naik mimbar tersebut dan di tangannya ada tongkat yang terbuat dari cahaya. Hari itu adalah hari Jumat menjelang matahari terbenam. Dia berdiri dengan tegap dan semua malaikat telah dikumpulkan oleh Allah untuknya. Adam as bersabda, “Assalaamu ‘alaikum yaa Malaa’ikata Rabbii warahmatullaahi wabarakaatuh” (Wahai para malaikat Tuhanku, semoga keselamatan, rahmat, dan berkah Allah senantiasa bersama kalian). Para malaikat menjawab, “Wa ‘alaikas salamu yaa Shafwatallaahi warahmatullaahi wabarakaatuh” (Dan semoga keselamatan, rahmat, dan berkah-Nya juga senantiasa bersamamu, wahai pilihan Allah). Maka, Allah berfirman, “Hai Adam, itulah salam penghormatan untukmu dan keturunanmu hingga Hari Kiamat.”

Setelah khutbah (pidato) selesai, Adam berkata, “Alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin”. Tindakan ini kemudian menjadi sunnah di dalam khutbah. Jadi, orang yang pertama kali berkhutbah di atas mimbar pada hari Jumat adalah Adam.

Kemudian Allah mengemukakan nama-nama benda seluruhnya kepada para malaikat. Dia berfirman, “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!” (QS Al-Baqarah [2]: 31). Para malaikat menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami.” (QS Al-Baqarah [2]: 32). Allah berfirman, “Hai Adam, beritahukanlah kepada kepada mereka nama-nama benda ini!” Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman, “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?” (QS Al-Baqarah [2]: 33).

Wahab bin Munabbih mengatakan bahwa orang yang pertama kali menyebarkan salam adalah Adam as. Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa tidaklah suatu kaum menyebarkan salam kecuali kaum itu bakal selamat dari azab dan siksa.

Kemudian para malaikat berkata, “Wahai Tuhanku, apakah Engkau hendak menciptakan makhluk yang lebih baik daripada kami?” Allah menjawab, “Aku sendiri yang menciptakannya dengan tangan-Ku dan Aku katakan padanya, ‘Jadilah!’, maka dia jadi.” Lalu Allah memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam. Malaikat yang pertama sujud adalah Jibril, lalu Mika’il, Israfil, ‘Izra’il, dan berikutnya malaikat muqarrabin (semoga shalawat dan salam Allah curahkan kepada mereka semua).

Selanjutnya Allah menyuruh Iblis untuk bersujud kepada Adam. Ternyata si Iblis menolak dan enggan bersujud. Allah bertanya kepadanya, “Apa yang menghalangimu untuk bersujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku…” (QS Shaad [38]: 75). Si Iblis menjawab, “Aku lebih baik daripada dia karena Engkau telah menciptakanku dari api, sementara dia Engkau ciptakan dari tanah. Aku adalah yang telah beribadah kepada-Mu sekian lamanya sebelum Engkau menciptakan dia.”

Allah berfirman, “Aku telah mengetahui dalam ilmu-Ku yang terdahulu bahwasanya engkau bakal membangkang. Ibadahmu tidak akan ada manfaatnya untukmu. Keluarlah dari rahmat-Ku (surga) sebagai yang terhina lagi terusir. Benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahanam denganmu dan orang-orang yang mengikutimu.”

Pada saat itu, Iblis berkata, “Wahai Tuhanku, (kalau begitu) beri tangguhlah kepadaku sampai hari di mana manusia dibangkitkan.” Allah berfirman, “(Kalau begitu) sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang diberi tangguh.” (QS Al-Hijr [15]: 36-37 dan QS Shaad [38]: 79-80). Ketika itu, bentuk Iblis berubah, dia menjadi setan yang terkutuk. Sebelumnya dia bernama ‘Azazil dan merupakan salah satu di antara malaikat yang terpandang. Tidak ada satu tempat pun di langit maupun di bumi kecuali di tempat itu dia telah ruku dan sujud. Akan tetapi, karena kedurhakaannya, ibadahnya tidak berguna baginya. Dia diberi nama Iblis, karena dia berputus asa dari rahmat Allah. Abu Nuawwas menyindirnya dengan sebuah syair:

Aku heran kepada Iblis karena ketakaburannya
dan jeleknya niat yang ada dalam hatinya.
Dia sombong untuk sujud sekali saja kepada Adam.
Akhirnya, dia jadi mucikari bagi keturunannya (Adam).

Pertanyaan unik: “Mengapa Allah membinasakan musuh-musuh para nabi, tetapi Dia membiarkan Iblis, musuh Adam, tetap hidup?”

Jawab: Allah membiarkan Iblis tetap hidup untuk menguji makhluk. Rasulullah saw bersabda, “Seandainya Allah menghendaki untuk tidak dimaksiati, tentu Dia tidak menciptakan Iblis.” Alasan lain, Iblis dibiarkan hidup adalah untuk memberikan hukuman bagi orang-orang yang kafir dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Sebab, Allah mencintai mereka apabila mereka menentang Iblis. Lagipula, Iblis telah meminta kepada Tuhannya agar diberi tempo hingga Hari Kebangkitan.

Setelah Adam turun dari mimbar, dia duduk di antara para malaikat. Kemudian Allah menjadikan dia tertidur karena di dalam tidur itu ada ketenangan bagi badan. Ketika tidur, dia melihat Hawa di dalam mimpinya, padahal Hawa belum diciptakan. Dia tertarik kepadanya ketika melihatnya. Kemudian Allah keluarkan dari tulang rusuknya yang sebelah kiri. Dari tulang rusuk itu diciptakanlah Hawa sama seperti bentuk Adam. Allah menciptakan Hawa dengan seindah-indahnya dan memberikannya seribu keindahan bidadari. Maka, jadilah Hawa wanita tercantik di antara sekian wanita yang kemudian menjadi anak-anaknya hingga Hari Kiamat. Dia memiliki 700 kepangan rambut. Tingginya sebanding dengan Adam. Dia diberikan pakaian dan perhiasan dari surga sehingga dia sangat bersinar lebih terang daripada matahari.

Karena mimpi itu, Adam terbangun dari tidurnya dan ternyata dia mendapatkan Hawa telah berada di sampingnya dan membuatnya takjub. Adam terasuki syahwat kepadanya. Maka, dikatakan kepada Adam, “Janganlah engkau lakukan (mengumpulinya) sampai engkau membayar maskawinnya.” Adam bertanya, “Maskawinnya apa?” Allah menjawab, “Aku melarangmu mendekati pohon hinthah (gandum). Engkau jangan memakan buahnya. Itulah maskawinnya.”

Menurut sebuah riwayat, Allah berfirman, “Berikanlah dahulu maskawinnya.” Adam bertanya, “Maskawinnya apa?” Allah berfirman, “Maskawinnya adalah shalawat kepada nabi-Ku dan kekasih-Ku, yaitu Muhammad.” Adam bertanya, “Siapa gerangan Muhammad itu?” Allah berfirman, “Dia adalah salah satu dari anakmu. Dia adalah nabi terakhir. Seandainya tidak ada dia, tentu Aku tidak akan menciptakan makhluk.”

Selanjutnya, Allah mengusap punggung Adam. Dari Adam, Dia mengeluarkan keturunannya yang banyak sekali seperti debu. Ada yang putih, yang hitam; ada laki-laki dan ada juga wanita. Dia mengalirkan cahaya kepada mereka dari cahaya-Nya. Barangsiapa menangkap cahaya itu, maka dia menjadi orang yang beriman (Mu’min); dan orang yang tidak mengambilnya, akan menjadi kafir. Di antara mereka ada orang-orang yang mendapatkan cahaya yang berkilau. Adam bertanya, “Wahai Tuhanku, siapakah mereka itu?” Allah menjawab, “Mereka adalah para nabi dari keturunanmu, wahai Adam.”

Kemudian Allah mengawinkan Adam dengan Hawa. Itu terjadi pada hari Jumat menjelang sore hari. Oleh karena itu, disunnahkan akad nikah dilaksanakan di hari Jumat. Menurut sebuah riwayat, Adam itu lebih menawan daripada Hawa, tetapi Hawa lebih lembut. Kemudian Allah memerintahkan malaikat Ridhwan, juru kunci surga, untuk mendekorasi gedung dan mendandani wildan (anak-anak yang ada di surga) dan para bidadari. Adam diberi kuda yang diciptakan dari minyak kesturi yang sangat harum baunya, yang diberi nama Maimun, yang larinya cepat bagaikan kilat yang menyambar.

Ketika kuda itu sudah ada di hadapan Adam, maka Adam menungganginya. Dan Hawa diberi unta dari surga yang di atasnya ada haudah dari permata. Hawa naik ke haudah yang ada di atas unta itu. Selanjutnya, Jibril as memagang kendali kuda. Mika’il berjalan di sebelah kanannya dan Israfil di sebelah kirinya. Mereka membawanya jalan-jalan ke smua pelosok langit. Setiap kali melewati malaikat, Adam memberikan salam kepada mereka. Para malaikat berkata, “Betapa mulianya makhluk Allah ini.” Hawa ikut bersamanya, tetapi dia menunggangi unta. Para malaikat membawa mereka berkeliling sampai akhirnya mereka datang ke pintu surga. Mereka berhenti sejenak di depan pintu surga.

Allah mewahyukan kepada Adam, “Inilah surga-Ku dan rumah kemuliaan-Ku, masuklah kalian berdua ke dalamnya, dan makanlah kalian berdua makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kalian berdua sukai, dan janganlah kalian berdua dekati pohon ini, yang menyebabkan kalian berdua termasuk orang-orang zalim.” (QS Al-Baqarah [2]: 35).

Mereka berdua disaksikan oleh para malaikat; kemudian keduanya masuk ke dalam surga. Para malaikat membawa mereka berkeliling dan memperlihatkan tempat-tempat para nabi. Tatkala mereka berdua sampai ke surga Firdaus, mereka berdua melihat ranjang dari permata yang mempunyai 700 kaki dari yakut merah dan di atasnya ada kasur dari sutera hijau. Malaikat berkata, “Wahai Adam, tinggallah di sini bersama Hawa!” Maka, keduanya turun dan duduk di atas ranjang tersebut. Lalu mereka berdua disuguhi dua petikan anggur. Satu petikannya panjangnya sama dengan menempuh perjalanan sehari semalam. Mereka berdua makan, minum, dan bermain-main di taman surga. Apabila Adam ingin bersenggama dengan Hawa, maka dia masuk ke dalam kubah yang terbuat dari permata dan zabarjud. Mereka berdua ditutupi oleh satir yang terbuat dari sutera. Dan apabila Hawa berjalan-jalan di dalam istana, maka di belakangnya diiringi oleh bidadari yang tidak terhitung jumlahnya.

Ibnu as-Sunni mengatakan, “Buah-buahan surga yang pertama kali dimakan oleh Adam adalah nabq (rupanya seperti teratai).” Ibnu Abbas ra mengatakan, “Yang pertama kali dimakan oleh Adam adalah anggur dan buah-buahan surga; yang terakhir dimakan olehnya adalah gandum.” Seperti yang akan dijelaskan dalam bahasan selanjutnya, di surga, Adam suka meminum arak. Apabila dia meminumnya, maka dia mendapat kebahagiaan yang bertambah. Barangsiapa meminum arak dunia, maka dia tidak akan bisa meminum arak dari surga. Abu Nuwwas mengatakan:

Arak (merah) takkan bisa mengurangi kesedihan di sekitarnya.
Ketika orang yang meminumnya terkena marabahaya,
yang terasa olehnya adalah kebahagiaan.

Dia mengatakan, orang yang menanam gandum senantiasa tertimpa kepayahan dan kelelahan, baik dalam menanam maupun menuainya, hingga membuatnya menjadi tepung karena buah tersebut pertama kali dimakan secara durhaka.

Diriwayatkan bahwa makanan yang pertama kali dimakan oleh orang-orang Mu’min di surga adalah anggur. An-Naisaburi mengatakan, “Yang pertama kali dimakan oleh mereka adalah hati ikan yang memikul bumi sehingga penduduk surga tahu bahwa dunia telah musnah.” Dia mengatakan, di surga, Adam suka berkeliling-keliling. Ketika sampai ke tempat pohon hinthah (gandum), dia menjauhinya karena perjanjian yang telah dibuatnya dengan Allah untuk tidak memakan buah pohon itu. Pohon gandum ini merupakan pohon terbesar yang ada di surga. Tangkainya penuh dengan biji-bijian. Setiap bijinya seukuran kepala unta dan rasanya lebih manis daripada manisnya madu. Warnanya lebih putih dari susu.

Ketika Iblis mengetahui Adam dan Hawa masuk ke dalam surga dan dia tahu bahwa Adam dilarang memakan buah dari pohon gandum, dia datang mendekati pintu surga. Berdiri di sana sekitar 300 tahun dengan perhitungan waktu akhirat. Iblis menunggu yang datang ke arah pintu surga. Setelah beberapa lama, datanglah seekor burung berbulu indah bernama Thawus (burung merak). Burung itu merupakan raja burung yang ada di surga. Setelah melihatnya, si Iblis mendekatinya seraya berkata, “Wahai burung yang diberkahi, dari mana engkau datang?” Burung itu menjawab, “Dari kebunnya Adam.”

Si Iblis berkata, “Aku mempunyai nasehat untukmu dan aku ingin engkau membawaku masuk ke sana bersamamu.” Si burung berkata, “Mengapa engkau tidak masuk saja sendiri?” Si Iblis menjawab, “Aku ingin masuk secara sembunyi-sembunyi.” Si burung berkata, “Tidak ada cara untuk itu, tetapi aku bisa membawamu kepada yang bisa memasukkanmu secara sembunyi-sembunyi.” Maka, berangkatlah Thawus menuju seekor ular yang di surga tidak ada yang lebih indah bentuknya daripadanya. Kepalanya berasal dari yakut merah; kedua matanya berasal dari zabarjud hijau; lidahnya berasal dari kafur, dan posturnya seperti postur unta.

Thawus berkata kepadanya, “Di pintu surga ada seorang malaikat yang dimuliakan yang mempunyai nasehat untukmu.” Dengan cepat si ular datang kepadanya. Maka, si Iblis berkata, “Bisakah engkau memasukkanku ke dalam surga secara sembunyi-sembunyi, aku punya nasehat untukmu.” Si ular berkata, “Bagaimana cara mengakali malaikat Ridhwan?” Si Iblis berkata, “Bukakan mulutmu.” Si ular membuka mulutnya lalu Iblis masuk ke dalamnya dan berkata kepadanya, “Letakkan aku di dekat pohon gandum.” Kemudian si ular meletakkan Iblis di dekat pohon tersebut. Setelah keluar dari mulut ular, si Iblis mengeluarkan seruling dan membunyikannya.

Ketika Adam dan Hawa mendengar suara seruling itu, mereka berdua datang ke tempat suara itu untuk mendengarkannya. Ketika keduanya telah sampai ke tempat pohon gandum, si Iblis berkata, “Wahai Adam, mendekatlah ke pohon ini.” Adam berkata, “Aku dilarang mendekatinya.” Si Iblis berkata, “Tuhanmu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan agar kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).” (QS Al-A’raaf [7]: 20). Sebab, orang yang telah memakan buah dari pohon ini tidak akan menua dan tidak akan pikun.”

Lalu si Iblis bersumpah atas nama Allah bahwa pohon itu tidak akan membahayakan mereka berdua dan dia adalah orang yang memberikan nasehat kepada mereka berdua. Adam menyangka tidak akan ada satu pun yang berani bersumpah bohong atas nama Allah dan dia menyangka bahwa si Iblis termasuk yang memberikan nasehat. Semakna dengan ini ada sebuah syair berikut:

Sesungguhnya orang yang meminta nasehat kepada para musuh,
tentunya dia bakal diberi jawaban tipuan dan kerusakan.

Karena Hawa sangat ingin kekal berada di dalam surga, dia mendekati pohon tersebut dan memakan buahnya. Ketika Adam melihat Hawa telah memakannya dan ternyata selamat tidak terjadi apa-apa, Adam pun maju dan memakan buah itu setelah Hawa. Ketika buah itu sampai ke perutnya, maka hilanglah mahkota dari kepalanya dan lenyap juga perhiasan-perhiasannya.

(Pertanyaan): Mengapa ketika Hawa telah memakan buah pohon itu pakaiannya tidak terlepas saat itu juga, sementara ketika Adam memakannya, seketika itu juga pakaiannya terlepas?

(Jawab): Seandainya pakaian Hawa terlepas ketika itu juga, tentu Adam akan kembali dan tidak akan memakan buah pohon itu, Di samping itu, denda itu diberikan kepada orang yang bersangkutan karena perintah tersebut pertama kali diberikan kepada Adam. Sebagian ulama mengatakan bahwa Adam memakan sesuatu dari pohon itu ketika dia lupa. Allah berfirman: Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka dia lupa (akan perintah itu)….. (QS Thaahaa [20]: 115). Dalam hal ini ada sebuah syair berikut:

Sungguh aku telah melupakanmu,
lupa toh bisa dimaafkan.
Manusia yang pertama kali lupa
adalah manusia yang pertama.

Setelah Adam as memakan dari pohon tersebut, Allah memerintahkan kepada Jibril untuk menggenggam ubun-ubun Adam dan Hawa dan mengeluarkan mereka berdua dari surga. Lalu Jibril mengeluarkan mereka berdua dari surga dan keduanya dinyatakan telah bermaksiat. Diriwayatkan, setelah Adam dan Hawa memakan dari pohon itu, keduanya jadi telanjang. Lalu keduanya berkeliling mendekati pepohonan yang ada di surga untuk membuat penutup aurat dengan daun-daunnya. Ternyata pepohonan yang ada di surga menghindar dari mereka berdua. Hanya pohon Tin yang kasihan kepadanya. Pohon itu menutupi aurat Adam dengan daun-daunnya.

Menurut sebuah riwayat, yang menutupi aurat Adam adalah katu ‘ud (kayu gaharu berbau wangi). Oleh karena itu, Allah memuliakan kayu tersebut dengan bau yang wangi dan memuliakan pohon. Tin dengan buah manis yang tidak berbiji. Menurut riwayat lain, dengan kayu Hana’ (sejenis pohon pacar). Oleh karena itu, bekas yang ditinggalkan oleh pohon itu kelihatan baik dan membuat bahagia sehingga pohon tersebut disebut Hana’.

Ka’ab al-Ahbar mengatakan, “Setelah Adam telanjang, Allah mewahyukan kepadanya, ‘Datanglah kepada-Ku, Aku ingin melihatmu.’ Adam menjawab, ‘Wahai Tuhanku, aku tidak sanggup melakukannya. Sebab, aku malu kepada-Mu dan merasa hina.’” Dalam makna ini ada sebuah syair:

Dengan satu kesalahan dan satu dosa saja,
manusia terusir dari surga.
Maka bagaimana dengan beribu-ribu dosa
engkau berharap bisa masuk ke sana?

Dia mengatakan, kemudian Jibril memegang tangan Adam, sementara Adam dalam keadaan telanjang dan tidak memakai tutup kepala. Jibril turun membawa Adam ke bumi di hari Jumat menjelang matahari terbenam. Adam diturunkan di sebuah gunung yang ada di negeri India yang bernama Rahun.

Adapun Hawa, keindahan dan kecantikannya hilang. Dia dicoba dengan haid dan darinya diputuskan sebutan nasab. Akibatnya, keturunan yang lahir kemudian disebut dengan anak-anak Adam, bukan anak-anak Hawa. Sebabnya adalah karena dia bersama Iblis telah memperdaya Adam; dia lebih dahulu memulai memakan sesuatu dari pohon gandum itu.

Hawa diturunkan di dekat pantai laut asin di Jeddah. Allah berfirman: “Turunlah kamu sekalian; sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan.” (QS Al-A’raaf [7]: 24).

Adapun Iblis terlaknat, dia keluar dari tingkatan malaikat dan berubah menjadi setan yang terkutuk. Ketika diturunkan dari surga, dia turun di daerah Irak sekitar wilayah Bashrah. Ibnu ‘Abbas ra mengatakan, “Setelah Iblis diturunkan ke bumi, dia menikahkan diri dengan dirinya sendiri; lalu dia bertelur sebanyak empat. Telur-telur itu dia pisahkan di setiap penjuru dunia. Jadi, semua setan yang ada di muka bumi ini berasal dari telur itu.” Mujahid mengatakan, “Iblis menikah dengan ular yang dahulu di surga dia masuk ke dalam mulutnya, ketika ular itu diturunkan ke bumi. Kemudian ular itu bertelur sebanyak empat.”

Sementara Thawus (burung merak), permata dan sebagian kecantikannya hilang. Dia juga diturunkan ke bumi dan turun di tanah Babil. Menurut sebuah riwayat, ia diturunkan di tanah di Anthakiyah (Antioch, sebuah kota di Turki). Adapun ular, bentuknya berubah dan kemudian dia memiliki bisa. Penyebabnya adalah karena Iblis bersembunyi di bawah taringnya agar dia membawanya ke dalam surga. Si Iblis membuat lidah ular menjadi bisu dan berjalan merayap di atas perutnya. Dia diturunkan ke bumi Ishfahan.

Ibnu Abbas ra mengatakan bahwa Adam dan Hawa tinggal di surga selama setengah hari menurut perhitungan hari akhirat, yaitu seukuran 500 tahun menurut perhitungan dunia. Setelah Adam turun ke bumi, kepadanya Allah menimpakan tidur sehingga dia tertidur. Hal itu juga ditimpakan kepada semua yang ada di bumi, dari mulai binatang kecil, binatang liar, burung, dan semua makhluk yang bernyawa. Sebelum itu tidak dikenal adanya tidur. Hari ditimpakannya tidur itu disebut hari Sabtu.

Setelah matahari terbit menunjukkan siang, Adam melihat matahari berputar di atas ufuk. Dia merasa kagum atasnya. Ketika matahari mulai meninggi, sinarnya membakar Adam karena dia telanjang dan tidak berpenutup kepala. Jibril menghampirinya dan Adam mengadukan hal itu kepadanya. Maka, Jibril mengusap-usap kepala Adam dengan tangannya; maka tingginya berkurang kira-kira 35 siku.

Qatadah mengatakan, “Apabila Adam merasakan haus, dia minum dari air yang ada di awan.” Diriwayatkan bahwa ketika rambut Adam mulai tumbuh di kepalanya dan kuku-kukunya mulai memanjang, Jibril datang kepadanya seraya memotong rambut dan kukunya, kemudian rambut dan kukunya dikubur di dalam tanah. Dari timbunan tersebut, Allah menumbuhkan kurma. Oleh karena itu, dikatakan, “Muliakanlah paman-pamanmu, kurma.”

Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Adam tinggal di bumi selama 300 tahun dalam keadaan belum pernah mengangkat kepalanya ke langit karena malu kepada Allah. Dia terus-menerus menangis selama 200 tahun. Dari air matanya, tumbuh menjadi rerumputan dan menjadi minuman burung-burung dan binatang-binatang liar. Kemudian Adam mengadu kepada Jibril tentang persoalan telanjang dan panasnya matahari. Lalu Jibril pergi menemui Hawa dengan membawa kibas dari surga. Dia potong bulunya; kemudian dia serahkan bulu tersebut kepada Hawa. Dia ajrkan Hawa bagaimana cara memintal wol. Setelah melihatnya, Hawa bisa memintalnya.

Lalu Jibril mengajarkan kepada Hawa bagaimana cara menenunnya. Ditenunnya wol itu menjadi sebuah mantel. Hasil mantelnya dibawa oleh Jibril pergi kepada Adam dan dipakaikan kepadanya untuk menutup badannya. Jibril tidak mengatakan bahwa mantel tersebut buatan Hawa. Berikutnya, Adam mengadu karena lapar. Sebab, dia telah tinggal selama 40 tahun belum pernah makan dan minum. Jibril pergi dan datang lagi dengan membawa dua kerbau dari surga. Yang satu berwarna hitam; satunya lagi berwarna merah. Jibril mengajarkan kepadanya bagaimana cara mengolah tanah. Setelah diajari, mulailah Adam membajak. Kemudian Jibril membawakan segenggam benih gandum dan mengajarkan bagaimana cara menanamnya. Setalah tahu, mulailah Adam menanamnya.

Ketika Adam sedang sibuk membajak tanah, tiba-tiba salah satu dari dua kerbau itu diam. Adam memukulnya dengan pecut yang ada di genggaman tangannya. Allah menjadikan kerbau itu bisa berbicara sehingga ia berbicara kepada Adam, “Mengapa engkau memukulku?” Adam menjawab, “Karena engkau membangkang kepadaku.” Dengan tenang, kerbau itu berkata kepada Adam, “Betapa lembutnya Allah kepadamu karena Dia tidak memukulmu ketika engkau membangkang kepada-Nya.”

Akibat omongan kerbau ini, Adam menangis seraya berkata, “Wahai Tuhanku, semua benda mengejekku hingga binatang-binatang sekalipun.” Atas kejadian ini, Allah menyuruh Jibril untuk mengusap lisan binatang agar tidak bisa berbicara. Dahulunya, sebelum Adam diturunkan ke bumi, binatang-binatang bisa berbicara.

Setelah Adam menanam, seketika itu juga gandum itu tumbuh, bertangkai, dan pada hari itu juga berbuah. Kemudian Adam diajari bagaimana cara memanen. Setelah tahu, dia mulai memanen, menebah, dan menampi di udara. Adam berkata kepada Jibril, “Apakah aku sudah bisa makan?” Jibril menjawab, “Sabar.” Kemudian Jibril mengambil dua buah batu dari gunung; kemudian dipakainya batu itu untuk menggiling sampai gandum itu menjadi tepung. Adam berkata kepada Jibril, “Apakah aku sudah bisa makan?” Jibril menjawab, “Sabar.” Lalu Jibril pergi dan membawakan sepercik api dari neraka Jahannam setelah merendamnya di dalam air sebanyak tujuh kali. Sebab, kalau tidak, tentu percikan api itu membakar bumi dan makhluk yang ada di sana.

Kemudian Jibril mengajarkan kepada Adam cara membuat roti. Setelah tahu, mulailah Adam membuat roti. Lalu Adam berkata kepada Jibril, “Apakah aku sudah bisa makan?” Jibril menjawab, “Sabar hingga matahari terbenam; sempurnakanlah puasamu.” Dengan demikian, Adam adalah orang pertama yang berpuasa di muka bumi ini. Setelah matahari terbenam, Adam meletakkan roti di antara dua tangannya. Dia ulurkan tangannya untuk memotong roti. Ternyata roti itu terlempar dari antara dua tangannya dan jatuh dari puncak gunung ke bawah. Adam mengikutinya; kemudian dia mengambilnya. Maka, Jibril berkata kepadanya, “Seandainya engkau bersabar, tentu roti akan datang kepadamu tanpa engkau menghampirinya.”

Diriwayatkan bahwa setelah Adam memakan beberapa potong dari roti tersebut, dia menyimpan potongan roti untuk malam berikutnya. Jibril berkata kepadanya, “Seandainya engkau tidak melakukan hal itu, tentu tidak akan ada anak cucumu yang menyimpan (sesuatu untuk waktu yang akan datang).” Karena Adam melakukannya, maka hal itu menjadi kebiasaan anak cucu Adam.

Menurut sebuah riwayat, setelah Adam memakan roti tersebut, dia merasa haus, dan kemudian diberi minum air. Kemudian dalam badannya dia merasakan sesuatu yang aneh yang belum pernah terjadi sebelumnya. Setelah Jibril datang kepadanya, dia mengadukan hal itu. Kemudian Jibril membuat sobekan dari dubur dan kubulnya. Seketika itu juga Adam buang air besar dan air kecil.

Ibnu ‘Abbas ra mengatakan, “Apabila Adam lapar, dia lupa kepada Hawa; dan apabila kenyang, dia mengingatnya. Suatu hari, dia berkata kepada Jibril, ‘Wahai Jibril, apakah Hawa masih hdiup ataukah sudah mati?’ Jibril menjawab, ‘Dia masih hidup dan keadaannya lebih baik daripada engkau. Sebab, dia berada di pinggir laut (pantai), dia bisa mencari ikan dan memakannya.’ Adam berkata, ‘Hai Jibril, aku melihatnya dalam mimpiku malam tadi.’ Jibril berkata, ‘Wahai Adam, bergembiralah! Allah memperlihatkan Hawa kepadamu semata-mata karena hal itu menunjukkan sebentar lagi engkau bakal berkumpul bersamanya.’”

Ibnu ‘Abbas ra mengatakan, “Setelah hari-hari ujian untuk Adam as telah berakhir dan dia telah bertobat, Allah menerima tobatnya. Itulah firman Allah: Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (QS Al-Baqarah [2]: 37).

Sebagian ulama mengatakan, Adam diberi ilham oleh Allah untuk mengatakan: “Wahai Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS Al-A’raaf [7]: 23).

Menurut sebuah riwayat, Adam berkata, “Wahai Tuhanku, dengan hak Muhammad, ampunilah kesalahanku.” Allah berfirman kepadanya, “Bagaimana engkau mengetahui Muhammad, padahal Aku belum menciptakannya?” Adam menjawab, “Setelah Engkau menciptakanku, aku mengangkat kepalaku; lalu aku melihat tertulis di atas penyangga-penyangga Arasy, ‘Laa ilaaha illallaah Muhammadur Rasuulullaah’ (tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah). Maka, aku yakin bahwa Engkau tidak akan menyandingkan nama-Mu kecuali dengan nama makhluk yang paling Engkau cintai.” Allah berfirman, “Hai Adam, engkau benar, dan Aku telah memaafkan kesalahan-kesalahanmu karena engkau meminta ampun kepada-Ku dengan hak Muhammad.”

Selama 300 tahun Adam memanjatkan doa tanpa henti demi memohon ampunan. “Ya Allah, ampunilah kami, demi menjunjung tinggi cahaya Muhammad yang kami tanggungkan.” Permohonan ini dijawab oleh Allah, “Hai Adam, siapakah yang mengajarimu tentang nilai cahaya yang kau tanggungkan itu?” Adam as menjawab, “Ya Allah, setelah Engkau memberiku ruh dan mengajariku tentang seluruh nama dan panggilan, ke arah mana pun aku menyaksikan bahwa nama dan panggilan wujud tersebut ada di samping Asma dari Substansi Diri-Mu Yang Mahasuci. Sehingga aku sadar bahwa dialah alasan penciptaan dunia ini. Dialah pemberi syafaat mutlak. Dengan demikian, aku tahu bahwa cahaya yang kubawa serta adalah cahaya Muhammad yang mulia dan Engkau cintai. Karena dia adalah rahmat bagi semesta alam, maka Muhammad adalah rahmat untukku juga. Itulah mengapa aku mohon kiranya Engkau berkenan mengampuni kami, demi menjunjung tinggi cahaya itu.”

Sebagai penegasan kemudian Adam as mendengar Allah swt berfirman kepadanya, “Walaupun dosa seseorang itu sebanyak butir-butir pasir di seluruh bumi ini, walaupun sebesar gelombang di samudera, dan sebanyak atom di alam semesta ini, Aku akan mengampuninya meskipun dia adalah orang paling rendah di antara hamba-hamba-Ku dan bukan nabi sebagaimana engkau, asal saja dia memohon ampunan-Ku demi menjunjung tinggi Muhammad-Ku dan memohon syafaat dari dia yang Aku cintai. Aku akan mengangkat hamba yang paling rendah.”

Ats-Tsa’labi mengatakan, “Kemudian Allah mewahyukan kepada Adam, ‘Pindahlah dari negeri Hindi (India) ke Mekkah; thawaf-lah di sekitar tempat Baitullah dan mintalah pengampunan dari-Ku, tentu Aku akan mengampuni kesalahanmu.’”

Diriwayatkan bahwa Allah Ta’ala menurunkan yakut merah dari surga; besarnya sebesar Ka’bah. Jatuhnya di tempat batu karang putih yang menjadi sumber memanjangnya bumi. Di dalamnya ada lilin-lilin yang menyinarkan cahaya. Kemudian Allah mengutus seorang malaikat kepada Adam untuk menuntun dan menunjukkan ke jalan menuju Mekkah; bersamaan dengan itu, untuknya Dia menurunkan tongkat dari pohon kayu As, salah satu jenis pepohonan di surga yang panjangnya 20 siku.

Adam berjalan dan bumi dilipatkan untuknya. Setiap tempat yang terinjak oleh kakinya menjadi sebuah kampung. Dan setelah Adam memasuki Mekkah, Allah mewahyukan kepadanya untuk thawaf di tempat yang akan menjadi Baitullah tersebut. Dia mengerjakan thawaf sebanyak 7 kali tanpa memakai penutup kepala dan bertelanjang. Itulah sunnahnya ibadah haji. Setelah Adam mengerjakan itu, Allah mengampuni kesalahannya dan menerima tobatnya. Thawafnya menjadi pelebur dosa. Dalam makna ini ada sebuah syair:

Kehinaan untuk Iblis;
Sungguh, kami telah memperoleh pembebeasan dari-Nya.
Dan di dalam thawaf kami
terdapat marabahaya yang akan menimpanya.

Rasulullah saw bersabda, “Iblis terlaknat berkata, ‘Wahai Tuhanku, sesungguhnya hamba-hamba-Mu itu mengherankan. Mereka mencintai-Mu dan bermaksiat kepada-Mu; mereka benci kepadaku dan menaatiku.’ Maka Allah berfirman kepadanya, ‘Demi keagungan dan kemuliaan-Ku, pasti Aku jadikan kecintaan mereka terhadapu-Ku sebagai pelebur ketaatan terhadapmu, dan kebencian mereka terhadapmu sebagai pelebur kemasiatan terhadap-Ku.'”

Setelah Adam bertobat, dia disuruh Allah untuk pergi ke Arafah. Adam pun pergi ke Arafah dan berdiam di sana. Tiba-tiba Hawa berjalan ke arah Adam. Mereka berkumpul di gunung tersebut. Sejak saat itu, diam (wuquf) di gunung tersebut dijadikan salah satu bagian dari ritus ibadah. Tempat tersebut diberi nama Arafah karena Adam dan Hawa saling kenal di tempat itu. Kemudian Adam tinggal sebentar di Mekkah, dan kemudian pergi ke tanah Hindi (India) bersama Hawa.

Menurut sebuah riwayat, perpisahan antara Adam dan Hawa terjadi selama 500 tahun. Diriwayatkan, setelah Adam terusir dari surga, dia memakai penutup dengan daun surga. Setelah tinggal di bumi, daun tersebut mengering dan bertebaran di atas bumi. Jadi, semua wewangian yang ada di tanah Hindi (India) penyebabnya adalah tebaran daun tersebut. Diriwayatkan bahwa Allah menurunkan kepada Adam delapan binatang yang berpasangan, sepasang dari domba dan sepasang dari kambing. Dia disuruh untuk minum dari susu-susunya dan membuat pakaian dari bulu-bulunya.

Adam dan Hawa menangis atas nikmat surga yang hilang, sampai dari air mata mereka tumbuh Himmas (nama tumbuhan, chick pea-Inggris) dan Ful (tanaman kacang Brul). Diriwayatkan bahwa Adam as mengadu kepada Allah. Dia berkata, “Wahai Tuhanku, aku tidak tahu waktu-waktu untuk beribadah.” Atas pengaduan ini, Allah menurunkan sebuah ayam jantan sebesar kerbau yang besar, warnanya putih. Apabila ayam tersebut mendengar para malaikat bertasbih di langit, maka ia bertasbih di bumi. Dari tasbih ayam jantan itu, Adam tahu bahwa itulah waktu-waktu ibadah.

Selanjutnya, Adam menanam pepohonan, menggali sumur, dan membuat rumah. Lalu Allah menurunkan 21 sahifah (lembaran) yang memuat keterangan haramnya bangkai, darah, daging babi, dan lain sebagainya. Bersamaan dengan itu, diturunkan juga huruf-huruf hijaiyah (alfabet) yang berjumlah 29. Huruf-huruf tersebut dipelajari oleh Adam agar bisa membaca shuhuf (lembaran-lembaran). Tidak ada satu pun yang mampu menambah satu huruf pun ke dalam shuhuf tersebut. Sebab, hukum Tuhan itu pasti dan sempurna.

Ats-Tsa’labi mengatakan, setelah Hawa mengandung benih dari Adam, pada suatu waktu janin yang ada dalam perutnya bergerak-gerak. Hawa kaget dan berkata, “Lewat mana keluarnya yang bergerak-gerak ini dari perutku?” Tatkala datang waktunya melahirkan, Hawa melahirkan dua anak (kembar); laki-laki dan perempuan. Kemudian yang laki-laki diberi nama Habil dan yang wanita diberi nama Layutsa. Ketika masa melahirkan telah habis dan Hawa telah suci kembali, Adam ingin bersenggama lagi, tetapi Hawa menolak karena dia telah tahu sakitnya melahirkan. Ada terus-menerus membujuknya hingga dia bisa melakukannya.

Menurut sebuah riwayat, Hawa menolak melakukan senggama padahal dia menginginkannya karena dia merasa takut terhadap urusan melahirkan.

Selanjutnya, Hawa mengandung untuk yang kedua kalinya. Dari kandungan ini dia melahirkan anak laki-laki dan anak perempuan. Keduanya diberi nama Qabil dan Iqlima. Menurut sebuah riwayat, jumlah anak yang dilahirkan oleh Hawa berasal dari 20 kandungan. Dalam setiap kandungan ada dua anak, laki-laki dan perempuan. Jadi, dia memiliki 40 anak, laki-laki dan perempuan. Menurut sebah riwayat lain, dia memiliki 100 anak. Dalam setiap kandungan, dia belum pernah melahirkan satu anak, kecuali Syits yang di keningnya terdapat cahaya al-Musthafa saw (Muhammad saw).

Diriwayatkan bahwa anak-anak Adam selama Adam hidup terus-menerus melahirkan keturunan hingga jumlahnya mencapai sekitar 40.000 laki-laki dan perempuan. Itulah firman Allah: …..Yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan darinya Allah menciptakan istrinya dan dari keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak….. (QS An-Nisaa’ [4]: 1). Diriwayatkan, ketika keturunan Adam kian membanyak, satu sama lain mulai bertengkar. Maka Allah menurunkan tongkat dari surga kepada Adam untuk dipakai mendidik anak-anaknya ketika mereka menentangnya. Oleh karena itu, dikatakan bahwa tongkat itu berasal dari surga.

Ats-Tsa’labi mengatakan, setelah Qabil tumbuh menjadi besar, dia diserahi tanggung jawab oleh Adam untuk mengurusi pertanian, sedangkan urusan peternakan domba diserahkan kepada Habil. Kemudian Allah mewahyukan kepada Adam untuk mengawinkan Iqlima dengan Habil, Layutsa dengan Qabil. Akan tetapi, Qabil menolak untuk menikah dengan Layutsa. Dia berkata, “Aku tidak akan kawin kecuali dengan Iqlima karena dia dilahirkan bersamaku dalam satu kandungan. Aku lebih mencintainya daripada saudara sekandung Habil.” Pada waktu itu, menikahi saudara perempuan diperbolehkan untuk memperbanyak keturunan.

Atas perkataan Qabil ini, Adam berkata, “Wahai anakku, janganlah engkau menentang Allah dalam urusan yang telah diperintahkan oleh-Nya kepadaku.” Qabil berkata, “Aku tidak akan membiarkan saudara laki-lakiku untuk mengambil Iqlima (sebagai istrinya).” Maka, Adam berkata, “Pergilah engkau bersama saudara laki-lakimu (Habil); lalu persembahkanlah kurban kepada Allah. Kurbankanlah barang yang terbaik yang ada pada kalian, kemudian kelian diam dan tunggulah. Siapa yang kurbannya diterima, paling berhak mendapatkan Iqlima.”

Maka, keduanya setuju. Mereka berdua pergi dan berangkat menuju Mekkah. Sesampainya di sana, mereka berdua naik ke gunung yang ada di sana. Habil mengurbankan domba yang paling bagus, sementara Qabil mengurbankan gandum yang paling jelek, sudah terlepas dari tangkainya. Qabil dan Habil diam dan menunggu apa yang akan terjadi kepada mereka. Tidak lama kemudian, dari langit turun awan putih. Awan tersebut mendekati kurban dari Qabil, tetapi kemudian berpaling darinya, lalu ia condong kepada kurban dari saudaranya, Habil. Selanjutnya, awan itu mengambil kurban Habil tersebut, lalu naik membawanya ke langit.

Itulah firman Allah: …..maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Dia (Qabil) berkata, “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa.” “Sungguh, kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam.” (QS Al-Maa’idah [5]: 27-28).

Qabil berkata kepada saudaranya (Habil), “Seandainya engkau mengambil Iqlima, pasti aku akan membunuhmu. Aku tidak akan meninggalkan saudara perempuan kandungku yang cantik, dan aku tidak akan mengambil saudara perempuan sekandungmu yang jelek.” Qabil berniat membunuh Habil, tetapi dia masih bingung bagaimana cara membunuhnya. Dalam keadaan demikian, si Iblis terlaknat datang kepadanya dalam bentuk salah seorang saudaranya. Kemudian dia mengambil dua buah batu dari tanah dan memukulkan yang satu kepada yang lainnya. Akibatnya batu terbelah dua.

Qabil melihatnya seraya berkata, “Mengapa tidak aku praktekkan hal itu kepada Habil.” Ketika waktunya tiba, Qabil pergi mendatangi Habil dan dia mendapatinya sedang tidur di bawah sebuah gunung. Kemudian Qabil mengambil sebuah batu. Dia bawa batu itu dan kemudian dia lemparkan ke kepala saudaranya. Batu tersebut mengenai Habil dan membuatnya mati terbunuh. Dialah, Qabil, anak Adam yang pertama kali melakukan tindakan pembunuhan. Ketika itu, dia berumur 20 tahun. Setelah membunuh Habil, Qabil bingung harus diapakan saudaranya itu. Kemudian mayat Habil dia masukkan ke dalam sebuah wadah (sejenis kantong); dia pukul di atas pundaknya dan dibawa berkeliling ke berbagai tempat. Ketika itu, binatang-binatang buas dan burung berkeliling di sekitarnya, menunggu kapan dia meninggalkannya, untuk memakannya.

Sampai akhirnya Allah mengutus dua ekor gagak kepada Qabil. Salah satu dari dua gagak itu membunuh yang lainnya. Setelah membunuhnya, gagak yang membunuh menggali tanah dengan paruh dan cakarnya. Lalu kawannya yang terbunuh ia letakkan dalam lubang galian tersebut dan kemudian ditimbun kembali dengan tanah. Ketika itu Qabil berkata: “’Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini; lalu aku dapat menguburkan mayatk saudaraku ini?’ Karena itu, jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal.” (QS Al-Maa’idah [5]: 32).

Sebagian ulama tafsir mengatakan bahwa Qabil tidak menyesal karena telah membunuh, tetapi dia menyesal karena membawa mayatnya, harus dibawa ke mana mayat saudaranya itu. Menurut sebuah riwayat, Qabil membawa-bawa mayat itu selama setahun dan dia tidak tahu harus dibagaimanakan mayat saudaranya itu.

Pengarang kitab Mir’at az-Zaman mengatakan bahwa para ahli nujum mengatakan bahwa bintang berekor belum pernah muncul di dunia kecuali ketika terbunuhnya Habil, Ibrahim al-Khalil dilemparkan ke dalam api, hancurnya kaum ‘Ad, dan tenggelamnya Fir’aun. Dan semenjak itu belum pernah muncul lagi kecuali ketika muncul kejadian seperti menyebarnya wabah penyakit atau terbunuhnya seorang raja. Bintang tersebut pernah muncul di awal perkembangan Islam, ketika Perang Badar Kubra, ketika terbunuhnya Utsman bin Affan, terbunuhnya Ali bin Abi Thalib. Demikianlah menurut penelitian. Wallahu a’lam.

Ats-Tsa’labi mengatakan, setelah Habil terbunuh, bumi berguncang. Itulah guncangan yang pertama kali terjadi di muka bumi. Di waktu itu, bumi berguncang sebanyak 7 kali hingga tujuh hari sejak terbunuhnya Habil. Pada saat itu, terjadi gerhana matahari. Itulah gerhana matahari pertama yang terjadi di dunia. Ats-Tsa’labi menambahkan, setelah Habil terbunuh, dalam beberapa jenis pohon tumbuh duri; rasa buah-buahan berubah, dan rasa air ada yang menjadi asin. Ketika itu, Adam berada di tanah Hindi (India). Dia tidak mengetahui anak tercintanya (Habil) terbunuh.

Ibnu ‘Abbas ra mengatakan, setelah Qabil membunuh saudaranya, Habil, di Gunung Qasiyun, bumi menelan darahnya. Kemudian Allah bertanya kepada Qabil, “Di mana saudaramu?” Qabil menjawab, “Saya tidak tahu.” Maka, Allah berfirman kepadanya, “Sesungguhnya darah saudaramu mengatakan dari bumi bahwa engkau telah membunuhnya.” Qabil bertanya, “Wahai Tuhanku, di mana darahnya?” Maka, sejak saat itu Allah mengharamkan bumi untuk menyerap semua jenis darah. Ketika Adam merasakan kesumpekan dalam dadanya, dia pergi ke tanah tersebut untuk mengetahui apa yang telah terjadi di sana. Setelah sampai ke tempat anak-anaknya, dia tahu bahwa anaknya, Habil, telah terbunuh.

Selanjutnya, Qabil mengambil domba-domba Habil dan menikah dengan Iqlima. Ketika Adam datang kepadanya, dia kabur. Kemudian dia pindah ke tempat lain karena takut kepada bapaknya.

Ibnu ‘Abbas ra mengatakan, setelah Adam merasa yakin anaknya telah terbunuh, dia menangis. Begitu juga Hawa. Ketika telah mengetahui kejadian itu, dia berteriak. Dan tahun itu menjadi tahun musibah bagi anak-anak mereka. Adam meratapi anaknya dengan syair berikut:

Negeri dan orang yang ada di atasnya telah berubah,
sebab permukaan bumi berdebu dan jelek.
Semua yang berasa dan berwarna berubah,
dan keceriaan wajah yang manis berkurang.
Bagaimana aku tidak meratapi darah yang tertumpah,
sementara mata tidak bisa tidur dan terluka.
Qabil telah membunuh Habil, saudaranya.
Oh, betapa malangnya wajah yang tampan.

Inilah syair yang pertama kali digubah di muka bumi. Para pakar sejarah sepakat akan kebenaran syair tersebut dari Adam as, kecuali Syaikh Abu al-Faraj Ibn al-Jauzi. Menurutnya, Adam tidak pernah melantunkan syair. Salah satu bukti yang menguatkannya adalah bahwa Adam itu termasuk orang yang menggunakan bahasa Suryani. Seandainya benar syair tersebut berasal dari Adam, maka sebetulnya bait-bait syair tersebut adalah kalimat-kalimat Suryani, dan kemudian diarabkan menjadi bait-bait syair.

Ats-Tsa’labi mengatakan, setelah Adam mengetahui Habil terbunuh, selama setahun dia tidak tertawa dan tidak bergaul dengan Hawa. Maka, Allah berfirman kepadanya, “Hai Adam, sampai kapan tangisan dan kesedihan ini? Sesungguhnya Aku akan memberikan pengganti dari anak itu untukmu dengan anak yang terpercaya dan akan menjadi nabi, dan dari keturunannya akan Kujadikan para nabi hingga Hari Kiamat. Tandanya adalah dia akan dilahirkan sendirian, tidak mempunyai saudara sekandung. Apabila lahir anak itu, namailah dia Syits.” Dalam bahasa Suryani nama tersebut (Syits) berarti hamba Allah.

Ketika Hawa mengandung anak itu, kandungannya tidak terasa berat dan dia melahirkannya tidak merasa payah. Hawa melahirkan Syits setelah seratus tahun terjadinya pembunuhan Qabil terhadap Habil.

Ats-Tsa’labi menceritakan bahwa setelah Syits terlahir dan tumbuh besar, Adam mengasingkan diri beribadah kepada Tuhannya dan membaca Shuhuf. Syits-lah yang mengurus urusan saudara-saudaranya dan memutuskan persoalan yang ada di antara mereka. Ketika Adam tenang beribadah kepada Allah, tiba-tiba Allah memberi wahyu kepadanya, “Hai Adam, nasihatilah anakmu, Syits, dengan sesuatu yang Aku nasihatkan kepadamu. Sebab, Aku akan merasakanmu kepada kematian yang telah Aku tuliskan untukmu dan untuk anak-anakmu hingga Hari Kiamat.”

Mendengar firman tersebut, Adam kaget dan berkata, “Apa kematian yang telah Engkau janjikan kepadaku itu?” Kemudian Adam mendatangi Syits. Dia memberikan wasiat kepadanya tentang berbagai hal. Dia memberitahukan kepadanya tentang terjadinya topan dan kehancuran alam; dia mengajarkan kepadanya tentang waktu-waktu ibadah dalam sehari semalam. Dia mengeluarkan seutas tali dari sutera yang memuat gambaran para nabi dan orang-orang yang menguasai dunia. Tali tersebut diturunkan kepada Adam dari surga; kemudian dia memberikannya kepada Syits dan menyuruhnya untuk dilipat dan disimpan di dalam tabut (sejenis peti) yang harus terkunci.

Lalu Adam mencabut beberapa lembar rambut dari janggutnya dan meletakkannya ke dalam tabut tersebut sambil berkata, “Hai anakku, ambillah rambut-rambut ini; bawalah bersamamu ketika menghadapi urusan yang penting. Rambut-rambut tersebut akan membantumu mengalahkan musuh-musuhmu, selama ada bersamamu. Apabila engkau melihat rambut-rambut tersebut memutih, maka ketahuilah bahwa ajalmu telah dekat dan engkau akan meninggal pada tahun itu. Kemudian Adam mencopot cincinnya dan memberikannya kepada Syits serta menyerahkan tabut dan shuhuf yang telah diturunkan kepadanya.

Adam berkata, “Wahai anakku, perangilah saudaramu, Qabil. Sesungguhnya Allah akan menolongmu untuk mengalahkannya.” Demikianlah wasiat terakhir yang disampaikan oleh Adam kepada anaknya, Syits. Diriwayatkan, semenjak Adam diturunkan ke bumi, dia hidup berumur 1.000 tahun. Dalam makna ini, seorang penyair mengatakan:

Engkau mengharapkan kekal di tempat yang tidak kekal.
Pernahkah engkau mendengar kenikmatan
yang tidak pernah berubah?
Aku telah merasakan sulit dan senangnya perjalanan waktu.
Akan tetapi, aku tidak mendapat cita-cita dan manisnya hidup.

Sumber tambahan:
1. Dyayadi, “Misteri Penciptaan Hawa”, Yogyakarta: Surya Media, Cet. I, September 2008, hal. 32.
2. Syaikh Muzaffer Ozak al-Jerrahi, “Allah, Nabi Adam, dan Siti Hawa” (diterjemahkan oleh Luqman Hakim), Bandung: Pustaka Hidayah, Cetakan I, Juli 2009, hal. 101-102.

One thought on “Kisah Sepanjang Zaman Bag. 2: Nabi Adam as

  1. Mungkin pembaca mengira ada banyak hal yang menyimpang di blog ini, termasuk artikel (dari buku) di atas yang menyebutkan “alasan penciptaan” dan “nur Muhammad”. Jujur kami tidak berkompeten untuk menjelaskan poin tersebut. Pun demikian, maksud kami mengutip artikel tersebut bukan berarti menyetujuinya.

    Bila pembaca perhatikan di atas, ada satu struktur kalimat yang terlalu janggal untuk dicerna: Allah berfirman, “Dia adalah salah satu dari anakmu. Dia adalah nabi terakhir. Seandainya tidak ada dia, tentu Aku tidak akan menciptakan makhluk.”

    Kalimat tersebut, andai benar diucapkan kepada Adam, itu malah menyimpangkan keesaan Allah. Penggunaan kata “seandainya” dan penunjukkan kata “dia” kepada wujud Muhammad yang tak pernah sekalipun diketahui oleh Adam (Adam adalah makhluk, tentu saja, sebagaimana dalam kalimat tersebut), identik dengan meyakini bahwa Muhammad [selalu ada] [sejak awal], bersama Allah.

    Mungkin ada banyak yang tak setuju dengan pemaparan sederhana ini. Tujuan kami membuat blog Sainstory, sama sekali bukan untuk menyimpangkan manusia, juga bukan untuk kepentingan sesaat. Kami pikir, apa yang kami tampilkan di situs ini adalah untuk mengasah cara berpikir dalam memikirkan penciptaan. Dan kami menjalankan ini dengan keyakinan sederhana yakni berpegang pada kalimat tauhid.

    Bila pembaca ingin memperjelas permasalahan tentang “alasan penciptaan” dan “nur Muhammad”, pembaca bisa tanyakan kepada Ulama pakar Quran dan Hadits (keduanya). Sebagai pratinjau, mungkin pembaca bisa membaca artikel di sini: Almanhaj.or.id dan Muslim.or.id.

    Wallahu ‘alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s