Kisah Sepanjang Zaman Bag. 4: Nabi Idris as

Oleh: Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas
(Sumber: “Kisah Penciptaan dan Tokoh-tokoh Sepanjang Zaman”; diterjemahkan oleh Abdul Halim, Bandung: Pustaka Hidayah, Cet. I, Oktober 2002, hal. 102-108)

Wahab bin Munabbih mengatakan, semata-mata dia diberi nama Idris karena dia banyak membaca suhuf. Ibnu Abbas ra mengatakan, Allah mengutus Idris kepada keturunan Qabil yang menyembah berhala dan menyimpang dari mentauhidkan Allah. Mereka memiliki lima berhala yang mereka sembah selain Allah, yaitu Wud, Siwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr, yang disinggung oleh Allah di dalam al-Qur’an yang agung. Ketika kebobrokan mereka kian bertambah, Allah mengutus Idris as kepada mereka. Dia mendakwahi mereka dalam jamaah selama tiga hari.

Dalam memerintah dan melarang, Idris sangat keras. Dia adalah orang yang pertama kali menulis dengan qalam (pena), orang pertama yang menulis suhuf, orang pertama yang mengerti ilmu nujum dan ilmu perhitungan, dan orang pertama yang menjahit pakaian dan memakai jarum. Apabila menjahit, dalam setiap tusukan jarum dia bertasbih kepada Allah. Apabila lupa, jahitannya yang tidak disertai dengan tasbih kepada Allah dia udar kembali. Dia adalah orang yang tidak mau makan kecuali dari hasil usahanya. Dia suka menjahit milik orang dengan mendapatkan upah dan dia adalah orang yang pertama kali membuat takaran.

Dikatakan bahwa, sebelum zaman Idris, manusia memakai kain tanpa dijahit. Setelah Idris menciptakan jahitan dan menjahitnya, orang-orang menganggapnya bagus, dan mereka pun ikut menggunakan bahan pakaian yang dijahit.

Selanjutnya, Idris diberi 30 suhuf oleh Allah. Dia tidak pernah lesu membacanya, siang dan malam. Para malaikat suka datang untuk mushafahah (bersalaman) dengan Idris. Setiap hari, ibadah Idris dilaporkan seukuran ibadah seluruh manusia. Karena saking banyaknya ibadah Idris, sampai-sampai malaikat merasa takjub kepadanya dan karenanya dia didengki oleh Iblis terlaknat. Akan tetapi, Iblis tidak menemukan cara untuk memperdayainya.

Diriwayatkan bahwa Malaikat Maut meminta izin kepada Tuhannya untuk berziarah kepada Idris. Dia diizinkan, lalu datang kepada Idris dlaam rupa seorang laki-laki. Idris bertanya kepadanya, “Hai laki-laki, siapa engkau?” Laki-laki itu menjawab, “Aku adalah Malaikat Maut; aku telah meminta izin kepada Tuhanku untuk berziarah kepadamu, maka berikanlah aku izin untuk itu!” Idris berkata kepadanya, “Sesungguhnya aku mempunyai satu keperluan kepadamu.” Dia bertanya, “Apa keperluanmu itu?” Idris menjawab, “Cabutlah nyawaku saat ini!” Malaikat Maut berkata, “Sesungguhnya Tuhanku belum mengizinkanku untuk melakukan itu.”

Pada waktu itu, Allah mewahyukan kepada Malaikat Maut, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang ada dalam benak hamba-Ku; cabutlah ruhnya!” Karena telah mendapatkan izin, maka pada waktu itu juga dia mencabut ruhnya. Akan tetapi, kemudian Allah menghidupkannya lagi ketika itu juga. Idris berkata, “Hai Malaikat Maut, aku masih punya permintaan yang lain.” Dia menjawab, “Apa itu?” Idris berkata, “Bawalah aku ke neraka Jahannam agar aku bisa melihat kengeriannya!” Allah mengizinkan Malaikat Maut untuk melakukan perjalanan itu. Maka, dibawalah Idris oleh Malaikat Maut datang ke malaikat penjaga neraka.

Allah memerintahkan kepada malaikat penjaga neraka, “Letakkanlah hamba-Ku di pinggir Jahannam agar dia bisa melihat apa yang terdapat di dalamnya.” Setelah Idris berada di sana dan melihat isi Jahannam, dia pingsan karena melihat kengeriannya. Lalu Malaikat Maut menghampirinya dan membawanya lagi ke tempat asalnya. Semenjak melakukan perjalanan ke neraka Jahannam tersebut, dari mulai hari itu Idris tidak memakai cela di matanya menjelang tidur, tidak bersenang-senang dengan makanan yang enak-enak dan minuman yang lezat, dan tidak memiliki tempat tinggal yang tetap karena kengerian yang pernah dia lihat.

Idris mencurahkan diri beribadah kepada Allah dan menikah dengan seorang wanita yang kemudian mengandung anak laki-laki. Setelah anak itu terlahir, dia diberi nama Matusyilakh dan cahaya yang ada di kening Idris pindah ke kening anaknya. Setelah anak itu besar dia diberi wasiat oleh Idris; diserahi suhuf, tali, dan tabut; dan dia diwasiati agar membaca suhuf dan selalu mendirikan shalat. Idris berkata kepadanya, “Hai anakku, aku akan naik ke langit. Aku tidak tahu apakah akan kembali atau tidak. Maka, terimalah dariku apa yang akan kuwasiatkan kepadamu.”

Kemudian Idris masuk ke mihrabnya dan meminta kepada Allah agar diperlihatkan surga seperti Dia telah memperlihatkan neraka. Atas permintaan Idris tersebut, Allah memerintahkan kepada Ridhwan, malaikat penjaga surga, untuk menurunkan sebuah tangkai dari surga. Maka, Ridhwan menurunkan tangkai dari pohon Thuba. Kemudian Idris berpegang ke tangkai itu dan naik ke langit. Lalu Ridhwan memasukkannya ke dalam surga. Idris melihat nikmat-nikmat yang ada di sana. Setelah cukup lama berada di dalam surga, Ridhwan berkata kepadanya, “Silakan keluar! Engkau telah melihat surga dan isinya.”

Idris berkata, “Aku tidak akan keluar. Allah berfirman: Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati (QS Ali ‘Imran [3]: 185, QS Al-Anbiyaa’ [21]: 35, QS Al-‘Ankabuut [29]: 57), dan aku telah merasakannya. Dia pun berfirman: Dan tidak ada seorang pun darimu, melainkan mendatangi neraka itu (QS Maryam [19]: 71), dan aku pernah mendatanginya. Dan Dia juga berfirman: Dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan darinya (surga) (QS Al-Hijr [15]: 48), maka aku tidak akan keluar dari surga.” Maka, Allah mewahyukan kepada Ridhwan, “Katakanlah kepada hamba-Ku, Idris, hendaklah dia jangan keluar dari surga untuk selama-lamanya.”

Wahab bin Munabbih mengatakan, Idris telah naik ke langit ketika dia berumur 365 tahun. Ibnu al-Jauzi mengatakan bahwa Idris dan Isa bin Maryam hidup di langit. Terkadang Idris berada di langit keempat untuk beribadah kepada Allah di langit dan terkadang bersenang-senang di surga. Allah berfirman: Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam al-Qur’an. Sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi. Dan Kami mengangkatnya ke martabat yang tinggi. (QS Maryam [19]: 56-57)

Al-Kisa’i mengatakan, “Setelah Diris naik kelangit dan para malaikat tahu bahwa dia tidak akan meninggalkannya, mereka berkata, ‘Wahai Tuhan kami, Junjungan kami, hamba yang berdosa ini tidak layak berada di tempat para malaikat muqarrabin.’ Maka, Allah mewahyukan kepada mereka, ‘Sesungguhnya kalian mencemooh anak-anak Adam karena perbuatan mereka. Seandainya Aku letakkan kepada kalian apa yang Aku letakkan kepada mereka, yaitu syahwat, dan Aku takdirkan kepada kalian apa yang Aku takdirkan kepada mereka, yaitu kesalahan, tentu kalian akan mengerjakan kesalahan yang jauh lebih besar daripada kesalahan mereka.’

Mereka berkata, ‘Maha Suci Engkau, wahai Tuhan kami, tidak pantas bagi kami untuk menentang-Mu.’ Maka, Allah memerintahkan mereka memilih dua malaikat terpilih di antara mereka untuk kemudian diturunkan ke bumi dan mereka berdua diberi syahwat, seperti yang diberikan kepada anak-anak Adam. Atas perintah Allah, mereka memilih dua malaikat yang bernama Harut dan Marut. Keduanya oleh Allah diberi syahwat dan diturunkan ke bumi dan diperintahkan menjadi hakim (juru pemutus) di antara manusia dengan adil. Keduanya dilarang menyekutukan Allah, membunuh jiwa tanpa hak, zina, dan dilarang meminum arak.

Mulailah keduanya menjadi hakim di antara manusia dengan benar di siang hari. Ketika sore telah tiba, mereka berdua berzikir kepada Allah Yang Maha Agung; kemudian mereka naik ke langit. Mereka berdua terus-menerus melakukan hal itu selama satu bulan. Tiba-tiba, suatu ketika, datang kepada mereka seorang wanita tercantik yang memakai pakaian terindah; namanya Zahrah. Dia termasuk penduduk Persia yang telah pergi ke berbagai kota untuk mencari hakim. Akhirnya, dia datang kepada Harut dan Marut dengan memakai perhiasannya; rambutnya dibiarkan terurai dan wajahnya berseri-seri. Dia mengadu kepada malaikat ini tentang permasalahannya.

Setelah mereka berdua melihatnya, mereka jatuh dalam jeratan fitnah mencintainya. Wanita itu pulang dan di hari berikutnya dia datang lagi kepada mereka berdua. Sejak saat itu mereka berdua mulai bercerita satu sama lain tentang ketertarikan mereka berdua terhadapnya. Setelah ketertarikan mereka kian memuncak, mulailah mereka berdua menggodanya untuk menundukkannya. Wanita itu menolak dan pulang. Kemudian di hari ketiga, dia datang lagi kepada mereka. Keduanya kembali menggodanya. Akan tetapi, wanita itu tetap menolak dan berkata kepada mereka berdua, ‘Aku tidak akan memenuhi keinginan kalian berdua, kecuali kalian berdua melakukan apa yang aku inginkan, yaitu kalian harus menyembah berhala dan meminum arak.’

Mereka berkata, ‘Hal itu tidak mungkin. Sebab, Allah telah melarang kami melakukannya.’ Mereka berdua menolak keinginan si wanita dan si wanita pun menolak keinginan mereka. Dia pun pulang. Akibatnya, kerinduan mereka kian bertambah. Akhirnya, mereka berdua pergi ke rumahnya. Setelah sampai, mereka berdua mengetuk pintu. Kemudian wanita itu menyambut dan mempersilahkan mereka masuk. Dia suguhkan makanan untuk mereka; kemudian mereka berdua makan. Setelah makan, mereka terus menggodanya. Akan tetapi, si wanita berkata, ‘Kalian telah tahu apa yang aku inginkan dari kalian berdua.’

Mereka berkata, ‘Syirik dan membunuh—kami tidak mau melakukannya, sebab keduanya itu dosa besar. Akan tetapi, kalau minum arak, ia lebih ringan di antara dosa-dosa itu; nanti kami bisa memohon ampunan kepada Allah.’ Mereka berdua tidak tahu bahwa meminum arak adalah induk dari smeua kemaksiatan. Keduanya pun maju, meminum arak. Setelah mabuk, keduanya menggauli si wanita. Ternyata perbuatan mereka terlihat oleh seseorang. Akhirnya, orang itu dibunuh oleh mereka karena takut kalau-kalau dia menyiarkan perbuatan mereka. Lalu si wanita menyuruh keduanya untuk sujud kepada berhala, dan mereka pun sujud serta menjadi kafir.” Dalam hal ini, seorang penyair mengatakan:

Aku tinggalkan anggur minuman dan meminumnya.
Jadilah aku teman bagi orang yang mencelanya.
Orang yang meminumnya telah tersesat dari jalan kebenaran
dan membuka pintu kejahatan.

Al-Kisa’i lebih lanjut mengatakan: “Setelah Harut dan Marut melakukan perbuatan tersebut, terjatuh ke dalam dosa, keduanya ingin naik ke langit, tetapi sayap mereka tidak menurut. Akhirnya, keduanya tahu apa yang telah terjadi kepada mereka berdua. Lalu mereka berdua pergi ke Nabi Allah, Idris as. Keduanya menceritakan kejadian yang menimpa mereka dan memintanya untuk memberikan syafaat (pembelaan) untuk mereka di hadapan Allah.

Mereka berkata kepada Idris, ‘Kami melihatmu memiliki nilai ibadah yang bisa membuatmu naik ke langit sebesar nilai ibadah yang bisa menaikkan semua penduduk bumi. Maka, berilah kami pembelaan kepada Allah.’

Idris melaksanakan permintaan itu sehingga Allah memberikan pilihan kepada mereka antara azab dunia dan azab akhirat. Mereka berdua memilih azab dunia daripada azab akhirat. Keduanya disiksa di Babil di dalam penjara bawah tanah dalam keadaan digantung dengan kepala terbalik dengan rantai besi. Mereka disiksa dengan rasa dahaga sementara di dekat lidah mereka diletakkan air. Semua asap dunia dimasukkan ke dalam hidung mereka untuk menambah siksaan mereka. Kedua mata mereka dibuat melotot tidak tidur hingga kebiru-biruan dan wajah mereka berubah menjadi hitam. Mereka akan terus begitu hingga hari kiamat.”

Diriwayatkan ada seorang laki-laki dari tanah Babil datang kepada mereka untuk belajar ilmu sihir dari mereka. Ketika sampai kepada mereka, laki-laki tersebut melihat mereka dalam keadaan yang telah kami ceritakan. Si laki-laki berkata, “Aku bersaksi tidak ada tuhan kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” Ketika mendengar ucapan laki-laki itu, mereka bertanya, “Umat siapakah engkau?”

Laki-laki itu menjawab, “Aku dari umat Muhammad saw.” Mendengar jawaban tersebut, keduanya berkata, “Apakah Muhammad telah diutus?” Laki-laki itu menjawab, “Ya, benar.” Maka keduanya berkata, “Alhamdulillah.” Keduanya kelihatan bahagia. SI laki-laki bertanya, “Mengapa kalian berdua begitu gembira ketika Nabi saw disebut?” Mereka menjawab, “Memang, kami merasa gembira karena dia adlaah Nabi yang diutus menjelang terjadinya kiamat. Ini berarti hukuman kami akan segera berakhir.”

Dalam sebuah riawayat diceritakan bahwa setelah Idris as naik ke langit, yang mengurur urusannya setelahnya adalah anaknya, Matusyilakh. Dia menghukumi di antara manusia dengan benar. Dan setelah Matusyilakh meninggal, tabut dan suhuf diserahkan kepada anaknya, Lamik.

Al-Kisa’i mengatakan bahwa Lamik itu sangat keras dan sangat kuat. Dia bisa membalikkan batu besar dan bisa mencopotnya dari gunung. Salah satu peristiwa yang terjadi kepadanya adlaah bahwa pada suatu hari dia pergi ke sebuah lapangan. Dia melihat seorang wanita cantik yang sedang menggembalakan domba-dombanya. Wanita itu membuatnya kagum. Dia menghampirinya dan menanyakan namanya. Wanita itu menjawab, “Aku adalah Fainusah binti Iklil keturunan Qabil anak Adam.”

Lamik bertanya kepadanya, “Apakah engkau mempunyai suami?” Fainusah menjawab, “Tidak.” Lamik berkata kepadanya, “Engkau masih kecil, seandainya engkau telah balig, tentu aku menikahimu.” Pada saat itu disebut balig apabila telah mencapai umur 200 tahun. Fainusah berkata, “Sebenarnya aku telah berumur 220 tahun. Pergilah kepada bapakku dan pinanglah aku!” Ketika Lamik mendengar itu, dia pergi kepada bapaknya dan meminangnya. Kemudian bapaknya menikahkan Fainusah dengannya.

Setelah Lamik menggaulinya, Fainusah mengandung dan kemudian melahirkan anak laki-laki yang kemudian diberi nama Yasykur, dan menurut riwayat lain, dia diberi nama ‘Abdul Ghaffar. Itulah Nuh. Wahab bin Munabbih mengatakan bahwa ketika waktu melahirkan telah tiba, Fainusah melahirkan Nuh di dalam gua. Dia bermaksud menyembunyikannya di sana karena takut kepada raja di zaman itu. Sebab, raja tersebut suka menawan wanita dan membunuh anak-anak kecil dengan kejam. Setelah Fainusah melahirkan Nuh, dia pergi meninggalkannya dengan meratapinya. Akan tetapi, anak itu bersuara, “Wahai ibu, jangan khawatirkan diriku. Sebab, Dzat Yang telah menciptakanku akan menjagaku.” Maka, pada saat itu Fainusah pergi dengan tenang.

Nuh tinggal di gua itu selama 40 hari. Dan dalam 40 hari tersebut raja yang suka membunuh anak-anak kecil meninggal. Maka, Nuh dibawa oleh beberapa malaikat dan meletakkannya dalam pangkuan ibunya. Tiba-tiba, cahaya yang ada di kening bapaknya, Lamik, berpindah ke keningnya. Ibunya mendidiknya hingga dia besar. Kemudian Nuh belajar pekerjaan tukang kayu dan menekuninya dengan sempurna. Dia suka menggembalakan kambing milik kaumnya dengan mendapatkan upah. Hal itu dilakukannya dalam waktu yang cukup lama sampai bapaknya, Lamik, meninggal. Sebelum meninggal, bapaknya mengangkatnya untuk menjadi penggantinya dan menyerahkan suhuf, tabut, dan tali kepadanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s