Oleh: Reinhard Habeck, Dr. Willibald Katzinger, dkk.
2001
(Sumber: Scribd.com)

Catatan: Setiap gambar dan catatan kaki yang disertakan dalam artikel ini bukan berasal dari sumbernya, tapi merupakan penambahan dari Sainstory dengan merujuk kalimat yang ada sesuai bahasa aslinya (Inggris).

Objek-objek tak dikenal di Sierra Leone, Afrika Barat.

Di Afrika Barat terdapat berbagai macam kebudayaan. Mitos, cerita rakyat, dan legenda, adalah sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat dan dalam agama-agama mereka. Kisah-kisah tersebut menceritakan tentang asal-usul manusia dan memberikan jawaban berbeda-beda terhadap pertanyaan, “Dari mana kita berasal?” Mitos-mitos itu berpindah tangan secara verbal. Hanya ada sedikit catatan dari misionaris-misionaris Eropa, tapi catatan ini mengandung gagasan moral Eropa.

Salah satu dari legenda-legenda itu terdapat di Sierra Leone, Afrika Barat. Menceritakan bebatuan dan arca-arca misterius. Saat sedang menggali tanah untuk mencari berlian, para pekerja lokal menemukan arca-arca batu. Objek-objek tersebut memiliki tinggi sekitar 40 cm; asal-usulnya tidak diketahui. Berdasarkan lapisan bumi tempat mereka ditemukan, diperkirakan usianya 2.500 hingga 17.000 tahun.

Dari mana sosok-sosok batu misterius itu berasal? Apakah mereka merupakan relik kebudayaan asing dan kebudayaan yang telah punah? Para etnolog tidak mampu menjelaskan asal kebudayaan objek tersebut, walaupun sosok-sosok itu berusia sangat tua dan para ilmuwan mengetahui bahwa coraknya tidak cocok dengan corak karya seni dari Mande, suku aborigin.

Mitos dan legenda tersebut tak hanya melukiskan bagaimana segala sesuatu berawal tapi juga mencoba menjelaskan mengapa segala sesuatu berubah. Mereka sering memberikan jawaban spiritual dan rahasia terhadap pertanyaan-pertanyaan seperti: Bagaimana dunia tercipta? Dari mana pria dan wanita berasal? Dari mana berlian-berlian yang berkilauan berasal?

Sebuah mitos Afrika mengklaim mengetahui jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut: ia mengatakan bahwa di masa lampau bangsa malaikat tinggal di surga. Namun karena perilaku yang buruk, Allah melarang mereka dari kerajaan tuhan. Untuk menghukum para malaikat tersebut, dia (tuhan) mengubah mereka menjadi manusia dan mengirimnya ke bumi. Konon, patung Nomoli merupakan tandamata dari makhluk-makhluk tersebut. Para ilmuwan, terutama etnolog, mengembangkan sejumlah teori mengenai sosok-sosok itu. Mereka tidak memiliki pendapat yang sama karena asal-usul dan kegunaan arca-arca itu tidak dijelaskan.

Nomoli dan Bebatuan Langit
Nomoli dan Bebatuan Langit

Beberapa suku asli, seperti Mande dan Kissi, di Guinea menemukan patung-patung Nomoli seperti ini di ladang-ladang mereka. “Vegetation cult” yang berkembang juga terlihat berhubungan dengan kematian. Mereka meletakkan batu-batu itu di ladang mereka dan mengadakan pengorbanan jika panen melimpah. Jika panen buruk, Nomoli dihukum secara ritual dan dicambuk.

Wajah dari sosok-sosok Nomoli memperlihatkan karakteristik yang khas: mereka memiliki hidung yang sangat besar—seperti seekor elang dengan cuping hidungnya—, mulut yang besar, kadang-kadang memperlihatkan gigi dan matanya yang penuh arti. Tulang-tulang mereka rata.

Arca-arca itu memiliki bermacam-macam pose dan ekspresi. Mayoritas adalah sosok manusia, beberapa dari mereka menaiki kuda, sebagian besar duduk bersilang kaki atau duduk bertekuk lutut. Sebagian meletakkan wajah mereka pada tangan. Sebagian sosok memiliki senjata atau perisai.

Angelo Pitoni, seorang geolog Italia, meneliti patung-patung Nomoli tersebut. Ia mengambil beberapa sampel organik dari tempat-tempat penemuan patung. Untuk memastikan usianya, ia mengambil material-material berbeda, seperti penemuan yang terbuat dari kayu (sebuah tongkat yang ditemukan di kedalaman 10 meter). Prof. Giorgio Belluomini dari Universitas Roma menguji artefak tersebut dan memperkirakan usianya sekitar 400 hingga 500 tahun. Pada tahun 1992, objek tersebut dianalisa sebanyak tiga kali, dan penentuan usia menggunakan C-4 (C-4 dating) menunjukkan usia 2.470 tahun, +/- 50 tahun. Hingga masa itu, orang-orang mengira bahwa satu-satunya peradaban di Afrika Barat adalah peradaban Afro-Portugis, berusia sekitar 400 tahun. Namun objek-objek Nomoli itu tidak cocok dengan konsep ini.

Penentuan usia Nomoli masih menjadi masalah. Sosok-sosok yang terkubur di lapisan yang dalam tersebut mentah (belum sempurna—penj) dan sederhana. Mereka dibuat dari berbagai jenis batu, material lunak, dan juga granit keras.

Dalam kebudayaan-kebudayaan Afrika Barat, arca-arca itu sangat disembah. Sebagian besar sosok tersebut ditemukan di Liberia, Sierra Leone, Guinea, dan Pantai Gading: sebagian dari mereka terkubur di lapisan bumi yang berada sedalam 10 sampai 12 meter dari permukaan. Jadi mereka pastinya berusia sangat tua. Konon, beberapa dari mereka ditemukan di kedalaman 50 meter.

Penduduk lokal sering menyebut sosok-sosok tersebut sebagai “manusia dalam batu”. Tapi sebagian penduduk menganggap mereka sebagai dewa pengawal dan dewa pembawa keberuntungan, dan penduduk meletakkan patung mereka di ladang-ladang untuk menjaganya dan meningkatkan panen. Muslim Sunni menganggap bahwa mereka adalah “fallen angel” (malaikat yang turun), diturunkan ke bumi oleh Allah.

Beberapa bebatuan juga terkait dengan sosok-sosok asing: bebatuan ini disebut sebagai “bebatuan langit”. Mereka juga ditemukan di Sierra Leone dalam jumlah banyak.

Sebuah analisis yang dikeluarkan oleh Institute for Precious Stones of the Museum of Natural History menunjukkan bahwa bebatuan tersebut dibuat secara sengaja (artificially). Teka-teki belum terpecahkan, masih banyak pertanyaan yang belum terjawab: Bagaimana bebatuan ini sampai ke tempat ditemukannya yaitu di ibukota Freetown? Siapa yang membuatnya? Kapan dibuatnya? Bagaimana legenda Nomoli dan “bebatuan langit” bisa muncul?

Nomoli
Nomoli

02.01 Arca Nomoli, terbuat dari granit
02.02 Arca Nomoli, terbuat dari batu
02.03 Arca Nomoli, terbuat dari batu
02.04 Arca Nomoli bersama gading, terbuat dari batu

02.05 Arca Nomoli dalam pose berdoa, terbuat dari batu

Arca Nomoli dalam pose berdoa.
Arca Nomoli dalam pose berdoa.

Sosok ini memiliki pahatan berpola spiral pada seluruh tubuhnya. Ditemukan dalam sebuah lapisan bumi yang berusia sekurangnya 12.000 tahun.

02.06 Arca Nomoli perempuan, terbuat dari batu

02.07 Arca Nomoli bersama anak-anak, terbuat dari batu

02.08 Arca Nomoli bersama bola logam, terbuat dari batu

Arca Nomoli dengan bola logam.
Arca Nomoli dengan bola logam.

Sosok batu kecil ini adalah artefak Nomoli yang paling tua, terkenal, dan aneh. Usianya diperkirakan 17.000 tahun. Setelah ditemukan, terdengar suara tertentu saat dipindahkan. Seorang pemahat memotong salah satu bagian dari objek tersebut. Ia menemukan sebuah lubang dan juga sebuah bola logam yang sangat kecil. Bagaimana bola ini bisa masuk ke dalam arca batu tersebut? Apakah sang pembuat memiliki satu maksud besar? Di Wina akan segera dilakukan analisis metalurgi.

02.09 Arca Nomoli, terbuat dari batu

02.10 “Bebatuan langit” – kepingan dari surga? (2 keping)

Sebuah legenda fantasi dikaitkan dengan bebatuan surga: legenda ini mengatakan bahwa area langit yang ditinggali Nomoli berubah menjadi batu. Kemudian terbelah dan jatuh ke bumi dalam bentuk kepingan-kepingan batu besar. Bintang-bintang yang menjadi bagian dari langit ini juga telah hancur dan sisa-sisanya jatuh ke bumi. Sisa-sisa bintang yang berkilauan tersebut adalah berlian.

Apakah ini cerita dongeng? Atau mungkin merupakan dasar mengenai peristiwa-peristiwa sejarah?

Penduduk lokal memperlihatkan lokasi penggalian di mana ditemukannya sejumlah bebatuan biru di kedalaman 40 m sampai 40 cm. Bebatuan ini memiliki ukuran berbeda-beda. Warnanya, mirip dengan kobalt, benar-benar mengingatkan kita pada birunya surga. Beberapa keping batu telah dianalisis di berbagai laboratorium di seluruh dunia. Hasilnya mengherankan: bebatuan tersebut bukanlah batu pirus. Sampel yang dibubukkan terbuat dari 77% oksigen, 20% karbon, serta kapur, silikon, dan material lainnya.

Referensi dan kredit gambar:

Tentang penulis: Reinhard Habeck adalah seorang penulis Austria, komikus, dan kartunis. Dia memperoleh pengakuan internasional terutama untuk hipotesisnya, yang dikembangkan bersama-sama dengan Peter Krassa dan diterbitkan pada tahun 1982, bahwa orang Mesir kuno seharusnya sudah mengetahui dan menggunakan listrik.

Cover illustration: Kissi (Soapstone) — Nancy Van De Laarschot

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s