Sebelum Columbus Menembus Atlantik

Oleh: Dwi Hartanto
(Sumber: Sabili No. 13 TH. XVI 15 Januari 2009 / 18 Muharram 1430, hal 99-101 Edisi Khusus “The Great Muslim Traveler”)

Enam abad atau tepatnya 603 tahun sebelum Columbus, penjelajah Islam sudah bolak-balik melakukan eksplorasi di Amerika. Bahkan, ada yang menetap dan menikah dengan penduduk lokal, menjadi bagian dari penduduk asli Amerika.

Sejarah memang milik penguasa. Ketika peradaban dan kekuasaan umat Islam mulai redup, seiring jatuhnya Granada di Spanyol, benteng terakhir umat Islam di Eropa, tahun 1492, pencapaian emas para ilmuwan dan penjelajah Muslim pun ikut dikubur dalam-dalam. Salah satunya adalah sejarah penemuan benua Amerika dan cikal bakal komunitas Muslim di daratan yang dihuni orang-orang Indian ini.

Akibatnya, selama ribuan tahun, sejarah dunia yang diajarkan di sekolah-sekolah hingga perguruan tinggi diputarbalikkan. Benua Amerika ditemukan oleh Christopher Columbus, 12 Oktober 1492. Bahkan ketika pertama kali menginjakkan kakinya di daratan yang ia sangka Semenanjung Hindia itu, Columbus menyebutnya sebagai The New World.

Tapi bagi umat Islam, Amerika bukanlah ‘Dunia Baru’, sebab 603 tahun sebelum Columbus, penjelajah Muslim dari Andalusia dan Afrika Barat telah membangun peradaban di benua itu. Mereka berasimiliasi secara damai, berdagang dan menikah dengan penduduk lokal, orang-orang Indian, menjadi bagian dari lokal genius Amerika. Menzies menulis, Zheng He (Cheng Ho), Laksamana Muslim dari Cina, juga telah mendarat di Amerika pada 1421 M, 71 tahun lebih awal ketimbang Columbus. Karenanya, klaim yang menyatakan Columbus sebagai penemu Amerika akhirnya pun patah.

Literatur yang menerangkan bahwa penjelajah Islam sudah menginjakkan kaki di Amerika beberapa abad sebelum Columbus juga cukup banyak. Salah satunya ditulis oleh pakar sejarah dan geografi Abul-Hasan Ali Ibnu al-Husain al-Masudi (871-975 M). Dalam bukunya, Muruj Adh-dhahab wa Maad al-Jawhar (The Meadows of Gold and Quarries of Jewels—Hamparan Emas dan Tambang Permata), al-Masudi menulis, Khashkhash Ibnu Sa’ied Ibnu Aswad, seorang penjelajah Muslim dari Cordoba, ibukota Kekhalifahan Andalusia (Spanyol), berhasil mencapai benua Amerika pada 899 Masehi.

Al-Masudi menjelaskan, semasa pemerintahan Khalifah Abdullah Ibnu Muhammad (888-912 M) di Andalusia, Khashkhash berlayar dari Pelabuhan Delbra (Palos) pada 889 M menyeberangi Lautan Atlantik hingga mencapai sebuah negeri yang asing (al-ardh majhul). Sekembalinya dari benua yang sekarang disebut Amerika ini, Khashkhash membawa harta yang menakjubkan.

Sejak itulah, pelayaran menembus Samudera Atlantik yang saat itu dikenal sebagai “lautan yang gelap dan berkabut” itu banyak dilakukan pedagang dan ilmuwan Muslim. Al-Masudi juga menulis buku Akhbar as-Zaman yang memuat catatan pengembaraan pedagang Muslim ke kawasan Afrika dan Asia. (Al-Masudi, Muruj Adh-Dhahab, Vol 1, P 1385).

Literatur yang paling populer adalah essay Dr Youssef Mroueh dari Preparatory Commitee for International Festivals to Celebrate the Millenium of the Muslims Arrival to the Americas, tahun 1996. Dalam essay berjudul Precolumbian Muslims in Amerika (Muslim di Amerika Pra-Columbus), Dr Mroueh menunjukkan sejumlah fakta bahwa Muslimin dari Andalusia dan Afrika Barat tiba di Amerika sekurang-kurangnya 5 abad sebelum Columbus.

Pada pertengahan abad ke-10, pada masa pemerintahan Bani Umayyah, yaitu Khalifah Abdurrahman III (929-961 M), kaum Muslimin dari Afrika berlayar ke arah barat dari pelabuhan Delbra (Palos) di Spanyol menembus “samudera yang gelap dan berkabut”. Setelah menghilang beberapa lama, mereka kembali dengan sejumlah harta dari negeri yang “tak dikenal dan aneh”. Dalam pelayaran itu, ada sejumlah kaum Muslimin yang tinggal bermukim di negeri baru itu. Mereka inilah imigran Muslim gelombang pertama yang tiba di Amerika.

Dr Mroueh juga menulis, berdasarkan catatan ahli sejarah Abu Bakr Ibnu Umar al-Gutiyya, pada masa pemerintahan Khalifah Hisham II (976-1009 M) di Andalusia (Spanyol), penjelajah dari Granada bernama Ibnu Farrukh meninggalkan pelabuhan Kades, Februari 999 M. Farrukh melintasi Lautan Atlantik, mendarat di Gando (Kepulauan Canary) dan berkunjung pada Raja Guanariga. Ia melanjutkan pelayaran ke barat, melihat dua pulau dan menamakannya Capraria serta Pluitana. Ia kembali ke Andalusia, Mei 999 M.

Al-Syarif alIdrisi (1099-1166), pakar Geografi dan ahli pembuat peta, dalam bukunya yang berjudul Nuzhat al-Musytaq fi Ikhtiraq al-Afaaq (Ekskursi dari yang Rindu Mengarungi Ufuq) menulis, sekelompok pelaut Muslim dari Afrika Utara berlayar mengarungi samudera yang gelap dan berkabut. Ekspedisi yang berangkat dari Lisbon (Portugal) ini, dimaksudkan untuk mendapatkan apa yang ada di balik samudera itu? Berapa luasnya dan di mana batasnya? Mereka pun menemukan daratan yang penghuninya bercocok tanam dan berkomunikasi dengan bahasa Arab.

Pelayaran melintasi Samudera Atlantik dari Maroko juga dicatat oleh penjelajah Shaikh Zayn-eddin Ali bin Fadhel al-Mazandarani. Kapalnya melepas jangkar dari pelabuhan Tarfay di Maroko pada masa Sultan Abu Yacob Sidi Youssef (1286-1307 M), penguasa keenam Kekhalifahan Marinid. Rombongan ekspedisi ini mendarat di Pulau Green di Laut Karibia pada 1291. Menurut Dr Mrouh, catatan perjalanan pelaut Maroko ini banyak dijadikan referensi oleh ilmuwan Islam pada era sesudahnya.

Sultan-sultan dari Kerajaan Mali di Afrika Barat yang beribukota di Timbuktu, juga melakukan penjelajahan hingga mendarat di benua Amerika. Sejarawan Chihab Addin Abul-Abbas Ahmad bin Fadhl al-Umari (1300-1384 M) menulis catatan eksplorasi geografi ini dengan seksama. Timbuktu yang kini dilupakan orang, saat itu menjadi pusat peradaban, keilmuwan, dan perpustakaan yang maju di Afrika.

Ekspedisi darat dan laut banyak dilakukan orang termasuk umat Islam menuju Timbuktu atau berawal dari Timbuktu. Sultan yang tercatat melakukan pengembaraan ke benua Amerika adalah Sultan Abu Bakari I (1285-1312 M). Sultan Abu Bakari adalah saudara dari Sultan Mansa Kankan Musa (1312-1337 M). Sultan Abu Bakari I melakukan dua kali ekspedisi menembus Lautan Atlantik dan mendarat di Amerika. Bahkan, penguasa Afrika Barat yang juga ilmuwan ini menyusuri sungai Mississippi untuk mencapai pedalaman Amerika Tengah dan Utara, tahun 1309-1312 M.

Selama di benua baru ini, para eksplorer tetap menggunakan bahasa Arab dalam berkomunikasi dengan penduduk setempat. Dua abad kemudian, tepatnya tahun 1513 M, penemuan benua Amerika ini diabadikan dalam peta berwarna yang disebut Piri Re’isi. Peta ini dipersembahkan kepada Khalifah Ottoman, Sultan Selim I, tahun 1517 di Turki. Peta ini berisi informasi akurat tentang belahan bumi bagian barat, Amerika Selatan, benua Antartika, dan penggambaran pesisir Brazil yang detail.

Bukti Sejarah dan Arkeologis
Selain penjelajahan yang dilakukan kaum Muslimin, bukti sejarah dan arkeologis yang menerangkan kehadiran orang-orang Islam di Amerika jauh sebelum Columbus juga cukup banyak, di antaranya:

Pertama, dalam bukunya Saga America (New York, 1980), Dr Barry Fell, arkeolog dan ahli bahasa berkebangsaan Selandia Baru dari Harvard University menunjukkan bukti-bukti detail bahwa berabad-abad sebelum Columbus, telah bermukim kaum Muslimin dari Afrika Utara dan Barat di benua Amerika. Tak heran jika bahasa masyarakat Indian Pima dan Algonquain memiliki beberapa kosakata yang berasal dari bahasa Arab.

Di negara bagian Inyo dan California, Dr Barry menemukan beberapa kaligrafi Islam yang ditulis dalam bahasa Arab. Salah satunya bertuliskan “Yesus bin Maria” yang artinya “Isa anak Maria”. Kaligrafi ini tentu saja datang dari ajaran Islam yang hanya mengakui Nabi Isa sebagai anak manusia bukan anak Tuhan. Dr Barry juga percaya bahwa usia kaligrafi ini beberapa abad lebih tua dari usia negara Amerika Serikat.

Bahkan, Dr Fell menemukan reruntuhan, sisa-sisa peralatan, tulisan, diagram, dan beberapa ilustrasi pada bebatuan untuk keperluan pendidikan di sekolah Islam. Tulisan, diagram, dan ilustrasi itu merupakan mata pelajaran matematika, sejarah, geografi astronomi, dan navigasi laut. Semuanya ditulis dalam bahasa Arab Kufik, Afrika Utara.

Penemuan sisa-sisa sekolah Islam ini berada di barat Amerika seperti di Valley of Fire, Allan Springs, Logomarsino, Keyhole, Canyon, Washoe, Hickison Summit Pass (Nevada), Mesa Verde (Colorado), Mimbres Valley (New Mexico), dan Tipper Canoe (Indiana). Sekolah-sekolah Islam ini diperkirakan berfungsi pada tahun 700-800 M. Keterangan yang sama juga ditulis oleh Donald Gyr dalam bukunya yang berjudul Exploring Rock Art (Santa Barbara, 1989).

Kedua, dalam bukunya Africa and the Discovery of America (1920), pakar sejarah dari Harvard University, Loe Weiner, menulis bahwa Columbus sendiri sebenarnya juga mengetahui kehadiran orang-orang Islam yang tersebar di Karibia, Amerika Tengah, Utara, dan Selatan, termasuk Canada. Tapi tak seperti Columbus yang ingin menguasai dan memperbudak penduduk asli Amerika, umat Islam datang untuk berdagang, berasimilasi, dan melakukan perkawinan dengan orang-orang Indian dari suku Iroquois dan Algonquin. Columbus juga mengakui, dalam pelayaran antara Gibara dan Pantai Kuba, 21 Oktober 1492, ia melihat masjid berdiri di atas bukit dengan indahnya. Saat ini, reruntuhan masjid-masjid itu telah ditemukan di Kuba, Meksiko, Texas, dan Nevada.

Ketiga, John Boyd Thacer dalam bukunya Christopher Columbus yang terbit di New York, 1950, menunjukkan bahwa Columbus telah menulis bahwa pada hari Senin, 21 Oktober 1492, ketika sedang berlayar di dekat Gibara, bagian tenggara pantai Cuba, ia menyaksikan masjid di atas puncak bukit yang indah. Sementara itu, dalam rangkaian penelitian antroplogis, para antropolog dan arkeolog juga menemukan reruntuhan beberapa masjid dan menaranya serta ayat-ayat al-Quran di Cuba, Meksiko, Texas, dan Nevada.

Keempat, Clyde Ahmad Winters dalam bukunya Islam in Early North and South America, yang diterbitkan Al-Ittihad, Juli 1977, hal 60 menyebutkan, para antropolog yang melakukan penelitian telah menemukan prasasti dalam bahasa Arab di lembah Mississippi dan Arizona. Prasasti itu menerangkan bahwa imigran Muslim ini juga membawa gajah dari Afrika. Sedangkan Ivan Van Sertima, yang dikenal dengan karyanya They Came Before Columbus, menemukan kemiripan arsitektur bangunan penduduk asli Amerika dengan kaum Muslim Afrika.

Perbandingan Kapal Cheng Ho dan Columbus

Kelima, ahli sejarah Jerman, Alexander Von Wuthenan, juga memberikan bukti bahwa orang-orang Islam sudah berada di Amerika tahun 300-900 M. Artinya, UMAT ISLAM SUDAH ADA DI AMERIKA PALING TIDAK SETENGAH ABAD SEBELUM COLUMBUS LAHIR. Bukti berupa ukiran kayu berbentuk kepala manusia yang mirip dengan orang Arab diperkirakan dipahat tahun 300 dan 900 M. Beberapa ukiran kayu lainnya diambil gambarnya dan diteliti, ternyata memiliki kemiripan dengan orang Mesir.

Keenam, salah satu buku yang sudah diterjemahkan ke bahsa Indonesia karya Gavin Menzies, seorang bekas pelaut yang menerbitkan hasil penelususrannya, menemukan peta empat pulau di Karibia yang dibuat pada tahun 1424 dan ditandatangani oleh Zuane Pissigano, kartografer dari Venesia. Peta ini berarti dibuat 68 tahun sebelum Columbus mendarat di Amerika. Dua pulau pada peta ini kemudian diidentifikasi sebagai Puerto Rico dan Guadalupe.

Jejak yang Masih Terlihat
Hari ini, cobalah Anda membuka peta Amerika paling mutakhir buatan Rand McNally dan cermatilah nama-nama tempat. Hampir di semua bagian benua ini akan ditemukan jejak-jejak umat Islam jauh sebelum Columbus. Di tengah kota Los Angeles misalnya, terdapat kawasan Alhambra, teluk El Morro, dan al-Amitos, serta nama-nama kawasan seperti Andalusia, Attilla, Alla, Aladdin, Albany, al-Cazar, Alameda, Alomar, al-Mansor, Almar, Alva, Amber, Azure, dan La Habra.

Di bagian tengah Amerika, dari selatan hingga Illinois terdapat nama-nama kota Albany, Andalusia, Attalla, Lebanon, dan Tullahoma. DI negara bagian Washington ada kota Salem. DI Karibia (jelas bahasa Arab) dan Amerika Tengah terdapat kawasan bernama Jamaika, Pulau Cuba (dari kata Quba) dengan ibukotanya La-Habana (Havana). Masih di Amerika Tengah, terdapat Pulau Grenada, Barbados, Bahama, dan Nassau.

Di Amerika Selatan terdapat nama kota seperti Cordoba (di Argentina), al-Cantara (di Brazil), Bahia (di Brazil dan Argentina). Selanjutnya ada juga nama-nama pegunungan seperti, Appalachian (Apala-che) di pantai timur dan pegunungan Absarooka di pantai barat. Kota besar di negara bagian Ohio yang terletak di muara sungai Wabash yang panjang dan meliu-liuk bernama Toledo, nama universitas Islam ternama pada masa kejayaan Islam di Andalusia.

Menurut Dr Youssef Mroueh, hari ini di Amerika Utara terdapat 565 nama tempat, baik negara bagian, kota, sungai, gunung, danau, dan desa yang diambil dari nama Islam atau nama dengan akar kata dari bahasa Arab. Selebihnya, sebanyak 484 nama terdapat di Amerika Serikat dan 81 di Kanada. Nama-nama ini diberikan oleh penduduk asli yang telah ada sebelum Columbus menginjakkan kakinya ke Amerika.

Dr. A. Zahoor juga menulis bahwa nama negara bagian seperti Alabama berasal dari kata Allah Bamya. Nama negara bagian Arkansas berasal dari Arkan-sah dan Tennesse dari Tanasuh. Demikian juga nama kota besar seperti Tallahassee di Florida, berasal dari bahasa Arab yang artinya “Allah akan menganugerahkan sesuatu di kemudian hari”.

Dr. Mroueh juga menuliskan, beberapa nama yang dicatatnya merupakan nama kota suci seperti, Mecca di Indiana, Medina di Idaho, Medina di New York, Medina dan Hazen di North Dakota, Medina di Ohio, Medina di Tennessee, Medina di Texas dengan penduduk 26 ribu jiwa, Medina di Ontario Canada, kota Mahomet di Illinois, Mona di Utah, dan Arva di Ontario Canada.

Ketika Columbus mendarat di kepulauan Bahama, 12 Oktober 1492, pulau itu sudah diberi nama Guanahani oleh penduduknya. “Guanahani” berasal dari bahasa Mandika, turunan dari bahasa Arab yang berarti tempat keluarga Hani bersaudara. Columbus mengatakan, penduduk asli di sini bersahabat dan suka menolong. Tapi ia seenaknya menamakan tempat ini ‘San Salvador’ dan merampas kepemilikannya dari penduduk setempat. Meski begitu, hingga hari ini kata “guana” yang berasal dari kata ikhwana (saudara) ini, masih banyak dipakai sebagai nama kawasan di Amerika Tengah, Selatan, dan Utara.

JADI JELAS, PENEMU AMERIKA SAMA SEKALI BUKAN COLUMBUS, TAPI PARA PIONIR PELAYARAN DUNIA YAKNI PARA PELAUT DAN PENJELAJAH ISLAM YANG ULUNG.

Permintaan Sponsor
Pertanyaannya, kenapa Columbus yang kemudian dikenal sebagai penemu benua Amerika? Ke mana jejak-jejak penjelajah Islam? Sedikit jawaban, bisa diperoleh dari tulisan Henry Ford dalam bukunya The Complete International Jew. “The story of the jews in America begins with Christopher Columbus. On August 2, 1492, more than 300,000 Jews were expelled from Spain, with which event Spain’s prestige began its long decline, and on August 3, the next day…,”

Perjalanan Columbus dimulai 3 Agustus 1492, sehari setelah terjadinya pertarungan politik di Spanyol, atau tepatnya sehari setelah jatuhnya Granada, benteng terakhir umat Islam di Andalusia (Spanyol). Dalam pertarungan politik itu, 300 ribu orang Yahudi diusir dari Spanyol oleh Raja Ferdinand yang Kristen. Selanjutnya, dikisahkan bagaimana para juragan dan pedagang Yahudi mengumpulkan uang untuk membiayai rombongan ekspedisi Columbus, yang juga dibantu oleh dan berpenumpang orang-orang Yahudi.

Tapi, tak banyak orang yang mengetahui bahwa ekspedisi Columbus dengan dua kapal yakni Pinta dan Nina ini dibantu oleh dua orang nakhoda Muslim. Mereka adalah dua bersaudara Martin Alonso Pinzon yang menakhodai Kapal Pinta dan Vicente Yanex Pinzon menakhodai Kapal nina. Keduanya adalah hartawan yang mahir dalam perkapalan, pelayaran, mengorganisir ekspedisi, dan mempersiapkan perlengkapan kapal berbendera Santa Maria ini.

Kedua pelaut Muslim itu merupakan keluarga Sultan Maroko Abu Zayan Muhammad III (1362-1366) yang menguasai Kekhalifahan Marinid (1196-1465). (Thacher, John Boyd: Christopher Columbus, New York, 1950). Selain itu, Columbus dan para penjelajah setelahnya, khususnya dari Spanyol dan Portugis mampu melayari Samudera Atlantik sejauh 2.400 km karena bantuan informasi geografis dan navigasi dari peta yang dibuat oleh para penjelajah dan pedagang Muslimin. Termasuk, informasi dari buku karya Abul Hassan al-Masudi yang berjudul Akhbar az-Zaman.

Pada pertengahan abad 16, pasca runtuhnya kekhalifahan Islam di Andalusia, terjadi pemaksaan besar-besaran terhadap orang-orang Yahudi dan Islam untuk menganut Katholik, disebut Spanish Inquisition. Ada tiga sikap orang-orang Yahudi dan Islam dalam menghadapi inkuisisi itu. Pertama, yang tak mau pindah agama, disiksa dan dieksekusi dengan dibakar atau dipancang di kayu salib.

Kedua, beralih agama menjadi Katholik Roma. Orang Islam yang beralih agama disebut Morisko, sedangkan orang Yahudi disebut Marrano. Mereka hidup dalam pengawasan ketat, apakah berganti agama secara serius atau tidak. Ketiga, melarikan diri menyeberang Laut Atlantik. Inilah gelombang imigran kedua yang mencapai benua Amerika. Dalam gelombang imigran kedua inilah termasuk rombongan ekspedisi yang dipimpin Columbus.

Pembantaian terhadap umat Islam dan Yahudi mencapai puncaknya pada masa Paus Sixtus V (1585-1590). Sekurang-kurangnya ada dua dokumen yang menerangkan tentang ini. Pertama, tahun tahun 1539, Raja Spanyol, Carlos V, mengeluarkan dekrit yang melarang penduduk keturunan Muslim bermigrasi ke Amerika Latin. Kedua, setelah diratifikasi pada 1543, dekrit itu memerintahkan pengusiran besar-besaran pada komunitas Muslimin yang bermukim di Amerika. Pada saat itu, benua itu merupakan jajahan Spanyol. Inilah sebabnya, komunitas Muslim di Amerika tidak berkembang, bahkan punah, karena mereka tetap diburu meski sudah bermigrasi beberapa abad sebelum jatuhnya Andalusia.

Nah, berita “penemuan benua Amerika” dikirim pertama kali oleh Columbus pada kawan-kawannya orang Yahudi di Spanyol. Selanjutnya, komunitas Yahudi memanfaatkan momen ini dengan cara mempublikasikan pelayaran Columbus pada dunia untuk menciptakan legenda di dunia pelayaran. Selanjutnya, karena sejak jatuhnya kekhalifahan Islam di Andalusia, media massa dan publikasi dikuasai orang-orang Yahudi, maka ketidakjujuran dalam menulis fakta sejarah dilakukan secara sistematis oleh mereka.

Kini, fakta itu telah terbuka lebar, maka menjadi tugas generasi Muslim selanjutnya untuk meneruskan jejak pengembaraan ini.

2 thoughts on “Sebelum Columbus Menembus Atlantik

  1. terima kasih banyak atas infonya yang lebih lengkap ^_^. . .

    hehehe tapi saya pernah membaca mitos sejarah (yang memang belum ada bukti arkeologi selain bukti beberapa kejadian) seperti berikut ini:

    masyarakat indonesia dahulu, khususnya suku bugis telah dikenal sebagai pelaut ulung yang berani menjelajahi samudra luas. maka pernyataan bahwa orang indonesia (baca: orang bugis) yang pertama kali menemukan benua amerika adalah tidak dapat dinafikan. Adalah Karaeng Pa’Runtu’ Daeng passap’pa’ dan CS-nya diberitakan telah melakukan pelayaran membelah samudra luas.

    Karaeng Pa’Rruntu’ Dg Ppassap’pa’ dan rombongan pergi berlayar dan kapalnya kemudian masuk ke area Badai yang sangat besar yang lebih dikenal dengan nama AQUA LAGUNA. Rupanya kapal Karaeng Pa’Rruntu’ Daeng Passap’pa’ telah dibawa oleh badai tadi dan akibatnya Karaeng Pa’Runtu’ Daeng Passap’pa’ dan rombongan terdampar di sebuah pulau yang sangat asing dan tak berpenduduk. Rombongan lalu memasuki hutan meskipun mereka tahu banyak binatang super buas didalam rimba.

    Setelah menyusuri hutan dan tak menemukan manusia di semua bagian pulau, mereka kembali ke pantai dan memperbaiki kapal dan kemudian melakukan pelayaran pulang ke Tanjung Bunga Makassar. Sialnya, layar telah berkembang tapi angin tak kunjung bertiup hingga asa tak sampai walaupun rindu akan kampoeng halaman telah menyergap seluruh rombongan. Kemudian, mereka memutuskan membaca mantra ajaib dari timur lalu beramai-ramai memanggil angin.

    Am’mirik’ko……Am’mirik’ko…. Am’mirik’ko….. (Bugis:Am’mirik’ko= Indonesia: Berhembuslah wahai angin),

    semua crew berteriak

    Angin akhirnya berhembus dan mengembangkan layar. Sesampainya di Tanjung bunga, Kapal berlabuh dan semua awak turun. Setelah semua awak turun, Karaeng Pa’Rruntu’ merasa ada yang kurang. Setelah berpikir, barulah dia menyadari bahwa salah satu awaknya tertinggal di pulau aneh itu. Awak yang tertinggal itu adalah SYAMSUDDIN (English: SAMSUDDIEN).

    Sementara itu di sebuah tanjung, Syamsuddin terus menunggu dan berharap teman-temanya akan kembali dan menjemputnya. Tapi, yang datang adalah pelaut-pelaut portugis. Orang Portugis bertanya dalam bahasa latin:

    “Apa nama pulau ini?“

    Syamsuddin bingung karena tidak mengerti bahasa latin. Dia mengira orang portugis itu menanyakan apa yang dia lakukan di pulau ini. Diapun menjawab dalam bahasa Bugis Makassar:

    “aku ditinggalkan temanku, Apa kalian berpapasan dengan orang-orang yang berteriak Am’mirik’ko?”

    Orang Portugis mengira Am’mirik’ko (latin:Americo=English:Amerika) adalah nama pulau itu. Para pelaut Portugis itupun kembali ke kampung halamannya lalu melaporkan tentang sebuah pulau yang bernama Tanah Ameriko.

    Selama ini Amerika telah menutup-nutupi bahwa Orang Bugis Makassarlah yang menemukan Benua Amerika. Mereka tidak ingin Dikatakan sebagi anak cucu Syamsuddin (baca:orang Indonesia). Bagaimanapun hal tersebut ditutup-tupi, amerika tetap berjuluk Negeri Paman SAM (-suddin). Mereka juga tidak menyadari bahwa nama Amerika adalah padanan kata dari Am’mirik’ko. Dan, Tanjung Tempat syamsuddin menunggu dan mengharapkan teman-teman yang tak akan pernah menjemputnya kemudian dikenal sebagai TANJUNG PENGHARAPAN.

    terlepas dari itu semua, (dan mungkin cerita yang saya berikan ini adalah lelucon yang kebetulan saja) saya dapat mengatakan dan setuju kalau orang islamlha yang pertama menemukan benua amerika itu, hehehe

    Habibi Daeng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s