Apakah Kita Merasakan Denyut Bumi?

Oleh: Catherine Brahic
(Sumber: NewScientist, 23 Mei 2009, hal. 8)

Bumi mungkin punya denyut jantung. Bukti dari Hawaii dan Islandia mengisyaratkan bahwa inti planet ini mungkin melepas plume simultan magma ke arah permukaan setiap 15 juta tahun atau lebih.

Jika hipotesis ini benar, maka akan merevolusi pemikiran kita tentang apa yang terjadi jauh di bawah kaki kita. Ilmuwan-ilmuwan independen yang dihubungi oleh NewScientist terpecah, beberapa mencemooh, sementara yang lainnya penasaran.

Rolf Mjelde dari Universitas Bergen dan Jan Inge Faleide dari Universitas Oslo, keduanya di Norwegia, memakai data seismologi untuk mengukur ketebalan kerak Bumi di antara Islandia dan Greenland (lihat peta). Islandia berada di atas Mid-Atlantid Ridge, di mana magma memancur untuk membentuk kerak segar.

Pengukuran tersebut memungkinkan Mjelde dan Faleide untuk mengambil kesimpulan mengenai arus magma masa lampau di dalam plume, yang dianggap naik di bawah Islandia. Ketika plume ini kuat, ia mempertebal kerak hingga terbentuk di permukaan. Mereka menemukan bahwa kerak tersebut telah menebal kira-kira setiap 15 juta tahun, menyiratkan adanya denyut plume pada sekitar frekuensi itu.

Pendenyutan reguler plume bukanlah gagasan baru, tetapi ketika kedua orang ini membandingkan hasil penelitian mereka dengan pendenyutan serupa di Hawaii, mereka menemukan korelasi yang mengejutkan. Data yang dikumpulkan oleh Emily Van Ark dan Jian Lin dari Woods Hole Oceanographic Institution, Massachusetts, mengindikasikan bahwa denyut plume Hawaii bersamaan dengan denyut Islandia. (Marine Geophysical Research, DOI: 10.1007/s11001-009-9066-0).

“Keduanya berada di daerah Bumi yang sangat berlainan, jadi saya pikir kesinkronan itu tidak mungkin terkait dengan sesuatu di dalam mantel,” kata Mjelde. “Itu pasti terkait dengan inti. Saya tidak menjumpai kemungkinan lain.” Ini artinya inti Bumi secara periodik memanaskan mantel yang ada di atasnya, menghasilkan plumeplume sinkron yang naik ke permukaan pada titik-titik yang terpisah luas.

“Jika benar, ini akan mengubah pemikiran kita saat ini secara signifikan,” kata Rhodri Davies dari Imperial College London. Sebagian besar geolog yang percaya eksistensi plume mantel menganggap bahwa pendenyutan dapat dijelaskan oleh proses-proses dalam mantel sendiri, seperti penambahan magma di kawasan-kawasan yang memiliki kekentalan (viscosity) berbeda-beda. “Dibutuhkan cara berpikir yang baru,” Mjelde sependapat. Namun, beberapa geolog yang dihubungi oleh NewScientist mengatakan bahwa mereka tidak bisa menjelaskan bagaimana denyut-denyut besar panas yang diperlukan dapat dihasilkan di dalam inti.

Barangkali ada penjelasan lain untuk kesinkronan ini. Pengukuran lebih detail mungkin dapat menguak bahwa waktu kejadian denyut kedua plume itu berdekatan tapi tidak sinkron. Lebih jauh, Mike Coffin dari National Geography Centre di Southampton, Inggris, menjelaskan bahwa mantel tidak homogen, sehingga plumeplume yang meninggalkan inti pada saat yang sama mungkin tidak mencapai kerak pada waktu bersamaan.

“Dari bukti yang ada, saya skeptis bahwa mereka berdenyut bersamaan,” kata Huw Davies dari Universitas Cardiff, Inggris. Meski begitu, pemikiran tersebut masih “berpotensi sangat menarik”, tambahnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s