Mencari Kehidupan di Bawah Dasar Laut

Oleh: Sarah Simpson
(Sumber: Scientific American, Juni 2000, hal. 94-101)

Robot selam yang ditambatkan pada kapal membantu ilmuwan menyelidiki makhluk mikroskopis yang mungkin hidup dalam celah berisi cairan di dasar lautan yang berbatu.

Dua ilmuwan memiliki keyakinan besar bahwa gudang kehidupan terbesar bukanlah lautan melainkan batuan retak di bawahnya. Staf penulis Sarah Simpson menceritakan pelayaran mereka untuk menemukan bukti.

Paul Johnson memandangi monitor video yang penuh dengan gambar hidup dasar laut gundul sekitar 3 kilometer di bawah tutup putih Pasifik Utara. Monitor tersebut merupakan tingkapannya menerobos mata tunggal Jason, robot selam yang melayang di ujung rantai tambatan listrik dan fiber-optik yang teruntai dari kapal riset Thomas G. Thompson.

Dengan bersilang tangan di dada, Johnson melihat sepintas kepada insinyur yang mengemudikan robot dari joknya di ruang kendali kapal. Sang awak telah mengitari dasar samudera selama 13 jam non-stop, tapi Johnson tak ingin melewatkan pekerjaan itu. Mereka hanya punya 30 menit untuk mengelokkan selang (sepanjang 6 kaki) pompa ke dalam sebuah lubang di dasar laut sebelum timer otomatis menyalakan pompa. Pada gambar video yang suram, Johnson melihat air di atas lubang berkilauan dengan panas. Air ini naik dari bebatuan di bawah samudera, dan Johnson yakin bahwa sesuatu di dalam air tersebut hidup—atau pernah hidup.

Pengemudi mengambil nafas dan menyeruput kopi, kemudian memutar joystick di atas panel perkakas di depannya. Robot mengulurkan lengan aluminium tunggal dan cakar berjari empatnya ke arah selang kosong, yang hampir tidak lebih tebal dari jari selebar setengah inchi sang robot. Menangkap selang tersebut lebih sulit dari kelihatannya, sebab penggunaan robot mempersukar pengemudi dalam beberapa hal: itu tidak memberinya persepsi kedalaman untuk menaksir jarak dan tidak memberinya indera peraba untuk mengecek cengkeramannya. Untuk melihat ke kiri atau ke kanan, dia harus menekan tombol yang memiringkan kamera. Setiap gerakan berlangsung secara lambat. Dari bayang-bayang, Johnson dan sekelompok observer menyeringai tatkala selang putih merayap jauh dari jangkauan. “Seperti menonton video game di mana anak-anak lain tidak mengizinkan Anda bermain,” ucap Johnson. Waktu berdetak maju saat pengemudi mengemudikan robot mendekati selang yang mengelak-elak—dan mendekati air yang berkilauan.

Pengemudi mengarahkan robot, Jason, dari ruang kendali.
Di atas kapal Thomas G. Thompson.
Dia menggunakan cakar tunggal robot untuk menangkap salah satu dari 6 tiang plastik yang telah bertengger di dasar Pasifik Utara selama setahun.
Tim bekerja siang malam untuk mengumpulkan tiang, yang menyimpan filter-filter yang dirancang untuk memperangkap tanda-tanda kehidupan yang mungkin menyembur keluar dari kerak berbatu. Para insinyur menggulung Jason kembali ke dek hanya untuk berpindah lokasi atau melakukan perbaikan.

Menemukan makhluk mikroskopis yang naik dari sumber air panas dasar laut tidak akan mengejutkan siapapun jika sumber air itu adalah black smoker. Terisolasi dari energi matahari pemberi kehidupan, cerobong batu menjulang tersebut (black smoker) memuntahkan sumber bahan kimia mendidih yang membangkitkan seluruh rantai makanan makhluk-makhluk, mulai dari bakteri pemakan sulfur hingga cacing tabung berujung merah dan kepiting laba-laba predator. Black smoker memang mempesona, tapi langka. Semua yang tereksplorasi sejauh ini berjumlah tak lebih dari beberapa acre dasar laut.

Sumber air hangat yang ini berbeda: ia keluar dari lubang buatan manusia, dan jaraknya 100 kilometer dari black smoker terdekat yang dikenal. Johnson dan rekan ilmuwan laut, Jim Cowen, curiga bahwa jika kehidupan bawah laut menyembur di sini, maka sebuah Eden mencolok dengan ukuran sangat besar kemungkinan besar menghuni bagian dalam batu retak yang mendasari keseluruhan samudera. Alam bawah permukaan ini boleh jadi menopang lebih banyak makhluk hidup dibanding gabungan semua habitat laut.

Sulit untuk menolak mempertimbangkan implikasi global dari penemuan semacam itu. Diberi makan oleh mineral dari dalam dan dihangatkan oleh magma dari bawah, apakah dahulu calon bentuk kehidupan bersembunyi dalam kerak lautan ketika Bumi muda mengalami serbuan asteroid dan pembekuan global? Dan jika kehidupan berkembang subur di dasar Bumi yang berbatu, maka mengapa tidak demikian halnya di bawah samudera di bulan Europa berlapis es (bulannya Yupiter) atau di palung sungai Mars purba?

Kini pada timer pompa hanya tersisa 11 menit. Johnson tahu bahwa pompa merupakan cara tercepat dan terbaik untuk menangkap tanda-tanda kehidupan dari kerak. Jika [tanda-tanda] itu dikenal di perairan laut normal, sampelnya tidak akan bernilai. Robot akhirnya menggenggam selang dengan kokoh, tapi pengemudi berusaha mendesak selang ke dalam lubang. Dia gagal, dan penonton menghembuskan nafas. Akhirnya, selang memasuki air yang berkilauan dengan sisa waktu terluang satu menit. Menegangkan dan menimbulkan frustasi saat menyaksikannya, operasi ini tidak begitu berbeda dari yang mungkin dilakukan robot dalam mencari kehidupan di Europa dan Mars. Tapi baik di ruang angkasa atau di laut, keberhasilan kecil terkadang menciptakan masalah tak terduga, sebagaimana segera teringat oleh para ilmuwan di kapal Thompson. Menjejalkan selang selama 3 jam membuat jari-jari Jason kepanasan, dan sang robot timpang untuk sementara harus berhenti bekerja.

Memang, frustrasi di laut-lah yang pertama kali mempersatukan Johnson dan Cowen, pada 1994. Keadaan itu yang dialami kedua ilmuwan, kala itu sedang menjalankan riset tak terkait, di kapal yang sama. “Kami mengalami cuaca buruk, peralatan kami rusak, operator kami error—banyak waktu kami terluang,” kenang Johnson. “Jadi Jim dan saya mulai bicara.” Mereka segera menemukan bahwa mereka berbagi satu ide kontroversial—bahwa kehidupan mungkin tumbuh subur di samudera di bawah dasar laut—dan berpikir bahwa mereka melihat satu cara untuk mengujinya. Rekan-rekan mereka bereaksi skeptis, tapi setelah Johnson dan Cowen dua kali merevisi pendekatan mereka, National Science Foundation lulus dengan $1,6 juta.

Tapi satu program riset mungkin tidak cukup. Sekalipun negeri ajaib mikroba yang mereka hipotesiskan benar-benar eksis, mungkin perlu berdekade-dekade untuk membuktikannya. Di sebagian besar tempat, kerak terbentang di bawah beberapa kilometer air laut—belum lagi gundukan kotoran yang cukup untuk mengubur gedung pencakar langit 60 tingkat. Kedua ilmuwan tahu bahwa peluang terbaik untuk membuktikan teori mereka adalah dengan menemukan titik-titik di dasar laut di mana panas dari bawah memaksa air keluar dari batu.

Dalam pelayaran pertama mereka, pada 1997, mereka menemukan beberapa tirisan yang memenuhi syarat. Setahun kemudian, mereka menutup tirisan-tirisan ini dengan filter canggih yang dirancang untuk sel, DNA, atau tanda kehidupan lainnya yang menyembur bersama air. Di akhir Agustus 1999, mereka berlayar sekali lagi. Dalam ekspedisi 13 hari ini, mereka membutuhkan Jason dan 9 orang krunya dari Woods Hole Oceanographic Institution di Massachusetts untuk mendapatkan kembali 6 filter yang mereka tanam di dasar laut pada tahun 1998. Mereka juga ingin mengujicoba pompa baru dan filter lebih kecil dan rapi yang dirancang oleh tim Cowen untuk bertahan selama seminggu saja.

Berangkat dari pelabuhannya di Universitas Washington, Seattle, kapal Thompson mengikuti arus barat menuju tetak bergerigi dasar laut bernama Juan de Fuca Ridge, yang mencerminkan garis pantai sekitar 350 kilometer dari daratan. Bagian dari jaringan retakan penyembur lava dunia, bubungan (ridge) ini dipenuhi dengan black smoker, diberi nama sesuai: Godzilla, Inferno, Hulk. Tapi Johnson dan Cowen tidak menginvestigasi titik-titik panas itu. Kapal Thompson justru berhenti 100 kilometer dari ridge, di atas Cascadia Basin yang relatif belum dipetakan, sebuah titik rendah antara pantai dan ridge. Melepaskan kumparan raksasa kabel lapis baja, para insinyur Woods Hole perlahan menurunkan Jason menuju patch dasar laut dingin biasa, di mana lava cair mengeras menjadi batu bernama basalt lebih dari 3 juta tahun silam. Batu dingin hampir tidak terlihat sebagai tempat berlindung yang menggiurkan bagi kerumunan makhluk mikroskopis, tapi Johnson dan Cowen melihat hal-hal secara berbeda.

Penarikan tiang pertama ke atas dek, biolog Jim Cowen (paling kiri) dan seorang ilmuwan lain berhati-hati menghindari racun yang dipasang untuk menjauhkan makhluk tak diinginkan agar tak bersarang di filter.
Keesokan harinya geofisikawan Paul Johnson (kiri) membantu seorang insinyur melepas lengan tunggal Jason, yang tidak berfungsi sebelum tiang-tiang lain didapatkan kembali.
Perbaikan seksama menghentikan kemajuan tim selama lebih dari 24 jam.

Untuk satu hal, kerak tua tidak sekokoh dugaan Anda. Johnson, geofisikawan 59 tahun dari Universitas Washington, sudah menghabiskan banyak karirnya untuk mencari tahu basalt lautan. Dengan mempelajari variasi kecil pada medan gravitasi dasar laut, dia telah mengestimasikan bahwa hingga 20% dari 600 meter batuan lapisan atas di area ini terdiri dari ruang lowong berisi air. “Di setiap tempat di mana ada air, ruang, dan temperatur di bawah 100 derajat celcius, Anda pasti menjumpai kehidupan,” ungkap Johnson, membacakan mantra dari rekan-rekannya yang percaya. (Waktu itu, keyakinan ini datang dari seorang pria yang berkata kepada seorang mahasiswa pada tahun 1967 bahwa lempeng tektonik adalah ide konyol. “Jadi saya punya keyakinan lama tentang kekeliruan mutlak,” candanya.)

Sudah pasti banyak biolog juga akan berpikir bahwa Johnson sama sekali keliru tentang kehidupan bawah laut, kecuali kalau dia dan Cowen dapat mengumpulkan bukti tak terbantahkan. Tantangan terbesar mereka adalah menangkap kehidupan unik dari bawah tanpa membiarkan kehidupan biasa dari atas menyelinap ke dalam sampel. Tugas ini mungkin kedengarannya sederhana, tapi mikroba terkenal oportunis. Mereka dapat mengumpulkan nafkah dari molekul-molekul sederhana karbon, sulfur, dan besi, yang ditemukan hampir di setiap tempat di air laut, di lumpur yang melapisi bebatuan—bahkan di permukaan logam perangkat riset. Mengakses kerak yang dalam dengan bor hanya memperbesar resiko kontaminasi. Seperti menarik sumbat bak mandi, membuat lubang di dasar samudera biasanya memungkinkan laut yang dipenuhi kehidupan masuk menyerbu.

Tidak demikian halnya dengan lubang yang kini ditampilkan dalam kamera video Jason. Terdapat air hangat yang mengalir dari atas sedotan baja yang terbentang melewati lumpur setebal 250 meter dan menembus 50 meter ke dalam batuan di bawah. Tekanan telah mendorong air keluar dari lubang sejak dibor 3 tahun lalu dan, barangkali, telah menyemburkan kontaminasi. Ketika Cowen pertama kali mendengar tentang lubang pengeboran ini, biolog 48 tahun tersebut mengatakan apa yang dia rasakan: “seperti anak kecil keranjingan permen yang diberi kunci menuju toko permen.” Dia dan kelompoknya dari Universitas Hawaii sedang berupaya mengumpulkan kehidupan bawah samudera di dalam belahan (sepanjang 4 kaki) pipa ledeng yang dihubungkan ke sedotan baja. Di bagian dalam tiang plastik terdapat sebuah filter yang mencari-cari tanda kehidupan dari air hangat yang mengalir melewatinya selama setahun belakangan. Jadi mereka berharap.

Pengemudi Jason mengarahkan robot tersebut untuk melihat lebih dekat pada silinder titanium kecil yang menaiki tiang pengeruk. Silinder dimuati dengan sensor elektronik yang mengukur temperatur air dan laju arus, yang membantu Johnson dan mahasiswanya untuk melihat apakah kondisinya bisa menopang kehidupan. Seorang ilmuwan mengerutkan dahi ketika melihat bulu halus korosi di sekitar konektor kuningan pada tutup titanium—begitu banyak korosi sehingga dia penasaran apakah alat itu akan berhasil mencapai permukaan tanpa menghasilkan tirisan. Tirisan tekanan tinggi bisa memicu ledakan di permukaan. Bahkan ledakan kecil pun akan buruk, karena tiang pengeruk mengandung klorida merkuri, racun mematikan yang dipakai para biolog untuk membunuh crustal critter yang terperangkap pada filter dan untuk mengusir hama air laut.

“Racun tersebut dimaksudkan untuk menapis hingga secara lambat laun membunuh makhluk,” jelas Cowen saat tim memindahkan tiang pengeruk dari dasar laut ke dek kapal untuk membersihkan shower. “Saya kira ini kepergian yang lama.” Kembali ke laboratorium biologi, dia dan mahasiswanya mendobrak tiang tanpa masalah. Cowen mengubah sarung tangan bedahnya yang berwarna biru, agar bersih sebelum menyentuh bagian dalam filter. Dengan lembut tapi cepat, dia menarik keluar lipatan lapisan fiber kaca yang dirangkai, yang kini dipenuhi dengan lendir cokelat kehijauan. “Saat kami memasukkannya ke sini, warnya putih murni,” komentarnya. Sebuah senyuman tersungging di wajahnya ketika dia dan para mahasiswanya membagi-bagi segmen filter ke dalam tabung-tabung kaca pelindung.

Lendir hijau itulah yang mereka cari. Mereka mengumpulkan sampel serupa tapi lebih kecil di sini tahun lalu dan memberikannya kepada Steve Giovannoni, seorang biolog molekul di Oregon State University yang dikenal atas keahliannya dalam menguraikan kode genetis mikroba-mikroba air laut. “Kita mengetahui apa yang ada di air laut, dan yang ini terlihat berbeda,” kata Giovannoni kepada mereka sebelum mereka pergi. Tapi “berbeda” bukanlah bukti bahwa hama itu berasal dari kerak. Cowen tahu bahwa semakin organik puing yang mereka kumpulkan, semakin besar peluang mereka menyingkirkan kontaminasi. Itulah mengapa mereka ingin menurunkan pompa dan filter baru sebelum pindah ke lokasi berikutnya.

Empat hari dalam pelayaran, masalah dimulai dengan jamur pada cakar Jason yang kepanasan dan berubah menjadi krisis sehingga menghentikan agenda ambisius tim. “Tak ada kegembiraan di Mudville hari ini,” ungkap Johnson saat melangkah di antara mesin derek, kerekan, dan pelampung tak terpakai yang menyesaki dek buritan kapal. Lusinan burung albatros berkerumun di buritan. Alam memihak kepada sains di sore hari yang tenang bermandikan cahaya matahari ini, tapi tidak dengan mesinnya. Sekali lagi para insinyur menggulung Jason kembali ke kapal. Robot tersebut sudah hampir menyentuh dasar ketika mereka menemukan bahwa cakarnya, yang diduga sudah betul kembali, masih lumpuh.

Johnson, yang pernah tinggal selama 2 tahun di laut, memperkirakan masalah seperti ini dalam riset laut dalam. “Sekurangnya setengah dari apa yang terjadi adalah bencana,” katanya. Tapi dia menyatakan takkan pernah menjadi bosan. Impian masa kecilnya adalah pergi ke bulan, tapi penyakit polio membuatnya pincang. “Jadi,” jelasnya, “Saya menempuh jalan lain.” Keputusan itu diambil seperempat abad silam. Veteran seperti Johnson tahu bahwa momen yang paling membuat mereka menderita di laut adalah saat memilih aktivitas, yang sudah direncanakan secara seksama, mana yang harus dihentikan. Mereka sengaja memesan lebih setiap ekspedisi supaya tidak membuang-buang waktu kapal yang berharga, yang biayanya sekitar $20.000 per hari.

Saat matahari tenggelam, para insinyur telah mengamputasi lengan Jason yang gagal berfungsi. Sebuah kantung sampah hitam melindungi puntung lengan yang rentan tersebut dari percikan garam, dan pencahar (mineral oil) yang menjaga agar bagian dalam robot tidak meledak ke dalam akibat tetesan laut dari chamber Plexiglas. Di bengkel, seorang insinyur membangun kembali cakar tadi sementara dua lainnya mengawati kembali perangkat-perangkat elektronik. Sebagaimana biasa, tim bekerja sampai malam, tapi gagal mendiagnosa kerusakan Jason.

Johnson dan ketua lainnya memutuskan untuk mengubah susunan daftar jadwal pelayaran guna memberi lebih banyak waktu kepada kru Jason. Dua hari ke depan, kapten merencanakan perjalanan ke gunung berapi Axial, lepuhan kerak muda di sepanjang ridge. Di sana mereka berharap menemukan lingkungan mikroba yang lebih beraneka ragam dan padat, yang akan membantu mereka membayangkan lingkungan bawah laut yang pasti eksis di antara tempat ini dan sana. Saat makan siang keesokan harinya, seseorang bertanya kepada Johnson apa yang dia rencanakan untuk dilakukan ketika mereka tiba. “Jika lengan itu berfungsi, kita akan menyelam dan melakukan banyak hal; jika lengan tidak berfungsi, kita akan menyelam dan melakukan sedikit hal,” jawab Johnson dengan sikap seriusnya yang khas. Sebenarnya, tanpa lengan Jason, mereka tak punya harapan untuk mendapatkan kembali 5 tiang pengeruk yang masih bertengger di dasar laut.

Perjalanan 12 jam ke Axial memberi para insinyur waktu yang mereka butuhkan. Segera setelah kapal Thompson sampai di gunung berapi bawah air tersebut, kapal selam turun beberapa meter ke gundukan (mirip bantal) basalt seperti kaca, bukti batu cair yang memadat setelah bersentuhan dengan air laut yang sangat dingin. Melewati jaringan putih bakteri-bakteri, yang mengapung seperti lembaran kertas tisu yang hancur, para ilmuwan melihat satu tiang bertengger di atas platform yang mereka perkokoh pada batu gundul tahun lalu.

Mereka menarik tiang itu ke atas kapal, lalu Johnson mengecek sensor arus airnya. Dia terpesona oleh sebuah pola mengherankan: volume air yang keluar dari dasar laut berfluktuasi sesuai dengan pasang yang lewat. Sudah diketahui luas bahwa lautan di ridge Juan de Fuca berubah kedalaman sebesar 2 atau 3 meter sesuai tiap-tiap siklus pasang. Yang Johnson temukan adalah bahwa bobot luapan pasang yang lewat memampatkan batu, yang mengembang kembali saat luapan pasang berlalu. Panas saja menggerakkan air menembus batu pada kecepatan hanya beberapa meter per tahun. “Itu sangat lambat,” jelas Johnson. “Tapi jika Anda menggunakan lingkungan ini, dan menjejalkannya setiap 12 jam, maka Anda akan memperoleh kecepatan kira-kira bermeter-meter per hari.” Mikroba yang hidup di batu, yang sangat membutuhkan nutrien kimiawi yang larut dalam air yang beredar, tidak bisa meminta layanan antar yang lebih cepat dan handal.

Cowen membuka tiang.
Dia dan mahasiswanya menemukan bahwa filter tersumbat dengan lendir hijau—dan tanda-tanda potensial kehidupan dari kerak.
Keranjang ringan mengangkut dua tiang terakhir ke permukaan, tapi gelombang kasar menumpahkannya kembali ke dalam laut meski dilakukan upaya terbaik oleh kru.
Akan tetapi, begitu kapal Thompson tiba di pelabuhan keesokan paginya, Johnson tetap berpendapat bahwa kesuksesan perjalanan itu jauh melampaui kekecewaan yang ditimbulkan.

Tim mengangkat tiang ketiga, juga di kerak muda, lalu kembali ke arah Cascadia Basin. Kapal Thompson tiba di lubang pengeboran dengan hanya satu hari terluang sebelum ia harus kembali ke pantai. Sore itu, Jason menangkap tiang kecil yang mereka turunkan seminggu lalu, dan kru Cowen mengangkutnya ke lab untuk melihat apa yang melekat pada filter ber-fangle barunya. Kapal sudah mulai bergerak 6 kilometer ke selatan menuju tempat kerak terangkat yang hampir tidak menjulang ke atas kotoran. Di sana, di mana air hangat naik pada tirai panas dari retakan simpang siur pada batu, sedang menanti 3 tiang pengeruk terakhir yang ditinggalkan ketika kapal berangkat lebih awal untuk menuju Axial.

Cowen mengancingkan sepasang sarung tangan biru yang baru dan memutar musik swing pada sistem stereo lab. Jason telah bekerja tanpa istirahat sejak penyelaman di Axial. Di atas semua itu, tim telah menyelesaikan sebagian besar prioritas tertingginya—pada poin ini, mereka telah mendapatkan kembali sebagian dari tiang pengeruk, yang kesemuanya bekerja di dasar samudera sebagaimana direncanakan selama setahun penuh. Tugas terakhir nyaris komplit: Jason baru saja mengepak dua dari tiang yang tersisa dalam sebuah keranjang ringan dan sedang menaikkan tiang ketiga yang disangkutkan pada kerangkanya.

Deru pengeboran yang dilakukan Cowen untuk membuka tiang kecil mengalahkan bunyi tiup terompet dan dentaman drum. Dia berseri-seri saat menarik keluar filter bundar mirip sandwich yang sekarang disumbat dengan lumpur hijau lazim. “Ini sama bersihnya dengan yang ia dapatkan,” ungkap Cowen saat mengiris filter seperti kue pie mini.

Johnson memasuki ruangan, tampak serius. Keranjang itu terlihat memuat dua tiang terakhir di dasar laut. Keranjang tidak merespon perintah untuk menjatuhkan bebannya, dan kru khawatir ia tidak akan naik ke permukaan sebelum malam turun, tinggal 5 jam tersisa. (Dalam pengaturan yang mirip dengan balon udara panas, batang aluminium menghubungkan keranjang dengan sekelompok pelampung, yang mustahil bisa dilihat dalam gelap meski berwarna kuning cerah.) Tugas itu tidak bisa ditunda sampai pagi, sebab barometer menurun dan dan gelombang menaik setelah tenang selama 2 minggu. Dalam diskusi singkat namun padat, Johnson, Cowen, kapten kapal, dan ketua kru Jason memutuskan menurunkan robot untuk melepas beban. Selama 3 jam yang dibutuhkan keranjang untuk naik ke permukaan, cuaca memburuk.

Luapan kini melanda sampai 9 kaki. Johnson berdiri di jeruji pagar mengenakan topi keras, rompi pelampung, dan sarung tangan karet—dia telah bersukarela untuk menutup katup pengaman pada kotak beracun tiang sebelum kru membawa keranjang ke dek. Kapten menyenggol  [jangkar] pengangkat 3.200 ton kapal Thompson dalam jarak pelampung kuning yang turun naik. Merentang di atas jeruji pagar dan memukuli dengan kail logam di tangan, pembantu ketua merobek tali yang terikat pada rangka keranjang dan mengaitkannya pada mesin derek. Terangkat persis di atas air, pelampung tak lagi bisa menahan keranjang secara tegak lurus, dan luapan abu-abu berbahaya memiringkannya.

Johnson melihat bahwa salah satu tiang pengeruk berat sebelah dan kini menjulur berbahaya. Operator mesin derek mengerahkan kerekan sampai kekuatan penuh saat gelombang yang lewat membuat keranjang bergelantung bebas untuk beberapa saat. Luapan berikutnya sekali lagi menepuk sisinya, dan tiang yang terbalik bergerak tidak stabil di tepi kontainer. Luapan ketiga menelan keranjang, dan setelah detik terlama di kapal itu, keranjang muncul di atas percikan [luapan] tanpa satupun tiang di dalamnya. Johnson menyergap ke jeruji pagar untuk menyaksikan kedua instrumen tenggelam secara perlahan dari pandangan.

Kehilangan peralatan senilai $25.000 sungguh buruk, tapi kehilangan petunjuk yang didapat selama setahun pada kedua filter itu luar biasa mengecewakan. Pembantu ketua melontarkan permohonan maaf, tapi Johnson meyakinkannya bahwa tak ada yang penting. Dia berbalik ke arah kerumunan yang berjejer di jeruji dek di atasnya—potongan wajah yang tampak tertegun sebagaimana dia rasakan. Cowen ada di anatara mereka, tapi kedua ilmuwan tidak bersusah-susah bicara sampai malam, ketika kapal menuju pelabuhan. “Tak ada kesalahan, tak ada inkompetensi,” Johnson kemudian berkata, ”hanya gelombang yang salah di waktu yang salah.” Mereka hanya bisa berharap filter yang mereka dapatkan menyimpan jawaban yang mereka cari. Pada poin ini, mereka tak punya uang untuk kembali dan mencoba lagi.

Beberapa bulan kemudian, Cowen menerima email kabar dari seorang ahli kimia organik di Chicago yang sedang mempelajari beberapa sampel dari Cascadia Basin. Ternyata air yang dikumpulkan di lubang penggalian mengandung fragmen sejenis sel lemak, disebut lipid (zat mirip lemak yang tak larut dalam air tapi larut dalam pelarut organik, lipid meliputi asam lemak, minyak, lilin, dan steroid-penj), yang tidak terdapat pada sampel lumpur atau air laut dari lokasi yang sama. Giovannoni punya berita menarik lainnya: pada air yang berkilauan tadi, dia menemukan sederetan mikroba berankea ragam, di antaranya bakteri penyuka panas yang tak pernah bisa bertahan di temperatur dingin dasar laut dan bakteri anaerobi yang biasanya tercekik oleh oksigen yang hadir di air laut normal. “Nama mengisahkan cerita,” ungkap Giovannoni. “Perlihatkan daftar ini kepada semua mikrobiolog, dan mereka akan bilang ini adalah jackpot.” Tapi jackpot ini masih kekurangan bukti bahwa hama-hama itu berasal dari kerak. Mikroba yang sama juga bisa hidup nyaman di TKP hangat tak beroksigen—yakni, pipa baja yang melapisi lubang penggalian.

Analisis laboratorium yang sulit dan berbulan-bulan mungkin akan menemukan sesuatu yang lebih definitif. Sementara itu, Johnson dan beberapa koleganya tengah meminta National Science Foundation untuk mendanai perjalanan kembali ke lokasi hilangnya tiang. Tim barunya ingin memasukkan pipa titanium 10 kaki ke dalam batu gundul untuk dipergunakan sebagai keran untuk membuka jalan bagi cairan—dan banyak makhluk mikroskopis potensial—dalam kerak. “Jarum hipodermis titanium kami akan memberi Mother Earth semacam tes darah,” kata Johnson. “Hanya saja dalam kasus ini, kami akan cukup senang jika ia muncul dengan ‘terinfeksi’.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s