Peta Piri Re’is

Oleh: J.B. Hare (2001)
(Sumber: www.sacred-texts.com)


Gambar peta Piri Re’is ini dipindai dari gambar muka edisi pertama buku Hapgood, Maps of the Ancient Sea Kings. Gambar ini dimasukkan di sini hanya untuk tujuan riset dan dokumentasi non-profit.

Penafsiran keterangan peta

Buku yang direkomendasikan
Maps of the Ancient Sea Kings, karya Charles Hapgood
The Path of the Pole, karya Charles Hapgood
When the Sky Fell: In Search of Atlantis, karya Rand dan Rose Flem-Ath
Hamlet’s Mill, karya Giorgio De Santillana dan Hertha Von Dechend

Sebagian besar teori mengenai peradaban-peradaban kuno tak dikenal tidak memiliki dasar bukti fisik, biasanya hanya desas-desus dan spekulasi. Artefak sungguhan akan dapat mengguncang landasan pengetahuan sejarah kita. Dan artefak ini boleh jadi takkan se-spektakuler penemuan sebuah kota yang telah punah di Atlantik atau peluru-peluru tembus baju baja yang tertanam dalam sebuah kerangka dinosaurus. Artefak ini boleh jadi hanya dapat dikenali sebagai anomali oleh pakar di bidangnya.

Yang lebih mungkin lagi, artefak ini bisa berupa dokumen atau tradisi dari masa lampau yang mengungkapkan pemahaman mendalam atas suatu fakta saintifik yang ditemukan saat ini. Artefak ini bisa saja berupa deskripsi struktur dan fungsi DNA, pengetahuan astronomi atau fisika, yang hanya diketahui oleh sains modern… atau peta akurat bumi yang digambar jauh sebelum “Age of Exploration” (Abad Penjelajahan). Peta Piri Re’is sepertinya merupakan salah satu artefak itu.

Peta Piri Re’is hanyalah salah satu dari peta-peta aneh yang dibuat pada abad ke-15 (dan lebih awal) yang terlihat menggambarkan informasi lebih maju mengenai bentuk benua-benua daripada yang semestinya diketahui pada masa itu. Selain itu, informasi ini sepertinya telah diperoleh pada suatu waktu yang jauh di masa lampau.

Piri Re’is, Ptolomy (Abad ke-2 M), juga Mercator, Oronteus Finaeus, para kartografer (pembuat peta) terkenal dari abad ke-15, memasukkan benua selatan tradisional dalam peta-peta mereka, begitu pula kartografer lain. Antartika baru ditemukan pada abad 19, dan sebagian besar belum dijelajahi hingga abad 20. Ini baru permulaan. Peta-peta aneh itu juga memperlihatkan Selat Behring yang terlihat menghubungkan Asia dan Amerika, delta-delta sungai yang tampak jauh lebih pendek dari keadaannya hari ini, pulau-pulau di Aegean yang tidak berada di atas perairan karena kenaikan level air laut pada akhir zaman es, dan gletser-gletser besar yang menutupi Inggris dan Skandinavia. Wilayah-wilayah kosong yang terisi telah lama diabaikan sebagai usaha para kartografer, beberapa detil peta-peta tua terlihat sangat mengejutkan ketika dikorelasikan dengan pengetahuan modern (mainstream) tentang perubahan-perubahan geografi Bumi dalam periode geologi masa lampau, khususnya selama Zaman Es.

Peta Piri Re’is adalah peta yang paling menarik perhatian karena kelengkapan sumber informasinya, serta detil sketsa garis pantainya yang menakjubkan.

Peta Piri Re’is ditemukan pada tahun 1929 di Imperial Palace di Konstantinopel (Istanbul). Peta ini digambar pada perkamen (kertas kulit) dan bertanggal 919 Hijriyah (kalender Islam), atau 1513 M. Peta ini ditandatangani oleh seorang laksamana Angkatan Laut Turki bernama Piri Ibn Haji Memmed, yang juga dikenal sebagai Piri Re’is. Menurut Piri Re’is, peta tersebut disusun dari 20 peta yang dibuat di masa Alexander Agung.

Peta ini dan yang lainnya dianalisa oleh Charles H. Hapgood bersama murid-muridnya. Hapgood merupakan seorang sejarawan dan ahli geografi di Universitas New Hampshire. Ia menyimpulkan analisanya dalam bukunya yang berjudul Maps of the Ancient Sea Kings (1966). Hanya saja, kesimpulan buku ini sangat sensasional; karena sebagian besarnya berupa monograf teknis atas sejarah dan geografi peta-peta aneh, dengan menggunakan trigonometri bola (spherical trigonometry) untuk menghubungkan fitur-fitur peta dengan lokasi geografi sungguhan. Baru-baru ini buku tersebut telah diterbitkan ulang, dan kami sangat merekomendasikan Anda untuk membacanya.

Kesimpulan yang dicapai oleh Hapgood adalah bahwa sebuah peradaban berkemampuan tinggi dalam berlayar dan membuat peta pernah menjelajahi seluruh bagian bumi di masa lampau. Mereka meninggalkan peta-peta yang kemudian disalin ulang dengan tangan hingga bergenerasi-generasi. Peta Piri Re’is adalah patchwork (susunan karya dari potongan-potongan kecil) yang memiliki sejumlah celah (terutama Terusan Drake antara Amerika Selatan dan Antartika) yang bisa diartikan sebagai area-area non-overlapping (tidak saling melengkapi-penj) di antara peta-peta sumber. Maps of the Ancient Sea Kings dan buku Hapgood lainnya, The Earth’s Shifting Crust, di mana di dalamnya ia mengajukan teori pergeseran kutub (theory of polar shift), adalah sangat kontroversial, dan membuat Hapgood mendapat cemoohan dari akademisi.

Tahun-tahun belakangan ini bukti-bukti semakin banyak muncul. Teori Hapgood mungkin segera terbukti kebenarannya (paling tidak dalam hal terkaannya mengenai signifikansi peta-peta aneh itu). Peta Piri Re’is adalah salah satu batu landasan sekumpulan bukti yang terus bertambah mengenai peradaban Zaman Es yang tak dikenal. Sejalan dengan ini kita juga dapat memasukkan buku Hamlet’s Mill karya De Santillana dan Von Dechend (1969) dan buku-buku Graham Hancock.

Satu hal mengejutkan dari peta ini adalah tingkat kedetilan pantai dan pedalaman di Amerika Selatan. Walaupun skalanya kecil, sebuah rangkaian pegunungan tinggi dan panjang diperlihatkan sebagai sumber sungai-sungai yang mengalir ke pantai Amerika Selatan.

Namun, fitur paling terkenal dalam peta Piri Re’is (dan peta-peta pra-modern lainnya) adalah garis pantai Antartika. Menurut pendapat Hapgood dan yang lain, ini menggambarkan sketsa garis pantai Antartika tanpa gletser.

Pengetahuan modern kita tentang garis pantai di bawah es diperoleh dengan menggunakan data sounding (pengukuran dalam air dengan gema suara-penj) seismik dari ekspedisi-ekspedisi pada tahun 1940-an dan 1950-an. Sonar adalah sebuah cara untuk memetakan pantai di bawah gletser-gletser Antartika. Cara lainnya adalah menjelajahinya ketika bebas dari es. Menurut Hapgood, yang mendasarkan klaimnya pada sampel inti tahun 1949 dari Laut Ross, terakhir kali area istimewa dalam peta Piri Re’is tersebut bebas es adalah lebih dari 6.000 tahun lalu. Studi baru-baru ini menunjukkan bahwa ini mungkin lenyap karena sejumlah gempa. Bagaimanapun juga, wilayah geografi ini semestinya belum diketahui oleh orang-orang masa lampau. Jika ini benar, maka ada beberapa misteri besar yang harus dijelaskan.

Sejumlah penulis telah ikut serta dan berusaha menjelaskan hal ini. Salah satu pemikiran mengenai peta Piri Re’is adalah tesis ‘Atlantis in Antarctica’. Pendukung utamanya adalah Rand Flem-ath dan Rose Flem-Ath dalam buku mereka yang berjudul When the Sky Fell, dan masih banyak lagi. Flem-Ath bersaudara turut bergabung dalam tesis pergeseran kutub dan Sea Kings-nya Hapgood. Belakangan, Hapgood mengklaim bahwa kemiringan poros rotasi Bumi bergeser secara tiba-tiba pada tahun 9.500 SM, yang menyebabkan Antartika bergeser ratusan mil ke selatan. Ini mengubah iklimnya dari setengah sedang menjadi sangat dingin. Tidak ada bukti bahwa pergeseran kutub secara cepat benar-benar terjadi pada waktu itu dan justru banyak bukti sebaliknya bahwa peristiwa itu tidak terjadi, bertentangan dengan hipotesis Sea Kings.

Tak ada penjelasan ilmiah mengenai suatu mekanisme yang dapat menyebabkan transformasi global semacam itu tanpa menghancurkan lapisan kulit planet kita sepenuhnya. Pasti dibutuhkan tubrukan planet, yang belum pernah terjadi sejak periode awal pembentukan planet-planet. Jika tubrukan semacam itu terjadi pada tahun 9.500 SM, hampir pasti bahwa seluruh kehidupan di Bumi telah tersapu bersih, dan kenyataannya jelas tidak demikian. Sekalipun mungkin bahwa suatu instabilitas planet-planet dapat menyebabkan poros Bumi berubah kemiringannya, ini tidak akan terjadi dalam semalam. Selain itu, pergeseran kutub akan meninggalkan tanda yang jelas di lapisan geomagnetik yang terdapat di dalam inti-inti dasar laut, dan kenyataannya tidak demikian.

Banyak teori telah muncul berdasarkan dukungan Einstein terhadap teori pergeseran kutub Hapgood. Namun ini tidak membuktikan apapun, karena Einstein bukan seorang geolog. Selain itu, walaupun teori-teori Einstein telah mampu menghadapi bukti-bukti observasi dan eksperimen yang kuat, tetap penting untuk dicatat bahwa ia hanyalah manusia biasa dan tidak selalu benar. Salah satu kehebatan Einstein adalah kemampuannya mengakui kekeliruan-kekeliruannya.

Apapun kenyataannya, Flem-Ath bersaudara menyatakan bahwa pergeseran ini telah menghancurkan peradaban Antartika yang terletak di suatu tempat di wilayah yang kini merupakan semenanjung Ross. Mereka berupaya (dengan berbagai keberhasilan) untuk menghubungkan ini dengan Atlantis-nya Plato. Sayangnya, untuk membuktikan hal ini diperlukan riset arkeologi di bawah lapisan es yang tebalnya ribuan meter. Ini adalah contoh tepat mengenai ‘klaim menakjubkan yang memerlukan bukti menakjubkan’.

Satu pengaruh yang tidak disadari terkait subjek ini mungkin berasal dari penulis H.P. Lovecraft’s Cthulhu mythos, yang menempatkan tempat kediaman Ancient Gods, R’lyeh, di Antartika. Mitos Lovecraft benar-benar fiksi, sekalipun menyerupai mitologi sungguhan.

Sementara fitur-fitur pengetahuan geografi yang maju diperlihatkan dalam peta (Piri Re’is) itu sendiri, anotasi (keterangan) dan ilustrasinya melukiskan keadaan yang berbeda. Orang-orang skeptis (bersifat penyelidik) pasti memperhatikan bahwa pada peta pantai Antartika Piri Re’is, yang sudah banyak dibuat, terdapat catatan berikut:

Tanah ini tidak dihuni. Segalanya berada dalam kehancuran dan konon ular-ular besar ditemukan di sana. Karena alasan inilah kafir-kafir Portugis tidak mendarat di pantai ini dan juga konon tempat ini sangat panas.

Terdapat pula gambar beberapa binatang legenda dalam satu area, dengan teks berbunyi:

Dan di tanah ini sepertinya terdapat monster-monster berambut putih dalam bentuk ini, dan juga lembu jantan bertanduk enam. Kafir-kafir Portugis telah menuliskannya dalam peta-peta mereka…..

Hal ini tidak membatalkan susunan tanah yang mengherankan, melainkan mengindikasikan bahwa siapapun yang menulis catatan-catatan ini (barangkali Piri Re’is) tidak pernah benar-benar mengunjungi Antartika. Orang-orang non-skeptis mungkin akan membantah (dengan mengatakan) bahwa jika peta sumbernya diselidiki pasti akan ditemukan 1) ular-ular besar, 2) spesies mamalia darat tak dikenal, dan 3) iklim “sangat panas” di Antartika; namun tak ada bukti fisik bahwa ini benar-benar ada. Ini juga tidak menjelaskan ilustrasi dan catatan aneh lainnya pada peta tersebut, termasuk sebuah sketsa seorang manusia tanpa kepala dan berambut merah (wajahnya terletak di dadanya) di area Andes. Ini membawa kita keluar dari alam kemungkinan menuju alam fantasi, satu garis batas yang sangat tidak ingin diseberangi oleh Hapgood, setidaknya dalam Maps of the Ancient Sea Kings.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s