Monoteisme adalah Agama Asli China

Oleh: Dawud
(Sumber: www.forumbiodiversity.com & pt-pt.facebook.com
)

“Monoteisme” terkadang dianggap sebagai konsep Barat semata, tapi kenyataannya eksis di banyak kebudayaan tinggi di semua wilayah dunia. Saya percaya bahwa bangsa China semula meyakini Keesaan Tuhan, dan mengamalkan agama Monoteis, tapi lebih dari 5.000 silam agama asli China menghilang.

Selama ribuan tahun, agama negara China diterjemahkan sebagai “penyembahan langit”. Keyakinan keagamaan ini ribuan tahun mendahului Buddha, Taoisme, dan Konfusianisme. Penyembahan langit berpusat pada entitas non-ragawi yang bernama “Shangdi” (上帝, secara harfiah berarti “Kaisar Langit”), entitas tertinggi yang mahakuasa, adil, dan tunggal. Upacara penyembahan langit awalnya melarang keberhalaan, tapi mewajibkan pengorbanan di kuil, seperti Kuil Langit di Beijing. Selama periode Peperangan Antarnegara Bagian, penyembahan langit jadi diasosiasikan dengan pemujaan leluhur, di mana leluhur tokoh terkenal dapat memperantarai Langit sebagai “medium” antara langit dan manusia. Kaisar sangat penting dalam Penyembahan Leluhur, sebab dia dan Rumahnya dianggap dinobatkan oleh Langit; pertemuan prinsip-prinsip spiritual dan kerajaan berjalin dalam sosok besar kaisar, dan legitimasinya sebagai penguasa dipertalikan dengan tata ritual dan tunduk kepada persetujuan langit. Banjir dan kelaparan dianggap sebagai ketidaksetujuan langit.

Catatan yang tertinggal mengenai agama China kuno menunjukkan Tuhan bersifat mahakuasa, mahatahu, transenden/maha tinggi, dan tak beraga, serta sumber segala hal. Shujing (書經), hikayat terawal bangsa China, menggambarkan Shangdi sebagai Tuhan yang baik yang menghukum kejahatan dan membalas kebaikan. “Shangdi tidaklah sama [sebab Dia mengadili seseorang berdasarkan perbuatannya]. Terhadap pengamal kebaikan Dia menurunkan karunia, dan terhadap pengamal kejahatan Dia menurunkan kemalangan.”

Penyembahan Langit mendahului Konfusius dengan selisih 18 abad (dan bahkan konon Konfusius meneruskan ajaran etika, dan bukan “menemukan” agama baru), dan mendahului masuknya Buddhisme dengan selisih lebih dari dua milenium. Dalam ritus-ritus itu, kewenangan Tuhan yang satu (yang kita samakan dengan “monoteisme” dan “tauhid”) dan penyembahan Tuhan ini jelas tak bisa dipungkiri, penyembahan Satu Tuhan sebagai yang tertinggi dinyatakan dengan jelas sebagai “kebaktian lazim”, sehingga mengimplikasikan bahwa itu sudah lama diamalkan. Barulah catatan-catatan terkemudian menyebutkan dewa-dewa yang lebih rendah, yang timbul sebagai penyimpangan, mungkin akibat kontak dengan mereka yang disebut “suku barbar” dari Selatan yang menanamkan unsur “asing” ini ke dalam keyakinan monoteisme China kuno.

Sinolog (pakar per-China-an—penj) terkemuka, James Legge, mengklaim, “Lima ribu tahun silam bangsa China adalah monoteis—bukan henoteis, tapi monoteis” (“Konfusianisme dan Taoisme menerangkan dan sebanding dengan Kristen”). Kristen Syria, serta rekan terkemudian mereka dari Gereja Katolik, melihat kemiripan antara Shandi/Tian dan Tuhan Ibrahim, dan oleh sebab itu menjadikan “Shangdi” sebagai nama “Tuhan” Kristen dalam bahasa China. Beberapa akademisi Kristen China, nyatanya, juga menegaskan bahwa Tuhan Ibrahim dan Shangdi China merupakan entitas yang sama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s