Tentang Kepurbakalaan Peradaban (Bagian 1)

Oleh: J. H. Titcomb
(Sumber: Journal of the Transactions of The Victoria  Institute, www.creationism.org)

Sejarah peradaban awal bersifat begitu prasejarah, sampai-sampai satu-satunya jalan penelitian kita adalah lewat jalan kusut peninggalan arkeologis, bahasa, dan mitologi. Bukti-bukti yang tersedia dari material ini, terus-terang harus diakui, bersifat agak tak langsung; namun karena mereka merupakan satu-satunya yang bisa ditarik dari material demikian, kita harus memanfaatkan mereka sebaik-baiknya.

Bagi pelajar Kristen, tak diragukan, ada sumber otoritas lain yang melengkapi dirinya dengan bukti lebih langsung dan positif; sebab hampir tak mungkin membaca Firman Tuhan secara yakin tanpa sampai pada kesimpulan bahwa pengetahuan mengenai instrumen musik, dan semua jenis ketrampilan dalam pembuatan kuningan dan besi, benar-benar umum di dunia sebelum zaman Nuh. Betul, bagaimana bisa bahtera itu dibangun sesuai dimensi yang diceritakan, tanpa adanya pengetahuan luas tentang seni, yang merupakan atribut peradaban? Sekali lagi, bagaimana bisa Cain (Habil) “bercocok tanam”, atau Adam “menghias taman dan memeliharanya”, tanpa suatu jenis alat mekanis? Pekerjaan hortikultura dan agrikultur yang diindikasikan oleh kalimat ini tidak mempunyai makna spesifik jika Adam atau Habil tidak memiliki sesuatu [alat] untuk menggali tanah, selain jemari mereka atau dahan pohon. Bagaimanapun ini bukan tema bukti utama yang saya bahas dalam paper ini; sebab walaupun sandaran pada alasan tersebut sendiri sangat memuaskan dan menyenangkan bagi pengkaji Injil yang saleh, tapi ini kekurangan dasar pemikiran ilmiah dan filosofis, yang sekarang harus dipegang, dan harus direkonsiliasikan dengan Injil, mengingat penyelidikan bebas merupakan, saya yakin, salah satu objek paling pertama dan paling arif di Institut kita.

Oleh karena itu mari kita melihat-lihat di muka bumi, terlepas dari rekaman wahyu ketuhanan, dan menyelidiki kondisi manusia, berkaitan dengan moral dan budaya intelektual. Di satu sisi, kita melihat ras-ras kuno maupun modern, yang mempunyai kehalusan budi dan peradaban; di sisi lain, ras-ras, baik kuno maupun modern, ditandai oleh barbarisme nyata. Pertanyaannya adalah, kondisi mana yang berhak diprioritaskan? Apakah ras-ras barbar zaman purba menyiapkan jalan mereka menuju peradaban melalui tahap-tahap kemajuan yang berturut-turut? Ataukah ras-ras yang di zaman purba mempunyai adab dan berbudi halus mengalami kemerosotan lewat tahap-tahap degradasi yang berturut-turut menuju kondisi barbarisme? Solusi persoalan sulit ini merupakan topik paling menarik dan penting yang bisa dihadirkan kepada kita. Sedikit banyak, segala sesuatu yang cenderung memberi keterangan mengenai persoalan tersebut menjadi sangat berharga.

Bagi saya sendiri, saya pikir saya melihat bukti khas ilmiah yang segaris dengan teori kedua. Izinkan saya memperkenalkannya tanpa pengantar lebih jauh, dengan menunjukkan kepada Anda ras-ras yang eksis, di mana peradaban yang lebih tinggi daripada yang mereka miliki saat ini tak diragukan lagi pernah eksis di antara mereka; ras-ras yang, meski belum jatuh ke dalam kebiadaban nyata, telah—bahkan dalam periode sejarah—sangat memburuk, merosot. Kita bisa ambil contoh beberapa kolonis (penghuni koloni) Belanda di Selatan Afrika, contohnya Vee-boer, atau Grazier, orang-orang paling tak beradab di antara penetap Eropa di distrik Cape; kebanyakan masing-masing memiliki tanah seluasnya 5.000 acre, tapi tinggal di gubuk yang hanya cocok untuk suku primitif. Ciri khas utama pondok ini, atau gubuk ini, adalah “lantai tanah liat” (di mana terdapat lubang galian berisi susu asam, atau lumpur), “atap terbuka untuk jerami”, “satu atau dua lubang persegi di dinding sebagai jendela”, “dan permadani atau selimut tua yang memisahkan ruang tidur”. Sedangkan untuk furnitur, inventarisnya adalah “satu lemari laci besar, yang berfungsi sebagai meja di rumah atau jok di gerobak”, “beberapa bangku bobrok tanpa sandaran dengan dasar berupa tali-tali kulit dari kulit domba”, “satu atau dua rangka ranjang dengan gaya yang sama”, “periuk besi dan beberapa piring”. Sementara itu anak-anak masyarakat ini berkeliaran di antara suku Hottentot (suku negro di barat daya Afrika—penj), dan di luar tempat tinggal mereka yang buruk terdapat tumpukan kotoran ternak yang jarang mereka, jika pun pernah, buang.

Argumen kita, dalam kasus ini, mulai dari yang kecil sampai yang besar. Kita katakan, jika representatif kaum Eropa beradab dan berbudi halus tersebut, dengan terputus dari kontak dengan peradaban di tanah asing, bisa memburuk dan merosot, dan jika degradasi ini bisa terjadi dalam sejarah zaman kita sendiri, seberapa mirip dan besar hasil yang terjadi di periode awal sejarah dunia, ketika ras-ras beradab terpisah dari induk mereka, dan harus berjuang di pengasingan terpencil di antara kesulitan-kesulitan iklim dan alam, tanpa dorongan akan rasa harga diri, dan tanpa pertologan eksternal untuk memulihkan warisan mereka yang telah hilang?

Penyebab lain menghasilkan akibat serupa, seperti peperangan panjang dan merusak, dan periode kronis perpecahan sipil. Kasus ini terjadi pada Abyssinia, kondisi biadabnya di masa kini berbeda bila dibandingkan dengan kondisi di zaman kuno, ketika Azum, ibukotanya, dipenuhi dengan obelisk berprasasti Yunani, dan mengandung tanda bukti peradaban halus. Gibbon memberitahu kita bahwa, di abad ke-6, kapal-kapal Abyssinia diperdagangkan ke pulau Ceylon, sementara tujuh kerajaan mematuhi rajanya. Dan bahwa, ketika kaisar Romawi, Justinian, mengupayakan persekutuan dengan raja Abyssinia, duta besarnya disambut oleh sang raja dengan semua hiasan-hiasan, dilapisi rantai emas, ban leher, gelang tangan, dihiasi secara mewah dengan mutiara dan batu-batu mulia. Ini kontras dengan kondisi modern negara tersebut. Keterangan yang diberikan oleh Bruc mengenai itu menunjukkan barbarisme paling kasar. Dia menggambarkan pembunuhan dan eksekusi sebagai sesuatu yang sering terjadi. Dia jarang pergi ke luar tanpa melihat mayat di jalanan, dibiarkan dilahap oleh anjing dan hyaena (mamalia mirip anjing dan pemakan daging—penj). Sementara itu, daging mentah merupakan makanan favorit penduduk, yang mereka makan dengan darah masih hangat di pembuluhnya. Kondisi negara tersebut di bawah Kaisar Theodore yang modern tidak lebih baik sedikitpun; bahkan mungkin, agak lebih buruk. “Pasukannya,” memakai ungkapan Dr. Krapfs, “seperti segerombolan besar tukang pateri.” Kota-kotanya hanyalah kumpulan alang-alang dan pondok lumpur.

Di sinilah, kala itu, terdapat satu ras yang nyata merosot dalam periode sejarah. Saya katakan satu ras; karena, walaupun Ethiopia kuno dan kerajaan-kerajaan Amharik terkemudian berbeda dalam beberapa hal, kesatuan etnologis mereka cukup tercatat, baik melalui kemiripan yang eksis dalam bahasa mereka, maupun berdasarkan fakta bahwa keduanya jauh lebih Semit daripada Afrika.

Oleh sebab itu, argumen kita, sekali lagi, dari yang kecil ke yang besar. Kita katakan, jika peradaban sebuah bangsa telah jatuh, dan telah begitu memburuk dan berdegradasi sampai-sampai kehilangan semua tata tertib pemerintahan, dan semua tanda moralitas dan rasa harga diri, walaupun di sepanjang proses disintegrasi ini ia cukup mendekati status peradaban tinggi untuk semua maksud perbaikan diri, seberapa mungkin suku-suku yang di zaman prasejarah [berstatus] beradab secara bertahap jatuh ke dalam barbarisme, ketika mereka jatuh ke dalam konflik hebat dan berdarah di antara mereka sendiri, dan menempati posisi di mana mereka tak punya kontak erat dengan suku-suku lain yang superior dibanding mereka.

Argumen ini lebih dapat dipaksakan sebab mustahil kita menyatakan yang sebaliknya. Lawan-lawan kita tidak bisa menunjukkan bahwa ras-ras biadab kini telah naik menuju peradaban nyata dalam periode sejarah; kecuali kalau mereka telah di…..

Banyak contoh kecil lain yang dapat disebutkan satu persatu. Beberapa Indian Snake di Amerika Utara telah terdegradasi ke dalam barbarisme yang jauh lebih dalam daripada seratusan tahun lalu, melalui tirani suku Blackfeet yang, mendapat senjata dari Hudson’s Bay Company, menembak jatuh sejumlah anggota Indian Snake, dan mengambil wilayah perburuan mereka, dan memaksa mereka untuk tinggal di antara perbukitan, tanpa pondok atau rumah, di mana mereka kini hidup dari akar-akaran tanah, dengan nama Indian Penggali. Saat itu terdapat suku Bakalahari di Afrika Selatan, disebutkan oleh Dr. Living-stone, yang merupakan Bechuanas yang merosot; dahulu memiliki kawanan besar ternak, tapi kini hanya berjuang untuk eksistensi sederhana, diperbaharui secara mental melalui penjajahan, atau usaha misionari, seperti penduduk Sandwich Island dan Selandia Baru. Di satu sisi isu tersebut sering diangkat, tapi di sisi lain tak pernah dihadapi secara adil.

Karenanya, posisi pendahuluan kita dalam kontroversi ini masih tetap. Menurut bukti yang dipertaruhkan berdasarkan fakta yang telah terekam, baik melalui pengalaman kita sendiri ataupun melalui sejarah otentik, ras-ras yang dahulunya beradab mempunyai kecenderungan alamiah untuk merosot dan menjadi barbar setiap kali mereka terpisah dari manusia lain, dan tersisa dengan pengaruh nafsu jahat mereka yang menurunkan derajat; ras-ras, sekali terdegradasi dan berubah biadab, memiliki kecenderungan alamiah untuk tetap demikian; jarang, kalau pun pernah, memperlihatkan gejala pemeliharaan diri, atau maju menjadi peradaban.

Karenanya, dengan pertimbangan berdasarkan kondisi zaman prasejarah, dari fakta yang ada dalam cakupan pengalaman aktual dan sejarah, jauh lebih logis untuk menyimpulkan bahwa manusia awal pertamanya beradab, dan sesudah itu menjadi terdegradasi, daripada menyimpulkan bahwa dia semulanya biadab, dan kemudian mengangkat diri. Kita sungguh mau memperkenankan bahwa ini merupakan satu-satunya pertimbangan dalam arah kemungkinan. Ini tidak pasti dan tegas. Bagaimanapun, dalam pertanyaan rumit semacam ini, di mana semua bukti yang ditinjau pasti tidaklah sempurna, kita harus puas dengan keseimbangan umum probabilitas. Mari kita simak bagaimana argumen-argumen dari probabilitas ini mengalir, sementara kita meninggalkan arah sejarah otentik, dan masuk ke antara sisa-sisa peninggalan zaman kuno, dan keyakinan mitologi atau tradisional.

Terkadang kita ditunjukkan kepada temuan peralatan batu api yang diciptakan oleh manusia, yang ditemukan tergeletak di dasar batu kerikil dan gua besar bawah tanah bersama tulang-belulang hewan punah, juga ditunjukkan kepada bukti kepurbakalaan manusia; yang kesemuanya, diduga, berkaitan erat dengan barbarisme purba.

Tapi kesimpulan ini sama sekali tidak dibutuhkan. Sebab, seraya mengesampingkan pertanyaan kepurbakalaan berlebihan, yang bukan merupakan tujuan saya untuk dibahas di tempat ini, fakta penemuan sisa-sisa barbarisme prasejarah tidak memuat penyangkalan wajib atas adanya zaman peradaban pada saat yang sama. Bukankah kita mengalami zaman batu yang masih eksis di abad ke-19 era Kristen kita ini? Bukankah ada peralatan batu api dan persenjataan batu yang pada saat yang sama terdapat di Polinesia dan bagian dunia lainnya, dengan bentuk-bentuk peradaban tertinggi di Eropa dan tempat lain? Oleh sebab itu, bukankah kita mempunyai hak sempurna untuk berargumen bahwa, karena koeksistensi peradaban dan barbarisme masa kini tidak melengkapi kita dengan bukti positif yang dua-duanya menyinggung zaman purba, koeksistensinya di masa lalu pada zaman apapun, seberapa terpisah jauh pun, dapat sedikit menjawab pertanyaan pula?

Bahwa ras-ras beradab hidup di bumi jauh sebelum kelahiran sejarah sekuler otentik, tak ada yang bisa meragukannya. Lepsius menemukan tanda-tanda hieroglif eksistensi stylus (jarum/pena untuk menulis di atas stensil—penj) dan tempat tinta pada monumen-monumen Mesir dari dinasti ke-4 Manetho, yang, meski hampir tidak bisa diperhitungkan masuk ke dalam cakupan sejarah otentik, melambangkan sebuah periode di Mesir yang semasa dengan Ibrahim. Mungkin sungguh benar bahwa kekaisaran Mesir kuno ini, bersama-sama dengan tradisi yang diturunkan kepada kita dari Yunani, didahului oleh peradaban berstatus rendah. Kita sungguh mau mempercayai, berdasarkan pengetahuan Herodotus, bahwa Menes, yang berada di nomor pertama dalam daftar dinasti Manetho, mendirikan kekaisaran melalui konsolidasi kedaulatan rendah, sementara Delta dan Thebaid merupakan provinsi merdeka, dan kondisi masyarakat jauh lebih tidak sempurna sebelum itu. Namun, ini bukanlah bukti bahwa penghuni Mesir sebelumnya adalah orang-orang tak beradab. Bila kita hendak menilainya berdasarkan penemuan terbaru berupa pelancong pengusaha di Chaldea, Bashan, dan Nineveh, kita tak punya alasan untuk percaya bahwa semakin dekat kita menuju zaman purbakala, semakin jauh kita terlepas dari peradaban. Sebaliknya, penggalian anyar di Mugheir, yang dikerjakan oleh Tn. Loftus dan Tn. Taylor, telah menerangkan nama Urukh, raja Ur, dari Chaldees, yang kuil-kuilnya berukuran raksasa, dengan sudut menghadap ke arah-arah mata angin, mengindikasikan adanya sains dan juga peradaban; dan yang pemerintahannya ditempatkan oleh Rawlinson sebelum masa Ibrahim. Dengan demikian, betapa luar biasa penelitian modern selaras dengan tradisi Yunani kuno; yang, begitu jauh dari penempatan ras-ras manusia inferior di permulaan sejarah dunia, mengikuti kronologi dari zaman besi ke zaman kuningan, dari zaman kuningan ke zaman perak, dan dari zaman perak ke zaman emas! (Hesiod.) Sekalipun ini adalah syair dan mitologi, betapa kuatnya ini mengkonfirmasikan kesimpulan kita! Jika ras-ras manusia awal meningkatkan diri dari status barbarisme dan kesengsaraan ke status kemewahan dan peradaban, bukankah kemungkinan besar tradisi semacam ini akan dipelihara? Sifat manusia jauh lebih cenderung kepada pemuliaan diri ketimbang penekanan diri. Oleh sebab itu, fakta bahwa kita tak hanya tidak menerima tradisi semacam itu, tapi juga bahwa salah satu bangsa paling bijak dan paling sopan di zaman purba telah memberi kita tradisi dengan karakter berseberangan, pasti memiliki signifikansi, manakala kita mempertimbangkan teori-teori modern mengenai pangkal ketidakberadaban manusia.

Sebelum meninggalkan bagian subjek ini, perkenankan saya menyebutkan peninggalan arkeologis tertentu yang masih eksis di tempat-tempat tertentu. Peninggalan Mesir dan kota-kota raksasa Bashan sudah disinggung. Di samping ini dapat ditambahkan peninggalan megah yang ditemukan di Ceylon, Amerika Tengah, dan bahkan kepulauan Polinesia. Saya sadar sepenuhnya bahwa sebagai pertanyaan atas kepurbakalaan semata, reruntuhan yang disebutkan terakhir ini mengandung sedikit kesamaan dengan peninggalan Mesir dan Bashan. Bagaimanapun, mereka menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan dalam keluarga manusia, di bawah kondisi eksistensi tertentu, untuk jatuh dari peradaban. Tank-tank besar Ceylon, misalnya, serta kota runtuh Anarájapura termasuk ke dalam satu zaman ketika pangeran-pangeran pribuminya sanggup menghamburkan kekayaan tak terbilang untuk bangunan keagamaan, untuk mensubsidi tentara sewaan, dan untuk melengkapi ekspedisi penaklukan di luar negeri—tidak mustahil di masa Sulaiman. Kecuali danau Moeris di Mesir, tak ada konstruksi serupa yang dibentuk oleh ras mana pun, baik kuno ataupun modern, yang melampaui kebesaran Tank Ceylon. Peninggalan arsitektur di Amerika Tengah tak kurang menyiratkan fakta bahwa banyak dari rekaman masa lalu terawal kita berkaitan dengan peradaban ketimbang hal sebaliknya [barbarisme], sebagaimana bisa disimak dengan mudah lewat informasi dari perjalanan Tn. Stephens di Yucatan. Polinesia, juga, menceritakan kisah yang sama; sebagaimana ditunjukkan oleh Tn. Ellis dalam penelitiannya menyangkut Polinesia. Ambil satu contoh saja: Pulau Paskah dipenuhi dengan sisa-sisa struktur yang dahulunya megah, didirikan dari potongan batu dan dipasang bersama-sama dengan presisi tinggi. Puncaknya kebanyakan bermahkotakan patung raksasa, beberapa memiliki tinggi tak jauh dari 30 kaki dan diameter 9 kaki.

Tapi mari kita melangkah ke cabang bukti lainnya. Tadi saya menyebutkan tentang tradisi Yunani Zaman Emas. Itu mengingatkan saya pada bidang luas penyelidikan mitologi, yang detail-detailnya sangat menarik dalam segala hal, terutama sekali bagian yang menunjukkan pola di mana monoteisme mendasari setiap sistem pemujaan/penyembahan.

Ini sangat menarik perhatian, dan menghasilkan salah satu argumen praduga terkuat, bahwa semakin dekat kita menuju kondisi primitif manusia, semakin jernih dan semakin cerdas konsepsi kita akan Tuhan. Aristoteles, di satu tempat, menarik kekontrasan antara politeisme gelap di masanya dan pengetahuan murni ras-ras terdahulu. Dia meninjau:

“Telah diturunkan kepada kita dari zaman sangat kuno bahwa bintang-bintang adalah dewa, di samping Dewa Tertinggi yang mencakup seluruh alam. Tapi hal-hal lain ditambahkan secara luar biasa, untuk lebih meyakinkan orang banyak, dan untuk keperluan hidup manusia dan tujuan politik, guna membuat manusia tetap patuh pada hukum sipil—seperti, misalnya, bahwa dewa-dewa ini berbentuk manusia atau suka pada binatang.”

Oleh sebab itu, tatkala Plato menyebut Tuhan sebagai “Arsitek Dunia”, “Pencipta alam”, “Tuhan pertama”, tatkala Pythagoras menyebut Dia sebagai “Segala-galanya”, “Cahaya semua kekuatan”, “Awal segala sesuatu”, dan tatkala Thales menyatakan, “Tuhan adalah Yang tertua di antara segalanya, sebab Dia Sendiri tidak diciptakan”, kita tidak akan memandang perkataan-perkataan ini sebagai kilasan jenius yang tiba-tiba, atau sebagai perkembangan gradual sebuah kebenaran yang tidak dikenal di abad-abad sebelumnya. Sebaliknya, ini timbul di antara penyimpangan heathenism (ketakberagamaan—penj) terkemudian, persis seperti puncak granit di antara rangkaian bebatuan modern, memberikan kesaksian akan landasan pokok kebenaran, yang jauh lebih mengisyaratkan peradaban purba ketimbang barbarisme.

Fakta besar yang sama bisa ditelusuri dalam mitologi Mesir kuno. Sifat pemujaan berhala yang menandai era monumental negeri itu juga terlalu terkenal untuk dicatat. Mereka menyembah kera, kumbang, dan buaya. Tapi Plutarch, dalam bukunya mengenai Isis dan Osiris, menyinggung secara lebih terang tentang keyakinan pokok dan awal bangsa tersebut terhadap satu Tuhan Tertinggi. Dia mengatakan, “Ujung semua ritus agama dan misteri dewi Isis adalah pengetahuan tentang Tuhan Pertama yang merupakan Tuhan segala sesuatu.” Berbicara pula tentang penyembahan buaya, dia menunjukkan bahwa awalnya itu hanya dimaksudkan sebagai simbolisasi satu Tuhan Tertinggi dan Tak Terlihat ini, sebab bangsa Mesir meyakini buaya sebagai satu-satunya binatang yang tinggal di air, yang, dengan matanya yang tertutup membran transparan tipis, masih bisa bertahan di bawah permukaan, mampu melihat tapi tidak terlihat; “sebuah kemampuan,” kata Plutarch, “yang hanya dimiliki oleh Tuhan pertama—untuk melihat segala sesuatu, tapi Dia sendiri tidak terlihat.” Ini sangat menarik, dan menunjukkan betapa lebih murni dan lebih jernih keyakinan yang mendahului keyakinan terkemudian yang lebih terdegradasi.

Melintas dari Mesir ke India, pemujaaan berhalanya lebih luar biasa sampai taraf terakhir, dan ritualnya betul-betul menggulingkan akal sehat. Namun, berhentilah sejenak di balik bentuk mitologi Hindu yang terhitung modern, dan masuki beberapa wilayah yang lebih primitif. Selidiki misalnya Weda kuno; dan amati betapa jauh lebih murni dan lebih halus atmosfer pemikiran yang mulai Anda rasakan sekaligus. Di seluruh bagian kitab suci ini terdapat pengakuan terang atas satu Tuhan Tertinggi, yang mereka sebut Brahma; melukiskan-Nya dan memohon-Nya dalam hal semangat kebijaksanaan. Ambil satu deskripsi tentang-Nya sebagai sosok… [teks terputus]

Kebenaran sempurna, kebahagiaan sempurna, tanpa ada yang setara dengan-Nya, kekal, kesatuan mutlak, tidak ada perkataan yang bisa melukiskan-Nya ataupun pikiran yang bisa memahami-Nya, maha meliputi, maha tinggi, merasa senang dengan kecerdasan-Nya yang tak terbatas, tidak dibatasi ruang atau waktu, tanpa kaki, bergerak cepat, tanpa tangan, menggenggam semua dunia, tanpa telinga, memahami semuanya, tanpa kausa, [kausa] pertama dari semua kausa.

Setelah semua kutipan ini, apalagi yang harus saya katakan. Dengan memeriksa suara protes suci terhadap keberhalaan fantastis dan mengerikan dalam Brahmanisme yang lebih modern, bukankah itu mengatakan kepada kita, dari masa lalu yang jauh, tentang kebenaran primitif dan peradaban purba, ketimbang barbarisme kasar dan biadab?

Kesimpulan yang sama terpaksa kita ambil, mau tidak mau, berkenaan dengan kekaisaran China kuno. Kita punya banyak alasan untuk percaya bahwa sebelum pengenalan Buddhisme di China, negeri tersebut terbilang bebas dari keberhalaan/kemusyrikan. Di sana, contohnya, terdapat karya China yang sangat kuno berjudul Pokootoo, yang mencapai 16 jilid besar China, berisi beberapa ratus gambar (banyak salinannya yang telah saya lihat sendiri); gambar vas, kendi, botol, dari dinasti Shan, Chow, dan Han, meliputi periode tahun 1784 SM. Nah, sangat menarik bahwa dari 900 ilustrasi bejana-bejana itu, yang tak satu bagian kecil pun yang diperuntukkan digunakan di atas altar kuil, tidak ditemukan satupun yang memuat tanda keberhalaan. Fakta ini selaras dengan kesaksian Martinius yang menulis pelajaran sejarah China dan yang memberitahu kita bahwa selama periode yang panjang “mereka tidak menggunakan gambar ataupun figur untuk membangkitkan kesalehan masyarakat; sebab, lantaran Tuhan hadir di mana-mana, mustahil melukiskan Dia secara benar dengan gambar eksternal menurut indera manusia.” Bellamy, juga, dalam History of All Religions-nya, memberitahu kita bahwa China kuno membagi kitab suci mereka, Shuking, ke dalam lima bagian, yang pada salah satunya Tuhan dilukiskan sebagai “[bersifat] Berdiri Sendiri, Mahakuasa, Entitas yang mengetahui segalanya, rahasia hati tidak tersembunyi dari-Nya” (hal. 134). Oleh sebab itu, sangat jelas bahwa di China, tak berbeda dari India, Mesir, dan Yunani, bentuk terawal mitologi dan filsafat heathen (tak beragama—penj) adalah murni. Dengan demikian kita mempunyai bukti menumpuk sebagai dasar di antara bangsa-bangsa tertua yang dikenal, bahwa semakin dekat kita menuju sumber kehidupan purba, semakin dekat kita menuju masa-masa kebudayaan ruhaniah; dan bahwa, jauh dari status kebiadaban asli, probabilitas yang meningkat adalah kita selangkah demi selangkah menuju status peradaban primitif.

Jika kita melintas dari dunia lama ke benua Amerika, kita menemukan kondisi yang sama persis. Monoteisme primitif murni mendasari seluruh keyakinan mitologisnya. Bahkan di Meksiko kuno, di mana 13 dewa utama dan 200 dewa rendah disembah, dengan gambar-gambar berbentuk fantastik, dan dengan ritual takhayul yang kejam, orang-orang keturunan Spanyol mendapati adanya pengakuan atas Entitas, bernama Teotl, yang dianggap sebagai “satu Tuhan tak terlihat, tak beraga, sempurna, dan murni, yang dari-Nya kehidupan dan pikiran berasal.” Di Peru, keesaan tuhan juga disembah di bawah nama Varichocha, “jiwa alam semesta”—yang atribut-Nya sama mulianya dengan yang diberikan kepada Brahma-nya India, atau Kneph-nya Mesir. Dia dijuluki sebagai “Yang Tertinggi”. Mereka jarang menyebut nama-Nya, dan kala itu dengan penghormatan tertinggi, mereka tidak membangun satu kuil pun untuk-Nya, juga tidak memberi-Nya pengorbanan apapun, sebab mereka menyembah-Nya dalam hati mereka, dan memandang-Nya Tuhan yang tak diketahui. Di Amerika Tengah dan Yucatan, tuhan tertinggi eksis dengan nama Stunah Ku, atau Hunab Ku, “Tuhan para tuhan”—“sumber tak beraga atas segala sesuatu”. Terlihat pula bahwa ide abstrak tentang kesatuan tertinggi eksis di antara bangsa-bangsa Amerika yang sama sekali biadab dan semi-beradab. Karenanya, di antara penghuni Auricanian, Dia disebut Pillan, berasal dari kata Pili, jiwa. Dia dijuluki “Entitas Tertinggi”, “Jiwa Penciptaan”, “Mahakuasa, Kekal, Mahabesar”. Penghuni California menyembah-Nya di bawah nama Niparaya, “Pencipta dan Pemelihara segala sesuatu”. Saya bisa dengan mudah menyebutkannya satu demi satu jika perlu, tapi argumen saya sudah cukup tertopang. Oleh karena itu, sekarang saya berlanjut ke jalur bukti lain, yaitu Bahasa. Saya tidak akan berpegang pada fakta bahwa semua bahasa Eropa kita di masa kini, kecuali segelintir, serumpun dengan Sanskerta kuno, bahasa paling kaya dan halus di antara semua bahasa: sebuah fakta yang membuktikan bahwa semakin jauh kita menelusuri masa lalu secara kronologis, semakin terpelajar dan ilmiah gaya berbicara yang digunakan kala itu. Saya tegaskan, saya tidak akan berpegang pada fakta ini; sebab, pertama, ini sudah terlalu diketahui untuk dikomentari, dan, kedua, secara kronologis ini tidak mundur terlalu jauh untuk memenuhi kondisi persoalan utuh yang hendak dipecahkan. Eropa kelihatannya pernah diliputi oleh sebuah ras, mendahului invasi bangsa Kelt; sebuah ras yang salah satu lambang terjelasnya terdapat di Biscayan, utara Spanyol. Oleh karena itu, akan lebih tepat jika kita memeriksa bahasa Basque, dengan maksud untuk menguji secara etnologis kondisi, mungkin, penghuni terawal Eropa. Bahasa ini, kata M. de Ponceau, tetap tunggal dan sendirian, dikelilingi oleh idiom-idiom yang susunan modernnya tidak mengandung satu macam kesamaan pun dengan bahasa ini. Seperti tulang-belulang mammoth, dan relik-relik ras tak dikenal yang telah musnah, ini tersisa sebagai monumen kehancuran yang dihasilkan oleh suksesi zaman.

Lalu, bagaimana karakternya? Terdapat beberapa bahasa seperti Yunani, dan saudara Sanskerta-nya, yang memuat bukti internal adanya penyempurnaan, jika bukan pembentukan, di antara ras-ras berstatus peradaban tinggi; bahasa-bahasa yang saya maksud bukan hanya kaya kosakata, tapi fleksibel, berpengaruh, dan ilmiah dalam susunan gramatisnya.

Betapa berbeda bahasa-bahasa yang baru disebutkan tersebut bila dibandingkan dengan, misalnya, keluarga bahasa Tartar, yang terbukti lahir dalam status peradaban rendah; berstruktur sederhana, kekurangan infleksi (perubahan bentuk kata—penj), sedikit kata penghubung, dan tak memiliki kata kerja bantu.

Tidak demikian halnya dengan Iberia kuno, sebagaimana direpresentasikan hari ini oleh Basque modern. Tentang bahasa ini, M. de Ponceau mengatakan, “Bentuknya sangat artifisial, dan begitu bercampur, terkait dengan pengungkapan banyak maksud pada waktu yang sama.” Dua kata kerja bantu “I am” dan “I have” memiliki bentuk yang demikian berlimpah sehingga setiap maksud terhubung dengan satu kata kerja yang bisa diungkapkan secara bersama-sama. Ia juga berlimpah dengan infleksi beraneka ragam yang tak terhingga.

Kembali ke metafora yang sebelumnya digunakan, kita mengumpulkan tulang-belulang linguistik dari zaman yang telah punah ini, dan setelah menemukan kekuatan yang bersenyawa dengan keanggunan, dan kesederhanaan yang bersatu menjadi keanekaragaman kompleks, kita menduga bahwa tulang-belulang linguistik itu dimiliki oleh sebuah ras yang ditandai oleh, pada suatu waktu, status kebudayaan ruhaniah yang tinggi. Sejauh ini kita memasuki wilayah prasejarah. Tapi, bukannya mengarah ke barbarisme, kita melihat di dalamnya bukti yang jauh lebih besar atas adanya peradaban purba.

Kesimpulan ini mungkin, sekilas, tampak tak berlaku berdasarkan fakta bahwa ras-ras, pada kebiadaban masa kini, memakai bahasa dengan karakter yang sama kompleks. Mungkin dapat dikemukakan bahwa jika suku-suku barbar saat ini menggunakan cara-cara berbicara ini, fakta bahwa itu pernah dipakai di zaman prasejarah tak bisa membuktikan bahwa ras-ras prasejarah tidak sama biadabnya. Tapi kesimpulan semacam itu sama sekali serampangan, sebab kita bisa dengan sama entengnya, dan dengan jauh lebih adil, mengemukakan keadaan ini dari sudut pandang bahwa ras-ras biadab yang mempergunakan bahasa kompleks dan berkonstruksi ilmiah membuktikan mereka merupakan keturunan merosot dari leluhur beradab yang melahirkan bahasa-bahasa ini.

Ambil, contohnya, bentuk-bentuk kompleks dan artifisial susunan gramatis yang berlaku kurang-lebih dalam semua bahasa Amerika, dari Esquimaux sampai Patagonia; tapi yang dipakai oleh Indian Delaware, atau Indian Lenni-Lenappe, menghadirkan bukti paling menakjubkan. Bentuk sintetisnya familiar dengan kita dalam bahasa Latin dan Inggris; “nolo” untuk “non volo”, atau “never” untuk “not ever”. Tapi bahasa-bahasa ini bersifat polisintetis, mengandung beraneka ragam bahan yang disusun dari fragmen-fragmen kecil kata tunggal; bahan-bahan seperti itu dirusak atau disusutkan untuk membentuk kumpulan kata lain. Prichard mengatakan, “Taraf metode perpaduan (agglutination) dalam idiom-idiom mereka ini jauh lebih tinggi dari yang diketahui dalam bahasa mana pun di benua lama, kecuali Iberia.” Ambil contoh. Indian Lenni-Lenappe mengucapkan frase “Datanglah dengan kano, dan bawa kami menyeberangi sungai” dengan kata “nadholineen”; karenanya bisa dianalisis. Nad dari kata naten, “menjemput”; hol adalah untuk mochol, “kano”; ineen adalah akhiran kata kerja yang berarti “kami”. Maksud sederhana yang diungkapkan oleh fragmen-fragmen kata ini adalah jemput–dengan kano–kami; tapi yang cocok adalah “datang dan jemput kami menyeberangi sungai dengan kano”. Jadi, seluruh kalimat terlebih dahulu dipadukan ke dalam bentuk polisintetis ini; tapi komplikasi ini tidak cukup, sebab setelah dibuat ke dalam kata kerja, ini dapat mengalami perubahan lebih lanjut dengan dikonjugasikan/ditasrifkan melalui semua modus dan tensis; yang mana sangat banyak: contohnya, nadholawall adalah orang ketiga, modus indikatif tunggal; present tense, passive voice, “dia dijemput menyeberangi sungai dengan kano”.

Contoh lain infleksi rumit dapat dikemukakan dari bahasa Greenland, di mana keserbaragaman yang dipengaruhi oleh kata kerja menghasilkan 27 bentuk untuk setiap tensis modus indikatif. Matarpa, “dia mengambilnya”; mattarpet, “kau mengambilnya”; mattarpattit, “dia mengambilnya darimu”; mattarpagit, “saya mengambilnya darimu”. Bentuk lampaunya, mattara, “dia telah mengambilnya”; mattaratit, “dia telah mengambilnya darimu”. “Hampir di setiap tempat di Dunia Baru,” kata Baron Humboldt, “kita mengenali keserbaragaman bentuk dan tensis dalam kata kerja, sebuah metode cerdik dalam menunjukkan secara di muka, baik lewat infleksi kata ganti orang yang membentuk akhiran kata kerja ataupun lewat akhiran yang disisipkan, sifat dan hubungan objek dan subjeknya, dan dalam membedakan apakah objeknya benda hidup atau benda mati, bergender maskulin atau feminin, berjumlah tunggal atau jamak.” Sudah teramati dengan baik bahwa bahasa-bahasa jenis ini jauh lebih mirip dengan yang dibentuk oleh para filsuf di ruang kecil mereka dibanding oleh orang-orang biadab. Sungguh, bagaimana mungkin kita menetapkan probabilitas paling kecil sekalipun pada teori, bahwa bahasa yang demikian halus dan super rumit tersebut lahir di antara suku-suku liar dan barbar? Apakah itu selaras dengan akal sehat? Apakah seseorang yang mampu menganalisis bahasa secara ilmiah akan tiba pada kesimpulan seperti ini, jika dia memiliki penilaian yang tak memihak? Saya tidak bermaksud menekankan kesimpulan saya melebihi batas wajar keyakinan diri, tapi saya berani mengatakan bahwa bila fakta-fakta ini ditempatkan di hadapan 12 orang penilai yang tak memihak, keputusan bulat mereka akan menyatakan bahwa jenis bahasa yang dipakai oleh orang-orang biadab ini tersisa di antara mereka sebagai warisan dan relik keunggulan leluhur.

Kesimpulan ini lebih berharga dari kelihatannya, sebab walaupun sekilas tidak tampak banyak hubungan antara manusia purba dan leluhur terjauh ras-ras Amerika masa kini, tapi berdasarkan prinsip bahwa dalam migrasi manusia secara berturut-turut dari pusat asal sehingga gelombang populasi yang pergi pertama akan terdorong paling jauh, kaum ini kemungkinan besar merupakan contoh hidup terbaik dari periode terawal dunia. Periode tersebut kita yakini sebagai zaman peradaban utama; namun, mari kita pahami, yang saya maksud bukan zaman pengetahuan halus dan sempurna seperti punya kita, di mana seni dan sains menempatkan alam di bawah penghormatan untuk memajukan kebahagiaan dan melayani kepentingan manusia. Status pengetahuan tinggi ini baru dicapai melalui perjalanan panjang perkembangan bertahap, dan, tak diragukan, jauh lebih maju dari segala sesuatu yang pernah dimiliki manusia purba. Tapi itu bukan alasan mengapa kondisi awal manusia menjadi biadab. Sebaliknya, keseimbangan utuh probabilitas (terlepas dari keterangan Injil) terletak pada sisi bahwa itu pernah menjadi salah satu budaya penting; budaya, bagaimanapun juga, mencukupi sebagai titik tolak peradaban, sebab mampu melengkapi kekurangan alam, dan mampu mewariskan kepada anak-cucu pengetahuan utama tentang seni yang mengatur hukum kemajuan manusia.

Tapi, meski kepemilikan manusia atas peradaban mampu berkembang, kita menganggap itu sama cenderungnya untuk memburuk—yang, ketika melebihi titik tertentu, membuat manusia tidak memiliki kekuatan memulihkan diri. Dalam hal ini, saya ingin membandingkan peradaban manusia dengan kondisi jasmaninya. Tubuh manusia, ketika kehabisan tenaga melebihi batas kelemahan tertentu, takkan bisa pulih tanpa suatu perbaikan eksternal; jadi ketika peradaban sebuah ras jatuh melebihi batas perkembangan ruhaniah dan moral tertentu, itu tersisa tanpa mempunyai kekuatan pemulihan, dan akan terus berdegradasi dalam barbarisme sampai akhir zaman, kecuali jika dibantu suatu bangsa asing yang lebih unggul. Kita melihat, di beberapa ras yang paling merosot, relik-relik remeh peradaban lampau; seperti peleburan besi di Sumatra, pembuatan tembikar di Kepulauan Fiji, dan bumerang di Australia. Tapi, kendati terdapat kenang-kenangan masa yang lebih baik tersebut, orang-orang barbar ini berdegradasi tanpa harapan.

Tapi saya tidak boleh menambahkan yang lain lagi. Banyak kilasan pemikiran segar seperti sinar cahaya terkait gambaran ini, dan menggoda kita untuk mengembara lebih jauh. Tapi batas kertas saya telah dicapai. Saya tidak akan menahan Anda lebih lama, saya telah menyodori Anda observasi ini sebagai kontribusi kecil terhadap penyelesaian permasalahan yang paling penting. Saya percaya observasi ini tidak akan ada tanpa berbagi bobot dan pengaruh di antara lawan-lawan kita. Tak kurang, saya berharap semoga observasi ini menarik perhatian dan menguntungkan kita sendiri.

Tentang Kepurbakalaan Peradaban (Bagian 1)
Tentang Kepurbakalaan Peradaban (Bagian 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s