Tentang Kepurbakalaan Peradaban (Bagian 2)

Oleh: J. H. Titcomb
(Sumber: Journal of the Transactions of The Victoria Institute, www.creationism.org)

…Tapi saya tidak boleh menambahkan yang lain lagi. Banyak kilasan pemikiran segar seperti sinar cahaya terkait gambaran ini, dan menggoda kita untuk mengembara lebih jauh. Tapi batas kertas saya telah dicapai. Saya tidak akan menahan Anda lebih lama, saya telah menyodori Anda observasi ini sebagai kontribusi kecil terhadap penyelesaian permasalahan yang paling penting. Saya percaya observasi ini tidak akan ada tanpa berbagi bobot dan pengaruh di antara lawan-lawan kita. Tak kurang, saya berharap semoga observasi ini menarik perhatian dan menguntungkan kita sendiri.

Kapten Fishbourne: “Sebagai seorang pelayar, mungkin saya harus mengemukakan beberapa patah kata mengenai Bahtera Nuh; meski penyebutan tentangnya dalam paper ini hanya sepintas lalu, tetap saja cukup untuk mengindikasikan bahwa pengetahuan dan kecerdasan mengagumkan diperagakan dalam pembuatannya, sebab tidak ada kapal besar yang dibangun pada waktu itu dan dimensinya masih merupakan yang terbesar dibanding semua kapal yang penah dibangun; perhatikan, karena saya khawatir tidak tepat, panjang siku 25 inchi menurut kitab suci. Mustahil untuk percaya bahwa bentuk, ukuran, ataupun gaya konstruksi bahtera bisa dicapai lewat suatu proses coba-coba. Sulit pula untuk memahami bahwa tanpa peralatan khusus dan pengajaran khusus, terutama bila mereka belum memiliki besi, dan pengetahuan pengerjaannya, Nuh bisa memilih, membuat, dan merangkai secara efektif kumpulan kayu gelondongan demikian banyak sebagaimana diperlukan; juga tanpa pengajaran khusus untuk mengangkut muatan anehnya secara aman. Penulis paper ini menyebutkan fakta menarik mengenai monumen-monumen tertua di China dan India, bahwa mereka tidak memiliki emblem-emblem keberhalaan; demikian pula pada Piramida-piramida tertua, argumennya adalah bahwa para pembangun piramida memiliki pengetahuan patriark, dan, oleh karenanya, pengungkapan serta penilaian sejati atas karakter Tuhan yang hidup. Adalah fakta yang menarik, dikemukakan secara tidak cukup, bahwa di semua bangsa-bangsa ini, betapapun berdegradasi, terdapat pengorbanan, beserta tradisi Dosa Adam dan Banjir Nuh, dan bahwa baru setelah peradaban berkembang kebenaran ini disingkirkan, sebagian digelapkan. Fakta luar biasa yang disebutkan oleh Tn. Titcomb ditemukan dalam penilaian tinggi yang diberikan oleh Hindu mengenai Brahma. Anda akan menemukan dari terbitan tulisan dan dalam perbincangan, bahwa banyak orang di masa kini yang tidak memiliki gambaran demikian tinggi dan pantas mengenai Tuhan sebagaimana yang dimiliki oleh bangsa India.”

Pendeta C. A. Row: “Walaupun saya berpikir argumentasi umum dalam paper Tn. Titcomb sangat masuk akal, dan walaupun kesimpulannya ditarik secara adil, saya harus akui bahwa saya merasa sulit menerimanya, berkenaan dengan penggunaan bahasa amat rumit oleh kaum yang sangat barbar. Kita tahu bahwa ketika sebuah kaum beradab menjadi berdegradasi, bahasa yang mereka pakai mengalami degradasi bersama dengan degradasi masyarakat. Kita ambil contoh bahasa Latin. Bangsa Latin di abad 4 sangat jauh berdegradasi jika dibandingkan dengan zaman Augustan, pikiran orang-orang tak diragukan lagi mengalami kemerosotan sejak waktu itu. Dalam kasus bahasa Yunani, Anda mendapati hal yang sama. Bangsa Yunani modern jauh berdegradasi, dibandingkan dengan leluhur mereka, dan bahasa mereka juga merosot. Lalu kesulitan yang timbul dalam pikiran saya adalah: anggap Indian Amerika mulanya mempunyai bahasa dan status peradaban tinggi, dan dalam perjalanan zaman, mereka sampai pada status kebiadaban sekarang; menurut saya bahasa mereka pasti mengandung tanda-tanda kuat perubahan bertahap menuju kebiadaban. Menurut saya itu merupakan poin yang sangat kuat. Bahasa-bahasa Amerika ini berbentuk sangat rumit, dan seseorang akan mengira itu hanya bisa berkembang dalam status peradaban tinggi; tapi saya ingin tahu apakah bahasa-bahasa tersebut tidak mengandung beberapa jejak dalam struktur degradasi bertahap yang kita temukan mengiringi degradasi bertahap masyarakat. Saya sungguh sependapat dengan Tn. Titcomb bahwa semua sejarah kuno mengandung keterangan mengenai permulaan peradaban yang sangat tinggi. Saya tidak melihat jejak dalam sejarah kuno adanya kemajuan bertahap dari barbarisme, dan menurut saya teori yang mengangkat mutu manusia dari kondisi barbarisme awal akan melibatkan keajaiban dalam jumlah besar terutama karena kemajuan peradaban dimanifestasikan di periode sangat awal. Tapi andaikan manusia mengawali dari status peradaban tinggi, bagaimana kita harus menerangkan degradasi terkemudian dalam begitu banyak contoh? Andaikan dia diciptakan bersama dengan pandangan agama yang mulia dan sangat tinggi, dan sebagainya, saya ingin tahu hukum sifat manusia yang secara nyata menyebabkan degradasi dalam sejarah.

Bangsa Mesir telah disebutkan, dan tak diragukan bahwa peradaban Mesir mencapai standar amat tinggi di periode awal, dan mustahil untuk beranggapan bahwa ia lahir dari barbarisme. Tapi ketika saya memeriksa teologi Mesir, saya menemukan sistem yang sangat kompleks, yang, jika kita anggap ia muncul dari kebiadaban, atau kekurangan peradaban, pasti menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk berkembang dari kondisi demikian. Di sisi lain, jika ia muncul dari peradaban korup atau terdegradasi, pasti menghabiskan waktu yang banyak untuk menghasilkan degradasi demikian. Saya akui bahwa degradasi agama dan moralitas mengikuti hukum perkembangan secara jauh lebih pesat dibanding hal lain, tapi saya betul-betul terbujuk oleh sejarah bahwa diperlukan periode yang panjang untuk berlakunya perubahan begitu besar. Kasus India telah disebutkan, dan kita diperkenalkan kepada karangan Hindu. Tapi saya ingin tahu di periode apa Pantheisme India lahir. Agama India, dan semua agama timur, didasarkan pada pantheisme. Nah, Pantheimse merupakan degradasi sangat besar dari bentuk agama murni apapun, dan pasti diperlukan periode yang amat panjang untuk timbul, sebab saya merasa yakin bahwa agama-agama periode sejarah mengalami proses perubahan sangat lambat. Perhatikan kondisi agama dan moralitas di zaman syair Homer, dan di zaman Pericles, saya pikir itu tidak mengalami proses perbaikan pada interval tersebut. Perkembangan perubahan amatlah lambat dalam perjalanan sejarah, sampai Anda tiba di sejarah agama Kristen, yang, karena bersifat supernatural, keluar dari daftar. Perhatikan Yudaisme: saya melihat menghabiskan waktu mulai dari periode Musa sampai Penawanan untuk membangun konsepsi monarki yang benar. Elaborasi/pengembangan sistem keagamaan merupakan proses yang lambat, dan dengan demikian, dan dengan menerima tanggal peradaban awal membuat kita terjebak dalam kesulitan ini, itu membutuhkan interval waktu yang sangat panjang dan selama interval tersebut berbagai sistem keagamaan berelaborasi.

Pend. Mr. White: “Saya hanya ingin bertanya, apakah bukan sebuah kekeliruan untuk beranggapan bahwa bahasa yang rumit mengimplikasikan derajat peradaban tinggi? Ketika Anda menemukan bahasa dengan banyak infleksi, dan grammar rumit, bukankah itu lebih menandakan kecacatan, ketimbang kelebihan, dalam peradaban? Jika benar bahwa tata bahasa yang rumit dan banyaknya infleksi membuktikan derajat peradaban tinggi, maka bahasa kita merupakan anomali yang sangat hebat, sebab tidak ada bahasa yang secara lebih menyeluruh telah membuang infleksinya dan mengurangi jumlah bentuk gramatisnya [dibanding bahasa kita].

Pend. A. de la Mare: “Kemerosotan bahasa Latin dan Yunani dalam periode waktu tertentu—katakanlah 3 atau 4 abad—telah disebutkan. Tapi meski kita punya cara untuk menguji kemerosotan tersebut, saya pikir kita tidak punya cara untuk menguji apa yang Tn. Titcomb sajikan kepada kita, sebab literatur dari bahasa yang dia sebutkan sudah tidak ada, yang memungkinkan kita menelusuri penyempurnaan atau kemerosotannya. Oleh sebab itu, mempersilahkan dia menjelaskan itu secara lebih lengkap sama saja dengan meminta sesuatu yang keadaan perkaranya tidak dikenali. Berkenaan dengan kompleksitas bahasa barbar, menurut saya tak terbantahkan bahwa orang-orang yang memakainya tidak memiliki leluhur beradab. Argumennya dapat dibalikkan, dan bila kita bisa menelusurinya, kita mungkin mendapati bahwa bahasa tersebut bahkan semula lebih kompleks daripada sekarang. Berkenaan dengan kemerosotan moral, saya sungguh mengakui apa yang dikatakannya, bahwa perlu waktu yang panjang untuk berlakunya kemerosotan seperti itu; tapi saya pikir ada sebuah elemen yang harus dipertimbangkan berkenaan dengan poin ini, yang belum disebutkan sama sekali dalam pembahasan pertanyaan. Kita mengalami, sebagai titik tolak, kejatuhan manusia; dan dengan mempertimbangkan itu, saya pikir mengakhiri semua hal lain yang diperdebatkan.”

Pend. C. A. Row: “Yang saya maksud mengenai poin tersebut adalah, bahwa saya lebih senang melihatnya terusut secara akurat berdasarkan hukum sejarah, bukan atas suatu teori.”

Tn. Newton: “Berkenaan dengan sisa-sisa arkeologis yang dikatakan eksis di Amerika Tengah, saya lebih senang menyebutkan bahwa itu semua, sejauh yang kita ketahui, merupakan hasil budak. Walaupun itu adalah hasil budak, kemungkinan besar terdapat ras amat superior yang mempunyai budak di bawah kendali mereka, dan mengindikasikan peradaban awal dan barbarisme awal secara bersamaan. Ini adalah kesulitan yang harus diselesaikan, dan ada hal lain lagi, bahwa di periode sangat awal manusia dapat menanam pangan dan menyediakan pakaiannya sendiri; dan tidak ada buruh tambahan yang bisa dikerahkan pada pekerjaan besar yang kita lihat peninggalannya hari ini, kecuali jika sejumlah tertentu dipelihara dengan upah kecil. Kita hidup di bahwa kondisi hal yang berbeda-beda sekarang, di mana kita dapat membuat sebuah mesin berproduksi sebanyak hasil seribu orang. Di peradaban kuno, saya pikir kita harus menyimpulkan bahwa semua pekerjaan besar dalam sejarah kuno merupakan hasil tenaga budak.”

Pend. C. A. Row: “Saya diberitahu oleh seorang teman bahwa di Paris Exhibition, di antara sejumlah peninggalan kuno, dipamerkan sebuah lukisan, atau sejenisnya, yang berasal dari masa prasejarah. Saya tak tahu apakah itu lukisan atau bukan, tapi itu memuat gambar – gambar beberapa binatang prasejarah. Saya akan senang mendengar seseorang menjelaskan nilai historis lukisan atau gambaran semacam itu.”

Chairman: “Saya mendengar bahwa ada hal semacam itu di Exhibition, tapi saya pikir otentisitas agak diragukan, setidaknya itu harus diselidiki dan diinvestigasi secara seksama. Sejak Sir Charles Lyell diajak oleh Darwin, kita mendapatkan satu kawanan geolog – Kawanan Anti-bencana – yang berhasrat menghasilkan semua bukti semampu mereka mengenai kepurbakalaan manusia. Kesezamanan manusia dengan binatang yang punah, yang telah ditolak oleh para geolog selama bertahun-tahun, kini sudah diakui dan diterima secara luas. Saya pikir sketsa atau sketsa-sketsa yang dipamerkan dalam Paris Exhibition, membutuhkan konfirmasi penting; tapi saya percaya di Amerika telah ditemukan sisa-sisa suatu binatang yang telah punah—mastodon (mamalia besar mirip gajah—penj)—dan di bawah sisa-sisa itu ditemukan sisa bara api, bersama dengan mata panah dan instrumen kepala lainnya, buatan tangan. Namun, pada waktu penemuan, dan akibat opini yang kala itu beredar di kalangan geolog, bukti ini, dengan vulgar saya istilahkan, “dicemooh” dan disisihkan. Saya pikir kecenderungan utuh penemuan modern membuktikan bahwa banyak binatang, yang dianggap telah eksis jauh sebelum penciptaan manusia, sebetulnya eksis dalam periode manusia. Saya yakin kecenderungan penemuan modern membawa kembali sejarah manusia menuju periode geologis, di mana sebelumnya di periode tersebut manusia tak pernah terbayangkan eksis. Tapi entah apakah hal-hal ini membawa kita sampai ke periode-periode besar yang sekarang dikemukakan para geolog, itu sama sekali merupakan persoalan berbeda…

Pend. C. A. Row: “Teman saya menyebutkan bahwa pada objek-objek di Paris Exhibition yang saya sebutkan tadi terdapat beberapa gambar kecil binatang pra-Adam. Dia memegangnya langsung, dan menurut pendapatnya itu asli. Pendapatnya berharga, sebab dia merupakan seorang ahli dalam persoalan semacam itu.

Chairman: “Saya pikir terdapat bukti probabilitas kuat yang mendukung gambar-gambar itu, tapi segala hal membutuhkan penyelidikan. Dengan sendirinya itu akan mempunyai sedikit bobot, namun berkombinasi dengan banyak fakta lain yang membuktikan bahwa manusia telah hidup sezaman dengan mammoth dan mastodon, dan banyak binatang lainnya yang dianggap eksis jauh lebih dahulu sebelum penciptaan manusia. Sekarang kembali ke subjek kita sebelumnya, saya pikir tak ada sesuatu hal yang bertentangan dengan sikap utama yang diambil dalam paper ini, yakni bahwa manusia tidak bangkit dari status biadab melewati taraf yang panjang, lamban, dan hampir tak terasa menuju status peradaban, melainkan bahwa di permulaan terdapat status peradaban tinggi, yang darinya semua sejarah dan tradisi menunjukkan asal manusia. “Kita telah ditanya, tak disangsikan lagi memang tepat, bagaimana kita akan menerangkan kemerosotan pesat dari peradaban, yang pasti telah terjadi pada ras-ras tertentu. Bagaimanapun, saya pikir poin tersebut sudah sepenuhnya diterangkan oleh penjelasan Tn. De La Mare—bahwa hanya wahyu Kitab Injil-lah yang memberi keterangan, meskipun sedikit, mengenai fakta sejarah yang amat penting. Kejatuhan manusia, dan konsekuensi kemerosotan sifat spiritual manusia, merupakan satu-satunya hal yang menerangkan demoralisasi pesat menuju kejatuhan manusia. Untuk menemukan seberapa pesat proses tersebut, kita tak perlu mengunjungi suku-suku India, suku barbar Amerika, atau wujud barbarisme rendah yang eksis di Australia; kita tak perlu pergi ke luar tanah beradab dan Kristen kita, di mana pria dan wanita yang telah diperbolehkan sejenak untuk mengikuti kecenderungan alami akal manusia, dan kecenderungan alami untuk merosot yang eksis dalam hati manusia, telah tenggelam, manakala tidak memegang Wahyu, menuju tipe manusia terendah. Untuk melihat seberapa pesat kemerosotan manusia, kita hanya perlu memasuki penjara-penjara kita sendiri untuk menemukan orang-orang yang hidup dalam barbarisme yang setara dengan apa yang Anda jumpai di wilayah dunia lainnya. Kemerosotan ini bukan sekadar perkara historis; ia merupakan fakta dalam pengalaman kita sendiri. Di sisi lain, kita mendapati, tanpa eksistensi agama spiritual, tanpa eksistensi bentuk spiritual agama Kristen, betapa sulitnya untuk mengangkat orang-orang yang berada dalam status terdegradasi tersebut menuju titik peradaban tinggi; tapi ketika orang-orang tersebut, barbar di negeri kita sendiri, diangkat dari pengaruh demikian, kita melihat betapa pesatnya orang-orang paling merosot dan terdegradasi dari ras kita itu beranjak menuju puncak keunggulan intelektual, bisa saya katakan demikian; kita bisa mengunjungi pondok-pondok jelek, yang dihuni oleh pria dan wanita yang sangat bodoh dalam segala hal kecuali Bibel, tapi kita mendapati mereka bisa mengajari kita hal-hal tertentu yang tidak kita ketahui sebelumnya – kebenaran yang jauh lebih tinggi daripada yang diajarkan oleh orang-orang bijak Yunani dan Roma, dan apresiasi yang jauh lebih tinggi kepada Tuhan daripada yang Anda temukan dalam dokumen-dokumen kuno atau dalam kitab-kitab Weda.”

Sangat bagus bagi Max Muller dan lainnya untuk menemukan mutiara tertentu dari literatur timur kuno; tapi itu tak lain hanyalah beberapa butir pasir yang ditampi dari sekam yang luas. Baru-baru ini saya berbincang dengan seorang profesor terkenal dari Cambridge, yang cukup memahami literatur Hebrew modern, literatur Talmud, dan literatur Yahudi pasca-Kristen yang terkemudian. Kami membicarakan artikel mutakhir mengenai Talmud, dalam Quarterly Review, yang baru populer sekarang ini, dan memuat sejumlah bagian luar biasa dari tulisan Yahudi, yang dikumpulkan untuk menunjukkan kepada kita bahwa kaum Yahudi sebelum era Juru Selamat kita mempunyai apresiasi moral yang sama tingginya dengan para penulis Perjanjian Baru. Tapi sebagian besar mutiara yang diberikan kepada kita berasal dari literatur yang ditulis bertahun-tahun setelah penyebaran Kristen, dan setelah Yahudi mendapat manfaat dari ajaran Perjanjian Baru, dan itu diambil sebagai bukti bahwa semua yang terdapat dalam Perjanjian Baru berasal dari tradisi Yahudi kuno! Saya bilang kepada teman saya bahwa saya tidak menganggap diri sebagai pakar Yahudi, dan bahwa pengetahuan saya atas literatur Yahudi semuanya didapat dari terjemahan, tapi saya telah mengarungi terjemahan-terjemahan Talmud dan contoh tulisan Yahudi lainnya, dan saya mendapatinya sangat tidak menarik dan absurd luar biasa. Saya menanyakan opini teman saya terkait artikel mengenai Talmud tadi, dan dia bilang itu terdiri dari sangat sedikit gandum yang diambil dari sekam yang sangat luas, tapi bila ditampi dan dikumpulkan, itu akan terlihat menakjubkan. Salah satu hal utama yang kita banggakan di zaman modern adalah kemajuan hebat dan pesat yang kita buat dalam sains dan peradaban. Tapi berkenaan dengan metafisika dan pengetahuan filsafat ruhaniah, saya pikir Yunani kuno sungguh setara sebagai sophi dan pendalih jika dibandingkan dengan manusia generasi sekarang. Bagaimanapun, sejak zaman Bacon, kita mempunyai cara baru dalam menyelidiki sains. Kita telah menyelidiki fakta-fakta alam, dan memberikan perhatian kepadanya, ketimbang kepada teori-teori yang hendak disimpulkan darinya.

Kita ambil satu contoh tepat. Tanpa mengetahui apa pun tentang listrik atau gaya magnet – nyatanya manusia ilmiah paling trampil di zaman kita masih sangat sedikit tahu tentang keduanya – Anda harus menemukan bahwa arus listrik yang dikirim sepanjang kabel akan memutar jarum magnet ke satu arah, dan bahwa arus lain, yang dikirim ke arah berlawanan, akan memutar jarum ke arah lain; dengan mengetahui fakta ini, Anda dapat membuat telegraf listrik. Mengapa seorang India, China, atau Jepang yang mengetahui hal ini sama mampunya dengan kita untuk membuat instrumen telegraf. Kita berpikir diri kita dalam peradaban kita begitu superior dibanding manusia masa lampau; padahal dalam esensi sejati peradaban, dalam hasil tertingginya, ke manapun Anda mempelajari catatan Bibel—contohnya Ibrahim, beserta isteri dan anak-anaknya—Anda akan mendapati mereka sama beradabnya dengan orang-orang di antara kita. Kita mendapati mereka jauh superior dalam status peradaban mereka sekalipun dibandingkan dengan penghuni apa yang kita sebut “Timur yang tak berubah”. Walaupun Timur disebut tak berubah, saat Muhammadanisme (Islam) memperoleh pengaruh di banyak tempat, mereka mendapati peradaban penghuninya telah merosot. Tak hanya itu, kita menemukan bahwa, di bawah keadaan yang sama, bagian lain ras manusia tetap dalam kondisi yang sama. Baru-baru ini saya membaca sebuah riwayat China, ditulis oleh ahli medis, yang menguraikan kedatangan suku Tartar ke China dari stepa; dan sebagaimana Anda baca deskripsinya, suasananya begitu familiar, sehingga Anda hampir bisa berkhayal bahwa Anda sedang membaca riwayat Ibrahim yang memasuki Mesir dengan semua untanya. Dalam karya Atkinson, Anda akan menemukan barbarisme dan peradaban menyatu, ras-ras nomaden, yang memiliki derajat peradaban tinggi, dan memiliki kekayaan materi yang banyak, tapi masih hidup dalam status nomaden yang dijalani Ibrahim ketika dia memasuki Mesir – saya tidak menyangka kesulitan yang timbul dalam diskusi mengenai bahasa ini begitu besar. Anggap saja kesulitan tersebut sebagai penyangkal, tapi saya pikir itu masih cenderung mendukung argumen utama paper Tn. Titcomb. Kita diajari bahwa bahasa kita sendiri dalam statusnya yang sekarang berasal dari Sanskerta dan bahasa serumpun lainnya. Jika kita ingin memasuki teori-teori modern mengenai pembentukan bahasa, kita harus mengakui bahwa bahasa kita, seberapa pun berpengaruh dan bergunanya ia, meski mampu mengungkapkan kebenaran spiritual tertinggi, meski mampu membahas semua filsafat masa lalu dalam pengertian paling kuat dan jernih dan membahas semua pencapaian sains modern, telah mengalami kemerosotan, ketimbang penyempurnaan. Kita telah kehilangan semua infleksi kita: semua kata kerja telah jatuh ke dalam status purbakala, jika saya boleh menyebutnya demikian; kita telah mencoret akhiran kata kerja kita, kita bahkan belum mencapai status perpaduan! Mungkin bahasa memiliki kecenderungan untuk melewati revolusi: saya hampir tidak mengerti bagaimana suatu ras biadab, dengan status barbarisme, dan anggap ras tersebut selalu berada dalam status barbarismenya—sebab saya ingin menetapkan perhatian Anda pada poin itu—bisa memperkembangkan sistem bahasa sebagaimana yang dimiliki banyak ras barbar, sebuah sistem yang, dengan semua pendapat modern kita mengenai sejarah dan struktur bahasa, hampir tidak bisa kita elaborasi dalam studi. Hal yang sama ditunjukkan berkenaan dengan bahasa China. Uskup Besar Wilkins mengusulkan bahasa universal, tidak fonetis, melainkan ideografis—sebuah ide yang dinyatakan melalui analogi simbol matematis, kimiawi, dan astronomis; kita tahu bahwa persoalan paling rumit yang terkait dengan kalkulus integral dan diferensial, misalnya, bisa dibaca oleh orang dari semua bangsa. Lantas, dia memikirkan ide menemukan bahasa ideografis; tapi seandainya dia paham bahasa China, dia akan menemukan bahasa yang telah dipakai selama bergenerasi-generasi, mungkin merupakan bahasa tertua yang kita miliki.

Semua hal ini cenderung membuktikan bahwa manusia bukan berawal dari status barbarisme, dan kemudian naik menuju peradaban; melainkan bahwa di manapun manusia ditemukan berada dalam status barbarisme, barbarisme tersebut muncul dari peradaban yang merosot. Ini dikonfirmasikan oleh fakta bahwa kita tidak menemukan jejak suatu kaum—yang memiliki literatur dan pengetahuan tentang sejarah masa lalu mereka—yang tradisinya dihidupkan dari barbarisme oleh orang-orang yang lebih beradab dari mereka. Yunani mengakui bahwa mereka diajari oleh Mesir dan India, dan Anda menemukan hal yang sama di Meksiko. Terdapat hal mengherankan lain yang harus dikemukakan. Banyak hal yang kita anggap sebagai penemuan paling luar biasa di zaman modern ternyata memiliki kepurbakalaan yang melampaui semua pengetahuan sejarah. Contohnya, penemuan kompas melampaui semua ingatan historis di China. Pemakaian jarum yang digantung dengan benang untuk memandu manusia melintasi stepa Tartary sudah diketahui eksis di China melampaui penanggalan bukti sejarah. Banyak hal sudah dikatakan berkenaan dengan zaman batu, zaman perunggu, dan zaman besi, sebagai tahap berturut-turut dalam kemajuan peradaban. Tapi, sebagaimana dikemukakan oleh Tn.Titcomb, kita mempunyai hal-hal yang sama saat ini dalam sezaman, dan karena mereka ditemukan, itu sama sekali bukan bukti bahwa salah satunya lebih dahulu dari yang lain. Seni menghasilkan besi dari bijih besi – yang membutuhkan pengetahuan penting dalam kimia dan metalurgi – berasal jauh melampaui pengetahuan sejarah. Ia telah eksis lebih lama dari ingatan kita. Di pedalaman Afrika, beberapa ratus mil saja dari Cape, ditemukan orang-orang yang dalam skala kecil mengerjakan semua proses metalurgi terumit kita untuk memproduksi besi, untuk menghasilkan besi dari bijih besi. Sekali lagi, seni mengubah besi menjadi baja telah dikenal lebih lama dari yang kita ingat. Ini merupakan salah satu hal paling terpendam dalam seluruh bidang kima, dan hampir tidak dipahami. Seni memasukkan dua zat ke panas yang intens, dan menggabungkannya untuk memproduksi zat lain, telah dikenal di India lebih lama dari yang kita ingat. Mungkin ada yang bertanya, lalu bagaimana Anda menerangkan fakta bahwa meski semua ini telah dikenal di seluruh Asia dan Afrika, tapi tak pernah masuk ke Amerika? Sebagai jawaban, untuk sejenak kita asumsikan kasus berikut, asumsikan 50 atau 60 pelayar Inggris, yang terlahir dan tumbuh di distrik agrikultur murni, terdampar di sebuah pulau tandus. Berapa banyak dari mereka yang akan mempunyai ide bahwa bijih besi yang mereka temukan mengandung besi, atau jika mereka tahu itu, berapa banyak dari mereka yang akan mengetahui cara untuk menyuling besi dari bijih besi? Pikirkan kasus ini dan Anda akan paham betapa pesatnya pengetahuan yang pernah dimiliki akan lenyap dan tak pernah didapat kembali oleh orang-orang. Hal mengagumkan lain adalah pengetahuan universal semua ras dunia lama mengenai biji-bijian dan cara mengolahnya. Ini hal paling mengagumkan. Di mana Anda menemukan gandum liar dan padi yang bisa diolah menjadi biji-bijian yang kita punya sekarang? Di mana Anda menemukan makanan pokok seluruh dunia yang tumbuh alami? Para ahli botani mengakui bahwa Anda tidak bisa menemukannya di manapun, atau, jika ada, makanan pokok tersebut sama sekali tidak dan belum tentu melimpah, dan kita merasa hampir pasti bahwa “bahan pokok kehidupan” kita akan segera lenyap dari tangan manusia kecuali jika manusia mengolah biji-bijian ini dengan cermat. Semua hal ini mengarah kepada periode peradaban yang jauh di masa lalu, ketika manusia sudah mengenal beberapa hal yang sekarang kita pahami sebagai produk pemikiran manusia, sains manusia, dan penemuan manusia.”

Pend. J. H. Titcomb: “Dari diskusi yang terjadi, saya menemukan bahwa terdapat tiga keberatan utama terhadap paper saya. Yang pertama utamanya terdapat pada lamanya waktu, yang harus kita postulatkan, dalam mencapai status degradasi moral dan agama yang dialami ras-ras tertentu. Berkenaan dengan degradasi agama, saya pikir keberatan tersebut tidak mempunyai banyak bobot manakala kita mengingat kembali singkatnya waktu yang mencukupi untuk kelahiran dan penyebaran Mormonisme, mustahil bagi akal manusia untuk memahami sesuatu yang lebih kasar, absurd, dan merosot. Kepesatan orang-orang memeluk Mormonisme menghadirkan tipe sedang/menengah dari apa yang terjadi di periode awal sejarah dunia, ketika berbagai ras lebih terpencilkan dari satu sama lain dibanding [keterpencilan] Mormon di Salt Lake dari semua hubungan dengan sesama mereka. Saya dapat menyebutkan contoh lain untuk menguatkan pandangan saya, dalam kasus awal-mula sebuah sekte tertentu di Jerman saat bubarnya Kepausan di periode Reformasi, dan di Prancis di masa revolusi, ketika pikiran manusia mengalami keliaran ekstrim, dan ketika sekte tertentu yang dikenal dengan nama Adamites muncul, teori fundamental perkumpulan mereka adalah bahwa setiap orang semestinya bekerja dalam kondisi alami! Pendapat semacam itu mengindikasikan degradasi perasaan dan sentimen agama secara total dan menyeluruh, dan menunjukkan, saya pikir, bahwa degradasi demikian tidak membutuhkan selang waktu yang lama untuk pemenuhannya. Tapi jika keberatan tadi masih membutuhkan jawaban lebih jauh, saya ingin katakan, perhatikan kondisi masyarakat di sebuah wilayah Inggris, di daerah Cornwall, di periode abad 18 sebelum Wesley muncul, yang kependetaannya begitu memurnikan dan mengangkat para penambang dan tukang bongkar di pantai Cornwall. Saya ingin mengatakan bahwa bila kita mempunyai bukti eksisnya Dewan Perwakilan Rendah, atas degradasi moral, di antara ras manusia sebelum kenaikan derajat mereka lewat pengaruh agama yang menyucikan, kita pasti mempunyai rekaman fakta yang akan menegakkan bulu roma kita, dan mustahil untuk dibicarakan di hadapan wanita. Untuk sementara pertimbangkan saja itu kemungkinannya benar—dan saya percaya itu bisa diperkuat sepenuhnya.

Dalam periode sejarah masa kini kita mempunyai gambaran sekelompok penambang yang hidup jauh di perut bumi, tanpa berkah Wahyu, dan hampir mendekati kondisi keterasingan ras manusia biadab dari leluhur mereka. Dalam satu kasus Anda mendapatkan tingkat degradasi moral yang dapat ditelusuri dan sama besarnya dengan kasus lain. Oleh sebab itu, kita tak harus mempostulatkan periode waktu yang panjang untuk degradasi tersebut. Keberatan lain terhadap paper saya adalah mengenai bahasa. Orang yang berkeberatan mengatakan bahwa bahasa mengalami kemerosotan bersama ras. Saya sungguh mengakui bahwa tak ada gunanya berusaha menyokong sebuah argumen jika itu tidak akan bertahan, dan saya pasti menjadi orang terakhir yang melakukan usaha seperti itu. Saya hanya ingin manfaat argumen saya diuji, dengan tujuan memperoleh sesuatu yang benar. Bahasa-bahasa Amerika telah disebutkan. Harus dicamkan bahwa bahasa-bahasa Amerika dibedakan oleh dua fitur utama: yang pertama adalah kecenderungannya untuk berpadu, dan yang kedua adalah susunan gramatisnya yang rumit. Teman saya bertanya, paham bahwa bahasa Latin, dalam perjalanan waktu, merosot bersama membusuknya masyarakat, dan menjadi tak berharga dibanding leluhurnya, bagaimana bahasa-bahasa asli Amerika bisa dipertahankan oleh ras biadab, dan bukankah seharusnya menjadi bahasa yang merosot ketimbang menjadi sopan atau halus? Saya sungguh ingin mengakui bahwa terdapat kemerosotan, dan bahwa kemerosotan tersebut ditemukan eksis dalam perpaduan kata; tapi saya pikir jejak-jejak peradaban yang mempunyai bahasa lebih tua telah mempertahankan susunan gramatis mereka. Anda harus sangat cermat membedakan antara dua cabang ini—perpaduan dan susunan gramatis. Max Muller sendiri mengatakan bahwa perpaduan mengindikasikan status bahasa rendah, ketimbang tinggi; tapi bukan itu yang saya maksud. Anda bisa dengan mudah memahami bahasa-bahasa Amerika yang belum dipadukan di sejarah awal mereka, tapi masih menemukan susunan gramatis yang sama rumitnya. Kalau begitu, perpaduan yang terdapat dalam bahasa-bahasa Amerika mewakili argumen Anda; susunan gramatis rumit mewakili argumen saya; dan oleh sebab itu, sementara pandangan Anda bisa benar—dan saya sama sekali tidak menyangkalnya—saya bisa benar pula dalam mempertahankan pandangan saya.”

Chairman: “Saya bisa memberi Anda contoh kebenaran dua pandangan ini di negeri kita sendiri. Saat saya berada di Yorkshire, wilayah Sheffield, saya menemukan proses perpaduan berlangsung dengan hebat, seperti dalam frase “on t’road” untuk “on the road”. Sementara perpaduan ini berjalan, susunan gramatis rumit bisa terpelihara. Di antara orang-orang itu, kata kerja Saxon lama dan akhiran Saxon lama masih terpelihara, seperti dalam kata kerja “to lig” untuk “to lie”, “liggin on a bank” untuk “lying on a bank”. Itu saya pikir merupakan contoh sangat bagus untuk argumen ini.”

Pend. J. H. Titcomb: “Adalah bertentangan pula dengan paper saya bahwa karena Inggris dan Yunani, dan semua rumpun bahasa Indo-Eropa, mempunyai kecenderungan untuk menjadi sederhana ketimbang merumit seiring waktu, sebagaimana pada Sanskerta lama, maka pengaruh peradaban yang menghaluskan dan memurnikan di Amerika telah membuat bahasa-bahasa Amerika menjadi lebih sederhana ketimbang rumit. Saya jawab, Max Muller telah begitu mencurahkan diri pada cabang filologi Arya saja, sehingga saya pikir dia belum cukup memahami pemikiran bahwa selain bahasa harus menyertakan kebiasaan, adat-istiadat, dan hal lainnya—Anda harus mempertimbangkan berbagai ras, berbagai tipe bakat. Dalam seluruh bahasa Arya, yang membentang dari India sampai Islandia, Anda menemukan kecenderungan penyederhanaan—itu merupakan bakat ras. Tapi itu bukan alasan mengapa rumpun Mongolia tidak mempunyai bakat berbeda, dan bakat mereka, bahkan dalam peradaban, mungkin mempunyai kecenderungan untuk merumit. Itu sungguh dapat dimengerti, dan sesuai dengan akal sehat sebagaimana teori lainnya. Keberatan yang diajukan oleh Tn. Newton didorong oleh alasan lain. Dia merasa kesulitan memahami eksistensi perbudakan di zaman primitif ini. Dia mengatakan, dengan merujuk peninggalan arkeologis tertentu di Afrika Tengah, “Kita tahu itu dibuat oleh para budak, karenanya barbarisme pasti berdampingan dengan peradaban. Itu membuktikan bahwa barbarisme sama tuanya dengan peradaban; karenanya paper Anda salah.” Tapi saya berpendapat bahwa perbudakan tidak harus mempunyai hubungan apapun dengan barbarisme. Budak-budak Yunani bukan orang barbar, begitu pula dengan bangsa Israel di Mesir. Opini orang-orang yang telah mempelajari monumen-monumen Mesir, dan yang kompeten membahas poin tersebut, menyatakan bahwa sebagian besar monumen itu merupakan karya budak Israel. Pada monumen-monumen yang berasal dari abad ke-4 itu, terdapat sosok-sosok budak yang sedang bekerja, dan mereka digambarkan, bukan sebagai ras kulit hitam atau negro, melainkan berparas dan berfitur Yahudi pada umumnya.

Budak mungkin eksis berdampingan dengan peradaban, tapi tidak harus sebagai orang barbar. Mereka berdegradasi, itu memang benar, karena ditaklukkan; dan saya bisa memahami bangsa Meksiko yang menguasai ras tertakluk dan menurunkannya hingga status perbudakan, tanpa mengalami status kebiadaban. Jika itu berlaku pada pada bangsa Mesir dan bangsa Israel, itu juga bisa berlaku pada bangsa Meksiko, serta pada ras-ras tua yang sezaman dengan Aztec. Sekarang saya telah menyelesaikan semua keberatan yang diajukan terhadap paper saya, tapi saya agak kecewa lantaran hanya sedikit. Saya mengantisipasi lebih jauh, dan, dengan izin Anda, jika saya belum membosankan Anda, saya akan mengemukakan beberapa hal lagi,  dan berusaha keras untuk menjawabnya. Belum ada yang dibahas berkenaan dengan argumen yang disimpulkan dari Monoteisme. Saya mengira seseorang akan menyebutkannya dengan sia-sia untuk menarik landasan pokok keyakinan agama di pihak Monoteisme, sedangkan itu tidak akan membuktikan apapun, sebab akal manusia mempunyai insting alami belaka untuk menyembah roh halus, dan itu, secara deduktif, diduga terdapat di semua wilayah dunia dan berdampingan dengan penyembahan berhala. Tapi kita punya bukti sebaliknya. Contohnya, kaum Kafir yang luar biasa bertahan di Afrika tanpa keberhalaan, dan mereka menyembah roh halus. Anda tidak bisa menunjukkan dari kaum Bushman (kaum aborigin Afrika Selatan—penj) dan Hottentot bahwa mereka mempunyai gagasan roh halus. Keberatan lain juga menghampiri saya. Mengakui bahwa ras-ras yang kini biadab jatuh dari status peradaban tidaklah membuktikan bahwa aslinya mereka beradab, tapi hanya membuktikan bahwa mereka telah jatuh kembali ke dalam status barbarisme. Bisa saja dalam status saat ini mereka hanya jatuh kembali ke kondisi awal mereka, seperti tanaman dan binatang yang dijinakkan, yang, ketika dibiarkan tanpa pengolahan/pemeliharaan, kembali ke jenis keliaran awal. Argumen ini memang pas untuk binatang liar “sebab perkembangan mereka diakui di luar keinginan”. Karena mereka tak pernah memelihara diri, maka, ketika dukungan artifisial (bantuan manusia—penj) ditarik, mereka secara alami jatuh kembali ke level awal mereka. Betul, mereka seringkali jatuh lebih rendah dari level awal mereka.

Contohnya, babi Eropa, yang pertama kali dibawa oleh bangsa Spanyol pada 1509 ke pulau Cubagua, pada waktu itu terkenal dengan penangkapan mutiaranya, merosot menjadi spesies raksasa, dengan jari kaki sepanjang setengah jengkal. Analogi kita adalah jenis yang terakhir. Sebagaimana babi jinak Eropa yang, dalam contoh ini, jatuh ke level alami babi liar Amerika, begitu pula halnya ras-ras kita di masa kini yang melambangkan level kemanusiaan yang lebih rendah dari titik awal mereka. Analogi ini sama adil dan bagusnya dengan yang lain. Tapi sebenarnya tak ada yang cocok dengan fakta kasus, sebab binatang liar tidak dipelihara oleh kemampuan mandiri mereka, bukan oleh perkembangan, melainkan oleh perintah makhluk yang lebih unggul; sedangkan kenaikan peradaban manusia dihasilkan oleh pengolahan kemampuan alaminya, baik mental maupun moral. Dengan mengakui ini, maka semua analogi di antara kasus menjadi gagal. Ketika manusia memelihara diri hingga mencapai peradaban Yunani dan Romawi, itu adalah berkat pengolahan progresif atas sifat fisik, mental dan moralnya. Demikian halnya, ketika manusia jatuh ke level Indian Penggali di Amerika (asumsikan mereka mempunyai peradaban terdahulu, yang menjadi landasan argumen kita di masa kini) itu pasti diakibatkan oleh kemerosotan progresif dalam sifat fisik, mental, dan moralnya. Ini pertanyaan yang harus kita putuskan—apakah titik tolak perkembangan manusia sampai peradaban abad 19 adalah seperti kondisi Indian Penggali di Amerika, sehingga manusia dianggap menaikkan dirinya dari titik ekstrim terendah hingga titik esktrim tertinggi; ataukah ada suatu tingkat menengah di antara keduanya, yang dari titik tersebut beberapa ras menjadi lebih tinggi dan yang lainnya jatuh, hanya melalui pengolahan atau tanpa pengolahan sumber daya alam mereka? Untuk mengomentari poin yang terakhir, kita jelas mempunyai masukan fakta lebih besar yang mendukung kita, ditarik dari analogi sejarah sezaman. Fakta dan analogi ini begitu terang dan gamblang, sehingga secara jujur saya mengakui, seandainya Bibel tidak eksis, saya pasti masih memegang pendapat saya sebagai hasil dari penyelidikan ilmiah sederhana.

Saya akan mengakhiri, jika Anda mengizinkan, dengan membacakan sebuah kalimat dari Max Muller: “Kita semakin banyak mendapatkan gambaran manusia, di iklim manapun, yang mulia dan murni dari masa permulaan… Sejauh apapun kita menelusuri langkah kaki manusia, bahkan pada strata sejarah terendah, kita menjumpai bahwa anugerah ilahi dari intelek yang kuat dan bijaksana telah ia miliki sejak awal, dan ide bahwa manusia muncul secara perlahan-lahan dari kedalaman brutalitas binatang tak pernah bisa dipertahankan lagi.””

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s