Kisah Sepanjang Zaman Bag. 6: Nabi Hud as

Oleh: Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas
(Sumber: “Kisah Penciptaan dan Tokoh-tokoh Sepanjang Zaman”; diterjemahkan oleh Abdul Halim, Bandung: Pustaka Hidayah, Cet. I, Oktober 2002, hal. 133-138)

Allah berfirman: Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Ad saudara mereka, Hud. Dia berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah; sekali-kali tidak ada tuhan bagimu selain-Nya. Maka, mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?” (QS Al-A’raaf: 65).

Ka’ab al-Ahbar mengatakan bahwa nabi yang diutus setelah Nuh as adalah Nabi Hud as. Dia adalah Hud bin ‘Abdillah bin ‘Aush, salah satu anak Sam. Dia termasuk bagian dari kabilah ‘Ad. Mereka adalah orang-orang Arab yang menempati al-Ahqaf, yaitu sebuah pegunungan pasir yang terletak di daerah Yaman antara Oman dan Hadramaut yang dekat ke laut asin. Kabilah-kabilah ini dipimpin oleh seorang raja bernama Jalijan yang tingginya sekitar 100 siku. Oleh karena itu, ketika berdiri dia bisa menutupi matahari dari bumi, dan ketika dia meletakkan lengannya di atas sebuah gunung, dia bisa menghancurkannya dari semua sisinya.

Wahab bin Munabbih mengatakan bahwa tinggi dari postur laki-laki kaum ‘Ad adalah 100 siku dan yang paling pendeknya seukuran 60 siku. Mereka belum mencapai dewasa kecuali setelah berumur 100 tahun. Mereka bisa mencapai umur lebih dari 400 tahun, tidak pernah terlihat orang-orang kalangan mereka yang meninggal dan belum pernah ditemukan jenazah. Ukuran kepala mereka kira-kira sebesar kubah yang besar. Mereka adalah kaum yang kejam dan menyembah berhala, selain Allah.

Wahab bin Munabbih mengatakan, 60 orang laki-laki dari kaum Musa pernah berteduh di dalam tengkorak kepala seorang laki-laki dari kaum Amalaqah. Zaid bin Aslam mengatakan, “Aku pernah melihat seekor serigala beserta anak-anaknya sedang berkumpul dalam kelopak mata seorang laki-laki dari kaum Amalaqah. Dan aku pernah menimbang satu gigi gerahamnya, ternyata beratnya mencapai 10 kati.”

Wahab bin Munabbih mengatakan, ketika kejahatan kaum itu kian memuncak, Allah mengutus Hud as kepada mereka saat dia berumur 40 tahun. Jibril turun kepadanya dan berkata, “Sesungguhnya Allah telah mengutusmu kepada kaum ‘Ad. Berilah mereka peringatan dan beritahukanlah mereka bahwa Aku (Allah) telah memberi mereka tempo yang lama dan mereka telah Aku beri kekuatan yang belum pernah diberikan kepada siapapun sebelum mereka. Aku jadikan mereka para pembesar yang menguasai emas dan menjadikan mereka sebagai orang yang paling panjang umurnya. Datanglah kepada mereka dan serulah mereka untuk bertauhid agar mereka kembali dari menyembah berhala kepada menyembah Allah.”

Hud as datang kepada mereka pada waktu hari raya mereka. Di sana, para pembesar sedang berkumpul dan Raja Jalijan duduk di atas ranjang yang terbuat dari emas. Kepalanya memakai mahkota bertatahkan permata yang megah. Mereka tidak menyadari apapun kecuali suara Hud yang mengatakan, “Wahai orang-orang, beribadahlah kalian kepada Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian. Kalian tidak memiliki tuhan kecuali Dia. Berhala-berhala yang kalian sembah selain Allah ini adalah yang menyebabkan kaum Nuh, sebelum kalian, ditenggelamkan.”

Ketika Raja Jalijan melihatnya, dia berkata, “Celaka engkau wahai Hud. Apakah engkau menyangka, dengan kelompok kami, dan kukuhnya kekuatan kami ini, bisa mengalahkan kami dengan pernyataan-pernyataan tersebut? Tidak tahukah engkau bahwa setiap sehari semalam seribu anak kami terlahir?” Tatkala Hud merasa bosan mengajak mereka untuk mengesakan Allah, tetapi mereka tidak mendengarkannya, dia memohon kepada Allah agar wanita-wanita mereka dimandulkan sehingga pada tahun itu tidak ada satupun wanita yang hamil. Mereka mengadukan hal tersebut kepada Raja Jalijan.

Mereka berkata, “Sesungguhnya Hud telah membuat istri-istri kami mandul. Kami khawatir apa yang dikatakannya itu memang benar.” Kemudian Allah mewahyukan kepada Hud, “Kabarkanlah kepada kaummu agar mereka beriman kepada-Ku. Jika mereka tetap tidak beriman, maka akan Aku kirimkan kepada mereka angin yang membinasakan.” Ketika mereka mendengar kabar itu dari Hud, mereka melemparinya dengan batu. Hud tetap mengajak mereka selama 70 tahun dan di saat itu mereka terus-menerus melemparinya dengan batu. Ketika Hud as merasa putus asa dengan mereka, dia berkata, “Wahai Tuhanku, Engkau tahu bahwa sesungguhnya aku telah menyampaikan risalah-Mu kepada kaum ‘Ad, tetapi mereka tetap dalam kekafiran mereka karena kesesatan mereka yang nyata.”

Selanjutnya, Allah menghentikan hujan dari mereka selama tujuh tahun. Setelah tanah mereka mengering, hewan-hewan ternak mereka binasa, sementara kebutuhan mereka kian meningkat sehingga mereka banyak yang mati hingga mencapai setengahnya. Pada zaman tersebut, mereka mendapatkan bencana tidak turun hujan. Beberapa di antara mereka pergi ke Mekkah untuk berdoa kepada Allah di Baitul Haram agar pada bulan tersebut diturunkan hujan untuk mereka. Kaum ‘Ad memilih 70 lelaki yang paling saleh di antara mereka untuk berangkat ke Mekkah. Mereka membawa kain untuk penutup Ka’bah.

Tatkala mereka menutupi Ka’bah dengan kain tersebut, tiba-tiba datang angin badai. Angin itu menyobekkan kain penutup tersebut dan melemparkannya dari Baitullah. Kemudian mereka mengelilingi Ka’bah, berdoa kepada Allah dan memintakan hujan untuk kaum mereka. Pada saat itu, terdengar ada seseorang yang mengatakan bait-bait syair berikut:

Semoga Allah mencela delegasi kaum ‘Ad
yang telah datang kepada kami.
Sesungguhnya kaum ‘Ad adalah penghuni neraka jahanam
yang paling jelek.
Mereka mengutus delegasi untuk memintakan hujan,
tetapi kenyataannya mereka bakal mendapatkan air yang panas.

Setelah delegasi itu berdoa kepada Allah, Dia mengirimkan tiga awan, yang berwarna putih, merah, dan hitam. Kemudian mereka mendengar seseorang berkata, “Pilihlah salah satu dari ketiga awan itu!” Orang yang paling tua di antara mereka memilih awan yang berwarna hitam. Dia menyangka awan tersebut akan membawa hujan. Lalu Allah menggiring awan tersebut ke negeri mereka. Maka, tatkala mereka melihatnya, mereka bergembira dan berkata, “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.”

Wahab bin Munabbih mengatakan, Allah memerintahkan kepada malaikat yang bertugas mengurusi angin untuk membukakan katup angin yang membinasakan dari dasar bumi. Tatkala kaum ‘Ad melihat awan yang disangka akan membawa hujan tersebut, mereka bergegas lari ke gurun-gurun. Tiba-tiba angin yang membinasakan berputar-putar, mencerabuti pepohonan dari akar-akarnya, dan putarannya menghancurkan apapun yang terkena olehnya. Hal ini terus berlangsung hingga tujuh hari delapan malam tanpa henti.

Ketika kaum ‘Ad melihat hal itu, mereka buru-buru pergi dan masuk ke rumah mereka masing-masing. Tiba-tiba angin datang dan mengeluarkan mereka dari rumah-rumah mereka. Ketika angin kian membesar, mereka keluar menuju gurun-gurun dengan memakai persenjataan. Mereka berdiri dan berkata, “Kami akan menghadang angin dengan kemampuan dan kekuasaan kami.” Tiba-tiba angin datang merenggut tujuh jiwa yang paling besar postur tubuhnya dan paling kuat di antara mereka. Angin tersebut melemparkan seorang laki-laki ke udara sekitar 20 siku; kemudian ia melemparkannya ke bumi.

Pada waktu itu, mereka mati bergelimpangan seakan-akan mereka adalah tunggul pohon kurma yang telah lapuk. Angin bisa masuk ke dalam baju salah seorang di antara mereka, dan kemudian membawa dan melemparkannya ke tanah sehingga terjungkal mati. Kemudian Allah menurunkan kepada mereka hujan kerikil yang telah dipanaskan dengan api. Mereka terus mengalami hal itu selama 40 hari, tetapi Allah tetap membiarkan ruh mereka berada dalam jasad mereka sehingga azab mereka terasa begitu lama. Seorang yang beriman melewati mereka dan mendengarkan rintihan mereka dari dasar pasir.

Diriwayatkan, ketika angin yang membinasakan dikirimkan ke bumi, Hud tidak keluar dari tengah-tengah kaumnya. Para nabi yang lain, apabila diturunkan azab kepada kaumnya, suka keluar dari tengah-tengah kaumnya. Sementara Hud dan orang-orang yang beriman bersamanya tidak, tetapi sedikitpun angin tidak mencederai mereka. Orang yang beriman dari mereka duduk berdampingan dengan orang yang kafir tidak lebih dari satu langkah. Ketika angin yang membinasakan menerpa orang yang beriman, dia hanya merasakan terhembus oleh semilir angin yang menyegarkan, sementara ketika menerpa orang kafir, yang terasa olehnya adalah angin beracun yang menyesakkan.

Adapun raja mereka, Jalijan, setelah kaumnya binasa, masih tetap hidup selama beberapa hari sehingga dia melihat mereka semua telah binasa. Kemudian angin datang kepadanya, dan lalu masuk dari mulutnya dan keluar dari pantatnya sehingga dia terjatuh mati. Tidak ada seorangpun yang selamat dari azab tersebut kecuali Hud beserta orang-orang yang beriman bersamanya. Selanjutnya, Allah mengutus burung-burung hitam. Burung-burung tersebut mengangkut jasad-jasad mereka dan melemparkannya ke al-Bahr al-Muhith.

Ada sebuah riwayat yang menuturkan bahwa seorang laki-laki datang kepada Imam ‘Ali bin Abi Thalib ra. Imam ‘Ali bertanya kepadanya, “Hai laki-laki, dari negeri mana asalmu?” Laki-laki itu menjawab, “Dari Hadhramaut di negeri Yaman.” Ali bertanya kepadanya, “Apakah engkau mempunyai kabar tentang kuburan Nabi Hud.” Laki-laki itu menjawab, “Ya, yaitu pada masa mudaku aku pergi bersama sekelompok sahabatku. Kami berjalan hingga datang ke gunung ‘Ad. Di sana terdapat sebuah gua yang memiliki lubang kecil. Kami berjalan di dalam lubang tersebut dengan susah payah hingga kami sampai ke suatu tempat.

Tiba-tiba kami melihat sebuah dipan dari emas; di atasnya ada seorang mayat lelaki berbalutkan kain kafan yang lusuh. Ketika aku raba badannya, ternyata dia tidak membusuk dan keadaannya tidak berubah. Aku mengamatinya. Ternyata dia adalah seorang laki-laki yang matanya luas, alisnya tebal, kedua pipinya halus, bibirnya tipis, jambangnya panjang, dan di bawah kepalanya terdapat sebuah lembaran terbuat dari pualam putih; di atasnya tertulis, ‘Ini adalah Hud, Nabi Allah yang telah diutus kepada kaum ‘Ad, tetapi mereka mendustakannya sehingga Allah menghukum mereka dengan angin yang membinasakan dan tidak ada seorangpun dari mereka yang tersisa.’”

2 thoughts on “Kisah Sepanjang Zaman Bag. 6: Nabi Hud as

  1. Sedikit aneh…
    Di awal disebutkan: Ka’ab al-Ahbar mengatakan bahwa nabi yang diutus setelah Nuh as adalah Nabi Hud as.
    Tapi menjelang akhir, disebutkan: Beberapa di antara mereka pergi ke Mekkah untuk berdoa kepada Allah di Baitul Haram agar pada bulan tersebut diturunkan hujan untuk mereka. Kaum ‘Ad memilih 70 lelaki yang paling saleh di antara mereka untuk berangkat ke Mekkah. Mereka membawa kain untuk penutup Ka’bah.

    Masalahnya, bukankah harusnya saat itu Ka’bah belum ada?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s