Zaman Batu – Kebohongan Sejarah (II. Pendahuluan)

Oleh: Harun Yahya
(Sumber: A Historical Lie: The Stone Age, Istanbul: Global Publishing; 2006)

II. PENDAHULUAN

Perspektif sejarah kaum evolusionis mempelajari sejarah manusia dengan membaginya ke dalam beberapa periode, persis sebagaimana dilakukan pada perjalanan evolusi manusia itu sendiri. Konsep-konsep fiksi seperti Zaman Batu, Zaman Perunggu, dan Zaman Besi merupakan bagian penting dalam kronologi evolusionis. Karena gambaran imajiner ini disajikan di sekolah-sekolah, televisi, dan surat kabar, sebagian besar orang menerimanya tanpa mempertanyakan dan membayangkan bahwa manusia pernah hidup di suatu era ketika mereka hanya menggunakan perkakas batu dan tidak mengenal teknologi.

TIDAK PERNAH ADA ZAMAN BATU

Kalung batu dan kerang dari Neolitik Akhir ini tak hanya mengungkap keahlian seni dan selera orang-orang di masa tersebut, tapi juga mengungkap bahwa mereka mempunyai teknologi yang dibutuhkan untuk memproduksi objek sedekoratif itu.

Di periode yang dicemarkan oleh para evolusionis sebagai “Zaman Batu” tersebut, orang-orang melakukan penyembahan, mendengarkan pesan yang didakwahkan oleh rasul yang diutus kepada mereka, mendirikan bangunan, memasak makanan di dapur, mengobrol dengan keluarga, mengunjungi tetangga, menyuruh penjahit menjahitkan baju untuk mereka, mempunyai perhatian terhadap musik, melukis, membuat patung—dan, singkatnya, menjalani kehidupan yang normal sama sekali. Sebagaimana temuan arkeologis menunjukkan, terdapat perubahan dalam teknologi dan pengetahuan selama perjalanan sejarah. Tapi manusia senantiasa hidup sebagai manusia.

Kanan: Beberapa belanga, sebuah model meja, dan sebuah sendok yang berasal dari antara tahun 7.000 sampai 11.000 SM ini menyediakan informasi penting tentang standar kehidupan orang-orang di masa itu. Menurut para evolusionis, orang-orang di masa itu baru mengadopsi gaya hidup menetap dan baru beradab. Tapi material ini menunjukkan bahwa tidak ada yang kurang dari kebudayaan orang-orang ini, dan bahwa mereka hidup secara beradab sepenuhnya. Sebagaimana kita hari ini, mereka duduk di meja, memakai piring, pisau, sendok, dan garpu, menyambut tamu, menyuguhkan makanan/minuman kepada tamu—dan singkatnya, menjalani kehidupan teratur. Ketika temuan-temuan tersebut diuji secara keseluruhan, kita melihat bahwa dengan pemahaman seni, pengetahuan medis, metode teknis, dan kehidupan sehari-harinya, orang-orang Neolitik menjalani kehidupan manusiawi seutuhnya sebagaimana orang-orang sebelum dan sesudah mereka.

Kancing berumur 12.000 tahun.

Kiri: Kancing tulang ini, digunakan pada sekitar 10.000 SM, menunjukkan bahwa orang-orang di masa itu mengenakan pakaian berkancing. Masyarakat yang mempergunakan kancing pasti juga akrab dengan menjahit, membuat pakaian, dan menenun.

Manik-manik berumur 12.000 tahun.

Kanan: Menurut para arkeolog, batu-batu ini, berasal dari sekitar 10.000 SM, dipakai sebagai manik-manik. Lubang sempurna pada batu sekeras itu menarik sekali untuk dicatat, sebab untuk melubanginya pasti menggunakan perkakas dari baja atau besi.

Jarum dan pelubang berumur 9.000 sampai 10.000 tahun.

Kiri: Jarum dan pelubang ini, yang berasal dari sekitar 7.000 sampai 8.000 SM, menyodorkan bukti penting adanya kehidupan berbudaya orang-orang di masa itu. Orang yang menggunakan pelubang dan jarum jelas menempuh kehidupan manusiawi seutuhnya, dan bukan binatang, sebagaimana pandangan para evolusionis.

Pelubang dari tembaga, berumur 12.000 tahun.

Kanan: Pelubang dari tembaga ini, berasal dari sekitar 10.000 SM, merupakan bukti bahwa logam sudah diketahui dan ditambang, dan dibentuk pada periode tersebut. Bijih tembaga, tipikalnya ditemukan dalam bentuk kristal atau serbuk, berbentuk lapisan di bebatuan keras tua. Suatu masyarakat yang membuat pelubang dari tembaga ini pasti telah mengetahui eksistensi bijih besi, berusaha menyulingnya dari dalam batu dan telah memiliki teknologi untuk mengolahnya. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak primitif, sebagaimana pandangan evolusionis.

Seruling pada gambar ini rata-rata berumur 95.000 tahun. Orang-orang yang hidup puluhan ribu tahun silam mempunyai selera terhadap budaya musik.
Perkakas ini, terbuat dari obsidian—batu gelap mirip kaca—berasal dari tahun 10.000 SM. Mustahil membentuk obsidian hanya dengan menghantamnya dengan batu.

Tapi ketika temuan arkeologis dan fakta ilmiah diuji, muncul gambaran yang amat berbeda. Sisa-sisa dan peninggalan yang terlestarikan sampai sekarang—perkakas, jarum, pecahan seruling, hiasan pribadi, dan dekorasi—menunjukkan bahwa dari segi budaya dan sosial, manusia senantiasa hidup beradab di sepanjang periode sejarah.

Ratusan ribu tahun silam, orang-orang tinggal di rumah, bertani, bertukar barang, memproduksi tekstil, makan, mengunjungi sanak-famili, tertarik pada musik, membuat lukisan, mengobati orang sakit, melakukan penyembahan, dan, singkatnya, menjalani kehidupan normal sebagaimana hari ini. Orang-orang yang mengindahkan nabi-nabi yang diutus oleh Allah kepada mereka mengimani-Nya, Yang Esa dan Satu-satunya, sedangkan yang lainnya menyembah berhala. Orang beriman yang patuh pada nilai moral dipimpin oleh-Nya, sedangkan yang lainnya terlibat dalam praktek takhayul dan ritus menyimpang. Di sepanjang sejarah, sebagaimana hari ini, terdapat orang-orang yang mengimani eksistensi Allah dan juga kaum pagan dan atheis.

Sendok menunjukkan bahwa orang-orang di masa itu menggunakan meja. Ini adalah bukti lebih jauh bahwa mereka tidak menjalani kehidupan primitif, sebagaimana klaim evolusionis.

Tentu saja, di sepanjang sejarah, selalu ada orang-orang yang hidup di bawah kondisi lebih sederhana dan lebih primitif dan juga masyarakat yang menjalani kehidupan beradab. Tapi ini bukan merupakan bukti evolusi sejarah, sebab ketika satu bagian dunia sedang meluncurkan kapal ulang-alik ke ruang angkasa, orang-orang di negeri lain masih belum mengenal listrik. Tapi ini tidak berarti bahwa orang-orang yang membangun kapal antariksa lebih maju secara mental atau fisik—dan telah lebih jauh menempuh jalan evolusi dan menjadi lebih berkembang secara budaya—dan tidak berarti bahwa orang lain lebih dekat kepada manusia-kera yang fiktif itu. Ini hanya mengindikasi perbedaan budaya dan peradaban.

Kanan: Salah satu bukti bahwa manusia-kera berpikiran primitif tak pernah eksis adalah seruling berumur 40.000 tahun ini. Riset ilmiah menunjukkan bahwa seruling seperti ini, berbasis skala 7-not Barat modern, digunakan puluhan ribu tahun silam.

Evolusionis Tidak Bisa Menerangkan Penemuan Arkeologis
Ketika Anda memeriksa sejarah manusia versi kaum evolusionis, Anda akan melihat penggambaran detail bagaimana leluhur primitif menjalankan kehidupan sehari-hari. Setiap orang yang terkesan oleh gaya otoritatif nan yakin, tapi tak mempunyai banyak pengetahuan tentang subjek tersebut, akan berasumsi bahwa semua “rekonstruksi seni” ini didasarkan pada bukti ilmiah. Ilmuwan evolusionis sampai pada deskripsi detail seolah-olah mereka ada di masa ribuan tahun silam tersebut dan mempunyai kesempatan untuk menjalankan observasi. Mereka mengatakan bahwa leluhur kita—yang kemudian belajar untuk berdiri dengan dua kaki dan tidak mengerjakan apapun dengan tangannya—mulai membuat perkakas dari batu, dan untuk periode yang lama tidak menggunakan peralatan lain selain yang terbuat dari batu dan kayu. Baru beberapa waktu kemudian mulai menggunakan besi, tembaga, dan kuningan. Tapi keterangan ini didasarkan pada misinterpretasi atas temuan-temuan yang dipandang dari sudut prakonsepsi evolusionis, ketimbang bukti ilmiah.

Dalam bukunya, Archaeology: A Very Short Introduction, arkeolog Paul Bahn mengatakan bahwa skenario evolusi manusia tak lain hanyalah dongeng, seraya menambahkan bahwa begitu banyak sains yang didasarkan pada dongeng semacam itu. Dia menekankan bahwa dirinya memakai istilah “dongeng” dalam pengertian positif, tapi tetap saja, inilah kenyataannya. Dia lalu mengundang pembaca untuk memikirkan atribut tradisional evolusi manusia: memasak dan api kemah, gua gelap, ritus, pembuatan perkakas, penuaan, perjuangan, dan kematian. Berapa banyak dari taksiran-taksiran ini, tanyanya, yang didasarkan pada tulang dan peninggalan aktual, dan berapa banyak yang didasarkan pada kriteria sastra?

PENIPUAN “BATU PELITUR”

Karya batu paling mencolok dalam peninggalan arkeologis telah bertahan sampai hari ini. Agar mampu membentuk batu secara demikian detail dan rapi, umumnya diperlukan perkakas yang kuat. Seseorang tidak bisa membuat bentuk dan desain yang halus dengan mengikis atau menggosok satu batu dengan lainnya. Sarana teknis sangat penting untuk secara akurat memotong batu sekeras granit dan membuat pola di permukaannya.

Banyak peralatan batu yang tetap tajam dan cemerlang, mencerminkan pemotongan dan pembentukan yang akurat. Cara bagaimana ilmuwan evolusionis menggambarkan era asalnya sebagai “Zaman Batu Pelitur” adalah tidak ilmiah sama sekali. Mustahil pelitur bertahan lebih dari ribuan tahun. Batu-batu tersebut mengkilap lantaran dipotong secara akurat, bukan karena, sebagaimana diklaim, dipelitur. Kecemerlangan ini berasal dari dalam batu itu sendiri.

Pada dua gambar gelang di atas, gelang kiri terbuat dari marmer dan gelang kanan terbuat dari basalt. Mereka berasal dari antara tahun 8.500 sampai 9.000 SM. Para evolusionis mengklaim bahwa di periode tersebut hanya perkakas dari batu yang dipergunakan. Tapi basalt dan marmer merupakan zat yang luar biasa keras. Untuk membuat mereka bengkok dan bundar harus menggunakan sambungan, mata pisau baja, dan peralatan. Bila Anda memberi seseorang sekeping batu dan memintanya memakainya untuk mengubah basalt menjadi gelang seperti dalam gambar di atas, seberapa jauh dia akan berhasil? Menggosok atau membenturkan satu batu dengan lainnya tentu saja tidak bisa menghasilkan sebuah gelang. Lebih jauh, artefak-artefak ini menunjukkan bahwa orang-orang yang membuatnya merupakan individu beradab berselera seni dan mempunyai pemahaman akan keindahan.

Ilustrasi ini memperlihatkan perkakas buatan tangan yang terbuat dari obsidian (batu gelap seperti kaca yang terbentuk dari lava—penj) dan tulang, pengait dan beraneka objek dari batu. Tak pelak lagi, seseorang tidak dapat memperoleh bentuk serapi itu dengan membenturkan material mentah dengan batu. Pukulan kasar hanya akan meretakkan tulang dan mencegah bentuk yang diinginkan. Demikian pula, sudah jelas bahwa garis-garis tajam dan ujung menunjuk juga tidak dapat dihasilkan, sekalipun dengan perkakas dari batu paling keras, seperti granit dan basalt. Batu-batu ini dipotong secara rapi, persis seperti memotong buah-buahan. Kecemerlangan mereka bukan berasal dari pemelituran, sebagaimana pendapat para evolusionis, melainkan dari pembentukan itu sendiri.

Orang-orang yang membuat barang-barang ini pasti mempunyai perangkat dari besi atau baja yang memungkinkan mereka membentuk material ini dengan cara yang mereka inginkan. Lempingan batu keras hanya dapat dipotong begitu akurat dengan memakai material yang lebih keras lagi, seperti baja.

Bahn enggan menjawab secara terbuka pertanyaan yang dia ajukan: yakni, bahwa dugaan evolusi manusia didasarkan pada kriteria “sastra” ketimbang ilmiah.

Ukiran batu ini berumur 11.000 tahun—masa ketika, menurut para evolusionis, perkakas batu mentah saja yang digunakan. Namun, karya semacam ini tidak bisa dihasilkan dengan menggosok satu batu dengan lainnya. Evolusionis tidak bisa menyodorkan penjelasan logis rasional atas relief-relief demikian yang dibentuk begitu akurat. Manusia cerdas yang memakai perkakas dari besi atau baja pasti memproduksi ini dan karya serupa lainnya.

Nyatanya, ada banyak pertanyaan tak terjawab dan inkonsistensi logis dalam keterangan-keterangan ini, yang tidak akan terdeteksi oleh seseorang yang berpikir dalam garis dogma evolusionis. Evolusionis menyebutkan Zaman Batu, contohnya, tapi bingung untuk menjelaskan bagaimana peralatan atau peninggalan dari masa tersebut bisa diukir atau dibentuk. Demikian halnya, mereka tidak pernah bisa menjelaskan bagaimana serangga bersayap pertama kali terbang, meski mereka bersikukuh bahwa dinosaurus menumbuhkan sayap dan karenanya mulai terbang dengan mencoba menangkap serangga. Mereka lebih senang melupakan pertanyaan utuh, dan mengajak yang lain melakukan hal yang sama.

Untuk secara akurat memotong dan membentuk kapak-genggam dari batu ini, berumur 550.000 tahun, pasti telah digunakan perkakas lain yang terbuat dari logam yang lebih keras lagi seperti besi atau baja.

Tapi pembentukan dan pengukiran batu bukan pekerjaan mudah. Mustahil menghasilkan perkakas rapi dan setajam pisau cukur, sebagaimana pada peninggalan yang terlestarikan sampai ke tangan kita, dengan menggesekkan satu batu dengan lainnya. Kita bisa membentuk bebatuan keras seperti granit, basalt, atau dolerite tanpa meremukkan mereka dengan cukup memakai kikir, mesin bubut, dan serut baja. Juga jelas bahwa gelang, anting-anting, dan kalung yang berasal dari puluhan ribu tahun silam tidak bisa dibuat menggunakan perkakas batu. Lubang-lubang kecil di objek semacam itu tidak mungkin dibuat dengan batu. Dekorasinya tidak mungkin dihasilkan dengan menggesek. Kesempurnaan objek-objek tersebut menunjukkan bahwa perkakas lain dari logam keras pasti dipergunakan.

Banyak arkeolog dan ilmuwan telah melakukan pengujian untuk melihat apakah artefak-artefak sekuno itu diproduksi di bawah kondisi yang ditaksir oleh para evolusionis. Contoh, Profesor Klaus Schmidt menjalakan eksperimen terhadap ukiran pada blok batu di Göbekli Tepe, Turki, yang diperkirakan berasal dari sekitar 11.000 tahun lalu. Dia memberi perkakas batu kepada para pekerja, jenis perkakas yang diklaim para evolusionis dipakai pada masa itu, dan meminta mereka membuat ukiran serupa pada bebatuan yang tersebut. Setelah dua jam bekerja non-stop, yang dapat diselesaikan para pekerja hanyalah garis samar.

Anda bisa menjalankan eksperimen serupa di rumah. Ambil sekeping batu keras seperti granit dan coba ubah menjadi sejenis hulu tombak yang digunakan oleh orang-orang yang hidup 100.000 tahun silam. Tapi Anda tidak boleh menggunakan apapun selain kepingan granit dan batu. Menurut Anda seberapa berhasil kemungkinannya? Bisakah Anda memproduksi sebuah kepingan dengan ujung tipis, kesimetrian, kehalusan, dan pelitur yang sama sebagaimana yang dijumpai pada lapisan historis? Mari kita beranjak lebih jauh; ambil sekeping satu meter persegi granit dan cobalah mengukir gambar seekor binatang di atasnya, tanamkan kesan kedalaman. Hasil seperti apa yang bisa Anda dapat dengan menggerinda batu tersebut dengan sekeping batu keras lain? Sudah jelas, tanpa perkakas dari baja dan besi Anda tidak bisa membuat hulu tombak yang sederhana sekalipun, apalagi ukiran batu yang mengesankan.

ANDA TIDAK DAPAT MENGUKIR BATU DENGAN BATU

Perkakas-perkakas batu ini rata-rata berasal dari antara tahun 10.000 sampai 11.000 SM. Bayangkan Anda ingin membuat salah satu objek ini dengan menghantamkan atau menggosok satu batu dengan lainnya, sebagaimana pendapat para evolusionis. Coba buat lubang seperti pada gambar 3. Tak peduli berapa kali pun Anda membenturkan kepingan batu di tangan Anda, Anda takkan pernah mampu membuat lubang sesempurna itu. Untuk membuatnya, Anda harus menggunakan bor yang terbuat dari suatu zat lebih keras seperti baja.

Pemotongan batu dan pengukiran batu merupakan bidang keahlian yang mereka kuasai. Teknologi yang dibutuhkan adalah sangat esensial dalam membuat kikir, mesin bubut, dan perkakas lain. Ini menunjukkan bahwa pada masa itu objek-objek ini telah dibuat, teknologi “primitif” telah berkembang baik. Dengan kata lain, klaim para evolusionis bahwa peralatan batu sederhana saja yang dikenal, bahwa tidak ada teknologi, adalah mitos. Zaman “Batu Saja” tersebut tak pernah eksis.

Bagaimanapun, sangat bisa diterima bahwa perkakas baja dan besi yang dipakai dalam memotong dan membentuk batu semestinya tidak bertahan hingga hari ini. Di lingkungan alam yang lembab dan asam, semua jenis perkakas logam akan beroksidasi dan akhirnya lenyap. Yang akan tersisa hanyalah bilahan dan pecahan batu yang mereka olah, yang membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk menghilang. Tapi untuk menguji pecahan ini dan menyatakan bahwa orang-orang di masa itu hanya memakai batu bukanlah pemikiran ilmiah.

Memang, banyak evolusionis kini mengakui bahwa temuan arkeologis tidak mendukung Darwinisme sama sekali. Richard Leakey, seorang arkeolog evolusionis, mengakui bahwa mustahil untuk menerangkan temuan-temuan arkeologis, khususnya perkakas batu, dari sudut teori evolusi:

Nyatanya, bukti konkrit ketidakcukupan hipotesis Darwinian ditemukan dalam catatan arkeologis. Seandainya paket Darwinian benar, maka seharusnya kita menjumpai penampakan serempak bukti arkeologis dan fosil atas bipedalitas, teknologi, dan peningkatan ukuran otak. Tapi kita tidak menjumpainya. Satu aspek catatan prasejarah saja sudah cukup untuk menunjukkan bahwa hipotesis tersebut salah: catatan perkakas batu.

Fiksi Kronologi Evolusionis
Dalam mengklasifikasikan sejarah, kaum evolusionis menafsirkan objek-objek temuan mereka sejalan dengan dogma teori mereka sendiri. Periode pembuatan artefak perunggu oleh mereka disebut Zaman Perunggu, dan mengisyaratkan bahwa besi mulai digunakan jauh lebih belakangan—didasarkan pada klaim mereka bahwa di peradaban paling kuno, logam belum diketahui.

Namun, sebagaimana sudah disebutkan, besi, baja, dan banyak logam lain cepat beroksidasi dan membusuk, jauh lebih cepat daripada batu. Beberapa logam seperti perunggu, yang jauh lebih sulit beroksidasi, bisa bertahan lebih lama daripada yang lain. Oleh sebab itu sangat alamiah jika objek-objek galian yang terbuat dari perunggu berumur lebih tua dan objek dari besi jauh lebih muda.

Di samping itu, tidaklah logis untuk berpendapat bahwa suatu masyarakat yang mampu memproduksi perunggu tidak mengetahui eksistensi besi, bahwa masyarakat berpengetahuan teknis untuk memproduksi perunggu tidak menggunakan logam lainnya.

Perunggu diperoleh dengan menambahkan timah, arsenik, dan antimoni (logam keputihan yang rapuh untuk membuat obat dan untuk pengeras campuran logam—penj), bersama sejumlah kecil seng, pada tembaga. Seseorang yang membuat perunggu pasti mempunyai pengetahuan kerja mengenai unsur-unsur kimiawi seperti tembaga, timah, arsenik, seng, dan antimoni, mengetahui pada temperatur berapa unsur-unsur ini melebur, dan memiliki oven untuk meleburkan dan menggabungkannya. Tanpa semua pengetahuan ini, akan amat sulit untuk memproduksi logam campuran.

Kepingan tembaga ini, yang berasal dari antara tahun 8.000 sampai 10.000 SM, diyakini digunakan sebagai manik-manik. Orang-orang di masa itu mempunyai ketrampilan teknis untuk menemukan bijih tembaga dan kemudian mengolahnya.

Pertama-tama, bijih tembaga ditemukan di bebatuan keras tua dalam bentuk serbuk atau kristal (yang juga disebut sebagai “tembaga asli”). Masyarakat yang mempergunakan tembaga harus terlebih dahulu memiliki level pengetahuan untuk mengidentifikasinya dalam bentuk serbuk di bebatuan ini. Mereka kemudian harus membangun pertambangan untuk menyuling tembaga, memindahkannya, dan mengangkutnya ke permukaan. Jelas hal ini tidak bisa dikerjakan menggunakan perkakas batu dan kayu.

Bijih tembaga harus dimasukkan ke api pijar supaya ia mencair. Temperatur yang dibutuhkan untuk meleburkan dan mengilang tembaga adalah 1.084,50C (1.9840F). Juga harus ada perangkat atau penghembus untuk memastikan aliran udara yang tetap ke api. Masyarakat yang mengolah tembaga harus membangun oven yang sanggup menghasilkan panas setinggi itu dan juga membuat peralatan seperti wadah peleburan dan jepitan untuk digunakan bersama tungku.

Ini adalah ringkasan singkat mengenai infrastruktur teknis yang dibutuhkan untuk mengolah tembaga—logam yang terlalu lunak untuk mempertahankan pinggiran tajam untuk waktu lama. Memproduksi perunggu keras dengan menambahkan timah, seng, dan unsur lain pada tembaga jauh lebih rumit lagi, sebab setiap logam memerlukan proses berlainan. Semua fakta ini menunjukkan bahwa komunitas yang terlibat dalam penambangan, pembuatan logam campuran, dan pengolahan logam pasti mempunyai pengetahuan detail. Tidak logis dan tidak konsisten untuk mengklaim bahwa orang-orang berpengetahuan sekomprehensif itu tidak akan pernah menemukan besi.

KEPINGAN BERUMUR JUTAAN TAHUN YANG TAK DAPAT DITERANGKAN OLEH EVOLUSIONIS

Menurut teori evolusi, makhluk hidup berkembang melewati tahap-tahap spesifik, dari bakteri menjadi manusia, terjadi dalam rentetan imajiner yang berlangsung jutaan tahun. Dalam skenario ini, Manusia adalah makhluk hidup terakhir yang berkembang dan telah menyelesaikan perkembangannya dalam 20.000 tahun terakhir. Tapi temuan ilmiah dan catatan fosil tidak memberikan satu bukti pun bahwa perkembangan demikian pernah terjadi. Justru, temuan dan catatan itu menunjukkan bahwa hal semacam itu tidak mungkin.

Temuan lain meliputi perkakas dan objek dekoratif, yang pernah digunakan oleh manusia, yang berasal dari jutaan tahun silam. Para Darwinis sama sekali tak mampu memasukkan manusia yang hidup 50 atau bahkan 500 juta tahun silam—sebuah masa yang menurut mereka tidak ada makhluk hidup di Bumi selain trilobite—ke dalam pohon evolusi imajiner mereka. Tentu saja mustahil mereka bisa melakukannya! Allah menciptakan manusia melalui perintah sederhana “Jadilah!” sebagaimana dia melakukannya pada makhluk hidup lain. Oleh sebab itu, kita akan membuat penemuan yang sama menyangkut peninggalan orang-orang yang hidup 500 juta tahun silam dengan peninggalan orang-orang yang hidup 100 tahun lalu. Allah, Yang menciptakan segala sesuatu dari ketiadaan, tentu saja bisa menciptakan semua makhluk hidup sekehendak-Nya, dengan kekuatan dan kekuasaan-Nya yang tak terhingga. Tapi Darwinis gagal memahami kebenaran ini, itulah alasannya mereka tidak mempunyai penjelasan atas semua bukti Penciptaan. Mereka tak punya solusi lain selain mengulangi skenario yang telah diruntuhkan oleh fakta ilmiah. Tapi seiring berlalunya hari, bukti dari penggalian yang sedang dijalankan semakin menghancurkan dogma evolusi.

Kiri: Bola logam ini adalah salah satu saja dari beberapa ratus bola di sebuah lapisan tanah di Afrika Selatan yang diperkirakan berasal dari jutaan tahun silam. Galur/lekuknya yang dibentuk secara cermat tidak mungkin merupakan hasil fenomena alami. Penemuan ini menunjukkan bahwa logam sudah digunakan sejak waktu yang sangat lampau, dan bahwa selama jutaan tahun, manusia telah memiliki teknologi untuk membuat galur halus pada logam.

Kanan: Pada 1912, dua pekerja Municipal Electric Plant di Thomas, Oklahoma, membuat penemuan mengejutkan saat mereka tengah mengisi batu bara. Mereka menemukan sebongkah batu bara padat yang terlampau besar untuk dipakai, sehingga salah seorang dari mereka memecahnya. Ketika melakukan hal itu, dia menemukan belanga besi di dalamnya. Saat diangkat, garis bentuk atau cetakan belanga bisa dilihat pada sepotong batu bara. Setelah menguji batu bara tersebut, banyak pakar menyatakan bahwa belanga itu berumur antara 300 sampai 325 juta tahun. Temuan ini tidak dapat diterangkan oleh para evolusionis, yang berpendapat bahwa penggunaan besi dimulai sekitar tahun 1.200 SM.

Kanan: Majalah Scientific American 5 Juni 1852 mengangkat laporan mengenai penemuan peninggalan bejana logam yang berumur sekitar 100.000 tahun. Bejana berbentuk lonceng ini menyerupai warna seng, atau logam campuran, dengan porsi perak yang banyak. Di permukaannya terdapat gambar bunga atau karangan bunga yang dikerjakan secara halus, dan [gambar] tumbuhan merambat atau rangkaian bunga melingkar. Evolusionis, yang mengklaim bahwa logam tidak digunakan di periode sangat lampau, tidak mungkin bisa menerangkan penemuan ini. Jelas, orang-orang yang membuat artefak ini memiliki kebudayaan maju yang sanggup memproduksi campuran logam dan mengolah logam.

Kiri: Uleg dan lesung ini ditemukan pada 1877 di sebuah dasar sungai kuno di bawah Table Mountain. Dasar sungai tersebut sekurangnya berumur 33 juta tahun, membuktikan bahwa manusia telah senantiasa menjalankan kehidupan manusiawi.

Kanan: Fosil tapak sepatu ini ditemukan pada sebuah batu berumur 213 juta tahun. Jutaan tahun silam, orang-orang mengenakan sepatu, dan tak diragukan lagi mengenakan pakaian, dan menikmati budaya kuliner dan hubungan sosial yang kaya. Satu-satunya foto fosil ini dipublikasikan dalam sebuah suratkabar New York pada 1922. Penemuan seperti ini, yang menyangkal klaim evolusi sejarah manusia, disembunyikan atau diabaikan oleh para evolusionis.

Atas: Bentuk yang menyerupai wajah manusia terpahat pada batu api berumur 3 juta tahun ini. Sangat sulit untuk membuat lubang serapi itu pada batu api, dan diperlukan perkakas logam khusus untuk mengerjakannya. Mustahil ini dikerjakan di bawah kondisi yang amat primitif, sebagaimana dinyatakan para evolusionis.

Sebaliknya, penemuan-penemuan arkeologis menunjukkan bahwa klaim para evolusionis bahwa logam belum diketahui dan belum digunakan di masyarakat yang sangat lampau tidaklah benar. Bukti mencakup temuan-temuan seperti peninggalan bejana logam berumur 100.000 tahun, bola logam berumur 2,8 miliar tahun, belanga besi berumur kira-kira 300 juta tahun, potongan tekstil pada tanah liat yang berasal dari 27.000 tahun silam, dan sisa-sisa logam seperti magnesium dan platinum (yang baru dapat dilebur di Eropa beberapa ratus tahun lalu) pada peninggalan yang berasal dari seribuan tahun silam. Peninggalan yang tersebar ini sama sekali meruntuhkan klasifikasi Zaman Batu Bundar, Zaman Batu Pelitur, Zaman Perunggu, dan Zaman Besi. Tapi bagian besar temuan ini, setelah muncul dalam banyak publikasi ilmiah, diabaikan oleh ilmuwan evolusionis atau disembunyikan di ruangan bawah tanah museum-museum. Kisah fantastis para evolusionis, bukannya fakta sejati, disajikan sebagai sejarah manusia.

Orang Beriman Menjalani Kehidupan Beradab Sepanjang Sejarah
Sepanjang perjalanan sejarah, Allah telah mengirim para rasul untuk mengajak manusia ke jalan yang benar. Beberapa orang mematuhi rasul-rasul ini dan mengimani eksistensi dan keesaan Allah, sementara yang lainnya tetap menolak. Sejak pertama kali eksis, manusia telah mengetahui keimanan pada satu dan satu-satunya Tuhan, dan nilai moral agama sejati, melalui wahyu Tuhan kita. Oleh sebab itu, klaim evolusionis bahwa masyarakat lampau tidak mengimani Satu dan Satu-satunya Tuhan adalah tidak benar. (Detail lebih jauh mengenai subjek akan disajikan nanti dalam buku ini.)

Al-Qur’an mengungkap bagaimana, di semua periode sejarah, Allah telah mengutus rasul untuk mengajak manusia agar beriman dan hidup dengan nilai moral agama:

“Manusia itu adalah umat yang satu, (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (QS Al-Baqarah [2]: 213)

Agama sejati, bersama dengan keyakinan takhayul, telah eksis di semua periode sejarah, sebagaimana hari ini. Di semua masa, orang beriman melaksanakan ibadah mereka dalam ketaatan kepada perintah Allah.

Ayat lain mengungkap bahwa seorang rasul diutus ke setiap kaum untuk memperingatkan anggotanya, mengingatkan mereka akan eksistensi dan keesaan Allah, dan untuk mengajak mereka mematuhi kebajikan agama:

“…tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.” (QS Faathir [35]: 24)

Walaupun Tuhan kita telah mengutus para rasul dan memberikan kitab suci kepada manusia, beberapa orang jatuh ke dalam kesalahpahaman, memalingkan muka dari kebajikan agama sejati dan mengambil keyakinan takhayul dan menyimpang. Beberapa orang mengembangkan keyakinan pagan dan jatuh ke dalam kesesatan berupa penyembahan tanah, batu, kayu, Bulan atau Matahari, dan bahkan roh jahat. Bahkan hari ini, selain orang yang beriman, terdapat juga beberapa orang yang menyembah api, Bulan, Matahari, atau berhala dari kayu. Beberapa orang mengadakan sekutu bagi Tuhan kita, sekalipun mereka sepenuhnya mengetahui eksistensi dan keesaan-Nya. Tapi Tuhan kita masih mengutus rasul kepada mereka, mengungkapkan pada mereka kekeliruan yang mereka lakukan, dan mengajak mereka meninggalkan keyakinan takhayul dan hidup berdasarkan agama sejati. Dan di semua periode sejarah, selalu terdapat orang yang beriman dan orang yang kafir, orang berkeimanan murni dan orang yang menempuh jalan sesat.

Hari ini terdapat orang-orang berkeyakinan takhayul yang menyembah berhala, sebagaimana di masa lampau.

Sepanjang sejarah, orang-orang beriman yang hidup bersama nabi-nabi menikmati kehidupan berkualitas tinggi dengan kondisi yang amat beradab. Mereka hidup dalam tatanan sosial tinggi di zaman Nabi Nuh, Ibrahim, Yusuf, Musa, dan Sulaiman (semoga keselamatan tercurah kepada mereka semua), sebagaimana orang beriman hari ini. Di semua zaman, orang-orang beriman melakukan shalat, berpuasa, mengindahkan batasan yang ditetapkan oleh Allah, dan menjalani kehidupan murni dan sesuai aturan. Temuan-temuan arkeologis mengungkap standar kehidupan yang sangat baik, mulia, dan murni yang dimiliki oleh orang beriman. Para nabi dan orang beriman memakai metode terbaik yang tersedia di masa mereka, dalam cara yang sesuai dengan persetujuan-Nya.

Semua kemajuan teknologi di masa Namrud digunakan dengan cara yang sangat baik oleh Nabi Ibrahim (as) dan orang-orang beriman yang bersamanya. Pengetahuan teknis di masa Firaun digunakan dalam tugas Nabi Yusuf, Musa, Harun (semoga keselamatan tercurah kepada mereka semua) dan orang beriman di masa itu. Teknologi tingkat tinggi yang dicapai dalam bidang arsitektur, seni, dan komunikasi di masa Nabi Sulaiman (as) dipergunakan dengan cara amat bijak. Kekayaan dan kebesaran yang dikaruniakan oleh Tuhan kita kepada Nabi Sulaiman (as) membangkitkan rasa hormat banyak generasi.

Kita harus ingat bahwa informasi dan metode yang dimiliki oleh orang-orang yang hidup ratusan ribu tahun silam, dan oleh orang-orang yang hidup hari ini, merupakan karunia dari Allah. Orang-orang yang mendirikan peradaban ratusan ribu tahun silam, yang membuat lukisan indah di dinding-dinding gua ribuan tahun silam, yang membangun piramida dan zigurat, yang mengkonstruksi monumen batu raksasa, dan yang mengkonstruksi bangunan-bangunan besar di ketinggian tinggi di Peru, melakukannya berkat ilham dan ajaran Allah. Orang-orang yang mempelajari partikel subatom hari ini, yang mengirim pesawat ulang-alik ke ruang angkasa, dan yang menulis software komputer, melakukannya karena Allah berkehendak demikian. Semua informasi yang dimiliki manusia sejak mereka pertama kali diciptakan merupakan karunia dari Allah, dan setiap peradaban yang mereka dirikan juga merupakan karya Tuhan kita.

Allah menciptakan manusia dari ketiadaan dan memberinya berbagai ujian dan karunia di sepanjang hidupnya di dunia ini. Setiap karunia yang dilimpahkan juga merupakan ujian. Orang-orang yang tahu bahwa peradaban, teknologi, dan metode yang mereka miliki sebetulnya semata-mata merupakan karunia dari Allah, bersyukur kepada-Nya, Yang menambah karunia-Nya kepada mereka:

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu…’” (QS Ibrahim [14]: 7)

Allah menyuruh hamba-hamba-Nya yang saleh untuk menikmati kehidupan menyenangkan baik di dunia ini maupun di Hari Kemudian.Ini diungkap dalam Al-Qur’an:

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS An-Nahl [16]: 97)

Madonna with Saints, karya Giovanni Bellini, Venesia, 1505

Sebagai manifestasi ayat ini, semua Muslim di sepanjang sejarah telah memiliki metode terbaik di masa yang mereka tinggali, dan menjalani kehidupan menyenangkan. Tentu saja, beberapa diuji dengan kesulitan dan kesusahan, tapi ini tidak mengindikasikan bahwa mereka hidup di bawah kondisi sulit yang primitif dan tidak menjalani kehidupan manusiawi yang beradab. Tak peduli seberapa kaya, nyaman, dan maju peradaban mereka, orang-orang yang membangkang Allah dan terus menolak, yang tidak hidup dengan nilai moral yang benar dan menimbulkan kerusakan di muka Bumi, selalu berakhir dengan kekecewaan. Di samping itu, banyak dari mereka mungkin telah menikmati teknologi yang lebih maju daripada masyarakat masa kini. Ini juga diungkap dalam Al-Qur’an:

“Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang sebelum mereka? orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri.” (QS Ar-Ruum [30]: 9

Akumulasi Budaya Bukanlah Bukti Proses Evolusi
Para evolusionis bersikukuh bahwa manusia pertama adalah makhluk setengah-kera yang karakteristik mental dan fisiknya berkembang sepanjang perjalanan waktu, bahwa ia memperoleh kemampuan baru, dan bahwa peradaban berkembang untuk alasan tersebut. Menurut klaim ini, tanpa dasar bukti ilmiah apapun, leluhur primitif kita menjalani kehidupan binatang, baru beradab setelah mereka menjadi manusia, dan menunjukkan kemajuan budaya seiring kapasitas mental mereka berkembang. Gambaran fiksi Manusia primitif, dengan tubuh tertutup bulu sepenuhnya, atau berusaha menghasilkan api sambil berjongkok dengan berkulitkan binatang, berjalan sepanjang pinggir sungai dengan bahu memikul binatang yang baru dibunuh, atau berusaha berkomunikasi dengan sesamanya lewat isyarat dan dengkuran, merupakan pelukisan palsu yang didasarkan pada klaim tak ilmiah.

Catatan fosil tidak mendukung fantasi ini. Semua temuan ilmiah mengarah pada kesimpulan bahwa Manusia diciptakan sebagai Manusia, dari ketiadaan, dan telah senantiasa hidup sebagai manusia sejak hari pertama ia diciptakan. Tak satupun temuan arkeologis yang mendukung kronologi evolusionis. Temuan-temuan dari periode ketika, menurut klaim evolusionis, manusia baru belajar berbicara menunjukkan bahwa manusia di masa itu mempunyai dapur dan menikmati kehidupan berkeluarga. Objek-objek dekoratif dan material mentah untuk melukis telah ditemukan dalam penggalian dari masa-masa ketika, menurut evolusionis, manusia masih belum sadar seni. Banyak contoh akan dikemukakan secara detail di bab-bab berikutnya.

Semua penemuan ini mengungkap bahwa manusia tak pernah mengalami kehidupan binatang dan primitif. Tak pernah ada zaman tak beradab di mana semua orang hanya menggunakan peralatan batu dan kayu. Orang beriman telah senantiasa menjalani gaya hidup manusiawi, memakai pakaian, piring, mangkuk, sendok, dan garpu dengan cara selayaknya manusia. Orang-orang telah senantiasa hidup dalam berbagai keadaan, berbicara, mengkonstruksi bangunan, dan menghasilkan karya seni sebagaimana layaknya manusia. Sudah ada dokter, guru, penjahit, insinyur, arsitek, dan seniman, dalam tatanan sosial yang berdiri. Melalui ilham Allah, orang-orang yang mempunyai akal dan nurani yang baik telah senantiasa memanfaatkan sebaik-baiknya karunia itu di muka Bumi.

Tentu saja, seiring teknologi berkembang dan orang-orang mengumpulkan pengetahuan, pasti terdapat perubahan teknologi. Perangkat baru dikembangkan sejalan dengan keadaan yang berlaku, penemuan ilmiah dibuat, dan perubahan budaya terjadi. Namun, akumulasi pengetahuan dan kemajuan teknologi yang terjadi sepanjang perjalanan sejarah tidak mengimplikasikan bahwa terdapat evolusi.

Adalah alami sama sekali jika pengetahuan terus berakumulasi. Seseorang menikmati tingkat pembelajaran berbeda di sekolah dasar, di sekolah menengah, dan di universitas. Tapi jika seseorang terus-menerus mengumpulkan pengetahuan sepanjang hidupnya, itu tidak berarti bahwa dia terus-menerus berkembang dan maju lewat efek acak. Dinamika serupa berlaku pada kehidupan masyarakat. Penemuan baru dibuat mengingat adanya kebutuhan masyarakat, mekanisme baru ditemukan dan kemudian dikembangkan oleh generasi berikutnya. Tapi ini bukan proses evolusi.

10 thoughts on “Zaman Batu – Kebohongan Sejarah (II. Pendahuluan)

  1. Dalam buku “Dunia Paralel” (Diterjemahkan oleh SeSa Media),

    Sedangkan, Darwin terpecah dalam pertanyaan soal peran manusia di alam semesta. Walaupun dia didiskreditkan sebagai orang yang melengserkan manusia dari pusat alam semesta biologis, dia mengakui dalam otobiografinya mengenai “kesulitan ekstrim atau kemustahilan untuk memahami alam semesta yang sangat besar dan menakjubkan ini, termasuk manusia dengan kemampuannya untuk menatap jauh ke belakang dan jauh ke masa depan, sebagai hasil dari untung-untungan buta atau keharusan.” Dia mengutarakan kepada seorang teman, “Teologi saya sama sekali kacau-balau.

    1. Lah… kok ditanya?
      Di artikel ini, Harun yahya udah menjelaskan bahwa perangkat dari logam/besi mudah korosi. Maka lumrah jika temuan pada alat (pembuat) untuk mengukir batu tidak dapat ditemukan. Hanya meninggalkan hasil ciptaanya berupa seni bebatuan yang tidak mudah hilang dimakan jaman!
      Dari mana lubang2 atau relief2 pada ukiran batu yang dibentuk jika tidak menggunakan alat yg lebih keras dan tajam dari batu itu sendiri? Jawabnya jelas logam (yang mudak korosi akibat jaman) tidak mungkin menggunakan kayu atau sesama batu untuk membentuk pengolahan seni dalam budaya sosial yang sangat kompleks.

      Semuanya serba kompleks. Tidak sesederhana seperti klaim2 evolusionis!

  2. Allah Maha dari segala mengetahui..dan evolusionis sifatnya mengada ada. Manusia mempunyai pengetahuan yg terbatas.
    Biar saja para kaum kafir mengakui bapak dan ibu mereka kera. Tapi saya mengakui Demi Allah demi dzat yg maha Tinggi bahwa Bapak saya dari keturunan Adam dan Hawa. Yg telah mengenal tata kehidupan Layaknya manusia. Bukan tatanan hewan misal (pithecanthropus erectus) bangsa islam lebih terkenal modern .. !!! From. ( FB alex vitback)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s