Sebuah Misteri di Gurun

Oleh: Virginia Morell
10 Septembr 2009
(Sumber: http://sciencenow.sciencemag.org/)

Pada awal 1970-an, arkeolog memperoleh penemuan tak biasa di sebuah kuburan kuno Chile: tengkorak empat wanita yang wajahnya tampak rusak. Tak satupun dari tulang-belulang lain berumur 500 sampai 1000 tahun di kuburan itu yang memperlihatkan kecacatan tersebut. Berkat iklim gersang di kawasan itu, yang membantu memumikan beberapa jaringan wajah dan otak keempat wanita tersebut, para ilmuwan berpikir sudah memahami apa yang terjadi.

Kuburan itu—dikenal sebagai Coyo Oriente—terletak dekat kota San Pedro de Atacama, di gurun tergersang di Bumi, Atacama. Arkeolog mengatakan tanah tersebut dihuni oleh penduduk Atacameños kuno, petani dan peternak llama (binatang pemamah biak di Amerika Selatan—penj), yang membungkus jasad dalam kain ditenun halus sebelum menempatkannya di makam pasir.

Total 255 tengkorak, termasuk empat tengkorak cacat tadi, ditemukan dari kuburan tersebut, dan semuanya mengandung potongan otak dan jaringan yang termumikan. Maria Antonietta Costa, antropolog fisik di Catholic University of the North, San Pedro de Atacama, telah susah-payah menyingkirkan kepingan kecil ini lebih dari 30 tahun silam dalam upaya memahami apa yang terjadi pada semua orang tersebut, termasuk keempat wanita.

Dalam Third World Congress on Mummy Studies tahun 1998 di Arica, Chile, Costa meminta pendapat Otto Appenzeller dari New Mexico Health Enhancement and Marathon Clinics Research Foundation mengenai empat tengkorak itu. “Itu boleh jadi merupakan lepra, kanker, bahkan tuberculosis,” ingat Appenzeller tentang perkataannya kepada Costa. Dengan harapan memecahkan misteri ini, keduanya mengirim sampel kepada Carney Matheson di Paleo-DNA Research Laboratory di Lakehead University, Thunder Bay, Ontario. Dia memperbaiki dan memperkuat DNA secukupnya untuk menemukan gen milik protozoa parasit, Leishmania, yang menyebabkan leishmaniasis. Ada lebih dari 30 spesies parasit ini, yang ditularkan lewat berbagai spesies lalat pasir dan menyerang organ dalam, selaput lendir, atau kulit. Para ilmuwan tersebut menduga wanita-wanita itu menderita mucocutaneous, yang menyebabkan borok dan luka kronis di sekitar hidung, mata, dan mulut jika tak diobati.

Walaupun leishmaniasis bersifat endemis di sebagian besar Amerika Selatan, ini adalah pertama kalinya ditemukan pada mumi Amerika Selatan, laporan online tim tersebut di PloS One. Studi sinar-X sebelumnya atas jasa kerangka dari kuburan itu telah mengungkap luka yang mengingatkan pada leishmaniasis pada 2% tulang.

“Saya tidak terkena leishmaniasis,” kata Appenzeller saat pertama kali memandang tengkorak itu, sebab penyakit tersebut tidak ditemukan di San Pedro de Atacama hari ini. Dan kemungkinannya kecil bahwa itu beredar di sana satu milenium lalu, kata dia, sebab cuaca kering kawasan tersebut mencegah parasit melengkapi siklus hidupnya.

Lantas bagaimana keempat wanita ini terkena penyakit tersebut? “Kami pikir mereka adalah imigran, penduduk Yungas,” kata Appenzeller—yakni orang-orang yang tinggal 400 kilometer jauhnya di dataran rendah tropis di lereng timur Andes, di mana leishmaniasis adalah endemis. Dataran tinggi Atacameños menghargai tinggi obat halusinogenik dari dataran rendah Yungas, menghasilkan jaringan perdagangan yang luas; kedua penduduk kemungkinan besar juga saling menikah. Kemungkinan besar, kata para ilmuwan tersebut, keempat wanita itu terkena penyakit di masa muda mereka di dataran rendah dan menikahi penduduk Atacameños sebelum timbul luka wajah, yang bisa membutuhkan waktu sampai 20 tahun untuk berkembang.

Seandainya iklim gurun tidak menghentikan parasit, itu bisa dengan mudah menjadi endemis di Atacama, sebab “segala yang dibutuhkan untuk siklus hidupnya—pasir, hewan pengerat, dan anjing—ada di sana,” kata Appenzeller. “Hanya iklim yang menghentikannya.” Dan dalam sedikit keberuntungan geografis tersebut, para peneliti melihat tanda bahaya. “Dengan perubahan iklim hari ini, dan perpindahan manusia, leishmaniasis sedang menyebar,” kata Appenzeller, yang mencatat bahwa lebih dari 600 anggota militer AS di Irak telah terserang bentuk Zaman Kuno penyakit tersebut. World Health Organization melaporkan bahwa leishmaniasis menewaskan sekitar 60.000 orang per tahun dan merupakan parasit pembunuh terbesar kedua setelah malaria.

“Ini adalah studi yang hebat dan semestinya menimbulkan perhatian pada patogen ini, yang perlu ditelusuri dan dikendalikan,” kata Raffaella Bianucci, antropolog fisik di Universitas Turin, Italia. “Mungkin gara-gara perubahan iklim atau migrasi, penyakit tersebut kini berada di Prancis utara dan Jerman, di mana Anda tak pernah menemukannya di masa lalu.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s