Zaman Batu – Kebohongan Sejarah (III. Peradaban Mengalami Kemunduran dan Juga Kemajuan)

Oleh: Harun Yahya
(Sumber: A Historical Lie: The Stone Age, Istanbul: Global Publishing; 2006)

III. PERADABAN MENGALAMI KEMUNDURAN DAN JUGA KEMAJUAN

Darwinisme bersikukuh bahwa Manusia—dan kebudayaan yang dimilikinya—naik dari tahap tak sempurna, primitif, dan kesukuan menuju peradaban. Namun, temuan arkeologis menunjukkan bahwa sejak hari pertama sejarah manusia, terdapat periode-periode di mana masyarakat melestarikan kebudayaan sangat maju bersama dengan masyarakat yang kebudayaannya lebih terbelakang. Pada sebagian besar zaman, peradaban amat makmur eksis bersamaan dengan yang terbelakang. Sepanjang perjalanan sejarah, sebagian besar masyarakat dari periode yang sama mempunyai level teknologi dan peradaban berlainan, dengan perbedaan sosiologis dan kultur amat luas—sebagaimana keadaan hari ini. Contoh, meski benua Amerika Utara sangat maju hari ini dari segi pengobatan, sains, arsitektur, dan teknologi, beberapa komunitas di Amerika Selatan agak terbelakang secara teknologi, tidak berhubungan dengan dunia luar. Penyakit-penyakit di banyak bagian dunia diidentifikasi menggunakan analisis dan teknik pencitraan paling maju, dan diobati di rumah sakit yang sangat modern. Tapi di bagian dunia lainnya, penyakit dianggap berkembang akibat pengaruh roh jahat, dan upaya-upaya untuk menyembuhkan orang sakit melibatkan upacara pengusiran roh demikian. Masyarakat seperti bangsa Indus, bangsa Mesir Kuno, dan bangsa Sumeria, yang hidup sekitar tahun 3.000 SM, memiliki kebudayaan yang lebih kaya tiada taranya dalam segala hal dibanding kebudayaannya di masa kini, dan bahkan dibanding kebudayaan masyarakat yang lebih maju. Ini berarti di semua periode sejarah, masyarakat berperadaban amat maju telah mampu bertahan bersama masyarakat terbelakang. Masyarakat yang eksis ribuan tahun silam mungkin sebetulnya telah jauh lebih maju daripada masyarakat abad 20. Ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perkembangan dalam proses evolusi—dengan kata lain, dari primitif menuju beradab.

Selama perjalanan sejarah, tentu saja, kemajuan besar telah dibuat di semua bidang, dengan langkah dan perkembangan besar dalam sains dan teknologi, berkat akumulasi kebudayan dan pengalaman. Namun, tidaklah rasional ataupun ilmiah untuk menggambarkan perubahan ini sebagai proses “evolusi” sebagaimana dikatakan oleh kaum ecolusionis dan materialis. Sebagaimana tidak ada perbedaan karakteristik fisik antara manusia sekarang dan manusia yang hidup ribuan tahun silam, begitu pula halnya tidak ada perbedaan berkenaan dengan kecerdasan dan kemampuan. Ide bahwa peradaban kita lebih maju lantaran kapasitas dan kecerdasan otak manusia abad 21 lebih jauh berkembang merupakan perspektif cacat, akibat indoktrinasi evolusionis. Faktanya orang-orang di berbagai kawasan hari ini mempunyai konsepsi dan kebudayaan berlainan. Tapi jika seorang penduduk asli Australia tidak mempunyai pengetahuan yang sama dengan seorang ilmuwan dari AS, itu tidak berartti kecerdasan atau otaknya belum cukup berkembang. Banyak orang yang terlahir di masyarakat semacam itu bahkan tidak tahu adanya listrik, tapi masih amat cerdas.

Lebih jauh, kebutuhan berbeda-beda telah timbul selama abad-abad berbeda. Standar fashion kita tidak sama dengan standar bangsa Mesir Kuno, tapi tidak berarti kebudayaan kita lebih maju daripada mereka. Sementara gedung-gedung pencakar langit adalah simbol peradaban abad 21, bukti peradaban di periode Mesir adalah piramida dan sphinx.

Yang penting adalah perspektif dalam menafsirkan fakta-fakta. Seseorang yang memulai dengan ide bentukan sebelumnya bahwa fakta-fakta mendukung perkembangan evolusi akan mengevaluasi semua informasi yang diperolehnya dari sudut praanggapan tersebut. Oleh karenanya dia akan mencoba mendukung pernyataannya dengan kisah imajiner. Berdasarkan potongan fosil tulang, dia akan menerka banyak sekali detail, seperti bagaimana orang-orang yang hidup di kawasan tersebut menghabiskan kehidupan sehari-hari mereka, struktur kekeluargaan mereka, dan hubungan sosial mereka, dengan cara yang diadaptasi dengan prakonsepsi itu.

Dia akan menyimpulkan, berdasarkan potongan-potongan tulang tersebut, bahwa orang-orang itu setengah-tegak dan berbicara mendengkur, ditutupi bulu, dan memakai perkakas batu sederhana—bukan karena bukti ilmiah, melainkan karena ideologinya mengharuskan demikian. Sebetulnya, fakta yang diperoleh tidak mengimplikasikan skenario demikian sama sekali. Gambaran ilusif ini lahir akibat penafsiran dengan mentalitas Darwinis.

Saat ini, para arkeolog yang membuat penafsiran detail mengenai periode dimaksud yang didasarkan pada fosil peninggalan, batu ukiran, atau lukisan di dinding gua, hampir tidak berbeda dari contoh di atas. Tapi kaum evolusionis masih menulis tentang hampir semua aspek dalam kehidupan “manusia primitif” atas dasar analisis bukti yang diprasangkakan. Uraian dan ilustrasi khayalan mereka masih menghiasi halaman banyak majalah dan suratkabar.

Berikut adalah salah satu skenario yang dibuat oleh Louis Leakey, salah seorang evolusionis kontemporer paling dikenal, mengenai kehidupan sehari-hari “manusia primitif”:

“Sejenak mari kita bayangkan bahwa kita bisa mundur dan mengamati urutan peristiwa di sebuah naungan batu sekitar dua puluh atau tiga puluh ribu tahun silam.

Seorang pemburu di Zaman Batu sedang mengelilingi lembah mencari-cari binatang buruan saat dia melihat sebuah naungan batu di sisi jurang berbatu di atasnya. Secara seksama, dan dengan kehati-hatian penuh, dia mendakinya, khawatir kalau-kalau mendapati bahwa itu ditempati oleh anggota dari suatu keluarga Zaman Batu lain yang akan marah atas gangguannya, atau bahkan mungkin itu adalah sarang singa atau beruang gua. Akhirnya dia cukup dekat, dan melihat bahwa tempat itu sungguh tidak ditempati, jadi dia masuk dan melakukan pemeriksaan menyeluruh. Dia memutuskan bahwa itu adalah tempat tinggal yang jauh lebih cocok daripada naungan kecil di mana dia dan keluargaya hidup saat itu, lalu dia  pergi untuk menjemput mereka.

Selanjutnya kita menyaksikan keluarganya yang datang dan menetap di rumah baru mereka. Api dinyalakan dari beberapa bara api yang dijaga secara hati-hati dan dibawa dari rumah lama, ataupun dengan memakai penggerek api kayu sederhana. (Kita tidak bisa mengatakan dengan pasti metode apa yang digunakan manusia Zaman Batu untuk menghasilkan api, tapi kita tahu bahwa sejak periode sangat awal mereka memanfaatkan api, sebab perapian merupakan fitur lumrah di hampir setiap permukaan hunian di gua-gua dan naungan batu.)

Barangkali beberapa anggota keluarga kemudian pergi untuk mengumpulkan rumput atau pakis untuk membuat alas kasar yang di atasnya mereka akan tidur, sedangkan yang lainnya mematahkan ranting dari semak-semak dan pepohonan di belukar sekitar dan membangun dinding kasar di depan naungan. Gulungan kulit berbagai binatang liar kemudian dibuka dan ditaruh di rumah baru tersebut, bersama dengan barang-barang rumah tangga yang mereka punya.

Dan kini keluarga itu menetap sepenuhnya, dan rutinitas sehari-hari berlanjut sekali lagi. Orang tadi memburu dan memperangkap binatang untuk makan, kaum wanitanya mungkin membantu dalam hal ini dan juga mengumpulkan buah-buahan, kacang-kacangan, dan akar-akaran yang bisa dimakan.”

Uraian ini, hingga detail terkecilnya, tidak didasarkan pada temuan ilmiah apapun, melainkan semata-mata pada imajinasi penulisnya. Kaum evolusionis, yang mendandani kisah-kisah serupa dengan berbagai istilah ilmiah, mendasarkan semua detail mereka pada beberapa potongan tulang. (Sebetulnya, fosil-fosil ini menunjukkan bahwa tidak pernah terjadi proses evolusi—persis bertentangan dengan klaim evolusionis!) Jelas, potongan tulang tidak bisa menyediakan informasi definitif tentang perasaan yang mengilhami orang-orang di zaman kuno, seperti apa kehidupan sehari-hari mereka, atau bagaimana mereka membagi pekerjaan di antara mereka.

Bagaimanapun, kisah evolusi manusia diperkaya dengan tak terhitung banyaknya skenario dan islutrasi semacam itu, dan dipakai secara luas oleh kaum evolusionis. Tak mampu membebaskan diri dari dogma evolusi ini sejak teori itu pertama kali dikemukakan, mereka telah menghasilkan skenario di atas dengan versi berbeda-beda. Tapi tujuan mereka bukanlah untuk menguraikan persoalan, melainkan memakai indoktrinasi dan propaganda untuk meyakinkan masyarakat bahwa manusia primitif betul-betul pernah eksis.

Banyak evolusionis berusaha membuktikan klaim mereka dengan memproduksi skenario semacam itu, bahkan tanpa bukti penopang. Tapi setiap temuan baru, saat ditafsirkan tanpa bias, sangat jelas mengungkap kepada mereka beberapa fakta, salah satunya adalah ini: Manusia telah menjadi Manusia sejak hari pertama ia eksis. Atribut-atribut seperti kecerdasan dan kemampuan artistik telah sama di semua periode sejarah. Orang-orang yang hidup di masa lampau bukanlah makhluk primitif setengah-manusia setengah-binatang, sebagaimana kaum evolusionis coba meyakinkan kita. Manusia masa lampau juga berpikir, berbicara manusiawi, persis seperti kita, yang menghasilkan karya seni dan kebudayaan berkembang dan struktur susila. Sebagaimana akan segera kita lihat, temuan arkeologis dan paleontologis membuktikan ini dengan jelas dan tak terbantahkan.

Apa yang Akan Tersisa dari Peradaban Kita?

Bayangkan apa yang akan tersisa dari peradaban hebat masa kini dalam ratusan ribu tahun ke depan. Semua akumulasi budaya kita—lukisan, patung, dan istana—semuanya akan lenyap, dan hampir tidak ada jejak teknologi mutakhir kita yang akan tersisa. Banyak material yang dirancang untuk tahan lama lambat-laun akan, di bawah kondisi alam, mulai kalah. Baja bisa berkarat. Beton bisa runtuh. Fasilitas bawah tanah bisa ambruk, dan semua material memerlukan pemeliharaan. Nah, bayangkan puluhan ribu tahun telah berlalu, dan semua itu terkena ribuan galon hujan, berabad-abad diterpa angin kencang, banjir dan gempa berulang. Barangkali yang akan tersisa hanya potongan-potongan besar batu ukiran, blok-blok galian yang menyusun bangunan, dan sisa-sia berbagai patung, persis seperti yang terwariskan kepada kita dari masa lampau. Atau mungkin tidak ada satupun jejak definitif peradaban maju kita yang akan tersisa untuk memahami kehidupan sehari-hari kita sama sekali, hanya dari suku-suku yang hidup di Afrika, Australia, atau beberapa tempat lain di dunia. Dengan kata lain, dari teknologi yang kita punya (televisi, komputer, oven microwave, dan lain-lain), tidak ada satupun yang akan tersisa meski garis bentuk utama sebuah bangunan atau beberapa potongan patung mungkin akan bertahan. Bila ilmuwan masa depan memperhatikan sisa-sisa yang terpencar ini dan melukiskan semua masyarakat di periode kita sebagai “kebudayaan terbelakang”, bukankah mereka menyimpang dari kebenaran?

Atau, jika seseorang menemukan karya yang ditulis dalam bahasa Mandarin dan menyimpulkan, semata-mata berdasarkan teks ini, bahwa China merupakan ras terbelakang yang berkomunikasi lewat simbol-simbol aneh, apakah ini suatu cerminan dari fakta sesungguhnya? Pertimbangkan contoh patung “The Thinker” karya Auguste Rodin, patung yang dikenal oleh seluruh dunia. Bayangkan patung ini ditemukan ulang oleh arkeolog puluhan ribu tahun dari sekarang. Jika para periset itu memegang prakonsepsi mereka sendiri tantang keyakinan dan gaya hidup masyarakat kita, dan tidak memiliki cukup dokumentasi sejarah, mereka mungkin akan menafsirkan patung ini dengan cara berbeda. Mereka mungkin membayangkan bahwa anggota peradaban kita menyembah seorang manusia yang sedang berpikir, atau mungkin menyatakan bahwa patung tersebut merepresentasikan suatu dewa mitologis palsu.

Hari ini, tentu saja, kita tahu bahwa “The Thinker” adalah karya yang dihasilkan untuk alasan estetis dan artistik semata. Dengan kata lain, jika seorang periset pada puluhan ribu tahun mendatang kekurangan cukup informasi dan memegang ide prakonsepsinya sendiri tentang masa lampau, mustahil baginya untuk sampai pada kebenaran, sebab dia akan menafsirkan “The Thinker” dari sudut prakonsepsinya dan membentuk skenario yang sesuai. Oleh sebab itu, mengevaluasi informasi yang ada tanpa prasangka atau bias, menghindari semua bentuk prakonsepsi, dan berpikir secara luas merupakan hal terpenting. Jangan lupa, kita tak punya bukti bahwa masyarakat berevolusi atau bahwa masyarakat di masa lampau adalah primitif. Pernyataan ini hanya terdiri dari terkaan dan didasarkan semata-mata pada analisis oleh sejarawan dan arkeolog yang mendukung evolusi. Contoh, gambar-gambar binatang pada dinding gua segera diluskiskan sebagai gambar primitif buatan manusia gua. Padahal mungkin gambar ini banyak mengandung arti tentang pemahaman estetis manusia pada waktu itu. Seorang seniman yang mengenakan pakaian paling modern untuk masa itu mungkin membuatnya semata-mata untuk alasan artistik. Sungguh, banyak ilmuwan kini menegaskan kemustahilan bahwa gambar-gambar gua ini adalah karya pikiran primitif.

Contoh lain adalah penafsiran atas batu berpinggir tajam sebagai perkakas pertama yang dibuat oleh “manusia-kera”. Ornag-orang pada masa itu mungkin telah membentuk batu-batu ini dan digunakan untuk tujuan hiasan. Tidak ada bukti, hanya asumsi, bahwa kepingan yang ditemukan tersebut sudah pasti dipakai oleh orang-orang ini sebagai perkakas. Ilmuwan evolusionis memeriksa bukti yang ditemukan selama penggalian dari perspektif berbias. Mereka mengadakan eksperimen dengan beberapa fosil yang, menurut pandangan mereka, membuktikan teori mereka, dan mengabaikan atau bahkan membuang pandangan lain. Permainan serupa telah dimainkan untuk menunjukkan bahwa sejarah juga berevolusi. Antropolog Amerika, Melville Herskovits, melukiskan bagaimana tesis “evolusi sejarah” muncul dan bagaimana evolusionis menafsirkan bukti:

“Setiap pengurai evolusi budaya menyediakan hipotesis cetak-biru perkembangan yang dia anggap menandai perkembangan manusia, sehingga banyak contoh urutan non-linier telah terekam. Beberapa dari perkembangan ini terbatas pada satu aspek budaya…”

Salah satu contoh terpenting untuk mengkonfirmasi pandangan Herskovits adalah sebuah studi yang dijalankan oleh etnografer evolusionis Lewis Henry Morgan, yang memerika fase-fase yang dilalui sebuah masyarakat untuk mencapai struktur patriarkis dan monogami yang, dia klaim, “berevolusi” dari primitif menuju lebih berkembang. Tapi dalam menjalankan riset ini, sebagai sampelnya dia menggunakan beragam masyarakat dari seluruh dunia, sama sekali tak terhubung dengan satu sama lain. Kemudian dia mengaturnya agar sesuai dengan hasil yang dia inginkan. Jelas bahwa dari ratusan ribu kebudayaan di dunia, dia hanya memilih yang sesuai dengan tesis prakonsepsinya.

Herskovits menjelaskan bagaimana Morgan menyusun ulang sejarah untuk  mengesahkan idenya. Memulai dengan penduduk matrilineal Australia yang sangat primitif, dia menarik garis yang mengarah ke Indian Amerika patrilineal. Kemudian dia memindahkan urutannya ke suku-suku Yunani perode protosejarah, di mana keturunan ditetapkan secara tegas dalam garis laki-laki, tapi tanpa monogami ketat. Entri terakhir dalam skala menaiknya direpresentasikan oleh peradaban hari ini—dengan keturunan dalam garis laki-laki dan monogami ketat.

Hersckovits mengomentari urutan imajiner ini:

“Tapi rentetan ini, dari sudut pandang pendekatan sejarah, sungguh fiktif…”

PENUTUPAN SEJARAH SESUNGGUHNYA

Sebagian besar yang kita ketahui tentang sejarah dipelajari dari buku. Pembaca jarang meragukan kandungan buku semacam itu dan menerima isinya begitu saja. Tapi manakala sampai pada sejarah manusia khususnya, sering sekali buku tersebut menyajikan teori yang dibentuk oleh konsep yang tak lagi valid di bidang biologi, biologi molekuler, paleontologi, genetika, biogenetika, dan antropologi. Bersama dengan keruntuhan ilmiah teori evolusi, pemahaman kita  atas sejarah berbasis teori itu juga tidak berlaku.

Sejarawan Edward A. Freeman membahas bagaimana pengetahuan sejarah kita mencerminkan “fakta”:

“Sebab dalam semua penyelidikan sejarah, kita berurusan dengan fakta yang muncul dalam pengaruh kehendak dan pikiran manusia, dan berurusan dengan bukti yang bergantung pada keterpercayaan informan manusia, yang bisa sengaja menipu atau tak sengaja menyesatkan. Manusia bisa berbohong; dia bisa khilaf.”

Lantas, bagaimana kita bisa yakin bahwa sejarah yang diwariskan kepada kita adalah benar?

Pertama-tama, kita harus memastikan objektivitas fakta-fakta yang dihadirkan kepada kita oleh sejarawan dan arkeolog. Sebagaimana pada kebanyakan konsep abstrak, penafsiran sejarah dapat memiliki arti berlainan bagi orang berbeda. Keterangan tentang satu peristiwa bisa berubah-ubah sesuai sudut pandang orang yang menceritakannya. Dan penafsiran peristiwa seringkali sungguh berbeda saat diceritakan oleh individu yang tidak menyaksikannya.

“Sejarah” didefinisikan sebagai catatan kronologis peristiwa masa lalu. Yang memberi makna dan signifikansi pada peristiwa-peristiwa ini adalah bagaimana sejarawan menyajikannya. Contoh, sejarah sebuah perang bisa dipengaruhi oleh opini penulis tentang apakah pihak pemenang benar atau salah. Jika dia merasa simpati pada salah satu pihak, dia akan menganggapnya “kampiun kebebasan”, sekalipun pihak itu menginvasi teritori lain dan melakukan banyak kekejaman. Contoh, jika Anda memeriksa buku sejarah dua bangsa yang saling bermusuhan, Anda akan melihat bahwa masing-masing menafsirkan peristiwa yang sama dengan cara yang sama sekali berbeda.

Inilah persis apa yang dilakukan sejarawan dan ilmuwan evolusionis hari ini. Tanpa bukti konkret, mereka menghadirkan sejarah evolusi manusia sebagai kebenaran pasti. Mereka mengabaikan bukti kuat yang menyangkal teori mereka, menafsirkan bukti yang mereka punya dari sudut praanggapan mereka, dan menghadirkan teori ini, yang diadopsi oleh beberapa ilmuwan sebagai sebuah ideologi, sebagai hukum.

APA YANG AKAN TERSISA DALAM WAKTU PULUHAN RIBU TAHUN?

Dibandingkan dengan sejarah manusia, rentang hidup material yang sering dipakai dalam konstruksi, industri, produk teknologi, dan banyak bidang kehidupan lainnya relatif singkat. Jika puluhan ribu tahun silam manusia tinggal di bangunan kayu yang canggih, dapat dimengerti bahwa hanya sedikit bukti yang tersisa hari ini. Bayangkan peradaban kita hancur dalam suatu bencana mengerikan. Berapa banyak yang akan tersisa seratus ribu tahun mendatang? Jika manusia masa depan menganggap kita sebagai primitif atas dasar beberapa tulang dan potongan fondasi, seberapa akurat penafsiran mereka?

Dalam waktu puluhan ribu tahun, yang akan tersisa dari bangunan hari ini hanyalah beberapa blok batu. Material kayu dan objek dari besi akan membusuk. Contoh, tak ada yang akan tersisa dari Istana Çırağan, baik lukisan dindingnya yang halus, furniturnya yang indah, gorden dan karpetnya yang bagus, maupun kandelar (tempat lilin) atau alat penerang lain. Material-material ini akan membusuk dan lenyap. Seseorang yang menemukan sisa-sisa Istana Çırağan jauh di masa depan mungkin hanua melihat beberapa bongkahan besar batu dan barangkali beberapa fondasi istana. Jika dinyatakan, atas dasar ini, bahwa orang-orang di masa kita belum membangun pola kehidupan menenap dan tinggal di naungan primitif yang dibuat dengan  menumpuk batu, analisis ini akan keliru sama sekali.

Sisa-sisa yang bertahan sampai hari ini mungkin dulunya merupakan bangunan luar biasa indah, persis sebagaimana Istana Çırağan, Jika seseorang menempatkan furnitur di atas reruntuhan ini dan mendekorasinya dengan gorden, karpet, dan lampu, hasilnya akan sungguh mengesankan lagi.

Al-Qur’an menyebut masyarakat-masyarakat lampau sebagai masyarakat amat maju dari segi seni, arsitektur, budaya, dan pengetahuan. Dalam satu ayat, kita diberitahu bahwa masyarakat masa lampau sangat unggul:

“Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi, lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka itu adalah lebih hebat kekuatannya daripada mereka dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi…” (QS Al-Mu’min [40]: 21)

MANUSIA YANG HIDUP 1,5 JUTA TAHUN SILAM MERAWAT KAUM TUA MEREKA

Sebuah fosil yang ditemukan di Dmanisi, Georgia, pada tahun 2005 mengungkap sekali lagi bahwa skenario “evolusi sejarah manusia” tidak sesuai dengan fakta. Menurut klaim tak ilmiah para evolusionis, manusia pertama hidup seperti binatang, tanpa kehidupan keluarga atau tatanan sosial. Namun, sebuah fosil tengkorak manusia tua, yang ditemukan oleh paleoantropolog David Lordkipanidze, menunjukkan bahwa klaim ini tidak benar.

Fosil yang ditemukan itu adalah milik manusia tua yang giginya tinggal satu. Ilmuwan percaya bahwa pemilik tengkorak mengalami penyakit lain serta hampir tak bergigi. Bahwa orang ini bertahan sampai usia tua, meski memiliki begitu banyak kelemahan, melambangkan bukti signifikan bahwa individu ini dirawat dan bahwa orang-orang menaruh perhatian pada kesejahteraan individu lainnya. Lordkipanidze mengatakan:

“Jelas ini adalah individu yang sakit… Kami pikir ini adalah argumen bagus bahwa individu ini mendapat dukungan dari anggota lain kelompoknya.”

(Evolusionis mengklaim bahwa Homo erectus adalah spesies menengah antara kera dan manusia dalam evolusi Manusia. Namun, faktanya, tidak ada perbedaan antara kerangka manusia sekarang dan kerangka Homo erectus, yang kerangkanya sepenuhnya tegak lurus, dan sepenuhnya manusiawi.)

Evolusionis berpendapat bahwa manusia mengembangkan perilaku sosial budaya sekurangnya 1,5 juta tahun setelah pemiliki tengkorak ini meninggal. Karenanya, fosil ini membantah klaim evolusionis, menunjukkan bahwa jutaan tahun silam orang-orang merasa kasihan kepada orang sakit, merawat dan melindunginya. Penemuan ini menunjukkan sekali lagi bahwa manusia tak pernah hidup seperti binatang, tapi senantiasa sebagai manusia.

SENI MAJU DI GUA-GUA

Evolusionis berpendapat bahwa sekitar 30.000-40.000 tahun silam di Eropa, dan di periode awal di Afrika, “manusia mirip kera” mengalami proses transisi mendadak, dan tiba-tiba memperoleh kemampuan untuk berpikir dan menghasilkan sesuatu, persis seperti manusia sekarang. Ini lantaran temuan arkeologis dari periode itu menyodorkan bukti signifikan yang tidak bisa dijelaskan oleh teori evolusi. Menurut klaim Darwinis, teknologi peralatan batu, yang tetap tak berubah selama hampir 200.000 tahun, tiba-tiba diganti dengan teknologi kerajinan tangan yang lebih maju dan cepat berkembang. Manusia “primitif”, yang diduga turun dari pepohonan dan baru mulai modern, tiba-tiba mengembangkan bakat seni dan mulai mengukir atau melukis gambar luar biasa indah dan rumit pada dinding-dinding gua dan membuat objek-objek amat indah seperti kalung dan gelang.

Apa yang terjadi sampai menyebabkan perkembangan demikian? Bagaimana dan mengapa “makhluk primitif setengah-kera” memperoleh kemampuan artistik demikian? Ilmuwan evolusionis tidak mempunyai penjelasan tentang bagaimana ini terjadi, meski mereka mengajukan beragam hipotesis. Evolusionis Roger Lewin menggambarkan kesukaran para Darwinis menghadapi subjek ini dalam bukunya, The Origin of Modern Humans: “Barangkali karena catatan arkeologis masih belum lengkap dan samar, para akademisi merespon pertanyaan ini secara berbeda-beda.”

Namun, temuan arkeologis mengungkap bahwa manusia telah memiliki pemahaman budaya sejak eksistensinya. Dari masa ke masa, pemahaman tersebut mungkin berkembang, mundur, atau mengalami perubahan mendadak. Tapi tidak berarti terdapat proses evolusi, tali lebih berarti bahwa terjadi perkembangan dan perubahan budaya. Kemunculan karya seni yang digambarkan oleh kaum evolusionis sebagai kemunculan “mendadak”, tidak menunjukkan perkembangan biologis manusia (khususnya dalam hal kemampuan intelektual). Orang-orang pada masa itu mungkin telah mengalami berbagai perubahan masyarakat, dan pemahaman artistik dan produksi mereka mungkin berubah, tapi ini bukan merupakan bukti transisi dari primitif menuju modern.

Kontradiksi antara peninggalan arkeologis yang tersisa dari orang-orang masa lampau dan peninggalan anatomis dan biologis yang semestinya eksis—menurut kaum evolusionis—lagi-lagi membuat klaim Darwinis dalam subjek ini tidak berlaku. (Untuk memahami bukti detail yang secara ilmiah meruntuhkan pohon keluarga manusia, yang merupakan klaim fundamental Darwinisme, baca Darwinism Refuted karangan Harun Yahya.) Evolusionis mengklaim bahwa perkembangan budaya manusia pasti berbanding lurus dengan perkembangan biologis. Contoh, manusia pasti pertama-tama mengungkapkan perasaannya lewat gambar sederhana, kemudian mengembangkan ini lebih jauh sampai perkembangan gradual mereka akhirnya mencapai puncak pencapaian seni. Namun, peninggalan seni awal dari sejarah manusia sama sekali meruntuhkan asumsi tersebut. Lukisan, ukiran, dan relief gua yang dipandang luas sebagai contoh pertama seni membuktikan bahwa manusia di era itu memiliki pemahaman estetis amat tinggi.

Ilmuwan yang menjalankan penelitian di gua-gua menilai gambar-gambar ini sebagai beberapa karya terpenting dan bernilai dalam sejarah seni. Bayangan pada gambar, penggunaan perspektif dan garis halu, kedalaman perasaan yang tercermin pada relief, dan pola estetis yang timbul saat cahaya matahari mengenai ukiran—semuanya merupakan fitur yang tak sanggup dijelaskan oleh evolusionis sebab, menurut pandangan Darwinis, perkembangan semacam itu semestinya muncul jauh kemudian.

Banyak lukisan gua yang ditemukan di Prancis, Spanyol, Italia, China, India, di bagian-bagian Afrika, dan berbagai kawasan dunia lainnya menyediakan informasi penting tentang strktur budaya manusia di masa lampau. Gaya dan teknik pewarnaan yang dipakai dalam gambar-gambar ini demikian berkualitas sampai-sampai mengherankan para peneliti. Meski begitu, ilmuwan Darwinis menilainya lewat praanggapan mereka, menafsirkan karya ini secara bias agar cocok dengan dongeng evolusi mereka. Mereka mengklaim bahwa makhluk yang baru menjadi manusia membuat gambar binatang yang diburu atau ditakutinya, dan melakukannya dalam kondisi gua amat primitif di mana mereka tinggal. Tapi teknik yang dipakai dalam karya ini menunjukkan bahwa seniman mereka memiliki pemahaman sangat dalam, dan mampu melukiskannya secara sangat mengesankan.

Teknik lukisan yang dipakai juga memperlihatkan bahwa mereka tidak hidup di bawah kondisi primitif sama sekali. Di samping itu, gambar-gambar pada dinding gua ini bukan bukti bahwa orang-orang masa itu tinggal di gua tersebut. Senimannya mungkin tinggal di naungan luas sekitar, tapi memilih membuat gambar pada dinding gua. Emosi dan pikiran yang menuntun mereka memilih gambar hanya diketahui oleh seniman itu sendiri. Banyak spekulasi dihasilkan menyangkut gambar-gambar ini, dan penafsiran paling tidak realistisnya adalah bahwa gambar itu dibuat oleh makhluk yang masih berkondisi primitif. Betul, sebuah laporan yang dipublikasikan dalam situs Science BBC pada 22 Februari 2000, memuat kalimat berikut menyangkut lukisan gua:

“…[kami] berpikir itu dibuat oleh orang-orang primitif… Tapi menurut dua ilmuwan yang bekerja di Afrika Selatan, pandangan mengenai pelukis kuno ini sama sekali salah. Mereka percaya lukisan itu merupakan bukti adanya masyarakat kompleks dan modern.”

Jika banyak dari karya seni kita hari ini dianalisis dengan logika yang sama pada waktu ribuan tahun mendatang, sejumlah perdebatan mungkin muncul tentang apakah masyarakat abad 21 adalah masyarakat kesukuan primitif atau peradaban maju. Jika gambar-gambar utuh buatan seniman modern ditemukan 5.000 tahun mendatang, dan jika tidak ada dokumentasi tertulis yang bertahan menyangkut masa kini, apa yang akan dipikirkan orang-orang masa depan tentang zaman kita?

Jika orang-orang masa depan menemukan karya Van Gogh atau Picasso dan menilainya dari perspektif evolusionis, bagaimana mereka akan memandang masyarakat modern kita? Apakah pertamanan Claude Monet akan menginspirasi komentar seperti “Industri belum berkembang, dan orang-orang menjalani kehidupan agrikultur”, atau gambar-gambar abstrak Wassily Kandinsky menginspirasi komentar semacam “Orang-orang yang masih belum bisa membaca atau menulis berkomunikasi lewat tulisan cakar ayam”? Apakah penafsiran demikian akan menuntun mereka menuju pengetahuan tentang masyarakat kita masa kini?

TEKNIK LUKISAN TINGGI DALAM SENI GUA

Di Pyreness, Prancis, Gua Niaux dipenuhi dengan gambar-gambar paling mengesankan yang dibuat oleh orang-orang yang hidup di masa prasejarah. Penanggalan karbon yang dilakukan pada lukisan-lukisan ini menunjukkan bahwa karya tersebut diselesaikan sekitar 14.000 tahun lalu. Lukisan Gua Niaux ditemukan pada 1906 dan telah diperiksa dengan sangat detail sejak saat itu. Porsi gua yang paling berhiasan adalah bilik samping yang terbentuk oleh rongga tinggi, di bagian gelap yang dikenal sebagai Salon Noir. Dalma bukunya, The Origin of Modern Humans, Roger Lewin membuat komentar berikut soal bagian ini, yang berhiaskan gambar bison, kuda, rusa, dan kambing gunung: “…tersusun di panel-panel dan memberikan kesan peninjauan masa depan dan pertimbangan mendalam dalam pembuatannya.”

Satu unsur penting dari gambar-gambar ini yang telah menarik sebagian besar perhatian ilmuwan adalah teknik lukisan yang dipakai. Riset menunjukkan bahwa seniman pembuatnya menghasilkan campuran khusus dengan mencampurkan bahan-bahan lokal dan alami. Tak diragukan lagi bahwa ini mengindikasikan sebuah kemampuan untuk berpikir, merencanakan, dan memproduksi jauh melampaui jangkauan makhluk manapun yang masih dalam kondisi primitif. Lewin menggambarkan teknik lukisan ini demikian:

“Material lukisan—zat warna dan mineral extender (pencahar)—dipilih secara seksama oleh orang-orang Paleolitik Atas dan digerinda sampai 5 hingga 10 mikrometer untuk menghasilkan campuran spesifik. Pigmen hitam, sebagaimana sudah diduga, merupakan arang kayu dan mangan dioksida. Tapi perhatian utama tertuju pada pencahar, yang kelihatannya terdiri dari empat resep berbeda, yang dinomori satu sampai empat oleh para periset. Pencahar itu membantu mengeluarkan warna pigmen dan, sebagaimana namanya, menambah ukuran pada cat tanpa mengencerkan warna. Empat resep untuk pencahar yang dipakai di Niauz itu adalah talek, campuran baryte dan potassium feldspar, pottassium feldspar, dan potassium feldspar dicampur dengan kelebihan biotite. Clottes dan koleganya bereskperimen dengan beberapa pencahar ini dan menemukan bahwa itu sangat efektif.”

Teknik amat maju ini merupakan bukti bahwa makhluk yang digambarkan sebagai primitif tak pernah eksis di masa lampau. Sejak Manusia pertama kali eksis, dia telah menjadi makhluk unggul, dengan kemampuan untuk berpikir, berbicara, menimbang, memahami, menganalisa, merencanakan, dan memproduksi. Sama sekali irasional dan tak logis untuk mengklaim bahwa orang-orang yang memakai pencahar guna mewarnai lukisan mereka dan yang berhasil mencampur zat-zat seperti talek, baryte, potassium feldspar, dan biotite guna menghasilkan pencahar baru saja berpisah jalan dari kera dan menjadi beradab.

KARYA YANG DITEMUKAN DI GUA BLOMBOS MERUNTUHKAN SEKALI LAGI SKENARIO EVOLUSI MANUSIA!

Penemuan selama penggalian di Gua Blombos di pantai Afrika Selatan menggulingkan sekali lagi skenario evolusi manusia. Daily Telegraph memuat kisah tersebut dengan headline sampul “Stone Age Man Wasn’t So Dumb”. Berbagai suratkabar dan majalah juga memuat kisah tersebut, menyatakan bahwa teori-teori mengenai manusia prasejarah harus diubah total. Contoh, BBC News melaporkan bahwa, “Ilmuwan mengatakan penemuan itu menunjukkan bahwa cara berpikir modern berkembang jauh lebih awal dari dugaan kita.”

Yang ditemukan di gua-gua Blombos adalah potongan hartal (ochre) yang berasal dari 80.000-100.000 tahun silam. Diduga potongan itu dipakai untuk melukis tubuh dan dalam karya seni lain. Sebelum penemuan ini, ilmuwan menyatakan bahwa bukti kemampuan manusia untuk berpikir, memahami, dan memproduksi muncul seawalnya pada 35.000 tahun silam. Temuan baru ini sama sekali meruntuhkan perkiraan tersebut. Orang-orang di masa itu, yang digambarkan oleh evolusionis sebagai primitif dan bahkan setengah kera, mempunyai kemampuan untuk memahami dan memproduksi, persis seperti manusia hari ini.

GAMBAR MEMPESONA DI GUA CHAUVET

Lukisan yang ditemukan di Gua Chauvet pada 1994 menimbulkan reaksi hebat di dunia ilmiah. Sebelum itu, karya-karya seni di Ardèche, gambar-gambar berumur 20.000 tahun di Lascaux, dan karya-karya berumur 17.000 di Altamira di Spanyol telah menarik banyak perhatian. Tapi gambar-gambar di Chauvet jauh lebih tua dari ini semua. Penanggalan karbon mengungkap bahwa lukisan-lukisan ini berumur sekitar 35.000 tahun. Komentar berikut muncul di majalah National Geographic:

“Foto-foto pertama memikat para spesialis dan juga masyarakat. Selama berdekade-dekade, akademisi berteori bahwa seni berkembang dalam tahap-tahap lamban dari goresan primitif menuju pembuatan yang naturalistik dan hidup… Kira-kira dua kali lebih tua daripada gambar di gua-gua yang lebih terkenal, gambar-gambar Chauvet bukan melambangkan titik puncak seni prasejarah melainkan permulaan terawal yang dikenal.”


 

PERENCANAAN ATSRONOMIS BERUMUR 16.500 TAHUN DI LASCAUX

Sebagai hasil studinya, Dr. Michael Rappenglueck, seorang periset dari Universitas Munich, mengungkap bahwa lukisan di dinding-dinding gua Lascaux yang terkenal di Prancis tengah mempunyai makna astronomis. Dia merekonstruksi angka-angka di dinding gua dengan komputer, memakai teknik photogammetry, yang menunjukkan bahwa lingkaran, sudut, dan garis lurus geometris yang timbul mungkin memiliki makna khusus. Semua nilai yang berkenaan dengan inklinasi elips, presesi equinoks, pergerakan teratur bintang, diameter dan radius Matahari dan Bulan, dan refraksi di alam semesta ditambahkan pada kalkulasi komputer. Hasilnya, garis-garis bentuk ini terlihat merujuk pada berbagai rasi bintang dan gerakan spesifik bulan. BBC News melaporkan informasi berikut dalam bagian Science-nya:

“Peta langit malam prasejarah telah ditemukan di dinding gua berlukisan yang terkenal di Lascaux, Prancis tengah. Peta itu, yang diperkirakan berasal dari 16.500 tahun silam, memperlihatkan tiga bintang cerlang yang hari ini dikenal sebagai Summer Triangle. Peta gugus bintang Pleiades juga telah ditemukan di antara fresko-fresko Lascaux… Ditemukan pada 1940, dinding itu menunjukkan bakat seni leluhur jauh kita. Tapi gambar-gambar tersebut mungkin mendemonstrasikan pengetahuan ilmiah mereka juga.”

Menurut klaim Darwinis, orang-orang yang melukis gambar-gambar ini baru turun dari pepohonan. Perkembangan kecerdasan mereka belum lengkap. Namun, nilai seni lukisan-lukisan ini dan hasil riset mutakhir sama sekali menggugurkan klaim-klaim ini. Siapapun yang meninggalkan lukisan ini memiliki pemahaman estetis yang sangat tinggi, teknik artistik yang maju—dan pengetahuan ilmiah.

RELIEF DAN GAMBAR DI AFRIKA SELATAN MENGHERANKAN EVOLUSIONIS

Relief-relief jerapah di bawah ini, berumur sekitar 7.000 tahun, dibentuk begitu sempurna dengan maksud memberi kesan bahwa kawanan tersebut sedang bergerak. Jelas, gambar ini merupakan karya orang-orang yang berpikir, sanggup membuat penilaian dan mengekspresikan diri, dan mempunyai pemahaman seni.

Lukisan di bawah ini, yang juga berumur 7.000 tahun, memperlihatkan seorang manusia sedang memainkan instrumen musik. Foto di bawahnya memperlihatkan seorang anggota Dzu, komunitas pribumi di Bostwana, sedang memainkan instrumen serupa. Faktanya adalah, instrumen musik yang serupa dengan instrumen yang digunakan 7.000 tahun silam masih dipakai hari ini! Ini merupakan contoh mencolok lain yang meruntuhkan klaim Darwinis. Peradaban tidak selalu maju, sebagaimana pendapat Darwinis, terkadang ia tetap sama selama ribuan tahun. Sementara orang ini terus memainkan instrumen mulia yang telah eksis selama 7.000 tahun, di sisi lain dunia, simfoni digital sedang digubah memakai teknologi komputer paling maju. Dan kedua kebudayaan berkoeksis pada waktu yang sama.

CATAL HUYUK, YANG DIANGGAP SEBAGAI KOTA PERTAMA DALAM SEJARAH, MEMBANTAH EVOLUSI.

Disepakati berasal dari tahun 9.000 SM, Catal Huyuk digambarkan sebagai salah satu kota pertama yang dikenal sejarah. Penemuan pertamanya memulai perdebatan sengit di dunia arkeologi, membuktikan ketidaksahan klaim evolusionis sekali lagi. Arkeolog James Mellart, melukiskan bagaimana kondisi maju kawasan itu betul-betul mengagumkan dirinya:

“Jumlah spesialisasi teknologi di Catal Huyuk merupakan salah satu fitur mencolok di masyarakat amat berkembang tersebut yang jelas berada di barisan depan perkembangan Neolitik… Bagaimana, contohnya, mereka memoles cermin dari batu obsidian, kaca vulkanis keras, tanpa menggoresnya dan bagaimana mereka mengebor lubang sedemikian kecil pada manik-manik batu (termasuk obsidian) yang oleh jarum baja runcing modern tak bisa ditembus? Kapan dan dari mana mereka belajar melebur tembaga dan timah…?”

Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa penghuni Catal Huyuk mempunyai pemahaman kehidupan perkotaan, mempu merencanakan, merancang, dan mengkalkulasi, bahwa pemahaman artistik mereka jauh lebih maju dari perkiraan. Profesor Ian Hodder, pemimpin tim penggalian saat ini, menyatakan bahwa temuan ini menggugurkan klaim-klaim evolusionis ecara total. Dia mengatakan mereka telah menggali sebuah seni mengherankan yang asal-usulnya tak jelas dan mereka kesulitan sekali menerangkan posisi georgrafis Catal Huyuk—yang, menurut Hodder, tak memiliki kaitan gerografis dengan area-area yang diketahui didiami pada masa itu. Fresko-fersko yang ditemukan adalah sangat maju untuk periode tersebut. Dia mengatakan bahwa setelah menyelidiki mengapa dan bagaimana orang-orang ini mencapai level artistik sedemikian tinggi, pertanyaan riilnya adalah bagaimana kelompok orang tersebut mencapai keberhasilan budaya sedemikian mempesona. Sepanjang pengetahuan kami, katanya, tidak ada evolusi dalam perkembangan budaya yang dicapai di Catal Huyuk, di mana karya-karya seni sebesar itu muncul secara spontan dan tidak dari manapun.

TOMBAK BERUMUR 400.000 TAHUN YANG MENGHERANKAN EVOLUSIONIS

Pada 1995, arkeolog Jerman, Hartmut Thieme, menemukan sejumlah peninggalan kayu di Schöningen, Jerman. Ini adalah tombak-tombak yang dibuat secara cermat—dengan kata lain, alat pemburu tertua di dunia. Penemuan ini sangat mengejutkan kaum evolusionis, yang menurut pandangannya perburuan sistematis baru terjadi sekitar 40.000 tahun silam, saat manusia modern diduga pertama kali muncul. Untuk membuat tombak-tombak Clacton dan Lehringen, yang ditemukan lebih awal, sesuai dengan kebohongan evolusi, alat-alat itu direndahkan menjadi tongkat penggali atau pemeriksa salju.

Namun, tombak-tombak Schöningen betul-betul berasal dari masa yang jauh lebih lampau—sekitar 400.000 tahun silam. Selain itu, usianya begitu pasti sampai-sampai Robin Dennell, salah seorang arkeolog Universitas Sheffield yang paper-nya dipublikasikan di majalah Nature, menyatakan bahwa mustahil mengganti tanggalnya atau memalsukan penafsirannya:

“Tapi penemuan Schöningen sudah jelas adalah tombak: menganggapnya sebagai pemeriksa salju atau tongkat penggali adalah seperti mengklaim bahwa bor motor adalah penindih kertas.”

Alasan mengapa tombak-tombak ini begitu mengejutkan ilmuwan evolusionis adalah miskonsepsi bahwa ‘manusia primitif’ di masa itu tidak mampu membuat objek-objek semacam itu. Sedangkan tombak-tombak ini merupakan produk akal yang mampu mengkalkulasi dan merencanakan. Batang pohon cemara yang berumur sekitar 30 tahun dipakai untuk membuat masing-masing tombak, dan ujungnya dibuat dari base, di mana kayu tersebut adalah kayu terkeras. Masing-masing tombak dirancang dengan ukuran yang sama dan—persis seperti kriteria modern—pusat gravitasinya berada sepertiga dari ujung tajamnya.

Berhadapan dengan semua informasi ini, Robin Dennell berkomentar:

“Ini melambangkan banyaknya investasi waktu dan keterampilan—dalam memilih pohon yang cocok, dalam membuat rancangan kasar, dan dalam tahap-tahap akhir pembentukan. Dengan kata lain, para ‘hominid’ ini tidak hidup dalam ‘kebudayaan lima menit’ yang spontan, yang bertindak berdasarkan adaptasi sebagai respon terhadap situasi sekitar. Jutsru, kita melihat besarnya kedalaman perencanaan, kecanggihan rancangan, dan kesabaran dalam memahat kayu, yang kesemuanya hanya diatributkan pada manusia modern.”

Thieme, yang menemukan tombak-tombak itu, mengatakan:

“Penggunaan tombak canggih pada seawalnya periode Pleistosin Tengah kemungkinan mengandung arti bahwa banyak teori-teori sekarang mengenai perilaku dan kebudayaan manusia awal harus direvisi.”

Sebagaimana dinyatakan oleh Hartmut Thieme dan Robin Dennell. Klaim-klaim Darwinis menyangkut sejarah manusia tidak mencerminkan fakta. Faktanya adalah, manusia tak pernah mengalami evolusi. Peradaban terbelakang maupun peradaban amat berkembang dan maju eksis di masa lampau.

JEJAK PERADABAN DI GÖBEKLI TEPE

Para ilmuwan melukiskan temuan yang diperoleh selama penggalian di Göbekli Tepe dekat Urfa, Turki, sebagai penemuan “luar biasa dan tiada taranya”. Temuan itu adalah pilar-pilar raksasa berbentuk T, lebih tinggi dari manusia dan berdiameter 20 meter (65 kaki), berukiran relief binatang. Mereka tersusun melingkar. Fitur yang sungguh-sungguh mengesankan dunia ilmiah adalah usia situs tersebut, yang dibangun 11.000 tahun silam. Menurut klaim evolusionis, orang-orang di masa itu pasti telah membangun situs mengagumkan ini menggunakan perkakas batu primitif saja. Menurut miskonsepsi ini, keajaiban teknik tersebut merupakan karya pemburu-pengumpul memakai peralatan paling primitif 11.000 tahun silam. Ini, tentu saja, betul-betul tidak bisa dipercaya. Profesor Klaus Schmidt, pemimpin tim penggalian di Göbekli Tepe, mengemukakan fakta ini dengan menyatakan bahwa orang-orang yang hidup di masa itu kelihatannya telah memiliki kemampuan untuk berpikir. Kontras dengan apa yang diimajinasikan, Schmidt menyatakan, orang-orang ini tidak primitif dan tidak boleh dianggap sebagai makhluk mirip kera, yang baru turun dari pepohonan dan berupaya membangun peradaban. Dari segi kecerdasan, mereka kelihatannya persis seperti kita.

Schmidt, seorang arkeolog, menjalankan eksperimen kecil untuk menetapkan bagaimana pila-pilar raksasa itu bisa diangkut dengan kondisi di masa itu, dan bagaimana mereka dibentuk. Dia dan timnya berusaha memahat seblok batu raksasa tanpa bantuan mesin, hanya menggunakan perkakas primitif yang menurut evolusionis pasti telah digunakan oleh manusia prasejarah. Kemudian mereka berupaya mengangkutnya dalam jarak pendek. Sebagian tim mulai mengerjakan batu dengan kayu gelondongan, tali, dan kekuatan otot, membuat mesin derek sederhana dan alami. Sementara itu, yang lainnya berupaya membuat rongga di dasarnya dengan memakai perkekas tangan dari batu, persis seperti tukang batu jagoan 9.000 tahun lalu. (Pandangan sejarah kaum evolusionis meyakini bahwa karena tidak ada peralatan besi di zaman itu, manusia Zaman Batu menggunakan batu api keras.)

Para pekerja mencoba memahat batu yang dikerjakan non-stop selama dua jam, dan yang mereka peroleh hanyalah garis samar. Tim 12 orang itu mencoba memindahkan blok batu yang dikerjakan selama empat jam tersebut, tapi hanya berhasil memindahkannya sejauh tujuh meter, atau kira-kira 20 kaki. Eksperimen sederhana ini mengungkap bahwa ratusan pekerja harus bekerja selama berbulan-bulan untuk membentuk satu area batu yang melingkar. Jelas, orang-orang di masa itu pasti telah menggunakan keahlian amat maju, ketimbang metode primitif yang dinyatakan oleh ilmuwan evolusionis.

Inkonsistensi lain dalam timeline evolusionis adalah bahwa mereka menyebut periode pembuatan karya ini sebagai “Zaman Neolitik pra-tembikar”. Menurut interpretasi tak realists ini, orang-orang di masa itu belum mencapai teknologi untuk membuat tembikar. Setelah mengetahui bahwa mereka membuat patung, mengangkut batu raksasa, mengubahnya menjadi pilar menarik, mengukir relief hewan di atasnya, menghiasi dinding dengan lukisan, dan mempergunakan pengetahuan teknik dan arsitektur, bisakah kita mengklaim mereka tidak tahu caranya membuat belanga tembikar?

Klaim menipu tersebut terus-menerus diulangi hanya demi mempertahankan prakonsepsi evolusionis. Tak diragukan lagi artefak-artefak yang dimaksud memperlihatkan bahwa para pembuatnya memiliki pengetahuan, teknologi, dan peradaban yang jauh lebih maju dari bayangan sebelumnya. Ini pada gilirannya mengungkap bahwa mereka tidak primitif sama sekali. Sebuah artikel di majalah Turki, Bilim ve Teknik, menyatakan bahwa penemuan Göbekli Tepe membongkar miskonsepsi yang tersebar luas menyangkut sejarah manusia: “Data baru ini mengungkap miskonsepsi besar berkenaan dengan sejarah manusia.” Kekeliruan itu terdapat dalam menafsirkan sejarah berhubung adanya penipuan evolusi.

PERAWATAN GIGI MENGGUNAKAN TEKNIK PROFESIONAL 8.000 TAHUN SILAM

Penggalian yang dilakukan di Pakistan mengungkap bahwa lebih dari 8.000 tahun silam dokter gigi mengebor gigi untuk mengangkat kebusukan. Pada waktu penggalian, Profesor Andrea Cucina dari Universitas Missouri-Columbia memperhatikan lubang-lubang kecil, berdiameter sekitar 2,5 mm, pada graham berumur 8.000 sampai 9.000 tahun. Terkesan oleh kesempurnaan lubang ini, Cucina memperluas risetnya dengan mengajak timnya memeriksa lubang tersebut dengan mikroskop elektron. Mereka menemukan bahwa lubang-lubang kecil ini terlalu bulat sempurna untuk disebabkan oleh bakteri. Dengan kata lain, ini bukan lubang alami, melainkan hasil intervensi disengaja, untuk tujuan perawatan. Tak satupun dari gigi-gigi itu yang menunjukkan tanda kebusukan. Itu, sebagaimana dikatakan oleh majalah New Scientist, “boleh jadi merupakan saksi keterampilan dokter gigi prasejarah.”

Pada masa tersebut, menurut doktrin evolusionis, manusia baru saja mencabang dari kera. Mereka hidup di bawah kondisi primitif sekali dan baru belajar membuat belanga tembikar, dan baru ada di kawasan tertentu. Bagaimana orang-orang dalam keadaan seprimitif itu berhasil mengebor lubang gigi sesempurna itu yang membutuhkan perawatan gigi, sungguhpun mereka tak punya teknologi? Jelas, orang-orang ini bukan primitif, pun tidak hidup dalam kondisi primitif. Sebaliknya, mereka memiliki pengetahuan untuk mendiagnosa penyakit dan menghasilkan metode perawatan, dan alat teknis untuk memakai metode ini secara sukses. Sekali lagi, ini menggugurkan klaim Darwinis bahwa masyarakat berevolusi dari primitif menuju modern.

HASRAT ORANG KUNO AKAN MUSIK

Perhatian yang ditampilkan orang-orang yang hidup sekitar 100.000 tahun silam terhadap musik merupakan indikasi lain bahwa mereka berbagi selera yang hampir sama dengan kita hari ini. Instrumen musik tertua yang dikenal, yang ditemukan di Haua Fteah, Libya, adalah fosil seruling yang terbuat dari tulang burung dan diperkirakan berumur antara 70.000 sampai 80.000 tahun. Prolom II adalah situs dari Crimea Timur di mana 41 peluit tulang jari ditemukan. Situs ini berasal dari antara 90.000 sampai 100.000 tahun silam.

Namun, pengetahuan musik orang-orang tersebut terus lebih jauh ke belakang dari masa itu. Musikolog Bob Fink menganalisa sebuah seruling berbeda, terbuat dari tulang paha beruang, yang ditemukan pada Juli 1995 oleh arkeolog Ivan Turk di sebuah gua di utara Yugoslavia. Fink membuktikan bahwa seruling ini, yang berdasarkan uji radiokarbon berumur antara 43.000 sampai 67.000 tahun, menghasilkan empat not, dan mempunyai nada setengah dan penuh. Penemuan ini menunjukkan bahwa Neanderthal memakai skala tujuh-not—formula dasar dalam musik Barat hari ini. Memeriksa seruling, Fink melihat bahwa jarak antara lubang kedua dan ketiganya adalah dua kali lipat jarak antara lubang ketiga dan keempat. Artinya jarak pertama mewakili nada utuh, dan jarak berikutnya mewakili nada setengah. Fink menulis, “Tiga not ini…tak pelak lagi diatonis dan akan berbunyi sangat pas dengan skala diatonis standar, modern ataupun kuno.” Ini mengungkap bahwa Neanderthal adalah orang-orang yang mendengarkan dan mengetahui musik.

Artefak dan penemuan arkeologis ini menambah jumlah pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh Darwinisme, yang bersikukuh bahwa manusia dan kera adalah keturunan dari leluhur yang sama. Contoh, soal makhluk mirip kera, yang mereka klaim hidup puluhan ribu tahun silam, yang hanya mengeluarkan suara dengkur dan hidup dengan cara binatang—mengapa dan bagaimana makhluk itu menjadi makhluk sosial? Ini adalah dilema utama bagi evolusionis. Teori evolusi tak punya jawaban ilmiah dan rasional mengenai alasan mengapa makhluk-makhluk mirip kera ini turun dari pepohonan ke tanah, bagaimana mereka berusaha berdiri dengan dua kaki, dan bagaimana kecerdasan dan kemampuan mereka berkembang. “Penjelasan” evolusionis tak lebih dari sekadar prakonsepsi dan dongeng yang semata-mata didasarkan pada fantasi.

Bagaimana monyet yang melompat dari dahan ke dahan memutuskan untuk turun ke tanah? Jika Anda tanyaka kepada evolusionis, mereka akan berkata bahwa ini disebabkan oleh faktor iklim. Teori evolusi tidak akan mampu menyediakan jawaban rasional dan logis untuk pertanyaan pertama yang terlintas dalam pikiran tersebut. Mengapa monyet lain memilih untuk tetap di dahan-dahan padahal mereka bisa meniru monyet-monyet lain yang turun ke tanah ini? Atau, mengapa faktor iklim ini mempengaruhi beberapa monyet saja? Apa yang mencegah monyet lain turun dari pepohonan di bawah pengaruh iklim yang sama? Jika Anda tanyakan bagaimana caranya monyet turun ke tanah dan mulai berjalan ddengan dua kaki, kaum evolusionis akan memberikan keterangan berlainan. Beberapa akan berkata, contohnya, bahwa makhluk-makhluk mirip kera ini memutuskan untuk berjalan tegak dengan dua kaki, untuk menghadapi musuh-musuh kuat secara lebih baik. Tapi tak satupun dari jawaban ini yang ilmiah.

Pertama dan terutama, tidak ada hal semacam evolusi bipedalisme. Manusia berjalan tegak dengan dua kaki—bentuk penggerakan istimewa yang tidak dijumpai pada spesis lain. Poin penting yang harus diklarifikasi adalah bahwa bipedalisme bukanlah keuntungan evolusi. Cara monyet bergerak jauh lebih mudah, lebih cepat, dan lebih efisien daripada langkah bipedal manusia.

Manusia tidak dapat bergerak dengan melompat dari pohon ke pohon seperti simpanse, pun tidak dapat berlari pada kecepatan 125 kilometer (80 mil) per jam seperti cheetah. Sebaliknya, karena kita berjalan dengan dua kaki, kita bergerak jauh lebih lambat di atas tanah. Untuk alasan yang sama, kita adalah salah satu spesies yang paling kurang terlindungi di alam. Menurut logika teori evolusi, monyet semestinya tidak cenderung mengadopsi langkah bipedal. Justru, manusia semestinya menjadi quadrupedal demi bertahan hidup dan menjadi yang terkuat.

Kebuntuan lain klaim evolusi adalah bahwa bipedalisme tidak membantu model “perkembangan gradual” Darwinisme, yang merupakan landasan evolusi dan mensyaratkan bahwa pasti terdapat langkah “campuran” antara bipedalisme dan quadrupedalisme. Namun, dengan riset terkomputerisasi yang dijalankan pada 1996, anatomis Inggris, Robin Crompton, menunjukkan bahwa langkah campuran semacam itu tidak mungkin ada. Crompton mencapai kesimpulan bahwa makhluk hidup hanya bisa berjalan tegak, atau berjalan dengan empat kaki.29 Suatu tipe langkah “hibrid” di antara keduanya adalah mustahil sebab itu akan melibatkan konsumsi energi berlebihan. Karenanya makhluk setengah bipedal tidak mungkin eksis.

Bagaimana ‘makhluk primitif’ mengembangkan perilaku sosial berakal? Jawabannya, menurut omong-kosong evolusionis, adalah bahwa dengan hidup berkelompok, mereka mengembangkan perilaku berakal dan sosial. Tapi gorila, simpanse, monyet, dan banyak spesies lainnya juga hidup berkelompok atau berkawanan; dan tak satupun dari mereka yang mengembangkan perilaku berakal dan sosial seperti manusia. Tak satupun dari mereka yang membangun monumen, mempunyai minat terhadap astronomi, atau menghasilkan karya seni; sebab perilaku kreatif berakal adalah khusus milik manusia. Semua artefak yang bertahan dari masa lalu itu dibuat oleh manusia dengan kemampuan artistik yang nyata. Pemikiran bahwa orang-orang ini hidup di bawah kondisi primitif terbantahkan oleh fakta-fakta arkeologis.

EVOLUSIONIS TAK PUNYA BUKTI ILMIAH UNTUK MENDUKUNG TEORI MEREKA

Evolusionis berpendapat, tanpa bukti apapun, bahwa manusia dan kera adalah keturunan dari leluhur yang sama. Ditanya bagaimana evolusi ini bisa terjadi, mereka merespon, secara tak ilmiah sama sekali, “Kami tak tahu, tapi kami harap mengetahuinya suatu hari nanti.” Contoh, palaeoantropolog evolusionis Elaine Morgan membuat pengakuan berikut:

“Empat dari misteri paling menonjol mengenai [evolusi] manusia adalah: 1) mengapa mereka berjalan dengan dua kaki?; 2) mengapa mereka kehilangan bulu?; 3) mengapa mereka mengembangkan otak sedemikian besar?; 4) mengapa mereka belajar berbicara?

Jawaban ortodoks atas pertanyaan ini adalah: 1) ‘Kita belum tahu’; 2) ‘Kita belum tahu’; 3) ‘Kita belum tahu’; 4) ‘Kita belum tahu’. Daftar pertanyaan tersebut bisa sangat memanjang tanpa mempengaruhi kemonotonan jawabannya.”


TEMUAN YANG MEMBANTAH GAMBARAN EVOLUSIONIS SOAL SEJARAH MANUSIA

Bukti yang tersaji dalam The Hidden History of the Human Race: Forbidden Archeology, karangan arkeolog Michael A. Cremo dan Richard L. Thompson, menjungkir-balikkan gambaran evolusi manusia yang disokong oleh evolusionis. Buku ini mendokumentasikan sisa-sisa dari periode sejarah yang sama sekali tak disangka-sangka—menurut sudut pandang evolusionis. Pada 1950-an, contohnya, Thomas E. Lee, antropoloh di Museum Nasional Kanada, menjalankan penggalian di Sheguiandah, di atas Pulau Manitoulin di Danau Huron. Di sana dia menemukan peralatan di sebuah lapisan glasial, endapan pasir dan kerikil yang tertinggal oleh gletser yang surut. Saat terbukti bahwa ini berumur antara 65.000 sampai 125.000 tahun, penerbitan hasil risetnya ditunda—sebab, menurut miskonsepsi yang mendominasi dunia ilmiah, manusia pertama kali tiba di Amerika Utara dari Siberia baru 120.000 tahun silam, dan mustahil mengklaim bahwa ini terjadi lebih awal.

Contoh lain yang tersaji dalam buku itu adalah arkeolog Carlos Ameghino, yang menemukan perkakas batu di sebuah lapisan Pliosen tak terganggu yang berumur 3 juta tahun di Miramar, Argentina. Dari lapisan yang sama, dia mengeduk tulang paha toxodon, mamalia berkuku di Amerika Selatan yang telah punah. Terlekat pada tulang paha tersebut adalah mata panah batu atau ujung lembing batu. Berikutnya, seorang periset lain menemukan sepotong tulang rahang manusia di lapisan yang sama. Sedangkan menurut Darwinis, manusia yang mampu membuat bola batu dan mata panah batu baru muncul 100.000 sampai 150.000 tahun silam. Karenanya, suatu tulang dan mata panah yang berasal dari 3 juta tahun silam merupakan fenomena yang tak mampu dijelaskan oleh kaum evolusionis. Ini menunjukkan, lagi-lagi, bahwa teori evolusi tidak cocok dengan fakta ilmiah.

Dalam bukunya, Ancient Traces, periset dan penulis Inggris, Michael Baigent, menggambarkan bagaimana sebuah rantai emas yang berumur antara 260 sampai 320 juta tahun ditemukan pada tahun 1981. Terbukti bahwa rantai ini adalah emas delapan karat, yakni emas delapan bagian yang dicampur dengan 16 bagian logam lain. Pertengahan rantainya—yang timbul dari dalam sepotong batu bara—longgar, walaupun dua ujungnya melekat rapat. Kesan bagian longgar masih tertinggal pada batu bara. Semua ini menunjukkan bahwa rantai tersebut sama tuanya dengan batu bara itu sendiri. Umur lapisan batu bara di mana rantai itu ditemukan adalah berumur 260 sampai 320 juta tahun. Penemuan sebuah rantai emas, dari masa yang menurut evolusionis manusia bahkan belum eksis, meruntuhkan secara total sejarah manusia yang mereka susun.

Fakta bahwa masyarakat menggunakan perhiasan dan menghasilkan barang hiasan adalah bukti bahwa mereka menikmati kehidupan beradab. Lebih jauh, pembuatan rantai emas membutuhkan keahlian teknis maupun peralatan. Tak ada rantai emas biasa yang bisa dibuat dari bijih meas menggunakan perkakas batu saja. Jelas bahwa orang-orang yang hidup jutaan tahun sebelum kita sudah mengetahui tentang pembuatan perhiasan dan mendapat kesenangan dari barang-barang indah.

Temuan lain yang menjungkir-balikkan teori evolusi sejarah adalah sepotong paku yang diperkirakan berumur 387 juta tahun. Menurut laporan Sir David Brewster dari British Association for the Advancement of Science, paku tersebut ditemukan di sepotong batu pasir. Lapisan tempat diambilnya batu itu berasal dari Periode Devonian Awal—menjadikannya berumur sekitar 387 juta tahun.

Temuan-temuan ini, dan masih banyak lagi yang bisa disajikan, menunjukkan bahwa manusia bukanlah organisme setengah-binatang, sebagaimana yang diyakinkan evolusionis kepada kita, dan tak pernah menjalani kehidupan binatang. Setelah mendaftarkan contoh-contoh serupa, Michael Baigent berlanjut dengan membuat komentar berikut:

“…jelas tak ada kemungkinan bahwa data ini bisa diakomodasi dalam pemahaman ilmiah konvensional sejarah bumi… Nyatanya, bukti ini—jika bisa dibenarkan sekalipun dalam satu kasus saja yang telah kita tinjau—mengindikasikan bahwa manusia, dalam bentuk modern, telah berjalan di planet ini selama waktu yang sungguh panjang.”

Sejarah arkeologi penuh dengan penemuan semacam itu, yang di hadapannya pola pikir “konvensional” evolusionis, demikian terang Baigent, berada dalam situasi tanpa harapan. Tapi pola pikir evolusionis juga secara seksama menjauhkan spesimen-spesimen penting ini dari pandangan publik, dan mengabaikannya. Tak peduli seberapa keras Darwinis berusaha mempertahankan ideologi mereka, bukti menggunung menunjukkan bahwa evolusi adalah kebohongan dan bahwa Penciptaan adalah fakta yang tak bisa disangkal. Allah menciptakan Manusia dari kenihilan, meniupkan ruh-Nya ke dalam diri manusia, dan mengajarinya apa yang tidak diketahuinya. Melalui ilham Allah, manusia menjalani kehidupan manusia sejak pertama kali dia eksis.

PENEMUAN DI PENGGALIAN “EIN GEV I” MEMBANTAH TESIS EVOLUSI SEJARAH

Riset mengungkap bahwa manusia yang hidup ribuan tahun silam memakai peralatan yang serupa dengan yang dipakai di area pedesaan hari ini. Batu gerinda untuk menggerinda biji-bijian, lesung batu, dan arit ditemukan di fondasi sebuah gubuk yang berasal dari tahun 15.000 SM di situs penggalian yang dikenal sebagai “Ein Gev I” di Palestina modern. Yang tertua dari peralatan ini berasal dari tahun 50.000 SM.

Semua objek yang ditemukan di galian ini mengungkap bahwa kebutuhan manusia tetap sama sepanjang masa. Solusi-solusi yang dikembangkan manusia sangat serupa satu sama lain, sebanding dengan teknologi di masanya. Perkakas untuk memanen dan menggerinda biji-bijian—peralatan yang sama yang sebagian besar dibutuhkan di area pedesaan hari ini—juga dipakai di periode tersebut.

One thought on “Zaman Batu – Kebohongan Sejarah (III. Peradaban Mengalami Kemunduran dan Juga Kemajuan)

  1. gais gais kan ada internet yg bakal rekap semua data kita, jaringan ini datanya ga hilang krn akan terus semakin diperebarui sehingga bisa keliatan perubahannya, lagian kan metode penelitian yang mereka publish ga cuma dari barang yg mereka temuin aja, mreka juga bakal tanya dengan penduduk sekitar berdasarkan sejarahnya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s