Jebakan Filsafat: Paradoks Logika [terperangkap offside]

Oleh: Sainstory

Beberapa waktu lalu kami mengunjungi situs filsafat tentang paradoks logika, begini bunyi paradoks logika tersebut:

Apakah Tuhan mampu menciptakan batu yang tidak bisa diangkat oleh Dia sendiri?

  • Jika mampu, berarti ada batu yang tidak bisa diangkat oleh Diri-Nya sendiri (berarti Dia tidak Maha Kuasa)
  • Jika tidak mampu, berarti Dia tidak Maha Kuasa.

Astagfirullahal ‘adziim…
Hati-hatilah dengan hati Anda, hati kita. Bisikan setan bekerjasama dengan kelalaian dan kejahilan hati.

Karena kami bukan ulama (dalam ilmu agama dan ilmu logika), maka kami hanya mengarahkan pada pentingnya memahami penggunaan kata ‘menciptakan’. Mungkin kami hanya bisa menerangkan dengan pertanyaan lain:

Pertanyaan:
Apakah novelis mampu [me…] karya yang tidak bisa ditulis oleh dirinya sendiri?

Keterangan penggunaan [me…]:

  • Kata dalam kurung tutup di atas adalah kata yang tidak bisa didefinisikan dalam bahasa & pemahaman manusia (karena kata dan apa yang dikatakan haruslah identik).
  • ‘Menciptakan’ hanyalah Hak ALLAH (subhanallah, ini adalah kata yang selaras/identik/mewakili antara sifat dan kehendak, antara kata dan apa yang dikatakan).
  • Kata ‘menemukan’ atau ‘memunculkan’ tidak tepat jika dilanjutkan dengan kata ‘ditulis’.
  • Hanya 1 kata (mungkin) yang bisa dipahami jika dipikirkan lebih mudah dipahami perbuatan, yaitu [mempopulerkan].

Jawaban:

Berbeda antara mempertanyakan Kehendak-Nya dengan mempertanyakan Perbuatan-Nya, namun yang berhak menerangkan apa itu Kehendak-Nya dan apa itu Perbuatan-Nya adalah:

  1. Al-Qur’an, karena Al-Qur’an tak akan bisa disampaikan kembali dalam bahasa selain Bahasa Arab dan tidak bisa disampaikan dan diterangkan dengan kalimat lain selain apa yang telah tertulis persis dalam Al-Qur’an.
  2. Para Nabi melalui kehidupannya.

Dan yang paling jelas, berbeda antara bertanya sebagai pihak ketiga (Nya atau Dia) dibandingkan bertanya sebagai pihak kedua (bertanya langsung). Bukan hal remeh, karena ini menyangkut kebenaran (dan hak-haknya), saksi (dan hak-haknya), dan (karena itu) tentang bagaimana sesuatu yang dipertanyakan itu dipertanyakan.

Tanggapan kami tentang pertanyaan mereka adalah sebuah pertanyaan juga:

Apakah filsuf itu bertanya tentang sesuatu yang tidak Aku ciptakan?

  • Jika ya, berarti ia tidak bertanya
  • Jika tidak, berarti ia tidak bertanya

Kata ‘menciptakan’ tidak bisa diuraikan (hanya ALLAH sendiri yang mengetahui apa arti kata ‘tiada’ dan ‘eksis’). Kata ‘menciptakan’ tidak bisa asosiasikan dengan angka karena itu tidak pula bisa diterangkan dengan logika matematika (sok tau).

Mengapa semua ini? Ada apa? (Dengan sedikit didramatisir hehe…)

Bahasa, peran bahasa. Bagaimana setiap kata dan apa yang dikatakannya haruslah identik. ‘Kata dan apa yang dikatakannya’ adalah gaya pengungkapan Al-Qur’an yang luar biasa. Untuk menyatakan dalam bentuk kalimat, sesuatu yang tidak bisa diterangkan (disampaikan) dalam bentuk kalimat.

Bagi orang yang menganggap Al-Qur’an bukan intisari pengetahuan untuk keberkahan hidup kita, manusia, harap dicatat, bahwa ALLAH mengatakan bagaimana Al-Qur’an sangat tinggi nilainya di Lauh Mahfudz. Pertanyaan, apakah ALLAH menulis sesuatu selain di Lauh Mahfudz? Bagaimana nilai ‘bab’ dalam sebuah ‘buku’? Ataukah ALLAH menulis selain di Lauh Mahfudz?

Mungkin tulisan ini tidak memberikan jawaban yang haq (atau malah mungkin terkesan sok tau). Tapi pertanyaan filsafat itu memberi bukti dari sisi lain tentang kebenaran ALLAH SWT dan Rasul-Nya. Yang penting diperhatikan adalah kita harus memahami penggunaan kalimat ‘menciptakan’. Tidak akan ada yang bisa menyampaikan kepada makhluk, bahwa Dia telah mengatakan “Kun”, selain Diri-Nya sendiri yang telah menghendaki.

Wallahu’alam (kami selalu lupa menuliskan kalimat ini, semoga ALLAH mengampuni).

——————-
Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai. (QS. Al-Anbiyaa [21]: 23)

Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (QS. Al-Hajj [22]: 74)

…Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al-‘Araaf [7]: 54)

Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Kun (jadilah)”, maka jadilah ia. (QS. An-Nahl [16]: 40)

Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia. (QS. Yaasiin [36]: 82)

Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan, maka apabila Dia menetapkan sesuatu urusan, Dia hanya bekata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia. (QS. Al-Mu’min [40]: 68)

Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia. (QS. Maryam [19]: 35)

Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia. (QS. Al-Baqarah [2]: 117)

10 thoughts on “Jebakan Filsafat: Paradoks Logika [terperangkap offside]

  1. Filsuf materialistis yang mengajukan pertanyaan ini adalah filsuf yang tak tahu ilmu materi. Dia harus belajar dulu gagasan teori gravitasi quantum agar memahami konsep ruangwaktu secara terpadu, sebab eksistensi materi biasa terikat ruangwaktu. Setelah memahami ini barulah berlanjut dengan pertanyaan, “Di mana titik awal ruangwaktu?”

  2. Coba kita bandingkan dengan pertanyaan:

    Mengapa tak ada yang bisa melebihi kecepatan cahaya?
    Itu pertanyaan umum yang diajukan kita orang awam, yang pada awalnya bahkan para fisikawan pun heran dengan fakta itu, semua akibat penelitian Einstein. “Jika hari ini belum bisa menemukan sesuatu yang lebih cepat dari cahaya bukan berarti tidak ada yang lebih cepat dari cahaya” adalah tanggapan orang awam. Cari-cari tentang sifat cahaya.

    atau, Apakah ALLAH mampu menciptakan sesuatu yang tak terhitung jumlahnya?

    Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengiaskan “masih terjebak dalam dunia materi”.

    Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai. (QS. Al-Anbiyaa [21]: 23)

    Ayat tersebut bisa dipertanggungjawabkan secara ilmu pengetahuan bukan hanya emosional keagamaan semata.

    Wallahu ‘alam

  3. sy bingung, jd bila satu satu saat ada bertanya seperti itu, apa yg kami orang awam ini harus menjawab?

  4. Rasulullah saw. bersabda: “Tak henti-hentinya manusia bertanya-tanya, sampai-sampai dikatakan: Allah menciptakan makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah? Barang siapa yang merasakan keraguan dalam hatinya, maka hendaklah ia berkata: Aku beriman kepada Allah.” (HR. Muslim)

    Dari Rasulullah saw., beliau bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Sesungguhnya umatmu tak henti-hentinya bertanya: Kenapa begini, kenapa begini? Sampai-sampai mereka mengatakan: Allah menciptakan makhluk, lalu siapakah yang menciptakan Allah.'” (HR. Muslim)

    Karena kami juga orang awam. Tidak semua jawaban bisa diuraikan dengan kalimat meskipun manusia mengetahuinya dengan baik.

    Lebih baik sering-sering membaca Al-Quran. Jawabannya ada di sana tapi tidak secara langsung seperti ya atau tidak. Saat kita membaca Al-Quran, kita diberikan kesadaran lebih dari sekedar membaca buku biasa lainnya.

    Informasi dan kesadaran yang dikandung pembaca menentukan peran saat membaca, bertanya, menulis, berkata.

    Wallahu ‘alam

  5. Pikirkan ayat ini:
    Katakanlah: “Jadilah kamu sekalian batu atau besi, atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin (hidup) menurut pikiranmu.” (QS. Al-Israa’ [17]: 50-51)

  6. nggak perlu ahli logika atau mahir fisikakuantum/relativitas untuk menjawab pertanyaan tersebut.

    Pertanyaan itu merupakan bentuk KESALAHAN LOGIKA begging the question, yaitu bentuk kesalahan logika yang berupa pertanyaan yang pincang, tidak logis dan mustahil.

    coba kita lihat:
    Apakah Tuhan mampu menciptakan batu yang tidak bisa diangkat oleh Dia sendiri?

    Premis I: Tuhan mampu menciptakan batu = Tuhan Maha Kuasa
    Premis II: Tuhan tiidak bisa mengangkat batu tsb = Tuhan TIDAK Maha Kuasa

    jadi intinya kita dijebak, mungkinkah Tuhan Maha Kuasa SEKALIGUS Tidak Maha Kuasa dalam satu waktu yang sama?

    itu sama saja dengan pertanyaan:
    1. Dapatkah Tuhan menggambar Persegi Empat yang bulat?
    2. Dapatkah Tuhan menciptakan benda yang bisa bergerak sekaligus diam dalam satu saat?

    jadi Persegi empat yang bulat, benda yang bergerak sekaligus diam, Maha kuasa sekaligus tidak maha kuasa, itu adalah hal-hal yang MUSTAHIL menurut akal manusia dan TIDAK MUNGKIN TERJADI.

    karena, itu bertentangan dengan dengan prinsip logika ke dua: Prinsip Kontradiksi yang menyatakan bahwa suatu benda tiadk mungkin memiliki dua sifat yang berlawanan sekaligus.

    jadi, kesalahan bukan pada Tuhan atau Jawaban anda, tapi Kesalahan terdapat pada pertanyaannya

  7. bagi kita semua, yang awam, bila ada pertanyaan semacam tadi ya insya allah begitu jawaban yang rasional, yang bisa diterima akal sehat. kalau kurang puas, coba suruh orang tersebut belajar tentang KESALAHAN LOGIKA, untuk menemukan jenis kesalahan logika seperti tersebut di atas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s