Qada dan Qadar

Oleh: K.H. Miftah Faridl (Ketua Umum MUI Kota Bandung, dosen ITB, Ketua Yayasan Unisba, dan pembimbing Haji Plus dan Umrah Safari Suci)
(Sumber: Pikiran Rakyat, Kamis 31 Maret 2011, hal. 31)

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar orang berkata, “Nasib diri kita ditentukan kita sendiri. Rajinlah bekerja pasti sukses.” Di lain pihak, ada juga seseorang yang berkata, “Tak perlu bekerja maksimal karena nasib kita sudah ditentukan Allah. Kita hanya bisa menerima. Sudah, pasrah saja.”

Dalam ajaran Islam, dikenal adanya iman kepada qada dan qadar Allah. Hal itu berdasarkan pada hadits Nabi Muhammad yang diriwayatkan Imam Muslim, yang mengisahkan dialog antara Nabi dan seorang tamu yang kemudian diketahui sebagai Malaikat Jibril. Sang tamu menanyakan tiga hal kepada Nabi yakni makna iman, Islam, dan Ihsan. Untuk persoalan iman, Nabi Muhammad menjawab, “Iman adalah engkau mengimani Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir, dan qada-qadar yang baik ataupun buruk.” Mendengar jawaban Nabi, sang tamu pun berkomentar, “Engkau benar.”

Alquran tidak pernah menerangkan urutan keimanan dalam rukun iman yang diakhiri dengan iman kepada qada dan qadar. Alquran menyebutkan qada dan qadar dalam banyak ayat terpisah. Oleh karena itu, ada sebagian ulama yang menyebutkan rukun iman hanya sampai lima yakni hari akhir, sedangkan qada dan qadar tetap harus diimani layaknya kewajiban mengimani adanya jin, setan, dan lain-lain.

Apabila kita keliru dalam memahami ayat-ayat Alquran akan terkesan Allah menentukan segala-galanya dan manusia tidak mempunyai hak apa pun untuk menentukan nasibnya sendiri. Ayat Alquran yang menentukan kekuasaan Allah Maha Mutlak antara lain QS 6: 112, QS 13: 11, QS 11: 57, QS 22: 8, QS 17: 76, dan QS 3: 26-27. Dalam ayat-ayat itu, menentukan baik dan buruk seseorang datang dari Allah. Namun, banyak juga ayat Alquran yang menyatakan adanya kebebasan manusia untuk menempuh jalan hidup yang dikehendakinya. Ayat-ayat itu antara lain QS 18: 29, QS 41: 40, QS 3: 164, QS 13: 11, QS 76: 23, dan QS 90: 10.

Ayat-ayat itu memberikan kesan manusia menentukan nasibnya sendiri sehingga berhak mendapatkan pahala karena perbuatan baiknya. Manusia juga pantas menerima siksa karena kejahatan yang dilakukannya. Allah menciptakan manusia, tetapi tidak dengan perbuatannya.

Dalam pemikiran Islam, dikenal adanya dua arus utama pemikiran menyikapi qada dan qadar yakni aliran qadariyah dan jabbariyah. Aliran qadariyah diambil dari kata qudrah yang bermakna kekuatan atau kekuasaan. Paham ini menyatakan manusia memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk menentukan jalan hidupnya dan bebas melaksanakan keinginan dan kehendaknya.

Qadariyah hanya meyakini penciptaan pertama manusia oleh Allah. Namun, manusia berkembang sesuai dengan hukum alam yang berlaku secara umum. Pandangan kelompok ini meyakini adanya kebebasan manusia untuk berkehendak (free will) dan bebeas berbuat (free act).

Sementara aliran kedua sering disebut jabbariyah, yang berawal dari kata jabbaru (memaksa). Aliran ini meyakini manusia tidak memiliki pilihan dan kebebasan dalam menentukan perbuatannya. Manusia dipaksa untuk memilih dan melakukan sesuatu yang keputusannya telah ditetapkan oleh Allah swt.

Dalam faham Barat, aliran semacam qadariyah disebut indeterminisme (serba ikhtiar) dan jabbariyah sebagai determinisme (serba takdir). Banyak filsuf Barat yang mengembangkan kedua aliran itu yang berpengaruh kepada kaum Muslim sampai saat ini.

Lalu, bagaimana kita mendekatkan pengertian antara kedua ayat yang terkesan bertolak belakang itu? Dalam memandang masalah takdir manusia, Nabi Muhammad menganjurkan agar manusia tidak terlalu banyak memikirkan dan memperbincangkannya karena merupakan kekuasaan Allah swt yang tidak mungkin terjangkau secara tuntas dengan pemikiran manusia.

Sahabat Abu Hurairah ketika ditanya masalah takdir memberikan jawaban, “Itu adalah jalan gelap maka jangan kau lalui.” Atau, lautan yang amat dalam maka jangan kau terjuni.

Untuk memberikan jawaban terhadap qada dan qadar itu, kita bisa belajar dari Khalifah Umar bin Khattab. Diriwayatkan, panglima perang yakni Abu Ubaidah diminta untuk memindahkan pasukannya dari daerah yang sedang terjangkit penyakit menular. Atas permintaan itu, Abu Ubaidah menolak keras dengan menyatakan, “Apakah engkau akan lari dari qada Allah yang telah ditentukan?”

Mendengar hal itu, Umar tersenyum lantas menjawab, “Aku lari dari qada Allah untuk menuju qadar-Nya,” kata Umar.

Peristiwa itu memberikan gambaran, Allah menetapkan keputusan (qada) bahwa di daerah itu terjadi penyakit menular tetapi Allah membuat aturan (qadar) yakni kalau seseorang berusaha menjauhi daerah itu, ia tidak akan terkena penyakit.

Manusia diwajibkan berupaya, misalnya berikhtiar untuk menjemput rezeki yang telah ditetapkan Allah. Berikhtiar merupakan sarana manusia sekaligus jalan ibadah agar mendapatkan ketentuan dari-Nya. Wallahualam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s