Fosil Mengindikasikan, “Lucy” Tidak Berayun, Ia Berjalan Seperti Kita

Oleh: Brian Handwerk
10 Februari 2011
(Sumber: www.nationalgeographic.com)

Studi mengatakan, leluhur manusia mungkin tidak jauh lebih baik dalam memanjat dibanding manusia modern.

Tulang kaki Australopithecus afarensis yang baru ditemukan (kiri atas) dibandingkan dengan kaki manusia.

Sebuah fosil tulang kaki yang belum pernah ditemukan sebelumnya tampaknya menegaskan bahwa Australopithecus afarensis—leluhur awal manusia yang terkenal lewat kerangka “Lucy”—berjalan seperti manusia modern, kata studi baru.

Hingga sekarang belum jelas seberapa tegak—sedikit-banyak, seberapa manusiawi—[tubuh] Lucy sebetulnya. (Materi terkait: What was Lucy?)

Dengan fosil A. afarensis yang baru ditemukan, “hampir segala hal yang Anda perkirakan dari kaki bipedal modern terdapat di sini,” kata antropolog C. Owen Lovejoy, yang tidak terlibat dalam riset.

“Saya tak tahu apa lagi yang dunia inginkan untuk menunjukkan bahwa berjalan tegak yang serupa dengan manusia modern terdapat” pada A. afarensis.

Ditemukan di sebuah situs fosil A. afarensis terkenal di Hadar, Ethiopia, fosil berumur 3,2 juta tahun itu berupa metatarsal, salah satu dari lima tulang panjang yang menghubungkan tulang besar di punggung kaki dengan tulang jari kaki.

Ukuran dan bentuk fosil memungkinkan ilmuwan untuk menetapkan bahwa kaki pemilik fosil tersebut kaku dan punya lengkungan yang jelas—dua fitur yang membantu manusia modern meloncat ke depan dan yang membantali goncangan berjalan bidepal.

Ilmuwan sudah tahu, dari fosil pinggul dan peninggalan lannya, bahwa A. afarensis boleh jadi berjalan dengan dua kaki dan tak lagi memiliki “jempol kaki” mirip kera yang digunakan oleh spesies leluhur manusia lainnya untuk menggenggam dan memanjat.

Tapi sebelum penemuan metatarsal baru tersebut sulit mengatakan dengan pasti apakah Lucy dan familinya meninggalkan pepohonan untuk selamanya.

(Lihat gambar penyusunan ulang Lucy)

Lucy “Sepenuh Hati” Berjalan
Sementara kaki kera melentur di tengahnya untuk memungkinkan pemanjatan yang lebih baik, kaki berlengkungan seperti punya manusia—dan, rupanya seperti punya Lucy—bersifat kaku, memungkinkan kaki bipedal mendorong kita ke depan secara lebih efisien, kata penulis studi terkemuka Carol Ward, antropolog di Universitas Missouri.

Kaki seperti itu juga memiliki penyerap goncangan alami untuk membantali tekanan berjalan tegak. Hari ini pun, orang-orang bertelapak tak efisien, atau “kaki rata”, menderita sekumpulan masalah gabungan di sepanjang kerangka mereka.

Kaki A. afarensis tampaknya telah beradaptasi dengan baik untuk menghadapi efek samping bipedalisme semacam itu, sehingga merusak kemampuan mereka memanjat pohon, menurut studi tersebut, yang akan dipublikasikan besok dalam jurnal Science.

“Mereka mungkin tidak jauh lebih hebat dalam memanjat di pepohonan dibanding Anda dan saya, walaupun mereka tentu lebih kuat,” kata Ward.

“Sepertinya A. afarensis sepenuhnya menjalani kehidupan di permukaan tanah jauh sebelum Homo”—spesies yang sungguh-sungguh manusiawi—“muncul sekitar dua juta tahun lampau.”

(Materi terkait: “Lucy’s Baby”—World’s Oldest Child—Found by Fossil Hunters.)

Kaki Modern untuk Australopithecus Afarensis
“Sekarang kita betul-betul mempunyai banyak material dari A. afarensis,” kata Lovejoy, dari Kent State University di Ohio.

“Semua fitur kaki ini tidak mengherankan bagi saya. Beberapa bahkan terdapat pada kaki Ardipithecus ramidus”—alias Ardi—4,4 juta tahun lampau,” kata Lovejoy.

Terungkap pada 2009, Ardi membantu menghilangkan dugaan bahwa sebuah mata-rantai hilang mirip kera menempati dasar pohon keluarga manusia.

“Kaki Ardi sudah berupa kaki bipedal yang amat bagus, walaupun spesies tersebut mempertahankan jari opposable (mampu menghadap dan menyentuh jari lain di kaki yang sama—penj) yang hebat.”

Kaki A. afarensis tampaknya jauh lebih maju daripada perkiraan sebelumnya, kata Lovejoy. Ia memperlihatkan nuansa adaptasi psikologis yang Anda harapkan terhadap titik akhir perkembangan kaki bipedal modern, tambahnya.

Penulis studi Ward sependapat. “Kaki tersebut modern. Itu sungguh bukan kompromi antara berjalan dan memanjat,” katanya.

(Lihat juga “Lucy” Kin Pushes Back Evolution of Upright Walking.)

Hubungan Antara Kaki dan Teman
Fosil ini boleh jadi menceritakan lebih banyak lagi tentang A. afarensis dibanding bagaimana spesies tersebut berjalan.

“Pentingnya meninggalkan jari penggenggam—yang sangat berguna untuk dimiliki—demi kaki modern memberitahu kita betapa pentingnya keefektifan di permukaan tanah dari segi kelangsungan hidup dan reproduksi,” kata Ward.

Berjalan bipedal yang efisien memungkinkan A. afarensis meninggalkan hutan sama sekali, manakala dibutuhkan—barangkali untuk mencari makanan atau mendiami area lain, katanya.

Lovejoy dari Ken State mengatakan, “Kami pikir Ardipithecus ramidus terbatas di daerah hutan.”

“Tapi dalam transisi dari Ardipithecus ramidus menjadi A. afarensis, antara 4,4 sampai 3,8 juta tahun lampau, Anda mendapati binatang yang sedang mulai menyebar ke lingkungan baru seperti pinggiran danau, savana, dan [padang rumput],” tambah Lovejoy.

“Satu-satunya jalan binatang-binatang ini bisa berbuat demikian adalah adanya budaya sosial yang maju. Binatang berkaki dua yang relatif lambat di savana sama dengan binatang mati—kecuali jika ia punya banyak teman di sekelilingnya.”

Bacaan lebih lanjut: Lucy the Butcher? Tool Use Pushed Back 800,000 Years.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s