Kisah Sepanjang Zaman Bag. 7: Syadad bin ‘Ad

Oleh: Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas
(Sumber: “Kisah Penciptaan dan Tokoh-tokoh Sepanjang Zaman”; diterjemahkan oleh Abdul Halim, Bandung: Pustaka Hidayah, Cet. I, Oktober 2002, hal. 138-141)

Wahab bin Munabbih mengatakan bahwa dia adalah Syadad bin ‘Ad bin ‘Aush bin Arum bin Sam bin Nuh. Syadad bin ‘Ad mempunyai anak yang banyak. Menurut sebuah riwayat, anaknya mencapai 4000 dan dia telah menikahi 1000 wanita. Dia hidup selama 1000 tahun. Al-Kisa’i mengatakan, ketika ‘Ad mau meninggal, dia mengangkat tiga anaknya untuk menjadi penggantinya, yaitu Syadad, Syadid, dan Arum. Syadad adalah anak ‘Ad yang terbesar. Dia dituruti oleh banyak pelayan karena sesuatu yang dia miliki setelah kepergian ayahnya. Tatkala keagungannya kian bertambah, dia memerangi raja-raja yang ada di seantero bumi, membunuh mereka, menguasai tanah dan tempat tinggal mereka. Dia memegang tampuk kerajaan dunia dari timur hingga barat dalam genggaman kekuasaannya.

Wahab bin Munabbih mengatakan, belum pernah ada yang bisa menguasai dunia seluruhnya kecuali empat orang: dua Mu’min dan dua lagi kafir. Yang Mu’min adalah Sulaiman bin Daud as dan Iskandar Dzulqarnain. Sementara yang kafir adalah Syadad bin ‘Ad dan Namrudz bin Kan’an. Menurut sebuah pendapat lain, yang satunya lagi adalah Nebukadnezzar. Alah sajalah yang lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Dalam hal ini ada sebuah syair:

Kita telah sering mendengar raja-raja yang binasa.
Mereka menguasai dunia dan apa yang mereka kuasai.
Kematian menyedihkan kehidupan mereka.
Mereka meninggalkan dunia dan apa yang harus mereka tinggalkan.

Suatu hari, Imam Ali ra pernah ditanya, “Ceritakanlah kepada kami tentang sifat dunia!” Maka Imam Ali ra menjawab, “Apa yang mesti aku katakan pada kalian? Dunia adalah sebuah negeri yang awalnya penuh dengan kesusahpayahan dan akhirnya adalah kebinasaan. Barang yang halalnya akan diminta pertanggungjawaban dan yang haramnya akan mendapatkan hukuman. Orang yang tidak membutuhkan dunia akan mendapatkan fitnah, dan orang yang membutuhkannya akan sedih.”

Rasulullah sw bersabda, “Seandainya dunia di sisi Allah ada nilainya walau hanya seukuran sayap nyamuk, tentu orang kafir tidak akan pernah diberi-Nya seteguk air.” Dalam makna ini ada sebuah syair:

Demi Allah, seandainya seluruh dunia dikekalkan untuk kita
dan rezekinya diberikan dengan lapang,
tentu tidak akan ada orang yang merdeka
yang akan menghinakannya.
Tapi, bagaimana mungkin, dunia itu hanyalah
barang yang esok hari bakal punah.

Al-Kisa’i mengatakan bahwa Syadad bin ‘Ad dahulunya adalah orang yang sangat tertarik membaca kitab-kitab terdahulu yang telah diturunkan kepada para nabi. Setiap kali dia mendengar tentang sifat-sifat surga, dirinya merasa senang. Dalam hatinya terbersit untuk mendapatkan surga semacam itu di dunia. Semakna dengan ini ada sebuah syair:

Aku mencintai kalian sebelum aku melihat kalian
karena cerita tentang sifat-sifat kalian begitu baik.
Begitu juga surga sangat dirindukan
karena ia begitu indah walaupun belum pernah dilihat.

Syadad bin ‘Ad memerintahkan salah seorang menterinya, dia memiliki seribu menteri, untuk mengumpulkan orang-orang pintar dan para arsitek untuknya dan menyuruh mereka untuk mencarikan tanah yang luas, udaranya baik, dan banyak sungai dan pepohonannya, untuk membangun surga yang besar untuknya. Berangkatlah sang menteri beserta pasukannya yang pintar-pintar. Mereka berangkat menyusuri pelosok bumi. Tatkala mereka sampai ke daerah Aden yang ada di pinggiran Yaman, di sana mereka menemukan tanah yang cocok dengan kriteria yang diinginkan Syadad bin ‘Ad.

Mereka kembali kepada Syadad bin ‘Ad, melaporkan tentang tanah tersebut. Setelah mendapatkan laporan tentang tanah tersebut, Syadad bin ‘Ad mengutus tukang bangunan dan para arsitek ke sana. Mereka berkumpul di tanah itu; lalu mereka mengatur-atur dan membatasinya menjadi pola empat sisi. Lingkaran tanah itu berukuran empat farsakh. Setiap sisinya berukuran sepuluh farsakh. Ketika para pekerja itu telah menggali fondasi kota tersebut, di sana mereka telah mendirikan pagar dari batu pualam yang diberi lukisan berbintik-bintik, sisi-sisinya telah setengahnya mereka kerjakan. Hal tersebut mereka laporkan kepada Syadad bin ‘Ad.

Mendengar laporan tersebut, Syadad bin ‘Ad berkata kepada para menterinya, “Tidakkah kalian tahu bahwa aku telah menguasai dunia seluruhnya?” Para menteri menjawab, “Tahu paduka.” Dia berkata, Aku ingin kalian membuat semua bangunan ini dengan emas, perak, permata, mutiara, yakut, minyak kesturi, kafur, zafaron, dan perhiasan-perhiasan indah lainnya.” Maka, atas perintah itu mereka mengumpulkan untuknya semua yang ada pada mereka dan apa yang ada di tangan orang-orang. Mereka pergi ke seantero dunia dan membawa semua yang telah dititahkan. Orang-orang mengerjakan semua itu dengan tabah. Semua pelosok mereka susuri untuk mendapatkan apa yang diinginkan oleh sang raja.

Setelah semuanya terkumpul, mulailah para pekerja membuat bata dari emas dan perak; kemudian bata-bata itu dipasangkan di atas batu pualam itu sehingga sisi-sisinya rampung dikerjakan. Setelah mereka merampungkan pembuatan pagar kota itu, mulailah di tengah-tengahnya mereka bangun gedung yang bahannya hanya terbuat dari emas dan perak. Untuk bangunan itu tiang-tiangnya mereka buat dari zabarzud hijau dan yakut merah. Gedung itu mereka percantik dengan pepohonan yang terbuat dari mutiara, yakut, permata, dan sungai yang mengalir. Di sekitar gedung ditebarkan minyak kesturi, anbar (minyak wangi dari ikan), dan kafur. Semua itu mereka bangun dengan kreasi yang menakjubkan dan sempurna yang tidak akan ditemukan bandingannya di dunia ini, bahkan setengahnya pun tidak.

Al-Kisa’i mengatakan, pembangunan kota itu memakan waktu 300 tahun. Setelah pembangunannya selesai, hal itu dilaporkan kepada sang raja. Mendengar laporan tersebut, raja memerintahkan kepada para menteri, pembantu, dan punggawanya untuk memindahkan perabot dan wadah-wadah yang megah ke sana. Perintah itu mereka kerjakan selama sepuluh tahun. Setelah mereka selesai, Raja Syadad, beserta seluruh wanitanya, pelayannya, menteri, pembantu beserta wanita-wanitanya, dan para punggawanya, berangka ke sana dengan menggunakan tunggangan yang berpelanakan dari emas yang sempurna hasil kreasi para arsiteknya.

Ketika mereka sampai ke pintu kota itu, dan raja ingin masuk ke sana terlebih dahulu, tiba-tiba ada seorang malaikat yang diutus oleh Allah kepada Syadad. Malaikat itu berkata, “Hai Syadad, jika engkau mengakui keesaan Allah, maka aku mempersilahkanmu untuk masuk. Akan tetapi, jika engkau tidak mau mengakuinya, maka pada saat ini juga aku akan merenggut ruhmu.” Ketika Syadad mendengar ujaran malaikat itu, dia menolak, kafir, dan mendurhakainya. Oleh karenanya, malaikat itu berteriak kepada mereka dengan sekali teriakan sehingga mereka semuanya mati, tidak ada seorang pun dari mereka yang masuk ke kota itu.

Wahab bin Munabbih mengatakan, di muka bumi tidak pernah ada sebuah kota yang seperti kota itu. Allah berfirman: “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad? (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain,” (QS al-Fajr [89]: 6-8).

Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat. As-Sadi mengatakan bahwa kota yang telah dibangun oleh Syadad bin ‘Ad hingga saat ini masih ada. Seorang laki-laki keturunan Arab yang bernama ‘Abdullah bin Qilabah pernah masuk ke sana. Kejadian itu terjadi pada masa kekhalifahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan pada tahun 48 H.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s