Kisah Sepanjang Zaman Bag. 9: Penduduk Rass

Oleh: Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas
(Sumber: “Kisah Penciptaan dan Tokoh-tokoh Sepanjang Zaman”; diterjemahkan oleh Abdul Halim, Bandung: Pustaka Hidayah, Cet. I, Oktober 2002, hal. 148-150)

Allah berfirman: “Dan (Kami binasakan) kaum ‘Ad dan Tsamud dan Penduduk Rass dan banyak (lagi) generasi-generasi di antara kaum-kaum tersebut.” (QS al-Furqan [25]: 73).

As-Sadi mengatakan, Penduduk Rass adalah sisa-sisa kaum Tsamud. Mereka adalah penduduk sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi yang keduanya diceritakan oleh Allah di dalam al-Quran. As-Sadi mengatakan bahwa sumur yang ditinggalkan terletak di tanah Aden. Penduduk kota tersebut mengambil air dari sana siang dan malam. Di sumur terdapat tujuh puluh kerekan dengan tujuh puluh embernya serta beberapa lelaki yang dipercayakan mengurusinya. Di dekat sumur tersebut ada penampungan air yang dipakai untuk pemandian.

Ketika penduduk daerah itu menyembah berhala sisa-sisa kaum Tsamud, Allah mengutus kepada mereka seorang nabi yang bernama Hanzhalah bin Shafwan. Nabi tersebut mengajak mereka untuk mengesakan Allah, tetapi mereka tidak menyambutnya. Karena dia kukuh mengajak mereka mengesakan Allah, mereka membunuhnya dan lalu melemparkan mayat nabi tersebut ke dalam sumur itu. Setelah mereka lemparkan nabi itu, air di sumur tersebut menghilang merembes ke dalam tanah sehingga penduduknya banyak yang binasa karena kehausan. Binatang-binatang pun binasa karena di sana tidak ada air selain sumur itu, maka Allah menyebutnya sumur yang ditinggalkan.

Yang dimaksud dengan Qashr Masyid (istana yang tinggi) adalah gedung yang telah dibangun oleh Syadad bin ‘Ad di tanah Aden. Gedung tersebut sangat kukuh. Ketika tahun demi tahun berlalu, gedung tersebut dikuasai oleh jin sehingga tidak ada seorang pun manusia yang mampu mendekati sampai satu mil ke gedung tersebut karena di sana terdengar suara-suara jin dan kegaduhan mereka siang dan malam. Al-Kisa’i mengatakan bahwa Penduduk Rass menetap di tanah Hadhramaut dan kota mereka dinamakan dengan Rass. Kota tersebut memiliki berbagai pepohonan, buah-buahan, dan kampung-kampung yang makmur. Di sana, tinggal beberapa kelompok dari Penduduk Rass yang menyembah berhala dan kelompok yang menyembah api.

As-Sadi mengatakan, Allah membinasakan Penduduk Rass karena mereka menggauli wanita pada duburnya dan mereka tidak beriman kepada nabi mereka, Hanzhalah bin Shafwan. Setelah kekufuran dan kesesatan mereka bertambah-tambah, Jibril berteriak kepada mereka dengan sekali teriakan sehingga mereka berubah menjadi batu hitam, begitu juga barang-barang dan binatang ternak mereka. As-Sadi menambahkan bahwa setelah Dzul Qarnain mengelilingi berbagai negeri dan memasuki kota Rass, dia menemukan rajanya, penduduknya, wanitanya, anak-anaknya, hewan-hewannya, barang-barangnya, pepohonannya, dan buah-buahnya, semuanya menjadi batu hitam.

Al-Kisa’i mengatakan, di kota tersebut ada sebuah gunung tinggi yang bernama Gunung Falaj. Gunung tersebut dijadikan tempat berlindung oleh ‘Anqa’ yang sangat besar. Apabila binatang itu terbang, ia bisa menutupi matahari seperti layaknya awan. Lehernya seperti leher unta, memunyai empat sayap, dua panjang dan dua lagi pendek. Bulunya berwarna-warni, suka mengangkat kuda, unta, gajah yang mati, dan binatang yang lainnya dengan cakarnya dan membawanya ke gunung tempat berdiamnya.

Ketika binatang itu kian membahayakan, suka menyambar anak manusia yang masih kecil, lalu dibawa ke gunung dan mereka dijadikan santapan bagi anak-anaknya yang baru menetas dari telurnya, maka penduduk kota tersebut mengadukannya kepada nabi mereka, Hanzhalah bin Shafwan. Atas pengaduan tersebut, Nabi Hanzhalah berdoa agar Allah membinasakan ‘Anqa’. Dia berdoa, “Ya Allah, matikanlah binatang tersebut dan putuskanlah keturunannya.” Setelah itu, binatang tersebut jatuh dari langit dan kemudian terbakar bersama anak-anaknya hingga tak ada lagi wujudnya.

Sebagian orang Arab mengingkari keberadaan binatang bernama ‘Anqa’ ini. Menurutnya, itu hanyalah sebuah cerita yang dikarang oleh orang-orang Arab. Dalam hal ini ada sebuah syair:

Aku telah belajar banyak dari anak-anak zaman.
Mereka tidak bisa dijadikan sahabat,
tetapi aku mesti bisa memilih-milih kesempatan.
Akhirnya, aku tahu bahwa yang mustahil itu ada tiga,
raksasa, ‘Anqa’, dan sahabat yang sempurna.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s