Muslim Gelgel – Generasi Islam Pertama

Oleh: Ahmad Baraas
(Sumber: Republika, Rabu 28 September 2011, hal. 24)

Bila dibandingkan dengan jumlah umat Islam di daerah lainnya, umat Islam di Kabupaten Klungkung tergolong nomor buncit.

Desa Gelgel terletak sekitar lima kilometer di sebelah selatan kota Semarapura, Bali. Di desa itulah umat Islam pertama di Bali bermukim. Mereka berasal dari kalangan kerajaan Majapahit yang bertugas ke Bali pertengahan abad ke-14, membawa misi dakwah untuk mengislamkan Raja Klungkung Dalem Ketut Ngelesir. Namun, utusan itu gagal menjalankan misinya dan akhirnya sebagian dari mereka memutuskan untuk menetap di Desa Gelgel dan sebagian lagi pulang ke Tanah Jawa.

Dari sejumlah sumber disebutkan bahwa Dalem Ketut Ngelesir adalah juga keturunan Raja Majapahit yang memisahkan diri dari kerajaan itu karena menolak proses islamisasi Kerajaan Majapahit yang dimotori oleh Raden Fatah, putera terakhir Brawijaya. Raden Fatah sendiri kemudian mendirikan kerajaan Demak yang sangat kental dengan nilai-nilai keislamannya, disusul dengan keruntuhan Majapahit Hindu.

Berdasarkan catatan yang dibuat oleh KUA Kecamatan Buleleng (1954) yang disusun kembali oleh Abdullatif, disebutkan bahwa misi dakwah dari Kerajaan Majapahit itu dipimpin Ratu Dewi Fatimah, salah seorang sepupu Dalem Ketut Ngelesir. Antara Dalem dan Dewi Fatimah sebelumya sudah menjalin cinta dan Fatimah bermaksud menemui Dalem ke Bali untuk mengajak memeluk Islam dan menyebarkan ajaran Islam di Bali.

Dewi Fatimah menjanjikan, jika Dalem mau memeluk Islam dia bersedia dipersunting oleh Dalem dan bersedia menjadi permaisuri Dalem. Terhadap ajakan itu, Dalem mengajukan syarat untuk kesediaannya memeluk Islam. Di antaranya meminta para ulama yang mengawal Dewi Fatimah untuk melakukan proses khitan. Jika mereka berhasil melakukan proses khitan, maka Dalem bersedia memeluk Islam.

Versi lainnya menyebutkan bahwa kedatangan sejumlah ulama dari Jawa ke Kerajaan Gelgel bertujuan mengajak Raja Dalem Ketut Ngelesir memeluk Islam. Atas ajakan itu Raja Dalem mengajukan tantangan, jika para pendakwah Islam itu bisa menggunting bulu kaki Dalem, maka dia bersedia memeluk Islam. Namun, ternyata para pendakwah itu gagal menundukkan kesaktian Raja Dalem dan akhirnya mereka kembali ke Jawa dan sebagian lagi menetap di Gelgel.

Kendati tercatat sebagai Muslim pertama yang menginjakkan kaki di Bali, secara kuantitatif umat Islam di Gelgel tidak mengalami perkembangan yang berarti. Bahkan, bila dibandingkan dengan jumlah umat Islam di daerah lainnya, umat Islam di Kabupaten Klungkung tergolong nomor buncit. Beberapa daerah yang kini menjadi tempat umat Islam bermukim di Klungkung, di antaranya Kampung Kusamba, Kampung Lebah, dan Kampung Jawa.

Asal-usul umat Islam di Bali di setiap daerah berbeda-beda. Selain di Desa Gelgel Kabupaten Klungkung, ada pula komunitas Muslim di Buleleng yang datang ke Bali pada abad ke-16, di Jembrana awal abad ke-17, juga Karangasem sekitar pertengahan abad ke-17. Peningkatan jumlah umat Islam di Bali tercatat terbanyak setelah kemerdekaan RI, baik yang datang ke Bali karena menjadi pegawai pemerintah maupun mengembangkan usaha atau berwiraswasta.

Dalam tulisannya yang berjudul “Mula Pertama Masuknya Islam di Buleleng” (1979), Ketut Gunarsa dan Suparman HS menuliskan, sebagaimana halnya masuknya Islam daerah lainnya di Bali, Islam di Buleleng juga disebarkan melalui jalur politik, bukan melalui jalur perdagangan. Jalur politik yang dimaksudkan Gunarsa dan Suparman adalah jalur pendekatan langsung ke pusat kerajaan, di mana hal itu disebabkan oleh banyaknya keluarga kerajaan di Pulau Jawa yang sebelumnya sudah terlebih dahulu memeluk Islam.

Pengaruh Islam
Pada 1587, I Gusti Ngurah Panji yang menjadi Raja pertama Buleleng menyerang kerajaan Blambangan, Jawa Timur, yang saat itu dipimpin Santa Guna. Kendati salah seorang putera Ngurah Panji gugur dalam pertempuran itu, Ngurah Panji berhasil memenangkan pertempuran. Berita kemenangan Ngurah Panji itu pun terdengar sampai ke Kerajaan Mataram (Dalem Solo). Karena itu, Dalem Solo kemudian menawarkan persahabatan dengan I Gusti Ngurah Panji dengan memberikannya hadiah seekor gajah untuk kendaraan Ngurah Panji.

Gajah tersebut diantarkan oleh tiga orang Jawa yang sudah memeluk agama Islam, yang selama ini bertugas menjadi penggembala gajah itu. Ngurah Panji pun menyambut hangat tawaran persahabatan itu dan membuatkan petak atau kandang bagi gajah hadiah Dalem Solo. Sementara, tiga orang penggembalanya diberi tempat berbeda. Dua orang tinggal di sebelah utara kandang gajah dan hingga kini tempat itu disebut dengan Banjar Petak atau Banjar Jawa.

Seorang lainnya tinggal di bagian sebelah barat daya kota Singaraja. Karena dia berasal dari kota Purbalingga atau Probolinggo Jawa Timur, maka tempat tinggalnya itu diberi namai Banjar Lingga. Di antara Banjar Jawa dan Banjar Lingga, gajah-gajah itu biasa berguling-gulingan (peguyangan), maka tempat itu diberi nama Pegayaman. Umat Islam di Pegayaman ini adalah keturunan dari umat Islam yang sebelumnya tinggal di Banjar Jawa.

Saat ini, umat Islam di Desa Pegayaman menjadi salah satu komunitas Muslim yang sangat kental dengan adat istiadat Bali. Misalnya dalam hal penggunaan nama, di mana mereka tetap menggunakan embel-embel, seperti Wayan, Negah, Nyoman, dan Ketut. Nama-nama itu diikuti dengan nama-nama Muslim, seperti Ketut Jamaludin, Nengah Robbihuddin, atau nama-nama lainnya. Dalam berkomunikasi sehari-harinya, seperti Muslim di Gelgel Klungkung, Muslim Pegayaman juga menggunakan bahasa Bali.

Di Jembrana, umat Islam masuk ke daerah itu dalam dua tahap. Menurut I Wayan Reken yang menulis sejarah masuknya Islam di Jembrana, umat Islam generasi pertama yang masuk ke Jembrana yakni periode pertama 1653-1655, sedangkan periode kedua antara 1660-1661. Muslim Jembrana ini kebanyakan berasal dari Sulawesi Selatan, mereka adalah panglima-panglima perang yang berperang melawan Belanda namun enggan menyerah.

Mereka pun melarikan diri menyebar ke beberapa daerah, termasuk ke Lombok, Kabupaten Badung, Tabanan, dan juga di Jembrana. Para pejuang Bugis itu pun memasuki aliran sungai yang bermuara di Desa Perancak. Mereka pun masuk ke utara dan begitu melihat kelokan-kelokan sungai, ada yang berteriak menyebut loloan atau kelokan. Karena itu mereka kemudian memberikan nama bagi tempat mereka bermukim dengan sebutan Loloan. Saat ini, Loloan terdiri dari dua desa, yakni Desa Loloan Barat dan Desa Loloan Timur.

Salah seorang tokoh umat Islam di Jembrana adalah Abdullah al-Qadri yang terkenal dengan nama Syarif Tua. Saat terjadi perang saudara di pemerintahan Jembrana, Syarif Tua yang membantu Punggawa Jembrana I Gusti Ngurah Made Pasekan melawan kelaliman Raja Jembrana Ida Anak Agung Putu Ngurah dan Wakil Raja Anak Agung Putu Raka, akhirnya memenangkan pertempuran. Saat itu, terjadi kevakuman kepemimpinan, namun Syarif Tua menolak menjadi pemimpin dan akhirnya mengembalikan jabatan raja kepada I Gusti Ngurah Made Pasekan.

Sikap rendah hati dan sikap tak mau mengambil keuntungan pribadi membuat Raja Jembrana semakin bersimpati dan hormat pada umat Islam. Kemudian Raja memberikan dua wilayah, yakni Loloan Barat dan Loloan Timur bagi pemukiman umat Islam. Perkembangan umat Islam di Bali tidak terlepas dari pengaruh masuknya umat Islam dari setiap periode ke daerah itu.

Generasi awal yang masuk ke Bali umumnya adalah orang-orang yang memiliki kebijakan yang tinggi, terdiri dari kalangan cerdik pandai, para punggawa kerajaan dan kalangan lainnya yang secara pribadi memang tergolong kelompok bermutu. Bagaimana dengan umat Islam generasi saat ini yang masuk ke Bali?

Di Kabupaten Badung, umat Islam yang pertama kali masuk ke daerah itu adalah kalangan pedagang Jawa yang karena mengalami kerusakan, perahunya terdampar di Tuban. Oleh Raja Pemecoetan III yang saat itu sedang berkuasa di Badung, para pemilik dan penumpang perahu itu ditangkap dan dibawa menghadap baginda raja. Oleh Raja Pemecoetan III, warga Jawa itu diajak berperang melawan Kerajaan Mengwi dan akhirnya Kerajaan Badung menang. Para pendatang Bugis ini kemudian diberi tempat menetap di Kepaon dan hingga saat ini hubungan kekeluargaan masih terjaga secara turun-temurun.

3 thoughts on “Muslim Gelgel – Generasi Islam Pertama

  1. alhamdulillah ya mertuaku orang bali sekarang dah memeluk islam.. Saya salut dg toleransi beragama orng bali. Keluarga mertuaku smua orng hindu tp kl keluarga kami datang diperlakukan dg baik kq dijamu dg makanan halal yg enak2. Bahkan waktu ada acara resepsipun undanganya 30% orng muslim.. Salut2 sm orang bali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s