Kehendak Bebas dan Kecerdasan Buatan

Oleh: Liz Paterek
9 Maret 2005
(Sumber: serendip.brynmawr.edu)

Kehendak bebas dapat timbul dari interaksi dua sistem algoritma karena ini bisa menghasilkan pilihan. Kekhawatiran manusia terhadap kecerdasan buatan didasarkan pada pertanyaan: apakah kehendak bebas eksis atau tidak. Orang-orang merasa terancam oleh gagasan bahwa kehendak bebas dapat timbul secara algoritmik dan kebetulan. Terdapat kekhawatiran bahwa pikiran akan menciptakan kehendak bebas sebagai ilusi untuk menjelaskan tindakan. Andai mesin mempunyai sesuatu yang mirip dengan kehendak bebas, ia akan menunjukkan bahwa kehendak bebas dapat timbul dari sistem algoritma, dan bahwa kehendak bebas mungkin timbul tanpa niat. Film-film sains fiksi menyajikan beberapa ekspresi kekhawatiran kultural terkuat.

Kehendak bebas adalah kemampuan untuk menciptakan opsi dan memilih di antara opsi-opsi tersebut tanpa agen eksternal semisal takdir atau kehendak ilahi.[1] Jika orang-orang mampu membuat pilihan yang mereka inginkan, berarti terdapat kehendak bebas. Namun, jika manusia hanya mampu mengikuti pola perilaku yang sudah ditetapkan, maka tak ada kehendak bebas. Contoh, jika seseorang merasa takut, dia punya pilihan antara melawan atau kabur. Jika orang tersebut, oleh sebab algoritma, hanya mampu memilih satu cerita, padahal bisa menciptakan dua-duanya, berarti dia tak punya kehendak bebas.

Carl Jung dan Sigmund Freud mencatat, terdapat dorongan internal manusia, yakni untuk bertahan hidup dan berhubungan seks, yang tak pernah berubah, tak peduli faktor-faktor luar. Jung membawa gagasan ini lebih jauh. Dia menyatakan ada pula gagasan kebaikan dan keburukan yang intrinsik.[2] Secara biologis, jelas bagian otak yang berinteraksi dengan lingkungan adalah algoritmik sepenuhnya. Contoh, manusia punya gerak refleks. Ini tak perlu pikiran sadar.[3] Namun, gagasan Jung menyiratkan bahwa ada juga algoritma di neokorteks. Ini mengindikasikan adanya indera bawaan dalam diri manusia, termasuk gagasan moralitas dan kebebasan yang dapat mendikte perilaku.

Terdapat pertanyaan perihal di mana garis pemisah antara hal-hal yang hanya mengikuti algoritma dan hal-hal yang dapat bertindak di luar algoritma, dan betulkah ada yang di luar algoritma sama sekali. Kesadaran diri saja mungkin tidak bisa menghasilkan kehendak bebas sebab itu tidak menjamin kemampuan untuk memilih. Film “AI” mengisyaratkan bahwa benda-benda swa-sadar mungkin tidak selalu punya kehendak bebas. Ketika robot-robot berkarnaval, di mana mereka akan dimusnahkan sebagai hiburan, David adalah satu-satunya robot yang mampu memelas demi nyawanya. Dia tidak diprogram untuk memelas, tapi dia berbuat demikian karena input eksternal menyuruhnya merasakan takut. Ini memungkinkannya mengambil pilihan, bagi pengamat luar. Namun, algoritmanya mungkin lebih kompleks. Adegan ini melambangkan kekhawatiran bahwa jika mesin mampu meniru kehendak bebas, maka barangkali kehendak bebas hanyalah algoritma rumit dalam diri manusia.

Orang-orang menyukai gagasan bahwa kehendak bebas tidak timbul secara kebetulan. Walaupun evolusi mendikte demikian, teori-teori lain semisal intelligent design (rancangan cerdas) mengindikasikan adanya pencipta yang menginginkan hasil ini. Jika mesin mampu mengembangkan kehendak bebas, itu bukan hanya akan menghilangkan sebagian kekhasan manusia tapi juga menunjukkan bahwa kehendak bebas dapat timbul tanpa pencipta.[2,4] Orang-orang mengkhawatirkan konsep ini. Film “Westworld” dan “Blade Runner” menyajikan gagasan ini. Dalam “Westworld”, mesin-mesin humanoid di sebuah resor mulai berperilaku di luar pemrograman mereka. Mereka merasa marah dipergunakan sebagai hiburan. Tokoh yang menjalankan bisnis resor menjadi takut saat mendengar mesin-mesin berperilaku lepas dan menyerang para tamu. “Blade Runner” menampilkan mesin-mesin kecerdasan buatan yang belajar merasakan emosi dan mulai bertindak atas kemauan sendiri. Manusia takut pada mereka karena keadaan ini dan memutuskan membatasi jangka hidup mereka. Sementara kedua film ini memperlihatkan mesin-mesin kasar yang mempergunakan kehendak bebas mereka untuk membunuh, kekhawatiran lebih besar datang dari pengembangan kehendak bebas tanpa sengaja oleh para mesin.

Ada pertanyaan: apakah sistem-sistem algoritma dapat menciptakan kehendak bebas atau tidak. Jika ya, maka mesin dan manusia sama-sama punya kapasitas untuk berkehendak bebas. Kehendak bebas adalah kapasitas untuk memilih berdasarkan cerita-cerita yang dihasilkan oleh neokorteks. Karena manusia memperlihatkan kemampuan untuk mengambil jalur-jalur berlainan dalam situasi-situasi yang mirip, ini mengindikasikan bahwa memilih bukanlah sesuatu yang dapat diprediksi sama sekali.[2] Contoh, pelajar bisa memilih untuk belajar atau tidak belajar untuk ujian berdasarkan sejumlah faktor. Nilai [ujian] yang bagus mungkin akan mendorongnya belajar untuk ujian berikutnya, atau mungkin juga tidak. Banyak variabel yang mempengaruhi keputusan ini bersifat subjektif dan kompleks, sehingga tak ada pola perilaku tertentu secara individu sekalipun. Orang-orang mungkin mengikuti tren. Namun, kerapkali mereka tetap mampu menyimpang dari tren ini. Artinya tak ada algoritma tertentu, dan ada kehendak bebas.

Kehendak bebas berarti pemilihan tidak dapat dipengaruhi oleh faktor eksternal. Cerita-cerita yang diciptakan manusia dipengaruhi oleh masyarakat tempatnya dibesarkan. Rasa moralitas bawaan menyediakan panduan perilaku yang akan sangat mempengaruhi keputusan. Kepribadian manusia juga akan mempengaruhi pola perilaku. Namun, tak satupun dari faktor-faktor ini mampu mengendalikan perilaku secara keseluruhan. Manusia melawan moralitas bawaan ketika mereka melakukan pembunuhan, tapi itu tetap terjadi sebagai hasil dari kehendak bebas.

Kehendak bebas dapat eksis pada manusia maupun mesin melalui interaksi suatu algoritma pencerita dengan algoritma pencerita lain yang merespon lingkungan. Apakah kehendak bebas adalah sebuah kebetulan atau bukan? Ini tidak penting asalkan kehendak bebas eksis. Karena manusia tetap mampu memilih antara dua opsi, mereka punya kehendak bebas. Itu tidak terancam oleh eksistensi kehendak bebas orang/benda lain. Konsep bahwa itu timbul dari manusia secara kebetulan sudah ada selama lebih dari 150 tahun dan perlahan-lahan semakin diterima. Seperti gagasan evolusi Darwin dan tata surya Copernicus, manusia kelak harus mengatasi fakta bahwa mereka tidak seunik yang dipikirkan sebelumnya.[4] Begitu ini terwujud, manusia takkan takut lagi dengan kecerdasan buatan dan kemungkinan bahwa itu mempunyai kehendak bebas.

Sumber Kutipan:
[1] Dictionary.com. Diakses 1 Marer 2005.
[2] Linus Walleij. Bab 11: Artificial Intelligence. Tanpa Hak Cipta. Diakses 27 Februari 2005. Tersedia di http://home.c2i.net/nirgendwo/cdne/ch11web.htm.
[3] Elana Ben-Joseph. What Are Reflexes. Agustus 2004. Diakses 1 Maret 2005.
Tersedia di http://kidshealth.org/kid/talk/qa/reflexes.html.
[4] Astro Teller. Smart Machines and Why We Fear Them. New York Times. 21 Maret 1998. Diakses 28 Februari 2005. Tersedia di http://www-2.cs.cmu.edu/~astro/nytimes.html.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s