Siapa Pegang Kendali?

Oleh: Christof Koch
Ilustrasi foto oleh: Aaron Goodman
(Sumber: Scientific American Mind, Mei-Juni 2012, hal. 22-27)

Fisika dan neurobiologi bisa membantu kita untuk memahami apakah kita memilih takdir kita sendiri.

Consciousness
Diadaptasi dari Consciousness: Confessions of a Romantic Reductionist, karya Christof Koch, © Massachusetts Institute of Technology, 2012. Hak cipta dilindungi.

Di suatu pojok terpencil alam semesta, di sebuah planet biru kecil yang bergravitasi mengelilingi matahari menjemukan di daerah luar Bima Sakti, muncullah organisme-organisme dari lumpur purba dan menetas dalam epik perjuangan bertahan hidup yang berlangsung berabad-abad.

Meski semua bukti menunjukkan sebaliknya, makhluk-makhluk dua kaki ini menganggap diri mereka luar biasa istimewa, menghuni tempat unik di kosmos berisi setriliun triliun bintang. Saking sombongnya, mereka percaya bisa lolos, dan hanya mereka, dari hukum besi sebab-akibat yang mengatur segalanya. Mereka dapat melakukan ini berkat sesuatu yang mereka sebut kehendak bebas, yang memungkinkan mereka berbuat apa saja tanpa alasan materil.

Betulkah Anda dapat bertindak bebas? Persoalan kehendak bebas bukanlah kelakar filsafat semata; ini menarik perhatian orang-orang sebagaimana beberapa persoalan metafisik lainnya. Ini adalah dasar gagasan tanggungjawab, pujian, dan celaan di masyarakat. Ujung-ujungnya, ini adalah tentang derajat kendali atas hidup Anda.

Katakanlah Anda hidup bersama suami/isteri yang rupawan dan penuh cinta. Perjumpaan kebetulan dengan orang asing menjungkirbalikkan kehidupan ini. Anda mulai berbicara di telepon selama berjam-jam, Anda menceritakan rahasia paling dalam, Anda memulai hubungan asmara. Anda sadar betul bahwa ini semua salah dari sudut pandang etika; ini akan merusak banyak kehidupan, tanpa jaminan masa depan bahagia dan produktif. Tapi sesuatu dalam diri Anda merindukan perubahan.

FAKTA CEPAT
Kebebasan Tak Pasti

  1. Kebanyakan kita percaya bahwa kita bebas karena, dalam keadaan-keadaan yang identik, kita dapat bertindak kebalikannya. Determinisme—ide bahwa semua partikel di alam semesta mengikuti trayektori tertentu—menantang ide ini.
  2. Teori-teori yang menjelaskan sumber potensial kehendak bebas mengambil dari fisika, termasuk prinsip ketidakpastian Heisenberg.
  3. Apakah kehendak bebas eksis atau tidak, psikologi dan ilmu syaraf mulai menjelaskan kenapa kita merasa bisa mempengaruhi nasib kita.

Pilihan-pilihan memuakkan semacam ini menantang Anda dengan pertanyaan: berapa banyak suara yang Anda miliki dalam urusan tersebut. Anda merasa bisa, pada prinsipnya, mengakhiri perselingkuhan. Tapi terlepas dari banyaknya usaha, entah bagaimana Anda tak pernah berhasil melakukannya.

Berkenaan dengan kehendak bebas ini, saya tak menghiraukan perdebatan filsafat terpelajar selama bermilenium-milenium. Saya fokus pada apa yang dikatakan fisika, neurobiologi, dan psikologi, karena mereka telah menyediakan jawaban parsial terhadap teka-teki kuno ini.

Pluto Tak Terprediksi
Pluto Tak Terprediksi: Gara-gara ukurannya yang kecil, orbit bekas planet ini tunduk pada fluktuasi-fluktuasi gravitasi amat kecil. Alhasil, ilmuwan tak mampu memprediksi di mana Pluto akan berada berjuta-juta tahun dari sekarang. Jika ketidakpastian berlaku pada sebuah planet, yang bergerak di bawah gaya tunggal (gravitasi), maka apa artinya ini untuk manusia, serangga mungil, atau sel syaraf kecil, yang kesemuannya dipengaruhi oleh faktor-faktor tak terbilang?

Nuansa Kebebasan
Baru-baru ini saya menjadi juri di Pengadilan Distrik AS di Los Angeles. Tergugat adalah anggota geng jalanan bertato banyak yang menyelundupkan dan menjual narkoba. Dia dituntut dengan tuduhan membunuh sesama anggota geng dengan dua tembakan di kepala.

Sementara latar belakang tindak pidana dipaparkan oleh penegak hukum, kerabat, dan para anggota geng di masa sekarang dan dahulu—sebagian dari mereka bersaksi sambil diborgol, dibelenggu, dan berpakaian jumpsuit napi berwarna oranye cerah—saya memikirkan kekuatan individu dan masyarakat yang telah membentuk si tergugat. Apa dia pernah punya pilihan? Apa pengasuhan kerasnya membuat dia tak terhindarkan untuk membunuh? Untungnya, juri tidak dipanggil untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tak terpecahkan atau menetapkan hukuman atasnya. Kami hanya harus memutuskan, tanpa keraguan beralasan, apakah dia bersalah sebagaimana dituduhkan, apakah dia menembak orang tertentu di tempat dan waktu tertentu. Inilah yang kami lakukan.

Menurut definisi kuat kehendak bebas, yang diartikulasikan oleh René Descartes di abad 17, Anda bebas jika, di bawah kondisi-kondisi identik, Anda dapat bertindak sebaliknya. Kondisi-kondisi identik bukan cuma mengacu pada kondisi-kondisi eksternal yang sama tapi juga status-status otak yang sama. Jiwa bebas memilih cara ini atau itu, menyuruh otak melaksanakan kemauannya, seperti sopir yang membawa mobil menyusuri jalan ini atau itu. Inilah pandangan yang diyakini orang-orang awam.

Gagasan kebebasan yang kuat ini kontras dengan konsepsi yang lebih pragmatis yang disebut kompatibilisme, pandangan dominan di lingkaran biologi, psikologi, hukum, dan medis. Anda bebas jika Anda dapat menuruti keinginan dan preferensi Anda sendiri. Perokok jangka panjang yang ingin berhenti tapi terus menyulut rokok lagi dan lagi, tidaklah bebas. Keinginannya digagalkan oleh kecanduannya. Berdasarkan definisi ini, hanya segelintir dari kita yang bebas sepenuhnya.

Individu langka—seperti Mahatma Gandhi—mampu mengeraskan diri untuk tidak makan selama berminggu-minggu demi tujuan etis yang lebih tinggi. Kasus pengendalian diri ekstrim lainnya adalah pengorbanan pendeta Buddha Thich Quang Duc pada 1963 untuk memprotes rezim represif di Vietnam Selatan. Yang begitu luar biasa dari kejadian ini, tertangkap dalam foto-foto yang terus terbayang, adalah sifat kalem dan tenang aksi heroiknya. Sambil terbakar hingga mati, Duc tetap dalam posisi seroja meditatif, tanpa bergerak atau bersuara sedikitpun, sementara api melahapnya. Bagi kita, yang berjuang menghindari makanan pencuci mulut, kebebasan adalah persoalan kadar dibanding kebaikan mutlak yang kita miliki atau tidak.

Hukum pidana mengakui contoh-contoh tanggungjawab yang berkurang. Suami yang memukuli kekasih isterinya sampai mati ketika mereka tertangkap basah dalam pelanggaran mencolok dianggap tidak terlalu bersalah daripada jika dia berusaha membalas dendam berminggu-minggu kemudian dengan cara yang dingin dan terencana. Anders Breivik dari Norwegia, yang menembak lebih dari 60 orang secara kejam dan penuh perhitungan pada Juli 2011, adalah seorang penderita skizofrenia paranoid yang didapati sakit jiwa dan kemungkinan akan dikurung di rumah sakit jiwa. Masyarakat kontemporer dan sistem peradilan dibangun di atas gagasan kebebasan yang bersifat psikologis pragmatis semacam ini.

Tapi saya ingin menggali lebih dalam. Saya ingin membongkar penyebab perbuatan-perbuatan yang secara tradisional dianggap “bebas”.

Alam Semesta Mesin Jam
Pada 1687, Isaac Newton menerbitkan Principia, yang mengumumkan hukum gravitasi universal dan tiga hukum gerak. Hukum kedua menghubungkan gaya terhadap sebuah sistem—bola biliar yang menggelinding di atas meja berbulu kempa hijau—dengan percepatannya. Hukum ini punya konsekuensi mendalam, sebab mengimplikasikan bahwa posisi dan kecepatan semua komponen penyusun sebuah entitas di suatu momen, serta gaya-gaya di antara mereka, menentukan nasib entitas tersebut—yakni, lokasi dan kecepatannya di masa depan.

Ini adalah esensi determinisme. Massa, lokasi, dan kecepatan planet-planet selagi mengorbit matahari memastikan di mana mereka akan berada seribu tahun, sejuta tahun, atau semiliar tahun dari sekarang, asalkan semua gaya yang beraksi terhadap mereka dijelaskan dengan baik. Alam semesta, sekali digerakkan, menempuh jalannya tanpa bisa ditawar-tawar, seperti mesin jam.

Kemunduran gagasan ini, bahwa masa depan dapat diramalkan secara akurat, terkuak dalam bentuk balau deterministik (deterministic chaos). Mendiang meteorolog Edward Lorenz menemukannya sewaktu memecahkan tiga persamaan matematika yang menggolongkan gerak atmosfer. Solusi yang diprediksi oleh program komputernya bervariasi lebar ketika beliau memasukkan harga-harga pemulai (starting value) yang berselisih tipis. Ini merupakan tanda kebalauan: perturbasi amat kecil pada titik-titik pemulai persamaan mengakibatkan hasil yang amat berbeda. Pada 1972, Lorenz membuat istilah “butterfly effect” untuk menunjukkan kepekaan ekstrim terhadap kondisi awal (initial condition) ini: kepakan sayap kupu-kupu menciptakan riakan yang nyaris tak nampak di atmosfer yang akhirnya mengubah lintasan tornado ke tempat lain.

Yang luar biasa, efek kupu-kupu seperti ini dijumpai pada mekanika langit, perlambang alam semesta mesin jam. Planet-planet dengan anggunnya menunggang geodesika gravitasi, digerakkan oleh rotasi awal awan yang membentuk tata surya. Karenanya menjadi kejutan besar ketika pemodelan komputer di tahun 1990-an mendemonstrasikan bahwa Pluto mempunyai orbit balau, dengan waktu divergensi jutaan tahun. Para astronom tak yakin apakah 10 juta tahun dari sekarang Pluto akan berada di sisi matahari yang ini (relatif terhadap posisi bumi) ataukah di sisi lain! Jika ketidakpastian ini berlaku pada planet berkomposisi internal relatif sederhana, yang bergerak di kehampaan angkasa di bawah gaya tunggal (gravitasi), maka apa artinya ini untuk keterprediksian manusia, serangga mungil, atau sel syaraf kecil, yang kesemuannya dipengaruhi oleh faktor-faktor tak terbilang?

Namun, balau tidak membatalkan hukum alam sebab-akibat. Ini terus berkuasa. Para ahli fisika planet tidak yakin di mana Pluto berada jutaan tahun dari sekarang, tapi mereka yakin orbitnya akan selalu tertawan penuh oleh gravitasi. Yang putus bukanlah rantai aksi dan reaksi, tapi keterprediksian. Alam semesta masih tetap mesin jam raksasa, sekalipun kita tidak yakin ke mana jarum menit dan jamnya akan menunjuk seminggu dari sekarang.

Pangkal Ketidakpastian
Pukulan telak terhadap mimpi Newtonian—atau, menurut saya, mimpi buruk Newtonian—adalah prinsip ketidakpastian mekanika quantum yang terkenal, dirumuskan oleh Werner Heisenberg pada 1927. Dalam penafsiran terlazim, prinsip ini menyatakan dengan tegas bahwa suatu partikel, katakanlah foton cahaya atau elektron, tidak bisa memiliki posisi definitif dan momentum definitif pada waktu bersamaan. Jika Anda mengetahui kecepatannya, maka posisinya tidak dapat ditetapkan, dan sebaliknya. Prinsip ketidakpastian Heisenberg merupakan penyimpangan radikal dari fisika klasik. Ia menggantikan kepastian dogmatis dengan ambiguitas.

Pikirkan sebuah eksperimen yang berakhir dengan peluang 90% elektron berada di sini dan 10% berada di sana. Jika eksperimen ini diulang 1.000 kali, dalam kurang-lebih 900 percobaan, elektron akan berada di sini; atau sebaliknya berada di sana. Tapi hasil statistik ini tidak menetapkan di mana elektron berada dalam percobaan selanjutnya. Albert Einstein tak pernah bisa berdamai dengan aspek alam yang sembarang/acak ini. Dalam konteks inilah dia membuat pernyataan masyhur, “Der Alte würfelt nicht” (the Old Man, that is, God, does not play dice).

Alam semesta mempunyai karakter sembarang dan tak tereduksi. Jika ia adalah mesin jam, maka giginya, pegasnya, dan tuasnya bukan buatan Swiss; mereka tidak mengikuti lintasan yang sudah ditentukan. Determinisme fisikal digantikan oleh determinisme probabilitas. Tak ada lagi yang pasti.

Tapi tunggu dulu—saya mendengar keberatan serius. Tak disangsikan, dunia makroskopis pengalaman manusia dibangun di atas dunia quantum mikroskopis. Tapi itu tidak mengimplikasikan bahwa objek keseharian semisal mobil mewarisi semua atribut aneh mekanika quantum. Ketika saya memarkir mini convertible merah, ia berkecepatan nol relatif terhadap jalan. Karena ia sangat berat dibanding elektron, kekaburan yang terkait dengan posisinya praktis nol.

Otak Bertindak
Otak bertindak sebelum pikiran memutuskan. Sinyal-sinyal listrik di otak mendahului keputusan sadar untuk bergerak dengan selisih sekurangnya setengah detik dan seringkali lebih panjang.

Mobil memiliki struktur internal tergolong sederhana. Otak lebah, anjing pemburu, dan anak kecil jauh lebih heterogen, dan komponen-komponen penyusunnya mempunyai karakter ribut. Kesembarangan tampak di mana-mana dalam sistem syaraf mereka, dari sel syaraf sensorik yang menangkap penglihatan dan bau hingga sel syaraf motorik yang mengendalikan otot tubuh. Kita tak bisa mengesampingkan kemungkinan bahwa ketidakpastian quantum juga mengakibatkan ketidakpastian perilaku.

Kesembarangan seperti ini mungkin memainkan peran fungsional. Jika seekor lalat yang dikejar oleh pemangsa tiba-tiba berputar di tengah pelariannya, kemungkinan besar ia akan melihat hari esok daripada rekannya yang lebih mudah diprediksi. Jadi, evolusi mungkin lebih menyukai jalur-jalur yang memanfaatkan kesembarangan quantum untuk tindakan atau keputusan tertentu. Mekanika quantum maupun balau deterministik mengarah pada hasil tak terprediksi.

Pikiran Susulan Setelah Tindakan
Saya akan kembali ke dasar yang kokoh dan mengangkat eksperimen klasik yang meyakinkan banyak orang bahwa kehendak bebas adalah ilusi. Eksperimen ini disusun dan dilaksanakan di awal 1980-an oleh Benjamin Libet, ahli neuropsikologi di Universitas California, San Fransisco.

Otak dan laut punya satu kesamaan—keduanya terus-menerus dalam kondisi huru-hara. Satu cara untuk memvisualisasikan ini adalah merekam fluktuasi-fluktuasi kecil pada potensi listrik di luar jangat kepala, berukuran beberapa perjuta volt, dengan memakai electroencephalograph (EEG). Seperti rekaman seismometer, jejak EEG bergerak naik dan turun dengan ribut, mendaftarkan getaran tak kasat mata yang ada di korteks otak. Setiap kali orang yang diujicoba hendak menggerakkan tungkai, potensi listrik bertambah. Dijuluki sebagai potensi kesiapan, ini mendahului permulaan aktual gerakan dengan selisih satu detik atau lebih.

Lepas Bebas
Lepas Bebas: Selagi ilmuwan dan filsuf berusaha memecahkan apa itu kehendak bebas, kita bisa belajar dari temuan psikolog.

Secara intuitif, urutan peristiwa yang mengarah pada tindakan disengaja adalah sebagai berikut: Anda memutuskan untuk mengangkat tangan; otak Anda mengkomunikasikan niat ke sel-sel syaraf yang bertanggungjawab atas perencanaan dan pelaksanaan gerakan tangan; dan sel-sel syaraf tersebut menyampaikan komando yang sesuai kepada sel syaraf motorik yang mengerutkan otot-otot lengan. Tapi Libet tidak yakin. Bukankah lebih mungkin bahwa pikiran dan otak bertindak serempak atau bahkan otak bertindak sebelum pikiran?

Libet bermaksud menentukan pewaktuan peristiwa mental, yakni keputusan disengaja seseorang, dan membandingkannya dengan pewaktuan peristiwa fisik, yakni permulaan potensi kesiapan setelah keputusan tersebut. Ke layar dia memproyeksikan setitik cahaya cerlang yang berputar-putar, seperti ujung jarum menit pada jam. Dengan elektroda EEG yang terpasang di kepala masing-masing sukarelawan, mereka harus melenturkan pergelangan tangan secara spontan, tapi disengaja. Mereka melakukan ini, sambil memperhatikan posisi cahaya, ketika tersadar akan desakan untuk bertindak.

Hasilnya memberikan keterangan yang jelas, disokong oleh eksperimen-eksperimen selanjutnya. Permulaan potensi kesiapan mendahului keputusan sadar untuk bergerak dengan selisih sekurangnya setengah detik dan seringkali lebih panjang. Otak bertindak sebelum pikiran memutuskan! Penemuan ini adalah kebalikan dari ide kausalitas mental yang dipegang erat.

Pengalaman Kehendak Sadar
Kenapa Anda tidak tiru eksperimen ini sekarang juga: lekas lenturkan pergelangan tangan Anda. Anda mengalami tiga perasaan terkait tapi berbeda yang terhubung dengan rencana untuk bergerak (niat), kehendak bergerak (perasaan yang disebut agency/keperantaraan atau authorship/kepengarangan), dan gerakan aktual. Jika seorang teman memegang tangan Anda dan menekuknya, Anda akan mengalami gerakan tapi tidak mengalami niat ataupun keperantaraan; dengan kata lain, Anda takkan merasa bertanggungjawab atas gerakan pergelangan tangan. Inilah ide yang terlalaikan dalam perdebatan kehendak bebas—bahwa interkoneksi pikiran-tubuh menciptakan pengalaman sadar spesifik berupa “Saya menghendaki ini” atau “Saya pengarang tindakan ini”.

Daniel Wegner, psikolog di Universitas Harvard, termasuk pelopor studi “kemauan” di era modern. Dalam sebuah eksperimen, Wegner meminta seorang relawan untuk mengenakan sarung tangan dan berdiri di depan cermin, dengan kedua lengan tergantung di samping. Persis di belakangnya berdiri seorang anggota lab, berpakaian identik. Pegawai lab ini mengulurkan kedua lengannya di bawah ketiak relawan, sehingga ketika si relawan memandang cermin, dua tangan pegawai lab yang bersarung kelihatan sebagai tangannya sendiri. Kedua partisipan memakai headphone. Lewat alat tersebut Wegner memberikan instruksi, seperti “bertepuk tanganlah” atau “jentikkan jemari kiri”. Relawan diharuskan melaporkan sejauh mana dia merasa tindakan tangan pegawai lab adalah tindakannya sendiri. Saat dia mendengar arahan Wegner sebelum tangan si pegawai melaksanakannya, dia melaporkan naiknya perasaan bahwa dirinya sendiri yang menghendaki tindakan tersebut, dibanding ketika instruksi Wegner sampai ke telinganya setelah si pegawai menggerakkan tangan.

Kenyataan perasaan niat ini telah digarisbawahi oleh para ahli bedah syaraf, yang adakalanya membedah jaringan tisu otak dengan debaran singkat arus listrik. Dalam penjelajahan seperti ini, Itzhak Fried, ahli bedah di UCLA, merangsang area motorik prasuplementer, yaitu bagian dari bidang luas korteks otak yang terletak di depan korteks motorik primer. Dia mendapati rangsangan tersebut dapat memicu desakan untuk menggerakkan tungkai. Michel Desmurget dari INSERM dan Angela Sirigu dari Institute of Cognitive Science di Prancis menemukan hal serupa ketika merangsang korteks parietal posterior, area yang bertanggungjawab atas pengalihragaman informasi visual menjadi komando motorik. Para pasien berkomentar, “Saya merasa ingin menggerakkan kaki. Entah bagaimana menjelaskannya,” atau “Saya mendapat keinginan untuk menggulirkan lidah dalam mulut saya.” Perasaan mereka timbul dari dalam, tanpa dorongan dari pemeriksa.

Bebaskan Pikiran
Ada dua pelajaran yang saya peroleh dari pengetahuan ini. Pertama, saya telah mengadopsi konsepsi kehendak bebas yang lebih pragmatis. Saya berusaha hidup sebebas mungkin dari batasan. Satu-satunya pengecualian adalah batasan yang sengaja dan sadar saya kenakan pada diri sendiri, terutama kekangan yang didorong oleh urusan etika: tidak melukai orang lain dan mencoba mewariskan planet ini sebagai tempat yang lebih baik daripada saat menemukannya. Pertimbangan lain mencakup kehidupan keluarga, kesehatan, kestabilan keuangan, dan keinsyafan pikiran. Kedua, saya mencoba memahami motivasi, hasrat, dan ketakutan bawah sadar saya secara lebih baik. Saya merenung lebih dalam tentang tindakan dan emosi saya daripada di masa muda.

Saya tidak sedang memulai pelajaran baru di sini—ini sudah diajarkan oleh orang-orang bijak dari semua peradaban selama bermilenium-milenium. Bangsa Yunani kuno memahat “gnothi seauton” (“kenali dirimu”) di atas gerbang masuk Kuil Apollo di Delphi. Kaum Jesuit memiliki tradisi spiritual berusia hampir 500 tahun yang menekankan pemeriksaan hati nurani dua kali sehari. Interogasi internal terus-menerus ini mempertajam kepekaan Anda terhadap tindakan, hasrat, dan motivasi Anda. Ini bukan hanya memungkinkan Anda lebih memahami diri Anda tapi juga hidup lebih rukun dengan karakter dan tujuan jangka panjang Anda.

Tentang Penulis
Christof Koch adalah chief scientific officer di Allen Institute for Brain Science (Seattle) dan Lois and Victor Troendie Professor of Cognitive and Behavioral Biology di California Institute of Technology. Dia mengisi dewan penasehat Scientific American Mind.

Bacaan Lebih Lanjut

  • Time of Conscious Intention to Act in Relation to Onset of Cerebral Activity (Readiness-Potential) the Unconscious Initiation of a Freely Voluntary Act. Benjamin Libet dkk. dalam Brain, Vol. 106, No. 3, hal. 623–642, September 1983.
  • The Illusion of Conscious Will. Daniel M. Wegner. MIT Press, 2003.
  • Unconscious Determinants of Free Decisions in the Human Brain. Chun Siong Soon dkk. dalam Nature Neuroscience, Vol. 11, No. 5, hal. 543–545, Mei 2008.
  • Human Volition: Towards a Neuroscience of Will. Patrick Haggard dalam Nature Reviews Neuroscience, Vol. 9, hal. 934–946, Desember 2008.

One thought on “Siapa Pegang Kendali?

  1. Jadi kesimpulanya tidak ada kehendak bebas. Semua tindakan kita hanya tunduk patuh pada suatu sistem mekanik klasik(sebab-akibat).

    Adakah intervensi Tuhan? Jika semua kejadian pada dasarnya telah terprediksi secara spesifik oleh hukum-hukum alam. Kenapa kita perlu Tuhan? Apakah Tuhan ada? Dan apa peranya?

    Jawabanya adalah makna, semua kejadian di alam semesta ini adalah bermakna. Tidak ada yang sia-sia. Di situlah Tuhan hadir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s