Kenapa Kita Terlalu Banyak Bicara (Dan Bagaimana Cara Menutup Mulut)

Oleh: Lydia Dishman
11 Juni 2015
(Sumber: www.fastcompany.com)

Otak kita terprogram untuk memberi kita ganjaran jika kita membicarakan diri sendiri. Tapi terus-terusan membicarakan diri sendiri adalah cara seram untuk menghasilkan kesan baik.

Barangkali Anda terlalu banyak bicara. Dan ada alasan bagus untuk itu. Sains menyatakan manusia, sebagai makhluk sosial, terprogram untuk menggunakan komunikasi sebagai alat vital untuk bertahan hidup dan berkembang biak.

Ini bukan persoalan, kecuali fakta bahwa sains juga memberitahukan topik pembicaraan favorit kita adalah diri sendiri. Orang-orang menghabiskan 60% percakapan mereka dengan membicarakan diri sendiri, 80% ketika mengobrol di media sosial. Alasannya adalah, menurut temuan peneliti, itu terasa enak. Sampai-sampai para psikolog Harvard menemukan bahwa orang-orang bersedia mengorbankan uang demi kesempatan mengungkap informasi tentang diri mereka sendiri.

Sialnya, kecenderungan memberi wejangan ini bertentangan dengan rentang perhatian kita yang menyusut sexara kolektif, yang sebelum tercatat antara sebanyaknya 59 detik, menjadi sedikitnya 8 detik, berkat berondongan informasi dari sumber lisan maupun digital.

Percakapan ideal semestinya adalah memberi dan menerima, di mana setiap orang berbicara 50% dari waktu total. Itu sama dengan berdiam diri selama separuh waktu, alat berbisnis yang sulit tapi berpengaruh. Sebagaimana dicatat oleh Peter Bregman dalam Harvard Business Review:

Bungkam adala sumber kekuatan yang sangat diremehkan. Dalam bungkam, kita bukan cuma bisa mendengar apa yang sedang diucapkan, tapi juga apa yang sedang tidak diucapkan. Dalam bungkam, lebih mudah menggapai kebenaran.

Untuk memastikan Anda memberi waktu yang setara kepada mitra berbincang Anda—dan mendengar sebanyak mungkin—Mark Goulston, seorang psikiater bisnis, menyebutkan pentingnya memperhatikan tiga tahap berbicara kepada orang lain:

  1. Tahap bisnis: fokus pada tugas, relevan, singkat
  2. Tahap terasa enak: begitu indah dan menenangkan, Anda bahkan tidak merasa orang lain tidak mendengarkan.
  3. Tahap upaya di luar jalur untuk pulih: alih-alih berpartisipasi ulang dengan cara mendengarkan, dorongan yang timbul biasanya adalah berbicara lebih banyak lagi dalam rangka memperoleh kembali perhatian mereka.

Goulston menulis bahwa dirinya pun pernah melakukan kesalahan ini, bahkan setelah menulis buku berjudul Just Listen. Yaitu ketika instruktur dan pembawa acara radio NPR, Marty Nemko, memberitahukan bahwa dia harus mulai mempraktekkan apa yang diceramahkannya.

Nemko menyodorkan strategi lampu lalu-lintas berikut ini untuk mengekang ocehan:

  1. Anda mendapat lampu hijau selama 20 detik pertama. “Pendengar menyukai Anda, selama pernyataan Anda relevan dengan obrolan dan diharapkan bermanfaat bagi orang tersebut.”
  2. Lampu kuning untuk 20 detik selanjutnya. “Sekarang bertambah resiko bahwa orang tersebut mulai kehilangan minat atau menganggap Anda bertele-tele.
  3. Pada detik ke-40, lampu Anda merah. “Ya, terkadang ada waktu di mana Anda ingin menerobos lampu merah dan terus bicara, tapi mayoritas lebih baik berhenti atau Anda dalam bahaya.”

Meninjau waktu bukanlah satu-satunya strategi untuk berpartisipasi dalam komunikasi yang sehat. Goulston menulis bahwa langkah berikutnya adalah menentukan [penyebab] kenapa Anda begitu banyak bicara. Satu alasannya mungkin karena Anda berusaha membuat mitra bicara terkesan, terutama jika batin Anda tidak sepercaya diri penampilan Anda. Sebagian orang merepet karena gelisah, berupaya menenangkan diri sambil mengoceh. Sebagian lagi belum pernah diajari seni menanyakan pertanyaan tepat yang akan memancing orang lain bicara, dan kemudian berdiam diri selagi mereka menjawab.

Seperti dikatakan Bregman, “Kita semua tahu caranya bungkam. Pertanyaannya: Sanggupkah kita menahan tekanan untuk bicara?”

Untuk mereka yang perlu bantuan untuk berdiam diri, Bregman menyarankan menganggapnya sebagai kompetisi.

Jika Anda menjawab pertanyaan Anda sendiri, berarti Anda kalah. Anda akan menjawab pertanyaan Anda sendiri seharian, dan orang lain takkan melakukan tugas itu. Tapi tunggu dalam kebungkaman—tak peduli berapa lama—sampai seseorang dalam kelompok angkat bicara. Kemudian mereka akan terus melakukan tugas yang diperlukan untuk menggiring diri mereka sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s