Memori – Konsep dan Teori

12 Agustus 2014
(Sumber: hum.leiden.edu)

Istilah memori “sosial”, “kolektif”, atau “publik kerapkali diperbandingkan dengan memori “pribadi”, “individu”, atau “personal”. Semua istilah ini berasal dari bidang keilmuan lintas disiplin dan lumayan baru yang sering disebut sebagai “studi memori”, dan itu menurut beberapa kritikus telah berkembang menjadi “industri memori”.[1]

SUMBER
Sevariatif apapun pendekatan dan premis yang sedang digandrungi dalam studi-studi memori, mereka umumnya berakar dari tiga sumber secara keilmuan. Pertama, ada ide yang dikembangkan oleh Maurice Halbwachs dalam Les Cadres sociaux de la mémoire karangannya pada 1925. Halbwachs adalah orang pertama yang berargumen bahwa memori individu berkembang dalam interaksi dengan memori jejaring sosial dan komunitas lebih besar. Sebagai produk perubahan sosial, lebih dari itu, memori sendiri merupakan proses, representasi masa lalu yang terus berubah. Dalam pekembangan kedua, dan menggunakan metode amat berbeda, psikolog Frederick Bartlett memperlihatkan pada 1932 bahwa dalam proses mengingat, manusia bersandar pada ikhtisar atau “skema” masa lalu—ketika seseorang “mengingat kembali” apa yang terjadi, dia akan merekonstruksi memori dari skema-skema ini, seringkali menambahkan atau mengubah detil-detilnya. Terakhir, mengandalkan karya cendekiawan Jerman Aby Warburg, para penstudi literatur fokus pada teknik ingatan abad pertengahan dan modern awal, teknik-teknik mengingat yang memiliki kemiripan menarik dengan skema Bartlett.[2]

“Memori” dalam berbagai disiplin
Karena alasan-alasan yang diperdebatkan secara sengit tapi tidak ada hubungannya dengan proposal ini, tak banyak yang dilakukan terhadap dua gagasan pertama sampai tahun 1980-an, ketika “memori” tiba-tiba mulai tampil dalam sederet disiplin berbeda. Penelitian para psikolog mendemonstrasikan sejauh mana memori tunduk pada perubahan seiring waktu dan manipulasi (diri), isu-isu yang menjadi kontroversial secara politik melalui memori “terpulihkan” dari terduga korban-korban incest dan persidangan John Demjanjuk.[3] Sementara itu, sejarawan dan ilmuwan sosial yang mempelajari praktek-praktek memori abad 20 memperhalus pemahaman Halbwachs bahwa terdapat hubungan antara diskursus, praktek, ekspektasi sosial yang berubah dan cara individu mengingat masa lalu.[4]

Memori – Konsep dan Teori (1)

TERMINOLOGI
Sementara Halbwachs memakai istilah “memori kolektif”, banyak penstudi literatur dan sebagian filsuf lebih menyukai istilah “memori kultural”, sedangkan kebanyakan sejarawan dan ilmuwan sosial memakai istilah “memori sosial”. Pada prakteknya, perbedaan terminologi ini lebih menunjuk pada perbedaan pendekatan untuk mempelajarinya ketimbang pada percabangan definisi memori komunal. Halbwachs memilih pendekatan berbasis kategori sosiologis—keluarga, kelas, agama. Banyak penstudi “memori kultural” menghampiri subjek ini dengan minat kuat terhadap rekoleksi, represi, dan bawah sadar, terkadang diberitahukan oleh pikiran psikoanalitis, dan menelusuri ini semua dalam sumber-sumber literatur dan visual. Lantaran kurangnya sumber yang cocok dan akibat isu genre, metode dan pendekatan yang mereka pakai sangat tidak tepat di lingkungan modern awal.[5] Para penstudi “memori sosial” cenderung lebih fokus pada lingkungan sosial memori dan bertanya bagaimana cerita-cerita perorangan tentang masa lalu berinteraksi dengan naratif yang ada dan bentuk-bentuk peringatan lain. Ini, menurut saya, adalah sesuatu yang buktinya dapat ditemukan di masyarakat modern awal.[6]

Sejarah
Asumsi proposal ini adalah bahwa memori publik dan personal di periode modern awal dibentuk oleh interaksi yang hidup antara kelisanan, manuskrip dan cetak, ritual, dan budaya materil, di mana memori yang dipromosikan “dari atas” berinteraksi dengan memori “dari bawah”.[7] Sebagian cendekiawan menyajikan memori sosial sebagai alam perlawanan terhadap memori versi publik yang dominan yang dikenal sebagai “sejarah”. Jika sejarah tradisional adalah diskursus tentang masa lalu yang dihasilkan oleh pemenang dan yang memberi keistimewaan kepada para penghasil bukti tertulis, maka memori, sebaliknya, boleh dipandang sebagai gudang pengetahuan “masyarakat tanpa sejarah”, atau komunitas trauma yang mungkin mengingatnya sebagai “tindakan kesetiaan”.[8] Tapi meski benar bahwa memori sosial dapat dipakai secara efektif sebagai alternatif untuk pandangan masa lalu yang dominan dan didukung negara, tidak ada gunanya mengkonstruksi pemahaman memori sosial kita di seputar perlawanan apriorinya terhadap memori terpelajar atau negara yang dominan.[9]

MEMORI SOSIAL
Umumnya memori sosial merupakan hasil perpaduan antara memorisasi publik dan personal. Contoh, kisah kekurangan pangan dalam Perang Dunia II yang diceritakan oleh seorang wanita sepuh kepada cucunya di malam 4 Mei 2006, adalah memori personal. Tapi selagi keduanya menganter untuk menaruh bunga di monumen perang, setelah dua menit mengheningkan cipta dalam acara Dodenherdenking di mana Belanda memperingati korban tewas Perang Dunia II, pengisahan tersebut berinteraksi dengan, dan barangkali dibentuk oleh, bentuk peringatan publik. Saya percaya proses-proses serupa dapat dideteksi di abad 17; opera-opera sejarah mengenai Pemberontakan yang sedang dilancarkan oleh kaum pengasingan dari Flanders dan Brabant di Republik bisa menjadi pernyataan publik yang amat politis dalam diskusi tentang perang dan damai. Tapi, sebagaimana akan kita simak di bawah, komitmen politik mereka tak diragukan tersulut oleh repetisi memori personal mengenai keadaan yang memaksa keluarga mereka meninggalkan Flandria dan Brabant.

Memori – Konsep dan Teori (2)

Sebagaimana ditekankan oleh cendekiawan Jerman Jan Assmann, memori sosial sebuah peristiwa akan berubah begitu tak ada lagi yang hidup untuk menceritakan pengalamannya sendiri, atau mendengarnya dari orang-orang yang mengalaminya langsung. Dalam upaya menjembatani jurang antara memori “sosial” dan “kultural”, Assmann berargumen di tahap ini memori “komunikatif” (kommunikatives Gedächtnis) akan bertransformasi menjadi memori “kultural” (kulturelles Gedächtnis).[10] Karena proyek kami akan mencakup periode kurang-lebih 135 tahun, kami akan memeriksa apakah kami dapat melihat adanya transisi demikian, dan menyelidiki “jurang mengambang” antara kedua bentuk memori ini.

Modernitas
Poin terakhir yang diselidiki adalah apakah proses-proses memori sosial di Eropa modern awal betul-betul serupa dengan proses di dunia modern. Pierra Nora, salah satu pendiri studi memori pada 1980-an, membedakan antara dunia kuno sebelum Revolusi Prancis di mana latar memori (memory settings) masih mampu berfungsi, dan dunia modern kenangan sejarah di mana hanya tempat memori (memory places) yang tersisa.[11] Meski para kritikus sepakat gagasan latar memori pra-industri milik Nora kurang berdasar, ide bahwa “modernitas” mempunyai dampak terhadap memori masih tersebar luas. Bagi Aleida Assmann, tahun-tahun sekitar 1800 merupakan momen di mana “seni memori” digantikan oleh “tenaga (vis)” memori, di mana memori menjadi motor di balik perkembangan sosial baru.[12] Yang lain menyebut komunikasi massa dan pendirian negara sebagai katalisator perubahan mendalam pada memori kolektif.[13] Tapi penafsiran semacam ini rasanya menunggangi asumsi-asumsi lain mengenai budaya Eropa modern awal, seperti tiadanya ranah publik, kurang berkembangnya gagasan “diri”, atau tidak sempurnanya kesadaran sejarah, yang sudah ditantang oleh para sejarawan periode modern awal.[14] Pada saat yang sama, jurang antara sejarah dan memori yang diindera oleh banyak modernis tidak terlalu nyata dalam budaya modern awal. Satu tugas yang jelas untuk tim adalah mengembangkan pemahaman lebih berdasar tentang ciri-ciri khusus memori sosial modern awal.

PROYEK
Hal-hal baru
Kebaruan proyek ini terletak pada (a) penggalian komparatif dampak praktek-praktek memori terhadap penempaan identitas baru di Negara-negara Dataran Rendah abad 17, (b) pemeriksaannya terhadap cakupan luas praktek media dan memori, (c) fokusnya pada hubungan antara praktek memori personal dan publik di masyarakat modern awal, dan (d) upaya menetapkan apa saja yang khas dari praktek-praktek memori modern awal.

Memori – Konsep dan Teori (3)

Negara-negara Dataran Rendah menawarkan laboratorium ideal untuk penstudi perkembangan memori secara komparatif; populasi yang berbagi masa lalu terbagi ke dalam dua golongan bertentangan yang mengembangkan versi kanonik masa lalu yang berlainan. Tambahan lagi, itu menawarkan kesempatan untuk membandingkan kondisi di mana otoritas pusat berbuat banyak untuk menyebarkan sebuah versi kanonik masa lalu, dengan praktek-praktek memori yang jauh lebih berbaur dan terdesentralisasi yang berlaku di Republik.

Pendekatan
Inovasi metodologis utama dari proyek ini terletak pada pendekatannya terhadap sumber-sumber. Dengan mendekati memori “publik” sebagai suatu bentuk memori yang tersedia di ranah publik, kami secara sadar melihat ke balik kondisi sebagai seorang insinyur memori sosial. Kami mendefinisikan memori “personal” sebagai suatu bentuk ingatan di mana orang-orang membentuk tautan antara diri mereka (atau leluhur mereka) dan peristiwa masa lalu. Dengan memperluas landasan sumber memori personal ke segala bentuk bukti untuk menceritakan Pemberontakan, kami melangkaui banyak persoalan yang diasosiasikan dengan rekonstruksi memori personal di periode ini. Dengan demikian pencerita kami tak harus saksi mata, dan kami tak perlu tahu apa sumber cerita mereka. Dengan fokus pada perbuatan “menceritakan”, kami juga menangkap jauh lebih beragamnya aksi memori, yang tidak terlalu dibatasi oleh genre daripad abila berkonsentrasi pada memoar saja. Demikian halnya, tak lagi merugikan jika pencerita kami “menonjolkan diri”; justru, itu memberi kami informasi vital tentang apa saja yang menjadikan kisah mereka relevan.

Proposal ini datang di saat terjadi pertumbuhan tapi juga perbedaan minat terhadap memori modern awal yang mudah kelihatan. Itu semestinya datang di momen yang tepat untuk memposisikan diri di jantung perdebatan dan perkembangan keilmuan yang bukan cuma relevan untuk studi-studi memori, tapi juga akan menunjukkan bagaimana studi memori modern awal dapat menolong kita mengukur dampak konflik sipil yang destruktif terhadap pembentukan identitas.

Catatan
[1] Untuk tinjauan luas dan analisa perkembangan mutakhir di bidang ini, baca misalnya karya Fentress dan Wickham, Social memory; Jeffrey K. Olick dan Joyce Robbins, Social memory studies. From ‘collective memory’ to the historical sociology of mnemonic practices, Annual Review of Sociology 24 (1998); Astrid Erll, Kollektives Gedächtnis und Erinnerungskulturen (Stuttgart and Weimar, 2005); Karen E. Till, Memory studies, History Workshop Journal 62 (2006); dan Winter, Remembering war. A very critical view of the ‘memory industry’ dalam Kerwin Lee Klein, On the emergence of ‘memory’ in historical discourse Representations 69 (2000).
[2] Maurice Halbwachs, Les cadres sociaux de la mémoire (Paris, 1925); Frederic C. Bartlett, Remembering. A study in experimental and social psychology (Cambridge, 1932), dan lihat pula G. Wolters, Het geheugen. Herinneren en vergeten (Amsterdam, 1998), 61-62. An influential discussion of ars memoriae dalam Frances Yates, The art of memory (London, 1966). Untuk diskusi ketiga sumber ini lihat pula Erll, Kollektives Gedächtnis und Erinnerungskulturen.
[3] Ido de Haan, Na de ondergang. De herinnering aan de Jodenvervolging in Nederland, 1945-1995 (Den Haag, 1997); Winter, Remembering war; Wolters, Het geheugen.
[4] E.G. Elizabeth Tonkin, Narrating our pasts. The social construction of oral history, Cambridge studies in oral and literate culture 22 (Cambridge, 1992).
[5] Erll, Kollektives Gedächtnis und Erinnerungskulturen.
[6] Perihal perbedaan istilah dan pendekatan ini, lihat misalnya Ibid; Till, Memory studies.
[7] Adam Fox, Remembering the past in early modern England; oral and written tradition. Transactions of the Royal Historical Society 9 (1999). Untuk contoh bagus budaya lisan dan baca-tulis, lihat dalam Paxson, Solovyovo.
[8] Tonkin, Narrating our pasts; Winter, Remembering war, 34-36; Y. H. Yerushalmi, Zakhor, Jewish history and Jewish memory (Seattle, 1982); Klein, On the emergence of ‘memory’.
[9] Untuk contoh bagus memori berselisih lihat dalam Fentress dan Wickham, Social memory.
[10] Jan Assmann, Das kulturelle Gedächtnis. Schrift, Erinnerung und politische Identität in frühen Hochkulturen (Munich, 1992), 56
[11] Pierre Nora dkk., Les lieux de mémoire (Paris, 1984).
[12] Aleida Assmann, Erinnerungsraume. Formen und Wandlungen des kulturellen Gedachtnisses (Munich, 1999).
[13] Olick dan Robbins, Social memory studies. From ‘collective memory’ to the historical sociology of mnemonic practices, 112-122.
[14] E.G. Peter Lake dan Steve Pincus, Rethinking the public sphere in early modern England, Journal of British studies 45 (2006); Judith Pollmann, Religious choice in the Dutch Republic. The reformation of Arnoldus Buchelius (1565-1641) (Manchester, 1999), 16-24; Sandra Langereis, Geschiedenis als ambacht. Oudheidkunde in de Gouden eeuw. Arnoldus Buchelius en Petrus Scriverius (Hilversum, 2001).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s