Psikologi Kebebasan

Oleh: William Skaggs
20 Agustus 2013
(Sumber: blogs.scientificamerican.com)

Saya ingin memeriksa konsep kebebasan dengan cara yang agak tak biasa—dari sudut pandang psikologi motivasi.

Patung Liberty (Gambar oleh: Pascual De Ruvo)
Patung Liberty (Gambar oleh: Pascual De Ruvo)

Titik tolaknya adalah untuk menyadari ada empat cara mempengaruhi perilaku: imbalan/ganjaran (reward), hukuman (punishment), kekangan (restraint), dan paksaan (compulsion). Imbalan berarti menawari subjek dengan sesuatu yang bagus atas pelaksanaan suatu perbuatan. Hukuman berarti mengancam subjek dengan sesuatu yang buruk atas pelaksanaan suatu perbuatan. Kekangan berarti merintangi subjek secara fisik dari melaksanakan suatu perbuatan, contoh mencegah subjek berjalan di atas halaman rumput dengan memagarinya. Paksaan berarti memaksa subjek secara fisik untuk melaksanakan suatu perbuatan, contoh membuat seseorang naik pesawat dengan menyeretnya. (Catatan: imbalan yang saya maksud bukan cuma benda-benda fisik seperti uang atau makanan. Senyum, ucapan ramah, atau bahkan perhatian sesaat juga berfungsi sebagai imbalan. Sebaliknya, hukuman bukan cuma luka fisik. Cemberut, ucapan tajam, pemutusan perhatian, atau penghentian kegiatan juga berfungsi sebagai hukuman.)

Poin utama yang ingin saya sampaikan adalah bahwa masing-masing cara mempengaruhi perilaku ini memiliki dampak berlainan terhadap rasa kebebasan kita.

Kita tak pernah merasa kebebasan kita berkurang ketika dipengaruhi oleh imbalan. Tak peduli seberapa menarik imbalannya. Jika saya menghampiri seorang gelandangan di jalan dan memberinya $1.000, hampir pasti dia akan menerimanya, tapi tak ada yang akan bilang bahwa saya telah mengurangi kebebasannya dengan membuat sodoran tersebut. Imbalan dapat menciptakan situasi konflik jika disodorkan untuk berbuat sesuatu yang kita tidak mau, tapi meskipun begitu kita tidak menganggapnya mengurangi kebebasan kita.

Sedangkan hukuman, kekangan, dan paksaan memang mengurangi rasa kebebasan kita.

Rasa ketidakbebasan terbesar datang dari paksaan. Jika kita secara fisik dipaksa berbuat sesuatu, kita merasakan absennya kebebasan, sekalipun itu sesuatu yang akan sudah kita lakukan tanpa paksaan.

Kekangan dan hukuman dipandang sebagai pengurangan kebebasan sebanding dengan kerasnya [kekangan/hukuman]. Untuk kekangan: Jika saya mencegah seseorang berjalan di halaman rumut dengan memagarinya, itu adalah pengurangan kebebasan, tapi tidak berat. Tapi jika saya mengunci seseorang dalam sel penjara, itu adalah pengurangan kebebasan yang sangat besar. Demikian pula dengan ancaman hukuman. Jika saya menghentikan bicara seseorang dengan merengut kepadanya, itu pengurangan kebebasan kecil. Jika saya meminta dompetnya dengan menodongkan senjata kepadanya, itu pengurangan kebebasan sangat besar. Nyatanya, kita cenderung menyamakan ancaman hukuman keras dengan paksaan, padahal secara logika mereka tidak sama.

Ringkasnya, kita menganggap motivasi imbalan memaksimalkan kebebasan, sedangkan kekangan dan ancaman hukuman menguranginya sepadan dengan kerasnya [kekangan/hukuman], dan paksaan mencabut kebebasan kita sama sekali.

Selanjutnya, masyarakat yang bebas maksimal adalah masyarakat di mana orang-orang terpengaruh sebanyak mungkin oleh tawaran imbalan, sesedikit mungkin oleh kekangan atau ancaman hukuman, dan jarang oleh paksaan, jika ada. Masyarakat Utopia adalah masyarakat di mana imbalan menjadi satu-satunya pendorong yang digunakan.

Sayangnya, masyarakat Utopia demikian takkan pernah terwujud, setidaknya sampai manusia menjadi tipe organisme berbeda. Alasannya terletak pada atribut dasar motivasi imbalan.

Untuk memahami alasan ini, kita perlu membedakan antara berbuat dan tidak berbuat—yaitu, antara secara aktif menginisiasi perilaku, versus menahan diri dari menginisiasi perilaku. Imbalan sangat efektif dalam memotivasi berbuat, tapi tidak efektif dalam memotivasi tidak berbuat. Jika Anda ingin seorang anak mengerjakan PR-nya, menawari imbalan menonton acara TV merupakan pendekatan masuk akal. Tapi jika Anda ingin seorang anak berhenti membuat gaduh, penawaran imbalan takkan berfungsi dengan baik. Imbalan harus luar biasa besar supaya efektif, dan penerapan berulang-ulang justru mendorong perilaku menjengkelkan demi mendapat imbalan untuk berhenti. Pada skala lebih serius, bagaimana mungkin Anda bisa menggunakan imbalan untuk mempengaruhi orang-orang agar tidak merampok bank?

Sisi sebaliknya adalah ancaman sangat efektif dalam memotivasi tidak berbuat, tapi tidak efektif dalam memotivasi berbuat. Biasanya kita dapat menyuruh anak kecil mengerjakan PR dengan memberi ancaman hukuman, tapi seringkali hukumannya harus luar biasa besar. Terlebih, penggunaan hukuman selalu melahirkan kekesalan dan ketidaksukaan.

Jadi intinya jika kita ingin sebuah masyarakat di mana orang-orang merasa bebas, kita mesti mencoba mengembangkan masyarakat di mana orang-orang termotivasi sebanyak mungkin oleh imbalan dan sesedikit mungkin oleh hukuman atau kekangan—tapi kita perlu sadar bahwa hukuman dan kekangan akan selalu diperlukan hingga derajat tertentu, untuk menghentikan orang-orang dari perilaku anti-sosial. Bagaimana kita menggapai masyarakat demikian? Itu pertanyaan kuncinya, tentu saja, tapi itu di luar cakupan esai singkat ini.

Catatan
Ide-ide di sini merupakan upaya saya untuk meringkas literatur luas dan kontroversial yang membentang berabad-abad. Konsep pembagian faktor-faktor motivasi ke dalam imbalan, hukuman, paksaan, dan kekangan terkandung dalam Beyond Freedom and Dignity karya B.F. Skinner, buku yang patut dibaca, meskipun Skinner menyimpang dalam banyak poin dan sering mengaburkan hal-hal sederhana dengan memperumitnya secara berlebihan. Skinner juga percaya bahwa hukuman senantiasa kontra-produktif, tapi menurut saya argumennya itu tidak meyakinkan.

Penggunaan imbalan dan hukuman untuk memotivasi orang-orang terutama kontroversial dalam literatur. Saya yakin ini sebagian besar karena saat mendengar kata “imbalan”, orang-orang otomatis memikirkan imbalan besar dan jelas semisal uang; saat mendengar “hukuman”, mereka memikirkan hukuman besar dan jelas semisal pemukulan. Manusia sebetulnya hipersensitif terhadap imbalan dan hukuman, dan dalam banyak kasus senyuman atau cemberut sudah lebih dari cukup untuk melakukan tugas tersebut. Kita juga siap membangkitkan imbalan atau hukuman batin; orang dewasa lebih siap daripada anak kecil. Penggunaan imbalan atau hukuman besar dan jelas kerapkali berakibat membanjiri sistem, menghasilkan serangkaian dampak tak diinginkan. Itu sebabnya banyak penulis berargumen bahwa imbalan dan hukuman tidaklah berfaedah dalam mengajari anak kecil—tapi melewatkan satu hal. Kalau Anda betul-betul ingin paham bagaimana rasanya memberi pengajaran tanpa imbalan atau hukuman, bayangkan mengajar tanpa pernah tersenyum atau cemberut; tanpa pernah mengucapkan kalimat penyemangat atau penciut. Tapi kalau Anda ingin melihat argumen di arah lain yang disusun sekuat mungkin, bacalah buku Punished by Rewards karangan Alfie John.

Sebagian besar perspektif saya di sini adalah sebagai ilmuwan syaraf. Kami tak punya pemahaman bagus soal mekanisme syaraf motivasi dan pembuatan keputusan, tapi kami belajar cepat, dan jelas struktur-struktur seperti korteks prefrontal, ganglia dasar, dan sistem dopamin memainkan peran sentral. Baca buku Your Brain is (Almost) Perfect: How We Make Decisions karangan Read Montague untuk memperoleh gambaran menarik tentang kemajuan mutakhir.

Dalam esai pendek ini saya hanya mendiskusikan persepsi kebebasan, dan bukan soal apakah ada yang namanya kebebasan sejati. Tentu saja itu persoalan penting sekali, tapi itu di luar lingkup saya. Untuk sementara saya hanya menunjukkan bahwa sekalipun ada yang namanya kebebasan sejati, persepsi kebebasan tetaplah penting. Kebebasan sejati tidak terlalu memuaskan jika itu tidak membuat kita merasa bebas. Baca Freedom Evolves karya Daniel Dennett untuk diskusi filosofis mengenai isu-isu ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s