5 Langkah Menangani Orang yang Banyak Bicara

Oleh: F. Diane Barth L.C.S.W
22 April 2012
(Sumber: www.psychologytoday.com)

Baru-baru ini, Jean*, seorang profesional perempuan muda, mengawali sesinya dengan saya dengan meneriak-neriakkan salah satu rekan kerjanya. “Lelaki itu tak henti-hentinya bicara,” ungkapnya. “Hari ini dia bertanya bagaimana akhir pekan saya, dan sebelum saya sempat bicara dia mulai menceritakan semua hal yang sudah dilakukannya.”

Kita semua kenal dengan seseorang macam ini—orang yang bicara tanpa mendengarkan, seolah menganggap apa yang dia katakan menarik bagi orang lain sebagaimana bagi dirinya sendiri, dan seolah tidak paham bahwa mendengarkan adalah bagian penting dari berkomunikasi dan terhubung dengan orang lain.

Apa yang mendorong orang-orang ini? Apa yang bisa kita lakukan terhadap mereka? Dan mungkin yang lebih penting, apa yang bisa Anda lakukan jika kebetulan Anda termasuk salah satu dari mereka?

Berbicara adalah bagian dari perbuatan manusia. “Yang membedakan kita dari binatang adalah fakta bahwa kita dapat mendengarkan impian, ketakutan, kegembiraan, kesedihan, keinginan, dan kekalahan orang lain—dan mereka balas mendengarkan kita,” tulis Henning Mankell, pengarang seri misteri Wallander, baru-baru ini dalam New York Times.

Tapi orang-orang yang terlalu banyak bicara rupanya tidak mendapat keseimbangan ini. Kenapa? Sejumlah kolega saya di PsychologyToday pernah menulis tentang sulitnya sebagian dari kami mendengarkan satu sama lain atau diri sendiri.

“Mendengarkan perlu pemrosesan pendengaran yang kompleks,” menurut Daniel P. Ellis dari Universitas Columbia. Kita mengembangkan kapasitas untuk mendengarkan secara otomatis, menurut Ellis. Itu salah satu sebab kenapa anak kecil sekalipun akan bereaksi berbeda terhadap suara nyanyian burung robin dan sirene polisi. Itu juga alat dalam belajar. Mungkin bagian terakhir ini—bahwa kemampuan memproses sinyal pendengaran kompleks adalah faktor penting dalam kemampuan belajar—menjelaskan kenapa begitu banyak orang yang berbicara kepada kita kesulitan untuk belajar bagaimana caranya agar lebih nyambung. Tapi bukan berarti semua orang yang bicara tanpa henti tidak terhubung dengan orang lain. Tapi sepertinya itu membuat mereka sulit mengenali mood dan respon berbeda dalam diri pendengar mereka.

Dalam komunikasi terbaik terdapat semacam memberi dan menerima antara berbicara dan mendengarkan, berbagi posisi pembicara dan pendengar berdasarkan rasa saling menghormati dan peduli perasaan satu sama lain. Sebagian orang yang banyak bicara tak mampu berpartisipasi dalam ritme interaktif ini, bukan karena mereka tidak peduli, tapi karena mereka tak sanggup menanggung emosi yang mungkin timbul selagi mendengarkan orang lain. Nyatanya, dalam perjalanan karir sebagai terapis, saya mendapati bahwa banyak pembicara non-stop sebetulnya memanfaatkan perkataan mereka sendiri agar tidak mengetahui apa yang mereka rasakan.

Inilah yang menimpa Max, pria cerdas nan fasih yang memiliki dua anak kecil. Isterinya mengancam meninggalkannya karena, kata isterinya, dia tidak peduli atau paham dengannya. Max bicara sepanjang dua sesi, nyaris tanpa mengambil nafas, sebelum saya mampu menyelanya dan bertanya bagaimana perasaannya. Matanya berlinang dan suaranya pecah saat dia menjawab, “Saya harap kau takkan menanyakan itu. Saya tak mau merasakan apa yang sedang saya rasakan. Saya tak mau memikirkan apa yang sedang saya rasakan. Saya tak ingin merasakan.”

Saya bertanya, apa menurutnya itu bagian dari masalah yang membuat isterinya meminta cerai. Dia mengangguk dan berkata, “Sudah lama saya tak mampu merasakan apa-apa. Dia pikir ini karena saya tidak merasakan apapun. Padahal sebetulnya itu karena saya beresiko merasakan terlalu banyak.”

Max tepat. Sebagian orang membicarakan diri sendiri karena memang menganggap diri mereka lebih penting daripada siapapun yang mereka kenal. Tapi banyak orang, seperti Max, kewalahan dengan perasaan mereka sendiri dan menekannya dengan cara berbicara. Yang manapun dari kedua kondisi di atas, berbicara sendiri adalah lawan dari saling bercerita yang diuraikan Mankell, yang lebih mendekatkan kita dengan orang lain. Dan kedua jenis bicara ini menyulitkan seseorang untuk belajar mengelola perasaannya dengan cara lain.

Jadi apa yang bisa Anda perbuat jika disusahkan oleh rekan kerja, sahabat, atau kekasih yang terlalu banyak bicara? Berikut adalah lima saran sederhana yang mungkin membantu:

1. Pertama, mendengarkan—tapi jangan terlalu lama. Sambil mendengarkan, cobalah rumuskan sendiri apa yang coba disampaikan orang ini: apakah keinginan untuk dikagumi? Pikiran yang tak mampu dia keluarkan dari kepala? Perasaan yang tak sanggup mereka kelola? (Lihat blog hebat kolega saya di PsychologyToday, Sophia Dembling, tentang bagaimana rasanya mendengarkan terlalu lama.)

2. Setelah mendengarkan sebentar dan merumuskan apa yang coba mereka sampaikan, tanyakan apakah mereka sangat keberatan jika Anda menyela. Mereka mungkin berkata, “Tidak, tidak, saya bicara terlalu banyak, silakan.” (Jangan sampai Anda menyangkal fakta ini karena ingin bersopan santun; itu justru akan mengalihkan perhatian kalian berdua.) Jika dia berkata, “Biar saya selesaikan pikiran ini,” balaslah lemah-lembut dengan ucapan seperti, “Oh, saya pikir kau sudah selesai. Bolehkah saya sampaikan apa yang sudah saya dengar?” (Tentu saja sebagian orang masih akan bicara dengan caranya sendiri. Biar mereka selesaikan, karena Anda tak punya pilihan; tapi segeralah sela mereka begitu mereka mulai beralih ke hal lain.)

3. Saat Anda menyela, bersiaplah mengatakan sesuatu tentang apa yang Anda dengar darinya. Jangan mengejar penjelasan psikologis yang dalam. Sesuatu yang sederhana dan langsung ke pokoknya, tapi jika memungkinkan, sesuatu yang positif. Jangan kaget jika mereka mulai membicarakan Anda panjang-lebar—banyak orang membicarakan orang lain karena mereka khawatir dengan kritikan. Sekali lagi, katakan, “Tunggu, saya ingin selesaikan pikiran saya sekarang,” kemudian katakanlah apa saja yang ingin Anda katakan tentang mereka.

4. Jangan berhenti dengan komentar tentang mereka. Tambahkan pengalaman Anda sendiri yang akan mengkonfirmasi bahwa Anda paham apa yang sedang mereka alami. Memori tentang peristiwa serupa, perasaan serupa, kisah lucu—pokoknya apapun yang memberi Anda peluang untuk membagi pengalaman Anda tapi tak bisa Anda hubungkan dengan pengalaman mereka.

5. Akhiri perbincangan kalau itu sudah berlangsung terlalu lama. Sebetulnya tak ada ruginya memberitahu seseorang yang sudah Anda dengarkan lebih lama dari waktu yang Anda luangkan (dan lebih lama dari waktu yang Anda dermakan) bahwa Anda merasa menyesal, karena ada pekerjaan yang harus Anda lakukan, dan bahwa Anda mau melanjutkan perbincangan ini nanti. Dan jika mereka tipe orang yang datang lagi untuk melanjutkan perbincangan, katakan saja, “Tidak, maaf, saya sedang sibuk”—karena pada akhirnya Anda punya hak untuk melindungi perbatasan Anda sendiri.

*Nama dan jati diri diubah untuk melindungi privasi dan kerahasiaan.


F. Diane Barth L.C.S.W. adalah psikoterapis, guru, dan pengarang di firma praktek privat di New York City.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s