Apa Anda Terlalu Banyak Bicara

Oleh: Marty Nemko
(Sumber: www.martynemko.com)

Bla-bla, bla-bla, bla-bla, bla.

Pernah mendengarkan seseorang yang menyerocos, lama setelah Anda bengong? Apa pendapat Anda tentang orang itu? Barangkali asyik sendiri dan lengah secara antarpribadi. Bertele-tele adalah rute pasti menuju kegagalan karir, bahkan kegagalan hidup.

Tentu saja tak ada yang merasa dirinya dipersepsikan terlalu banyak bicara, kalau ya mereka takkan melakukannya. Tapi tanpa menyadarinya, mungkinkah Anda termasuk orang menjengkelkan itu?

Benar atau Salah:

1. Anda menganggap diri Anda sebagai pembicara ketimbang pendengar.

2. Dalam percakapan, ucapan Anda sering lebih dari satu menit. (Ini indikator terpenting bahwa Anda bicara terlalu banyak.)

3. Anda mampu memajukan banyak ide dengan cepat, jadi Anda ingin mengungkapkannya sekaligus.

4. Anda berorientasi detil. Orang-orang yang berorientasi detil seringkali memasukkan detil-detil yang terasa penting bagi mereka tapi menjemukan pendengar biasa.

5. Orang-orang di tempat kerja cenderung memalingkan muka saat Anda berjalan lewat. (Mereka khawatir Anda akan menghampiri sehingga terpaksa mendengarkan omongan Anda selama 10 menit.)

6. Orang-orang yang paling mengenal Anda menyebut Anda asyik sendiri, narsis, lupa sekitar, egois, atau egosentris. Yang namanya percakapan adalah berbagi dan memberi perhatian kepada kebutuhan mitra bicara Anda.

7. Anda tidak berjaga-jaga terhadap isyarat bahwa pendengar Anda ingin Anda menutup mulut: mata keluyuran lebih dari 1/3 waktu (atau sebaliknya, memelototi Anda), jari tangan atau ujung kaki mengetuk-ngetuk, sering menyela Anda, posisi tubuh yang mengindikasikan orang itu mencoba menyingkir dari Anda, sering berkata “ah-hah” seolah mendorong Anda untuk melanjutkan. Ya, sebagian pendengar memang bersifat tak sabaran, tapi jika Anda melihat reaksi demikian dari ¼ lawan bicara Anda atau lebih, maka masalahnya kemungkinan besar adalah Anda.

Semakin banyak Anda menjawab “Benar” untuk tujuh pertanyaan di atas, semakin perlu Anda mengikuti aturan praktis “Lampu Lalu-Lintas”. Selama 30 detik pertama bicara, lampu Anda hijau—pendengar Anda barangkali memberi perhatian. Selama 30 detik kedua, lampu Anda kuning—pendengar Anda mungkin mulai ingin Anda selesai. Setelah angka satu menit, lampu Anda merah—ya, terdapat waktu langka di mana Anda “menerobos lampu merah”: ketika pendengar Anda sungguh-sungguh berpartisipasi penuh dalam komunikasi Anda. Tapi biasanya, ketika pembicaraan lebih dari satu menit, bersama setiap detik yang berlalu Anda menambah resiko menjemukan pendengar Anda dan membuat mereka berpikir Anda adalah pengoceh, pembual, atau penggertak.

Bagaimana Anda memastikan diri Anda dianggap menarik, bukan mengesalkan? Coba ini:

1. Sambil bicara, terus-menerus tanya diri Anda sendiri, “Apakah detil ini beresiko membosankan pendengar saya, beresiko membuat diri Anda dianggap sebagai Raja atau Ratu Omong-Kosong?

2. Kecuali kalau Anda mengatakan sesuatu yang pantas disampaikan lebih dari satu menit, pada detik ke-30 carilah ruang untuk berhenti. Jika pendengar Anda ingin lebih, dia bisa mengajukan pertanyaan. Dan ini jarang. Cobalah dan lihat hasilnya.

Bagaimana kalau Anda menyampaikan sesuatu yang perlu waktu lebih dari satu menit? Pecah saja ke dalam segmen-segmen, dan sehabis setiap segmen, tanyakan misalnya, “Bagaimana menurutmu?” atau “Apa itu jelas? Sungguh?” Kata “Sungguh” sangat penting karena itu memberitahu pendengar bahwa permintaan Anda tidak serampangan: Anda sungguh-sungguh ingin pertanyaan atau komentar.

3. Bersiaga terhadap isyarat non-lisan dari pendengar Anda, khususnya begitu omongan Anda melewati angka 30 detik. Apakah pendengar Anda terlihat berpartisipasi penuh?

Ingat, siapapun yang peduli dengan orang lain harus menjadikan mereka bagian dari perbincangan. Dan jika Anda cenderung egois, ketahuilah, Anda akan memperoleh lebih dari yang Anda mau jika Anda menukar diri pericau Anda dengan seseorang yang betul-betul mendengarkan sebanyak bicaranya.

Karena takut dituduh tidak mempraktekkan apa yang saya ceramahkan, saya akan mengakhiri kolom ini sekarang. Ada yang mau saya terus mengoceh?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s