Cara Mencaritahu Apakah Anda Terlalu Banyak Bicara

Oleh: Mark Goulston
3 Juni 2015
(Sumber: www.hbr.org)

Anda mungkin pernah dengar pepatah, “Saat Anda jatuh cinta, mata Anda menjadi kabur.” Well, saat Anda bicara, mata dan kuping Anda menjadi kabur. Sekali Anda melenggang, mudah sekali untuk tidak merasa bahwa Anda sudah mengauskan sambutan terhadap Anda. Bahkan mungkin Anda tidak sadar orang lain sedang berusaha dengan sopan untuk meminta kesempatan bicara, atau dengan halus mengisyaratkan perlu pergi ke suatu tempat (mungkin, ke mana saja jika Anda betul-betul membosankan).

Ada tiga tahap berbicara dengan orang lain. Di tahap pertama, Anda fokus pada tugas, relevan, dan singkat. Tapi kemudian tanpa sadar Anda mendapati, semakin banyak Anda bicara, semakin lega rasanya. Ahh, begitu indah dan menenangkan bagi Anda…tapi tidak bagi pendengar. Ini merupakan tahap kedua—ketika bicara terasa begitu enak, Anda bahkan tak merasa orang lain tidak mendengarkan.

Tahap ketiga terjadi setelah Anda kehilangan jalur pembicaraan Anda dan mulai sadar Anda perlu memancing orang lain kembali. Jika pada tahap monolog ketiga yang disamarkan sebagai obrolan ini, Anda tanpa sadar merasa orang lain mulai sedikit resah, tebak apa yang terjadi selanjutnya?

Sialnya, alih-alih mencari cara untuk mengajak kembali korban Anda dengan meminta mereka bicara dan kemudian mendengarkan mereka, dorongan yang timbul biasanya adalah berbicara lebih banyak lagi demi meraih perhatian mereka lagi.

Kenapa ini terjadi? Pertama, alasannya sangat sederhana, semua manusia punya dahaga untuk didengarkan. Kedua, karena proses membicarakan diri sendiri melepas dopamin, hormon kesenangan. Salah satu alasan pengoceh terus mengoceh adalah karena mereka jadi kecanduan dengan kesenangan tersebut.

Tak lama setelah buku saya, Just Listen, keluar, saya pun mengabaikan tanda-tanda bahwa saya mulai mengesalkan teman dan sesama instruktur, Marty Nemko, pembawa acara radio tentang urusan pekerjaan di KALW, afiliasi NPR di San Fransisco. Saya dan dia sudah beberapa lama saling memberi pelatihan. Dia membuat saya resah saat mengatakan, “Mark, sebagai pakar mendengarkan, kau perlu sedikit bicara dan banyak mendengar.”

Setelah saya pulih dari rasa malu, dia menguraikan strategi bagus yang saya pakai sampai sekarang. Itu membantu saya dan mungkin juga Anda. Nemko menyebutnya Aturan Lampu Lalu-Lintas. DIa bilang itu bekerja lebih baik ketika berbicara dengan mayoritas orang, khususnya kepribadian Tipe A, yang cenderung kurang sabar.

Dalam 20 detik pertama bicara, lampu Anda hijau: pendengar menyukai Anda, selama pernyataan Anda relevan dengan obrolan dan diharapkan bermanfaat bagi orang tersebut. Tapi, kecuali kalau Anda pendongeng yang amat berbakat, orang-orang yang bicara lebih dari setengah menit sekaligus biasanya membosankan dan sering dianggap terlalu cerewet. Jadi lampu berganti kuning untuk 20 detik berikutnya— Sekarang bertambah resiko bahwa orang tersebut mulai kehilangan minat atau menganggap Anda bertele-tele. Pada detik ke-40, lampu Anda merah. Ya, terkadang ada waktu di mana Anda ingin menerobos lampu merah dan terus bicara, tapi mayoritas lebih baik berhenti atau Anda dalam bahaya.

Menurut Nemko, mengikuti Aturan Lampu Lalu-Lintas hanyalah langkah pertama dalam mencegah Anda bicara terlalu banyak. Yang juga penting adalah menentukan motivasi dasar Anda untuk bicara sebanyak itu. Apa hanya karena enak rasanya bicara terus-menerus dan mengeluarkan lebih banyak unek-unek? Apa Anda bicara untuk mengklarifikasi pemikiran Anda? Ataukah karena Anda sering harus mendengarkan orang lain, dan saat Anda menjumpai seseorang yang membiarkan Anda memegang corong, Anda tak bisa menahan diri?

Apapun penyebabnya, omongan diperpanjang biasanya merupakan simpangan dari perbincangan, dan mungkin mengakibatkan Anda berdua jatuh ke dalam monolog bergantian. Dan itu pastinya takkan banyak memajukan percakapan atau hubungan kalian.

Satu alasan kenapa sebagian orang bertele-tele adalah karena mereka mencoba mengesankan mitra bicara dengan betapa cerdas dirinya, seringkali karena sebetulnya mereka tidak merasa seperti itu di dalam batinnya. Jika ini yang terjadi pada Anda, sadarilah bahwa terus-menerus bicara justru akan membuat orang lain kurang terkesan.

Tentu saja, sebagian orang yang bicara terlalu banyak “mungkin tak mempunyai rasa akan perlaluan waktu”, kata Nemko. Jika ini keadaannya, obatnya bukan mencari pemahaman psikologis di dalam diri Anda. Cukup kembangkan indera yang lebih baik akan lama waktu 20 dan 40 detik. Mulai gunakan arloji untuk mencegat diri Anda saat menelepon, contohnya. Anda akan terbiasa mengakhiri pembicaraan ketika lampu Anda masih hijau, atau sekurangnya kuning.

Terakhir, ingat, bahkan 20 detik bicara bisa menjadi simpangan jika Anda tidak mengikutsertakan orang lain dalam percakapan. Untuk menghindari itu, lontarkan pertanyaan, cobalah mengambil dasar dari apa yang mereka katakan, dan cari cara untuk mengikutsertakan mereka dalam perbincangan sehingga itu menjadi dialog sungguhan, bukan caci-maki.

Well, rasanya 40 detik saya sudah habis, jadi saya akan berhenti di sini.


Mark Goulston, M.D., F.A.P.A. adalah psikiater bisnis, penasehat eksekutif, pembicara utama, dan CEO dan Pendiri Goulston Group. Dia adalah pengarang Just Listen (Amacom, 2015) dan salah seorang penulis Real Influence: Persuade Without Pushing and Gain Without Giving In (Amacom, 2013). Kontak dia di sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s