Kenapa Anda Banyak Bicara dan Tak Menyadarinya

Oleh: Bill Yakowicz
4 Juni 2015
(Sumber: www.inc.com)

Hampir setiap orang suka bicara. Tapi Anda perlu menghindar menjadi seseorang yang tak mau menyerahkan mikrofon.

Sebagai pemimpin, Anda barangkali merasa memiliki bakat pandai bicara. Anda suka bicara dan yakin karyawan Anda terpesona oleh setiap kata yang bergulir dari lidah Anda. Tapi mungkin Anda tidak memperhatikan betapa mereka mati-matian berusaha mendapat kesempatan bicara selama monolog Anda.

Dengan kata lain, terlepas dari persepsi Anda, kenyataannya mungkin Anda tak bisa menahan diri dari berbicara tanpa henti.

Apa penyebab kecerewetan tak dikehendaki ini? “Pertama, alasannya sangat sederhana, semua manusia punya dahaga untuk didengarkan. Kedua, karena proses membicarakan diri sendiri melepas dopamin, hormon kesenangan, “ tulis Mark Goulston, psikiater bisnis dan pengarang Just Listen dalam Harvard Business Review. “Salah satu alasan pengoceh terus mengoceh adalah karena mereka jadi kecanduan dengan kesenangan tersebut.”

Goulston menyatakan ada tiga tahap berbicara dengan orang lain: mulanya Anda relevan dan ringkas. Namun kemudian, “Tanpa sadar Anda mendapati, semakin banyak Anda bicara, semakin lega rasanya,” tulisnya. Sambil terus bicara, ketegangan Anda mencair dan dada Anda terasa Anda plong. Pada tahap kedua, ketika Anda merasakan kesibukan itu, barangkali Anda tak sadar orang lain mulai tak memperhatikan Anda. Tahap ketiga dicirikan oleh kesadaran bahwa Anda sudah kehilangan mereka, dan mencoba meraih perhatian mereka lagi. Hasilnya, Anda mulai bicara lebih banyak lagi.

Ini buruk. Anda perlu belajar bagaimana banyak mendengar dan sedikit bicara. Menurut Goulston, kebanyakan orang menyadari dirinya terlalu banyak bicara, tapi desakan kuat dopamin meminggirkan sinyal yang diberikan orang lain untuk meminta kesempatan bicara.

Di bawah ini ada cara untuk memastikan Anda tidak sedang membuat kupingnya kepanasan.

Lampu hijau, kuning, merah
Goulston menulis, setelah buku pertama karangannya (Just Listen) keluar, temannya (pembaca acara Marty Nemko) memberitahukan bahwa dia sedang mengesampingkan nasehatnya sendiri dan mengabaikan sinyal bahwa dia berbicara terlalu banyak. Nemko kemudian memberitahunya tentang teori sepele yang disebut Aturan Lampu Lalu-Lintas, yang dia pakai selama berbicara dengan orang-orang kepribadian alpha. Goulston mengeceknya sendiri dan telah menerapkan alat percakapan ini untuk membantunya lebih mendengarkan.

“Dalam 20 detik pertama bicara, lampu Anda hijau: pendengar menyukai Anda, selama pernyataan Anda relevan dengan obrolan dan diharapkan bermanfaat bagi orang tersebut. Tapi, kecuali kalau Anda pendongeng yang amat berbakat, orang-orang yang bicara lebih dari setengah menit sekaligus biasanya membosankan dan sering dianggap terlalu cerewet,” jelas Goulston.

Untuk 20 detik berikutnya, lampu menjadi kuning. Sebaiknya Anda melambat, atau Anda beresiko kehilangan minat orang lain. Saat menyentuh angka 40 detik, lampu berganti merah. “Ya, terkadang ada waktu di mana Anda ingin menerobos lampu merah dan terus bicara, tapi mayoritas lebih baik berhenti atau Anda dalam bahaya,” tulisnya.

Caritahu kenapa Anda tak mau berhenti bicara
Nemko menasehati Goulston bahwa Aturan Lampu Lalu-Lintas baru langkah pertama untuk mengatasi kecanduan bicara. Anda perlu menggapai akar penyebab kenapa Anda tak bisa menahan diri dari berbicara ngalor-ngidul. Apa motivasi dasar omongan berkepanjangan Anda? Apa Anda berbicara selama proses berpikir? Apa Anda terkucil di siang hari sehingga tak tahan ingin menjadi bintang begitu Anda punya audiens? “Apapun penyebabnya, omongan diperpanjang biasanya merupakan simpangan dari perbincangan, dan mungkin mengakibatkan Anda berdua jatuh ke dalam monolog bergantian,” tulis Goulston. “Dan itu pastinya takkan banyak memajukan percakapan atau hubungan kalian.”

Sedikit bicara untuk memberi kesan
Menurut Goulston banyak orang bicara bertele-tele karena ingin memberi kesan kepada pihak lain atau menampakkan kecerdasannya. Tapi orang-orang pintar punya bakat menjelaskan hal rumit dalam beberapa kata. “Jika ini yang terjadi pada Anda, sadarilah bahwa terus-menerus bicara justru akan membuat orang lain kurang terkesan,” ujarnya.

Jam internal yang rusak
Nemko menyebutkan banyak pengoceh “mungkin tak mempunyai rasa akan perlaluan waktu.” Jika Anda seperti ini, Anda perlu rehat sejenak dan memikirkan bagaimana Anda dapat memperbaiki jam internal Anda. Tetapkan waktu untuk bicara selama 40 detik dan biasakan untuk tidak lebih dari 20 detik. Mulailah fokus untuk lebih banyak bertanya dan bersikap inklusif. Tak ada yang suka pelagak, jadi berhentilah memamerkan kepandaian dan mulailah mendengarkan orang lain. Setelah dipertimbangkan, sebagai pemimpin Anda belajar lebih banyak dengan mendengarkan karyawan, pelanggan, dan kolega Anda daripada dengan bicara kepada mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s