Seni Mendengarkan

Oleh: Henning Mankell
10 Desember 2011
(Sumber: www.nytimes.com)

Maputo, Mozambique—Saya datang ke Afrika dengan satu tujuan: ingin melihat dunia di luar perspektif egosentrisitas Eropa. Saya bisa saja memilih Asia atau Amerika Selatan. Akhirnya saya berlabuh di Afrika karena tiket pesawat ke sana paling murah.

Saya datang dan menetap. Selama hampir 25 tahun saya bertahan hidup di Mozambik. Waktu berlalu, saya tak muda lagi; bahkan, saya mendekati usia tua. Tapi motif saya untuk menjalani eksistensi terkangkang ini, satu kaki di pasir Afrika dan satu lagi di salju Eropa, di kawasan murung Norrland di Swedia tempat saya tumbuh besar, berkaitan dengan keinginan untuk melihat dengan jelas, untuk memahami.

Cara paling sederhana untuk menjelaskan apa yang sudah saya pelajari dari kehidupan saya di Afrika adalah melalui perumpamaan kenapa manusia punya dua telinga tapi hanya satu lidah. Kenapa? Barangkali agar kita mendengarkan dua kali lebih banyak daripada bicara.

Di Afrika, mendengarkan adalah prinsip pemandu. Ini Prinsip yang hilang dalam ocehan konstan dunia Barat, di mana tak ada yang punya waktu atau bahkan kemauan untuk mendengarkan orang lain. Menurut pengalaman saya sendiri, betapa lebih cepat saya menjawab pertanyaan dalam wawancara TV dibanding 10 atau mungkin bahkan 5 tahun lalu. Seolah kita sudah kehilangan kemampuan untuk mendengarkan sama sekali. Kita bicara dan bicara, dan akhirnya takut dengan keheningan, tempat berlindung bagi mereka yang bingung harus menjawab apa.

Saya cukup tua untuk mengingat ketika literatur Amerika Selatan muncul dalam kesadaran populer dan mengubah selamanya pandangan kita tentang kondisi manusia dan apa maknanya menjadi manusia. Kini, saya pikir giliran Afrika.

Di mana-mana, orang-orang di benua Afrika menulis dan menceritakan kisah. Segera, literatur Afrika kemungkinan besar akan meledak ke kancah dunia—sebagaimana literatur Amerika Selatan beberapa tahun silam saat Gabriel Garcia Márquez dan lain-lain memimpin revolusi menggemparkan dan emosional melawan kebenaran yang berurat-akar. Segera banjir literatur Afrika akan menawarkan perspektif baru mengenai kondisi manusia. Penulis Mozambik Mia Couto telah, contohnya, menciptakan realisme magis Afrika yang mencampur bahasa tertulis dengan tradisi lisan agung Afrika.

Jika kita mampu mendengarkan, kita akan mendapati bahwa banyak cerita Afrika mempunyai struktur berbeda sama sekali dari [literatur] yang biasa kita baca. Saya terlalu menyederhanakan, tentu saja. Tapi setiap orang tahu ucapan saya ada benarnya: literatur Barat biasanya linier; berjalan dari awal hingga akhir tanpa penyimpangan besar dalam hal ruang atau waktu.

Tidak demikian halnya di Afrika. Di sini, alih-alih cerita linier, terdapat penceritaan subur dan tak terkekang yang melompat bolak-balik waktu dan memadukan masa lalu dan masa kini. Seseorang yang sudah lama meninggal dapat turut campur tanpa cekcok ke dalam percakapan di antara dua orang hidup. Sebagai contoh saja.

Kaum nomaden yang masih mendiami Gurun Kalahari konon saling bercerita pengembaraan siang mereka, waktu di mana mereka mencari akar-akaran yang dapat dimakan dan berburu binatang. Seringkali mereka mempunyai lebih dari satu cerita pada waktu yang sama. Terkadang mereka punya tiga atau empat cerita yang berjalan paralel. Tapi sebelum kembali ke tempat menghabiskan malam, mereka berhasil menjalin cerita-cerita atau memisah-misahkannya untuk selamanya, memberikan akhirnya masing-masing.

Beberapa tahun lalu saya duduk di sebuah bangku batu di luar Teatro Avenida di Maputo, Mozambik, di mana saya bekerja sebagai konsultan artistik. Hari itu cuaca panas, kami sedang beristirahat dari latihan, jadi kami pergi keluar, mengharapkan angin sepoi yang sejuk. Sistem pendingin udara teater sudah lama berhenti berfungsi. Suhu di dalam pasti lebih dari 100 derajat saat kami bekerja.

Dua lelaki tua Afrika sedang duduk di bangku, tapi masih ada ruang untuk saya. Di Afrika, masyarakat bukan hanya berbagi air dalam rasa persaudaraan. Dalam hal tempat berteduh pun mereka murah hati.

Saya dengar keduanya sedang membicara lelaki tua ketiga yang baru meninggal. Salah satu dari mereka berkata, “Saya sempat berkunjung ke rumahnya. Dia mulai menceritakan kisah menakjubkan tentang sesuatu yang menimpanya di masa muda. Tapi ceritanya panjang. Malam turun, kami pun memutuskan bahwa saya harus datang keesokan hari untuk mendengar sisanya. Tapi saat saya tiba, dia sudah meninggal.”

Lelaki ini terdiam. Saya putuskan untuk tidak meninggalkan bangku sebelum mendengar bagaimana lelaki satu lagi akan menanggapi apa yang didengarnya. Saya punya firasat itu akan penting.

Akhirnya dia turut bicara.

“Bukan cara yang baik untuk mati—sebelum menceritakan akhir kisahnya.”

Sambil mendengarkan mereka berdua, saya mendapat kesan bahwa pencalonan lebih pas untuk spesies kita bukanlah Homo sapiens tapi Homo narrans, orang pencerita. Yang membedakan kita dari binatang adalah fakta bahwa kita dapat mendengarkan impian, ketakutan, kegembiraan, kesedihan, keinginan, dan kekalahan orang lain—dan mereka balas mendengarkan kita.

Banyak orang keliru mengira informasi sebagai wawasan. Padahal keduanya tidak sama. Wawasan melibatkan penafsiran informasi. Wawasan melibatkan aktivitas mendengar.

Jadi jika saya benar bahwa kita adalah makhluk pencerita, dan asalkan kita menutup mulut sesekali, cerita kekal akan berlanjut.

Banyak kalimat akan tertulis pada angin dan pasir, atau berakhir di suatu kubah digital kabur. Tapi penceritaan akan terus berlangsung sampai manusia terakhir berhenti mendengarkan. Saat itu kita bisa mengirim kronik agung umat manusia ke semesta tak berujung.

Siapa tahu? Mungkin ada seseorang di luar sana, yang mau mendengarkan…


Henning Mankell adalah penulis banyak buku, termasuk seri novel Wallander. Artikel ini diterjemahkan dari bahasa Swedia oleh Tiina Nunnally.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s