AI dan Kehendak Bebas – Kapan Pilihan Eksis

Oleh: David McAllester
Senin 15 Juli 2013
(Sumber: ai-thoughs.blogspot.com)

Ini adalah postingan filosofis yang dipicu oleh makalah dan postingan teranyar karangan Scott Aaronson berkenaan dengan kehendak bebas. Banyak hal, saya pikir, bergantung pada cara kita menyusun pertanyaan. Saya suka pertanyaan “Kapan pilihan eksis?” dibanding “Apa manusia punya kehendak bebas?” Saya akan mencoba pertanyaan ini dengan dua jalan. Pertama adalah pembahasan teori permainan (game theory). Kedua adalah pembahasan bahasa sehari-hari terkait penentuan pilihan. Kesimpulan saya, pilihan eksis ketika proses pengambilan keputusan bersifat deterministik.

Teori Permainan. Teori ini mempostulatkan eksistensi pilihan. Permainan dwimatriks ditetapkan dengan dua matriks yang masing-masingnya diindeks oleh dua pilihan—satu pilihan untuk pemain A dan satu pilihan untuk pemain B. Berdasarkan pilihan untuk tiap pemain, matriks pertama merinci pembayaran untuk pemain A dan matriks kedua merinci pembayaran untuk pemain B. Di sini pilihan eksis menurut definisi.

Kita menulis program yang memainkan permainan. Sebuah program catur komputer memiliki pilihan—bermain catur melibatkan pemilihan langkah. Lebih jauh, rasanya pantas untuk mendeskripsikan komputasi yang berlangsung dalam pencarian min-max sebagai “penimbangan” pilihan-pilihan dan “pemilihan” sebuah pilihan berimbal hasil diharapkan. Catat, mayoritas program catur menggunakan komputasi deterministik saja. Di sini pilihan eksis berdasarkan aturan catur.

Rasanya konsisten untuk berasumsi bahwa pertimbangan pilihan saya, seperti halnya pertimbangan program catur, didasarkan pada komputasi deterministik. Sekalipun saya [berkarakter] tegas dan mudah diprediksi, dunia menyajikan pilihan-pilihan dan saya harus tetap memilih. Lebih jauh saya berargumen bahwa, jikapun saya tegas, pilihan-pilihan tetaplah eksis—untuk posisi catur tertentu betul-betul terdapat sehimpunan langkah sah. Pilihan-pilihan adalah nyata.

Bahasa Sehari-hari. Pertimbangkan kalimat “dia punya satu pilihan” (“she had a choice”). Dalam kondisi apa biasanya kita anggap kalimat semacam ini benar? Contoh, kita bisa katakan dia punya satu pilihan antara kuliah di Princeton atau kuliah di Harvard. Kondisi tipikal yang membuat [pernyataan] ini benar adalah apabila dia diterima di kedua lembaga. Fakta bahwa dia diterima oleh dua-duanya tidak menjelaskan apa-apa tentang determinisme vs non-determinisme. Namun, dalam bahasa sehari-hari ini mengimplikasikan bahwa pilihan itu eksis.

Semantika bahasa alami adalah isu yang sulit. Saya berencana membuat pelbagai postingan mengenai semantika. Fenomena semantika utama, menurut saya, adalah parafrase dan entailmen—yakni bermacam cara mengatakan hal yang sama atau serupa dan kesimpulan apa saja yang dapat kita tarik dari pernyataan tertentu. Saya percaya, penyelidikan cermat terhadap parafrase dan entailmen untuk pernyataan “dia punya satu pilihan” akan menunjukkan bahwa eksistensi pilihan-pilihan seharusnya dianggap sebagai atribut dunia, dan barangkali kemampuan agen/perantara untuk melakukan tindakan tertentu, tapi bukan atribut sifat fundamental komputasi yang melakukan pemilihan.

Ikhtisar. Menurut saya “kehendak bebas” tidak dapat dibedakan secara subjektif dari mempunyai pilihan. Dan kita memang punya pilihan—seperti halnya program catur, kita tetap harus memilih, sekalipun kita tegas dan mudah diprediksi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s