Kecerdasan, Otak, dan Kehendak Bebas

Oleh: Dorian Scott Cole
22 Mei 2004
(Sumber: www.visualwriter.com)

Baru-baru ini saya menamatkan telaah buku The Mind and the Brain untuk sebuah artikel yang sedang saya kerjakan. Buku tersebut mengulas ilmu syaraf secara mengesankan, khususnya sepuluh tahun terakhir di mana para penyelidik mendesak lebih dalam ke persoalan seberapa “plastik” otak kita. “Plastik” yang dimaksud adalah kemampuan otak untuk menanggapi secara fisik rangsangan eksternal dan internal dengan membangun sambungan sel syaraf baru, mengubah lokasi seluruh area fungsional, menciptakan pertumbuhan baru, dan mengatasi perilaku psikotik yang merespon terapi farmasi dan perilaku secara jelek.

Mungkin banyak pemikiran berlandaskan sains generasi terdahulu akan tersingkir, mengingat implikasi temuan-temuan riset ini sangat besar terhadap berbagai bidang seperti pembelajaran, rehabilitasi otak pasca trauma, psikoterapi, dan bahkan filsafat.

Saya menyambut banyak temuan ini, dalam arti mereka mendukung banyak pandangan saya sendiri perihal otak dan pikiran. Namun, karena sepertinya otak saya dua kali lebih kecil, terindikasi dari ketidakmampuan saya untuk memiliki ingatan fotografis, atau kadang ingatan apapun sama sekali, pendapat saya barangkali tidak terlalu penting kecuali untuk merekatkan remah-remah pemikiran saya sendiri.

Beberapa bidang perhatian saya, ilmu syaraf, kehendak bebas, kecerdasan, psikologi, fisika teoritis (fisika quantum), pembelajaran, dan filsafat, diinformasikan oleh buku ini.

Penulisnya, Jeffrey M. Schwartz, M.D., dan Sharon Begley, meluangkan beberapa halaman untuk menggali beberapa implikasi terhadap kehendak bebas karena ia dapat dipengaruhi lewat mekanisme mekanika quantum. Saya rasa gagasannya tidak terlalu meyakinkan dalam dua lingkup. Pertama adalah kemampuan komunikasi quantum—sesuatu yang ingin saya percayai…tapi belum yakin. Kedua adalah sifat komponen kehendak bebas.

Gagasan kemampuan komunikasi quantum untuk merangsang otak melibatkan beberapa teori. Teori-teori ini mempunyai beraneka interpretasi, dan terdapat perbedaan pendapat apakah mereka sudah “terbuktikan”. Teori-teori ini mengikuti pengamatan bahwa foton (kuantitas diskret energi cahaya) dan entitas mikroskopis lain memiliki sifat khas yakni terukur sebagai partikel sekaligus gelombang, menyisakan pertanyaan: apa sebetulnya entitas subatom ini.

Kita tak punya kiasan di dunia makroskopis kehidupan sehari-hari untuk membantu memvisualisasikan dan memahami tatanan ini (selain keserupaan antara gelombang air dan tetes kecil, medan listrik dan medan magnet). Apakah satuan energi kecil dapat berada di dua tempat sekaligus? “Benda” seukuran ini, dengan karakteristik yang tak lazim, digali di alam fisika “quantum”, sebuah tempat amat aneh.

Quantum: a) besaran terkecil kuantitas fisik yang dapat eksis secara independen, khususnya kuantitas diskret radiasi elektromagnetik, b) besaran energi ini dianggap sebagai satuan.

The American Heritage® Dictionary of the English Language, Third Edition copyright © 1992 oleh Houghton Mifflin Company. Versi elektronik diberi lisensi dari INSO Corporation. Hak cipta dilindungi. Satu spekulasi mengenai fisika quantum.

Satu pertanyaan serius adalah apakah entitas subatom betul-betul eksis sebagai partikel (bersifat lokal) sebelum mereka diukur. Apakah tindakan pengukuran membuat mereka memperagakan karakteristik yang sedang diukur? Bisakah Anda memandang sesuatu tanpa mengubahnya? Apakah mekanisme pengukuran cahaya (foton) menentukan ciri yang akan diperagakan? Ada perbedaan pendapat.[1]

Fungsi Gelombang Schrödinger adalah rumus matematika yang menggambarkan probabilitas bahwa ciri entitas subatom tertentu akan memiliki harga tertentu, dan pada titik tertentu dalam perjalanan gelombang tersebut. Ini terbukti akurat pada saat eksperimen. Salah satu interpretasi Fungsi Gelombang Schrödinger adalah bahwa sebuah entitas subatom, misalnya elektron, sebetulnya eksis dalam “kabut” sampai pengaruh pengukuran memaksa “fungsi gelombang kolaps”, memberinya aktualitas fisik (terlokalisasi), dan baru kemudian ia memperagakan karakteristik yang dapat diukur. Apakah ini memang terjadi, ataukah “kabut” tersebut hanya kiasan untuk semua posisi potensial dan semua ciri potensial, dan interferensi pengukuran sekadar membongkar posisi dan cirinya? Ada perbedaan pendapat.

Ketika partikel-partikel bertubrukan, atau dihasilkan secara serempak, “pusingan” tiap partikel dapat diprediksi secara matematis melalui orde magnitudo sepadan. Partikel-partikel ini, atau status-status medan ini, dianggap [saling] “terjerat”. Dari sinilah muncul teori bahwa apa yang menimpa satu partikel dialami pula oleh partikel lain, seolah mereka berkomunikasi instan. Pusingan ini berlaku sekalipun partikel-partikel terpisah sangat jauh, bahkan jarak yang tak dapat diatasi oleh kecepatan cahaya tidak menjadi halangan bagi komunikasi instan. Eksperimen untuk membuktikan teori ini sudah lima tahun berjalan (sejak 2001), namun keterjeratan telah dimanfaatkan dalam eksperimen teleportasi dasar yang sukses.[2]

Dari teori-teori ini datanglah ide “eksperimen pikiran” di mana pengamat sebetulnya menentukan ciri yang akan terungkap lewat kesadarannya sendiri. Dan kemudian, komunikasi quantum dengan pikiran dianggap terjadi melalui ion-ion.

Barangkali ini terlalu rumit untuk dibayangkan oleh otak saya yang dua kali lebih kecil, tapi saya rasa dalam evolusi hirarki teori-teori ini satu dugaan mengikuti dugaan berikutnya dengan lompatan besar, yang kesemuanya belum dibuktikan oleh sains—bahkan tak ada lagi yang terjadi selain yang dapat dideskripsikan oleh fisika klasik dan matematika. (Yang ingin saya ketahui adalah bahwa memang setelah partikel-partikel [saling] terjerat, maka pusingan partikel kedua ikut berubah bila Anda mengubah pusingan partikel kesatu. Barangkali eksperimen ini sudah dikerjakan—saya ingin tahu.)

Lingkup lain yang kurang meyakinkan dari konsep kehendak bebas milik penulis adalah pendekatan dalam memahami apa itu kehendak bebas. Saya percaya manusia punya kehendak bebas, sekurangnya mereka yang pikirannya berkembang (mereka yang insyaf akan pilihan-pilihan signifikan dan mampu mengevaluasinya). Terkandung dalam ide kehendak bebas adalah gagasan bahwa kita punya pilihan perilaku. Filsafat dan sains tipikalnya mencari penyebab deterministik perilaku. Penyebab adalah lawan dari pilihan.

Menggeser determinan perilaku ke alam quantum tidak membantu membuktikan gagasan kehendak bebas. Arah ini hanya mencari “penyebab” lain. Penyebab justru semakin kecil dan samar, memberikan ilusi kehendak bebas, seraya mempertahankan ide determinisme.

Saya tak percaya mekanisme kehendak bebas ditemukan pada sinapsis (titik temu dua sel syaraf—penj) atau mikrokosmos. Saya percaya ia ditemukan pada pengalaman, pengaruh, dan pendekatan sistem terhadap pemahaman. Kiasannya adalah, dalam sistem setimbang, besaran energi mensyaratkan entropi di atas untuk melakukan kerja. Dalam pikiran, dari seratus pengaruh kecil, takkan ada yang mempunyai besaran energi kritis (persuasi) guna mempengaruhi otak.

Sebagai ilustrasi, jika seseorang harus membuat keputusan, tapi dalam menimbang faktor-faktornya tak menjumpai faktor yang bernilai lebih, orang tersebut akan bimbang. Pilihan tidak dibuatkan untuknya oleh suatu sebab. Sampai dia menemukan suatu faktor yang mempengaruhi dirinya, boleh jadi sekadar jentikan koin, dia tetap dalam kondisi setimbang. Dia mungkin pula terilhami untuk mengecek lebih jauh “rasa gatal” amat kecil, tapi tidak membuat keputusan bertindak berdasarkan pengaruh tak memadai tersebut. Saya yakin tak ada penyebab mikrokosmik perilaku—mungkin itu bisa terjadi, tapi tidak melukiskan cara manusia membuat keputusan.

Ada determinan kuat lain. Pengalaman berpengaruh lewat ingatan bermuatan emosi. Emosi punya pengaruh besar terhadap perilaku, tapi itu cuma pengaruh, bukan penyebab. (Catat, perilaku mayoritas manusia dipengaruhi oleh emosi dibanding mereka yang lebih condong kepada proses rasional pembuatan keputusan.) Ketika orang tersebut mengevaluasi [determinan] mana yang mengandung nilai lebih, dia punya pilihan. Cara bertingkah bisa mencakup faktor-faktor emosional seperti penerimaan masyarakat, serta faktor-faktor semacam prinsip pemandu yang dikaitkan dengan perilaku diharapkan, atau perilaku berarti, dan konsekuensi perilaku. Dia dapat membiarkan dirinya mengikuti kebiasaan, perilaku diharapkan, perilaku dicontohkan, perilaku berarti, atau perilaku tak diterima secara sosial. Dia bisa sampai pada kesimpulannya berdasarkan emosi, proses logika dan pertimbangan, naluri (seringkali dianggap sebagai pengalaman), tuntunan batin, atau pengaruh eksternal semisal paksaan.

Saya telah kemukakan dalam artikel-artikel terdahulu bahwa pikiran matang lebih besar kemungkinannya untuk mengevaluasi pengaruh dan tingkahnya sendiri dan menentukan pilihan berdasarkan informasi dan pertimbangan, sedangkan pikiran tak matang lebih kecil kemungkinannya untuk mempertimbangkan pilihan, bereaksi karena emosi semata, dan lebih bersifat deterministik. Pikiran harus dilatih lewat bimbingan atau pengalaman berhubung ada nilai-nilai yang lebih berharga, dan ia bisa mengambil pilihan berdasarkan pertimbangan.

Secara keseluruhan, seseorang punya pilihan atas apa yang relevan dengan apa yang diinginkannya, dan apa yang berarti. Beberapa keputusan dibuat dengan sangat berat dan dihasilkan dari pertimbangan panjang terhadap banyak faktor. Pengalaman maupun ide mempengaruhi apa saja yang dilibatkan dalam keputusan ini. Pilihan untuk mengevaluasi pengalaman dan alhasil mengubah perilaku seseorang, atau memilih salah satu arah untuk ditempuh, barangkali merupakan pengaruh terbesar atas perilaku mendatang.

Sebagai pujian, buku The Mind and the Brain menunjukkan dengan jelas bahwa manusia dapat mengambil pilihan tentang perilaku yang bukan mempengaruhi perbuatan saja, tapi juga pola pikiran mendatang dan struktur aktual otak mereka—menjadi apa mereka, secara rohani, secara ragawi (sambungan dan ukuran sel syaraf), dan hasil perbuatan mereka sebagai orang bertanggungjawab.

Usaha menemukan penyebab terkecil perilaku terlalu menyederhanakan sifat proses pembuatan keputusan. Namun, jika para penulis ini mencoba menemukan mekanisme komunikasi yang akan menerangi jalan untuk menjelaskan fenomena teramati dan terbukti ilmiah yang melampaui (menjangkau keluar) otak manusia, misalnya informasi akurat yang diraih lewat kewaskitaan, atau hubungan roh yang membangkitkan pengetahuan dalam pikiran seseorang, maka saya kira pencarian mereka patut diperhatikan. Bacalah bukunya—itu luar biasa.

Pemutakhiran: Dalam artikel di atas disebutkan saya ingin melihat bukti keterjeratan (implikasi bahwa satu partikel quantum mempengaruhi partikel lain dari kejauhan), bukan hanya bahwa observasi eksperimental memperbaiki keadaan. Para ilmuwan semakin erat dengan eksperimen keterjeratan, telah “menjerat” sampai 6 ion sekaligus selama 150 mikrodetik. “Bahan” menarik.

Lihat

Catatan:
[1] Ilustrasi bagaimana teori quantum ilmiah dapat ditopang secara keliru oleh metodologi eksperimen tak tertantang ada dalam tesis berikut. Tantangan dalam makalah ini sendiri mirip dengan teori yang dikritiknya, tapi pendekatan kritisnya patut diperhatikan. Introduction to the Quantum Zeno Effect, Bab 2.
[2] Teleportasi adalah efek amat menarik yang memanfaatkan keterjeratan partikel. Quantum Teleportation.
[3] Freewill. Artikel tentang kehendak bebas di situs ini.
[4] Artikel yang menggali perbedaan antara perangkat “sebab-akibat” sejati (komputer – kecerdasan buatan) dan pikiran manusia. The Human Condition, Computer vs Human.
[5] Diskursus Computer Relationship Systems tentang apa yang diperlukan agar komputer betul-betul memahami kata, dalam What’s in a Word Part III.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s