Kata Kauffman Tentang Rekoherensi

6 Juli 2014
(Sumber: www.quantum-mind.co.uk)

Di balik kebuntuan pikiran-tubuh: Wawancara dengan Stuart Kauffman
Dimuat dalam Social Epistemology Review and Reply Collective
(social-epistemology.com)

Ringkasan dan ulasan wawancara di atas
Dalam wawancara dengan Ryan Cochrane, Kauffman menguraikan persoalan pikiran-tubuh dalam fisika klasik (yakni non-quantum). Jika otak adalah sistem fisika klasik, maka status terkini otak, ditambah input klasik dari lingkungan eksternal, sudah cukup untuk menetapkan secara kausal status otak berikutnya dan status berikutnya lagi dan seterusnya.

KesadaranTapi fisika klasik tidak menyebut-nyebut kesadaran, jadi tak ada alasan ia harus eksis di otak, dan tentunya tak punya fungsi di dalam sistem klasik. Dengan demikian, ketertutupan kausalitas fisika klasik menciptakan kebuntuan modern berupa persoalan pikiran-tubuh. Dari titik tolak ini, Kauffman memandang tuna-kausalitas fisika quantum, yang menyatakan posisi sebuah partikel terpilih secara sembarang, sebagai pembebasan dari determinisme fisika klasik. Kauffman membahas dekoherensi. Dalam persamaan gelombang Schrödinger, fase atau kurva sinus gelombang diketahui di setiap titik di ruangwaktu, tapi dalam interaksi dengan lingkungan, informasi ini bisa hilang ke seluruh alam semesta, dan peristiwa ini dilukiskan sebagai dekoherensi.

Consciousness, Biology, and Fundamental Physics

Rekoherensi
Ide ilmiah terbaru adalah bahwa dekoherensi fungsi gelombang quantum ini dapat diikuti dengan rekoherensi; fungsi gelombang yang hilang terpulihkan. Kita bisa mempunyai sistem yang Kauffman sebut “alam imbang” (poised realm), di mana sistem tersebut berfluktuasi antara dekoherensi dan rekoherensi, atau dengan kata lain mengambang antara dunia klasik dan dunia quantum tapi dapat dibolak-balik [antara keduanya]. Rekoherensi yang disinggung di sini sudah diobservasi secara eksperimen.

Eksperimen yang diusulkan
Kauffman kemudian mengusulkan sebuah eksperimen untuk mencari kemungkinan pengukuran quantum terjadi pada materi organik. Dalam eksperimen terhadap lalat buah, adalah memungkinkan untuk membedakan populasi yang butuh dosis bius normal dan populasi yang dibiakkan agar butuh dosis sangat sedikit. Peruntunan gen (gene sequencing) dapat menentukan protein termutasi pada populasi lalat ubahan yang tak butuh banyak obat bius. Pembedaan ini diusulkan untuk mengujicoba apakah protein asli dapat melakukan pengukuran quantum yang tak bisa dilakukan oleh protein ubahan. Jika ya, Kauffman mengaku dapat membayangkan efek-efek quantum mengubah pemrosesan pada level halus di sel syaraf.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s