Ilmu Syaraf Kehendak Bebas dan Ilusi “Anda”

Oleh: Joe Pierre M.D.
7 November 2014
(Sumber: www.psychologytoday.com)

Bagaimana determinisme keras dapat memberitahukan sifat sejati diri.

Ensō, Kanjuro Shibata XX  (Sumber: Wikipedia)
Ensō, Kanjuro Shibata XX (Sumber: Wikipedia)

Yamaoka Tesshu, seorang pemuda penuntut ilmu Zen, mendatangi para master satu demi satu. Dia singgah di tempat Dokuon dari Shokoku.

Berhasrat memamerkan pencapaiannya, dia berkata: “Pikiran, Buddha, dan makhluk berperasaan, bagaimanapun, tidak eksis. Sifat sejati fenomena adalah kehampaan. Tak ada kesadaran, tak ada angan, tak ada orang bijak, tak ada medioker. Tak ada pemberian dan tak ada yang diterima.”

Dokuon, yang sedang merokok tenang, tidak bilang apa-apa. Sekonyong-konyong dia memukul Yamaoka dengan pipa bambunya. Ini membuat si pemuda cukup marah.

“Kalau tak ada yang eksis,” selidik Dokuon, “dari mana datangnya amarah ini?” [1]

Apa manusia punya kehendak bebas “kontra-kausalitas”? Apa kita memilih dengan sadar untuk melakukan perbuatan tertentu dan, dalam kondisi sama persis, bisakah kita memilih berbuat sebaliknya? Pertanyaan ini sudah diperdebatkan selama ribuan tahun, oleh filsuf [sejati] maupun filsuf belakang meja. Tahun lalu saya mempublikasikan sebuah makalah di jurnal Psychological Medicine dengan judul The Neuroscience of Free Will: Implications for Psychiatry. Itu melambangkan upaya saya dalam memahami persoalan kehendak bebas, memperhitungkan temuan-temuan relatif anyar dalam ilmu syaraf yang telah memberi informasi baru tentang isu ini. Dan saat saya katakan memberi informasi baru, maksudnya adalah berbagai eksperimen dalam 20 tahun terakhir telah menyediakan data objektif penunjang argumen kokoh menentang kehendak bebas. Ini penting untuk dikatakan, sebab selama manusia memperdebatkan kehendak bebas hingga sekarang, belum banyak data yang disinggung selain pengalaman subjektif kita sendiri. Dan kendati pengalaman pribadi melandasi begitu banyak sistem keyakinan kita, salah satu tema pokok blog ini adalah bahwa pengalaman subjektif termasuk ke dalam jenis data paling tidak handal untuk menjadi dasar keyakinan-keyakinan itu.

Malah, dalam rangka memutakhirkan diskusi kehendak bebas, kini kita perlu memperhitungkan temuan-temuan objektif yang timbul dari studi eksperimental. Studi-studi ini diawali oleh penelitian Benjamin Libet, yang mendemonstrasikan dalam sederet eksperimen di tahun 1980-an bahwa sebelum [ada] niat sadar untuk menggerakkan tangan dalam aksi kentara kehendak bebas, aktivitas tak sadar di otak yang berkorelasi dengan gerakan tersebut (dinamakan “potensi kesiapan”) sudah dapat dideteksi oleh perekaman elektroensefalografi (EEG). Dengan kata lain, otak Anda rupanya memutuskan bergerak sebelum [ada] niat sadar untuk berbuat demikian, mengindikasikan bahwa keputusan sadar “aku memilih bergerak” lebih berupa pikiran susulan ketimbang daya penentu kausal dalam kerja motorik sederhana. Temuan ini telah dihasilkan ulang dan diperhalus dalam banyak studi selanjutnya, termasuk sebuah eksperimen anyar yang dipublikasikan pada 2011 oleh Itzak Fried, seorang ahli bedah syaraf dan peneliti di UCLA. Fried mengganti perekaman EEG Libet dengan elektroda yang memonitor sel-sel syaraf tunggal dan menemukan bahwa potensi kesiapan bukan sekadar sinyal persiapan non-spesifik sebagaimana dikemukakan sebagian pihak, melainkan aktivitas otak yang memprediksi apakah subjek akan bergerak dan tangan mana yang akan dipakai sebelum dia membuat keputusan sadar tersebut. Lagi-lagi, tampaknya ini membuktikan kepalsuan perasaan subjektif kehendak bebas di mana pengalaman kita menyebut bahwa keputusan sadar untuk bergerak adalah yang menggerakkan keputusan itu. Pada kenyataannya, semua sudah digerakkan jauh sebelum adanya keinsyafan sadar akan keputusan tersebut.

Keyakinan tentang kehendak bebas biasanya tersaring menjadi tiga pendirian filosofis utama, tergantung dasar pemikiran Anda. Jika Anda percaya dengan kehendak bebas lantaran Anda percaya alam semesta tidak harus deterministik—yakni terikat kaku oleh hukum fisika—berarti Anda seorang “libertarian”. Psikolog menyatakan kita semua cenderung libertarian alami yang, berdasarkan pengalaman subjektif kehendak bebas, mempercayainya sejak lahir dan tak suka melepasnya.

Jika, di sisi lain, Anda mengakui alam semesta bersifat deterministik, tapi percaya kehendak bebas tetap eksis, maka Anda seorang “kompatibilis”. Golongan ini kadang beragumen terdapat ruang gerak untuk kehendak bebas di level otak, pikiran, atau kesadaran. Contoh, salah satu argumen populer adalah bahwa mekanika quantum mungkin berlaku pada kefungsian molekuler sel-sel syaraf sedemikian rupa sehingga peristiwa-peristiwa sembarang dapat terjadi, dengan begitu membebaskan kehendak dari determinisme.

Dan terakhir, jika Anda percaya alam semesta bersifat deterministik dan karenanya tak percaya dengan kehendak bebas, berarti Anda seorang “determinis keras”. Menurut pengalaman saya, determinisme keras adalah pendirian paling kurang populer dan saya kira banyak pihak menganggap para pendukungnya sebagai sejenis nihilis dingin yang, tak berbeda dari Yamaoka Tesshu, menutup diri dari dunia pengalaman.

Meski tetap mungkin untuk menganut salah satu pendirian ini tanpa terjangkit delusi (harapan palsu), posisi manapun semestinya memperhitungkan eksperimen Libet dan Fried. Tentu saja, sebagaimana dengan mayoritas data ilmiah, ada banyak ruang untuk memperselisihkan penafsiran mereka. Anda boleh bilang studi-studi ini cacat, sambil menyebutkan bermacam-macam masalah metodologis seperti kurangnya presisi dalam pengukuran waktu keputusan sadar—bisa saja itu terjadi lebih awal daripada yang diindikasikan oleh eksperimen. Atau mungkin, terlepas dari temuan Fried, potensi kesiapan tidak sebagaimana yang digembar-gemborkan—toh itu baru memprediksi gerakan dengan akurasi sekitar 70-80%, bukan 100%. Para pengkritik telah mengangkat isu ini dan lainnya berkali-kali dalam literatur akademis (seluk-beluk tambahan perihal studi Libet dan Fried dan banyak kontra-argumen yang menjelaskan temuan mereka dirujuk dalam makalah saya). Dan dalam membahas temuan ini bersama kolega, mahasiswa, dan sahabat selama beberapa tahun terakhir, saya mendengar tak terhitung keberatan lain, sebagian lebih masuk akal daripada yang lain. Libet sendiri percaya bahwa kehendak bebas mungkin tidak eksis, manusia mungkin punya kemampuan untuk memveto keputusan, menyisakan ruang untuk semacam “ingkar bebas”.

Kendati siap mengklaim sebagai agnostik dalam urusan kehendak bebas tanpa bermaksud memperdebatkan atau membereskan isu tersebut di sini, saya akan jelaskan secara ringkas mengapa orang-orang tertarik dengan determinisme keras, mengapa mayoritas lainnya lebih suka libertarianisme atau kompatibilisme, dan saya akan kemukakan beberapa pandangan alternatif tentang sumbangsih determinisme keras bagi pemahaman kita akan “diri”.

Dalam membela determinisme keras, para pendukungnya biasa berpendapat bahwa, terlepas dari perasaan subjektif kita akan kehendak bebas, libertarianisme tidak cocok dengan data aktual. Hukum fisika, bukan firasat manusia, menetapkan peristiwa terkemudian, tak peduli apakah peristiwa tersebut melibatkan apel jatuh dari pohon, santapan makan siang, atau apakah kita bisa mengenakan mantel Superman dan meluncur terbang. Argumen kaum kompatibilis rasanya menyediakan “jalan keluar” intelektual yang mempertahankan kehendak bebas meski alam semestanya deteministik, tapi sering salah mengira kemungkinan peristiwa syaraf sembarang sebagai kehendak bebas, seasing apapun yang bisa Anda pahami. Atau mereka berargumen mendukung tipe kehendak bebas yang tak berkaitan dengan kehendak bebas “kontra-kausalitas”, yang sudah didefinisikan di awal postingan ini (“ingkar bebas” termasuk salah satu dari banyak variannya). Dan meski mungkin determinisme keras termasuk sejenis nihilisme, dalam sains ia dikenal sebagai “hipotesis nol”: awal penyelidikan layak dan mempunyai daya tarik hemat berupa Pisau Ockham yang lebih memilih penjelasan paling sederhana untuk cocok dengan data.

Jika determinisme keras mempunyai daya tarik seilmiah itu, mengapa mayoritas kita begitu enggan menerima pendirian filosofis ini? Sebagaimana sudah diutarakan, alasan utamanya adalah pengalaman harian kita terus-menerus memperkuat perasaan kehendak bebas. Rasanya kita senantiasa memilih berbuat sesuatu, jadi mana mungkin sebaliknya? Jika saya memilih untuk memungut pensil, saya memungut pensil. Jika memilih tidak memungut, saya bisa biarkan ia tergeletak di meja. Tapi kini, setelah pengalaman subjektif perlu diklarifikasi dengan temuan Libet dan Fried, itu seolah mempertontonkan bahwa pilihan kehendak bebas dalam kerja motorik sederhana semisal memungut pensil ternyata ilusi. Satu cara untuk menjelaskan kontradiksi nyata ini adalah menolak mentah-mentah temuan Libet dan Fried. Tapi bukankah ini sejenis “denialisme” demi melindungi pengalaman subjektif kita? Apakah begitu sulit diterima bahwa pengalaman pribadi kita mungkin bercacat?

Sebagian orang berargumen bahwa determinisme keras harus ditolak demi mempertahankan moralitas. Jika kita tak punya kehendak bebas dan tak lagi percaya pada kemampuan untuk memilih perbuatan, akankah kita bertingkah lebih egois sehingga aturan hukum yang menjadi kerangka masyarakat jadi runtuh? Padahal belum tentu demikian. Moralitas tidak pergi dengan datangnya determinisme—sebaliknya, jika diri adalah jumlah total proses-proses sadar dan tak sadar di otak kita, maka kita jadi bertanggungjawab atas semua perbuatan kita, dengan kemauan sendiri ataupun tidak.

Yang lain beragumen bahwa keputusan-keputusan yang lebih kompleks daripada sekadar memungut pensil, misalnya memutuskan jenis mobil yang hendak dibeli, dikaruniai derajat kehendak bebas lebih besar. Kita bukan korban refleks belaka, kita berunding, menimbang pro dan kontra, sebelum memilih dan bebas berkomitmen pada arah perbuatan. Tapi jika kita serius berpikir, apakah jenis-jenis keputusan itu betul-betul bebas? Apakah kita membuat keputusan rasional tentang mobil mana yang hendak dibeli atau apakah kita membeli merek tertentu berdasarkan perasaan irasional dan dorongan tak sadar? Apakah kita betul-betul memutuskan siapa yang akan kita nikahi dengan menimbang pro dan kontra keputusan tersebut, ataukah “mengikuti kata hati”? Lantas bagaimana dengan pilihan buruk yang kita buat—apakah kita memilih melanggar resolusi Tahun Baru lantaran kita bebas memutuskan tidak mau menurutinya lagi? Bagaimana dengan perilaku dalam konteks sakit jiwa—apa seorang pengidap kelainan kompulsif obsesif bebas memilih mencuci tangannya seratus kali sehari? Atau bagaimana dengan kecanduan—banyak orang berpikir alkoholisme adalah pilihan karena melibatkan aksi meminum, menaruhnya di bibir, dan menelan, tapi bukankah itu jenis aksi motorik sederhana yang menurut Libet tidak bebas? Dan jika kita bisa terima bahwa beberapa keputusan tidak bebas, mengapa sealot itu untuk mengakui bahwa mungkin saja tak ada keputusan bebas?

Jadi, sejenak mari bayangkan determinisme keras adalah benar. Apa maknanya bagi hidup kita? Dan apakah maknanya seseram itu atau sulit diterima?

Pada intinya, yang ditolak oleh determinisme keras adalah dualitas, pembagian diri/pikiran dan otak/tubuh yang diperjuangkan oleh René Descartes pada 1600-an. Dalam eksperimen Libet, kehendak bebas terancam ketika keputusan sadar kita tak lebih dari pikiran susulan, seolah-olah aktivitas tak sadar di otak yang betul-betul menentukan tindakan Anda bukanlah “Anda”. Tapi jika kita berhenti menganggap otak kita dan banyak proses tak sadarnya sebagai sesuatu yang lain dari diri kita, maka kita akan tahu bahwa kendati gagasan tradisional kehendak bebas bukanlah cara tepat untuk memandang situasi, bukan berarti manusia adalah otomaton. Justru, otak manusia membuat keputusan sukarela, tapi sebagaimana diteorikan oleh Freud, banyak dari pembuatan keputusan tersebut terjadi tanpa sadar melalui sesuatu selain diri sadar kita.

Determinisme keras belum tentu merupakan filsafat nihilistik yang digembar-gemborkan. Andai kita melepas ide dualitas dan keyakinan akan kehendak bebas, mungkin itu membantu kita memperoleh sesuatu dalam prosesnya. Contoh, jika “Anda” yang mengaku memilih perbuatan Anda secara sadar adalah seorang “reporter tak terpercaya”, mungkinkah “Anda” juga tak terpercaya untuk hal lain, misalnya saat kita bilang pada diri sendiri bahwa kita jelek, gemuk, inkompeten, atau gagal?

Nyatanya, diri versi terbarui ini menjadi batu pijakan “psikoterapi gelombang tiga” semisal acceptance and commitment therapy (ACT) dan keberpikiran. Pendekatan-pendekatan ini mengajari kita agar curiga terhadap ucapan dan anjuran “pikiran” kita untuk mematuhi pikiran sadar tanpa penilaian, seraya mempertanyakan atau membiarkannya.

ACT bertanya, “Kalau saya bukan pikiran saya, lantas apa saya?” Pertanyaan bagus. Dalam rangka memahami sifat sejati diri, mungkin ada gunanya membuang sebagian intuisi tradisional kita, misalnya kehendak bebas dan dualitas, demi proses penyelidikan diri yang lebih berlandaskan ilmu syaraf. Berbekal keinsyafan diri yang disempurnakan semacam ini, siapa tahu [potensi] apa yang dapat dihasilkan dari manfaat kesehatan jiwa?

Tentang Penulis
Joseph M. Pierre, M.D., adalah salah seorang kepala Unit Penanganan Skizofrenia di VA Greater Los Angeles Healthcare Center dan profesor klinis ilmu kesehatan Jurusan Psikiatri di UCLA.

Rujukan

  1. Reps P. Zen flesh, Zen bones: A collection of Zen and pre-Zen writings. New York: Anchor Press, 1961.
  2. Pierre JM. The neuroscience of free will: Implications for psychiatry. Psychological Med 2013;1-10.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s