Kata Whitehead Tentang Persoalan Pikiran-Tubuh

14 September 2013
(Sumber: quantum-mind.co.uk)

Anderson Weeker, Persoalan Pikiran-Tubuh dan Monisme Non-Reduktif Whitehead, City University, New York, Journal of Consciousness Studies, 19, No. 9-10, hal. 40-66

Weekes berpandangan, dasar masalah pemikiran Cartesian adalah bahwa kedua sisi, pikiran dan tubuh, tidak saling membutuhkan, sekurangnya dalam bentuk yang sering dipahami. Langkah krusial adalah memahami bahwa pikiran dan tubuh tidak terlalu beda. Alfred North Whitehead beranjak lebih jauh dengan menyebut pikiran dan tubuh adalah entitas yang sama, bahkan mempostulatkan konsep lebih ambisius bahwa pikiran dan materi adalah entitas yang sama. Dalam pandangannya, materi tak dapat dipisahkan dari pikiran.

Whitehead menganggap pandangan ini dapat ditegakkan dalam ilmu fisika kausalitas. Dia mengkritik sains lantaran tidak menjelaskan ketakterbalikkan waktu, realitas masa kini, atau apa yang disebut “karakter kumulatif peristiwa”. Ketiganya digabung menjadi “kewaktuan konkret peristiwa fisik”. Waktu dipandang sangat fundamental. Inti pemikiran Whitehead diusulkan sebagai “tesis ekuivalensi”. Menurut tesis ini, teori fisika yang mampu menerangkan waktu akan mampu pula menerangkan pikiran. Di sini dikemukakan untuk menjadikan kewaktuan konkret sebagai bagian internal atau oknum pertama di dalam konstituen-konstituen fisikal paling dasar guna memberi mereka unsur subjektivitas, dan dengan demikian melenyapkan perbedaan antara pikiran dan materi.

Menurut Whitehead di dunia ini hanya eksis satu tipe entitas, tapi ada lebih dari satu entitas individual. Dia menekankan pentingnya teori relasi. Ini mengacu pada hubungan antara entitas-entitas, dan khususnya pada pemahaman peran kausalitas dan waktu dalam hubungan tersebut. Teorinya mencoba menjelaskan bagaimana beraneka entitas individual saling terkait. Dia menunjuk kepada perbedaan atau keasimetrian antara sebab dan akibat. Akibat bergantung pada sebab, tapi sebab tidak bergantung pada akibat. Sejalan dengan relativitas khusus, dia memahami waktu dari perspektif kausalitas. Jika [posisi] B adalah setelah A dari segi waktu, maka B berada dalam kerucut cahaya mendatang (future light cone) A. Oleh karenanya B dipengaruhi oleh A sampai taraf tertentu. Peristiwa terdahulu dapat mempengaruhi peristiwa terkemudian, dan ini sama dengan aliran waktu.

Setiap peristiwa terdiri dari sebagian peristiwa yang sedang terjadi di masa kini, dan sebagian peristiwa masa lalu tetap yang sedang memberikan realitas kini. Waktu dianggap sebagai penyusunan relasi-relasi logis. Sebuah peristiwa mengintegrasikan dunia masa lalu pada suatu peristiwa spesifik di ruangwaktu. Peristiwa-peristiwa tersusun dari lingkungan mereka, dan konsep ini juga berlaku pada seluruh organisme. Whitehead memandang peristiwa sebagai pola fana ketimbang interaksi antar entitas-entitas lestari. Walaupun dia tidak menggeluti kemunculan teori quantum kontemporer, pandangannya lebih sejalan dengan ini daripada dengan ide entitas lestari. Peristiwa adalah titik di mana pengaruh sebab-akibat bertemu. Partikel yang bertahan bahkan dipandang sebagai peristiwa yang tunduk pada pengaruh serupa sebagaimana partikel-partikel yang bertemu di peristiwa terdahulu. Kedua peristiwa hanya terlihat sama. Whitehead mengakui pandangan ini tidak selaras dengan kontinuitas di ruangwaktu, dan karenanya berpandangan bahwa waktu melibatkan quantum terhingga. Ini lagi-lagi selaras dengan arus modern ke arah quantisasi ruangwaktu.

Dalam pandangan Whitehead, sebuah peristiwa terkait dengan subjektivitas yang ditemukan pada kesadaran, dan pengalaman subjektif dipandang sebagai landasan untuk individuasi dalam fisika. Dengan demikian setiap peristiwa bukan hanya seanekaragam kualitas, tapi juga mencakup pengalaman subjektif. Whitehead mengisyaratkan bahwa pada level terendah terdapat kualitas saja. Jika cukup banyak dari kualitas-kualitas ini dirasakan bersama dalam bentuk penyajian akhir, maka sebagian dari kualitas ini menjadi kesatuan atau individu berpengalaman sadar. Jadi subjektivitas adalah bentuk kesatuan yang mampu mengubah kelompok menjadi individu kohesif. Organisme hidup dipandang sebagai contoh bagus untuk ini, sedangkan bebatuan dan banyak benda mati lain hanya dinilai sebagai kumpulan individu mikroskopis. Cuma entitas-entitas kompleks semisal otak yang dianggap mempunyai cukup pengorganisasian untuk menghasilkan sesuatu lebih dari sekadar derau. Maka dari itu lingkungan amat terbatas semacam otak mampu menghasilkan deret kewaktuan kejadian yang disebut kesadaran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s