Kehendak Bebas Bukanlah Ilusi

Oleh: William R. Klemm Ph.D.
17 Oktober 2010
(Sumber: www.psychologytoday.com)

Apa kita zombie ataukah agen kehendak bebas?
Banyak ilmuwan dan filsuf menganggap kehendak bebas adalah ilusi. Dengan kata lain, niat, pilihan, dan keputusan dibuat oleh pikiran bawah sadar, yang baru memberitahu kehendak kepada pikiran sadar setelah [terjadinya] fakta. Argumen ini dipromosikan dahulu oleh cendekiawan semacam Darwin, Huxley, dan Einstein. Banyak cendekiawan modern juga memegang sikap tersebut, bahkan para ilmuwan syaraf sudah melakukan eksperimen sejak tahun 80-an untuk membuktikannya.

Eksperimen-eksperimen ini diduga membuktikan bahwa otak membuat keputusan bawah sadar sebelum ia menyadarinya secara sadar. Dalam eksperimen tipikal yang mendukung [gagasan] kehendak bebas ilusif, seorang subjek diminta menekan tombol secara sukarela kapan saja dan memperhatikan posisi penanda jam bila dia merasa menghendaki terlebih dahulu gerakan [menekan tombol] tersebut. Pada waktu yang sama, aktivitas otak dimonitor pada bagian otak yang mengendalikan mekanika gerakan. Hasil observasinya mengejutkan: subjek memperlihatkan perubahan aktivitas otak sebelum dia mengatakan berniat membuat gerakan. Dengan kata lain, otak diduga menerbitkan perintah sebelum pikiran sadar sempat memutuskan untuk bergerak. Semua ini terjadi dalam waktu kurang dari satu detik, tapi bermacam-macam ilmuwan menafsirkan bahwa pikiran bawah sadar membuat keputusan untuk bergerak dan pikiran sadar baru menyadari keputusan ini kemudian.

Dalam sebuah makalah di edisi teranyar Advances in Cognitive Psychology (Vol. 6, hal. 47-65), saya menantang seluruh rangkaian eksperimen yang dilakukan sejak 1980-an yang dianggap membuktikan bahwa niat, pilihan, dan keputusan dibuat secara bawah sadar, di mana pikiran sadar diberitahu setelah [terjadinya] fakta. Eksperimen-eksperimen ini tidak menguji apa yang hendak diuji, dan disalahtafsirkan untuk mendukung pandangan kehendak bebas ilusif.

Kritik saya fokus pada tiga poin utama: 1) penetapan kapan peristiwa kehendak bebas terjadi memerlukan introspeksi, dan riset lain menunjukkan bahwa taksiran introspektif penetapan waktu peristiwa tidaklah akurat, 2) gerakan sederhana jari dapat dilakukan tanpa banyak pikiran sadar dan tentunya bukan representasi keputusan dan pilihan sadar yang disyaratkan dalam percakapan atau situasi cepat di mana pikiran bawah sadar tidak bisa tahu lebih dulu apa yang akan dilakukan, dan 3) ukuran aktivitas otak sudah primitif dan tidak lengkap.

Saya menguraikan 12 kategori pemikiran cacat mengenai kehendak bebas. Sebagian dari isu nyata yang disembunyikan oleh banyak ilmuwan mencakup:

  • Keputusan tidak sering instan (tentunya tidak pada skala pecahan detik).
  • Kesadaran bahwa keputusan telah dibuat sebetulnya terlambat dari keputusan aktual, dan dua proses ini berbeda.
  • Pembuatan keputusan bukanlah satu-satunya proses mental yang berlangsung dalam tugas demikian.
  • Sebagian tindakan yang dikehendaki, seperti misalnya saat pertama kali belajar main alat musik atau mengetik tanpa melihat (touch typing), harus dikehendaki secara bebas, sebab pikiran bawah sadar tidak bisa tahu lebih dulu apa yang akan dilakukan.
  • Eksperimen kehendak bebas terlalu mengandalkan keinsyafan tindakan dan perkiraan waktu akurasi.
  • Mengekstrapolasi seluruh kehidupan mental dari eksperimen sesederhana itu tidak bisa dijustifikasi.
  • Konflik data dan penafsiran telah diabaikan.

Masalah dasarnya adalah ilmuwan belum punya ukuran independen fungsi otak atas pembangkitan niat, pilihan, atau keputusan sadar. Tanpa ukuran demikian, mustahil dapat mengukur kapan terjadinya tindakan yang dikehendaki.

Makalah saya ditutup dengan serangkaian usul yang dapat ilmuwan pakai untuk menguji isu kehendak bebas. Tak kalah pentingnya, riset yang saya anjurkan bukan cuma akan membantu mengidentifikasi penanda handal pembuatan keputusan sadar tapi juga membantu ilmuwan mempelajari apa yang otak lakukan untuk, mula-mula, menggapai kesadaran.

Di dunia nyata, pikiran bawah sadar dan pikiran sadar berinteraksi dan berbagi tugas. Pikiran bawah sadar mengatur tugas sederhana atau dikenal, seperti adat kebiasaan atau prasangka mendarah daging, sementara pikiran sadar berurusan dengan tugas yang kompleks atau baru, contohnya pertama kali belajar mengendarai sepeda atau memainkan lembar notasi musik. Perolehan pengetahuan baru dan disengaja harus dimediasi oleh kehendak bebas, sebab pikiran bawah sadar belum sempat tahu.

Implikasi perdebatan ini sangat dalam. Ini menentukan pandangan keduniaan kita: apakah kita korban genetika dan lingkungan atau memikul tanggungjawab atas niat, keputusan, dan pilihan kita. Saya berpendapat kita bertanggungjawab atas apa yang kita simpulkan dari otak kita dan atas pilihan dan keputusan hidup kita. Di dunia kehendak bebas, manusia dapat memilih untuk melepaskan diri dari banyak jenis malapetaka—dan juga mengambil pilihan tepat yang dapat mencegah malapetaka.

Tentang Penulis
William Klemm, Ph.D., adalah profesor senior Ilmu Syaraf di Texas A&M University.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s