Ketidakpaduan Kehendak Bebas

Oleh: Massimo Pigliucci
19 November 2009
(Sumber: www.psychologytoday.com)

Apa maknanya memiliki kehendak bebas?
Baru-baru ini saya membaca ulang karya klasik karangan J.L. Mackie (April 1955) berjudul Evil and Omnipotence, sebuah esai filsafat kolosal tentang kenapa teolog semacam Richard Swinburne terpaksa memasuki olahraga mental luar biasa dan agak menyakitkan akibat keyakinan mereka terhadap tuhan maha kuasa, maha pemurah, dan maha perkasa. Salah satu poin kecil Mackie dalam esai itu adalah bahwa “dalih kehendak bebas” atas eksistensi kejahatan di dunia menjadi problematis, sebab konsep kehendak bebas itu sendiri tidak padu. Walaupun kadang tuduhan ketidakpaduan agak terlalu mudah dilontarkan dalam filsafat, saya kira ini punya potensi untuk melekat. (Mackie berlanjut dengan kupasan destruktif terhadap dalih kehendak bebas, kupasan yang tetap efektif jikapun kelak konsep intinya terbukti padu.)

Secara filosofis, saya masih menganggap perlakuan terbaik terhadap kehendak bebas diberikan oleh Dan Dennett dalam Elbow Room, buku yang asyik untuk dibaca. Meski demikian, orang mungkin bertanya-tanya apakah konsep yang muncul dari analisa Dennett memang merupakan “kehendak bebas” yang dikenali mayoritas manusia.

Tentu saja, kedua kata yang menyusun istilah ini punya potensi untuk jadi masalah, lantaran belum jelasnya apa yang kita maksud dengan “kehendak”. Namun, untuk kepentingan diskusi ini, saya cuma ingin bilang bahwa kehendak—sejauh menurut manusia—adalah kumpulan motivasi (dan mekanisme neurologis pokok) di balik fakta bahwa kita berbuat hal tertentu ketimbang hal lain, atau bahkan berbuat sesuatu sama sekali. (Bahkan, pasien-pasien yang mengalami kerusakan parah pada amigdala mereka, misalnya, nampak mengendurkan kehendak untuk berbuat apapun, kemungkinan besar karena mereka sudah kehilangan ikatan emosional dengan diri mereka dan hal-hal di dunia, persis seperti prediksi terkenal David Hume: tanpa adanya emosi, “memilih kehancuran seluruh dunia daripada menggaruk jari tidaklah bertentangan dengan nalar”.

Selain itu saya tidak melihat persoalan dalam, contohnya, konsep Aristotelian “akrasia”, atau kelembekan kehendak. Sebagian orang akan menganggapnya kontradiktif, sebab jika ujung-ujungnya saya berbuat sesuatu atas kemauan sendiri—misalnya makan sepotong kue cokelat—saya tak berhak mengklaim bahwa perbuatan ini “bertentangan dengan kehendak saya” oleh karena makan kue cokelat tidak menyehatkan. Namun, setiap manusia yang bergelut dengan makan, seks, dan hasrat lainnya dapat memahami gagasan kehendak lembek yang membuat Anda bertindak bertentangan dengan kepentingan terbaik Anda, padahal Anda tahu betul di mana kepentingan demikian berada.

Anyway, kembali ke komponen “bebas” dalam [istilah] kehendak bebas. Pertanyaan riilnya adalah: bebas dari apa? Di situlah kepaduan segera menjadi persoalan. Kecuali kalau Anda seorang dualis—tipe yang sedang sekarat di kalangan filsuf, syukurlah—Anda tak mungkin mengartikannya “bebas dari interaksi kausal dengan materi/energi”, yakni merdeka dari hukum dan material alam semesta. Kehendak, apapun itu dan bagaimanapun kita mengkonsepkannya, berakar dari aktivitas biologis sel-sel syaraf kita. Dan terakhir kali saya mengecek, sel syaraf kita terbuat dari materi, energi tukar (dalam bentuk arus listrik dan reaksi kimiawi), dan tunduk pada hukum fisika. Jadi jika ini yang Anda maksud “bebas”, percuma saja.

Argumen populer berikutnya untuk membela kehendak bebas melibatkan mekanika quantum (pengungsian terakhir bagi mereka yang lebih suka mempertahankan keadaan semisterius mungkin). Peristiwa quantum disebut mempunyai beberapa efek yang “menggelembung” ke level semi-makroskopis interaksi kimiawi dan denyut listrik di otak. Karena mekanika quantum adalah satu-satunya dunia di mana masuk akal membicarakan peristiwa tanpa kausa, voila!, kita punya kehendak bebas (quantistik). Tapi sekalipun kita berasumsi peristiwa quantum betul-betul “menggelembung” dengan cara demikian (ini jauh dari pasti), yang kita peroleh dalam skenario ini adalah kehendak sembarang, mirip oksimoron (biar bagaimanapun, “menghendaki” sesuatu berarti menginginkan atau mengarahkan peristiwa dengan cara tertentu—hampir pasti bukan sembarang). Jadi ini juga keliru.

Sekarang mulai kelihatan, sepertinya prospek kita untuk memahami kehendak bebas secara padu memang redup. Jika bukan quantistik-sembarang atau merdeka dari interaksi kausal dengan dunia, lantas “bebas” dalam pengertian apa? Tapi jika kehendak tidak bebas, bukankah berarti kita cuma robot kikuk di dalam kekuasaan alam semesta mekanis yang tak peduli? (Atau, lebih buruk lagi, boneka dalam genggaman tuhan?) Secara intuisi kesimpulan ini sangat tidak memuaskan bagi kebanyakan orang. Terlebih, bukankah itu berarti perilaku manusia dapat diprediksi, sekurangnya secara prinsip, jika sains reduksionis/mekanistik cukup maju? Ini juga jelas-jelas melenceng bagi banyak orang.

Satu tanggapan potensial adalah, terus-terang, jika kesimpulan sebuah analisa rasional bertentangan dengan intuisi terdalam Anda, maka intuisi Anda itu patut disayangkan. Tapi tentu saja, kita juga tahu nyatanya ada sistem fisikal non-deterministik (waktu peluruhan atom individual misalnya), dan bahkan kita tahu tentang sistem deterministik sempurna yang perilakunya mustahil diprediksi untuk segala macam kegunaan (atau balau, dengan kata lain sistem amat non-linier yang statusnya di titik waktu tertentu sangat peka terhadap kondisi awal). Jadi mempunyai kehendak yang terhubung secara kausal dengan seluruh dunia fisik tidak mengimplikasikan perilaku kita kaku atau dapat diprediksi.

Tapi tetap saja, apakah itu berarti kita memang robot kikuk, yang ilusi kebebasannya merupakan kombinasi antara ketidaktahuan tentang jejaring kausalitas di mana kita tertanam dan keterbatasan kemampuan kita dalam mengkomputasi status mendatang? Saya kira jawaban terbaik datang dari riset dalam ilmu kognitif, yang mengarah pada (sekurangnya) dua level pembuatan keputusan di otak: di satu sisi, kita tahu pikiran bawah sadar membuat banyak keputusan sebelum kita menyadarinya (pertimbangkan eksperimen yang membuktikan keterlambatan waktu potensi listrik antara ketika otot diaktifkan untuk melakukan perbuatan tertentu dan ketika subjek menjadi sadar telah membuat keputusan untuk melakukan perbuatan tersebut). Di sisi lain, kesadaran masih terasa lebih dari sekadar proses “rasionalisasi”, justru memikul peran filter tingkat tinggi, atau moderator, atas pemrosesan tak sadar di otak (contoh, kita masih bisa menghentikan perbuatan yang sedang berlangsung jika perhatian sadar kita jadi fokus padanya).

Implikasi dari semua ini adalah: perasaan “kehendak bebas” tak terbantahkan yang kita miliki pada hakekatnya merupakan buah dari keinsyafan sadar kita akan fakta bahwa kita membuat keputusan, dan bahwa kita dapat—berdasarkan kondisi internal (yakni genetik, pertumbuhan) dan eksternal (yakni lingkungan, budaya)—memutuskan sebaliknya dalam kasus apapun. Itulah jenis kehendak bebas yang menurut Dennett “layak dimiliki”, dan saya kira itu cukup bagus untuk manusia non-dualis non-mistikis yang satu ini.

Tentang Penulis
Massimo Pigliucci adalah Profesor Filsafat di City University of New York-Lehman College.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s