Makna Sejati Kebebasan

Oleh: Alex Lickerman M.D.
22 Januari 2012
(Sumber: www.psychologytoday.com)

Mungkin kita tak punya kehendak bebas, tapi kita tetap dapat bertindak bebas—agaknya.

(Sumber: Flickr, mrsdkrebs)
(Sumber: Flickr, mrsdkrebs)

Amerika adalah lambang kebebasan di seluruh dunia, menikmati kebebasan berbicara, kebebasan beragama, dan kebebasan pers. Leluhur kita begitu menghargai kebebasan politik ini sehingga mereka rela mati demi mempertahankannya. Kendati banyak dari kita sering dituduh menganggapnya biasa saja, kita terus menyaksikan orang-orang bangkit memperjuangkannya saat terancam (juga saat kebebasan orang lain terancam).

Kebebasan ini tentu saja tidak mutlak. Saya tak boleh berteriak, “Api!” di bioskop yang penuh sesak kalau saya tahu tak ada api, mengutip contoh terkenal pembatasan kebebasan berbicara. Tidak boleh pula mengancam meledakkan bom khayalan di atas pesawat (bahkan menulis ungkapan tersebut dalam postingan blog bisa menarik perhatian Kantor Homeland Security). Tidak boleh pula, meminjam baris terkenal lain, mengayunkan tinju ke ruang yang kebetulan ditempati hidung Anda. Dengan kata lain, jelasnya, kita semua bebas dalam batasan.

Itu senantiasa demikian, dan begitu pula di dalam masyarakat sipil. Kebanyakan kita tidak memperhatikan pembatasan ini karena sudah terprogram untuk tidak membayangkan terbebas darinya (sebagian besar). Dan bahkan saat seseorang ingin menonjok hidung orang lain, ancaman hukuman bukan satu-satunya hal yang mencegahnya (sekurangnya). Terdapat pula perasaan bahwa kita tidak boleh melanggar hak orang lain untuk tidak ditonjok.

Namun, kebebasan politik bukan satu-satunya bidang di mana kebebasan terlihat lebih besar dari yang sesungguhnya. Ternyata kebebasan kita untuk menentukan pilihan paling sederhana sekalipun (misalnya memakai pantalon cokelat atau biru) mungkin bukan hanya lebih terbatas dari yang kita duga—mungkin ia tidak eksis sama sekali.

Seiring perkembangan risetnya, ilmu syaraf terus menafsirkan ulang ide-ide lampau dari disiplin lain—khususnya psikologi dan filsafat—dan segara memasukkan mereka. Contoh, konsepsi pikiran tak sadar milik Freud ternyata memiliki landasan neurologis sama sekali, dan meski dia salah paham dengan banyak detilnya, sekarang kita tahu proporsi terbesar pemikiran kita memang berlangsung di bawah [level] keinsyafan sadar. Ini mujur untuk kita. Sebagaimana Daniel Kahneman uraikan dalam buku baru nan mempesona, Thinking, Fast and Slow, kita butuh apa yang dia sebut Sistem 1—pemikir cepat tak sadar—untuk bertahan hidup sama sekali. Andaikan kita harus mengurus segalanya secara sadar hanya untuk bangkit dari ranjang di pagi hari, kita bukan cuma takkan menyelesaikan apa-apa, kita malah akan selalu kelelahan. Penalaran sadar—yang disebut “fungsi eksekusi” otak—teramat melelahkan.

Tapi Kahneman juga berargumen, Sistem 2—bagian pikiran yang kita identifikasi sebagai “kita”—sangat dipengaruhi oleh mekanisme Sistem 1. Jika kita meluangkan waktu, kita dapat membebaskan diri dari sebagiannya, tidak semua, dan tentunya tidak sepanjang waktu. Kenyataan yang sulit adalah “kita” tidak bebas dari diri tak sadar sekalipun. Tentu saja, sudah lama kita tahu hal ini—lama sebelum konsep Sistem 1 dan Sistem 2 terbayangkan. Kecerdasan selalu beradu dengan perasaan, gagasan tentang apa yang sepatutnya kita lakukan seringkali berperang dengan dan kalah oleh apa yang ingin kita lakukan.

Tapi untuk persoalan uzur kehendak bebas, keadaannya lebih buruk lagi: seakan-akan jawabannya adalah kita tak punya jawaban. Studi-studi menunjukkan, dorongan untuk melakukan tindakan paling dasar—gerak jari misalnya—timbul di otak sekurangnya satu detik sebelum kita menyadari keinginan kita untuk menggerakkannya! Rupanya pikiran tak sadar, yang berfungsi dengan pemahaman tanpa bahasa, dapat mengendalikan pembuatan keputusan sadar lebih banyak—jika tidak semua—daripada yang kita bayangkan selama ini.

Filsuf dan ilmuwan bersuara lantang menentang temuan ini, tidak sampai menyangkalnya tapi justru berusaha menyelamatkan gagasan kehendak bebas dengan mendefinisikannya ulang. Dan meski saya kira upaya ini pada akhirnya akan gagal, ada alasan bagus untuk mengharapkannya sukses: studi-studi juga menunjukkan bahwa saat kita kehilangan keyakinan akan kehendak bebas, motivasi kita untuk berbuat turut berkurang.

Namun, pertanyaan yang semestinya dipicu oleh data kehendak bebas bukanlah semata apakah kita punya kehendak bebas. Kita juga harus bertanya: apa persisnya yang dimaksud dengan “kita”? Kita mengidentifikasi diri dengan Sistem 2, pikiran sadar kita, rasa diri kita—terserah Anda menyebutnya apa—tapi dalam berbuat demikian, apa kita yakin sudah menempatkan kedudukan diri kita di lokasi yang tepat? Kita berperilaku seolah Sistem 1 adalah hantu dalam pikiran kita, terpisah dari “kita”, berbuat sesukanya, menjalankan kepentingannya sendiri, yang kerap berbeda dari “kepentingan kita”. Tapi apa konsepsi ini akurat?

Mayoritas yang dilakukan Sistem 1 sebetulnya demi kebaikan kita. Ia menolong kita menghindari kecelakaan lalu-lintas dan bahaya lingkungan lain, dan mengenali perasaan orang lain dari ekspresi muka paling halus. Di sisi lain, seringkali ia berupa hal-hal yang tidak kita mau, seperti rasa egois, marah, dan keras kepala.

Namun saya berargumen, pandangan pikiran tak sadar sebagai entitas yang berbeda dari “kita” adalah cacat. Memang wajar kita mempunyai pandangan demikian berhubung studi-studi tadi sudah mendemonstrasikan bahwa pikiran sadar tak mampu mengendalikan pikiran tak sadar. Contoh, kita tak bisa memutuskan untuk berhenti dari perasaan sedih atau depresi atau—apa saja. Tapi terdapat jalan pengaruh lain atas pikiran tak sadar. Kita memang tak mampu, di tengah panasnya situasi, untuk mencegah diri kita dari merasa marah (tentunya beda dari mencegah diri kita dari bertindak menurut amarah), tapi seiring waktu kita dapat menemukan hal-hal yang memicu amarah dan meredakan kemampuan mereka dalam membuat kita marah. Jadi kita mungkin dapat menempa sejenis kebebasan tak langsung, kebebasan pikiran sadar untuk mengatur arah dasar hidup kita dengan menempa diri tak sadar menjadi diri sadar yang dikehendaki orang-orang. Dengan begitu, meski kita tidak menginisiasi tinju secara sadar untuk menyerang, tinju kita hanya akan melayang bila kita menyetujuinya.

Sungguh lompatan besar andai hal ini memungkinkan hingga derajat yang saya kemukakan. Tapi tergiur rasanya untuk membayangkan gajah pikiran tak sadar yang kita tunggangi, yang boleh jadi memegang komando (meminjam kiasan Jonathan Haidt dari bukunya, The Happiness Hypothesis), dibuat melaksanakan perintah “kita”, berlawanan dengan kehendaknya, bahkan dilatih agar menginginkan apa yang kita inginkan. Kalau demikian, barangkali potensi kebebasan terbesar terletak pada pemersatuan diri sadar dan diri tak sadar sebisa mungkin.

Buku karangan Dr. Lickerman, The Undefeated Mind, akan diterbitkan pada akhir 2012.

Tentang Penulis
Alex Lickerman, M.D., adalah dokter penyakit dalam dan mantan Direktur Primary Care di Universitas Chicago dan telah menjadi pengamal agama Buddha sejak 1989.

One thought on “Makna Sejati Kebebasan

  1. Beberapa artikel tentang kehendak bebas sudah saya baca. Sangat bermanfaat sekali terjemahannya, wawasan luar biasa ini sudah sepatutnya diketahui oleh seluruh masyarakat Indonesia. Ini menjadi motivasi untuk kita agar mau mengkaji lebih dalan ilmu dan mengembangkan kemampuan untuk bersaing di bidang riset dan teknologi.

    Hampir dapat disimpulkan tentang beberapa artikel mengenai kehendak bebas yang sempat saya baca. Dari penelitian-penelitian ilmiah para ilmuwan, khususnya dibidang neurosains. Hampir dapat disimpulkan, bahwa kehendak bebas ini dapat dikatakan hanya berupa sebuah ilusi dan kesan epifenomenal belaka. Kita tidak benar-benar memiliki kehendak bebas, karena sebelum kita dapat menyadari kehendak kita secara sadar, sebelumnya semua informasi itu telah diproses dalam saraf otak. Tentu saja konsep reduksionisme mekanistik, adalah yang dominan dalam pandangan ilmiah tersebut. Dan dapat dikatakan juga, hal yang membedakan otak kita dengan benda mati seperti batu, hanya soal kompleksitasnya saja.

    Tapi ada penelitian ilmiah menarik yang mungkin dapat membuka ruang bagi kesadaran dan kehendak bebas itu muncul kembali, yang diberangkatkan dari konsep mekanika kuantum, tentang alam imbang-nya Kauffman. Konsep terpentingnya adalah soal tuna-kausalitas dan rekoherensi. Ini bisa jadi celah masuknya kesadaran dan kehendak bebas atau bahkan mungkin peran ekaternal pencipta. Tapi argumen ilmiahnya barangkali masih lemah dibandingkan argumen-argumen para reduksionis yang membantah konsep kehendak bebas.

    Ini mungkin tugas kita untuk mampu menciptakan revolusi baru dibidang pengetahuan. Memecahkan persoalan batasan antara dunia klasik (sadar/lokalitas) dengan dunia kuantum (alam bawah sadar/nonlokalitas). Demi merobohkan paradigma reduksionisme.

    Saya mungkin bisa menyarankan beberapa gagasan Ilmiah bagus yang terbilang anti-mainstream dan lebih mungkin memiliki paradigma holistik. Seperti konsep Sinkronisitas-nya Carl Jung, Medan Morphic-nya Rupert Sheldrake, Implicate dan eksplicate order-nya Bohm, dll

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s