Studi Temukan Kunci Bahasa – Bagaimana Manusia Membentuk Kalimat

Oleh: Natalie Wolchover
29 November 2011
(Sumber: www.livescience.com)

Artikel ini disediakan oleh Life’s Little Mysteries, anak situs LiveScience.

Eksperimen terhadap anjing, simpanse, dan hewan cerdas lain menunjukkan manusia bukan satu-satunya makhluk yang mampu belajar makna kata. Yang membedakan kita adalah kemampuan merangkai kata-kata secara berarti, di mana satu urutan kata menyampaikan sesuatu yang berbeda dari urutan lain. Singkatnya, kalimat, bukan kosakata, adalah tanda hakiki bahasa.

Dengan pencitraan resonansi magnetik otak, para peneliti dapat memvisualisasikan dua area pemroses bahasa utama, area Broca (kuning) dan area Wernicke (ungu), serta jalur-jalur (biru dan jingga) di antara mereka. Kredit: Stephen Wilson
Dengan pencitraan resonansi magnetik otak, para peneliti dapat memvisualisasikan dua area pemroses bahasa utama, area Broca (kuning) dan area Wernicke (ungu), serta jalur-jalur (biru dan jingga) di antara mereka. Kredit: Stephen Wilson

Sebuah tim peneliti yang mempelajari basis kesyarafan bahasa telah menunjuk jalur di otak yang memungkinkan manusia menggabung kata-kata menjadi kalimat. Jalur ini terpisah dari jalur yang kita pakai untuk mengingat makna kata-kata individual, sebuah kemampuan yang juga dimiliki binatang lain.

Mayoritas penelitian terdahulu dalam ilmu syaraf bahasa fokus pada bundel sel syaraf di dua area otak yang disebut area Broca dan area Wernicke—dua pusat pemrosesan bahasa. Sudah lama diketahui bahwa area-area ini saling terhubung oleh jalur “materi putih” atas dan bawah—untaian sel lipid yang mengangkut sinyal syaraf—tapi jalur-jalur ini belum dipelajari seekstensif sel-sel syaraf di kedua area itu sendiri. Penelitian baru, yang dipublikasikan dalam terbitan teranyar jurnal peer-review Neuron, untuk pertama kalinya mengungkap peran penting dan khas yang dimainkan oleh dua jalur ini.

Sementara kosakata diakses sepanjang jalur bawah, makna kombinasi kata diakses sepanjang jalur atas.

Untuk sampai pada kesimpulan ini, para peneliti memanfaatkan pencitraan resonansi magnetik guna memvisualisasikan otak pasien penderita penyakit degeneratif syaraf bernama “afasia” yang mempengaruhi kemampuan bahasa mereka. Pada waktu bersamaan, pasien-pasien tersebut diberi tugas menguji pemahaman kalimat.

Para peneliti menemukan perbedaan nyata antara pasien yang mengalami kerusakan pada jalur bahasa atas dan pasien yang mengalami kerusakan pada jalur bawah, menyingkap rute terpisah yang otak gunakan untuk membangkitkan informasi yang tersimpan di area Broca dan Wernicke. “Jika Anda mengalami kerusakan pada jalur bawah, kosakata dan semantika Anda rusak,” jelas peneliti utama Stephen Wilson dari Universitas Arizona dalam sebuah rilis pers. “Anda lupa nama-nama benda, Anda lupa makna kata. Tapi herannya, Anda sangat pandai membangun kalimat.”

Wilson melanjutkan, “Jika jalur atas rusak, yang terjadi adalah sebaliknya; pasien menyebut nama-nama dengan baik, mereka tahu kata-kata, mereka dapat memahaminya, mereka dapat mengingatnya, tapi begitu sampai pada urusan menyusun makna kalimat kompleks, mereka gagal.”

Jika Anda sulit percaya bahwa kemampuan mengingat makna kata-kata tunggal dan kemampuan mengingat makna kolektif banyak kata dapat dipisahkan dari satu sama lain, pertimbangkan contoh ini. Para peneliti bertanya kepada pasien: “Seorang lelaki berjalan sepanjang rel kereta. Dia tak mendengar kereta datang. Apa yang terjadi pada lelaki itu?”
Mayoritas orang normal akan menjawab, “Lelaki itu tertabrak kereta.” Studi menemukan, orang-orang dengan kerusakan pada jalur bahasa atas, tapi jalur bawah masih utuh, menjawab, “kereta, lelaki, tertabrak.”

Ini mengingatkan kita pada bahasa primitif yang dapat dipelajari simpanse, contohnya Nim Chimpsky, seekor simpanse yang diajari bahasa isyarat oleh para ilmuwan di tahun 1970-an. Nim tak punya kapasitas sintaksis, dan memperisyaratkan urutan kata-kata yang kacau seperti, “Beri jeruk aku beri makan jeruk aku makan jeruk beri aku makan jeruk beri aku kamu.” [Chimps vs. Humans: How We’re Different]

Dan sebaliknya, para peneliti menguji pemahaman kalimat pasien dengan menyajikan sebuah kalimat semisal, “Anak perempuan yang mendorong anak lelaki adalah hijau,” lalu menanyakan mana di antara dua gambar—satu memperlihatkan anak perempuan hijau mendorong anak lelaki, satu lagi anak perempuan mendorong anak lelaki hijau—yang melukiskan skenario tersebut secara akurat.

“Mereka yang hanya mengalami kerusakan jalur bawah berhasil lulus, artinya kerusakan jalur tersebut tidak mengganggu kemampuan Anda dalam memakai kata-kata tugas (function word) yang sepele atau akhiran fungsional kata-kata untuk menyusun hubungan antar kata dalam sebuah kalimat,” tukas Wilson.

Tapi kelompok pasien dengan kerusakan jalur atas tak mampu membedakan anak perempuan hijau dan anak lelaki hijau.

Tentang Penulis
Natalie Wolchover adalah staf penulis Live Science dari 2010 sampai 2012. Dia memegang gelar sarjana fisika dari Universitas Tufts dan telah belajar fisika di Universitas California, Berkeley. Ikuti Natalie di Google+, Twitter, LiveScience.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s