Berebut Jiwa Sains

Oleh: Natalie Wolchover
16 Desember 2015
(Sumber: www.quantamagazine.com)

Teori string, multiverse, dan gagasan fisika modern lainnya berpotensi tak dapat diuji. Dalam sebuah pertemuan bersejarah di Munich, para ilmuwan dan filsuf bertanya: haruskah kita tetap mempercayainya?

Fisikawan George Ellis (tengah) dan Joe Silk (kanan) di Ludwig Maximilian University, Munich, 7 Desember 2015. (Laetitia Vancon untuk Quanta Magazine)
Fisikawan George Ellis (tengah) dan Joe Silk (kanan) di Ludwig Maximilian University, Munich, 7 Desember 2015. (Laetitia Vancon untuk Quanta Magazine)

Umumnya fisikawan merasa “membutuhkan filsuf dan sejarawan sains layaknya burung membutuhkan ahli perburungan,” ujar peraih Nobel David Gross pekan lalu kepada para filsuf, sejarawan, dan fisikawan di sebuah ruangan di Munich, Jerman, mengutip Richard Feynman.

Tapi masa genting menuntut tindakan genting.

Fisika fundamental sedang menghadapi masalah, jelas Gross—masalah yang cukup buruk untuk menuntut perspektif orang luar. “Saya yakin kita saling membutuhkan di saat seperti ini,” ungkapnya.

Itu merupakan sesi pembukaan lokakarya tiga hari, diselenggarakan di sebuah ruang kuliah bergaya Romanesque di Ludwig Maximilian University (LMU Munich) setahun setelah George Ellis dan Joe Silk, dua fisikawan beruban yang kini duduk di barisan depan, menyerukan konferensi semacam ini dalam sebuah artikel opini provokatif di Nature. Seratus hadirin singgah ke tanah yang mempunyai tradisi fisika dan filsafat sains untuk memaklumatkan apa yang Ellis dan Silk sebut “perang demi jantung dan jiwa fisika”.

Krisisnya, sebagaimana istilah Ellis dan Silk, adalah sifat spekulatif liar teori-teori fisika modern, yang menurut mereka mencerminkan penyimpangan berbahaya dari metode ilmiah. Banyak ilmuwan hari ini—terutama para pendukung teori string dan hipotesis multiverse—tampak yakin akan gagasan mereka, dengan alasan itu indah atau logis, terlepas dari kemustahilan untuk mengujinya. Ellis dan Silk menuduh para teoris ini sedang “menggeser tiang gawang” sains dan mengaburkan garis antara fisika dan sains semu. “Restu sains semestinya dianugerahkan kepada teori yang dapat diuji saja,” tulis Ellis dan Silk, dengan begitu mendiskualifikasi mayoritas teori utama selama 40 tahun terakhir. “Barulah kita mampu mempertahankan sains dari serangan.”

Mereka bereaksi, sampai taraf tertentu, terhadap gagasan kontroversial Richard Dawid. Dalam bukunya, String Theory and Scientific Method (2013), filsuf Austria ini mengidentifikasi tiga jenis bukti “non-empiris” yang menurutnya dapat turut membangun kepercayaan pada teori-teori ilmiah tak berdata empiris. Dawid, peneliti di LMU Munich, menjawab seruan perang Ellis dan Silk dan mengumpulkan cendekiawan dari segala penjuru yang menjangkarkan semua sisi argumen untuk acara tingkat tinggi pekan lalu.

Gross, pendukung teori string yang memenangkan Hadiah Nobel fisika 2004 atas penelitiannya tentang gaya perekat atom-atom, membuka lokakarya dengan menegaskan: masalahnya bukan terletak pada fisikawan tapi pada “fakta alam”—fakta yang telah kita jumpai selama empat abad.

David Gross, fisikawan teoritis di Universitas California, Santa Barbara. (Laetitia Vancon untuk Quanta Magazine)
David Gross, fisikawan teoritis di Universitas California, Santa Barbara. (Laetitia Vancon untuk Quanta Magazine)

Perburuan teori fundamental yang mengatur semua gaya alam mengharuskan fisikawan menginspeksi alam semesta semakin dalam—contohnya memeriksa atom di dalam materi, proton dan neutron di dalam atom, dan quark di dalam proton dan neutron. Tapi pembesaran (zooming) ini menuntut semakin banyak energi, dan kesulitan dan ongkos pembangunan mesin baru bertambah secara eksponensial terkait persyaratan energi, ujar Gross. “Ini belum jadi masalah besar selama 400 tahun terakhir, di mana kita sudah beranjak dari [satuan] centimeter ke sepersejuta juta juta centimeter”—daya resolving aktual Large Hadron Collider (LHC) di Swiss, ungkapnya. “Kita sudah sangat jauh, tapi pengkuadratan energi ini sedang menghabisi kita.”

Seiring mendekati batas praktis kemampuan kita untuk menyelidiki prinsip-prinsip pokok alam, benak para teoris mengembara jauh melewati jarak amatan terkecil dan besaran energi tertinggi. Petunjuk kuat mengindikasikan konstituen fundamental alam semesta terdapat pada skala jarak 10 juta kali lebih kecil daripada daya resolving LHC. Ini adalah domain alam yang coba dilukiskan oleh teori string, kandidat “theory of everything”. Tapi tak ada yang tahu sedikitpun bagaimana mengakses domain ini.

Masalah juga menghambat upaya fisikawan untuk memahami alam semesta pada skala kosmik. Teleskop takkan pernah berhasil mengintai ke balik horison kosmik alam semesta kita dan melirik alam-alam semesta lain yang dikemukakan oleh hipotesis multiverse. Padahal teori-teori kosmologi modern secara logis mengarah pada kemungkinan bahwa alam semesta kita hanyalah salah satu dari banyak [alam semesta].

Tamatnya Bukti. (Tynan DeBold untuk Quanta Magazine, gambar ikon dari Freepik)
Tamatnya Bukti. (Tynan DeBold untuk Quanta Magazine, gambar ikon dari Freepik)

Entah kesalahannya terletak pada teoris yang terhanyut [oleh suasana], atau pada alam yang memendam rahasia terbaiknya, kesimpulannya tetaplah sama: teori telah melepaskan diri dari eksperimen. Objek-objek spekulasi teoritis kini terlalu jauh, terlalu kecil, terlalu energetik, atau terlalu lampau untuk dijangkau atau dikesampingkan dengan instrumen sederhana kita. Lantas, harus berbuat apa? Sebagaimana ditulis Ellis dan Silk, “Fisikawan, filsuf, dan ilmuwan lain semestinya menempa narasi baru untuk metode ilmiah yang mampu mengurus cakupan fisika modern.”

“Isu dalam menghadapi langkah selanjutnya,” kata Gross, “bukanlah isu ideologi melainkan strategi. Apa cara paling berfaedah dalam mengerjakan sains?”

Selama tiga hari musim dingin yang ringan, para cendekiawan berjibaku dengan pengertian teori, konfirmasi, dan fakta; bagaimana sains bekerja; dan apakah, di zaman ini, filsafat mesti membimbing riset fisika atau sebaliknya. Dalam diskusi mendesak tapi tak lekang oleh waktu ini, terbentuk semacam konsensus.

Aturan Main
Sepanjang sejarah, aturan sains ditulis sambil jalan, hanya untuk direvisi agar sesuai dengan keadaan yang berkembang. Bangsa-bangsa kuno percaya mereka dapat menalar jalan menuju kebenaran ilmiah. Lalu, di abad 17, Isaac Newton menyulut sains modern dengan berpisah dari filsafat “rasionalis” ini, justru menganut pandangan “empiris” bahwa pengetahuan ilmiah hanya berasal dari pengamatan empiris. Dengan kata lain, sebuah teori harus dibuktikan secara eksperimen untuk memasuki buku pengetahuan.

Tapi syarat apa yang harus dipenuhi oleh teori tak teruji agar dianggap ilmiah? Para teoris memandu usaha sains dengan mencari-cari ide untuk diuji lalu menafsirkan hasil eksperimennya; apa yang menjaga teoris tetap dalam batasan sains?

Hari ini mayoritas fisikawan menilai kelogisan teori dengan memakai rule of thumb-nya filsuf Austria-Inggris Karl Popper (rule of thumb artinya aturan berdasarkan pengalaman atau praktek ketimbang teori—penj). Pada 1930-an, Popper menarik garis [pemisah] antara sains dan non-sains dalam membandingkan karya Albert Einstein dan karya Sigmund Freud. Teori relativitas umum Einstein, yang menetapkan gaya gravitasi sebagai lengkungan di ruang dan waktu, membuat prediksi-prediksi yang riskan—prediksi yang, seandainya tidak sukses sehebat itu, akan gagal dengan pilu, sehingga memfalsifikasi teori. Tapi psikoanalisa Freudian licin: apapun kekurangan ibu Anda dapat diselipkan ke dalam analisa Anda. Teori ini tidak dapat difalsifikasi, jadi Popper putuskan itu bukan sains.

Paul Teller (dekat jendela), filsuf dan profesor emeritus di Universitas California, Davis. (Laetitia Vancon untuk Quanta Magazine)
Paul Teller (dekat jendela), filsuf dan profesor emeritus di Universitas California, Davis. (Laetitia Vancon untuk Quanta Magazine)

Para pengkritik menuding teoi string dan hipotesis multiverse, serta inflasi kosmik (teori utama tentang bagaimana alam semesta berawal), berada di sisi garis demarkasi Popper yang salah. Meminjam judul buku teori string tahun 2006 karangan fisikawan Universitas Columbia Peter Woit, ide-ide ini “keliru saja tidak”, kata para pengkritik. Dalam editorial mereka, Ellis dan Silk memanggil roh Popper: “Sebuah teori harus dapat difalsifikasi agar bisa dikatakan ilmiah.”

Tapi, sebagaimana baru diketahui oleh banyak peserta di Munich, falsifikasionisme bukan lagi filsafat sains yang berkuasa. Massimo Pigliucci, filsuf di Graduate Center of the City University of New York, menguraikan bahwa falsifiabilitas sangat tidak memadai sebagai pemisah sains dan non-sains, sebagaimana diakui oleh Popper sendiri. Astrologi, contohnya, dapat difalsifikasi—bahkan ia telah difalsifikasi sampai muak—tapi tetap ia bukan sains. Keasyikan para fisikawan dengan [aturan] Popper “harus berhenti”, kata Pigliucci. “Kita perlu membicarakan filsafat sains yang beredar sekarang. Kita jangan membicarakan sesuatu yang beredar 50 tahun lampau.”

Dewasa ini, sebagaimana dikatakan oleh beberapa filsuf di acara lokakarya, falsifikasionisme Popperian telah digantikan oleh teori konfirmasi Bayesian, atau Bayesianisme, sebuah kerangka modern berlandaskan teori probabilitas abad 18 milik ahli statistik dan pendeta Inggris Thomas Bayes. Bayesianisme memperkenankan fakta bahwa teori-teori ilmiah modern umumnya membuat klaim jauh melebihi apa yang dapat diamati secara langsung—tak seorangpun pernah melihat atom—sehingga teori-teori zaman sekarang kerap melawan dikotomi terfalsifikasi & tak terfalsifikasi. Malah, kepercayaan pada sebuah teori seringkali berada di suatu tempat sepanjang kesatuan, tergelincir naik atau turun antara 0 s/d 100 persen seiring diperolehnya informasi baru. “Kerangka Bayesian jauh lebih fleksibel” ketimbang teori Popper, kata Stephan Hartmann, filsuf Bayesian di LMU. “Ia juga bersambung rapi dengan psikologi penalaran.”

Gross setuju, menyatakan bahwa, usai mendengar teori konfirmasi Bayesian dari buku Dawid, dirinya merasa “seperti tokoh Molière yang berkata, ‘Ya Tuhan, selama ini aku berprosa!”

Manfaat Bayesianisme lainnya adalah, ungkap Hartmann, ia memungkinkan filsuf semacam Dawid untuk mencaritahu “bagaimana bukti non-empiris ini pas, atau bisa pas”.

Bukti Jenis Lain
Dawid, 49 tahun, berwatak lembut dan murah senyum, berambut cokelat terkulai, mengawali karirnya sebagai fisikawan teoritis. Di akhir 1990-an, pada saat tugas di Universitas California, Berkeley, sebuah pusat penelitian teori string, Dawid jadi terpukau oleh keyakinan banyak teoris string bahwa mereka berada di jalur yang benar, terlepas dari kurang lengkapnya dukungan empiris teori tersebut. “Mengapa mereka percaya teori ini?” kenangnya heran. “Apa cara mereka memikirkannya berbeda dari pemahaman resmi?”

Teori string menyatakan partikel-partikel unsur memiliki dimensionalitas bila dilihat dari dekat, tampak sebagai simpal (atau “string”) bergeliat-geliut dan membran pada tingkat zoom tertinggi. Menurut teori ini, dimensi-dimensi tambahan juga mewujud di struktur ruang itu sendiri. Beraneka mode vibrasi string di ruang dimensi tinggi ini melahirkan deretan partikel yang menyusun dunia teramati. Rincinya, salah satu mode vibrasi cocok dengan profil “graviton”—partikel hipotetis yang dikaitkan dengan gaya gravitasi. Dengan begitu, teori string menyatukan gravitasi, yang kini dideskripsikan oleh teori relativitas umum, dengan seluruh fisika partikel.

Video: Richard Dawid, fisikawan yang beralih menjadi filsuf, di Ludwig Maximilian University, Munich. (Laetitia Vancon untuk Quanta Magazine)
Video: Richard Dawid, fisikawan yang beralih menjadi filsuf, di Ludwig Maximilian University, Munich. (Laetitia Vancon untuk Quanta Magazine)

Namun, teori string, yang akar ide-idenya dikembangkan di akhir 1960-an, belum membuat prediksi yang dapat diuji mengenai alam semesta teramati. Demi mencaritahu kenapa begitu banyak periset tetap mempercayainya, Dawid mendaftar pada beberapa kelas filsafat sains. Setelah tahu betapa sedikitnya studi yang dicurahkan pada fenomena tersebut, dia pun beralih bidang.

Di awal 2000-an, dia mengidentifikasi tiga argumen non-empiris yang membangkitkan kepercayaan terhadap teori string di kalangan para penganjurnya. Pertama, kelihatannya cuma ada satu versi teori string yang mampu menggapai unifikasi secara konsisten (meski mengandung banyak wakilan matematis berlainan); lebih jauh, belum ditemukan “theory of everything” lain yang mampu menyatukan semua gaya fundamental, kendati sudah ada upaya besar-besaran. (Sebuah pendekatan pesaing bernama loop quantum gravity mendeskripsikan gravitasi pada skala quantum, tapi tak berusaha menyatukannya dengan gaya-gaya lain.) Argumen “tiada alternatif” ini, sehari-hari dikenal sebagai “teori string adalah satu-satunya permainan di kota”, menggenjot keyakinan para teoris bahwa sedikit sekali atau tak ada pendekatan lain untuk unifikasi keempat gaya fundamental, jadi kemungkinan besar teori string adalah pendekatan yang tepat.

Kedua, teori string tumbuh dari Standard Model—teori terakui dan tervalidasi secara empiris yang menggabungkan semua partikel dan gaya fundamental (kecuali gravitasi) dalam satu struktur matematis—dan Standard Model juga tak punya alternatif selama tahun-tahun pembentukannya. Argumen “meta-induktif” ini, demikian sebut Dawid, menunjang argumen “tiada alternatif” dengan membuktikan diri telah berfungsi sebelumnya dalam konteks serupa, mengantisipasi kemungkinan bahwa fisikawan sebetulnya tidak cukup cerdik untuk menemukan alternatif-alternatif yang ada.

Argumen non-empiris ketiga adalah teori string tanpa diduga memberi penjelasan untuk beberapa persoalan teoritis selain persoalan unifikasi yang hendak diatasinya. Joe Polchinski dari Universitas California, Santa Barbara, seorang teoris string yang kukuh, menyajikan beberapa contoh “interkoneksi penjelasan tak terduga ini”, menurut istilah Dawid, dalam sebuah makalah yang dibacakan di Munich di tengah ketidakhadirannya. Teori string menjelaskan entropi black hole dan, dalam penemuan mengagetkan yang telah memicu gelora penelitian selama 15 tahun terakhir, dapat diterjemahkan secara matematis menjadi sebuah teori partikel, misalnya teori yang mendeskripsikan nukleus atom.

Polchinski berkesimpulan, mengingat betapa jauhnya kita dari butiran halus skala jarak fundamental alam, harusnya kita merasa beruntung: “Teori string eksis, dan kita sudah menemukannya.” (Polchinski juga memakai argumen non-empiris Dawid untuk mengkalkulasi peluang Bayesian sebesar 94% untuk eksistensi multiverse—sebuah angka yang dicemooh oleh oleh para pengkritik vokal multiverse di Internet.)

Satu keprihatinan terkait penyertaan argumen non-empiris dalam teori konfirmasi Bayesian, sebagaimana diakui Dawid dalam ceramahnya, adalah “itu membuka gerbang pelepasan semua prinsip ilmiah”. Kita dapat mengajukan segala jenis kebajikan non-empiris manakala menyukai sebuah gagasan kesayangan. “Jelas ada resiko, dan jelas kita harus hati-hati dengan penalaran jenis ini,” ujar Dawid. “Tapi pengakuan bahwa konfirmasi non-empiris adalah bagian dari sains, dan sudah cukup lama menjadi bagian dari sains, memberi landasan lebih baik untuk mendiskusikannya daripada berpura-pura itu tak ada, dan cuma memakainya secara implisit, lalu berkata saya tidak melakukannya. Sekali itu terbuka, kita dapat mendiskusikan pro dan kontra argumen-argumen tersebut dalam konteks terperinci.”

Perdebatan Munich
Tumpukan sampah sejarah diseraki teori-teori indah. Sejarawan kosmologi asal Denmark, Helge Kragh, yang mengurai sejumlah kegagalan ini dalam bukunya, Higher Speculations (2011), berceramah di Munich perihal teori vorteks atom abad 19. “Theory of everything Victorian” ini, dikembangkan oleh Scots Peter Tait dan Lord Kelvin, berpostulat bahwa atom adalah vorteks mikroskopis pada eter, medium cair yang waktu itu diyakini memenuhi ruang. Hidrogen, oksigen, dan semua atom lain pada dasarnya hanyalah tipe-tipe simpul vorteks. Mulanya teori ini “terasa sangat menjanjikan”, tutur Kragh. “Orang-orang terpukau oleh kekayaan matematikanya, yang dapat membuat sibuk matematikawan selama berabad-abad, sebagaimana dikatakan di zaman itu.” Celakanya atom bukanlah vorteks, eter tidaklah eksis, dan keindahan teoritis tidak selalu berarti kebenaran.

Lokakarya Fisikawan di Munich, Desember 2015. (Laetitia Vancon untuk Quanta Magazine)
Lokakarya Fisikawan di Munich, Desember 2015. (Laetitia Vancon untuk Quanta Magazine)

Kecuali sesekali. Rasionalisme menuntun Einstein menuju teori relativitas-nya, yang dia yakini sepenuh hati atas dasar rasional sebelum betul-betul diuji. “Saya rasa benar bahwa pemikiran murni dapat mencerna realitas, sebagaimana diimpikan oleh bangsa-bangsa kuno,” kata Einstein pada 1933, bertahun-tahun setelah teorinya dikonfirmasi melalui observasi cahaya bintang yang tekuk di sekitar matahari.

Bagi filsuf, pertanyaannya adalah: tanpa eksperimen, adakah suatu cara untuk membedakan antara kebajikan non-empiris teori vorteks dan teori Einstein? Bisakah kita mempercayai sebuah teori atas dasar non-empiris?

Dalam diskusi di siang ketiga, filsuf LMU Radin Dardashti menegaskan bahwa filsafat Dawid rincinya bertujuan menunjuk argumen non-empiris mana saja yang harus memikul beban, memungkinkan ilmuwan untuk “membuat penaksiran yang tidak berdasarkan kesederhanaan, yang tidak berdasarkan keindahan.” Penaksiran Dawidian dimaksudkan lebih objektif dibanding ukuran-ukuran ini, jelas Dardashti—dan lebih menyingkap janji sejati sebuah teori.

Menurut Gross, Dawid telah “melukiskan secara indah” siasat-siasat yang dipakai fisikawan untuk “memperoleh keyakinan terhadap sebuah spekulasi, ide baru, teori baru.”

“Maksud Anda, keyakinan bahwa itu benar?” tanya Peter Achinstein, filsuf dan sejarawan berumur 80 tahun dari Universitas Johns Hopkins. “Keyakinan bahwa itu berguna? Keyakinan bahwa…”

“Mari tetapkan definisi operasional keyakinan: yaitu saya akan terus mengerjakannya,” jawab Gross.

“Rendah sekali,” timpal Achinstein.

“Tidak untuk sains,” balas Gross. “Itu berarti.”

Kragh menguraikan bahwa Popper pun melihat kegunaan dalam jenis pemikiran yang memotivasi teoris string hari ini. Popper menjuluki spekulasi yang tidak menghasilkan prediksi yang dapat diuji sebagai “metafisika”, tapi dia anggap aktivitas tersebut bermanfaat, karena boleh jadi kelak dapat diuji. Ini ciri teori atom dahulu, yang oleh banyak fisikawan abad 19 dikhawatirkan takkan pernah terkonfirmasi secara empiris. “Popper bukan seorang Popperian lugu,” ujar Kragh. “Jika sebuah teori tak dapat difalsifikasi,” kata Kragh, menyalurkan Popper, “itu tak boleh dibuang. Kita harus tunggu.”

Tapi beberapa peserta lokakarya mengemukakan rasa cemas terhadap teori konfirmasi Bayesian, khususnya argumen non-empiris Dawid.

Carlo Rovelli, pendukung loop quantum gravity (saingan teori string) yang bermarkas di Aix-Marseille University, Prancis, merasa keberatan karena teori konfirmasi Bayesian tidak memperkenankan pembedaan penting dalam sains antara teori yang diyakini ilmuwan dan teori yang masih diuji. “Konfirmasi” Bayesian atas eksistensi atom pada dasarnya adalah 100%, buah dari tak terhitung banyaknya eksperimen. Tapi, kata Rovelli, derajat konfirmasi teori atom tidak boleh diukur dalam satuan teori string. Teori string belum sampai, katakanlah, 10% terkonfirmasi seperti teori atom; status keduanya berbeda jauh. “Permasalahan ‘konfirmasi non-empiris’ Dawid adalah ia mencampuradukkan poin ini,” kata Rovelli. “Dan tentu saja sebagian teoris string bahagia mencampuradukkannya seperti itu, sebab dengan begitu mereka bisa bilang teori string ‘sudah terkonfirmasi’, berdalih.”

Fisikawan Jerman Sabine Hossenfelder dalam ceramahnya berargumen bahwa kemajuan fisika fundamental sering sekali lahir dari penyingkiran prasangka umum (contohnya, asumsi bahwa gaya-gaya alam harus dipersatukan). Menggaungkan poin ini, Rovelli menyebut “gagasan konfirmasi non-empiris Dawid menjadi rintangan bagi potensi kemajuan ini, sebab ia mendasarkan kepercayaan kita pada kepercayaan terdahulu.” Itu merenggut salah satu alat—mungkin jiwa—pemikiran ilmiah,” sambungnya, “yakni ‘jangan percayai pemikiran Anda sendiri’.”

Laporan rapat Munich akan disusun dan dipublikasikan, mungkin sebagai buku, pada 2017. Perihal apa yang diraih, menurut Ellis satu hasil penting adalah pengakuan dari peserta teoris string bahwa teori ini belum “terkonfirmasi” dalam pengertian terverifikasi. “David Gross menjelaskan posisinya: kriteria Dawid bagus untuk menjustifikasi pengerjaan teori ini, bukan untuk menyatakan teori ini tervalidasi secara non-empiris,” tulis Ellis dalam sebuah surel. “Menurut saya itu posisi yang bagus—dan secara eksplisit saya menyebutnya kemajuan.”

Dalam menimbang bagaimana sebaiknya para teoris terus bekerja, banyak hadirin mengungkapkan pandangan bahwa pengerjaan teori string dan ide-ide belum teruji lainnya harus berlanjut. “Teruslah berspekulasi,” tulis Achinstein dalam surel usai lokakarya, tapi “sampaikan motif spekulasi Anda, sampaikan penjelasan, tapi akuilah bahwa mereka cuma penjelasan potensial.”

“Mungkin suatu hari nanti keadaan akan berubah,” imbuh Achinstein, “dan spekulasi tersebut akan dapat diuji; atau mungkin tidak, mungkin takkan pernah.” Kita takkan pernah tahu pasti cara alam semesta bekerja pada semua [skala] jarak dan waktu, “tapi barangkali Anda bisa persempit kemungkinan yang ada menjadi beberapa saja,” katanya. “Saya kira itu akan jadi sebuah kemajuan.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s