Realitas Quantum – Sebuah Pandangan Pribadi

Oleh: Amanda Gefter
4 Juni 2015
(Sumber: www.quantamagazine.com)

Teoris quantum Christopher Fuchs menjelaskan cara memecahkan paradoks-paradoks mekanika quantum. Harganya: fisika menjadi urusan pribadi.

Christopher Fuchs adalah pengembang dan pendukung utama Qbism, sebuah penafsiran alternatif mekanika quantum yang memperlakukan fungsi gelombang quantum sebagai cerminan ketidaktahuan.
Christopher Fuchs adalah pengembang dan pendukung utama Qbism, sebuah penafsiran alternatif mekanika quantum yang memperlakukan fungsi gelombang quantum sebagai cerminan ketidaktahuan.

Christopher Fuchs melukiskan fisika sebagai “dinamika saling mempengaruhi antara bercerita dan menulis persamaan. Tak ada yang berdiri sendiri, bahkan hingga akhir.” Dan memang, Fuchs, fisikawan di Universitas Massachusetts, Boston, punya cerita radikal. Ceritanya diberi judul QBism, dan bunyinya begini.

Dahulu kala ada sebuah fungsi gelombang yang konon mendeskripsikan status sistem fisikal di dunia secara lengkap. Bentuk fungsi gelombang ini menyandikan probabilitas hasil-hasil pengukuran yang dilakukan seorang pengamat terhadapnya, tapi fungsi gelombang ini sendiri bagian dari alam, sebuah deskripsi objektif tentang realitas objektif.

Kemudian datanglah Fuchs. Bersama periset Carlton Caves dan Rüdiger Schack, dia menafsirkan probabilitas fungsi gelombang sebagai probabilitas Bayesian—yakni, sebagai derajat keyakinan subjektif mengenai sistem. Probabilitas Bayesian boleh dianggap sebagai sikap perjudian untuk menempatkan taruhan pada hasil-hasil pengukuran, sikap yang dimutakhirkan seiring terbukanya data baru. Dengan kata lain, dalih Fuchs, fungsi gelombang tidak mendeskripsikan dunia—ia mendeskripsikan pengamat. “Mekanika quantum,” tandasnya, “adalah hukum pikiran.”

Bayesianisme quantum, atau QBism, demikian kini Fuchs menyebutnya, memecahkan banyak misteri terdalam teori quantum. Ambil contoh “kekolapsan fungsi gelombang” yang masyhur, di mana sistem quantum bertransisi dari status-status serempak majemuk ke aktualitas tunggal tanpa dapat dipahami. Menurut QBism, “kekolapsan” fungsi gelombang hanyalah pemutakhiran keyakinan pengamat pasca melakukan pengukuran. Tindakan menyeramkan dari kejauhan, di mana pengukuran seorang pengamat terhadap partikel di sini mengkolapskan fungsi gelombang partikel jauh di sana, ternyata tidak seseram itu—pengukuran di sini hanyalah menyediakan informasi yang dapat dipakai pengamat untuk bertaruh pada status partikel jauh, sekiranya dia berurusan dengannya. Tapi mungkin kita bertanya, bagaimana pengukuran di sini mempengaruhi hasil pengukuran yang akan dilakukan pengamat kedua di sebelah sana? Sebetulnya, tidak. Karena fungsi gelombang bukan bagian dari sistem, setiap pengamat memiliki [fungsi gelombang]nya sendiri. Fungsi gelombang saya tidak harus sejajar dengan fungsi gelombang Anda.

Sebuah partikel quantum bisa berada dalam sederet status potensial. Ketika seorang pengamat melakukan pengukuran, seketika itu juga dia “mengkolapskan” fungsi gelombangnya ke dalam satu status potensial. QBism berargumen, kekolapsan ini tidak misterius. Itu cuma mencerminkan kebertahuan pengamat yang telah termutakhirkan/terbarui. Dia tidak tahu di mana partikel berada sebelum pengukuran, tapi kini dia tahu. (Olena Shmahalo/Quanta Magazine)
Sebuah partikel quantum bisa berada dalam sederet status potensial. Ketika seorang pengamat melakukan pengukuran, seketika itu juga dia “mengkolapskan” fungsi gelombangnya ke dalam satu status potensial. QBism berargumen, kekolapsan ini tidak misterius. Itu cuma mencerminkan kebertahuan pengamat yang telah termutakhirkan/terbarui. Dia tidak tahu di mana partikel berada sebelum pengukuran, tapi kini dia tahu. (Olena Shmahalo/Quanta Magazine)

Di lautan interpretasi kejanggalan quantum, QBism berenang sendirian. “Interpretasi Kopenhagen” tradisional memperlakukan pengamat sebagai [entitas] yang berdiri di luar alam, dikaruniai kemampuan misterius mengkolapskan fungsi gelombang, diatur oleh hukum fisika yang berbeda dari hukum-hukum yang mengatur objek amatan. [Konsep] ini berjalan mulus sampai datang pengamat kedua untuk mengamati pengamat pertama. Interpretasi “banyak dunia” mengklaim alam semesta dan semua pengamatnya dideskripsikan oleh fungsi gelombang raksasa tunggal yang tak pernah kolaps. Tentu saja, agar ini berfungsi, kita harus bersikeras bahwa di setiap persimpangan jalan—setiap lemparan koin, setiap keputusan, setiap momen—fungsi gelombang mencabang dan begitupun kita, membelah menjadi diri-diri tak terhitung yang secara kolektif telah dan belum melakukan segala yang akan atau takkan kita lakukan. Bagi mereka yang merasa sehimpunan realitas paralel berjumlah tak terhingga ini terlalu mahal untuk menghindari [ide] kekolapsan fungsi gelombang, selalu ada interpretasi Bohmian. Interpretasi ini berusaha memulihkan realitas yang lebih konkret kepada dunia dengan mempostulatkan eksistensi kekuatan pemandu yang merembesi alam semesta dan mengatur segala sesuatu di dalamnya secara deterministis. Sayangnya, realitas baru ini selamanya berada di luar jangkauan penyelidikan ilmiah.

Semua interpretasi di atas mempunyai kesamaan: mereka memperlakukan fungsi gelombang sebagai deskripsi realitas objektif yang ditanggung bersama oleh banyak pengamat. QBism, di sisi lain, memperlakukan fungsi gelombang sebagai deskripsi kebertahuan subjektif pengamat tunggal. Ia memecahkan semua paradoks quantum, tapi ongkosnya tidak sepele: “realitas”. Berarti lagi-lagi, mungkin itulah yang coba dikatakan mekanika quantum kepada kita sejak semula—bahwa realitas objektif tunggal adalah ilusi.

QBism juga mengangkat sekumpulan pertanyaan baru dan sama-sama misterius. Jika fungsi gelombang mendeskripsikan pengamat, apakah pengamatnya harus manusia? Apakah pengamatnya harus punya kesadaran? Bisakah seekor anjing? (“Anjing tak menggunakan fungsi gelombang,” ujar Fuchs. “Sial, saya baru mengkolapskan fungsi gelombang di usia 34 tahun.”) Jika fungsi gelombang saya tidak harus sejajar dengan milik Anda, apakah kita tinggal di alam semesta yang sama? Dan jika mekanika quantum tidak mendeskripsikan realitas eksternal, lantas apa?

Fuchs bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan ini, kerapkali mengerjakan pemikirannya dalam bentuk surel. Surat-surat resminya telah menjadi legenda. Selama dua dekade, Fuchs menyusunnya menjadi dokumen besar—dia sebut samizdat—yang telah beredar di kalangan fisikawan quantum dan filsuf sebagai sejenis naskah bawah tanah. (Samizdat adalah istilah untuk buku/literatur yang diterbitkan dan didistribusikan secara mandiri karena dilarang oleh pemerintah, khususnya blok Soviet—penj.) Pasca kehilangan rumah di Los Alamos akibat kebakaran pada Mei 2000, dia putuskan membuat cadangannya dengan ditaruh di situs pracetak ilmiah arxiv.org sebagai makalah raksasa, yang kelak diterbitkan oleh Cambridge University Press sebagai buku 500 halaman. Samizdat kedua dirilis 13 tahun kemudian dengan 2.300 halaman tambahan. Surel-surel tersebut mengungkap pikirannya yang cermat dan watak penuh warna. Seperti kata fisikawan David Mermin, “Jika Chris Fuchs tidak eksis, berarti Tuhan telah lalai dengan tidak menciptakannya.”

Lantas bagaimana kisah QBism akan berakhir? Pada puncaknya, Fuchs ingin menjawab pertanyaan tunggal yang dilontarkan oleh fisikawan terkemuka John Archibald Wheeler, pembimbing Fuchs: mengapa quantum? Dengan kata lain, mengapa dunia mesti dibangun sedemikian rupa sehingga hanya bisa dideskripsikan oleh aturan aneh mekanika quantum?

Sementara itu, Quanta Magazine menyambangi Fuchs di kedai kopi Cambridge, Massachusetts, untuk mengajukan pertanyaan kami sendiri. Berikut obrolan kami dalam versi suntingan padat.

Anda pernah bilang: “Saya tahu, saya harus jadi fisikawan, bukan karena mencintai fisika, melainkan karena tidak percaya padanya.”
Semasa kecil saya adalah penggemar berat sains fiksi. Saya tumbuh di kota kecil di Texas dan betul-betul menikmati ide penerbangan antariksa. Rasanya tak terhindari—kita pergi ke bulan, itu baru langkah pertama, sains tidak kenal batas dan pada akhirnya kita akan melakukan apa yang ada dalam Star Trek: mendatangi planet-planet, menemukan makhluk-makhluk baru, bertualang. Jadi saya mulai membaca buku-buku fisika dan perjalanan antariksa, dan di situlah saya pertama kali menyadari bahwa perjalanan antariksa akan sulit lantaran jarak antarbintang yang sangat lebar. Bagaimana Anda mengatasi ini? Saya baca tentang John Wheeler, black hole, dan wormhole, dan bahwa wormhole bisa menjadi jalan untuk mengatasi persoalan batas kecepatan, atau kita bisa lampaui batas kecepatan dengan memanfaatkan partikel eksotis bernama tachyon. Saya lahap semua itu. Kebanyakan ternyata tidak probabel; wormhole ternyata tidak stabil dan tak ada seorangpun yang percaya dengan tachyon. Secara keseluruhan, pesan bagi saya adalah fisika tak memungkinkan kita mencapai bintang-bintang. Sebagai kelakar, saya sering berkata kepada teman-teman, jika hukum fisika tidak memungkinkan kita pergi ke bintang-bintang, maka ia pasti keliru!

Akhirnya Anda belajar pada John Wheeler.
Pertama kali kuliah di Universitas Texas, saya menduga sosok yang saya baca bertahun-tahun sebelumnya, John Wheeler, adalah profesor di sana. Jadi saya membaca beberapa makalah terbarunya, di mana dia bicara tentang “hukum tanpa hukum”. Dia bilang misalnya, “Pada akhirnya, satu-satunya hukum adalah tak ada hukum.” Tak ada hukum fisika tertinggi. Semua hukum fisika dapat berubah dan keberubahan itu sendiri merupakan prinsip fisika. Dia bilang, tak ada hukum fisika yang belum dilampaui. Saya pahami ini, lalu saya ingat kelakar terdahulu bahwa hukum fisika pasti keliru, dan saya sangat tertarik oleh gagasan bahwa mungkin sebetulnya tak ada hukum fisika. Apa penggantinya? Entahlah. Tapi jika hukum tersebut tidak dapat dipercaya 100 persen, mungkin ada pintu belakang menuju bintang-bintang. Semua itu romantisme masa muda; bahkan saya belum sempat kuliah fisika.

Dalam salah satu makalah, Anda sebut Erwin Schrödinger menulis tentang pengaruh Yunani terhadap konsep realitas kita, dan sungguh suatu ketakterdugaan historis bahwa kini kita membahas realitas tanpa mengikutsertakan subjek—pelaku yang melakukan pembahasan. Apa Anda coba mematahkan jampi pemikiran Yunani?
Schrödinger berpikir bangsa Yunani mempunyai semacam pengaruh atas kita—mereka berpandangan, satu-satunya jalan untuk membuat kemajuan dalam memikirkan dunia adalah dengan membahasnya tanpa “subjek yang tahu” di dalamnya. QBism menentang kecenderungan ini dengan menyatakan mekanika quantum bukanlah tentang bagaimana dunia tanpa kita; tapi tentang kita di dunia. Pokok persoalan teori ini bukanlah dunia atau kita tapi kita-di-dalam-dunia, antarmuka di antara keduanya.

Kita sudah terbiasa memikirkan dunia tanpa mempertimbangkan diri kita di dalamnya. Ini mengingatkan saya pada Einstein yang mempertanyakan ruang dan waktu—fitur-fitur ini terasa begitu mutlak hingga tak seorangpun terpikir untuk mempertanyakannya.
Konon, di peradaban-peradaban terdahulu, manusia tidak tahu cara membedakan objektif dan subjektif. Tapi begitu ide pemisahan keduanya mendapat pijakan, kita diberitahu bahwa ini harus dilakukan, dan bahwa sains adalah tentang hal objektif. Dan karena itu sudah terlaksana, sulit sekali untuk kembali. Saya kira kekhawatiran terbesar terhadap QBism adalah berikut: ia bersifat antroposentris. Menurut perasaan, kita sudah membereskannya dengan Copernicus, dan ini menjadi langkah mundur. Tapi saya pikir, jika kita sungguh-sungguh menginginkan alam semesta yang dipenuhi kemungkinan tanpa batas akhir, ke sinilah Anda harus melangkah.

Bagaimana QBism mengatasi batasan tersebut?
Salah satu caranya adalah bahwa hukum fisika bukanlah tentang hal “di luar sana”. Lebih tepatnya ia adalah ekspresi terbaik kita, pernyataan terlengkap kita, akan batasan kita sendiri. Saat kita bilang kecepatan cahaya adalah batas kecepatan tertinggi, kita sedang bilang kita tak bisa lampaui kecepatan cahaya. Tapi sebagaimana otak kita membesar lewat evolusi Darwin, kita boleh bayangkan bahwa pada akhirnya kita akan berevolusi ke tahap di mana kita bisa manfaatkan hal-hal yang tidak bisa dimanfaatkan saat ini. Kita boleh sebut ini sebagai “perubahan dalam hukum fisika”. Biasanya kita anggap alam semesta sebagai hal kaku yang tak dapat diubah. Alih-alih, secara metodologis semestinya kita berasumsi sebaliknya: alam semesta ada di hadapan kita agar dapat kita bentuk, agar dapat diubah, dan agar ia menekan balik. Kita akan memahami batasan kita dengan melihat seberapa banyak ia menekan balik.

Mari bicarakan probabilitas.
Tak ada probabilitas! Bruno de Finetti, di bagian pendahuluan untuk buku dua jilidnya tentang probabilitas, menulis dengan huruf kapital, “TAK ADA PROBABILITAS”. Dia bilang itu sama dengan phlogiston, penyihir, elf, dan peri.

Ketika para pendiri mekanika quantum menyadari bahwa teori tersebut mendeskripsikan dunia dari segi probabilitas, mereka pikir itu berarti dunia sendiri bersifat probabilistik.
Di zaman Pierre-Simon Laplace, probabilitas dianggap sebagai pernyataan subjektif—Anda tidak tahu segalanya, tapi Anda dapat berusaha dengan mengukur pengetahuan Anda. Tapi di akhir 1800-an dan awal 1900-an, probabilitas mulai kelihatan objektif. Orang-orang memakai metode statistik untuk memperoleh sesuatu yang dapat diukur di laboratorium—misalnya kalor. Jadi mereka membayangkan, jika kuantitas ini timbul karena pertimbangan probabilistik, dan ia objektif, berarti probabilitas juga bersifat objektif. Kemudian datanglah mekanika quantum. Kelompok Kopenhagen berargumen mekanika quantum adalah teori yang lengkap, rampung, tertutup, yang seringkali diartikan bahwa semua fiturnya adalah fitur objektif alam. Jika status-status quantum menghasilkan probabilitas, maka probabilitas itu pasti juga merupakan fitur objektif alam. Di sisi lain ada Albert Einstein, yang menyebut mekanika quantum tidak lengkap. Saat mendeskripsikan probabilitas dalam mekanika quantum, dia menafsirkannya sebagai pernyataan pengetahuan tak lengkap, status subjektif.

Jadi ketika Anda bilang tak ada probabilitas, maksud Anda adalah tak ada probabilitas objektif.
Tepat, ia tidak eksis di dunia sebagai sesuatu tanpa agen petaruh. Tapi anggap saja Anda sudah yakin bahwa jalan terbaik untuk memahami probabilitas adalah sebagai deskripsi ketidakpastian dan ketidaktahuan. Nah, ada sederet posisi yang bisa Anda ambil. Menurut ahli statistik Bayesian, I.J. Good, terdapat 46.656 varietas. Saat mulai mengerjakan Bayesianisme quantum, kami coba mengadopsi sikap E.T Jaynes terhadap probabilitas: kita akui probabilitas ada dalam kepala kita—probabilitas saya ada dalam kepala saya, probabilitas Anda ada dalam kepala Anda—tapi jika saya mendasarkan probabilitas saya pada informasi yang menjadi dasar probabilitas Anda, kedua penetapan probabilitas kita semestinya sama. Bergantung pada informasi tersebut, mereka semestinya objektif. Dalam spektrum 46.656 varietas, sikap ini disebut “Bayesianisme objektif”.

Di ujung lain spektrum ada Bruno de Finetti. Dia bilang tak ada alasan bahwa probabilitas saya dan probabilitas Anda harus cocok, sebab probabilitas saya didasarkan pada pengalaman saya dan probabilitas Anda didasarkan pada pengalaman Anda. Berarti, hal terbaik yang bisa kita perbuat, jika kita anggap probabilitas sebagai sikap perjudian, adalah berusaha membuat semua sikap perjudian pribadi kita konsisten secara internal. Saya harus lakukan itu terhadap probabilitas saya, dan Anda dengan probabilitas Anda, tapi itulah hal terbaik yang bisa kita lakukan. Itulah yang dimaksud oleh de Finetti saat dia bilang tak ada probabilitas. Alih-alih menyebut mayoritas probabilitas ada dalam kepala saya namun suatu kaidah tambahan membuatnya masih terjangkar pada dunia, dia justru membuang jangkarnya.

Akhirnya saya dan kolega, Rüdiger Schack, merasa bahwa agar konsisten kami harus memutus ikatan dengan Jaynes dan bergerak lebih jauh ke arah de Finetti. Di mana Jaynes memperolok de Finetti, kami pikir, di situlah sesungguhnya terdapat solusi nyata.

Pada saat itukah namanya berubah dari Bayesianisme quantum menjadi QBism?
Bayesianisme quantum terlalu panjang, jadi saya mulai menyebutnya QBism. Begitu saya mulai menyebutnya QBism, orang-orang lebih memberi perhatian! Tapi kolega saya, David Mermin, mulai mengeluh: QBism tidak semestinya menjadi kependekan Bayesianisme quantum sebab ada banyak penganut Bayesianisme di luar sana yang tak mau menerima kesimpulan kami. Jadi dia ingin menyebutnya Brunoisme quantum, untuk Bruno de Finetti. Masalahnya, ada bagian-bagian metafisika QBism yang takkan diterima oleh de Finetti!

Tapi kemudian saya temukan B yang pas. Masalahnya, itu jelek sekali. Anda takkan mau memamerkannya kepada khalayak. Istilah ini berasal dari Hakim Mahkamah Agung Oliver Wendell Holmes Jr. Dia melukiskan filosofinya sendiri sebagai “bettabilitarianism”. Ini adalah filosofi bahwa, seperti kata Louis Menand, “dunia bersendi lentur”. Hal terbaik yang bisa Anda lakukan adalah bertaruh pada konsekuensi tindakan Anda. [Gabungan dua kata ini berasal dari bet dan ability.] Saya pikir ini pas sekali, tapi saya tak mau menyebut QBism sebagai singkatan dari quantum bettabilitarianism, jadi sebaiknya meniru KFC. Dulunya Kentucky Fried Chicken; sekarang KFC saja.

Jika mekanika quantum merupakan buku panduan pengguna, sebagaimana Anda mengistilahkannya, siapa penggunanya? Einstein membahas pengamat, tapi pengamat dalam mekanika quantum berbeda dari pengamat dalam relativitas.
Tempo hari saya berbincang-bincang dengan filsuf Rob DiSalle. Dia bilang pengamat dalam relativitas tidak terlalu problematis sebab satu pengamat dapat, boleh dikatakan, “mengintip lewat bahu pengamat lain”. Saya suka ungkapan ini. Dengan kata lain, Anda dapat menerima apa yang dilihat seorang pengamat dan memanfaatkan hukum transformasi untuk melihat apa yang akan dilihat pengamat lain. Bohr betul-betul memainkan itu. Dia memainkan kemiripan antara mekanika quantum dan relativitas, dan dia heran kenapa Einstein tak mau mengakui teori quantum. Tapi saya kira masalahnya lain. Sebagaimana pemahaman QBism atas hasil pengukuran quantum, ini bersifat pribadi. Orang lain tak bisa melihatnya. Saya melihatnya atau Anda melihatnya. Tak ada transformasi yang membawa satu pengalaman pribadi ke pengalaman pribadi lain. William James keliru saat dia mencoba berargumen bahwa “dua pikiran dapat mengetahui satu hal”.

Apa itu berarti, sebagaimana kata Arthur Eddington, ihwal dunia adalah ihwal pikiran?
QBism menyatakan, dunia tidak dibangun dari ihwal di “sebelah luar” sebagaimana anggapan bangsa Yunani. Tidak pula dibangun dari ihwal “di sebelah dalam” sebagaimana anggapan kaum idealis, semacam George Berkeley dan Eddington. Justru, ihwal dunia terdapat pada karakter apa-apa yang kita jumpai di setiap momen hidup—ihwal yang tidak di luar ataupun di dalam, tapi mendahului gagasan pembagian keduanya sama sekali.

Jadi akhirnya objektivitas masuk?
Saya harap begitu. Puncaknya saya memandang QBism sebagai usaha untuk menunjukkan sesuatu di dunia dan, katakanlah, itu bersifat intrinsik bagi dunia. Tapi saya belum punya jawaban meyakinkan. Mekanika quantum adalah teori pengguna tunggal, tapi dengan membedahnya, Anda dapat mempelajari sesuatu tentang dunia yang di dalamnya kita semua terbenam.

Memperlakukan mekanika quantum sebagai teori pengguna tunggal dapat memecahkan banyak paradoks, seperti misalnya tindakan menyeramkan dari kejauhan.
Ya, tapi itu menyusahkan banyak orang. Cerita standar teorema Bell memberitahu kita bahwa dunia pasti bersifat nonlokal. Bahwa betul-betul ada tindakan menyeramkan dari kejauhan. Jadi mereka memecahkan satu misteri dengan menambah misteri amat besar! Apa yang dimaksud dengan nonlokalitas ini? Beri saya teori lengkapnya. Saya dan rekan-rekan sesama penganut QBism justru berpikir teorema Bell sebetulnya mengindikasikan bahwa hasil pengukuran adalah pengalaman, bukan pengungkapan sesuatu yang sudah ada. Tentu saja yang lain menduga kami membuang sains sebagai sebuah disiplin, sebab kami membicarakan derajat subjektif keyakinan. Tapi kami kira itu memecahkan semua teka-teki mendasar. Satu-satunya yang tak terpecahkan adalah pertanyaan Wheeler: mengapa quantum?

Mengapa quantum?
Andai saja saya lebih paham. Saya terpesona oleh struktur matematis indah bernama SIC, symmetric informationally complete measurements—nama yang seram, hampir sejelek bettabilitarianism. Mereka dapat dipakai untuk menulis ulang kaidah Born [prosedur matematis yang menghasilkan probabilitas dalam mekanika quantum] dalam bahasa berbeda, di mana kelihatannya kaidah Born sangat berkaitan dengan analisa hal riil dalam konteks hal hipotetis. Jika Anda merasa—dan tidak semua orang demikian—pesan sejati mekanika quantum adalah bahwa dunia bersendi lentur, bahwa memang ada ketakterdugaan di dunia ini, bahwa memang boleh ada kebaruan di dunia ini, maka dunia berkisar pada kemungkinan-kemungkinan sepanjang waktu, dan mekanika quantum mengikat mereka. Barangkali butuh 25 tahun untuk memahami matematikanya dengan benar, tapi 25 tahun mendatang mari bicarakan ini lagi!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s